Hasil pencarian
9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sekolah Rakyat Padang Panjang
SETELAH penangkapan orang-orang radikal di Sumatera Thawalib pada 1924, aktivis PKI mendirikan Sekolah Rakyat (SR) di Padang Panjang. “Sekolah ini mengikuti pola sekolah yang didirikan Tan Malaka di Semarang,” tulis Audrey Kahin dalam Dari Pemberontakan ke Integrasi. Di SR Padang Panjang inilah organisasi kepemudaan PKI, mulai dari Sarekat Rakyat dan Barisan Muda berkantor pusat. Menurut Gubernur Sumatera Barat G.F.E Gonggrijp, organisasi ini berbasis di sekolah-sekolah. Baik milik pemerintah maupun swasta. “Selain Padang Panjang, seksi-seksi yang paling penting adalah seksi Koto Laweh, Gunung Bunga Tanjung, Silungkang, Solok dan Tiakar-Dangung Dangung, Payakumbuh,” dilansir dari memori serah terima jabatan Gubernur Gonggrijp.
- The Career of an Armenian Government Official
Anyone researching and writing about the Indonesian national movement must have acknowledged three important works by Petrus Blumberger. As a colonial official, he had access to official sources, from government edicts to Dutch parliamentary minutes. Petrus Blumberger was born John Theodoor Petrus in Semarang on December 2, 1873. His father, Satoor Stephan Petrus (1839-1902), was a merchant born in Isfahan, Persia, now Iran. His mother, Mariam Eleazar Gasper (1851-1896), was born in Bushir. She was the daughter from the second marriage of Eleazar Gregory Gasper (1808-1859), a prominent Armenian merchant in Batavia who founded Gasper & Co. and remained in the city for three generations.
- Armenia dalam Belenggu Masa Lalu
ARMENIA adalah salah satu negara tertua di dunia. Sejarahnya membentang nyaris 3.500 tahun. Nenek moyang bangsa Armenia, suku Hayasa-Azzi, berasal dari dataran tinggi di sebelah timur Asia Kecil. Kini, di masa modern, orang-orang Armenia masih menyebut diri mereka “Hay”, dan negeri mereka “Hayastan”. Kekuatan politik pertama yang signifikan di Armenia adalah Kerajaan Urartu (860-590 SM). Sekitar 600 SM, Kerajaan Armenia yang independen berdiri di bawah Dinasti Orontid. Di bawah kekuasaan Tigranes Agung (95-66 SM), Armenia menjadi kerajaan terkuat di Asia Kecil. Sempat dipengaruhi Hellenistik-Paganisme, Zoroasterianisme, dan agama-agama kuno Yunani dan Romawi, pada tahun 301 Raja Tiridates III menetapkan Kristen sebagai agama resmi kerajaan. Praktis, Armenia adalah negara Kristen pertama dalam sejarah. Identitas kebangsaan Armenia pun diteguhkan dengan dibuatnya alfabet Armenia oleh Mesrop Masthots pada tahun 405.
- Komunitas Armenia Minoritas yang Punah
PADA 5 Mei 1852, sebuah rapat umum dihelat di Batavia. Tujuannya membentuk lembaga amal demi membantu para janda miskin, anak yatim-piatu, dan rekan mereka yang melarat di Jawa. Dalam pertemuan itu, “Haikian Miabanuthiun” atau Komunitas Armenia terbentuk. Enam bulan kemudian, dalam sebuah pertemuan, mereka memutuskan membangun sebuah gereja baru di lokasi yang sama dengan kapel kayu tua Gang Scott –kini Jalan Budi Kemuliaan No. 1, Jakarta. Pembangunan selesai dua tahun kemudian dan dinamai Gereja St. John. Menyusul kemudian dibangun sekolah dan lembaga-lembaga yang mendukung aktivitas mereka. Keberadaan gereja mengukuhkan eksistensi komunitas Armenia di Hindia Belanda (Indonesia). Namun, jejak komunitas ini nyaris terkubur karena minimnya catatan yang mereka tinggalkan.
- Ridwan Saidi dan Bahasa Armenia
PRASASTI yang dikeluarkan Kadatuan Sriwijaya dituliskan dalam bahasa Armenia, bukan Senskerta. Selama ini, banyak arkeolog salah mengira tulisan dalam prasasti-prasasti itu berbahasa Sanskerta, karenanya menimbulkan banyak salah arti. Hal itu diucapkan budayawan Betawi, Ridwan Saidi, dalam video yang diunggah di kanal YouTube "Macan Idealis". “Banyak sekali bahasa Melayu menyerap dari bahasa Armenia. Jadi ketika dibaca, oh, ini bahasa Melayu padahal bahasa Armenia,” katanya. Kenyataannya, semua prasasti peninggalan Kadatuan Sriwijaya ditulis dengan aksara Pallawa dan bahasa Melayu Kuno. “Jelas kok itu Melayu Kuno. Masa nggak percaya bahasa sendiri,” kata Titi Surti Nastiti, ahli epigrafi Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, ketika ditemui di kantornya di Pejaten, Jakarta.
- Simpati dari Hindia untuk “Genosida” Armenia
KARENA letaknya yang strategis di antara benua Asia dam Eropa, di masa lalu Armenia diperebutkan dan dijajah berbagai bangsa di dunia. Pada abad ke-16, terjadi perebutan antara Ottoman dan Persia, yang membuat wilayah Armenia terbagi dua. Ottoman menguasai wilayah-wilayah yang disebut Armenia Barat, sementara Rusia menggenggam Armenia Timur setelah kekuasaan Persia melemah. Di wilayah yang dikuasai Ottoman, orang-orang Armenia diizinkan memerintah komunitasnya sendiri. Kebebasan dan perlindungan selaku etnis dan pemeluk agama minoritas juga dijamin dengan pembayaran pajak tertentu. Aturan tersebut cukup toleran. Tapi sebagai warga negara kelas dua, minoritas Armenia kerap menjadi korban eksploitasi mayoritas Turki. Mereka mulai melakukan perlawanan. Penguasa Ottoman menjawabnya dengan penindasan. Tak ayal, warga Armenia mengalami tragedi yang tak terlupakan hingga kini. Mereka menyebutnya sebagai “genosida pertama pada abad ke-20”.
- Menyongsong Wajah Baru Museum Nasional Indonesia dan Pameran Repatriasi
MUSIBAH kebakaran yang melanda Museum Nasional Indonesia (MNI) pada 16 September 2023 jadi sebuah pil pahit yang patut diambil hikmahnya dan dijadikan pelajaran. Setelah setahun berbenah, kini museum yang familiar disebut Museum Gajah itu resmi dibuka kembali. Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid juga mengamini bahwa setiap bencana pasti ada maksudnya, agar bisa bangkit untuk lebih baik lagi. Bahkan, bangkit dengan wajah baru yang mengikuti zaman. “Tentu semua masih ingat insiden kebakaran yang terjadi di tahun lalu. Bisa dilihat di sebelah belakang, bisa disaksikan bekasnya dan waktu itu kita semua memang merasa terpukul sekali. Tapi seperti dibilang Mas Menteri (Mendikbudristek Nadiem Makarim), setiap bencana pasti punya maksud,” kata Hilmar dalam peresmian pembukaan kembali Museum Nasional Indonesia bertajuk “Reimajinasi Warisan Budaya” di Museum Nasional Indonesia Jakarta, Jumat (11/4/2024) malam.
- Insiden Kebakaran di Gedung A Museum Nasional Indonesia
KEBAKARAN melanda Gedung A Museum Nasional Indonesia (MNI) pada Sabtu, 16 September 2023 pukul 20.08 WIB. Api berhasil dipadamkan pukul 22.40 WIB oleh pemadam kebakaran yang mengerahkan 14 unit dan 56 personel.Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran ini. Ahmad Mahendra, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya (BLU MCB) mengatakan ada enam ruangan di Gedung A yang terdampak sedangkan 15 ruangan lainnya di Gedung A serta ruangan pamer Gedung B dan C sama sekali tidak terdampak. Api tidak menyebar. Sebagian koleksi yang terdampak adalah replika, seperti di bagian prasejarah. “Sisanya dipastikan dalam keadaan aman. Koleksi hasil repatriasi dari Belanda juga dipastikan tidak terdampak karena disimpan di lokasi yang jauh dari pusat kebakaran,” kata Ahmad Mahendra dalam rilisnya, 17 September 2023.
- Lebih Dekat dengan Museum Nasional
GEDUNG Arca, Gedung Perabot, lalu kini menjadi Gedung Gajah atau Museum Gajah. Begitulah, dari masa ke masa, masyarakat menjuluki Museum Nasional Indonesia. Pada 24 April 1778, 240 tahun lalu, cikal bakal Museum Nasional didirikan, yaitu Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (BG). Salah satu penggagasnya seorang pejabat VOC, Jacobus Cornelis Mattheus Rademacher. Lembaga independen ini didirikan untuk memajukan penelitian, khususnya dalam bidang seni, arkeologi, etnologi, biologi, dan sejarah. Kala itu, masyarakat Eropa keranjingan dengan pemikiran-pemikiran ilmiah dan ilmu pengetahuan. “Ada semacam penciptaan ilmu pengetahuan untuk mengenal jajahan, seperti munculnya kajian indologi,” kata sejarawan Bonnie Triyana dalam bedah buku Cerita dari Gedung Arca di Museum Nasional, Senin (30/4).
- Harga Mahal di Balik Patung Gajah Museum Nasional
PADA 1896, Raja Chulalongkorn dari Siam (Thailand) berkunjung ke Jawa. Dia kemudian meminta izin kepada pemerintah kolonial Belanda untuk membawa pulang sembilan gerobak penuh dengan arca dan karya seni dari masa klasik Jawa. Dalam Borobudur: Golden Tales of the Buddhas, John Miksic mengungkapkan oleh-oleh yang diminta sang raja itu termasuk 30 relief, lima arca Buddha, dua arca singa, beberapa langgam Kala yang biasanya ada di bagian atas pintu masuk candi dan arca Dvarapala yang merupakan temuan dari Bukit Dagi, yaitu bukit yang berada sekira beberapa ratus meter di barat laut Candi Borobudur. Mengenai arca-arca itu, arkeolog Utami Ferdinandus memaparkannya dengan rinci dalam tulisannya “Arca-Arca dan Relief pada Masa Hindu-Jawa di Museum Bangkok: Sebuah Dokumentasi Ikonografi”, yang terbit dalam Monumen: Karya Persembahan Untuk Prof. Dr. R. Soekmono. Arca yang diinginkan sang raja tadi dapat dibedakan dalam sembilan kelompok.
- Pionir Pencerahan di Tanah Jajahan
GEDUNG bergaya Eropa dengan sentuhan patung gajah di pintu gerbangnya ramai didatangi pengunjung. Gedung tersebut, yang berada di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, menyimpan khasanah ilmu pengetahuan dan koleksi benda-benda kebudayaan Nusantara yang lengkap dan komprehensif. “Museum Pusat merupakan museum terbesar di Indonesia. Demikian juga, ia merupakan pintu gerbang untuk melihat berbagai ragam kesenian serta kebudayaan di berbagai daerah di Indonesia,” tulis Wahyono Martowikrido, yang bekerja di Museum Nasional pada 1964–1998, dalam Cerita dari Gedung Arca: Serba-serbi Museum Nasional Jakarta. Berdirinya Museum Nasional dan ketersediaan koleksinya tak lepas dari keberadaan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen atau Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat Batavia, yang didirikan pada 24 April 1778.
- Empat Senjata Jerman yang Mengubah Dunia
PERANG tidak hanya meninggalkan derita, kematian, atau mengubah geopolitik. Perang juga jadi etalase pamer kemajuan teknologi dan industri senjata. Jerman dalam gejolak Perang Dunia II harus diakui telah meninggalkan warisan yang mengubah dunia teknologi militer. Baik di darat, laut, maupun udara, Jerman punya senjata-senjata canggih yang tak dimiliki Sekutu. Sayangnya, bagi Der Führer Adolf Hitler, pengembangan senjata-senjata canggih itu terlambat. Hanya secuil dari beragam rancangan senjata jempolan Jerman yang sempat digunakan di palagan lantaran mayoritas baru rampung menjelang perang berakhir. Alhasil, senjata-senjata itu dicontek dan dikembangkan oleh para pemenang Perang Dunia II: Uni Soviet, Inggris, dan Amerika Serikat. Berikut empat dari senjata itu yang lantas jadi cikal-bakal pengembangan senjata yang terkenal hingga saat ini:





















