Hasil pencarian
9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Relief Tersembunyi di Gedung Sarinah
Gedung Sarinah ramai diperbincangkan setelah akun Instagram @liayuslan memperlihatkan foto relief tersembunyi di lantai dasar gedung toserba pertama Indonesa itu. Relief-relief itu dibuka kembali bersamaan dengan renovasi Sarinah. Menurut unggahan Instagram @liayuslan, relief itu berukuran 3x12 meter. Relief tersebut, sebagaimana diunggah arkeolog Candrian Attahiyyat di saluran Youtube, berada di dalam ruang mekanikal elektrikal di lantai dasar. Beberapa bagiannya terhalang oleh pipa-pipa dan perangkat kelistrikan. Secara umum, relief tersebut menggambarkan beberapa sosok petani, pedagang dengan pikulan berisi ikan hingga perempuan membawa bakul hasil panen. Dalam video Candrian disebutkan bahwa relief ini kemungkinan ditutup pasca-kebakaran tahun 1984. Namun belum ada informasi pasti perihal itu. Yuke Ardhiati, penulis buku Bung Karno Sang Arsitek, menyebut bahwa informasi mengenai relief itu belum bisa dipublikasikan dan menunggu konferensi pers resmi dari pihak PT Sarinah. Siapa seniman yang membuat patung tersebut juga belum bisa dipastikan. “ Not clear . Belum ditemukan data otentiknya,” kata Yuke kepada Historia . Pembangunan gedung Sarinah dimulai dengan peletakan batu pertama pada 17 Agustus 1963 oleh Presiden Sukarno. Sukarno menginginkan Sarinah bisa menjadi department store untuk mengatur harga sekaligus menyokong ekonomi sosialis. Ia juga menegaskan bahwa yang dijual di Sarinah adalah barang hasil berdikari. “Barang bikinan Indonesia. Yang boleh impor hanya 40 persen. Tidak boleh lebih. Enam puluh persen mesti barang kita sendiri. Jual-lah di situ kerupuk udang bikinan sendiri. Jual-lah di situ potlot kita sendiri ,” kata Sukarno dalam Sidang Paripurna Kabinet Dwikora, 15 Januari 1966, yang termuat dalam Revolusi Belum Selesai . Gedung yang diberi nama dari nama pengasuh Sukarno itu diresmikan pada 17 Agustus 1966. Sarinah menjadi salah satu proyek mercusuar Sukarno bersama Monumen Nasional, Stadion Gelora Bung Karno, dan berbagai patung di Jakarta. Dalam pembangunan proyek-proyek tersebut, Sukarno kerap menambahkan patung, relief maupun mozaik. Patung, relief, dan mozaik itu digunakan untuk menunjukkan unsur keindonesiaan dalam sebuah bangunan. Beragam unsur kebudayaan dan mitologi dirangkai menjadi tamansari wajah Indonesia. Salah satu yang cukup terkenal sekaligus sempat terbengkalai adalah relief di ruang VIP Bandara Kemayoran. Relief itu dibuat oleh para anggota Seniman Indonesia Muda (SIM) di bawah komando Harijadi Sumadidjaja, Surono, dan Sudjojono. Bandara Kemayoran mulai terbengkalai setelah dibuka Bandara Halim Perdana Kusuma dan Soekarno Hatta pada 1985. Beruntung, pada 2019 Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Pusat Pengelolaan Komplek (PPK) Kemayoran melakukan Konservasi Karya Relief di eks Bandara Kemayoran. Relief serupa yang dibuat dari gagasan Sukarno adalah relief “Pesta Pura di Bali” karya Harijadi serta relief “Perempuan Indonesia Terbang” karya RM Surono di depan Hotel Indonesia. Sementara, relief “Untung Rugi di Kaki Merapi” karya Harijadi menghiasi Hotel Royal Ambarukmo Yogyakarta. Dibukanya kembali keberadaan relief di Gedung Sarinah tentu dapat melengkapi narasi sejarah seni rupa Indonesia.
- Bobolnya Gedung Capitol
GEDUNG Capitol di Washington DC, Amerika Serikat, diserang dan diduduki massa pendukung Donald Trump pada Rabu (6/1/2021) siang hingga petang waktu setempat. Simbol parlemen negeri adidaya itu dikuasai karena massa tak terima figur yang diusungnya, petahana dalam Pilpres 2020, kalah dari Joe Biden. Sebagaimana dirangkum Boston Globe , Rabu (6/1/2021), ribuan pendukung Trump berbondong-bondong dari The Ellips, taman di sisi selatan Gedung Putih, menuju Gedung Capitol. Mereka terprovokasi pernyataan Presiden Trump yang bersikeras kekalahannya karena dicurangi. “Kita bertarung habis-habisan karena jika tidak, kita akan kehilangan negara kita. Kita akan turun ke jalan menyusuri Pennsylvania Avenue dan kita akan menuju (gedung) Capitol,” seru Trump kepada ribuan pendukungnya di The Ellips. Di saat yang sama di Gedung Capitol, para anggota senat dan legislatif tengah merampungkan penghitungan suara final dan kemudian akan meresmikan kemenangan pasangan Joe Biden dan Kamala Harris dari Partai Demokrat. Namun belum lagi agenda mereka rampung, ribuan massa pro-Trump sudah menerobos barikade dan aparat keamanan Capitol. Pendudukan Gedung Capitol oleh massa perusuh pro-Donald Trump. (Wikipedia). Aparat keamanan tak mampu membendung arus massa. Kekuatan mereka dipecah antara untuk yang mengadang dan mengevakuasi para anggota senat dan legislatif serta wakil presiden petahana Mike Pence. Sekira pukul 2.30 siang, Gedung Capitol pun dikuasai massa yang kemarahannya mereka salurkan ke tindakan penjarahan, vandalisme, dan pengrusakan. Butuh waktu tiga jam bagi para anggota Kepolisian Capitol dan Metropolitan DC, yang dibantu para agen FBI dan Homeland Security, untuk merebut kembali Gedung Capitol. Bentrokan sempat terjadi dengan klimaksnya terdengar beberapa kali suara tembakan. Sebanyak 70 orang luka-luka dan lima nyawa melayang, satu dari aparat kepolisian dan empat dari pihak massa. Penangkapan terhadap 80 oknum massa yang mengikutinya kemudian menuai kecaman. Selain dari politisi Partai Demokrat maupun Republik, kecaman juga datang dari kalangan akademisi. Sosiolog Profesor David Meyer dari University of California, salah satunya. “Gedung Capitol adalah magnet bagi aksi unjuk rasa dan kadang kekerasan yang menyertainya. Hanya saja yang sangat tidak masuk akal kali ini adalah, Presiden Amerika (Donald Trump) sendiri yang mengajak massa untuk melakukan kekerasan terhadap lawan politiknya,” ujar penulis The Politics of Protest: Social Movements in America itu kepada Reuters , Jumat (8/1/2021). Meyer juga mengungkit bahwa itu bukan kali pertama simbol demokrasi Amerika yang terbagi dua kamar parlemen itu diinvasi. Dua abad silam, hal serupa pernah terjadi meski faktor penyebab dan kondisinya berbeda. Capitolinus, Capitolina, Capitol Gedung Capitol dibangun bersamaan dengan Capitol Hill yang jadi kawasan tempat tinggal tertua di Washington City (kini Washington DC), kota yang menyandang nama presiden pertama, George Washington. Kota itu baru dibangun dan akan dikembangkan sebagai calon ibukota baru, menggantikan Philadelphia yang menjadi ibukota sementara sejak Revolusi Kemerdekaan Amerika. Gagasan pemindahan ibukota oleh pemerintah federal lantas direalisasikan lewat dikeluarkannya Residence Act pada 1790, di mana ibukota akan dipindah dari Philadelphia ke Washington City (kini Washington DC). “Setelah adanya Residence Act, pada Maret 1791 (menteri luar negeri) Thomas Jefferson mengemukakan usulan rencana tata kotanya kepada (presiden) George Washington. Pada 4 April (1791) Washington mempercayakan penggarapan rencananya kepada Mayor Pierre Charles ‘Peter’ L’Enfant, seorang insinyur di kalangan militer Amerika keturunan Prancis,” ungkap James D. Kornwolff dkk. dalam Architecture and Town Planning in Colonial North America, Volume 3 . Arsitek William Thornton (kiri) dan cetak biru L'Enfant Plan. (National Gallery of Art/Repro: History of the United States Capitol ). Khusus untuk gedung parlemen yang dalam cetak biru masih disebut sebagai “Congress House”, Mayor L’Enfant menetapkan lokasinya di Jenkin’s Hill. Posisinya tepat di seberang President’s Mansion (kini Gedung Putih) yang hanya terpisahkan bentangan jalan Pennsylvania Avenue. Setelah penentuan lokasi, desain Congress House bersamaan dengan desain President’s Mansion disayembarakan oleh Jefferson pada 1792 dengan iming-iming hadiah uang 500 dolar dan sebidang tanah di Washington City. Sayembara itu dimenangkan oleh desain karya arsitek William Thornton. Menurut William C. Allen dalam History of the United States Capitol: A Chronicle of Design, Construction, and Politics , desain Thornton dianggap yang paling elegan di antara 10 karya arsitek yang ikut sayembara. Desain Congress House Thornton terinspirasi dari dua monumen megah di Paris: Monumen Panthéon dengan kubah besarnya dan Louvre Colonnade atau muka bangunan sisi timur Palais du Louvre dengan pilar-pilar megah bergaya Romawinya. Desain awal Congress House alias Gedung Capitol karya arsitek William Thornton. (Library of Congress). Pembangunannya kemudian dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Presiden Washington pada 18 September 1793, dan rampung tujuh tahun berselang. Sesuai rencana awal, gedung tersebut mulai ditempati para anggota parlemen tahun 1800. Nama Congress House kemudian diganti menjadi The Capitol, senada dengan permukiman Capitol Hill yang juga bagian tata kota garapan L’Enfant. “Jeffersonlah yang konsisten dan bersikeras kala beraudiensi dengan anggota legislatif bahwa gedungnya akan dinamai ‘Capitol’ ketimbang ‘Congress House’ sebagaimana dalam rencana L’Enfant. Nama ‘Capitol’ bersumber dari bahasa Latin untuk penyebutan Kuil Dewa Jupiter Capitolinus yang berlokasi di atas Bukit Capitolina, Roma, Italia,” singkap Allen. Kendati begitu, lanjut Allen, belum ada penjelasan lebih terang terkait hubungan antara kuil di Roma itu dengan gedung parlemen di Washington. Kemungkinan besar Jefferson memilih nama itu sekadar menyamakan beberapa bagian arsitekturnya yang bergaya Romawi. Dikuasai dan Dibakar Pasukan Inggris Belum dua dekade digunakan para anggota parlemen Amerika, Gedung Capitol diinvasi, dirusak, hingga dibakar pasukan Inggris. Petaka itu datang pada 24 Agustus 1814 di tengah Perang 1812 yang berlangsung 18 Juni 1812-17 Februari 1815. Perang 1812 adalah konflik skala besar antara Amerika dan Inggris setelah Perang Revolusi Amerika (1775-1783). Inggris menjadikan Washington City sasaran untuk diratakan dalam Kampanye Chesapeake, satu bagian dalam Perang 1812, sebagai balasan terhadap pembumihangusan Port Dover, ibukota Provinsi Upper Canada, oleh pasukan Amerika pada Mei 1814. Dalam kampanye Chesapeake, 4.500 ribu personil pasukan Inggris pimpinan Jenderal Robert Ross dengan gemilang memukul pasukan Amerika yang dikomando Jenderal William H. Winder –yang jumlahnya nyaris dua kali lipat– pada 24 Agustus 1814 dalam pertempuran dramatis di kota Bladensburg, 13,8 km timur laut Washington City. Usai Pertempuran Bladensburg, hari itu juga pasukan Jenderal Ross terus menerjang musuhnya hingga memasuki Washington City. “Seiring laju mundur pasukan Amerika, Inggris yang masuk ibukota pada malam hari mulai menunaikan kesumatnya lewat darat dan laut atas serangan Amerika ke ibukota Kanada sebelumnya. Pasukan Inggris menghancurkan gedung-gedung pemerintahan federal,” sambung Allen. Gedung Capitol termasuk yang jadi sasaran. Setelah diserbu, gedung setinggi 88 meter itu barang-barangnya dijarah dan bangunannya dirusak dan dibakar atas perintah Jenderal Ross. Ketika ditinggalkan pasukan Inggris, Gedung Capitol hanya menyisakan aula sisi barat yang masih utuh. “Kerugian dari pembakaran itu antara lain jurnal-jurnal rahasia negara yang disimpan di ruangan juru tulis Gedung Capitol, juga sejumlah barang seni, naskah-naskah bersejarah, buku-buku dan peta-peta di perpustakaan. Walau aula legislasinya masih utuh, tetap saja kerusakan-kerusakannya jadi kerugian yang sangat besar,” tambahnya. Pasukan Inggris memasuki Washington City (atas) dan Gedung Capitol setelah dibakar Inggris (bawah). (Library of Congress/Repro History of England, from the Earliest Periods ). President’s Mansion yang kini bernama Gedung Putih juga mengalami nasib serupa seiring pembumihangusan Washington City. Beruntung, hujan badai mengguyur Washington City keesokan paginya sehingga memadamkan kebakaran hebat di seantero kota. Gedung Capitol bersamaan dengan President’s Mansion baru dibangun kembali setelah perang berakhir, tepatnya pada 1815. Selain diperbaiki, aula di kedua sayap bangunan yang menjadi “kandang” para anggota senat dan legislatif itu didesain ulang oleh duet arsitek George Bomford dan Joseph Gardner Swift. Seiring dengan bertambahnya anggota parlemen dari negara bagian-negara bagian baru, pada 1850 Gedung Capitol mengalami perluasan di kedua sayapnya di bawah pimpinan arsitek Thomas Ustick Walter. Kendati sejumlah renovasi dan penambahan bangunan terjadi hingga 1960, bentuk dan luas bangunan Gedung Capitol tak lagi berubah setelah gedung tersebut dinyatakan sebagai National Historic Landmark oleh National Park Service.
- Angkernya Sirkuit Nürburgring
MENDIANG Niki Lauda (1949-2019), juara dunia Formula One (F1) tiga kali (1975, 1977, 1984), dikenal karena dua hal sepanjang kariernya memiloti jet darat (F1) sejak 1971 hingga 1985. Pertama , persaingan kontroversialnya dengan James Hunt. Kedua , kecelakaan hebat yang dialaminya saat mengikuti Grand Prix (GP) Jerman di Sirkuit Nürburgring, 1 Agustus 1976. F1 musim 1976 jadi puncak rivalitas sengitnya dengan Hunt. Di musim itu pula tragedi yang nyaris membuatnya almarhum di usia muda terjadi. Sirkuit Nürburgring sejatinya bukan arena yang asing baginya. Lauda punya beberapa rekor gemilang di sirkuit angker itu. “Pertamakali saya ke Ring (Nürburgring, red. ) tahun 1969 saat masih 20 tahun mengendarai mobil Formula Vee. Sejak awal 1970-an saya mulai sering balapan di Ring. Pada 1973 di ajang Touring Class, pernah mencatatkan waktu 8 menit 17,4 detik mengendarai BWM. Musim 1975 di mana saya meraih gelar pertama, untuk pertamakali saya mencatatkan waktu di bawah tujuh menit,” kata Lauda dalam otobiografinya, To Hell and Back: An Autobiography. Di Nürburgring Lauda pernah menorehkan catatan waktu 6 menit 58,6 detik. Rekor waktu tercepat itu bertahan selama bertahun-tahun. Namun seiring pengalamannya di Nürburgring, Lauda paham betapa berbahayanya Nürburgring. Sudah banyak pembalap tewas di sirkuit tersebut. Maka ketika cuaca buruk terus menaungi langit Nürburgring sejak sesi latihan hingga menjelang race GP Jerman 1976 dimulai, Lauda cemas dan mengambil inisiatif. “Saat rapat pembalap, saya mengusulkan agar kami memboikot Ring. Namun usulan saya kalah suara dan saya harus terima. Media langsung menyerang saya. Dikatakan saya pengecut dan mestinya berhenti saja dari Formula 1. Yang saya ingat jelang balapan hanyalah mengganti ban dari ban basah ke ban slick,” imbuhnya. Kecelakaan hebat Pembalap Ferrari Andreas Nikolaus 'Niki' Lauda di Sirkuit Nürburgring, 1 Agustus 1976 ( scuderiafans.com ) Suka atau tidak, Lauda tetap mengikuti race . Saat itulah mobil Ferrari 312T2-nya tergelincir dan menghantam pagar pembatas diiringi nyala api yang menyelimuti mobilnya. Namun hari itu Lauda masih dinaungi keberuntungan. Nyawanya masih utuh meski dirinya mengalami luka bakar serius dan infeksi di paru-paru. “Setelah keluar rumahsakit saya ditunjukkan sejumlah fotonya. Ada beberapa pembalap: Guy Edwards, Brett Lunger, Harald Ertl berusaha menyelamatkan saya. Tetapi penyelamat sejati saya adalah Arturo Merzario yang nekat menerobos api tanpa memedulikan dirinya untuk bisa melepaskan sabuk pengaman saya,” lanjut Lauda. Pasca-kecelakaan itu, Nürburgring sementara tak digunakan untuk F1. Sejak pertamakali dibuka pada 1927 hingga saat ini, Nürburgring sudah memakan korban 69 pembalap dari beraneka ajang. Enam di antaranya pembalap di pentas Formula (F3, F2, dan F1). Nürburgring jadi sirkuit Formula paling angker kedua setelah Indianapolis Speedway di Amerika Serikat yang memakan tujuh nyawa pembalap Formula. Kuburan Pembalap di Pegunungan Eifel Nürburgring (berarti Lingkar Nürburg) mengambil nama dari Nürburg, satu dari empat kota kecil di Distrik Eifel, Rhineland, Jerman di samping Quiddelbach, Herschbroich, dan Breidscheid. Berada di bukit tertinggi kedua Pegunungan Eifel, Nürburg merupakan kota benteng terkenal semasa Kaisar Nero berkuasa di Romawi (54-68 SM). Latar belakang itu dipercaya sebagai akar mitos yang menyelimuti sirkuitnya. Menurut Sam S. Collins dalam Autodrome: The Lost Race Circuits of Europe , gagasan pembangunan sirkuit Nürburgring baru hadir jauh setelah balap mobil dan motor populer di Jerman sejak 1907. “Adalah Dr. Otto Creuz, seorang anggota dewan distrik Eifel, datang dengan gagasan menghadirkan (sirkuit) Nürburgring dan mengajukannya secara resmi pada April 1925. Ia didukung ADAC (Allgemeiner Deutscher Automobil-Club), asosiasi otomotif pemerintah Jerman, dan juga Walikota Cologne Konrad Adenauer yang berperan membujuk pemerintah mendukung ide itu,” tulis Collins. Pemerintah Kekaisaran Jerman lantas memberi lampu hijau dan menyokong pendanaan proyek pembangunan senilai 8,1 juta Reichsmarks (setara 27 juta euro sekarang) itu. Selama dua tahun pembangunan trek di sepanjang jalur Pegunungan Eifel yang melewati empat kota kecil di atas, proyek itu menyedot sekitar tiga ribu pekerja. Begitu rampung dua tahun berselang, Sirkuit Nürburgring punya dua trek. Pertama, Südschleife atau Lingkar Selatan dengan trek aspal sepanjang 7,7 kilometer, dan kedua, Nordschleife atau Lingkar Utara yang treknya kombinasi aspal dan beton sepanjang 22,8 kilometer. “Nordschleife mulanya digunakan untuk balapan internasional dan Südschleife didesain untuk balapan level klub lokal dan sesi uji coba. Kedua trek biasanya baru dikombinasikan menjadi 28,2 kilometer (17,5 mil) jika menggelar balapan kelas berat Gasamstrecke,” imbuh Collins. Rudolf Caracciola (kanan) pembalap pertama yang menang di inagurasi Sirkuit Nürburgring ( nuerburgring.de ) Ajang Eifelrennen (18-19 Juni 1927) di sektor Nordschleife yang menghadirkan balap motor kelas 350 cc dan mobil 5000 cc menjadi momen inagurasi Sirkuit Nürburgring yang berkapasitas 80 ribu penonton. Rudolf Caracciola sang putra daerah mencatatkan namanya jadi pembalap mobil pertama yang menjuarai Eifelrennen di Nürburgring. Sementara Toni Ulmen asal Inggris juara di ajang balap motor. “Ketika datang ke Nürburgring yang baru dibuka pada 1927, mata kami terbelalak. Kami tak pernah melihat sirkuit seperti Nürburgring. Sirkuit dengan trek di tengah-tengah Pegunungan Eifel, jalur melingkar yang nyaris 180 derajat terbentang lebih dari 22 kilometer. Ditambah rute miring yang memaksa mesin bergetar dan terasa sampai ke paru-paru, namun di sisi lain punya panorama indah saat melewati lembah-lembah dan pedesaan di sekitarnya,” ujar Caracciola, dikutip George Bishop dalam The Concise Dictionary of Motorsport. Namun sejak masa awal itu juga, sambung Collins, para pembalap mulai memendam rasa takut di Nürburgring. Trek Norsdschleife dengan 160 belokan maupun di Trek Südschleife dengan 27 belokan sama-sama menakutkan. “Beberapa pembalap mengklaim dihantui oleh arwah-arwah dari abad pertengahan yang disebutkan, kerap muncul dari pepohonan di samping trek dan memaksa mobil keluar jalur dengan kecepatan tinggi,” singkap Collins. Ajang balapan mobil di Nürburgring pada Eifelrennen 1927 (kiri) & 1935 (kanan) ( nuerburgring.de/Daimler AG) Korban tewas pertama bahkan terjadi setahun setelah Nürburgring diresmikan. Tepatnya pada ajang Große Preis der Sportwagen, 15 Juli 1928. Pembalap Bugatti Type 35B asal Cekoslovakia Čeněk Junek jadi pembalap nahas pertama yang nyawanya melayang di Nürburgring. “Čeněk Junek meninggal di depan mata istrinya, Elisabeth, yang juga pembalap. Ia tewas di tempat setelah kecelakaan fatal. Meski tengah berada di puncak kariernya, Elisabeth memutuskan pensiun dari dunia balap setelah merasa kehilangan dan ia menjual semua mobil Bugatti milik Elisabeth dan suaminya,” tulis Jean François Bouzanquet dalam Fast Ladies: Female Racing Drivers 1888 to 1970. Semenjak itu pula hampir setiap tahun ada saja pembalap mobil dan motor yang malang dan meregang nyawa di Nürburgring, terutama di Südschleife. Maka sejak 1930-an hingga masa vakumdi Perang Dunia II,kebanyakanajang balapinternasional lebih sering digelar di Trek Nordschleife. Sebelum perang, Nürburgring tercatat sudah memakan korban delapan jiwa pembalap. Nürburgring terbengkalai sepanjang Perang Dunia II (1939-1945). Pada Maret 1945, pasukan Amerika masukdari Mullenbach dan menjadikan Nürburgring markas serta tempat parkir tank-tank Amerika. “Ditambah sejak 1939 terbengkalai, treknya rusak parah akibat tank-tank sejak areanya dijadikan markas Sekutu. Namun dengan bantuan pemerintah Prancis, Trek Südschleife dibangun kembali pada awal 1947. Ada beberapa perubahan; permukaan baru dan jalurnya sedikit dilebarkan di beberapa belokan. Ajang inagurasi Südschleife baru dihelat lewat balapan motor pada Agustus (1947), sementara Nordschleife baru ikut direnovasi pada 1949,” sambung Collins. Sejumlah wajah pembalap nahas yang tewas di tembok peringatan di Sirkuit Nürburgring ( nuerburgring.de ) Kendati dua treknya sudah direnovasi, keangkeran Nürburgring yang sudah bertambah kapasitas menjadi 150 ribu penonton tak berkurang. Pada ajang German F3 Championship yang digelar di Trek Nordschleife (20 Agustus 1950), pembalap tuan rumah Günther Schlüter yang mengendarai mobil Scampolo 501 jadi pembalap mobil Formula nahas pertama pascaperang. Korban tewas kedua di ajang mobil Formula di Nürburgring tercatat atas nama pembalap asal Argentina Onofre Marimón. Pembalap F1 itu tewas di atas mobil Maserati 250F pada sesi latihan F1 GP Jerman, 31 Juli 1954. The New York Times , 1 Agustus 1954, menggambarkan kronologi kejadian itu. Bermula dari saat Marimón ingin mempercepat catatan waktu. Kala melewati tikungan Breidscheid, mobilnya lepas kendali saat berusaha berbelok di tikungan dengan jalur menurun yang berbahaya itu. Ia langsung tewas di tempat, tepat di ujung turunan. Sampai insiden yang menimpa Niki Lauda pada 1976, sudah empat pembalap F1 yang menyusul Marimón ke alam baka dari Trek Nordschleife Nürburgring. Peter Collins (Inggris/Ferrari) mengalaminya pada 3 Agustus 1958, lalu Carel Godin de Beaufort (Belanda/Porsche) pada 1 Agustus 1964, John Taylor (Inggris/Brabham) pada 7 Agustus 1966, dan Gerhard Mitter (Jerman/BWM) pada 1 Agustus 1969. Padahal, dua tahun sebelum meninggalnya Mitter, Nürburgring sudah mengubah beberapa sektor treknya. Antara lain, penambahan chicane (kelokan ganda) sebelum garis start /finis agar para pembalap mengurangi kecepatan baik saat melewati garis finis maupun ketika hendak ke jalur masuk pit lane . “Meski begitu tetap saja pembalap Jackie Stewart masih menjulukinya ‘Green Hell’ (neraka hijau) sepanjang balapan F1 digelar di Nordschleife. Julukan yang merujuk kenyataan bahwa trek itu masih sangat serius dan membahayakan. Hingga sekarang masih jadi sirkuit paling menantang nyali di dunia,” tulis Alex Christou dalam One Careful Owner. Maka menjelang GP Jerman 1970, para pembalap menyerukan pemboikotan Nürburgring. Boikot itu menyeruak pasca-kecelakaan fatal Piers Courage (Inggris/Williams) di Sirkuit Zandvoort saat GP Belanda. Upaya boikot makin intens pada rapat para pembalap di GP Prancis yang jadi ajang sebelum GP Jerman. Jika Nürburgring tak mengalami perubahan signifikan, kata para pembalap, mereka enggan mengaspal di trek yang lebih angker dan berbahaya dari Zandvoort itu. Sirkuit Nürburgring yang sudah diperbarui dan diubah layout-nya ( formula1.com ) Otoritas pengelola Nürburgring mengaku tak sanggup merenovasi dalam waktu begitu singkat. Alhasil, GP Jerman “diungsikan” dari Nürburgring ke Sirkuit Hockenheimring. Berbeda dari usaha boikot pada 1970 itu yang berhasil, enam tahun berselang upaya serupa gagal di GP Jerman. Cuaca buruk terus menaungi langit Nürburgring sejak sesi latihan, kualifikasi, hingga menjelang race . Lauda yang masih menganggap Nürburgring sama angkernya kendati sudah dilakukan perubahan pada 1971, lantas mengusulkan pembatalan atau setidaknya penundaan GP di Nürburgring hingga cuaca cerah. “Pada 1976 saya mengusulkan para pembalap menggelar rapat dan saya mengajukan boikot pada sirkuit ini. Tentu saja semua orang mulai mengatakan saya pengecut. Tapi masalahnya simpel: Nürburgring adalah bahaya yang mesti dihindari,” ujar Lauda dikutip Maurice Hamilton dalam Niki Lauda: The Biography . Selain membutuhkan kondisi fisik dan mental yang prima, baginya membalap di Nürburgring butuhkan mobil berkondisi prima. Jika tidak, kecelakaan sudah menanti. “Pada sirkuit modern lain, jika ada kerusakan pada mobil, persentasenya 70:30 antara saya baik-baik saja atau saya akan mati. Di sini (Nürburgring), jika ada kerusakan di mobil, 100 persen akan mati,” lanjut Lauda. Sial, upaya Lauda gagal. Dari voting yang dilakoni 28 pembalap, pendukung boikot Lauda kalah satu suara. Horor Nürburgring lantas menimpa Lauda sebagaimana diuraikan di awal. Momen itu juga jadi momen terakhir Nürburgring menghelat GP Jerman. Posisinya di F1 GP Jerman digantikan Hockenheimring. Nürburgring setelah itu hanya menghelat F1 GP Eropa, dimulai pada 1985. Gelaran F1 GP Eropa tak diadakan di Trek Nordschleife, namun di trek anyar GP-Strecke yang lebih pendek (5,1 kilometer). Nürburgring menggelar GP Eropa sejak 1985 hingga 2014. Setelah vakum selama tujuh tahun, Nürburgring hadir lagi di kalender F1 sebagai tuan rumah GP Eifel. Sementara, Südschleife maupun Nordschleife digunakan untuk ajang-ajang lain. Hingga kini, total ada 69 pembalap yang meregang nyawa di Nürburgring. Wolf Silvester jadi nama terakhir yang tewas di Trek Norsdschleife. Pembalap Jerman dari tim Opel Astra itu tewas dalam ajang VLN Endurance Championship, 22 Juni 2013.
- Petualangan Orang Makassar di Kesultanan Banten
PERTENGAHAN Agustus 1671 di Jepara muncul seorang bernama Kassi’-jala. Kehadirannya cukup menggemparkan residen setempat. Hal itu disebabkan dia membawa serta 150 orang bersamanya. Mereka tidak terlihat seperti penduduk Jawa. Perawakannya kekar, warna kulit serta wajahnya terlihat asing untuk disamakan dengan orang-orang sekitarnya. Diketahui mereka adalah kelompok pelaut dari Makassar. Berdasar catatan harian pejabat VOC di Jepara ( Daghregister, 24 Agustus 1671), Kassi’-jala dan kelompoknya datang untuk menemui dua pangeran Makassar, Kraeng Bonto Marannu dan Kraeng Luwu’. Bersama dua peangeran itu, rencananya mereka akan berlayar menuju Banten. Menurut sejarawan H.J. De Graaf, keterangan tersebut menjadi berita pertama kepindahan orang Makassar ke Banten. Dikisahkan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004, pelayaran orang-orang Makassar itu terjadi setelah Gowa mengalami kekalahan perang pada 1669. Pemerintahan Arung Palakka yang bersifat menindas juga menjadi alasan para pelaut itu rela meninggalkan tanah airnya menuju tempat asing yang belum tentu menerima keberadaan mereka. “Pada 1670-an, Banten menjadi pusat pengungsi politik dari Makassar, yang membuat VOC sangat khawatir,” terang Edward A. Alpers dalam The Indian Ocean in World History . Rombongan Makassar tiba di Banten pada akhir Agustus 1671. Kraeng Bonto Maranmu membawa sekira 800 orang dalam tiga kapal sedang dan sebuah perahu besar. Begitu merapat di pelabuhan, mereka disambut oleh perwakilan istana. Menurut De Graaf dalam bukunya, Runtuhnya Istana Mataram , rupanya kedatangan mereka telah dinanti penguasa Banten. Para tamu dari Timur itu pun diberikan tempat di daerah Pontang, sebelum dipindahkan ke pusat kota, dekat pasar utama. “Tidak secara tiba-tiba mereka datang di Banten. Semangat juang mereka ditakuti, jumlah mereka yang besar diperhitungkan. Orang Banten sudah dapat menduga bahwa setelah kemenangan Speelman atas Gowa, maka merekalah yang akan mendapat giliran,” kata De Graaf. Mulanya sambutan penguasa Banten dilakukan agar orang-orang Makassar itu merasa nyaman tinggal di wilayahnya. Namun belakangan mereka diketahui mencoba memanfaatkan pengalaman orang-orang Makassar di medan tempur untuk persiapan mengahadapi serangan VOC. Kawan dari Pulau Sulawesi itu diharapkan dapat menjadi tambahan kekuatan bagi Banten. Terlebih, imbuh De Graaf, orang-orang Makassar tidak terpengaruh oleh kekalahan yang telah mereka derita pada pertempuran sebelumnya di Gowa. Tanpa disadari penguasa Banten, kian hari jumlah orang-orang Makassar di wilayahnya kian bertambah. Mereka datang dari berbagai daerah di pesisir Jawa. Tak ayal kondisi itu membuat penguasa Banten kewalahan dalam memberi kebutuhan harian mereka. Merawat ratusan orang Makassar bersama keluarganya tanpa imbalan memadai, tentu membuat beban ekonomi semakin berat. Untuk sementara kondisi itu bisa diatasi Sultan Banten, namun tidak bisa berlangsung selamanya. Maka sultan pun meminta para kraeng mengerahkan tenaga para pengikutnya untuk pekerjaan kasar, yakni menggali terusan dari Pontang ke Tanara. “Pemerintah Kompeni sendiri meragukan apakah orang-orang Makassar dengan sukarela mau melakukan pekerjaan kasar itu. Sesungguhnyalah orang-orang Makassar itu dipaksa semua oleh kraeng-kraeng mereka untuk bekerja di Pontang (Banten),” ujar De Graaf. Keberadaan Syekh Yusuf Kedatangan Kraeng Bonto Marannu dan rombongannya memang tercatat sebagai yang terbesar, namun bukan yang pertama. Dicatat De Graaf, berdasar laporan pejabat VOC, hubungan Banten dan Makassar paling awal dilakukan oleh seorang ulama besar Makassar, yang dikemudian hari dikenal sebagai Syekh Yusuf Makassar. Pada 1644, dalam usia 18 tahun, Syekh Yusuf meninggalkan Gowa menuju Mekah. Dia bermaksud menuntut ilmu agama di pusat peradaban Islam tersebut. Dia pun memulai perjalanannya dengan menumpang kapal Melayu. Permberhentian pertamanya adalah Banten. Menurut Abu Hamid dalam Syekh Yusuf Makassar: Seorang Ulama, Sufi dan Pejuang , nama Banten sudah tidak asing bagi Syekh Yusuf. Dia sering mendengarnya dari pedagang-pedagang Melayu, bahwa Banten adalah pusat perdagangan di Barat, sama seperti tempat tinggalnya yang didapuk sebagai pusat niaga di Timur. “Di Banten, Yusuf cepat menyesuaikan diri dan berkenalan dengan ulama-ulama, ahli agama, dan pejabat-pejabat agama. Yusuf sempat bersahabat baik dengan putra mahkota Pangeran Surya yang dikenal kemudian sesudah menjadi sultan dengan nama Arab, Abdul Fathi Abdul Fattah Sultan Ageng Tirtayasa,” tulis Hamid. Tidak diketahui dengan pasti kapan Syekh Yusuf kembali dari Tanah Suci. Tetapi sepulang dari sana dia memilih bermukim di Banten. Dia diketahui tidak kembali ke tanah airnya, Gowa. Dicatat Frederick De Haan dalam Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch bestuur tot 1811, Syekh Yusuf bahkan menikah dengan seorang saudara perempuan Sultan Banten. Hal itu membuat dia memiliki kedudukan tetap di Kesultanan Banten. Keberadaan Syekh Yusuf menjadi salah satu alasan orang-orang Makassar datang ke Banten. Ulama kharismatik itu memiliki pengaruh yang besar di Kesultanan Banten. Dia mengajar ilmu agama di lingkungan istana, di sekitar keluarga sultan. Syekh Yusuf juga membawa kebudayaan Timur Tengah ke Banten, seperti perubahan dalam cara berpakaian sehari-hari yang terlalu terbuka, hingga larangan peredaran candu. Orang Makassar Bertingkah Pada Oktober 1671, seorang panglima perang Makassar dalam berbagai pertempuran dengan Belanda bernama Kare Mamu tiba di Banten. Dia segera bergabung dengan Kraeng Bonto Maranmu dan Kraeng Luwu’ untuk membantu rencana pertahanan Banten. Kare Mamu menjanjikan kekuatan sebesar 3000 pasukan kepada Sultan Banten. Mereka berasal dari orang-orang Makassar yang sudah lebih dahulu tinggal di pesisir Jawa. Tawaran indah itu tentu diterima dengan senang hati oleh Sultan. Sebagai gantinya, pihak Banten harus memberikan sebuah kapal besar, lengkap dengan isinya untuk mengangkut pasukan tersebut. Kedua pihak sepakat. Namun ketika hendak membuang sauh di pelabuhan, mata-mata Sultan Banten memberi laporan bahwa Kare Mamu mulai bertingkah dengan membawa lima budak Banten di atas kapalnya. Hal itu membuat sultan berang. Pelayaran pun dibatalkan. Tindakan Kare Mamu telah mengurangi kepercayaan sultan kepada orang-orang Makassar itu. Ditambah para tamunya itu terus menguras pemasukkan Banten karena sebagian besar dari mereka benar-benar menggantungkan hidupnya dari pemberian sultan. Persitiwa lain yang semakin memperburuk hubungan Banten dan Makassar adalah kasus pencurian yang dilakukan orang Makassar di istana. Pada pertengahan 1673, dua orang Makassar tertangkap basah menyelinap masuk ke kamar sultan di istana. Mereka mencuri banyak perhiasan, pakaian-pakaian mahal, dan sejumlah senjata. Keduanya segera diboyong keluar. Di depan gerbang istana, tangan kanan keduanya dipotong dan sultan menghukum mereka dengan tusukan tombak. “Tetapi semua pemuka Makassar tegak di hadapan Sultan, berlutut, dan minta ampunan. Hati Sultan menjadi lunak dan hukuman itu diubah menjadi pembuangan kembali ke Makassar,” imbuh De Graaf. Tapi rupanya pengampunan itu tidak cukup membuat jera. Pada 1674, dua orang Makassar mengamuk di kota. Sejak saat itu sultan menyuruh penjagaan ketat dilakukan di istana, dan melarang orang Makassar masuk ke pusat kota Banten. Selain itu, sultan juga memberlakukan jam malam bagi orang Makassar. Siapapun yang melanggar aturan itu akan dibunuh di tempat. Lebih buruk lagi, penduduk Banten dilarang memberi hunian kepada orang Makassar. Sehingga perlahan orang-orang Makassar terusir dari Banten. Pemimpin mereka juga mulai diperintahkan keluar dari wilayah Banten, membawa serta rombongan yang dibawanya. “Kepastian menjadi jelas setelah diperoleh berita bahwa dari pantai timur Jawa kedua orang pemimpin Makassar itu menyatakan perang terhadap Sultan Banten. Segera pula raja menyuruh mempersiapkan sepuluh kapal untuk mengangkut orang-orang Makassar yang masih tersisa di Banten,” tulis De Graaf.*
- CIA dan Penyadapan MBAD
KOLONEL Ahmad Yani bertemu dengan Mayor George Benson ketika menjalani pendidikan di Fort Leavenworth, Kansas, Amerika Serikat, pada 1955. Tahun berikutnya, Benson ditempatkan di Jakarta sebagai pembantu Atase Militer pada Kedutaan Besar Amerika Serikat. Hubungan Yani dan Benson pun semakin akrab. Bahkan, Benson membantu Yani ketika menyusun operasi militer menghadapi PRRI/Permesta. Dia berseberangan dengan CIA yang mendukung PRRI/Permesta karena menganggap pemerintahan Sukarno telah terpengaruh komunisme.
- Ulah Orang Makassar di Pesisir Jawa
Setelah terusir secara tidak hormat dari Banten, akibat kerap berbuat onar, para pelaut Makassar mengembangkan layar menuju timur Jawa. Mereka menyusuri pantai utara Jawa, melewati wilayah Cirebon hingga ke Gresik. Tujuan pelayaran itu hanya satu, yakni mendapat tempat bermukim, berlindung, dan berkoloni di daratan. Para pelaut itu sudah tidak punya tanah air untuk kembali. Makassar sudah terlalu asing bagi mereka. Para pelaut Makassar ini terdiri dari pejuang yang telah terlibat dalam banyak pertempuran, baik melawan pasukan VOC maupun pesaing-pesaing di jalur niaga terdekat mereka. Maka ketika pertama kali menginjakkan kaki di perairan Jawa, sifat keras para pejuang ini ikut terbawa. Mereka menjadi terlalu liar dan berbuat seenaknya. Perampokan dan perompakan sudah jadi kegiatan biasa bagi mereka. Tidak lama setelah meninggalkan Banten, seorang warga Banda di Gresik bernama Gabriel Naske melaporkan kepada pejabat Belanda bahwa Kraeng Bonto Marannu telah melakukan perompakan di perairan tengah Jawa. Dengan membawa sekitar 30 armada kapal, orang-orang Makassar itu terlihat berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Madura: Arosbaya, Sampang, dan Sumenep pada Februari 1674. Di Gresik juga terlihat berkumpul enam perahu Makassar, yang dipenuhi orang-orang berwajah garang. Bahkan menurut sejarawan H.J De Graaf dalam Runtuhnya Istana Mataram , keberadaan kapal-kapal Makassar membuat khawatir orang-orang yang melihatnya. Banyak pedagang Ambon dan Banda yang kemudian memlih meninggalkan kawasan tersebut. “Mereka yang berkepentingan berpendapat bahwa sepanjang pantai tidak lagi dapat dilalui dengan aman kecuali jika Kompeni bertindak,” kata De Graaf. Dalam sebuah laporan pejabat Belanda ( Daghregister, 12 April 1674), disebutkan bahwa di ujung timur Jawa, dekat Madura, beberapa kapal dagang telah dibajak perompak Makassar. Mereka mendapat serangan dari sekitar 70 kapal, yang dalam beberapa tahun terakhir banyak mengancam dan membajak kapal-kapal pribumi. Tindakan-tindakan perompak itu sangat kejam. Membuat perairan di sana amat berbahaya dan tidak layak dilalui tanpa pengawalan. Para korban, sebagian besar orang Jawa, bukannya tidak melaporkan kejadian itu kepada pejabat Belanda, tetapi mulanya pemerintah pusat di Batavia tidak menganggap mereka sebagai ancaman. Namun sebuah peristiwa di bulan Juni 1674 membuat perburuan perompak Makassar mulai menjadi perhatian pihak Kompeni. Kala itu sebuah perahu milik pejabat Belanda diserang di Sungai Juwana. Tiga dari enam penumpang kapal dipukuli hingga tewas. Setelah mengambil muatan kapal, para perompak itu menghilang. “Menjelang akhir tahun suasana di pantai tengah Jawa agak mereda. Sebabnya ialah karena para perompak bersarang di ujung timur,” tulis De Graaf. Pada September 1674, Kraeng Bonto Marannu merapatkan kapalnya ke daratan. Dia pergi ke Mataram untuk menghadap Amangkurat I. Pangeran Makassar itu ingin meminta penguasa Mataram agar diberikan tempat tinggal di sekitar pantai timur Jawa. Tetapi belum sempat bertemu Amangkurat, dirinya sudah mendapat penolakan. Permohonan tinggal pun batal dikabulkan. Tidak mendapat restu Sunan, Kraeng Bonto Marannu lalu menemui putra mahkota Mataram, Adipati Anom (kelak bergelar Amangkurat II). Kali ini kraeng tidak pulang dengan tangan hampa, dirinya mendapat izin Adipati Anom untuk menempati daerah di pesisir timur Jawa, di sebuah desa bernama Kampung Demon, di wilayah Situbondo sekarang. Menurut William Cummings dalam The Makassar Annals , Adipati Anom dan pemimpin orang-orang Makassar sepakat berkerja sama. Para pelaut Makassar mendapat tempat tinggal di daratan, sementara pengeran Mataram mendapat tenaga militer, yang bisa dia gunakan jika sewaktu-waktu diperlukan. Terlebih pada waktu tersebut Adipati Anom tengah merencanakan upaya pemberontakan terhadap Amangkurat I. “Harapan akan dibaginya barang-barang rampasan dari suatu peperangan yang besar di Jawa tentu benar-benar membangkitkan semangat orang-orang buangan tersebut,” terang M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 . Diberinya tempat di daratan membuat wilayah perairan Jawa sementara dapat dikendalikan. Orang-orang Makassar di bawah pimpinan Kraeng Bonto Marannu memperkecil tindakan perompakan mereka. Kendati terjadi perompakan terhadap kapal-kapal muatan, itu bukan dilakukan bawahan Kraeng Bonto Marranu, melainkan pelaut Makassar lain yang tidak dipimpin oleh siapapun.
- Tempe Berdikari Produksi ITB
TAHU dan tempe belakangan menghilang dari pasaran pada awal tahun baru 2021. Tak ada tempe dan tahu goreng di gerobak gorengan atau oreg tempe di warung Tegal. Pengusaha tahu dan tempe mogok membuat tempe karena harga kedelai impor naik drastis. Setelah itu, pengusaha kembali memproduksi. Tapi harga tempe dan tahu ikut mahal. Tempe telah lama jadi makanan populer di Indonesia. Menurut sejarawan Onghokham dalam “Tempe Sumbangan Jawa untuk Dunia” termuat di Kompas , 1 Januari 2000, tahu dan tempe muncul pada abad ke-19 seiring berlakunya tanam paksa. Masa ini, tahu dan tempe menjadi penyelamat masyarakat. “Tanam paksa makin membuat bahan makanan seperti tempe menjadi sangat vital sebagai penyelamat kesehatan penduduk,” ungkap Ong.
- Demokrasi dan Politik Pembubaran Organisasi
PELARANGAN terhadap Front Pembela Islam (FPI) oleh pemerintah menuai pro dan kontra. Ada yang menyebut pelarangan itu tidak demokratis. Ada pula yang mendukung dibubarkannya organisasi yang dianggap menyuburkan intoleransi di Indonesia ini. Pelarangan ini bukanlah yang pertama terjadi. Pada 2017, pemerintah juga melarang eksistensi Hisbut Tahrir Indonesia (HTI). Lebih jauh, beberapa pelarangan atau pembubaran juga dilakukan terhadap partai dan organisasi kemasyarakatan sejak era pemerintahan Sukarno. Pada 17 Agustus 1960, Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) dibubarkan Presiden Sukarno atas pertimbangan Mahkamah Agung. Kedua partai ini dilarang eksistensinya karena terlibat pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Lima tahun kemudian, Partai Murba juga dibubarkan oleh Sukarno karena dituduh dalam upaya penggulingan presiden. Namun Murba kemudian direhabilitasi pada 1966. Murba kembali dibubarkan pada 1973 di bawah pemerintahan Soeharto. Pembubaran partai dan organisasi-organisasinya yang paling heboh dalam sejarah Indonesia barangkali adalah pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI). Partai palu arit ini dilarang setelah dianggap sebagai dalang peristiwa G30S 1965. Pembubarannya juga disusul dengan pembantaian massal ratusan ribu anggota serta simpatisannya. Sementara itu, dengan menggunakan UU Ormas pemerintah Orde Baru melarang dua organisasi yakni Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Gerakan Pemuda Marhaen (GPM) pada 1987. Direktur Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid dalam Dialog Sejarah “Politik Pembubaran: Dari PKI sampai FPI” di saluran Youtube dan Facebook Historia menyatakan bahwa salah satu penyebab dari pembubaran-pembubaran tersebut adalah pertarungan ideologis antar partai atau organisasi. “Nah dalam praktiknya memang pertarungan ideologi tadi termasuk di dalamnya juga pertarungan kepentingan, pertarungan para aktor gitu ya, itu melahirkan banyak sekali peristiwa-peristiwa bersejarah tentang pembubaran organisasi,” jelas Usman. Usman melanjutkan bahwa politik pembubaran itu dilakukan karena pemerintah mengedepankan pendekatan kekuasaan, bukan pendekatan hukum. Padahal, jelasnya, pendekatan hukum merupakan prinsip utama dalam ketentuan-ketentuan awal dari Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Usman, hal serupa juga terjadi dalam kasus pembubaran HTI dan FPI. Usman keberatan bila pembubaran atau pelarangan organisasi, baik partai politik maupun organisasi kemasyarakatan ditempuh dengan cara-cara yang tidak demokratis. “Tidak dengan proses peradilan misalnya,” ujar mantan aktivis 1998 ini. “Kalau caranya tidak demokratis itu saya kira mestinya tidak dilakukan, karena itu akan berakibat cukup serius pada dinamika kehidupan bangsa yang tidak demokratis. Tanpa kubu kiri misalnya, sudah lama pertarungan politik Indonesia hanya dikuasai oleh kanan, baik itu kanan nasionalis maupun kanan Islam yang juga sama-sama kalau dalam prakteknya tidak banyak menghormati Hak Asasi Manusia,” terangnya. Menurut Usman, pembubaran-pembubaran partai dan organisasi sepanjang sejarah Indonesia memiliki satu ciri khas, meminjam istilah Marcus Mietzner yakni rival populism . Di mana terjadi pertentangan populistik antara beberapa aktor. Ia juga menyebut bahwa pembubaran atau pelarangan terjadi di bawah pemerintahan yang bercorak kurang demokratis atau rata-rata nasioalis populis. “Kenapa saya katakan tidak demokratis atau relatif tidak demokratis karena di saat misalnya PSI dan Masyumi dibubarkan itu pemerintahan di Indonesia sudah berlangsung tanpa parlemen. Sukarno membubarkan parlemen. Istilah Sukarno, mengubur partai-partai politik,” kata Usman. Hal yang sama menurutnya juga terjadi pada pembubaran PKI, PII dan GPM di era Orde Baru. Dua era ini kemudian mewariskan politik pembubaran atau politik pelarangan partai politik mapun organisasi kemasyarakatan. Usman menegaskan bahwa ia tidak membela FPI, HTI maupun parpol-parpol yang pernah dibubarkan melainkan mendorong proses penegakan hukumnya yang harus demokratis. Berbeda dengan Usman, politikus PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari justru mendukung pelarangan FPI dan sebelumnya HTI yang menurutnya sudah cukup demokratis. Eva juga menyebut bahwa organisasi-organisasi tersebut telah melakukan aksi-aksi kekerasan, anggotanya terlibat terorisme serta melanggar demokrasi itu sendiri. “Masa sih demokrasi harus mengakomodasi orang yang anti demokrasi. Substansi demokrasi yang menurut saya adalah penegakan hukum yang berkeadilan itu kan syaratnya orang yang berkesadaran hukum, sehingga tidak merugikan agenda besar berbangsa dan bernegara ini,” ujarnya. Eva mencontohkan, negara dengan penegakan HAM yang kuat seperti Norwegia misalnya, juga melarang HTI. Norwegia, jelas Eva, tidak membiarkan orang-orang yang tidak memegang prinsip-prinsip HAM justru merusak demokrasi. Eva juga menambahkan bahwa Indonesia, meski juga dikecam dalam beberapa kasus, masih menjadi barometer demokrasi di negara-negara ASEAN. Menurutnya, demokrasi Indonesia masih lebih baik dibanding negara-negara ASEAN yang seringkali melakukan tindakan-tindakan otoriter terhadap oposisi. “Indonesia sudah sangat bagus tidak ada pemenjaraan seperti yang ada di Myanmar ataupun yang ada di Kamboja. Kemudian sangat demokratis dan civil society juga diberikan ruang untuk berpendapat,” jelas Eva.*
- Jejak Kuliner pada Karang Gigi
BAYANGKAN pemandangan pasar di sebuah kota di wilayah Levantine –kini meliputi Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina– pada 3.700 tahun lalu. Pedagangnya tak hanya menjajakan gandum, milet, atau kurma, yang banyak tumbuh di sana. Tetapi juga minyak wijen dan mangkuk berisi rempah-rempah berwarna kuning cerah dari negeri jauh. Ternyata, orang-orang Mediterania telah mengonsumsi kunyit, pisang, dan bahan makanan lain dari Asia Selatan, Timur, dan Tenggara sejak 3.000 tahun lalu, jauh lebih awal dari perkiraan sebelumnya. Bahan-bahan makanan itu mengembara lewat perdagangan jarak jauh pada Zaman Perunggu dan Besi Awal. Penemuan baru itu terungkap oleh tim peneliti, salah satunya arkeolog Philipp W. Stockhammer dari University of Munich atau Ludwig-Maximilians-Universität (LMU). Mereka menganalisis sampel sisa makanan di karang gigi manusia yang didapat lewat penggalian arkeologis di Tel Megiddo dan Tel Erani di Israel saat ini. Hasil penelitiannya berjudul “Exotic foods reveal contact between South Asia and the Near East during the second millennium BCE” dipublikasikan dalam jurnal PNAS pada 21 Desember 2020. Makanan yang Mengembara Stockhammer menjelaskan bahwa hasil penelitiannya adalah bukti langsung paling awal keberadaan kunyit, pisang, dan kedelai di luar Asia Selatan dan Timur. “Wijen telah menjadi makanan pokok di Levantine pada milenium ke-2 SM,” jelasnya dikutip phys.org. Penemuan itu juga membuktikan kalau sejak milenium kedua SM sudah ada perdagangan jarak jauh yang berkembang pesat. Terutama perdagangan buah-buahan, rempah-rempah, dan minyak-minyak dari negeri jauh. “Orang-orang jelas sangat tertarik pada makanan eksotis sejak awal,” katanya. Perdagangan itu diyakini menghubungkan Asia Selatan dan Levantine melalui Mesopotamia atau Mesir. Menurut Stockhammer, wilayah Levantine selatan memang telah berfungsi sebagai jembatan penting antara Mediterania, Asia, dan Mesir pada milenium ke-2 SM. Ketiga makanan tersebut kemungkinan besar telah mencapai Levantine melalui Asia Selatan. Pisang awalnya didomestikasi di Asia Tenggara, di mana pisang telah digunakan sejak milenium ke-5 SM. Sebagaimana disebutkan oleh Peter Bellwood, arkeolog Australian National University dalam First Farmers: The Origins of Agricultural Societies, di wilayah dataran tinggi Papua New Guinea tepatnya di Situs Kuk, di Lembah Wahgi, pada sekira 5.000 SM, telah ditemukan parit-parit yang diduga digunakan untuk menanam keladi, talas, taro, yam atau uwi, pandan, tebu, dan pisang. Ery Soedewo, arkeolog dari Balai Arkeologi Medan, dalam “Kajian Agrikultur dalam Arkeologi: Alat Refleksi Dampak Kegiatan Agrikultur Bagi Peradaban Manusia” yang terbit dalam Agrikultur dalam Arkeologi menjelaskan dari Asia Tenggara pisang kemudian menyebar hingga Australia, India, Jepang, Cina, dan daerah tropis lainnya. Pisang baru tiba di Afrika Barat 4.000 tahun kemudian. Kendati begitu sedikit yang diketahui tentang intervensi perdagangan atau penggunaannya. Tidak ada bukti arkeologis atau tertulis sebelumnya yang menunjukkan penyebaran awal pisang, khususnya ke wilayah Mediterania. “Analisis kami dengan demikian memberikan informasi penting tentang penyebaran pisang di seluruh dunia,” kata Stockhammer. “Saya merasa spektakuler bahwa perdagangan makanan jarak jauh terjadi pada titik awal sejarah.” Jajak pada Karang Gigi Sebagaimana dikutip dari laman phys.org , penelitian ini awalnya dilakukan untuk mencari tahu kuliner pada populasi Levantine di Zaman Perunggu. Mereka menganalisis sisa makanan, termasuk protein dan mikrofosil tumbuhan yang tersimpan dalam karang gigi manusia selama ribuan tahun. Teorinya mulut manusia penuh bakteri. Ini kemudian membatu seiring waktu. Partikel makanan pun terperangkap dan terawetkan dalam karang gigi yang sedang berkembang. Sisa-sisa partikel inilah yang kini bisa diakses untuk penelitian ilmiah berkat teknologi mutakhir. Para peneliti mengambil sampel dari sisa-sisa individu yang berjumlah 16 di Situs Zaman Perunggu di Tel Megiddo dan Situs Zaman Besi Awal Tel Erani. Kata Stockhammer, ini memungkinkan mereka menemukan jejak makanan yang dikonsumsi seseorang dari masa lalu. “Siapa pun yang tidak mempraktikkan kebersihan gigi masih bisa memberi tahu kami para arkeolog apa yang mereka makan ribuan tahun lalu,” kata Stockhammer. Stockhammer mengakui, mereka tidak dapat mengesampingkan kemungkinan bahwa bisa saja salah satu individu menghabiskan sebagian hidupnya di Asia Selatan. Lalu di sana individu itu mengkonsumsi makanan setempat, hanya saat mereka berada di sana. Pun soal sejauh mana rempah-rempah, minyak, dan buah-buahan diimpor juga belum bisa diketahui. Yang jelas, perdagangan jarak jauh memang sudah berlangsung lama sekali. Pasalnya, ada juga bukti lain dari rempah-rempah “eksotis” di Mediterania Timur. Firaun Ramses II dimakamkan bersama merica dari India pada 1213 SM. Merica itu ditemukan di hidungnya.*
- Jalan Intelektual Seorang Sosialis Kanan
YOGYAKARTA, 21 Desember 1989. Suasana dalam ruang Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan itu mulai panas karena tidak ber-AC. Volume suara sang penceramah mulai menurun. Tangannya diletakkan di kening, ia menengadah dan memejamkan mata. Ketika ruangan hening, ia terkulai seperti hendak tidur. Soedjatmoko, intelektual sosialis itu, meninggal ketika sedang mengisi ceramah.
- Rush Memicu Adrenalin hingga Garis Finis
LANGIT di Sirkuit Nürburgring masih dipayungi awan jelang Grand Prix Formula One (GP F1) Jerman, pagi 1 Agustus 1976. Sinar mentari sulit mencapai bumi. Dari kokpit mobil Ferrarinya di garis start, Niki Lauda (diperankan Daniel Brühl) terus mengunci pandangannya ke langit bercuaca buruk itu. Kesadaran pembalap asal Austria itu baru tergugah setelah ditegur salah satu mekaniknya. Lauda ditanyakan apakah mau mengganti ban mobilnya dengan ban kering lantaran hujan mulai reda. Namun ketika tahu seterunya asal Inggris, James Hunt (Chris Hemsworth), di mobil McLaren tetap memakai ban basah, Lauda enggan mengganti dengan ban kering. Begitu ofisial balapan mengibarkan bendera Jerman di garis start , suara decitan ban dari mobil-mobil balap yang adu cepat itu menandai dimulainya balapan. Adegan tersebut disajikan sutradara Ron Howard sebagai preambul film biopik bertajuk Rush . Film ini mengisahkan drama perseteruan sengit dan kontroversial dua pembalap nyentrik, Niki Lauda dan James Hunt, di dalam maupun di luar lintasan F1 musim 1976. Adegan jelang GP Jerman 1976 ( universalpictures.com ) Untuk memberi gambaran lebih jelas mengapa musim 1976 jadi puncak rivalitas Lauda dan Hunt, Howard mengalihkan alur ke titimangsa enam tahun sebelumnya. Pada tahun 1970 itulah Lauda dan Hunt pertamakali bertemu, di ajang Formula Three (F3). Kedua pembalap berdarah muda itu berbeda bak langit dan bumi. Hunt merupakan pembalap yang nyaris serampangan, gemar minum-minum dan foya-foya bersama perempuan sebelum balapan. Sementara, Lauda tipikal pemuda saklek dan disiplin baik dalam mempersiapkan fisik, mental, maupun mobilnya. Perbedaan tersebut kentara sekali ketika balapan di F3 itu dimulai. Ketika Lauda memacu mobil untuk melahap sektor demi sektor sirkuit, dia berangkat dari kalkulasi teknis yang presisi. Di sisi lain, Hunt mengandalkan intuisi dan kenekatannya. Alhasil, setelah bersaing ketat untuk menjadi yang terdepan, mobil Lauda dan Hunt bersenggolan. Kedua mobil pun tergelincir dari trek. Lauda sial, mesin mobilnya bermasalah. Hunt beruntung sehingga kembali melaju hingga akhirnya meraih trofi juara. Saling ejek pasca-balapan pun pecah. Momen itu melahirkan kesumat di antara kedua pembalap flamboyan itu. Sejak saat itu, baik Lauda maupun Hunt selalu memendam rasa untuk saling mengalahkan di lintasan. Yang terpenting bukanlah di posisi berapa mereka finis, namun mengalahkan sang lawan. Bagi mereka gelar juara hanya jadi bonusnya. Adegan persaingan sengit di lintasan jelang kecelakaan di GP Jerman 1976 ( universalpictures.com ) Ambisi itu terus terbawa hingga keduanya naik ke pentas F1 pada musim 1975, di mana Lauda memiloti Scuderia Ferrari dan Hunt memiloti Hesketh. Di musim itu, Lauda yang punya keunggulan teknis mengendarai mobil “Si Kuda Jingkrak” dengan jumawa mengasapi Hunt di sejumlah seri hingga akhirnya merebut gelar juara dunia. Tetapi puncak rivalitas keduanya terjadi di musim 1976 ketika Hunt memiloti mobil McLaren, rival setara Ferrari Lauda. Hunt dan Lauda acap saling salip di lintasan hingga bergantian juara dari seri balapan ke seri balapan. Tibalah GP Jerman di Sirkuit Nürburgring, 1 Agustus 1976. Hunt mencibir Lauda sebagai pengecut karena mengusulkan penundaan balapan karena cuaca buruk. Dari pertemuan 25 pembalap yang diadakan, mayoritas memihak Hunt yang ingin melanjutkan balapan. Sebaliknya, nasib nahas yang dikhawatirkan Lauda pun terjadi ketika mobilnya kecelakaan dan Lauda mengalami luka bakar serius. Bagaimana kelanjutan rivalitas keduanya pasca-kecelakaan itu? Anda tonton sendiri sajalah Rush. Meski sudah tayang di berbagai bioskop sejak dirilis pada 3 Oktober 2013, hingga saat ini tetap bisa disaksikan secara daring di Mola TV . Sahabat di Balik Rivalitas Sengit Rush amat pas dijadikan hiburan untuk menyongsong gelaran F1 musim 2021 yang baru akan digelar pada 21 Maret. Dengan kemasan drama, Rush masih jadi film terbaik bertema balapan F1 hingga kini. Maklum, sejumlah film yang mengangkat tema balapan F1 didominasi genre dokumenter, seperti: Weekend of a Champion (1972), Senna (2010), Ferrari: Race to Immortality (2017), dan Heroes (2020). Namun, keunggulan Rush bukan semata kemasannya. Music scoring garapan komposer kawakan Hans Zimmer-nya juga mampu memacu adrenalin penonton sekaligus menggugah nostalgia lewat beberapa irama retro yang populer pada 1970-an. Greget suasana balapan pun amat terasa lantaran tim produksi melakukan syuting di lokasi asli, Sirkuit Nürbrugring, dan juga memakai mobil Ferrari 312T2 dan McLaren M23 persis seperti yang dipakai Lauda dan Hunt di musim 1976. Dua mobil asli yang digunakan untuk beberapa adegan itu disewa dari seorang kolektor. “Saya beruntung mereka (kolektor) mau jadi bagian dari film kami karena mereka meyakini bahwa kami ingin membuat filmnya serius dan otentik. Jika mobilnya akan dihancurkan di sebuah adegan, kami memakai replikanya dengan ditambah elemen CGI ( computer-generated imagery ),” ujar Howard kepada Race Fans , 15 September 2013. Replika Mclaren M23 (kanan) & Ferrari 312T2 (kiri atas) yang dipakai dalam adegan film Rush jelang GP Jepang 1976 ( mclaren.com ) Hasilnya, detail itu menambah kemiripan drama rivalitas antara Hunt dan Lauda. Lauda, yang turut jadi cameo dan diundang dalam screening dan premier -nya, mengakui ada beberapa hal yang didramatisir demi menambah keseruan drama. “Ketika pertamakali melihat filmnya, saya terkesan. Tidak ada hal yang diubah dengan gaya Hollywood. Filmnya sangat akurat dan hal ini sangat membuat saya terkejut,” tutur Lauda saat diwawancara Carjam TV , medio September 2013. Akurat yang dimaksud Lauda adalah perseteruannya dengan mendiang Hunt. Persaingan mereka di lintasan acap jadi sasaran empuk untuk dikompori sejumlah media hingga menggugah antusiasme penggemar balapan F1 secara luas. Padahal, sengitnya rivalitas mereka hanya terjadi di lintasan. Saat balapan mereka adalah musuh. Selepas balapan mereka adalah sahabat. “Saya tak tahu kenapa persaingan saya dengannya (Hunt) jadi hal yang besar. Kami hanya pembalap yang saling menyalip dan bagi saya itu hal yang normal. Tapi orang lain menganggap apa yang terjadi di antara kami lebih dari itu,” kata tokoh Lauda di film. Andreas Nikolaus 'Niki' Lauda (sisi kiri) yang dalam film diperankan aktor Daniel Brühl ( formula1.com/universalpictures.com ) Adegan persahabatan dan permusuhan silih berganti muncul sejak awal dalam Rush . Adegan perbincangan hangat antara Hunt dan Lauda yang –mengakui bahwa dengan menyaksikan Hunt meraih kemenangan demi kemenangan seiring dirinya dirawat ikut membangkitkan spirit -nya untuk sembuh secara fisik– baru comeback setelah dirawat pasca-kecelakaan di GP Jerman cukup kentara menggambarkan persahabatan keduanya meski publik secara luas menganggapnya musuh abadi. Dalam James Hunt: The Biography, Gerald Donaldsonmengungkapkan bahwa Lauda dan sejumlah pembalap lain memberi ucapan selamat kala Hunt memenangi sebuah seri Formula Two (F2) musim 1972 di Sirkuit Oulton Park. “Kami benar-benar senang melihat James akhirnya bisa ikut merasakan kesuksesan yang pantas ia dapatkan,” ujar Lauda dikutip Donaldson. Aktor Chris Hemsworth (kiri) yang memerankan James Simon Wallis Hunt yang semasa muda dikenal playboy (IMDb/MSI) Persahabatan di luar lintasan keduanya tetap terjaga bahkan sejak sama-sama merintis karier di arena balap. Lauda dan Hunt kerap tinggal bareng di flat sewaan setiap kali mereka berkeliling Eropa untuk menjalani seri-seri balapan. “Saya dan Niki sangat akrab dan bersahabat sejak pertamakali bertemu di Formula Three dan berkeliling Eropa bersama. Kadang kami saling bersaing di lintasan tapi kadang kami juga bermitra seperti dua pembalap dalam satu tim. Kami benar-benar berteman baik, tidak hanya dalam waktu-waktu tertentu, tapi selalu bersahabat,” papar Hunt, dikutip Donaldson. Ending mengharukan dengan apik disuguhkan Howard dalam Rush dengan adegan Lauda mendorong moril kawan sekaligus lawannya itu untuk tak berpuas diri setelah Hunt merebut juara musim 1976. Sementara, Hunt merangkul Lauda dan menyarankan bahwa hidup seorang pembalap tak hanya untuk disiplin di lintasan namun juga untuk menikmati kesuksesan itu sendiri. “Hidup penuh kesenangan, Niki. Apa gunanya punya medali, trofi, mobil, bahkan pesawat jika Anda tak bersenang-senang? Bagaimana itu bisa disebut menang?” kata Hunt. Kolase persahabatan Lauda dan Hunt dalam film (atas) dan kehidupan aslinya ( universalpictures.com/jameshunt.com/mclaren.com ) Jalinan persahabatan itu tak serta-merta putus kala Hunt gantung helm secara prematur pada 1979. Saat kondisi ekonomi Hunt menukik tajam akibat kecanduan alkohol, Lauda yang masih berkarier dan terus berjaya di pentas F1 hingga 1985 rela meminjamkan uang agar kehidupan Hunt membaik. “Saya berikan dia uang tapi lakukanlah sesuatu, jangan minum-minum. Saya akan selalu mendukung dia tapi bangkitlah. Dia harus bangkit. Sampai dua kali saya pinjamkan dia uang sampai akhirnya kondisi ekonomi dia membaik. Akhirnya dia benar-benar bangkit dari keterpurukan dan lalu menjadi komentator balapan di BBC ,” kata Lauda kepada Graham Bensinger dalam wawancara bertajuk “In Depth with Graham Bensinger: Niki Lauda” di laman grahambensinger.com , 11 Oktober 2017. Persahabatan mereka baru berakhir ketika maut menjemput Hunt lewat serangan jantung pada 15 Juni 1993 di kediamannya, Wimbledon. Lauda amat kehilangan. “Saat saya mendengar kabar dia meninggal pada usia 45 tahun karena serangan jantung, saya tak terkejut. Saya hanya merasa sedih. Orang-orang selalu berpikir kami sebagai rival. Tapi dari sedikit orang yang saya sukai, dia adalah salah satunya. Bahkan satu dari sedikit orang yang saya hormati. Dia tetap jadi satu-satunya orang yang membuat saya iri,” tandas Lauda. Data Film: Judul: Rush | Sutradara: Ron Howard | Produser: Andrea Eaton, Eric Fellner, Brian Oliver, Peter Morgan, Brian Grazer, Ron Howard| Pemain: Daniel Brühl, Chris Hemsworth, Alexandra Maria Lara, Olivia Wilde, Pierfrancisco Favino | Produksi: Cross Creek Pictures, Working Title Films, Imagine Entertainment, Revolution Films | Distributor: Universal Pictures, StudioCanal, Universum Film AG | Genre: Biopik Olahraga | Durasi: 124 menit | Rilis: 3 Oktober 2013, Mola TV
- E.S. Pohan dari PID ke PRRI
KANTORNYA berada pada salah satu bangunan di belakang gedung Raffles Place, Singapura. Untuk sampai ke sana harus melalui trotoar sempit yang ditaburi noda merah dari ludah sirih seorang penjaga Sikh, bau debu, saluran pembungan, dan air seni. Di sanalah, James Mossman, menemui E.S. Pohan, “duta besar” pemberontak di Asia.





















