top of page

Teror Van der Plank di Tanah Karo

Van der Plank menebar intimidasi di kampung-kampung. Namun saat militer Belanda akan angkat kaki, sang algojo tidak mengakui perbuatannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png
  • 12 Mar 2020
  • 3 menit membaca

TANAH KARO, 5 Maret 1949, segerombolan pasukan Belanda pimpinan Mayor Van der Plank mengadakan gerakan ke daerah Empat Teran (Simpang Empat) . Begitu tiba di Kampung Sigarang-garang, mereka menyatroni beberapa rumah lalu membakarnya. Di tengah aksi intimidasi itu, sebanyak 5 penduduk diberondong peluru. Kelimanya ditembak mati karena tidak mau menunjukan tempat persembunyian gerilyawan Indonesia.


“Kelima penduduk yang menjadi korban keganasan Van der Plank tersebut ialah Benih Karo-karo (kepala kampung yang diangkat oleh pemerintah RI), Katan, Menet, Maca, dan Pa Ngaku,” ujar saksi mata Sumbul Ginting, seperti dikutip Letkol (Purn.) A.R. Surbakti dalam Perang Kemerdekaan II: Tanah Karo Jahe dan Dairi Area.


Peristiwa penggerebekan berdarah yang terjadi di Kampung Sigarang-garang tadi bukan hanya terjadi sekali.  Sepanjang paruh pertama 1949, Van der Plank melancarkan serentetan teror ke berbagai kampung di Tanah Karo. Van der Plank memimpin satuan polisi antigerilya (Troopen Intellegence Vor Gerilya/TIVG) yang bertugas memburu pejuang Republik. Namun dalam menjalankan tugasnya, pasukan Van der Plank kerap menyertakan tindakan brutal. Di beberapa tempat, mereka menjarah dan membakar kampung yang disambangi hingga membunuh warga setempat.


Berkunjung dan Mengeksekusi


Sebulan sebelumnya, tepatnya 18 Februari 1949, Van der Plank menyambangi Kampung Batukarang. Di sana, pasukan Van der Plank mengancam penduduk. Bahkan, seturut dengan catatan harian Djamin Gintings, Komandan Resimen IV Divisi X,beberapa warga ada yang ditembak mati di hadapan seluruh penghuni kampung.


Menurut Djamin Gintings, Van der Plank kian beringas seiring dengan pukulan yang dilancarkan pejuang Republik. Dalam memberikan reaksi atas serangan-serangan gerilya pasukan Indonesia, Van der Plank melampiaskannya kepada rakyat. Bukan sekedar mengancam, tapi untuk menanamkan rasa takut nan mencekam Van der Plank tidak segan menembak penduduk.  


“Semakin hebat gerakan pasukan kita, Van der Plank pun rupanya semakin mengganas,” tulis Djamin Gintings dalam catatan hariannya berjudul Bukit Kadir yang dibukukan pada 1964.


Van der Plank selalu punya kecurigaan bahwa penduduk kampung melindungi ekstrimis Indonesia. Oleh karena itu, untuk membongkar pertahanan rakyat, dia menebar teror lewat aksi semena-mena. Selain itu, sekitar Februari – Maret 1949, Van der Plank menyerukan sayembara: “bahwa setiap anggota intelijen Belanda (NEFIS)  yang dapat menangkap pejuang Republiken diberikan hadiah uang sebesar 1000-50.000 gulden per orang.”  Dengan taktik demikian, Van der Plank dapat memburu gerilyawan dan rakyat pro Republik dengan sekali tebas.   


“Banyak anggota-anggota gerakan ditangkap dari desa satu ke desa lainnya oleh TIVG dibawah pimpinan Mayor Van der Plank yang keji itu,” tulis Tukidjan Pranoto dalam Tetes Embun di Bumi Simalungun.


Van der Plank “Cuci Tangan”


Pada 9 Juni 1949, Van der Plank menggerakan pasukannya dari Kabanjahe ke kampung Kandibata. Tidak seperti biasanya, waktu yang dipilih Van der Plank justru pada saat ramainya penduduk yang pulang dari sawah dan ladang. Setibanya di Kandibata, pasukan Van der Plank beraksi dengan mengepung dan menggerebek beberapa rumah. Beberapa penduduk ditangkap dan dibariskan. 


Sebanyak 45 warga Kandibata diinterogasi dengan menayakan nama masing-masing. Dari semuanya hanya 3 orang yang diperintahkan keluar dari barisan. Begitu mereka menyisihkan diri, Van der Plank segera menembaknya hingga mati. Salah seorang yang rebah di tangan Van der Plank itu ialah Selat Purba yang merupakan ayah dari Letnan Riswan Purba. Sementara itu, dua orang lainnya bernama Lenggur Ginting dan Jagut Surbakti. Keduanya merupakan tukang penyadap enau yang sering memberikan air niranya kepada pejuang gerilya TNI Sektor III pimpinan Mayor Selamat Ginting.     


Ketika pasukan Van der Plank hendak meninggalkan Kandibata, Van der Plank kembali melontarkan ancaman, “Kalau masih ada penduduk yang membantu gerilya TNI, maka semua penduduk kampung ini akan ditembak mati,” catat Surbakti.


Aksi semena-semana Van der Plank mereda jelang persiapan Konferensi Meja Bundar (KMB). Saat itu, kesepakatan gencatan senjata sudah efektif untuk melaksanakan local joint commitee pada Agustus 1949 di Medan. Perundingan di tingkat lokal antara pihak Indonesia dan Belanda diawasi oleh  UNCI, pihak ketiga yang berasal dari Komisi Jasa Baik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Makanya, TIVG yang berada di bawah komando Van der Plank pun tidak berani lagi berlaku semena-mena terhadap rakyat sipil.  


Ketika berlangsung local jointcommite itulah Letkol Djamin Gintings yang mewakili Tanah Karo untuk kali pertama bersua dengan Van der Plank. Di sela-sela perundingan, Van der Plank sengaja menemui Djamin Gintings yang menginap di Hotel Langkat. Djamin Gintings mengenang sosok Van der Plank sebagai pemilik postur tinggi dan tegap. Van der Plank berusaha menyelamatkan diri sehubungan dengan citra busuknya sebagai penyiksa dan pembunuh sejumlah penduduk di beberapa kampung.    


Kepada Djamin Gintings, Van der Plank mengklarifikasi bahwa sebenarnya bukan dia yang menangkapi dan menyiksa atau membunuh penduduk sipil, tetapi itu semua perbuatan pimpinan tentara Belanda yang lain. "(Soal) kebenaran ceritanya hanya dia yang tahu,” ujar Djamin Gintings.

Komentar

Dinilai 0 dari 5 bintang.
Belum ada penilaian

Tambahkan penilaian
bg-gray.jpg
Sebelum menjadi sentra kuliner seperti sekarang, kawasan Jalan Sabang pernah menjadi tempat nongkrong anak gaul Jakarta hingga tempat mangkal tante-tante kesepian.
bg-gray.jpg
Klub sepakbola yang dibangun komunitas Arab Pekalongan ini tak bisa dianggap remeh. Kendati kerap didera kesulitan finansial, Alhilaal berhasil merengkuh gelar juara.
bg-gray.jpg
After leading the PETA uprising in Blitar, Supriyadi fled to the jungle and disappeared. It is believed that he was secretly killed by the Japanese as his body is nowhere to be found to this day.
bg-gray.jpg
Kala ditugaskan ke Pontianak, Rudy Blatt dapat informasi pembantaian rakyat oleh Jepang. Berinisiatif mencari para penjahat perang Jepang itu.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Rudy Pirngadie jenderal berbintang pudar. Gemerlap justru memancar dari bintangnya di dunia musik. Dijuluki Buaya Keroncong hingga Jenderal Keroncong.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Donald Trump menghina Paus Leo XIV. Dahulu Napoleon menangkap dua Bapa Suci.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Dari bergeliat, peternakan-peternakan sapi perah di seantero Jakarta perlahan menghilang akibat gejolak politik. Ada banyak haji di balik industri tersebut.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Perjalanan 50 tahun Apple penuh inovasi dan tantangan, bermula dari garasi hingga rmenjadi raksasa teknologi global.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Dalam kisah legenda Jawa, Roro Mendut dikenal sebagai wanita yang berani mendobrak anggapan merokok identik dengan laki-laki. Ia berjualan rokok demi menolak dipinang sang punggawa istana.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
Sebagai pengarang novel populer, Motinggo Boesje memelopori konsep tante girang. Sementara itu, Ali Shahab pengarang pertama yang mencantumkan istilah tante girang pada novelnya.
transparant.png
bottom of page