- 16 Okt 2019
- 2 menit membaca
KETIKA Sutan Sjahrir membentuk kabinet keduanya pada Maret 1946, Maria Ullfah diminta masuk dalam jajaran kabinet sebagai menteri sosial. Ajakan Sjahrir sempat membuat Maria bingung. Ada banyak masalah sosial pasca-proklamasi, namun Maria tak tahu mana yang harus diselesaikan lebih dulu. Ia pun ragu menerima permintaan Sjahrir.
“Saya juga tidak pernah jadi perdana menteri, kamu yang sering memperlihatkan keberanian mestinya mau (menjadi menteri sosial, red.),” kata Sjahrir membujuk Maria.
Pada akhirnya, Maria menerima permintaan itu. Dorongan untuk memperlihatkan pada dunia kalau Indonesia bukan negara buatan Jepang seperti anggapan Belanda berperan penting dalam keputusan Maria. “Karena kalau di Jepang itu wanita tidak punya kedudukan yang sama dengan pria. Di sini saya perlihatkan kalau wanita Indonesia juga bisa menjadi menteri,” kata Maria pada Dewi Fortuna Anwar dalam wawancara yang diterbitkan Arsip Nasional.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















