top of page

Pelarian Tan Kah Kee di Jawa

Pengusaha sukses ini memimpin perlawanan di Singapura. Membantu perjuangan Indonesia lepas dari penjajahan.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Tan Kah Kee atau pernah disebut Henry Ford dari Malaya. (tkkfoundation.org.sg).

1 Sep 2019
5 menit membaca

Diperbarui: 17 Apr

KETIKA armada Jepang mengganas di Asia Tenggara dan mengancam kedudukan Inggris di Singapura, Tan Kah Kee tak mau tinggal diam. Dia memimpin sukarelawan Tionghoa untuk menghadapi Jepang.


“Sebagai penghuni Kerajaan Inggris di koloni mahkota Inggris, kesempatan ini layak untuk semua upaya kami untuk memberikan dukungan, yang dapat kami berikan, untuk perang melawan agresi, dan dengan demikian untuk mengamankan tempat tinggal kami,” ujar Tan Kah Kee, seperti dikutip dari Soerabaijasch handelsblad tertanggal 4 September 1941.


Tan Kah Kee (1874-1961) seorang pengusaha dan filantropis terkemuka di Singapura yang mendapat julukan “Henry Ford dari Malaya”. Kerajaan bisnisnya mencakup dari perkebunan hingga manufaktur. Sejak tanah kelahirannya, Tiongkok, diagresi Jepang pada 1920-an, ia bersikap anti-Jepang.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Jauh di pedalaman hutan Papua yang terisolasi, sejumlah warga Lampung turut menjalani hidup sebagai tahanan politik. Salah satunya adalah Sjahmin Pandjinegara.
bg-gray.jpg
PKI memiliki tradisi intelektual yang kuat. Membawa gagasan ke tengah masyarakat melalui pendidikan dan pemberantasan buta huruf. Hasilnya menjadi salah satu partai terbesar.
bg-gray.jpg
Selama tiga dekade tinggal di Uni Soviet, Semaoen menggeluti berbagai profesi: penyiar radio, penerjemah, dosen, hingga wakil perdana menteri.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
Film yang kontekstual terkait kesenjangan sosial. Mendatangkan penghargaan Cannes seiring perayaan 100 tahun perfilman Korea.
Film yang kontekstual terkait kesenjangan sosial. Mendatangkan penghargaan Cannes seiring perayaan 100 tahun perfilman Korea.
Anthem “You’ll Never Walk Alone” tak pernah lekang mengiringi Liverpool di masa jaya maupun nestapa.
Anthem “You’ll Never Walk Alone” tak pernah lekang mengiringi Liverpool di masa jaya maupun nestapa.
 Dari Filipina, metode “quick count” merambah ke Indonesia di akhir masa Orde Baru. Hasilnya tak pernah meleset jauh dari penghitungan manual.
Dari Filipina, metode “quick count” merambah ke Indonesia di akhir masa Orde Baru. Hasilnya tak pernah meleset jauh dari penghitungan manual.
Fabio Quartararo dan Johann Zarco mengulang sejarah enam dekade MotoGP yang ditorehkan Pierre Monneret dan Jacques Collot. Siapa mereka?
Fabio Quartararo dan Johann Zarco mengulang sejarah enam dekade MotoGP yang ditorehkan Pierre Monneret dan Jacques Collot. Siapa mereka?
Kengerian dan kejenakaan berpadu dalam adegan-adegan intrik di seputar kematian Stalin.
Kengerian dan kejenakaan berpadu dalam adegan-adegan intrik di seputar kematian Stalin.
Semangat dan buah pikirannnya masih relevan di masa kini.
Semangat dan buah pikirannnya masih relevan di masa kini.
transparant.png
bottom of page