- 29 Sep 2022
- 3 menit membaca
Diperbarui: 24 Apr
SENIN malam, November 1937. Seorang wanita bertubuh mungil berbicara menggunakan bahasa Melayu di hadapan orang-orang Belanda di aula besar Lybelle, Rotterdam. Ia menceritakan pengalamannya selama ditahan bertahun-tahun di kamp Boven Digul, Papua. Wanita asal Indonesia itu bernama Raden Soekaesih.
Pidato Soekaesih, yang diterjemahkan oleh G.J. van Munster, tak hanya mengisahkan penderitaannya selama menjadi tahanan di kamp Digul. Ia juga menuntut agar kamp-kamp konsentrasi seperti kamp Digul ditutup.
Soekaesih sontak menjadi sorotan publik Belanda. Tak sedikit masyarakat yang bersimpati atas pengalaman pahit yang dilaluinya. Pidatonya diberitakan banyak surat kabar di Belanda.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















