top of page

Sindiran Sosial Dalam Canda

Lawak sering memancing tawa. Alat kritik kaum marjinal.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Kiri-kanan: Sammy D. Putra, Maman Suherman, Hendaru Tri Hanggoro, dan Tarzan dalam diskusi "Lawak di Indonesia" di Jakarta, 26 Oktober 2013.

28 Okt 2013
3 menit membaca

Kiri-kanan: Sammy D. Putra, Maman Suherman, Hendaru Tri Hanggoro, dan Tarzan dalam diskusi "Lawak di Indonesia" di Jakarta, 26 Oktober 2013. (Micha Rainer Pali/Historia).


Seorang pembantu naik ke panggung. Di pundaknya tersampir handuk. Dua tangannya memegang lap dan kemoceng. Dia membersihkan kursi majikannya, mendudukinya, dan meniru polah majikannya. Tanpa disadari pembantu, majikan muncul dari belakang dan berteriak memarahinya. Penonton pun tergelak. Adegan ini muncul dalam pementasan grup lawak Srimulat.


Maman Suherman, pengamat seni, menyebut pementasan Srimulat sering menampilkan satir terhadap pelbagai lini hidup. Mulai hubungan majikan-pembantu sampai kondisi negara. "Seperti di Amerika, lawak di Indonesia memang selalu jadi alat kaum marjinal untuk menyuarakan dirinya, mengolok-ngolok kondisi diri juga negaranya," kata Maman dalam diskusi "Lawak di Indonesia" di Jakarta, 26 Oktober 2013. Ini karena masyarakat Indonesia lekat dengan tradisi lawak.


Baca juga: Srimulat Main Film


Lawak Indonesia mempunyai sejarah panjang. Beberapa prasasti —antara lain Waharu Kuti, Panggumulan, Mantyasih, dan Wukajana— menyebut kehadiran rombongan penghibur di pasar-pasar masa Mataram kuno (abad 8-10 M). Rombongan terdiri atas pemain musik, penari, dan pelawak. Mereka datang atas undangan penduduk desa setempat atau memang sengaja berkeliling sebagai kelompok seniman.


Masyarakat Jawa kuno menyebut pertunjukan lawak sebagai mabanol dan mamirus. Mabanol mengacu pada unsur lawak dengan gerakan-gerakan, sedangkan mamirus lebih menekankan unsur perkataan lucu. Tapi dua-duanya tetap menghibur masyarakat.


Masyarakat senang dengan pertunjukan lawak. Relief Karmawibhangga di Candi Borobudur menggambarkan penonton pelbagai usia berdesakan menyaksikan pertunjukan itu.


Sebaliknya para pelawak bisa menyambung hidup dari penonton atau penanggapnya. Mereka beroleh bayaran atas jasa melawak. "…pelawak bernama Paninangin (diberi upah) wdiha —semacam kain penutup badan— 1 helai," tulis Prasasti Alasantan (939 M).


Baca juga: Pelawak Zaman Kuno


Kakawin Sudamala, karya sastra peninggalan Kerajaan Majapahit, juga mengabadikan sosok pelawak mitologis. Semar namanya. "Di situ telah tampak serba jelas peranan Semar sebagai panakawan dan pelawak. Segala gerak-gerik dan ucapannya serba menggelikan," tulis Slamet Muljana dalam Tafsir Negara Kretagama.


Semar lalu memiliki tiga teman: Gareng, Petruk, dan Bagong. Para dalang menampikan sosok mereka dalam pertunjukan wayang kulit abad ke-16. Kemudian panakawan masuk dunia panggung. Pemain wayang orang kerap berlakon sebagai panakawan. Ini bermula pada masa awal Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Tiap panakawan muncul, penonton tergelak. Tak hanya oleh gerak dan perkataan lucu, tapi juga kritik sosialnya.


Trio Los Gilos —Bing Slamet, Mang Udel, dan Mang Cepot— melanjutkan kritik sosial sebagai salahsatu bahan lawakan pada 1950-an. Mereka mengangkat perihal beban hidup keseharian masyarakat. Mereka juga mulai mengonsep lawak modern. Salahsatunya dengan membuat naskah sebelum tampil di panggung. Setelah itu grup lawak baru bermunculan. Sebut saja Srimulat, Kwartet Jaya, dan Warkop Prambors. Sebagian mengandalkan unsur lawak fisik (slapstick), lainnya menonjolkan kritik. 



Pemerintah tak selalu suka kritik dalam lawak. Majalah Ekspres, 8 Agustus 1970, menyebut Cak Durasim, seorang pemain ludruk di Surabaya, pernah ditahan pemerintah lantaran melontarkan kritik lewat lawak. Tapi pemerintah juga tahu potensi lawak. Maka mereka menggunakan pelawak sebagai corong kepentingannya. "Saya pernah melawak untuk ABRI. Materinya tentang bahaya komunis," kata Tarzan, pelawak Srimulat.


Golongan Karya (Golkar) bahkan merekrut pelawak untuk meraup suara dalam Pemilu 1971. Para pelawak itu tergabung dalam Artis Safari. Strategi ini berhasil. Golkar memenangi Pemilu 1971.


Di bawah kuasa Orde Baru, materi lawak jadi monoton. Lalu muncul kritik dari budayawan bahwa lawak Indonesia tak berkembang. Mereka menilai lawak hanya mempertunjukkan lempar-lemparan kue, jatuh-menjatuhkan kursi, dan segala unsur slapstick lainnya. "Lelucon hanya berupa fragmen dan tidak membentuk kesatuan utuh sebuah cerita," tulis Gus Dur dalam Jakarta-Jakarta, 1986.



Setelah reformasi, berkembang jenis lawak yang sebelumnya kurang dikenal di Indonesia, stand up comedy. Pelawak tampil solo, bukan dalam grup. Mereka mengurangi unsur slapstick dan berusaha mengembalikan kritik dalam lawak. "Kami berusaha mengisi kekosongan lawak kritis di Indonesia dan menyasar publik yang tidak puas terhadap lawak sekarang," kata Sammy D. Putra, pelawak solo.


Menurut Sammy, peluang itu terbuka. "Kritik bisa kami sampaikan secara frontal. Yang dikritik juga bisa tertawa. Tidak seperti saat zaman Mas Tarzan." Melalui lawak, masyarakat kini bisa tertawa sambil tetap merawat daya kritisnya.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
It was not without reason that Ahmad Subardjo was nicknamed “The Guarantor of Independence” in Indonesia. However, he was absent when Sukarno proclaimed independence.
bg-gray.jpg
Saat memimpin Jakarta, Sudiro dihadapkan pada kondisi berantakan. Putar otak demi pembangunan kota, termasuk cari dana di luar lungsuran dari pusat. Sering pula gagasannya ditolak pemerintah pusat.
bg-gray.jpg
Ahmad Subardjo was born in Karawang to a family of Acehnese and Javanese nobility. The beloved son of a civil service police officer, he moved to Batavia to continue his education at a Dutch school.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah became the first female minister in Indonesian history. She handled everything from diplomacy and labor issues to makeup and lipstick.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Piala Dunia Wanita bentuk pengakuan FIFA terhadap perjuangan puluhan tahun.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Beragam cara diambil untuk mengakali atmosfer stadion tanpa “pemain keduabelas”. Dari mural kontroversial hingga boneka seks.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tuan rumah terhindar dari malu di Indonesia Open 2019 berkat kegemilangan ganda putra. Sektor yang dulunya dipandang sebelah mata.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Tragedi Kanjuruhan jadi salah satu petaka terparah dalam catatan sejarah.
Lorenzo dan Marquez diprediksi bakal berseteru bak perseteruan Prost-Senna yang sohor sebagai persaingan tersengit di lintasan.
Lorenzo dan Marquez diprediksi bakal berseteru bak perseteruan Prost-Senna yang sohor sebagai persaingan tersengit di lintasan.
Cara mudah ikut melestarikan lingkungan sekaligus merawat situs-situs bersejarah dari rumah.
Cara mudah ikut melestarikan lingkungan sekaligus merawat situs-situs bersejarah dari rumah.
transparant.png
bottom of page