Hasil pencarian
9774 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Pergi ke Gereja pada Masa VOC
SEBUAH gereja menjulang tinggi. Tujuh jendela besar tampak pada bagian muka bangunannya. Tanah lapang di sekitarnya penuh dengan orang. Para budak, pembesar dan pegawai Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), dan orang-orang mardjikers atau budak yang dimerdekakan baru selesai beribadah pada hari Minggu.
- Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran
PUTRI Diana kecil (diperankan Lilly Aspell) menggebu-gebu berpacu dengan sejumlah pendekar Amazon yang lebih dewasa dalam sebuah kompetisi. Di fase akhir, Diana tinggal melontarkan sebilah tombak untuk menang. Namun langkahnya dihentikan Antiope (Robin Wright), pendekar Amazon yang menjadi pengawas kompetisi, hingga akhirnya Diana urung juara.Diana kecil menangis sesenggukan sehingga harus ditenangkan ibunya, Ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Persoalannya, Diana hampir menang dengan cara yang culas dan mengambil jalan pintas di sebuah fase kompetisinya. Itu yang digarisbawahi sang ibu bahwa dalam keadaan apapun, perempuan Amazon tak boleh hanya mengandalkan kekuatan, melainkan harus memprioritaskan nilai-nilai kejujuran. Pesan inti dari prolog itu jadi kunci cerita film pahlawan super Wonder Woman 1984 yang diracik sineas Patty Jenkins. Film itu merupakan film kesembilan dari waralaba DC Extended Universe cum sekuel dari film pahlawan super serupa, Wonder Woman (2017). Adegan Diana kecil (kanan) dalam sebuah kompetisi halang rintang bangsa Amazon. ( warnerbros.com ). Nilai kejujuran dengan keras dipegang Diana ketika berangsur dewasa dan hidup di tengah manusia biasa di Washington DC pada 1984.Diana menyamar sebagai pakar antropologi dan arkeologi di Museum Smithsonian bernama Diana Prince. Suatu hari, di tengah rutinitas pekerjaannya, Diana dewasa (Gal Gadot) bertemu rekan baru yang acap rendah diri, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Keduanya saling bantu menyelidiki sejumlah temuan benda kuno. Salah satu benda itu akan mengubah persahabatan mereka maupun situasi dunia secara global. Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah Benda kuno itu adalah batu citrine dari peradaban Mediterania. Batu tersebut ternyata bisa mewujudkan keinginan siapapun yang memegangnya. Termasuk Diana , yang hatinya sangat mendambakan kekasihnya yang telah meninggal bisa kembali hidup, Steve Trevor (Chris Pine). Sayangnya keinginan yang terwujud itu turut mendatangkan konsekuensi. Adegan pertarungan Wonder Woman melawan Barbara Minerva alias Cheetah. ( warnerbros.com ). Cerita kian dramatis ketika batu itu dicuri seorang pebisnis minyak oportunis, Maxwell Lord (Pedro Pascal). Akibatnya, situasi geopolitik dunia yang tengah panas oleh Perang Dingin turut terimbas sebagai buah dari keserakahan Lord. “Kita tidak bisa memiliki segalanya. Yang bisa kita miliki adalah kejujuran dan itu sudah cukup,” ujar Wonder Woman kala menghadapi Lord dalam sebuah konflik. Bagaimana kelanjutan aksi Diana Prince alias Wonder Woman dalam menyelamatkan dunia dari keserakahan Lord yang dibantu Minerva alias Cheetah? Baiknya Anda tonton sendiri Wonder Woman 1984 yang sudah tayangterbatas di beberapa bioskop maupun streaming di HBO Max sejak Natal 25 Desember 2020. Kembali ke “Khitah” Wonder Woman Di beberapa adegan, tone film sarat sinar lampu neon.Diiringi music scoring orkestra yang bercampur disko garapan komposer Hans Zimmer, penonton bakal dibawa bernostalgia ke era 1980-an. Untuk alur ceritanya, film Wonder Woman kali ini tak mengikuti alur kisah Wonder Woman di komik manapun.Sang sineas seolah ingin membawa penonton kepada karakter sejati Wonder Woman sebagaimana yang diciptakan psikolog William Moulton Marston pada 1941. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Jenkins menyadari bahwa Wonder Woman tak seperti pahlawan super mainstream, yang menghajar habis-habisan, bahkan membunuh tokoh penjahatnya. Wonder Woman, bagi Jenkins, adalah karakter yang memprioritaskan kejujuran untuk membuat semua orang punya keputusan yang lebih baik. “Hal menarik dari Wonder Woman adalah dia jagoan super yang tidak sering menghabisi tokoh penjahat dan lebih kepada mengonfrontir perbaikan dalam segala aspek umat manusia. Jadi dia seperti halnya seorang dewi yang berusaha terlibat dengan manusia biasa dan berusaha membuat semua orang lebih baik. Dia tak banyak bertarung, namun lebih banyak mengonfrontasi sebuah sudut pandang,” ujar Jenkins dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly , 24 Desember 2020. Sketsa pertama karakter Wonder Woman (kiri) ciptaan William Marston yang dibantu ilustrator H. G. Peter yang kemudian muncul pertamakali di All Star Comics #8. (Comixology/ comiclink.com ). Sejatinya, ketangguhan, kekuatan, maupun kecepatan yang jadi keunggulan Wonder Woman berhulu dari nilai-nilai cinta dan kejujuran. Patty Jenkins sangat kentara menonjolkan premis-premis itu sedari awal hingga akhir. Jalan ceritanya terinspirasi dari bagaimana Marson melahirkan karakter Wonder Woman berikut nilai-nilai yang dibawanya dalam memerangi kejahatan. Selain berprofesi sebagai psikolog dan pencipta purwarupa poligraf atau alat pendeteksi kebohongan, Marston merupakan salah satu anggota tim konsultan edukasi di penerbit All-American Publicatio ns dan National Periodicals di era 1940-an. Pada 1946, kedua penerbit itu berfusi menjadi DC Comics . Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Sampai di awal tahun 1940, jagoan super dari dua penerbit cikal-bakal DC Comics itu masih berupa para pahlawan laki-laki, mulai Batman, Superman, hingga Green Lantern. Marston ingin berkontribusi menciptakan karakter pahlawan super tambahan. Namun, diungkapkan Marguerite Lamb dalam artikelnya yang dimuat Majalah Bostonia edisi September 2001,“Who Was Wonder Woman?”, oleh istrinya, Sarah Elizabeth Holloway, Marstondisarankan untuk menciptakan pahlawan super perempuan. “Marston, psikolog yang dikenal menciptakan poligraf mengajukan ide untuk pahlawan super baru, di mana kekuatan utamanya terletak pada kekuatan pukulan atau lontaran api, melainkan dengan cinta. Elizabeth kemudian mengatakan: ‘Baiklah, tapi buatlah pahlawan supernya perempuan,’” tulis Lamb. William Moulten Marston dan istrinya Sarah Elizabeth Holloway (kiri) & Mary Olive Byrne yang jadi inspirasi karakter Wonder Woman. (Smithsonian Library/Boston University). Saran Elizabeth kemudian dijalankan Marston dengan meracik latar belakangnya dengan menyiratkan agenda feminisme dan memadukannya dengan muasal Wonder Woman sebagai keturunan dewi-dewi dari mitologi Amazon. Menurut Clare Pitkethly dalam “Recruiting an amazon: The Collision of Old World Ideology and New World Identity in Wonder Woman” yang dimuat dalam The Contemporary Comic Book of Superhero , mitologi Amazon bagi Marston merupakan gagasan yang tepat untuk meng- counter narasi-narasi dari mitologi-mitologi klasik yang didominasi tokoh laki-laki. “Wonder Woman melanjutkan narasi (mitologi Amazon) itu, di mana dominasi kulturnya akan kedigdayaan perempuan ikut dibawa ke ‘rumah barunya’, Amerika. Pesan Marston akan karakternya: ‘Wonder Woman adalah mentor perempuan yang memperlihatkan kepada para gadis muda bahwa mereka mampu melepaskan diri dari batasan-batasan aturan-aturan tradisional’,” kata Pitkethly. Lantaran Wonder Woman diciptakan kala Perang Dunia II sedang berkecamuk, Marston lantas men- setting kisah pahlawan super beralter ego Diana Prince itu sedang membantu kekasihnya, Steve Trevor, di departemen intelijen Angkatan Darat Amerika. Jiwa patriotismenya sangat kentara ditonjolkan dengan atribut rok biru bermotif bintang putih seperti yang ada dalam bendera Amerika. Inspirasi Poliarmi Untuk mengkonstruksikan fisik tokoh pahlawannya, Marston berangkat dari kehidupan pribadinya yang kontroversial dan keluar dari norma-norma tradisional. Sosok perempuan jelita Wonder Woman diciptakan dengan mengambil inspirasi dari pacar selingkuhannya, Olive Byrne. Diungkapkan Jill Lepore dalam The Secret History of Wonder Woman , dari penampakan fisik Olivelah deskripsi kecantikan dan keanggunan Diana Prince alias Wonder Woman diciptakan Marston. Rambut hitam, bentuk tubuh seksi, hingga “ Bracelet of Submission ” alias gelang anti peluru yang dipakai Olive semua dipindahkan Marston ke sosok Diana. “Awal mula Wonder Woman bersumber dari kehidupan Marston dan kehidupan dua perempuan yang dicintainya; keduanya juga menciptakan Wonder Woman. Marston bukan lelaki biasa, pun dengan keluarganya. Dia membimbing sebuah kehidupan rahasia dengan punya empat anak yang tinggal satu atap. Komik Wonder Woman jadi tempat favorit persembunyian kehidupannya,” tulis Lepore. Baca juga: Misteri Andromache of Scythia dalam The Old Guard "Lasso of Truth" atau tali laso kejujuran yang jadi senjata khas Wonder Woman. ( warnerbros.com ). Marston diketahui menganut poliarmi, suatu hubungan di mana seorang suami diperbolehkan istri resminya untuk memiliki seorang pacar. Marston diperbolehkan Elizabeth, yang juga seorang psikolog, punya hubungan dengan perempuan lain, Olive Byrne, yang sudah terjalin sejak 1925. Elizabeth dan Olive akur mengasuh empat anak Marston. Selain “Bracelet of Submission”, kelebihan lain milik Wonder Woman terletak pada senjata pamungkasnya, “Lasso of Truth”atau tali laso kejujuran. Senjata yang ditonjolkan Patty Jenkins itu dijadikan sebagai inspirasinya dalam menciptakan karakter sang pahlawan dalam Wonder Woman (2017) dan Wonder Woman 1984 (2020). Patty sengaja membedakan Wonder Woman ciptaannya dari Wonder Woman yang muncul di beberapa film lain keluaran DC Extended Universe, seperti Batman v Superman: Dawn of Justice (2016) dan Justice League (2017) yang bersenjatakan pedang dan perisai. “Lasso of Truth” diciptakan Marston sejak karakter Wonder Woman muncul pertama kali diterbitkan di All Star Comics edisi ke delapan pada Oktober 1941. Tali laso yang merupakan kekuatan utama Wonder Women merupakan simbol nilai-nilai kejujuran. Marston menciptakannya terinspirasi dari sejumlah hasil poligraf ciptaannya, di mana dia mendapati perempuan lebih berkata jujur ketimbang laki-laki ketika dites dengan alat pendeteksi kebohongan. Dengan kekuatan kejujuran itulah maka Marston menciptakan Wonder Woman sebagai sosok pemimpin ideal yang bisa menciptakan perdamaian dunia. “Sejujurnya, Wonder Woman adalah propaganda psikologis untuk tipe perempuan (era) baru yang, saya yakini, mestinya pantas memimpin dunia,” tandas Marston, dikutip Lepore. Data Film: Judul: Wonder Woman 1984 | Sutradara: Patty Jenkins | Produser: Charles Roven, Deborah Snyder, Zack Snyder, Stephen Jones, Patty Jenkins, Gal Gadot | Pemain: Gal Gadot, Lilly Aspell, Chris Pine, Kristen Wiig, Pedro Pascal, Robin Wright, Connie Nielsen, Lynda Carter | Produksi: DC Films, Atlas Entertainment, The Stone Quarry | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: laga pahlawan super | Durasi: 151 Menit | Rilis: 25 Desember 2020. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker
- Senjata CIA untuk PRRI
SETELAH pertemuan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada Januari 1958, Sumitro Djojohadikusumo dan Letkol Ventje Sumual pergi ke Singapura. Ketika sedang makan di sebuah restoran, seorang asing mendekati mereka. Dia menawarkan senjata dengan cuma-cuma.
- Gedong Bagoes Oka Menapaki Jalan Gandhi
NI Wayan Gedong tak beruntung ketika berkesempatan mengunjungi India pada 1953. Tokoh panutannya, Mahatma Gandhi, telah meninggal lima tahun sebelumnya. Alhasil, Gedong tak bisa bertemu langsung tokoh yang banyak menginspirasinya itu. Kendati begitu, Gedong yang lahir di Karangasem, Bali pada 3 Oktober 1921 sebetulnya termasuk orang beruntung. Lahir dari keluarga pejabat kolonial, Gedong punya kesempatan yang tak dimiliki kebanyakan anak sebayanya, yakni mendapat pendidikan layak. Gedong bersekolah di Holands Inlandsche School (HIS) Klungkung, lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Yogyakarta dan Algemeene Middelbare School (AMS) Batavia. Meski menikmati banyak keistimewaan, Gedong didik keras oleh ayahnya, I Wayan Komang, yang merupakan sekretaris Karangasem Raad. Komang termasuk orang yang menentang sistem kasta di Bali. Pendirian ini kemudian ditanamkannya pada Gedong sehingga membentuk karakter Gedong menjadi seorang yang egaliter. Selesai menempuh pendidikannya, Gedong mengajar di beberapa sekolah di Bogor, Singaraja, dan Denpasar. Ia juga sempat menjadi kepala sekolah SMA pertama di Bali, SMA Negeri Singaraja (1956-1963). Sastrawan Putu Wijaya dan aktor Ikranegara adalah termasuk murid-muridnya. Pada 1943, Gedong menikah dengan I Gusti Bagoes Oka, sekretaris di Paruman Agung yang kemudian menjadi wakil gubernur Provinsi Sunda Kecil. Semenjak menikah, Ni Wayan Gedong menggunakan nama Gedong Bagoes Oka. “…penambahan Bagoes Oka pada namanya sendiri menjadi tanda bahwa ia ingin sejajar dengan suaminya, dan tetap dipakainya nama Gedong sebagai tanda bahwa ia juga ingin mempertahankan jati diri dan kepribadiannya sendiri,” tulis Frederik Lambertus Bakker dalam The Struggle of the Hindu Balinese Intellectuals . Pada 1953, Gedong melakukan perjalanan ke Eropa dan India. Di India, ia mengunjungi Gandhi Ashram yang didirikan Mahatma Gandhi sejak 1915. Gandhi merupakan salah satu tokoh panutan Gedong, terutama karena ajaran Swadeshi, Ahimsa, Satya dan Karuna-nya. Meski tak bertemu Gandhi karena telah meninggal pada 1948, Gedong bertemu dengan Vinoba Bhave (1895-1982) yang dianggap sebagai ahli waris spiritual Gandhi. Gedong kemudian menghabiskan waktunya belajar di Ashram Gandhi selama di India. Ajaran-ajaran Gandhi kemudian disebarkan Gedong ketika ia pulang ke Indonesia. Pada 1976, ia mendirikan Ashram Gandhi Candidasa di bawah Yayasan Bali Canti Sena yang ia bangun pada 1970. Meski mengikuti model Ashram Gandhi di India, ashram ini memadukannya dengan keadaan masyarakat Hindu Bali. Ashram Gandhi Candidasa tidak hanya untuk mereka yang beragama Hindu. Semua orang diterima. “Ashram ini memang tidak mengenal perbedaan suku dan agama. Siapa yang berkenan ikut dapat masuk ke situ,” tulis Egy Massadiah dkk. dalam Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi. Bahkan, di ashram ini pula tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, YB Mangunwijaya, Th. Sumartana dan tokoh-tokoh lintas agama lain sering bertemu dan berdiskusi dengan Gedong. Ashram Gandhi kemudian juga didirikan di Denpasar dan Yogyakarta. Sebagai pluralis, Gedong telah malang melintang di bidang kemanusiaan dan perdamaian agama-agama baik di tingkat nasional maupun internasional. Gedong pernah menjadi direktur eksekutif Konferensi Asia untuk Perdamaian dan Agama. Pada 1994, Gedong menerima Jamnalal Bajaj Peace Award dari India karena telah mempromosikan ajaran Gandhi di luar India. Gedong juga memiliki perhatian terhadap isu perempuan dan anak. Ia merupakan ketua Yayasan Kosala Wanita, yang bergerak dalam bidang kesehatan ibu dan anak , periode 1956-1963. Gedong juga merupakan anggota Komisi Hak-hak Asasi Wanita Asia. Di Bali, Gedong termasuk salah satu pembaharu Hindu Bali. Dalam tulisannya “Spiritualitas Baru dalam Agama Hindu” yang termuat dalam Spiritualitas Baru: Agama dan Aspirasi Rakyat, misalnya , Gedong mengkritik masyarakat Hindu yang mementingkan ritual daripada spiritual. Hal itu menurutnya perlu dibenahi karena akan memberatkan rakyat kecil. “Perubahan hanya dapat diharapkan dari kehidupan spiritual kalangan terpelajarnya. Tekanan beban upacara yang dirasakan oleh cendekiawan Hindu mendorong mereka untuk memperdalam isi dari kitab-kitab suci demi menjernihkan pengertian mereka tentang agama sendiri,” tulis Gedong. Kegusaran Gedong tak hanya terhadap Hindu Bali, tapi terhadap turisme Bali yang semakin berkembang pesat. Wisata budaya dan agama, di satu sisi memberi penghidupan, di sisi lain menggeser spiritualitas menjadi hanya sebatas komoditas. “Di sinilah letak tantangan yang berat bagi mereka yang mendambakan kehidupan rohani Hindu,” ungkapnya. Di dunia politik, Gedong pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong (1968-1972). Setelah Orde Baru lengser, Utusan Golongan di MPR yang sebelumya didominasi Golongan Karya (Golkar) dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), kemudian menjadi lebih beragam. Dari golongan agama, budayawan, hingga penyandang disabilitas. Gedong kemudian menjadi anggota Utusan Golongan Hindu MPR (1999-2002). Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia Volume 3, pada 1950-an Gedong sangat dekat dengan tokoh-tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), mulai dari Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, hingga Soedjatmoko. “Di masa tuanya, bila datang ke Jakarta, Ibu Gedong saya lihat pasti mampir ke rumah Soebadio Sastrosatomo dan di sana bertemu dan berdiskusi dengan kawan-kawan sosialis,” tulis Rosihan. Gedong Bagoes Oka meninggal pada 14 November 2002 di Jakarta. Wajahnya kemudian muncul pada meterai Pos Indonesia keluaran 2004. Sepanjang hidupnya, Gedong telah menerjemahkan beberapa buku Gandhi seperti From Yeravda Mandir , Ashram Observances in Action, dan otobiografi Mahatma Gandhi .*
- Cerita Lucu dari Pertempuran Surabaya
AKHIR Oktober 1945. Tentara Inggris nyaris saja terbantai sia-sia di Surabaya. Guna mencegah situasi menyedihkan sekaligus memalukan itu terjadi, pimpinan militer Inggris kemudian meminta Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk mengendalikan para pejuang Indonesia di timur Jawa tersebut. Seperti dikisahkan dalam otobiografinya Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams), Sukarno-Hatta kemudian terlibat aktif secara langsung menghentikan aksi pertempuran di jalan-jalan kota Surabaya. Di setiap kerumunan massa dan pertahanan para pejuang republik, tak segan-segan Bung Karno menghentikan mobilnya dan berpidato dalam nada bersemangat. “Hentikan pertempuran! Kita mengadakan gencatan senjata dan tetaplah di tempatmu masing-masing! Jangan menembak! Itu perintah saya! Hentikan pertempuran segera!” seru Si Bung Besar dari atas mobil terbukanya. Bahkan karena pidatonya yang menyala-nyala itu pula, nyaris saja nyawa Bung Karno “lewat”. Ceritanya, saking bersemangat dan terpukaunya oleh gaya pidato Bung Karno, seorang remaja pejuang yang berdiri dekat Sukarno, secara tak sengaja menyenggol pelatuk senjata laras panjangnya yang tak terkunci. Akibatya: dor! “Senapan terkutuk itu meletus! Dan lagi tepat di belakang telingaku,” kenang Sukarno. Kendati sudah mendatangkan Sukarno dan Hatta, para pejuang Indonesia di Surabaya menganggap orang-orang Inggris hanya main-main saja saat berurusan dengan mereka. Hal itu semakin membuat kemarahan mereka kembali mencapai ubun-ubun, kala sepeninggal Sukarno, secara sepihak pihak Inggris justru memberikan ultimatum agar seluruh rakyat Indonesia yang bersenjata di Surabaya menyerah tanpa syarat. Tentu saja ancaman itu dianggap sepi oleh para pejuang republik. Alih-alih menyerah, pertempuran malah semakin dikobarkan dan mengakibatkan Brigadir A.W.S. Mallaby (pimpinan pasukan Inggris di Surabaya) tewas dalam suatu insiden di depan Gedung Internatio. Sejarah mencatat pada 10 November 1945, Inggris tanpa ampun membombardir Surabaya dari darat, laut dan udara. Serangan itu tentu saja disambut secara histeris oleh orang-orang Indonesia, kendati hanya sebatas sambutan lewat kekuatan infanteri dan artileri. Kegilaan orang-orang Indonesia itu memunculkan kengerian yang sangat di benak para serdadu Inggris. Kepada para wartawan, mereka menjuluki Surabaya sebagai “neraka” yang paling berdarah-darah pasca Perang Dunia II. Itu seperti diberitakan oleh New York Times , 15 November 1945. Namun di balik kengerian dan kebrutalan perang di Surabaya, terbuhul kisah-kisah lucu yang mungkin jarang diketahui khalayak. Salah satunya pengalaman yang pernah diceritakan oleh Suhario Padmodiwiryo dalam otobiografinya Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit . Dalam suatu pertempuran kota, seorang pejuang kecil berusia kurang dari 15 tahun tetiba harus berhadapan satu lawan satu dengan seorang prajurit Sikh berjanggut lebat yang tinggi besar dan bersorban dari Divisi India di suatu lorong. Kedua langsung tertegun. Sang bocah yang tengah memegang senjata langsung membidik dan menarik picu. Klik! Peluru kosong. Setelah lepas dari situasi panik, dengan tenang Si Prajurit Sikh itu mendekati sang bocah. Dia kemudian merampas senjata macet itu dan mengomel tanpa henti dalam bahasa Inggris. Awalnya, sang bocah hanya menangkap kata “mama” saja dari mulut sang prajurit. Namun dia kemudian cepat mafhum bahwa prajurit Inggris itu memintanya pulang dan menyuruh pergi saja ke pangkuan sang ibu daripada harus ikut-ikutan berperang. Sebelumnya yakni dalam Pertempuran Akhir Oktober ada suatu kejadian lucu lagi yang dikisahkan oleh Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945 . Saat bergerak mundur, satu kompi pasukan Inggris tersudut ke Kebun Binatang Wonokromo. Situasi itu menyebabkan muncul “ide liar” di kalangan para pejuang untuk diam-diam melepaskan semua harimau dan binatang buas yang ada di kebun binatang itu. Semua setuju. Namun baru saja akan dibentuk tim pelepas binatang-binatang buas itu, tetiba seorang kawan Des Alwi yang lebih dewasa melarangnya. “Jangan dilepas! Nanti setelah mereka memakan orang-orang Inggris, giliran kita juga bakal mereka habisi!”*
- Umat Protestan dalam Cengkeraman VOC
SEBUAH kapal terdampar di Singapura. Kapal itu baru saja dirompak. Salah seorang penumpangnya seorang pastor Katolik dari Sarekat Jesuit, sebuah sekte dalam agama Katolik, bernama Aegidius de Abreu, seorang Portugis. Dia dibawa orang-orang Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) ke penjara di Batavia. Di tempat ini, dia sebermula bebas mengunjungi penganut Katolik lain di penjara.
- Natal Berdarah di Laut Tengah
TAK ada hal aneh pada sore 22 Desember 1963 yang diingat Paul Sant Cassia, profesor antropologi di University of Malta, yang saat itu berusia sembilan tahun. Pada hari itu, kata Paul, ayahnya berangkat ke pabrik tempatnya bekerja seperti biasa. Ayahnya tetap bertahan bekerja di pabrik itu sebagai satu-satunya warga Siprus berdarah Turki karena begitu mencintai pekerjaannya. Semua berjalan seperti biasa hingga selepas pukul 10 malam Paul mendapati berita terjadinya kerusuhan di dekat pabrik tempat ayahnya bekerja. “Pada tanggal 22 Desember malam perkelahian terjadi sekitar pukul 10.00 malam di pusat kota. Empat orang tewas dan banyak lainnya luka-luka. Perkelahian terjadi di dekat pabrik dan saya dan saudara laki-laki khawatir ayah akan terlibat ketika dia melakukan inspeksi di halaman pabrik. Kami meneleponnya dan memberi tahu dia bahwa ada masalah. Kami menyuruhnya pulang karena dia mungkin akan cedera jika orang Siprus Yunani mengidentifikasinya sebagai orang Siprus Turki,” kata Paul dalam bukunya, Bodies of Evidence: Burial, Memory and the Recovery of Missing in Cyprus . Kala itu ketegangan antara warga Siprus berdarah Turki dan warga berdarah Yunani tengah memuncak. Akibatnya, ibukota Nikosia dibagi menjadi wilayah untuk warga Siprus Turki di utara dan wilayah untuk warga Siprus Yunani. Masing-masing komunitas saling mencurigai. Warga berdarah Turki mencurigai warga berdarah Yunani sebagai pendukung Enosis atau ideologi nasionalis yang mengupayakan integrasi Siprus dengan Yunani. Pemilihan Polycarpos Goergadjis, mantan jagal EOKA semasa perjuangan kemerdekaan Siprus dari Inggris yang terlibat dalam pembunuhan terhadap kalangan sipil, sebagai menteri dalam negeri dianggap salah satu langkah strategisnya. Sebaliknya, warga berdarah Yunani menuduh warga Turki ingin menguasai Siprus dan selalu mengkhawatirkan masuknya militer Turki ke Siprus. Saling ketidakpercayaan itu muncul dikarenakan beberapa faktor. Antara lain, penerapan pajak terpisah antara warga Siprus Yunani dan Siprus Turki. Bentuk Republik Siprus yang bukan negara kesatuan, melainkan komunal dengan sebagian di antaranya federasi komunal, menurut Andrew Borowiec dalam Cyprus: A Troubled Island , berandil pada kedaulatan terletak di tangan komunitas. Konstitusi nyaris tak berarti. “Faktor lain yang mendorong masyarakat ke arah konfrontasi langsung adalah banyaknya jumlah warga Siprus Turki yang menjadi pegawai negeri. Komunitas Yunani merasa bahwa rasio yang ditetapkan terlalu baik dan banyak warga Turki sebetulnya tak memenuhi syarat untuk pekerjaan yang mereka pegang,” tulis Borowiec. Ketegangan makin meningkat sejak Presiden Makarios III menghapus delapan ketentuan dasar dalam Perjanjian Kemerdekaan 1960 yang menjamin hak-hak warga Siprus Turki pada November 1963. "Tujuannya adalah untuk mengurangi (status dan peran, red .) warga Siprus Turki menjadi status minoritas belaka, yang sepenuhnya tunduk pada kendali orang Siprus Yunani, sebelum kehancuran atau pengusiran mereka dari pulau itu," tulis sejarawan John L. Oakes dalam “Cyprus–The Shame of Christmas 1963”, dimuat di cyprusscene.com . Makarios lalu, pada awal Desember, mengajukan usulan perbaikan 13 aturan yang menjadi sumber persengketaan, antara lain penghapusan aturan pemilihan anggota legislatif berdasarkan kuota etnis. Warga berdarah Turki menganggap usulan Makarios itu sebagai upaya untuk mengurangi partisipasi mereka dalam menjalankan negara. Pada 16 Desember, komunitas Turki, yang dimotori Menteri Pertahanan Osan Orek dan Ketua Turkish Communal Chamber Rauf Denktash, menolak rencana Makarios. Suasana makin tegang. Di tengah suasa tegang antar-etnis itu, pada dini hari 22 Desember, sekelompok polisi Siprus, berdarah Yunani, mengadakan razia di dekat red - light district ibukota. Mereka menghentikan sebuah taksi berisi seorang pemuda berdarah Turki dan seorang perempuan rekannya. Aparat meminta pemuda tersebut menunjukkan identitas, namun ditolak. Aparat lalu menembak mati kedua penumpang taksi tersebut. Sontak warga berdarah Turki yang ada di pasar Turki, tak jauh dari lokasi kejadian, datang. Mereka melawan para polisi tadi sehingga beberapa di antara aparat terluka. “Meskipun pembunuhan tersebut mungkin tidak dimotivasi oleh politik atau persaingan antaretnis, pembunuhan tersebut secara luas ditafsirkan sebagai ancaman bagi masyarakat Siprus berbahasa Turki secara keseluruhan,” kata buku yang dieditori Jon Celame dan Esther Charesworth, Divided Cities: Belfast, Beirut, Jerussalem, Mostar, and Nicosia . Paginya, warga berdarah Turki segera berkumpul. Mereka menganggap kejadian pada dini hari sebagai bagian dari Enosis. Malamnya, bentrokan berdarah pun pecah di Nicosia. Pasukan-pasukan paramiliter Turki maupun Yunani saling serang. Otoritas Yunani kemudian memutus saluran telepon dan telegraf ke areal permukiman Turki. Tak lama kemudian, aparat kepolisian Siprus Yunani menguasai bandara Nicosia. "Ketika orang Siprus Turki keberatan dengan amandemen Konstitusi, Makarios menjalankan rencananya, dan serangan Siprus Yunani dimulai pada bulan Desember 1963," sambung Oakes. Esoknya, 23 Desember, pertempuran meluas. Kendati pada siangnya Presiden Makarios dan pemimpin Komunitas Turki sepakat melancarkan gencatan senjata, kondisi di lapangan terlanjur membara. Pertempuran telah mencapai beberapa daerah di luar Nicosia hingga Kota pelabuhan Larnaca. Pada hari itulah milisi Yunani yang dipimpin Nicos Sampson, mantan kombatan EOKA yang terlibat dalam pembunuhan terhadap warga sipil saat perjuangan melawan Inggris, menyerbu Omorphita di pinggiran Nicosia. Mereka langsung membunuhi orang-orang berdarah Turki. “Tampaknya tanpa pandang bulu, termasuk wanita dan anak-anak,” tulis Borowiec. Menurut Oakes, yang mengutip Letnan Jenderal George Karayiannis dari Milisi Siprus Yunani, serangan oleh warga Siprus Yunani telah direncanakan sejak jauh hari, bukan spontanitas. Serangan itu berpijak pada rencana "Akritas", cetak-biru untuk pemusnahan Siprus Turki dan aneksasi pulau itu oleh Yunani. “Setiap Siprus Yunani bersenjata memburu mereka (penduduk berdarah Turki, red.). Dalam waktu satu bulan setelah serangan gencar pada 21 Desember 1963, ratusan warga Siprus Turki terbunuh, terluka, atau cacat. Daerah Turki di pulau itu dikepung dengan tujuan untuk membuat penduduk kelaparan sampai mati sehingga mereka tidak bisa lagi menentang kemauan politik ‘Yunani,’” demikian catatan UN Security Council dalam Documents Officiels , Volume 3. Kondisi kacau tersebut membuat Komisaris Tinggi Inggris di Siprus Sir Arthur Clark segera terbang ke negeri pulau di Laut Tengah itu dari cuti berobatnya di Inggris. Begitu tiba Arthur langsung “disuguhi” pemandangan mengerikan berupa tiga petani Turki tewas disandarkan di depan gerbang depannya. Di Rumahsakit Umum Nicosia, setidaknya tiga pasien berdarah Turki tewas ditembak. Keesokannya, 24 Desember, para milisi Yunani menyerang desa Mathiatis Ayios Vasilios. Sekira 59 warga berdarah Turki dibunuh malamnya. Pada awal 1964, Palang Merah Internasional bersama pasukan Inggris berhasil menemukan 21 jasad warga Turki yang dibunuh dan dipendam dalam lubang yang sama. Pertempuran masih berlangsung pada 24 Desember malam ketika Arthur bersama Mayjen Peter Young (komandan pasukan Inggris), Presiden Makarios dan pemimpin perwakilan Turki merundingkan gencatan senjata. Meski gencatan senjata berhasil dilaksanakan saat Natal, pertempuran kembali pecah hari berikutnya. “Di Omorphita pada 27 Desember, 550 orang disandera dan ditahan di sekolah Kykkos, tempat mereka bergabung dengan 150 sandera asal Kumsal. 550 di antaranya dibebaskan pada 31 Desember 1963,” tulis Paul Cassia. Namun, pertempuran berangsur mereda setelah pasukan gencatan senjata gabungan di bawah Mayjen Peter Young, yang dibentuk pada 24 Desember malam, dapat menguasai keadaan dan menegakkan hukum hingga pasukan perdamaian PBB tiba tahun berikutnya. Kota Nicosia dibagi menjadi dua, dengan utara diperuntukkan bagi warga berdarah Turki, berdasarkan garis yang dibuat pada rapat 24 Desember malam. Selain menyebabkan puluhan ribu warga dari kedua etnis mengungsi dan beberapa ribu di antaranya tak pernah kembali ke rumah mereka, “Natal Berdarah” itu merusak 270 masjid dan menewaskan lebih dari 300 warga Siprus Turki serta lebih dari 150 warga Siprus Yunani. “Tidak masuk akal untuk mengklaim, seperti yang dilakukan oleh orang Siprus Yunani, bahwa semua korban jiwa disebabkan oleh pertempuran antara orang-orang bersenjata dari kedua belah pihak. Pada Malam Natal, banyak orang Siprus Turki diserang dan dibunuh secara brutal di rumah mereka di pinggiran kota, termasuk istri dan anak-anak seorang dokter yang diduga oleh sekelompok pria yang terdiri dari 40 orang, banyak yang memakai sepatu bot tentara dan mantel besar. Meskipun Siprus Turki melawan sebisa mungkin dan membunuh beberapa milisi, tidak ada pembantaian terhadap warga sipil Siprus Yunani," demikian diberitakan The Guardian edisi 31 Desember 1963. Ayah Paul Cassia merupakan satu di antara yang jadi korban tewas dalam peristiwa yang dikenal sebagai "Natal Berdarah" itu. Dia tak pernah terlihat lagi sejak terakhir kali ditelepon Paul dan kakaknya. “Ayah saya menghilang pada 1963. Dia adalah salah satu orang pertama yang dinyatakan hilang. Saya tidak menemukan apa yang terjadi sampai beberapa minggu kemudian. Seorang teman ayah saya, yang juga seorang Siprus Yunani, memberi tahu saya apa yang telah terjadi. Tak lama setelah kami berbicara dengan ayah, sekelompok pasukan EOKA pergi ke pabrik dan bertanya apakah ada warga Siprus Turki yang bekerja di sana. Pemilik pabrik berkata bahwa hanya ada satu, tetapi dia baru saja pergi. Orang-orang EOKA pergi ke atap pabrik dan menembak ayah saya. Kami pergi ke pabrik untuk mengkonfrontasi tentang ayah saya, tetapi mereka mengatakan bahwa yang mereka tahu hanyalah bahwa dia menghilang saat bertugas,” sambung Paul.*
- Ketika Hatta Merayakan Natal di Jerman
JERMAN, Pekan Natal 1921. Seluruh daratan telah memutih. Jalanan dan atap-atap bangunan tampak ditutupi oleh lapisan salju. Asap pun mulai membumbung dari rumah-rumah. Di tengah udara menggigit itu Mohammad Hatta dan Dahlan Abdullah berjalan. Menyusuri jalan utama dengan pakaian musim dinginnya. Meski telah tiga bulan di Eropa, keduanya tetap belum terbiasa dengan udara di sana. Terlebih Natal tahun itu menjadi perayaan musim dingin pertama mereka di Benua Biru. Kedatangannya ke Jerman bukan sebagai warga koloni Hindia Belanda. Melainkan pelajar dari Belanda. Kala itu Hatta sedang menempuh pendidikan Ekonomi di Handels Hogeschool, Belanda. Pada Desember 1921, ia mendapat jatah libur tahunan, menyambut Natal dan Tahun Baru, selama lebih dari tiga minggu. Kesempatan tersebut ia manfaatkan untuk mengenal negeri-negeri di Eropa. Lalu atas usulan Dahlan, keduanya sepakat berkeliling Jerman dan Eropa Tengah. Mereka berencana menghabiskan waktu seminggu di sana. Hatta memulai perjalannya pada 20 Desember, dengan perkiraan kembali ke Belanda tanggal 27 Desember. Ia berangkat dengan kereta api dari Den Haag menuju Hamburg. Turun di stasiun, Hatta lalu berkeliling ke Berlin, Praha, Wina, dan Munchen. Di masing-masing tempat ditentukan bahwa keduanya akan menetap selama satu atau dua hari. “Di masa itu aku melihat perbedaan nilai uang yang hebat. Uang Gulden Belanda berbanding dengan Mark Jerman seperti 1 dan 100. Sebelum Perang Dunia I perbandingannya 10 dan 6. Satu Mark nilainya 60 sen Belanda. Jerman mulai dipukul inflasi. Uang Austria inflasinya lebih hebat lagi,” ujar Hatta. Pengalaman itu ia bagikan dalam otobiografinya, Memoir . Di Jerman, Hatta menemui kenalannya, Tuan Le Febvre, bekas residen di Sumatra Barat yang tinggal di Hamburg setelah pensiun. Sedangkan Dahlan juga mempunyai kenalan di sana, namanya Usman Idris. Kawannya itu berasal dari Bukittinggi. Ia datang ke Nederland setelah PD I, sekira tahun 1919, dan memilih menetap di Jerman setelah kesulitan bertahan hidup di Belanda. Berkat itu, Usman Idris menjadi teman berkeliling Hatta di Jerman. Selama pergi melancong itu, Hatta menyewa kamar pada Frau Jachnik di Papendamm. Di rumah tersebut terdapat empat kamar dan ditinggali oleh empat orang anggota keluarga. Dua di antaranya disewakan kepada Hatta. Setiap pagi, mereka mendapat sarapan gratis. Menurutnya, biaya hidup di Jerman murah sekali jika dibandingkan dengan Belanda. “Keluarga itu mempunyai seorang anak laki-laki kecil, berumur kira-kira 4 tahun,” ujar Hatta. “Mereka gembira sekali dan sangat berterima kasih, waktu malam sebelum Natal kami bawakan bagi mereka kue Natal dan untuk anaknya sebuah mainan, pasangan kereta api yang dapat berjalan sendiri atas lingkaran relnya. Supaya dapat berjalan berkeliling pernya diputar dulu.” Pada perayaan Natal, 25-26 Desember, Hatta banyak menghabiskan waktu di kediaman Le Febvre. Dan berkat keramahan si tuan rumah yang menahan mereka untuk kembali terlalu cepat ke Belanda, rencana berlibur seminggu di Eropa Tengah terpaksa diubah. Hatta dan Dahlan memutuskan menetap lebih lama di Jerman. Setidaknya sampai pergantian tahun. Le Febvre meminta Hatta melihat suasana Natal di Jerman, yang mungkin tidak akan ditemukan di Nederland. “Lihatlah cara rakyat Jerman merayakan hari-hari Natal dan Tahun Baru. Lucu sekali, sekalipun mereka dalam kesusahan dan kesukaran hidup,” kata Le Febvre. Dalam kunjungannya ke Jerman itu Hatta tidak lupa mengunjungi sebuah toko buku bernama Otto Meissner. Kecintaannya terhadap buku membuatnya memborong banyak sekali judul dari berbagai penulis terkenal. Ditambah lagi harganya yang amat murah. Bagi orang Jerman mungkin akan terasa mahal, namun berhubung Hatta memakai gulden , harga sudah bukan jadi persoalannya. Sebanyak lebih dari 10 buku ia beli dari sana dan dengan bantuan Universitas Hamburg, buku-buku itu dikirim ke alamat tempat tinggalnya di Rotterdam. “Selama di Hamburg masih sempat kami pada suatu malam bersama-sama dengan Dr. Eichele dan Usman Idris melihat opera. Sebelum menonton kami makam malam dahulu pada sebuah restoran. Dahlan Abdullah, Dr. Eichele, dan Usman Idris memesan bir untuk minum, aku pesan air es. Setelah selesai makan dan membayar harganya, aku ditertawakan oleh Dahlan Abdullah, bahwa minumanku air es lebih mahal harganya dari bir. Teman yang dua lainnya ikut tertawa,” kata Hatta.*
- Ketika Hatta Mulai Mengenal Tuhan
BANGUNAN rumah itu mudah dikenali. Bentuknya agak lain dari bangunan di sekitarnya. Bilik dan atap didominasi bahan kayu tegap, dengan langgar yang cukup luas. Lebih istimewa lagi, alunan ayat suci Al-Qur’an tiap waktu terdengar dari sana. Orang-orang kerap berkumpul, duduk mendengarkan ceramah seorang alim di tempat itu. Suaranya amat menenangkan. Isi ceramahnya begitu mencerahkan. Di tempat bernama Batuhampar itulah Mohammad Hatta belajar tentang ilmu agama. Hatta terlahir di keluarga dengan latar belakang Islam yang kuat. Dari sisi ayah, banyak kerabat yang fokus mendalami agama Islam. Bahkan kampung Batuhampar, Patakumbuh, Sumatra Barat terkenal sebagai pusat pendidikan Islam, yang santrinya datang dari seluruh Sumatra, Kalimantan, hingga Melayu. Kakek Hatta juga merupakan salah satu ulama terkenal di sana. Oleh keluarganya Hatta sering diajak berkunjung ke Batuhampar. Dalam setahun setidaknya dia berkunjung sebanyak dua kali. Bukan sekedar untuk bermain, tetapi juga berziarah ke makam leluhur keluarga ayahnya. Di sana Hatta tinggal di kediaman pamannya, Haji Arsad, seorang ulama terkemuka bergelar Syekh Batuhampar. “Beliau sangat sayang padaku. Air mukanya yang jernih selalu, yang mencerminkan jiwa yang murni. Kata-katanya yang selalu mendidik ke jurusan berbuat baik. Ramah-tamahnya kepada segala orang dengan sifat yang pemurah kepada fakir miskin dan orang-orang yang datang mengaji dan berziarah dari jauh. Wajah dan tabiat beliat itu tepat benar dengan kedudukan beliau sebagai ulama besar dan ahli tarikat,” ujar Hatta menggambarkan sosok yang amat dihormatinya tersebut. Ayah Gaekku Arsad, begitu Hatta biasa menyapanya, masih satu kerabat dengan ayah Hatta. Diceritakan dalam otobiografinya Memoir , Ayah Gaekku Arsad usianya sudah lebih dari 50 tahun. Perawakannya tegap dan berisi, dengan jubah dan sorban yang tidak pernah lepas dari tubuhnya. Bagi Hatta, pamannya itu memiliki pribadi yang amat terpuji. Berkat dia jugalah Hatta mengenal cara hidup dan bergaul secara Islam. Sebagai ahli tarikat, Ayah Gaekku Arsad paham bahwa anak-anak seusia Hatta tidak boleh dibebani dengan ajaran agama yang sulit. Ia pun mesti berhati-hati dalam menyampaikannya. Tetapi bagi Hatta, Syekh Arsad pandai dalam menanam paham agama Islam. Dalam setiap pertemuan yang singkat, dia bisa menanamkan pokok uraian secara baik dan mudah dimaknai. “Allah Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Kuasa, Tuhan seru sekalian alam. Allah menjadikan segala yang ada di alam dan di langit. Allah memberi kita rezeki. Sebab itu kita harus berterima kasih pada Allah. Balas kasih Allah pada kita itu dengan mengasihi orang lain. Dan Allah nanti membalas pula budi kita itu dengan melimpah. Dan teori yang diajarkannya itu kulihat dipraktikannya dengan perbuatan,” kata Hatta. Pada suatu kunjungan ke Batuhampar, Hatta pernah bertanya kepada pamannya itu tentang penggambaran Tuhan yang didengarnya dari Haji Ismail –seorang sahabat Ayah Gaekku dari Matur. Haji Ismail menggambarkan Tuhan layaknya manusia. Tetapi memiliki perbedaan yang amat kentara: sempurna dalam segala-galanya. Wajah Tuhan, kata Haji Ismail, tiada tandingannya di dunia ini. Rambut, kumis, dan jenggotnya putih tidak bercela-cela. Pandangannya tajam tapi menenangkan. Tuhan memiliki pendamping, yakni malaikat. Tugasnya turun ke bumi dan mencatat segala hal yang terjadi. “Sungguh pun berambut putih, Allah tidak pernah tua, tidak berubah-ubah tetap seperti itu selama-lamanya,” ucap Haji Ismail. Dengan penuh semangat Hatta menceritakan apa yang didengarnya itu. “Benarkah Allah besemayam di langit yang ke tujuh di atas satu singgasana yang indah sekali, dilingkungi oleh malaikat dan bidadari?” tanya Hatta dengan mata berbinar. Mendengar hal itu Ayah Gaekku hanya tersenyum. Dia lalu meyakinkan Hatta bahwa semua yang didengarnya salah besar. Menurutnya, Haji Ismail telah keliru membuat gambaran Tuhan. Itu hanya karang-karangan manusia saja, tidak ada kebenaran sama sekali di dalamnya. Kuasa Tuhan, kata Ayah Gaekku, jauh lebih besar dari apa yang bisa dibayangkan manusia. “Kita manusia dan segala yang hidup di atas dunia adalah baru. Alam, matahari, bulan, dan bintang semuanya baru. Semuanya buatan Tuhan. Segala yang terjadi ada yang menjadikannya. Ada awal dan akhirnya. Tuhan yang menjadikan tidak baru, ada selama-lamanya, tunggal, tidak dijadikan. Allah yang ada selama-lamanya itu mengetahui semuanya dan mendengar semuanya. Allah Maha Besar dan Maha Kuasa,” terang Ayah Gaekku. “Allah yang tunggal tidak dapat serupa atau sama dengan yang dijadikannya. Kalau serupa dan sama, itu tidak tunggal lagi. Oleh karena itu Allah adalah zat yang tidak serupa dengan yang baru. Tidak dapat digambarkan dengan rupa manusia, tidak dapat dikatakan dengan bentuk dan rupa yang ada di dunia ini. Yang kita tahu hanya Allah ada, sebab dibuktikan oleh yang dijadikannya,” lanjutnya. Hatta hanya diam mendengarkan. Sesekali dia mengangguk. Banyak sekali pengetahuan yang didapatnya hari itu. Ayah Gaekku kemudian menutup kisahnya dengan menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an yang berkaitan dengan kisah Tuhan dan segala ciptaannya. Namun hampir tidak ada satupun ayat yang dimengerti Hatta. Itu karena dia tidak bisa bahasa Arab.*
- Kontroversi Iringi Sejarah Arsenal
KURSI kepelatihan Arsenal yang diduduki Mikel Arteta makin panas jelang Boxing Day. Sejak dimulainya musim 2020-2021, The Gunners (julukan Arsenal) sudah terbelit beberapa kontroversi. Dua di antaranya adalah dicoretnya nama bintang Mesut Özil dari skuad utama yang berbuntut drama, dan deretan hasil merah di laga-laga Liga Inggris dan Carabao Cup (EFL). Di bawah Arteta, klub yang bermarkas di Emirates Stadium itu hanya mampu menang empat kali dalam 14 laga terakhirnya. Arsenal juga kalah 1-4 dari Manchester City di perempatfinal Carabao Cup, Selasa (23/12/2020). Fans Arsenal pun mulai menuntut Arteta dipecat, yang berbuntut manajemen klub mencari penggantinya. Kemarahan fans mulai mencuat setelah Arsenal keok 0-1 dari klub cilik Burnley pada 14 Desember 2020. Ditambah hasil imbang 1-1 saat menjamu Southampton tiga hari berikutnya dan ditundukkan Everton 1-2 pada 20 Desember, Arsenal pun terjun bebas ke posisi 15 klasemen Liga Inggris atau berjarak dua spot dari zona degradasi. Meski didera tekanan, Arteta masih mendapat dukungan dari beberapa koleganya. Antara lain dari pelatih Manchester City Josep ‘Pep’ Guardiola, di mana Arteta jadi asistennya ketika Pep membesut Manchester City pada 2016-2019. “Semua orang tahu bahwa pelatih dinilai berdasarkan hasil. Namun saya pernah bekerja bersamanya di periode paling sukses di klub kami sepanjang sejarah. Kami takkan punya kesuksesan begitu besar tanpa dia. Saya tahu program-programnya dan apa yang direncanakannya. Anda hanya mesti bersabar. Dia pelatih hebat dengan etos kerja luar biasa dan memprioritaskan kepentingan klub di antara keputusan-keputusannya,” tutur Pep, dikutip Football London , Kamis (24/12/2020). Pelatih Mikel Arteta Amatriain yang tengah tertekan akibat sederetan rapor merah Arsenal FC ( arsenal.com ) The Daily Mail Senin (21/12/2020) memberitakan bahwa manajemen klub sudah menyiapkan rencana finansialnya. Jika Arsenal akhirnya terdegradasi, para punggawanya yang memilih bertahan bakal disunat gajinya 25 persen. Apabila Arsenal terperosok di bawah komando Arteta nanti, catatan sejarahnya sebagai klub terlama di kasta teratas liga Inggris akan berakhir. Drama dan kontroversi yang mengitari Arsenal juga pernah terjadi ketika klub itu promosi untuk kali kedua ke kasta teratas pada 101 tahun lampau. Kontroversi Promosi Arsenal sendiri didirikan para buruh pabrik amunisi pada 1886 dengan nama Dial Square. Setelah David Danskin, petinggi pabrik senjata Royal Arsenal, membelinya pada 1888, nama klub diubah jadi Royal Arsenal. Sedikit demi sedikit Arsenal mulai merajai beberapa turnamen lokal. Setelah berganti nama lagi jadi Woolwich Arsenal, Arsenal resmi menjadi anggota Football Association (FA) dan langsung ikut turnamen FA Cup musim 1889-1890. Meski begitu, baru pada 1893 Arsenal bisa ikut kompetisi The Football League (pendahulu Premier League/Liga Inggris, red .) di divisi dua. Mengutip Phil Soar dalam The Official Illustrated History of Arsenal , klub asal London Utara itu pertamakali promosi ke First Division pada musim 1903-1904. Tetapi di musim 1912-1913, Arsenal terjerembab lagi ke Second Division dan bahkan nyaris bangkrut. Klub Woolwich Arsenal pada tahun 1895 ( arsenal.com ) Pasca-Perang Dunia I, ketika The Football League hendak menggelar musim 1919, rapat tahunan pengelola liga ingin menambah jumlah peserta First Division dari 20 klub menjadi 22 klub. “Ketika liga berjalan lagi pada 1919, entah bagaimana Arsenal dipromosikan meski Barnsley dan Wolves (Wolverhampton Wanderers, red. ) finis di atasnya di Second Division. Lalu Tottenham Hotspur yang sebelumnya di urutan terakhir First Division tetap terdegradasi walau peserta First Division ditambah dari 20 menjadi 22 klub. Hanya Chelsea yang finis satu posisi di atas Spurs yang selamat,” tulis Anton Rippon dalam Arsenal: The Story of a Football Club in 101 Lives . Suara miring terkait pengaruh tekanan dan suap pun menghampiri Arsenal. Sejumlah tuduhan itu menyasar pada Sir Henry Norris, bos klub Arsenal, dan John McKenna, pemilik Liverpool, yang diketahui punya agenda terselubung karena Liverpool terlibat skandal 1915. Skandal 1915 merupakan skandal pengaturan skor yang melibatkan Manchester United dan Liverpool di musim 1914-1915. Penanganan kasusnya baru selesai pada 1919. Penyelesaiannya pun dilakukan di ranah internal sehingga belum sempat terbongkar ke publik. “Pada rapat tahunan, McKenna mendukung klaim Arsenal terhadap Spurs dengan alasan masa keanggotaan Arsenal lebih lama sebagai klub asal selatan pertama yang bergabung ke The Football League. Tetapi anehnya, Wolves sebagai salah satu pendiri liga pada 1888 dan finis satu posisi di atas Arsenal malah tak dipromosikan,” ujar Rippon mengomentari alasan kontradiktif itu. “Permainan di bawah meja” untuk mempromosikan Arsenal ke First Division kendati hanya finis urutan kelima di Second Division nyatanya memang ada. Isu suap itu kencang berhembus jelang pemungutan suara untuk menentukan satu tim terakhir yang akan menemani Derby County sebagai juara Second Division dan Preston North End sebagai runner up . Dalam pemungutan suara itu, para anggota wajib memilih siapa yang lebih berhak untuk dipromosikan antara Spurs (urutan 20 First Division), Barnsley (urutan ketiga Second Division), Wolves (urutan keempat Second Division), dan Arsenal (urutan kelima Second Division). Sir Henry George Norris (tengah) Ketua Klub Arsenal periode 1910-1929 ( arsenal.com ) Hasil voting mencengangkan banyak pihak. Arsenal menang dengan 18 suara. Sementara Spurs hanya delapan, Barnsley lima, Wolves empat, sementara enam suara sisanya abstain. Isu suap yang bertebaran saat itu mengarah pada Norris dan McKenna. McKenna sudah lebih dulu “dipegang” Norris. Norris menuai balas budi dari McKenna karena tak melanjutkan tuntutan degradasi pada Liverpool dan Manchester United sebagai hukuman atas skandal pengaturan skor musim 1914-1915. Alhasil, hukuman hanya menyasar pada para pemain, bukan klub. Norris juga memengaruhi beberapa petinggi klub lain di keanggotaan rapat bahwa Arsenal sebagai “senior” di wilayah Midlands dan selatan siap keluar dari liga dan mengajak beberapa tim dari dua wilayah itu untuk keluar dari The Football League jika tak mendapat dukungan untuk promosi ke First Division. Jadilah Arsenal mendapat suara terbanyak dalam voting. Arsenal pun melenggang ke First Division musim 1919. Sejak saat itu, Arsenal tak pernah lagi jatuh ke kasta kedua hingga memegang rekor klub terlama yang bertahan di kasta teratas hingga kini. Meski begitu, lanjut Rippon, fakta itu jadi faktor yang melahirkan kesumat dan rivalitas sengit di antara Arsenal dan Spurs sebagai sesama klub asal London Utara sampai sekarang.
- Merayakan Hari Ibu Bersama Para Perempuan Hebat
Sejarah Indonesia tak melulu menyorot lelaki sebagai tokoh penggerak perjalanan bangsa. Perempuan pun kerap disorot dan punya peran penting di dalamnya. Karena itulah, 22 Desember diperingati sebagai hari Ibu. Yang dimaksud di sini bukan ibu sebagai ibu rumah tangga atau seorang perempuan yang telah punya anak, melainkan untuk perempuan secara luas dengan beragam peran dan pekerjaan. Tanpa pula memandang status hubungannya: sudah menikah atau belum, sudah punya anak atau belum. Sosok para perempuan hebat dalam sejarah bangsa Indonesia. ( Foto : Fernando Randy ) Penentuan Hari Ibu diambil dari peristiwa Kongres Perempuan Indonesia yang pertama pada 22–25 Desember 1928. Bertempat di Yogyakarta, kongres ini diinisiasi oleh organisasi perempuan seperti Wanita Oetomo, Aisyah, Poetri Indonesia, bagian perempuan di dalam Sarekat Islam, dan lain sebagainya. Penetapan Hari Ibu diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia ketiga pada 1938 di Bandung. Kongres Perempuan Indonesia menuntut perubahan bagi kedudukan kaum perempuan. Kala itu perempuan Indonesia menjadi pihak yang ditindas dan dibawahkan oleh berbagai macam struktur sosial yang mengekang. Oleh sebab itu, Kongres Perempuan mengangkat masalah-masalah keseharian perempuan dalam hubungan sosialnya seperti perkawinan anak-anak, nasib anak yatim piatu dan janda, pendidikan perempuan, dan praktik kawin paksa. Najwa Shihab yang dikenal kerap membuat perubahan dalam dunia pers Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Atlet muda di cabang berkuda Charlotte Ramadhan saat beraksi pada perhelatan liga berkuda di Pulomas. (Fernando Randy/ Historia.id ). Tarmi, mulai menghidupi tujuh anak dan lima cucunya dengan berdagang di Cilincing Jakarta Utara. (Fernando Randy/ Historia.id ). Sudah 92 kali Hari Ibu diperingati. Selama itu pula, perempuan Indonesia tak berhenti berjuang memperoleh kedudukan yang adil dan setara dalam masyarakat. Sebab pandangan bahwa perempuan sebagai makhluk kelas dua dan berada di bawah kuasa lelaki belum sepenuhnya hilang seperti masa kolonialisme. Meski praktiknya tak sepenuhnya sama dengan masa lalu, pola-pola demikian tetap mengada hingga hari ini. Beberapa nama bisa disebut sebagai tokoh-tokoh perempuan masa kini. Tentu saja nama ini bisa jauh lebih banyak daripada yang bisa disebut. Ini juga tak mewakili perempuan secara keseluruhan. Tetapi hanya sedikit contoh untuk menunjukkan ketokohan perempuan dalam berbagai bidang yang sangat luas. Cut Nyak Dhien, Dewi Sartika dan Martha Christina Tiahahu para perempuan hebat dalam sejarah Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Yohana Uli, yang bekerja dan berkarya di bidang videografi. (Fernando Randy/ Historia.id ). Maria Dininta, saat membuat kalung untuk di jual dan mengasuh putrinya, Kiani di rumah. (Fernando Randy/ Historia.id ). Mira Lesmana yang terus berkarya di bidang sinema Indonesia. ( Foto : Fernando Randy/Historia.id ) Dari dunia pers, orang mengenal Najwa Shihab yang kerap membuat perubahan. Dari dunia film, ada Mira Lesmana yang selalu memukau dalam karya-karya filmnya. Dari dunia videografi, muncul Yohana Uli yang bekerja di salah satu situs berita. Ada pula Maria Dinita yang mampu berperan sebagai ibu rumah tangga sekaligus pekerja kantoran dan penggiat Usaha Kecil Mikro Gelang Tangan. Lalu ada sosok Emilia Nova yang terus mengukir prestasi di arena olahraga. Itu semua membuktikan bahwa Indonesia sudah dipenuhi oleh para perempuan hebat. Memperingati Hari Ibu berarti memantapkan jejak sejarah perjuangan kaum perempuan untuk mendapatkan posisi yang adil dan setara di negeri ini. Meutia Hatta, sosok perempuan hebat di Indonesia. (Fernando Randy/ Historia.id ). Shanaz Haque sosok yang aktif dalam berbagi ilmu di berbagai kesempatan. (Fernando Randy/ Historia.id ). Emilia Nova atlet atletik Indonesia yang sudah menuai berbagai prestasi di ajang internasional. (Fernando Randy/ Historia.id ).
- Hikayat Amat Boyan dan Pasukan Cap Kampak
Amat Boyan, raja bandit kota Medan itu akhirnya babak belur. Petarung kelas jalanan ini dibikin bonyok oleh Sibarani, mantan petinju yang menjadi inspektur umum Markas Pengawal Pesindo. Sesuai kesepakatan, siapa yang kalah menjadi pengikut yang menang. Amat Boyan pun menjadi pion Pesindo. Pada 1 Desember 1945, Ketua Pesindo Sarwono Sastro Sutardjo mendirikan unit pasukan khusus. Kelompok bersenjata ini diberi nama yang cukup sangar “Pasukan Cap Kampak”. Sudah pasti pembentukan pasukan itu, berhubungan dengan tumbuh suburnya barisan kelaskaran di kota Medan pasca kemerdekaan. “Diantara anggotanya terdapatlah nama-nama Amat Boyan, Maliki, dan Jahja Aceh yang kemudian menjadi terkenal karena keburukannya, maupun karena perjuangannya,” tulis Biro Sejarah Prima dalam Medan Area Mengisi Proklamasi . Residivis Bengis Nama aslinya ialah Amat. Mengapa dia terkenal dengan panggilan Amat Boyan akan dijelaskan kemudian. Reputasi Amat sebagai seorang pelaku kriminal telah malang melintang sejak zaman pendudukan Jepang. Merampoki rumah-rumah orang Jepang adalah aksi yang membawanya meringkuk dalam penjara di Pematang Siantar. Seniman karikaturis Augustin Sibarani yang menghabiskan masa remajanya di kota Pematang Siantar mengisahkan sosok Amat Boyan sebagai seorang residivis yang licin. Di sudut-sudut lapo tuak, orang-orang membincangkan tentang dua orang kriminal kelas kakap bernama Amat Boyan dan Paulus yang melarikan diri dari penjara Pematang Siantar. Mereka meloloskan diri dengan cara mematahkan terali penjara, kemudian menghilang. “Amat Boyan sangat tersohor dan dipercaya memiliki kekuatan gaib, begitu kata orang. Dia kurus kering, tapi tangannya kuat bagai besi,” tutur Augustin Sibarani dalam Karikatur dan Politik . Meski jadi buronan dalam kota Pematang Siantar, Amat Boyan dapat kabur sampai ke muara Sungai Asahan. Dia bersembunyi di sebuah pulau kecil yang dikelilingi buaya. Polisi mengejarnya ke sana. Amat Boyan ternyata menghilang ke tempat lain. Menurut Sibarani, kejagoan dan kebrutalan Amat Boyan (juga Paulus) kerap dipergunjingkan khalayak. Namun rumor yang beredar di masyarakat lebih sering dibesar-besarkan. Sebagian orang menyalahkan kealpaan para petugas penjara, terutama sang sipir. Kepala penjara pun dianggap lemah. “Malah ada yang menyindir, bahwa ia sebenarnya telah disihir oleh si bandit Amat Boyan, yang mempunyai ilmu hitam dan dianggap bergaul dengan setan,” kata Sibarani. Menebar Onar Begitu berita proklamasi bergema di kota Medan, Amat Boyan ikut ambil bagian. Bukan memanggul senjata menghadang kedatangan Pasukan Sekutu, melainkan menyasar kaum berduit yang berjaya sedari zaman kolonial. Di ibu kota Sumatra Utara itu, Amat Boyan telah membentuk jaringan preman dan bandit untuk melakoni aksi kriminal. Sejak November 1945, pencurian dan perampokan rumah dan toko-toko milik orang Tionghoa marak terjadi di Medan. Pelakunya adalah kelompok preman kampung yang mengambil kesempatan atas nama revolusi. Menurut sejarawan Nasrul Hamdani dalam Komunitas Cina di Medan dalam Lintasan Tiga Kekuasaan 1930-1960, para penyamun yang selalu meresahkan warga Tionghoa ini dipimpin oleh Amat, preman dari kampung Boyan. Dari kampung Boyan yang terletak di Jalan Amaliun itulah nama besar Amat Boyan terukir. Kiprah premanisme Amat Boyan kemudian mempertemukannya dengan barisan Laskar Pesindo yang tertarik merekrutnya. Setelah kemampuannya di ujicoba dalam duel tarung bebas satu lawan satu, Amat Boyan menjadi ujung tombak Pesindo. Sarwono, pemimpin Pesindo melibatkan Amat Boyan dalam kesatuan bersenjata bernama Pasukan Cap Kampak. Menurut Anthony Reid dalam The Blood of the People: Revolution and the End of Traditional Rule in Northern Sumatra , Sarwono memakai penjahat terkenal seperti Amat Boyan untuk memperluas pengaruhnya. Tetapi Amat Boyan tetaplah Amat Boyan yang tidak berhenti berbuat ulah. Setelah diberi kesempatan, Amat Boyan seperti senjata makan tuan bagi Sarwono dan Markas Pengawal Pesindo. Akhir Petualangan Dengan mengumpulkan Amat Boyan bersama konco-konconya sesama perampok, Sarwono semula bermaksud menjadikannya sebagai barisan penggempur. Namun dalam kenyataannya, Amat Boyan kembali menjalankan pekerjaan lamanya. Tindakannya dalam Pasukan Cap Kampak acap kali menyeleweng dari garis kebijakan Pesindo . “Oleh Amat Boyan, pasukan ini dijadikan perkumpulan gangster, merampoki rumah-rumah orang Tionghoa, melakukan perkosaan, sehingga perbuatan Amat Boyan ini, kota Medan tidak aman,” tulis Iman Marah, pemimpin Pesindo Bukit Tinggi dalam risalah tidak berjudul yang disita Arsip Kejaksaan Agung Belanda ( ARA ), No.267 sebagaimana dikutip Anthony Reid. Pasukan Cap Kampak menyikat apa saja yang mereka perlukan, terutama dari orang-orang Tionghoa yang berada dan sebagian kecil orang India. Benny Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik menyebut Pasukan Cap Kampak pimpinan Amat Boyan sebagai kelompok kriminal paling berbahaya bagi komunitas Tionghoa di Medan. Perampokan, penggedoran, hingga pemerkosaan yang mereka lakukan menyebabkan orang-orang Tionghoa mengungsi. Petaka yang melanda kaum Tionghoa memicu mereka membentuk barisan pengawal bernama Pao An Tui. Keberadaan Pao An Tui sendiri menimbulkan ketegangan dengan pejuang Republik lantaran mereka berkolaborasi dengan Sekutu dan Belanda. Permusuhan antara Pao An Tui dengan Tentara Republik maupun laskar kerap kali berujung bentrokan. Semua itu pada dasarnya semakin memupuk kebencian terhadap orang Tionghoa. Pada Februari 1946, Pasukan Cap Kampak jatuh sepenuhnya ke tangan Amat Boyan. Sarwono akhirnya kehilangan kontrol atas pasukan yang dibentuknya itu. Tidak hanya merugikan citra Pesindo, aksi Amat Boyan juga merusak nama baik pemerintah Indonesia. Dalam sebuah rapat khusus di Kaban Jahe, Tanah Karo, Markas Pengawal Pesindo sepakat untuk mengakhiri aksi Amat Boyan. Biro Sejarah Prima mencatat, dalam minggu terakhir bulan April 1946, Pesindo bersama Tentara Republik menggempur pasukan Amat Boyan di dekat kota Brastagi. Dalam pertempuran, Amat Boyan mati terbunuh. Maka selesailah riwayat Amat Boyan dan Pasukan Cap Kampak-nya yang menimbulkan noda dalam revolusi di utara Sumatera.




















