top of page

Redup Terang Bulan Bintang

Riwayat Masyumi menuju sunyi. Partai Islam terbesar ini pernah memegang kekuasaan dengan memimpin kabinet. Namun, Masyumi berakhir dengan pembubaran.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kongres Partai Masyumi, 1951. (Repro Celebrating Indonesia: Fifty Years with the Ford Foundation 1953-2003).

10 Feb 2024
2 menit membaca

Diperbarui: 13 Feb

MASYUMI, sedari kemunculannya, sudah menggetarkan banyak orang. Tak tanggung-tanggung, sejumlah organisasi dan partai politik yang tumbuh sebelum dan sesudah masa perang, dari berbagai aliran, tergabung di dalamnya.


Tak pelak Masyumi dianggap sebagai satu-satunya partai politik yang menyalurkan aspirasi umat Islam dan partai Islam terbesar di masanya. Dan jika pemilihan umum digelar saat itu, sebelum 1950-an, Masyumi diyakini akan meraih suara mayoritas.



Namun, sedari awal, Masyumi ternyata lapuk. Pertentangan dari dalam tak henti merongrongnya. Dari luar, Masyumi tak bisa mengimbangi kekuatan partai nasionalis dan komunis; dan lebih-lebih Sukarno. Gagasan menjadikan ajaran dan hukum Islam sebagai dasar negara pun kandas di Konstituante.


Keblingeran sejumlah pemimpinnya yang melibatkan diri dalam Darul Islam dan terutama PRRI tak hanya menjadi amunisi bagi lawan politiknya untuk meyerang, tetapi juga menjadi jalan Masyumi menuju sunyi.


Presiden Sukarno memerintahkan pembubaran Masyumi jika tak ingin dinyatakan sebagai partai terlarang. Alasan itu pula yang membuat penguasa Orde Baru trauma dan mengabaikan desakan untuk merehabilitasi Masyumi.



Namun, Masyumi tak ingin terkubur dalam sejarah. Seperti dikatakan Mohammad Natsir, ketua umum Masyumi, pada 17 Desember 1952: “Saya peringatkan kepada semua orang yang mendengar kata-kata ini atau yang membaca apa yang saya katakan sekarang, ialah, bahwa Masyumi sebagai wujud organisasi terbesar di seluruh Indonesia, adalah mempunyai semangat jihad. Masing-masing dari kami dapat di-‘diam’-kan dengan bermacam cara, tapi ribuan orang akan menggantikannya...”


Masyumi tak ada lagi tapi semangatnya menyala lewat dakwah dan politik yang dilakukan oleh mereka yang mengklaim sebagai pewarisnya.*


Berikut ini laporan khusus Masyumi.




Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Kepulangan Semaoen ke Indonesia setelah 33 tahun di pengasingan disambut semarak. Presiden Soeharto menawarkan keluarga agar jenazahnya dimakamkan di Kalibata.
bg-gray.jpg
Memutus perkara adalah amanah, bukan mainan. Siapa mengkhianatinya harus menanggung akibat yang sepadan. Itulah yang tersurat dalam sistem dan tata kelembagaan hukum Jawa yang diterapkan Kesultanan Demak hingga Yogyakarta.
bg-gray.jpg
Tiga bersaudara berjuang mempertahankan kemerdekaan di Kalimantan Barat. Bardan Nadi, yang gugur di tangan tentara Belanda, diingat sebagai pahlawan. Sedangkan jejak kedua saudaranya menghilang di tengah perburuan kaum komunis setelah 1965.
bg-gray.jpg
Sepeninggal mentornya, Henk Sneevliet, Semaoen mengampu panji palu arit. Merapat ke Moskow hingga diasingkan lewat besluit.
transparant.png
bottom of page