top of page

Pelawak Zaman Kuno

Pelawak telah ada sejak masa Jawa Kuno. Menghibur di desa hingga istana.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Relief Karmawibhangga di kaki Candi Borobudur yang memperlihatkan pelawak jalanan

3 Nov 2018
2 menit membaca

Diperbarui: 25 Mei

PEMAIN widu bernyanyi bersama. Tangkil hyang mendongeng. Pirus dan menmen menceritakan lelucon cabul. Pemain wayang wong disambut tawa dan sorak sorai. Penampilan mereka di panggung luar biasa. Warga desa yang menonton bersuka ria, tertawa terpingkal-pingkal, dan berteriak.


Pertunjukan di sebuah pesta pernikahan itu dilukiskan Mpu Monaguna, pujangga dari Kadiri pada abad ke-13 M dalam Kakawin Sumanasāntaka. Teks itu menggambarkan keberadaan pelawan sejak masa lalu. Dan lawakan cabul rupanya menjadi daya tarik penonton.


Menurut arkeolog Supratikno Rahardjo dalam Peradaban Jawa keberadaan pelawak juga disebut dalam beberapa prasasti. Mereka dikenal dengan men-men sebagai pemain pertunjukkan keliling dan ijo-ijo sebagai pemain lawak.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
bg-gray.jpg
Sebagai pegawai kereta api, masa depan Semaoen terjamin. Namun, dia memilih terjun ke pergerakan karena melihat ketidakadilan yang dialami rakyat jajahan.
transparant.png
bottom of page