top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Seorang diri membajak pesawat Merpati. Menuntut tebusan uang. Dilumpuhkan oleh pilot.

Oleh :
Historia
16 Des 2021

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA) jenis Vickers Viscount. (Perpusnas RI).

  • 16 Des 2021
  • 3 menit membaca

PADA 4 April 1972, pesawat Vickers Viscount 613 Merpati Nusantara Airlines (MNA) dengan nomor penerbangan MZ-171 terbang dari Surabaya menuju Jakarta. Pesawat bernama “Merauke” itu diterbangkan oleh pilot Kapten Hindiarto Sugondo dan kopilot Kapten Muhammad Soleh Sukarnapradja. Pesawat mengangkut 36 penumpang dan tujuh awak. Ternyata, salah satu penumpang adalah pembajak.


Hermawan seorang diri membajak pesawat dengan granat. Dia memaksa pesawat mendarat di Bandara Adisucipto, Yogyakarta. Dia menuntut uang tebusan sebesar Rp25 juta. Kalau tidak dipenuhi pesawat akan diledakkan.


Menteri Perhubungan Frans Seda menyatakan pembajakan itu tidak boleh ditolerir. “Diinstruksikan agar pembajaknya ditangkap hidup-hidup. Bila perlu dibunuh demi keselamatan para penumpang,” tulis S. Saiful Rahim dalam Operasi Pembebasan Sandera Pesawat Garuda di Bangkok.


Perundingan dan tawar-menawar dengan pembajak pun dilakukan. Pembajak menurunkan tuntutannya hingga menjadi Rp5 juta. Rupanya pemerintah hanya ingin mengulur waktu dan mencari upaya untuk meringkus pembajak tunggal itu.


“Para petugas yang dipercayakan menangani masalah bisa mengempeskan roda pesawat hingga ‘Merauke’ yang dibajak itu tidak bisa tinggal landas,” tulis Saiful.


Saiful menjelaskan, ketika pembajak agak lengah, seorang anggota Angkatan Udara Republik Indonesia (sumber lain menyebut seorang anggota polisi) yang siaga di luar pesawat melemparkan pistol ke arah pilot Hindiarto. Pistol ditangkap dan Hermawan, sang pembajak yang baru keluar dari WC, ditembak. Roboh dan mati. Semua penumpang dan awak pesawat yang disandera bebas tanpa kerugian apa-apa, kecuali dicekam rasa takut untuk beberapa saat.


Menurut Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, penanganan pembajakan itu diserakan kepada polisi karena ABRI menganggap pembajakan itu sebagai tindak kriminal biasa. Kendati demikian, pembajakan pesawat yang terjadi pertama kali di Indonesia ini tampaknya telah mendorong Mabes ABRI untuk membentuk satuan penanggulangan teror.


“Ketika pembajak sedang berada di kabin penumpang, Captain Hindiarto, seorang penerbang lulusan TALOA, seangkatan dengan Omar Dani, Roesmin Nurjadin, Ignatius Dewanto, Dono Indarto, dan kawan-kawan, yang duduk di kursi kiri dalam kokpit menjulurkan tangan kirinya keluar pesawat melalui jendela. Seorang letnan kolonel polisi (Bambang Widodo Umar, red.) yang tanggap terhadap isyarat itu, segera memberikan revolver Colt. 38 ke tangan Hindiarto dari bawah kokpit. Akhirnya, pembajak ditembak mati oleh kapten pesawat MNA itu,” tulis Hendro.


Hendro mencatat, granat yang terlepas dari tangan pembajak tidak meledak, meskipun pen granat telah dicabut. Ternyata, pengungkit granat diikat dengan tali rafia melingkar dua kali, sehingga tali rafia itu tertutup oleh genggaman jari-jari pembajak.


Sementara itu, dalam majalah bulanan Amalbakti, No. 18 Th. II September 1985, kopilot Soleh menceritakan pengalamannya dalam menghadapi pembajakan. Pembajak memborgol tangan Soleh dan tangan Hindiarto, kemudian diikat ke kursi tempat mereka duduk. Tangan kiri Soleh yang bebas mencoba mengangkat telepon untuk meminta bantuan dari luar, agar uang Rp25 juta diserahkan kepada pembajak demi keselamatan nyawa mereka dan penumpang.


Begitu Soleh meletakkan gagang telepon di mana dia tidak berhasil mendapatkan bantuan, pembajak langsung membakar tali sumbu bahan peledak yang sudah disiapkannya di atas lantai pesawat. “Apa boleh buat, tidak ada jalan lain kecuali kita mati bersama dalam pesawat ini,” kata pembajak.


Suasana menjadi makin tegang. Jantung Soleh dan Hindiarto berdebar semakin kuat, bahkan terkadang terasa berhenti karena melihat api yang sudah mulai menjalar menuju sumbu alat peledak.


“Dengan secepat kilat, pilot Hindiarto mempergunakan kesepatan baik itu untuk menembak pembajak ketika dia lengah (membelakang). Pistol yang diberikan dari luar melalui jendela pesawat berhasil merobahkan pembajak dengan butiran peluru yang bersarang di tengkuk (kepala)-nya. Pembajak tersungkur seketika dan persis menutupi api yang sudah mulai menyala,” kata Soleh.


Harian Berita Buana, 10 April 1972 melaporkan bahwa pembajakan pesawat MNA menjadi berita internasional. Sebuah surat kabar di New York memberi gelar “The Hero of the week” pada Kapten Pilot Hindiarto Sugondo.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah

Snouck Hurgronje pergi ke Jeddah dan Makkah untuk mengamati dan menggali informasi mengenai umat Islam dari Hindia Belanda.
The Bitter Life of Sutan Sjahrir

The Bitter Life of Sutan Sjahrir

Towards the end of his life, Sutan Sjahrir lived as a prisoner under medical care. As bitter as it was, that period was the only time his daughter ever experienced life as part of a complete family.
Demi Mudik, Serdadu Indo-Jawa KNIL Pilih Desersi

Demi Mudik, Serdadu Indo-Jawa KNIL Pilih Desersi

Bertumbuh di Jawa membuatnya punya kerinduan besar pada kampung halaman. Adanya  tawaran berpadu kenekatannya membawa George Reuneker memilih desersi demi mudik.
Di Balik Dukungan Palestina terhadap Revolusi Kemerdekaan Indonesia

Di Balik Dukungan Palestina terhadap Revolusi Kemerdekaan Indonesia

Seperti apa sebetulnya dukungan Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia yang sampai diperdebatkan ilmuwan dan pegiat media sosial beberapa waktu lalu?
Senjakala Telenovela

Senjakala Telenovela

Meski menuai pro-kontra, telenovela tetap menguasai tayangan televisi Indonesia. Kejayaan opera sabun Amerika Latin ini berakhir karena penonton jenuh dan beralih ke drama Mandarin dan Korea.
bottom of page