top of page

Naim yang Malang

Dua pemuda ini dituduh mata-mata Belanda karena namanya dan kacamata yang dipakainya. Keduanya dieksekusi mati.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Ilustrasi: pejuang Indonesia yang ditangkap Belanda sedang diinterogasi oleh orang yang diduga kaki tangan Belanda. (Arsip Nasional Belanda).

22 Des 2021
3 menit membaca

Nama adalah doa. Orang tua memberikan nama terbaik agar anaknya bernasib baik. Tapi, pemuda pejuang ini justru bernasib buruk karena namanya.


Pemuda itu bernama Naim. Dia anggota Kelompok Merah Putih yang bermarkas di Jalan Bank No. 5 Purwokerto (dulu gedung percetakan De Boer). Kelompok ini terdiri dari 40 pemuda yang dipimpin oleh Moerdono.



Pada suatu hari di masa revolusi kemerdekaan, Naim ditugaskan menjadi kurir ke Purworejo, Jawa Tengah. Dia ditangkap oleh pemuda di sana. Karena bahasa Jawanya kurang baik, dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari “hakim” dengan lancar.


Meskipun di atas baju Naim melekat bendera merah putih, tanda paspor bagi orang Republik, dia tetap tidak dipercaya. Bahkan, dia dituduh mata-mata musuh, Belanda.


“Akhirnya dia dihukum tembak. Alasannya karena namanya: Naim. Oleh para ‘hakim’ dinyatakan sebagai singkatan dari Nederland Anti Indonesia Merdeka,” kata Sudiro, mantan Walikota (kini Gubernur) Jakarta Raya, dalam Pelangi Kehidupan.



Asmadi, mantan anggota Tentara Pelajar, mengungkapkan bahwa suasana saling mencurigai bahkan tidak percaya terhadap setiap orang yang dijumpai di tengah jalan, timbul akibat mata-mata musuh yang berusaha menyesatkan pasukan-pasukan yang datang dari luar kota.


Mereka melakukan adu domba antarpasukan. Yang langsung menerima akibatnya ialah para kurir, karena mereka umumnya berjalan kaki dari markas besar ke markas sektor, dari markas sektor ke garis depan atau yang menghubungkan antarmarkas sektor.


“Banyak pula di antara para kurir yang terbunuh di tengah jalan karena dituduh sebagai mata-mata musuh,” kata Asmadi dalam Pelajar Pejuang.



Pelaku Peristiwa Tiga Daerah ditahan di penjara Yogyakarta pada Desember 1946. Sakhyani alias Kutil berdiri kedua dari kiri. (Koleksi Anton Lucas).
Pelaku Peristiwa Tiga Daerah ditahan di penjara Yogyakarta pada Desember 1946. Sakhyani alias Kutil berdiri kedua dari kiri. (Koleksi Anton Lucas).

Sudiro menyebut ada anggota Kelompok Merah Putih lain yang bernasib nahas seperti Naim. Dia lupa namanya. Seperti Naim, anggota itu diberi tugas ke daerah Tegal. Dia ditangkap oleh kelompokyang dipimpin oleh Sakhyani atau dikenal dengan sebutan Kutil.


Kalau Naim dituduh mata-mata karena namanya, kawannya itu karena kacamata yang dipakainya.


“Dia dijatuhi hukuman mati karena di kacamatanya –buatan luar negeri– ada huruf-huruf tertentu, yang sebenarnya hanyalah inisial dari pabrik yang memproduksinya. Oleh para ‘hakim’, huruf-huruf itu dianggap sebagai kode bagi seorang mata-mata musuh,” kata Sudiro.



Kutil memimpin revolusi sosial di wilayah Karesidenan Pekalongan yang meliputi Brebes, Tegal, dan Pemalang pada Oktober sampai Desember 1945, di mana seluruh elite birokrat, pangreh praja (residen, bupati, wedana, dan camat), serta sebagian besar lurah, diganti oleh aparat pemerintahan baru dari aliran Islam, sosialis, dan komunis. Untuk menjalankan revolusi sosial, Kutil membentuk organisasi AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia).


Menurut sejarawan Anton Lucas dalam Peristiwa Tiga Daerah, seperti badan-badan perjuangan lainnya waktu itu, tugasnya ditetapkan sendiri oleh Kutil, yaitu mencari sisa-sisa orang Jepang dan melucutinya, membagikan kekayaan kepada rakyat, dan menumpas setiap orang yang dicurigai menjadi agen NICA (Pemerintahan Sipil Hindia Belanda).



Tragisnya, salah satu korban yang dituduh mata-mata adalah pemuda anggota Kelompok Merah Putih dari Purwokerto. “Tambah seorang lagi korban dari Peristiwa Tiga Daerah,” kata Sudiro.


Karena Kutil adalah tokoh utama dalam revolusi sosial itu, maka Peristiwa Tiga Daerah sering disebut sebagai “gerakan Kutil”. Gerakan Kutil akhirnya bisa ditumpas oleh TKR (Tentara Keamanan Rakyat).


“Kutil adalah orang pertama dalam sejarah Republik Indonesia yang dijatuhi hukuman mati melalui proses pengadilan formal di Pekalongan,” tulis Anton.


Menurut Sudiro, tuduhan mata-mata kepada Naim dan kawannya sungguh menggelikan, tapi akibatnya pejuang ini telah mati konyol. “Seperti yang dialami oleh ratusan mungkin ribuan orang lainnya dalam zaman meluapnya semangat kemerdekaan kita,” kata Sudiro.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kasus perdagangan anak di daerah transmigrasi Rawa Makmur, Kalimantan Timur ungkap kemiskinan ekstrem yang menjerat kehidupan para transmigran. Praktik korupsi aparat disinyalir biang keladinya.
bg-gray.jpg
Panglima tempur yang memadamkan gejolak di berbagai daerah. Menggagas banyak hal penting setelah aktif lagi di Angkatan Darat.
bg-gray.jpg
Sebagai gubernur militer, Gatot Soebroto berperan dalam penumpasan pemberontakan PKI di Madiun. Dia disebut turut bertanggung jawab atas eksekusi mati Amir Sjarifoeddin cs.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi kepala polisi wilayah Banyumas pada awal kemerdekaan. Dekat dengan anak buah, Gatot berhasil memimpin pasukan dalam pertempuran Ambarawa.
Setelah mendapat janji gubernur DKI, ada harapan Masjid Jami Al Masur direstorasi. Namun, prosesnya tak mudah.
Setelah mendapat janji gubernur DKI, ada harapan Masjid Jami Al Masur direstorasi. Namun, prosesnya tak mudah.
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Buku ini hadir dengan membawa perspektif baru dalam memandang konflik Israel versus Palestina, yang selama ini nyaris terabaikan: sepakbola.
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Di tengah pandemi orang berharap vaksin menjadi solusi. Bagaimana ketika dahulu vaksin belum dikenal?
Mars menjadi destinasi utama robot-robot penjelajah ilmiah karena manusia belum mampu sampai ke sana. Namun robot-robot itu tak bisa pulang ke Bumi.
Mars menjadi destinasi utama robot-robot penjelajah ilmiah karena manusia belum mampu sampai ke sana. Namun robot-robot itu tak bisa pulang ke Bumi.
Temuan dokumen baru memperlihatkan kemungkinan penerima Hadiah Nobel 1936 bukan simpatisan Nazi.
Temuan dokumen baru memperlihatkan kemungkinan penerima Hadiah Nobel 1936 bukan simpatisan Nazi.
Pengalaman lucu anggota Polisi saat bertugas dalam peristiwa menegangkan.
Pengalaman lucu anggota Polisi saat bertugas dalam peristiwa menegangkan.
transparant.png
bottom of page