top of page

Sejarah Indonesia

Advertisement

Repatriasi Bukan Sekadar Memulangkan Benda Bersejarah ke Tanah Air

Delegasi Belanda dan Indonesia menyepakati pentingnya provenance research dalam repatriasi. Ke-472 koleksi yang dipulangkan bakal dipamerkan di tanah air.

9 Jul 2023

Dengarkan artikel

bg-gray.jpg
bg-gray.jpg
camera overlay
camera_edited_30.png

Beberapa benda bersejarah Indonesia yang akan dipulangkan dari Belanda dalam waktu dekat (Riyono Rusli/Historia)

  • 10 Jul 2023
  • 2 menit membaca

MENTERI Muda urusan Kebudayaan dan Media Belanda Gunay Uslu serta Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI Hilmar Farid meneken peresmian penyerahan 472 benda bersejarah yang akan direpatriasi dari Belanda. Keduanya sama-sama menyadari pentingnya penelitian bersama agar repatriasinya tak sekadar memulangkan benda ke negeri asalnya.


Menukil keterangan pers Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda, peresmian itu dihelat di Museum Volkenkunde, Leiden, Belanda pada Senin (10/7/2023) pagi waktu setempat. Ke-472 artefak yang ditransfer itu meliputi sebuah Keris Klungkung, empat arca era Kerajaan Singhasari, 132 benda seni koleksi Pita Maha, dan 335 harta karun jarahan Ekspedisi Lombok 1894.


“Ini menjadi langkah penting. Sebuah milestone dalam kerjasama kita dalam hal bagaimana menangani koleksi dari konteks kolonial. Saya mengharapkan harta nasional Indonesia itu akan pulang dengan selamat,” tutur Menteri Uslu dalam sambutannya.



Kesemua koleksi itu sudah lebih dulu melewati provenance research atau penelitian asal-usulnya terlebih dulu. Penelitiannya dilakoni bersama antara para ahli Tim Repatriasi Koleksi Asal Indonesia di Belanda yang diketuai I Gusti Agung Wesaka Puja dan Comissie Koloniale Collecties yang dipimpin Lilian Gonçalves-Ho Kang You.


“Terima kasih kepada komite yang mewakili Belanda dan Indonesia. Peresmian hari ini memiliki sejarah yang panjang, di mana para ahli Indonesia dan Belanda bekerja keras bersama untuk mencapai riset ini. Kerjasama ini menjanjikan hal-hal yang luar biasa bagi masa depan dan semoga museum-museum kita bisa bekerjasama lebih erat,” imbuhnya.



Penandatanganan serah terima Menteri Gunay Uslu dan Dirjen Hilmar Farid (Riyono Rusli/Historia)
Penandatanganan serah terima Menteri Gunay Uslu dan Dirjen Hilmar Farid (Riyono Rusli/Historia)

Hal senada juga diungkapkan Hilmar yang mewakili pemerintah Indonesia. Sudah semestinya benda-benda bersejarah itu tidak sekadar dipulangkan tapi juga bisa menghadirkan narasi-narasi sejarah serta memproduksi pengetahuan buat bangsa Indonesia secara khusus dan masyarakat global pada umumnya.


“Ini hari yang penting dan bersejarah. Hasil dari diskusi dan perdebatan panjang di kedua belah pihak. Terima kasih kepada komite dan tim repatriasi yang sudah memproduksi dokumen provenance research yang penting dan saya pikir, ini akan jadi kontribusi besar tidak hanya bagi Belanda dan Indonesia tapi juga kepada komunitas dunia,” timpal Hilmar Farid.



Kapan pastinya ke-472 artefak itu dipulangkan ke tanah air memang masih akan dibicarakan kedua belah pihak dalam tempo dekat. Kendati begitu, Hilmar memastikan akan menggelar sejumlah pameran jika ratusan koleksi jarahan masa kolonial itu sudah tiba di tanah air.


“Saya bisa memastikan ketika benda-benda itu dibawa pulang akan ada pameran-pameran dan akan bisa diakses publik. Karena ini juga bukan sekadar persoalan memulangkan kembali benda-benda itu tapi juga mengintegrasikannya kembali pada kisah-kisah yang hilang, mengintegrasikan kembali dengan narasi-narasi sejarah Indonesia,” tandasnya.


Sebagian dari 472 jarahan kolonial yang direpatriasi (Riyono Rusli/Historia)
Sebagian dari 472 jarahan kolonial yang direpatriasi (Riyono Rusli/Historia)



Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian

Advertisement

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Masa Pahit Kesultanan Langkat

Kesultanan paling kaya di masa Hindia Belanda luluh lantak digilas revolusi sosial. Padahal, sang sultan telah menyatakan sumpah setia pada Republik Indonesia.
Menyibak Mitos Haji Djamhari

Menyibak Mitos Haji Djamhari

Penelitian membuktikan bahwa sosok Haji Djamhari sebagai penemu kretek benar-benar ada dan bukan tokoh fiksi.
Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Dokter Tolong Orang Jawa Dikira Islam

Rumahsakit Bethesda Yogyakarta yang masih berdiri hingga kini merupakan buah "kasih" dr. Belanda bernama JG Scheurer.
Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Supriyadi Masuk Hutan dan Menghilang

Setelah memimpin pemberontakan PETA di Blitar, Supriyadi masuk hutan dan menghilang. Diduga telah dibunuh Jepang, tetapi dirahasiakan sehingga makamnya tidak ditemukan.
Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Donny God Bless Kritik Penguasa Generasi Ayahnya

Basis God Bless Donny Fattah pandai menulis lagu dan peduli pada kehidupan bangsanya. Lagunya cukup kritis di era Orde Baru.
bottom of page