- 16 Sep 2025
- 6 menit membaca
Diperbarui: 5 hari yang lalu
DI usianya yang senja, Amar Sudarman masih mengingat masa-masa kelam di kampungnya bertahun-tahun lalu. Gerombolan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) mengganggu keamanan Kewedanaan Cililin –kini menjadi beberapa kecamatan di Kabupaten Bandung Barat. Melakukan kekerasan, penjarahan, pembakaran, hingga pembunuhan. Pada 1952, Amar ikut bergabung dalam Organisasi Keamanan Desa (OKD) untuk menumpas DI/TII.
“Di sini kosong. Tentara kita [Divisi Siliwangi] hijrah ke Yogyakarta. Yang mengisi di sini dan sekitaran Bandung namanya Batalyon 22 Djaja Pangrengot,” ujar Amar Sudarman (89 tahun) dengan bahasa Sunda loma saat ditemui di kediamannya di Kampung Jati Radio, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dua tahun lalu.
Divisi Siliwangi meninggalkan kantong-kantong gerilyanya di Jawa Barat sesuai klausul dalam Perjanjian Renville tahun 1948. Namun, beberapa batalyon diperintahkan oleh Markas Besar Tentara di Yogyakarta untuk bertahan melawan Belanda. Salah satunya adalah Batalyon 22 pimpinan Mayor Soegih Arto yang bermarkas di Kewedanaan Cililin –mencakup Kecamatan Cililin, Gununghalu, dan Sindangkerta.
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

















