- 10 Jun 2022
- 10 menit membaca
Diperbarui: 3 Jul
DI TENGAH kegelapan ruang pertunjukan Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), suara koor plus duet penyanyi Lisa Depe-Judika memecah keheningan. Cahaya menerang beberapa detik kemudian, menemani merdunya suara koor menyanyikan sebuah tembang.
Lebih dari 30 orang, yang duduk di bawah tempat para personel koor berada, serius memainkan alat musik masing-masing sambil memperhatikan partitur di hadapan mereka. Dipandu konduktor Avip Priatna, laku mereka menghasilkan alunan nada harmonis yang di pertengahan berganti tempo menjadi cepat dan enerjik. Itulah “Bohemian Rhapsody”, tembang rock legendaris karya band rock Inggris Queen, yang dibawakan dalam bentuk simfoni oleh Jakarta Concert Orchestra (JCO) di konser bertajuk “Love of My Life”.
Konser yang berlangsung di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, pada 18 April 2015 itu menjadi bukti kreativitas JCO. Di tangan JCO, musik orkestra dijauhkan dari kesan kuno yang identik dengan karya-karya klasik macam Bach, Beethoven, Mozart, atau Vivaldi. JCO mem-vermak “wajah” musik orkestra dengan konser-konser kreasinya yang “kekinian” macam “Simfoni Untuk Bangsa 2018: Dari dan Untuk Anak Indonesia” dan “Invitation to The Dance” pada 2018, serta “Love of My Life”, “Queen Night: We Are The Champions”, dan “Konser Idul Fitri” pada 2019.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















