- 30 Mar 2024
- 3 menit membaca
Diperbarui: 2 hari yang lalu
LETNAN Kolonel Kahar Muzakkar akhirnya mendapat pasukan tambahan setelah meninggalkan laskar Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS). Pasukannya itu sekelompok bekas narapidana Nusakambangan, Jawa Tengah.
“Beberapa di antaranya mungkin adalah tahanan politik (sekalipun nasionalisme lebih merupakan kejahatan bagi Belanda daripada bagi Jepang yang lebih baru menguasai penjara), tetapi beberapa lagi adalah bandit dan penjahat biasa –pencopet, pencuri, pembunuh,” catat Barbara Sillars Harvey dalam Pemberontakan Kahar Muzakkar: Dari Tradisi ke DI/TII.
Selain Kahar sendiri, pelatihan para bandit itu ditangani anak buah Kahar asal Sulawesi yang ikut berjuang di Jawa. Maulwi Saelan salah satunya.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















