top of page

Sri Sultan, Es Puter, dan Pedagang Beras

Kebersahajaan Sri Sultan Hamengkubuwono IX tercermin kala dia memperlakukan para sahabat dan rakyatnya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 11 Apr 2021
  • 3 menit membaca

SUATU senja di tahun 1946. Kereta Api Luar Biasa yang datang dari Yogyakarta terhenti di Stasiun Klender, Jakarta Timur. Kendati memuat sejumlah pejabat RI (Republik Indonesia) yang akan melakukan perundingan dengan pihak Sekutu dan Belanda di Jakarta, namun tak urung izin masuk Jakarta dari NICA (Pemerintah Sipil Hindia Belanda) tetap diperlukan.


Sudah beberapa menit kereta api tak jalan jua. Cuaca Klender yang panas membuat para penumpang kegerahan. Rasa dahaga pun mendera. Dokter Abdoel Halim memutuskan keluar dari gerbong untuk mencari minuman dingin. Baru saja meloncat keluar tetiba terdengar suara Sri Sultan Hemengkubuwono IX di belakangnya.


“Hei Dok, mau kemana?” tanya Raja Jawa itu.


“Ah tidak…Saya mau mencari minuman,” jawab Halim.


Ik ga met u mee,” jawab Sri Sultan sambil meloncat dari dalam kereta api. Sang adik Pangeran Bintoro lantas mengikutinya.


Menyaksikan itu, Halim agak terperangah. Dia tak berani mengajak Sri Sultan karena berpikir mana mungkin seorang bangsawan yang kedudukannya sangat tinggi mau nongkrong dengannya sambil minum di pinggir jalan.


“Ini bisa bikin repot, mana ada restoran yang lumayan di dekat stasiun ini,” pikir Halim seperti dikisahkannya dalam buku Tahta untuk Rakyat: Celah-celah Kehidupan Sultan Hamengkubuwono IX (disunting oleh Atmakusumah).


Meskipun agak segan, Halim menunggu Sri Sultan dan Pangeran Bintoro untuk menyertainya cari minuman. Mereka kemudian jalan beriringan keluar dari lingkungan Stasiun Klender.


Beberapa meter dari stasiun nampaklah seorang tukang es puter tengah melayani para pembelinya. Merasa jengah jika harus mengajak Sri Sultan dan adiknya itu jajan minuman di pinggir jalan, Halim terus melewati gerobak es puter tersebut.


“Hai Dok, mengapa berjalan terus? Ini kan ada es puter, di sini saja kita minum,” kata Sri Sultan.


Jadilah mereka bertiga jajan es puter di depan Stasiun Klender. Anehnya, tak nampak gelagat dua bangsawan itu terlihat rikuh. Dengan santainya mereka menikmati es puter sambil berdiri di sela lalu-lalang kendaraan dan pejalan kaki.


“Dengan kejadian itu, mendadak hilanglah sikap segan dari saya terhadap orang bangsawan yang feodal itu dan mulai terpikir oleh saya bahwa orang ini selanjutnya mungkin dapat menjadi kawan yang akrab,” ungkap Abdoel Halim.


Kebersahajaan Sri Sultan juga terceritakan Komandan Komando Militer Kota (KMK) Yogyakarta Mayor Pranoto Reksosamodra pada 1950. Suatu hari Sri Sultan pulang blusukan dari pelosok. Di Desa Godean, tetiba Land Rover-nya dihentikan oleh seorang perempuan penjual beras.


Tanpa pikir panjang, Sri Sultan menghentikan jip buatan Inggris itu. Belum Sri Sultan mengeluarkan sepatah kata, perempuan itu sudah berseru: “Niki, karung-karung beras niki diunggahake!” Rupanya, sang penjual beras yang tak mengenal wajah Sri Sultan mengira raja Jawa itu sebagai sopir angkutan beras yang biasa membawa para pedagang ke Pasar Kranggan di wilayah kota Yogyakarta.


Sri Sultan pun mengangkat dua karung besar beras ke bagian belakang kendaraannya. Sementara itu sang penjual beras langsung menaiki jip dan duduk di samping Sri Sultan. Sepanjang jalan, mereka ngobrol dengan akrabnya hingga tak terasa sampai tujuan. Tanpa diperintah, Sri Sultan lantas keluar dari mobil. Dengan tangkas diturunkannya karung-karung berisi beras tersebut.


Begitu selesai, penjual beras itu lantas merogoh kemben usangnya dan mengeluarkan uang lembaran dan disodorkan ke Sri Sultan. Lelaki ramah itu tersenyum dan menggelengkan kepala. Disikapi seperti itu, alih-alih berterimakasih, sang penjual beras malah ngomel-ngomel, dikiranya “sang sopir” tidak mau menerima  ongkos karena jumlah uangnya yang kurang.


Dengan sabar, Sri Sultan mengatakan,” Pun boten sisah, Mbakyu.”  Artinya: tidak usah bayar, Mbak. Tanpa menunggu jawaban dari si penjual beras, Sri Sultan lantas memacu Land Rover-nya ke arah keraton.


“E, eee…Diwenehi duwit kok nampik. Sumengkean temen ta sopir kuwi,” gerutu penjual beras itu. Ya, siapa yang tak berkata demikian di zaman susah itu jika ada sopir angkutan yang begitu “belagu” menampik duit.


Kendaraan Sri Sultan sudah berlalu, namun perempuan itu tetap saja mengomel. Tanpa disadarinya  sudah lama prilakunya disaksikan banyak orang yang ada di sekitarnya. Seorang polisi lantas menghampiri penjual beras itu dan memberitahu jika “sopir” yang baru diomelinya itu adalah Ngarsa Dalem.


Bukan main kagetnya penjual beras itu. Bahkan saking kagetnya, ia lantas terhuyung-huyung dan jatuh pingsan hingga dilarikan ke Rumah Sakit Bethesda. Kejadian itu lantas berkembang dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga Sri Sultan.


“Sri Sultan mendapat laporan bahwa si penjual beras dirawat di Rumah Sakit Bethesda, maka beliau pun memerlukan datang untuk menengoknya,” ungkap Pranoto Reksosamodra dalam otobiografinya, Catatan Jenderal Pranoto Reksosamodra: Dari RTM Boedi Oetomo sampai Nirbaya.*

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje traveled to Jeddah and Mecca to observe and gather information about Muslims in the Dutch East Indies.
bg-gray.jpg
Gerilya di hutan hingga dapat julukan Ratu Rimba Malaya, Shamsiah Fakeh pernah ditangkap di Jakarta pasca peristiwa G30S 1965.
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Chairil Anwar dan Des Alwi jual beli barang bekas. Dari aktivitas itu Sutan Sjahrir memperoleh radio gelap untuk mendengarkan berita kekalahan Jepang.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Mata-mata Barat mengumpulkan kertas yang dijadikan tisu toilet oleh tentara Soviet. Kertas itu berisi informasi penting tentang rencana hingga pengembangan alat tempur.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Dulu sempat cuma dianggap olahraga rekreasi, lantas Prancis berbenah. Denmark sampai Indonesia pun keok dibuatnya.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Prajurit KNIL Kamby desersi menyeberang ke pihak Aceh. Dia sampai pindah agama.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Chairil Anwar dan ayahnya wafat di tahun yang sama. Diperingati sebagai hari berkabung di Indragiri dan Hari Puisi Nasional.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
Mahmoud Abbas tak punya legitimasi, kata sejarawan Vijay Prashad. Pemimpin Palestina sebenarnya ada di penjara, salah satunya Marwan Barghouti.
transparant.png
bottom of page