top of page

Walter Spies dan Renaisans Bali

Walter Spies punya kontribusi besar untuk kesenian Bali. Kampanye homofobia menjadi awal kejatuhannya.

loading_historia_white.gif
transparant.png

Walter Spies dan Angelica Archipenko alias Gela Forster berpose untuk difoto oleh Rudolf Bonnet. (Tropenmuseum/Wikimedia Commons).

22 Jan 2011
4 menit membaca

Diperbarui: 19 Jan

WALTER SPIES sedang frustrasi. Hubungan yang telah dia jalin selama beberapa tahun dengan Friedrich Murnau, sutradara film kenamaan asal Jerman, memburuk. Spies, pelukis berkebangsaan Jerman yang lahir di Moskow, Rusia, pada 1895, bertemu Murnau pada 1919 ketika dia berusia 24 tahun. Saat itu dia baru memulai karier sebagai pelukis dan mengadakan pameran perdana. Murnau kemudian menyediakan studio untuk Spies melukis, juga mempercayakan kerja artistik film-filmnya.


Hubungan mereka retak. Spies akhirnya memutuskan bahwa, ”nyaris tak mungkin bagi dirinya untuk merasa nyaman di Eropa,” sebagaimana dikisahkan Robert F. Aldrich dalam Colonialism and Homosexuality.

Ingin membaca lebih lanjut?

Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini.

bg-gray.jpg
Semaoen dikenal sebagai wartawan yang tajam mengkritik pengusaha kapitalis dan pemerintah kolonial. Akibatnya, dia dipenjara karena delik pers. Selama ditahan, dia menulis Hikajat Kadiroen.
bg-gray.jpg
Di usianya yang masih muda, Semaoen memimpin dan menggerakkan serikat buruh. Dia memperjuangkan pekerja tertindas dengan melancarkan pemogokan, sampai diusir pemerintah kolonial.
bg-gray.jpg
Beranjak remaja di tengah berseminya pergerakan, Semaoen “dibentuk” Sneevliet guna merintis jalan revolusioner.
bg-gray.jpg
Maria Ullfah suffered a series of losses during her life. She lost four of her loved ones in a very short time.
transparant.png
bottom of page