- 16 Mei 2020
- 4 menit membaca
Diperbarui: 3 Jul
JALANAN dusun itu penuh umbul-umbul. Sisi kanan dan kirinya terpasang tali pembatas. Di ujung jalan yang mengarah ke laut, gapura mungil nan cantik berdiri. Spanduk membentang di bagian atap. Tulisannya “Lautku Kehidupanku”.
Tak jauh dari gapura, ada tempat pelelangan ikan. Banyak orang berkumpul di sana. Tapi bukan untuk jual-beli ikan. Ada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, sesepuh dusun, warga dusun, anak-anak sekolah, peserta arak-arakan, nelayan dan wisatawan. Jumlahnya seribuan lebih. Hari itu, 9 September 2019, mereka berkumpul untuk merayakan hari “Petik Laut Pancer” ke-43.
Petik laut adalah ritual khas tahunan masyarakat Banyuwangi, Jawa Timur. Biasanya berlangsung dalam bulan Muharam (kalender Islam) atau Sura (tanggalan Jawa). Ada serangkaian acara yang digelar dalam ritual ini. Dari bersih dusun, doa bersama, khataman, pementasan wayang kulit dan hiburan rakyat, hingga melarung sesaji.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















