- 23 Des 2010
- 4 menit membaca
Diperbarui: 14 Nov 2025
SETELAH mendapat surat izin dari pemerintah Hindia Belanda pada 3 Juli 1827, Coenrad Laurens Coolen membuka hutan Ngoro, yang berjarak sekira 60 kilometer dari Kota Surabaya. Banyak orang Jawa datang dan mendapatkan tanah. Ngoro menjadi desa makmur, yang saat kelaparan melanda Jawa Timur bisa menyediakan beras bagi ribuan orang.
Di Ngoro tak ada paksaan dalam beragama. Coolen tak melarang orang membangun masjid. Tapi, dalam memimpin desanya, dia tetap bertindak sebagai seorang Kristen. Dia mengampuni para pendatang yang melakukan kejahatan di Ngoro, bahkan berusaha menunjukkan jalan kebaikan dengan “ilmu Kristen” tentang pelepasan manusia dari dosa oleh Juru Selamat. Setiap hari Minggu, Coolen mengadakan kebaktian di pendopo rumahnya. Mereka lalu menghabiskan waktu dengan bermain gamelan, wayang, dan zikir.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.












