top of page

Memercayakan Kelahiran pada Bidan

Pada awal kemunculannya, masyarakat masih awam dengan kerja bidan. Lambat laun, pengguna jasanya meningkat. Jadi profesi idaman orang tua.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 3 Sep 2019
  • 3 menit membaca

DJASMINAH panik. Perempuan yang baru jadi bidan itu mendapati masalah yang belum pernah ditemuinya kala diminta membantu persalinan perempuan Tionghoa di Kediri. Ibu yang hendak ditolong persaliannya sudah kehilangan banyak darah akibat jalur kelahiran si bayi tertutup oleh ari-ari (placenta previa).


Djasminah lantas mengabari mentornya, dokter HB van Buuren, untuk segera datang memberi pendampingan kendati jarak rumah van Buuren ke tempat pasien sekira 20 km. Sembari menunggu kedatangan gurunya, Djasminah berusaha mengatasi pendarahan si ibu.


Begitu tiba, Van Buuren bersama Djasminah langsung membantu pesalinan. Keadaan genting berhasil diatasi. Menurut Van Buuren, itu berkat kecekatan Djasminah dalam mengatasi pendarahan.


Sejak sekolah kebidanan dibangun pada medio abad ke-19, bantuan bidan dalam persalinan mulai digunakan ibu-ibu pribumi. Para siswa kebidanan biasanya diberi tugas jaga di rumahsakit. Mereka bergantian shift dengan perawat bila tidak ada rekan sesama bidan. Sedangkan siswa yang telah lulus bekerja untuk pemerintah.


Biasanya, Dinas Kesehatan Sipil menempatkan para bidan muda ini di wilayah asal mereka agar lebih paham medan. Selain dimentori oleh dokter Eropa yang berdinas di kota, para bidan muda ini tidak diperbolehkan menangani kasus kelahiran sulit seorang diri alias harus ada dokter Eropa yang mendampingi untuk menghindari kesalahan penanganan.


Menurut catatan van Buuren, dari 1850-1909, ada sedikit perubahan dalam praktik persalinan di Hinda-Belanda meski belum signifikan. Dinas Kesehatan Sipil mengalami kesulitan membiasakan penduduk untuk melahirkan dengan bantuan bidan. Beberapa penduduk bahkan meragukan kemampuan bidan dan lebih mempercayai dukun beranak. Hal ini sempat dialami bidan Markati pada 1898.


Makarti ditempatkan di Mojowarno, di bawah pengawasan dokter misionaris H Bervoets. Suatu hari, ia dipanggil asisten kepala distrik untuk membatu persalinan istrinya. Si raden ayu mengalami pendarahan pasca-melahirkan. Begitu tiba, Markati dan Bervoets mendapati kerumunan pelayan yang panik mengahadapi hal tersebut.


Tanpa disangka, raden ayu enggan menerima bantuan Bervoets. Maka si dokter mempercayakan muridnya untuk menangani pasien itu, sementara Bervoets sendiri mengawasi dari luar tirai. Raden ayu tetap menolak bantuan Makarti sampai akhirnya diperingatkan kalau nyawanya terancam bila tidak segera dirawat. Markati juga meyakinkan, meski ia dididik dokter misionaris dari Eropa, ia tetap perempuan Jawa dan hampir sama seperti dukun beranak.


Sikap raden ayu hanyalah satu contoh keraguan masyarakat pada kemampuan bidan. Sikap ini pula yang jadi penyebab sebagian siswa pelatihan bidan mundur dari profesi mereka. Pemerintah kolonial kemudian memberikan subsidi bagi para bidan agar pendapatan mereka tak minim. Jumlahnya bervariasi, antara 10 hingga 25 gulden sebulan, tergantung domisili.


Liesbeth Heeselink dalam  The Early Years of Nursing in The Dutch East Indies menyebut beberapa bidan bernasib mujur. Jasanya laris manis. Para bidan yang aktif membuka praktik umumnya memperoleh 253 gulden sebulan meski kadang cuma dibayar terima kasih. Nyi Astijem di Purwakarta, misalnya, dalam sebulan membantu 17 prsalinan. Lima di antaranya pasien pribumi miskin sehingga ia maklum jika tidak diberi uang. Sekira lima lainnya perempuan Eropa kaya. Dari sinilah sebagian besar sumber pendapatan Nyi Astijem. Sankum, rekan Astijem yang berdinas di Amurang, Sulawesi, tercatat membantu kelahiran 127 bayi. Dari seluruh bantuan yang ia berikan, Sankum diupah 25 gulden per persalinan dan hanya satu yang ia gratiskan.


Peter Bloomgard dalam The Development of Colonial Health Care in Java menyebut, upah yang lumayan ini menarik minat para orang tua. Mereka pikir, daripada memasukkan anak gadis mereka ke sekolah perawat lebih baik menjadi bidan. Toh, seperti penilaian Bervoets pada Markati, para bidan pribumi bekerja cukup baik. Mereka bisa mengaplikasikan ilmu yang didapat di situasi sulit.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
According to the Wangsakerta Manuscript, Tarumanagara was founded by refugees from India.
bg-gray.jpg
Prasasti Tugu turut meriwayatkan Kali Bekasi dan Kali Cakung Lama. Satu dari tujuh prasasti penting warisan Tarumanagara.
bg-gray.jpg
This is a story of a watch repairman who contributed to Christianization in Surabaya, Indonesia. He wanted Javanese Christians to be like the Dutch.
bg-gray.jpg
Jambi termasuk daerah sulit direbut pasukan payung dan Gadjah Merah Belanda. Diprioritaskan untuk direbut karena menjadi penghasil minyak buat Indonesia.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
Awalnya penyakit mematikan ini sulit diobati. Berkat penemuan insulin, diabetes tak lagi menjadi momok.
Perwira Jepang yang memimpin perebutan Lanud Kalijati dan Bandung ini divonis hukuman mati karena pembantaian di Ciater.
Perwira Jepang yang memimpin perebutan Lanud Kalijati dan Bandung ini divonis hukuman mati karena pembantaian di Ciater.
Orang-orang Tionghoa di Tangerang menjadi sasaran amuk massa di masa revolusi. Seorang ahli bela diri diselamatkan karena dikenal dermawan.
Orang-orang Tionghoa di Tangerang menjadi sasaran amuk massa di masa revolusi. Seorang ahli bela diri diselamatkan karena dikenal dermawan.
Diplomat perempuan pertama di Indonesia. Menurut Presiden Sukarno, ia tak hanya mewakili negara tetapi juga seluruh perempuan Indonesia.
Diplomat perempuan pertama di Indonesia. Menurut Presiden Sukarno, ia tak hanya mewakili negara tetapi juga seluruh perempuan Indonesia.
Sebuah surat kabar memberitakan seseorang mirip Hitler memesan sosis yang memicu rumor bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Sebuah surat kabar memberitakan seseorang mirip Hitler memesan sosis yang memicu rumor bahwa pemimpin Nazi itu memiliki doppelgänger atau sosok pengganti.
Dari Tokyo Rose hingga Hanoi Hannah, semua melancarkan propaganda via radio. Kini akun-akun media sosial Kedutaan Iran ikut nge-troll militer AS.
Dari Tokyo Rose hingga Hanoi Hannah, semua melancarkan propaganda via radio. Kini akun-akun media sosial Kedutaan Iran ikut nge-troll militer AS.
transparant.png
bottom of page