- 20 Des 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 1 Jan
NASIB kadang membawa seseorang pada tujuan dengan cara berliku yang tak pernah terpikirkan. Hal itulah yang dialami Poorwo Soedarmo, dokter di Hindia Belanda yang kelak menjadi “Bapak Gizi Indonesia”. Lantaran tak bisa berbuat banyak untuk membantu masyarakat di Jakarta karena situasi Perang Kemerdekaan tak memungkinkan kaum “Kiblik” bergerak bebas, Poorwo melamar pada sebuah perusahaan pelayaran. Lamarannya diterima. Petualangannya pun dimulai.
Poorwo merupakan dokter lulusan School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) alias Sekolah Pendidikan Dokter Hindia. Koran De Locomotief, 6 Desember 1927, memberitakan secara singkat kelulusannya.
Setelah menjadi dokter di beberapa kota di Jawa pasa-kelulusannya, Poorwo dipekerjakan di perusahaan timah di Bangka, Banka Tin Winning. Dirinya lalu kuliah lagi di sekolah tinggi kedokteran Geeneskundig Hogeschool (GHS) Batavia (kini Jakarta) agar bisa disamakan ilmunya dengan dokter-dokter Belanda. Ketika Jepang baru datang, dia baru dianggap lulus dari GHS yang sudah berganti menjadi Ika Dai Gakku.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















