- 19 Sep 2025
- 4 menit membaca
Diperbarui: 23 Mei
SETELAH menerima kabar kekalahan Jepang, anggota PKI Ilegal di bawah kepemimpinan Widarta berkumpul di Pemalang. Mereka mengadakan rapat di pos kehutanan Sukawati. Hadir antara lain Widarta, Soekardiman (Cilik), Wikana, Mulyadi (Djono Bungkuk), Marto, K. Midjaja, dan seorang kader lokal dari Pekalongan.
Rapat mendiskusikan perkembangan partai. Posisi Uni Soviet tak menentu setelah kemenangan Sekutu. Amir Sjarifuddin masih di penjara. Nasib kader lainnya tak jelas. Partai juga kekurangan pimpinan, anggota, uang, dan senjata. Organ partai Menara Merah tak terbit lagi dan belum ada penggantinya. Sementara tentara Jepang masih kuat dan Kempetai masih memburu orang-orang komunis.
Rapat memutuskan untuk sementara PKI tetap bergerak di bawah tanah. Mereka juga menerbitkan selebaran-selebaran, tanpa cap dan nama PKI, yang berisi ajakan melawan Jepang. “Dengan demikian, akan menjadi milik siapapun dan mereka dapat melancarkan aksi atas nama revolusi dan bukan atas nama PKI,” tulis Anton Lucas dalam Radikalisme Lokal.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















