top of page

Napak Tilas di Tanah Perdamaian

Peradabannya pernah kembali ke titik nol oleh tragedi bom atom. Nagasaki bangkit dari kehancuran dan menjadi tanah perdamaian.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Monumen Monolith Hitam. Di sinilah hypocenter atau pusat ledakan bom atom di kota Nagasaki pada 9 Agustus 1945. (Mahwari Sadewa Jalutama/Historia.ID).

14 Agu 2023
6 menit membaca

Diperbarui: 9 Agu

DARI kota Beppu, saya bertolak menuju Nagasaki, wilayah barat Pulau Kyushu, Jepang. Setelah tiga kali berganti kereta, menghabiskan setengah jam perjalanan, saya akhirnya menginjakkan kaki di Nagasaki, kota yang terkenal dengan industri perkapalannya. Miniatur beragam kapal menyambut begitu tiba di stasiun JR Nagasaki Station. 


Atomic Bomb wa doko des ka?” tanya saya kepada petugas informasi di stasiun mengenai lokasi jatuhnya bom atom. 


Sebetulnya, saya kurang percaya diri dengan bahasa Jepang yang saya pelajari secara kilat hanya dengan membaca kamus kecil di buku pedoman perjalanan ke Jepang. Karena petugas informasi itu tak fasih berbahasa Inggris, jadilah saya yang mengalah. “Kaite kuremasen ka?” pinta saya kepadanya untuk menuliskan bagaimana menuju ke sana.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
bg-gray.jpg
Semaoen membawa Sarekat Islam cabang Semarang ke arah radikal. Pecah kongsi dengan H.O.S. Tjokroaminoto, Semaoen membentuk Sarekat Islam Merah.
bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
transparant.png
bottom of page