- 12 Des 2022
- 4 menit membaca
Diperbarui: 17 Mei
PADA abad-abad yang lalu, dari tanah Minahasa, pemuda bernama Jahezkiel alias Jez naik kapal ke Jawa. Ia hendak ke Magelang. Sebuah kota yang sedari dulu hingga sekarang tergolong kota tangsi. Sebelum Tentara Nasional Indonesia (TNI), dulunya tentara kolonial Koninklijke Nederlands Indische Leger (KNIL) juga bercokol di sana. Jez baru saja teekensoldij (mendaftar masuk) tentara.
Jez punya mimpi seperti sebagian pemuda Ambon, Manado, dan Bagelen, yaitu menjadi serdadu kompeni, sebutan untuk KNIL. Ia tidak main-main. Ia tidak ingin sekadar jadi anggota KNIL biasa. Ia ingin menjadi anggota Korps Marechaussee te Voet (Marsose Jalan Kaki), satuan antigerilya dalam KNIL yang lahir di masa Perang Aceh.
Pada akhirnya, Jez menjalani masa pelatihan Marsose. Ia punya kawan sesama serdadu di dalam barak. Di luar barak, ia jatuh cinta dan mengawini seorang perempuan Jawa. Sebagai Marsose, Jez dikirim ke Aceh untuk memerangi orang Aceh. Setelah sempat ditawan di sana, ia akhirnya kembali ke Magelang dan bertemu lagi dengan perempuan yang dicintainya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















