- 1 hari yang lalu
- 3 menit membaca
DUKUNGAN dari berbagai negara bermunculan tak lama setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Simpati terhadap perjuangan rakyat semakin besar ketika Belanda berupaya untuk kembali menguasai Indonesia. Di Amerika Serikat, orang Indonesia bersama orang Amerika yang progresif, mengadakan aksi solidaritas mendukung Republik Indonesia dan menuntut Belanda mengakhiri agresi serta mengakui kedaulatan Indonesia.
Aksi solidaritas itu menarik perhatian Paul Robeson, penyanyi dan aktor yang dikenal sebagai aktivis kulit hitam berpengaruh di Negeri Paman Sam. Dukungan Robeson kepada Indonesia berkaitan dengan perjuangannya dalam mewujudkan kesetaraan bagi warga kulit hitam di Amerika yang telah lama menjadi sasaran diskriminasi.
Masa muda pria kelahiran Princeton, New Jersey, Amerika Serikat, 9 April 1898 itu diwarnai rasisme. Ketika menjadi pemain football All-American sebagai pemain kulit hitam pertama di tim Rutgers University, tim lawan menolak bertanding melawan atlet kulit hitam. Penolakan itu mengakibatkan Robeson ditarik dari lapangan.
Ironisnya, selain dari tim lawan, Robeson juga mengalami rasisme dari rekan satu tim. Pengalaman pahit yang dirasakannya dan orang-orang di sekelilingnya itulah yang membuat Robeson menjadi pendukung gigih undang-undang yang melarang lynching (tindakan kekerasan di tempat umum yang dilakukan orang kulit putih terhadap orang kulit hitam) dan segregasi rasial di Amerika Serikat.
Menyanyi Lagu Indonesia Raya
Robeson tak hanya menentang segregasi rasial di Amerika, tetapi juga terlibat dalam perjuangan antifasis di berbagai negara. Dia menolak perang dan imperialisme. Ketika mengetahui rakyat Indonesia tengah berjuang mempertahankan kemerdekaan dari Belanda, dia ikut dalam aksi solidaritas mendukung Indonesia.
“Semakin banyak orang Amerika yang progresif menunjukkan simpati kepada Republik Indonesia. Paul Robeson, penyanyi terkenal menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dalam beberapa kesempatan dengan suara baritonnya yang kuat,” tulis surat kabar De Waarheid, 23 Juli 1981.
Dengan menyanyi lagu Indonesia Raya dalam aksi solidaritas mendukung kemerdekaan Indonesia, Robeson menjadikan karier artistiknya sebagai medan perjuangan politik.
Menurut Tony Perucci dalam Paul Robeson and the Cold War Performance Complex: Race, Madness, Activism, selama tahun 1940-an, di puncak karier artistiknya, Robeson semakin sering tampil dalam aksi dan pengorganisasian politik secara langsung.
“Dia bernyanyi untuk para pekerja yang mogok, bergabung dengan barisan aksi, bernyanyi di demonstrasi hak-hak sipil dan buruh, melakukan agitasi untuk integrasi Major League Baseball, dan mendirikan Council on African Affairs bersama Max Yergen, yang menghubungkan perjuangan warga kulit hitam Amerika dengan gerakan pembebasan antikolonial di Afrika,” tulis Perucci.
Akibatnya, aktivisme Robeson dicurigai pemerintah Amerika Serikat. Simpatinya terhadap rakyat Rusia dan Uni Soviet, serta kritiknya terhadap kapitalisme, membuat perjuangannya dianggap tidak selaras dengan kecenderungan umum di Amerika pada masa Perang Dingin yang melawan Soviet.
Robeson dianggap berbahaya dan pemerintah Amerika membatasi ruang geraknya. Paspornya dicabut dengan alasan pembelaannya terhadap kemerdekaan Afrika tidak sesuai dengan kepentingan kebijakan luar negeri Amerika. Berbagai tempat menolak mengadakan acara Robeson, dan perusahaan-perusahaan musik menolak merekam nyanyiannya.
Ancaman kekerasan menjadi makanan sehari-hari bagi Robeson. Dia difitnah oleh media, yang sering memutarbalikkan pandangan politiknya. FBI mengikutinya, menyadap teleponnya, membaca surat-suratnya, dan menggunakan informan untuk mendapatkan informasi tentang usahanya.
Menghadiri KAA Lewat Suara
Lindsey R. Swindall mencatat dalam The Politics of Paul Robeson’s Othello, dukungan Robeson terhadap perjuangan kemerdekaan bangsa-bangsa terjajah, khususnya Afrika, serta perhatiannya pada gerakan antikolonialisme dan imperialisme, membuat dia diundang menghadiri Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung pada April 1955.
Dua puluh sembilan negara dari Afrika dan Asia mengirimkan perwakilannya untuk mendiskusikan perdamaian, kerjasama ekonomi dan budaya, hak asasi manusia, serta penentuan nasib sendiri bagi masyarakat yang terjajah.
“Negara-negara yang hadir dalam konferensi tersebut mewakili hampir dua pertiga populasi dunia. Namun, Presiden Eisenhower menolak mengirim salam resmi ke Bandung. Robeson, seorang pendukung kuat perdamaian dan kemerdekaan bagi negara-negara terjajah, tidak dapat menghadiri konferensi itu karena pembatasan paspor,” tulis Swindall.
Meski demikian, Robeson tetap hadir melalui suara, pidatonya diperdengarkan kepada seluruh delegasi konferensi. Dalam pidatonya, dia memuji jalannya konferensi dan menyatakan hak-hak negara untuk merdeka dan menentukan nasib sendiri. Selain pidato, Robeson juga mengirimkan rekaman berisi tiga lagu: No More Auction Block, lagu balada perdamain Hymn for Nations, dan lagu kebangsaan Ol’ Man River.
Menurut Shana L. Redmond dalam Anthem: Social Movements and the Sound of Solidarity in the African Diaspora, Robeson melakukan berbagai cara agar suaranya bisa didengar oleh para perwakilan dari berbagai negara yang hadir di KAA. Ketika itu, label-label rekaman menolak merekam lagu-lagunya.
Menanggapi pembungkaman ini, Robeson mendirikan Othello Recording Company. Dengan bantuan putranya, Paul Robeson Jr., dia memproduksi rekaman untuk para penggemarnya di seluruh dunia.
“Upaya Robeson memproduksi musiknya sendiri menunjukkan bagaimana teknologi rekaman hadir dalam dekonstruksi batas-batas dan subversi institusi kekuasaan... Rekaman yang dikirim Robeson ke Bandung adalah manifesto yang digunakan dalam konferensi tersebut sebagai teknologi yang digunakannya untuk berbicara,” tulis Redmond.*



















Komentar