- 4 Nov 2020
- 3 menit membaca
Diperbarui: 12 Apr
PADA September 1939, Gusti Raden Mas Dorojatun menerima sebuah telegram dari ayahnya, Sultan Hamengkubuwono VIII. Dorojatun yang sedang menempuh pendidikan di Belanda bersama saudara-saudaranya, tidak menyangka akan dihubungi sang ayah. Terlebih surat itu memuat juga permintaan mengejutkan ayahnyat: sesegera mungkin kembali ke tanah air.
Rupanya Sri Sultan khawatir kondisi gawat di Eropa pasca penyerbuan Jerman ke Polandia mengancam keselamatan putra-putranya di Belanda. Maka disiapkanlah rencana pemulangan oleh pejabat Belanda yang khusus mengurusi perjalanan para putra Yogyakarta. Namun tiket pelayaran menuju Hindia Belanda hanya tersisa satu kursi. Diputuskanlah di antara kelima putra Sultan, sesuai permintaan, Dorojatun berangkat lebih dahulu. Perjalanan pulang yang memakan waktu berminggu-minggu pun dimulai.
“Terselip rasa kecewa sejenak karena ia merasa sebagai mahasiswa tingkat doktoral sebaiknya menyelesaikan studi sampai tuntas, lalu pulang membawa gelar yang diinginkan. Akan tetapi, dalam surat-surat dari rumah ia merasakan kecemasan keluarganya. Ia maklum, situasi memang gawat. Lagi pula ia mendengar kesehatan ayahanda akhir-akhir ini mundur keadaannya,” tulis Mohammad Roem, dkk.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















