- 14 Apr 2021
- 4 menit membaca
MACTAN, Filipina, 27 April 1521. Ferdinand Magellan bersama 60 anak buahnya telah bersiap perang melawan penduduk Mactan tiga jam sebelum fajar. Mereka sudah berbaju zirah lengkap dengan helm. Mereka juga disertai raja lokal, pangeran, beberapa pemimpin lokal dan sekitar 30 perahu tradisional balanghai.
Perang tersebut disebabkan karena penduduk Mactan tidak mau tunduk pada perintah Magellan maupun pada raja-raja lokal yang telah memeluk Katolik. Merekapun siap bertempur. Tombak-tombak bambu dengan pucuk besi tajam dan panah-panah beracun telah disiapkan. Lubang-lubang jebakan juga telah digali di sekitar rumah-rumah penduduk. Mactan tak ingin jatuh ke tangan Magellan.
“Kapten tidak ingin berperang saat itu, tetapi mengirim pesan kepada penduduk asli melalui orang Moor yang menyatakan bahwa jika mereka mematuhi raja Spanyol, mengakui raja Kristen sebagai penguasa mereka, dan memberi upeti, kapten akan menjadi teman mereka; tetapi jika mereka menginginkan sebaliknya, mereka akan melihat bagaimana tombak kami melukai,” tulis Antonio Pigafetta dalam The First Voyage around the World (1519– 1522): An Account of Magellan’s Expedition (Theodore J. Cachey Jr., Ed.).
Ingin membaca lebih lanjut?
Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.


















