top of page

Hasil pencarian

9814 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kerikil Bernama Nobby Stiles

    KECIL-kecil cabe rawit. Walau posturnya cilik, sosok Nobby Stiles acap jadi batu kerikil yang menyusahkan para pemain lawan. Bersama Sir Bobby Charlton, ia jadi legenda dengan catatan unik yang belum bisa disamai pemain Inggris manapun, hingga akhir hayatnya. Stiles menghembuskan nafas terakhirnya di kediamannya pada Jumat (30/10/2020) di usia 78 tahun. Selain mengalami demensia atau penyakit penurunan daya ingat, Stiles mengidap kanker prostat. “Keluarga Stiles dengan bersedih menyampaikan bahwa Nobby Stiles meninggal dalam damai dikelilingi keluarganya setelah lama menderita sakit. Kami meminta pengertian dan privasi di masa-masa duka ini,” demikian pernyataan keluarga, disitat ITV, Jumat (31/10/2020).

  • Mula Haji Nusantara

    LUDOVICO di Varthema, orang Roma pertama yang mengunjungi Makkah dan menuliskan kesan-kesannya. Dengan menyaru sebagai muslim, dia ikut kafilah besar Mamluk dari Damaskus. Mereka tiba di Makkah pada 18 Mei 1503. Varthema melihat para jemaah haji dari kepulauan Nusantara, yang dia sebut “India Timur Kecil”, sebuah catatan awal tentang keberadaan jemaah haji dari Nusantara. “Kita tidak mempunyai bukti tentang kehadiran jemaah haji Nusantara sebelum Varthema di Makkah,” tulis Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah dan Peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dalam Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jemaah haji yang dijumpai Varthema itu, menurut M. Shaleh Putuhena, Guru Besar Sejarah dan Kebudayaan UIN Alauddin Makassar, barangkali orang-orang Nusantara yang pertama menunaikan ibadah haji.

  • Pesawat CIA dalam PRRI/Permesta

    PADA 12 Maret 1958, Lenan Kolonel Sukendro, kepala intelijen Angkatan Darat, menunjukkan kepada para wartawan bukti-bukti pesawat DC-4 yang menjatuhkan senjata bagi pemberontak PRRI/Permesta. Pesawat lain yang mengangkut persenjataan mendarat di Manado. Pemerintah pusat mengetahui nama pilot dan nomor pesawat itu. Foto-foto pesawat yang mendrop senjata itu dipamerkan di Departemen Penerangan. “Dia juga menuduh –dengan tepat– para pemberontak telah membeli sebuah pesawat DC-4, tetapi dia tidak mengetahui bahwa CIA-lah pemilik CAT yang bermarkas di Taiwan dan menjual pesawat itu dengan harga murah, yang sangat mungkin diatur Soemitro Djojohadikusumo,” tulis Audrey R. Kahin dan George McT. Kahin dalam Subversi Sebagai Politik Luar Negeri: Menyingkap Keterlibatan CIA di Indonesia. Menurut Audrey dan George, Taiwan di bawah pimpinan Chiang Kai-shek sangat penting bagi Amerika. Taiwan merupakan jalur utama Amerika untuk menyalurkan peralatan perang kepada para pemberontak di Sumatra dan Sulawesi. Taiwan juga menjual persenjataan tambahan dan menyediakan sejumlah pilot serta instruktur artileri untuk pasukan pemberontak. Banyak anggota tentara PRRI/Permesta dikirim untuk mendapatkan pelatihan dalam menggunakan senjata dan peralatan komunikasi ke Taiwan, Okinawa, dan Saipan.

  • Alkisah Kertas Tua dari Kastil Batavia

    SELEMBAR kertas tua tampak diletakkan di atas alat pemindai. Sejurus kemudian alat tersebut bekerja, merekam lembaran kertas tua menjadi sebuah gambar digital yang tersimpan di dalam komputer. Tak hanya selembar, ada ribuan lembar kertas tua yang sedang dan telah didigitalisasi oleh Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Ribuan lembar kertas tua rapuh itu berasal dari abad 17 sampai dengan 18, berbahasa Belanda lama dan ditulis tangan. Hampir semua informasi di dalamnya memuat keterangan tentang aktivitas Vereeniging Oostindie Compagnie (VOC), kompeni dagang Belanda di wilayah Nusantara. Sebagai bekas wilayah pusat kegiatan VOC yang terluas, Indonesia mewarisi berlimpah arsip yang apabila diletakkan dalam posisi berdiri berjajar, panjangnya bisa mencapai 2,5 kilometer. Direktur Pengolahan Arsip ANRI Azmi mengatakan kekayaan arsip VOC di Indonesia melebihi jumlah arsip VOC yang ada di Belanda.

  • Soeharto Tidak Percaya Kahar Muzakkar

    DI MASA revolusi, siapapun tidak ada yang benar-benar aman. Bahkan, tentara sekalipun. Hal itulah yang dialami Mayor Soekardi. Suatu hari, kepala Bagian Keuangan di sebuah resimen tentara di Yogyakarta itu dirampok dan dibunuh. Dari pemeriksaan kemudian diketahui, pelakunya adalah Sersan Mahmud dan teman-temannya dari Pasukan 1001 Brigade Seberang, yang pernah dipimpin Mayor Andi Mattalata. Brigade Seberang, yang berisi orang-orang Sulawesi Selatan atau Sulawesi Utara yang berjuang di ibukota Yogyakarta, dekat pula dengan Letnan Kolonel Kahar Muzakkar. Setelah ditangkap, para pelaku diperiksa oleh Kapten Frits Runtunuwu dan Kapten Felix Tuyuh sebagai komandan dan wakil komandan Sektor 1. Pelaku kemudian dipecat dan ditugaskan menyusup ke Kalimantan untuk membangun kekuatan RI di sana. Frits dan Felix juga kemudian ditugaskan ke Sulawesi membangun kekuatan RI. “Saya putuskan untuk mengambil alih tanggungjawab masalah ini. Saya bersama Maulwi Saelan pergi mengurus penyelesaiannya dan menjelaskan semua duduk perkaranya. Waktu menghadap Letkol Soeharto, Letnan Wim Sigar saya ajak serta,” kisah Ventje Sumual dalam Ventje H.N. Sumual: Memoar. Soeharto, yang merupakan komandan Resimen di Yogyakarta sekaligus ipar Mayor Soekardi, hanya diam setelah Ventje Sumual menjelaskan permasalahannya. Soeharto hanya mondar-mandir. Suasana agak tegang. Para perwira Sulawesi yang menghadap Soeharto juga diam membatu. Hanya Wim yang kemudian berbisik. “Bekeng mati jo. Soharto kita bereskan,” bisik Wim ke Sumual. Mendapat saran “brengsek” untuk mematikan Soeharto, Sumual marah. Dia mempelototi Wim. Soeharto pun akhirnya bersuara. “Ya sudah Je... selesai di sini saja ya,” kata Soeharto. Jauh setelah kejadian tersebut, Soeharto ditugaskan di Makassar pada 1950-1951. Di sana, sedang ramai veteran-veteran pejuang yang ingin menjadi TNI namun tak semua bisa diterima. Beberapa komandan setempat bahkan berseberangan dengan pemerintah pusat terkait masalah bekas pejuang. Kahar Muzakkar kemudian dikirim ke Sulawesi Selatan untuk menyelesaikan masalah tersebut. “Kahar tidak pernah menepati janjinya. Dia akan banyak menimbulkan masalah di daerah itu,” kata Soeahrto seperti dikutip O.G. Roeder dalam Anak Tani: Biografi Presiden Soeharto. Soeharto tidak asal menebak. Track record Kahar menjadi bahan pertimbangannya. Terlebih ketika keduanya sama-sama berada di ibukota Yogyakarta saat Perang Kemerdekaan. Suatu hari, saat kami sudah menjadi Brigade XVI, Kahar memimpin pasukan Resimen Hasanuddin yang telah dia hasut menduduki markas Brigade XVI di Saidan, Jogja. Semua staf dan pasukan yang ada di markas dilucuti dan senjata yang mereka ambil lalu dibawa ke Klaten, kota tempat Kahar bermarkas. Saat pendudukan berlangsung, Kolonel Lembong sedang tidak di tempat. Hanya ada Letkol Joop F. Warouw sebagai pemegang komando, namun dia tidak bisa apa-apa kecuali hanya melaporkan ke Markas Besar Komando Djawa. Mendapati Panglima MBKD Kolonel AH. Nasution bingung mesti bagaimana bertindak, Ventje akhirnya memberanikan diri meminta izin Warouw. “ Biar jo...kita urus!” kata Ventje kepada Warouw. “Tanpa membuang waktu, saya langsung berangkat ke Klaten, Markas Pasukan Kahar. Turut serta bersama saya 2 Kompi dari Yon Palar. Satu dipimpin Gerard Lombogia, dan satunya oleh Lucas Palar sendiri. Arahan strategi baru saya infokan di perjalanan. Saya bilang, jangan harap untuk dapat berunding dengan Kahar. Saya teman lama dia, kenal sekali wataknya, keras seperti batu! Begitu sampai di markas Kahar di Klaten, posisi tempur langsung digelar. Resiman Hasanuddin dan 2 Kompi Yon Palar, 2 pasukan sepulau dan begitu akrabnya waktu di KRIS saling berhadap-hadapan,” terang Ventje. Begitu ultimatum ke Kahar dikeluarkan Ventje, pertempuran sengit pecah di antara sesama saudara asal Sulawasi di siang bolong itu. Pasukan Kahar menyambut kami dengan tembakan gencar, mereka stelling di sektar markasnya. Sekira dua jam kedua belah pihak saling jual-beli tembakan hingga akhirnya teriakan permintaan cease fire datang dari markas Kahar. Sang pemimpin Resimen Hasanuddin itu akhirnya ditahan Dan CPM Mayor Soedirgo, meski kemudian dibebaskan oleh Letkol Warouw atas bermacam pertimbangan. Cela dalam sepak-terjang itu menjadi alasan Soeharto untuk menebak Kahar. Tebakan Soeharto tidak meleset. Belakangan, Kahar yang ditugaskan membereskan masalah di Sulawesi Selatan malah memimpin para veteran pejuang yang ingin bergabung dengan TNI bergerilya. Para veteran pejuang itu malah menjadi ujung tombak gerombolan pengganggu keamanan di sana. “Letkol Kahar Muzakkar kecewa ketika Resimen Hasanuddin, badan kelaskaran yang dibangunnya saat itu dilebur ke dalam KRU-X dan hanya menjadi 1 Batalyon. Dia mengingatkan pada kesepakatan awal berdirinya KRIS, bahwa kepemimpinan harus berasakan keseimbangan antara Sulawesi Utara dan Selatan. Kahar pura-pura tidak mau tahu bahwa kepemimpinan dalam Brigade diputuskan oleh pimpina di MBT dan Pemerintah. Kami dari pasukan hanya mengusulkan. Lagipula kami sebenarnya sudah menyiapkan draf pengusulan yang di dalamnya termasuk Letkol Kahar Muzakkar sebagai Wakil Komandan dan Mayor M. Saleh Lahade sebagai Kepala Staf. Begitulah, Kahar sudah terlanjur panas hati, dia juga sudah terlanjur memanas-manaskan sejumlah pimpinan pasukan Resimen Hasanuddin,” ujar Ventje. Buntut dari ulah Kahar, Soeharto sewaktu menjadi presiden hampir tidak memberi tempat pada perwira asal Sulawesi Selatan maupun Sulawesi Utara dalam ABRI. Hanya Jenderal M. Jusuf orang Sulawesi Selatan yang pertama dipercaya Soeharto menempati posisi terpenting di militer, yakni Menhankam/Pangab. Setelah itu, pada 1990-an, barulah Kolonel Sjafrie Sjamsoedin juga dipercaya menjadi ajudan Soeharto.*

  • Berkaca pada Ekonomi Kerakyatan Bung Hatta

    PERAYAAN HUT RI ke-76 tampaknya tak akan dimeriahkan perlombaan-perlombaan gembira seperti tahun-tahun sebelumnya. Pandemi Covid-19 bakal mewarnai peringatan 17-an nanti dengan “perlombaan” bertahan hidup rakyat Indonesia, terutama kelas menengah-bawah. Pasalnya, sejak pandemi Covid-19 melanda dua tahun silam, perekonomian rakyat kecil paling terdampak. Terlebih sejak pemerintah menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) sejak Juli 2021, sementara bantuan sosial yang mestinya mereka terima carut-marut entah siapa yang mencatut. Kendati tidak akan sepenuhnya mengatasi masalah, tidak ada salahnya kita kembali menengok pemikiran ekonomi kerakyatan Bung Hatta, yang bulan ini sedang diperingati hari kelahirannya. Pemikiran ekonomi kerakyatan yang divisikan Bung Hatta masih sangat relevan untuk diteladani generasi muda dan para pengambil kebijakan saat ini.

  • Menbud Fadli Zon: Margono Bapak Koperasi Indonesia

    SELAIN sebagai wakil presiden RI pertama, Mohammad Hatta juga dikenal Bapak Koperasi. Predikat itu melekat atas dedikasi Hatta menjadikan koperasi sebagai soko guru ekonomi Indonesia, bahkan sejak sebelum Indonesia merdeka. Berbilang karya buah pikiran Hatta mengenai koperasi telah dibukukan dan menjadi rujukan studi. Selain sebagai ekonom penganjur koperasi, Hatta juga seorang pelaku koperasi. Pada 1930-an, saat diasingkan di Banda Neira, Hatta mendirikan koperasi kecil-kecilan untuk memberdayakan pemuda-pemuda setempat. Namun, selain Hatta, ada beberapa tokoh lain yang menggagas pemikiran tentang koperasi lebih dulu. Salah satunya adalah Raden Mas Margono Djojohadikusumo. Nama terakhir ini merupakan kakek dari Presiden Prabowo Subianto.

  • 12 Juli 1947: Koperasi Penyelamat Ekonomi Rakyat

    HARI ini, 12 Juli 1947, Kongres Koperasi pertama diselenggarakan di Tasikmalaya. Koperasi punya sejarah panjang di Indonesia sebagai penyelamat perekonomian rakyat bawah kala terdesak. Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 2016 mencatat ada 148.220 koperasi yang tersebar di Indonesia. Meski demikian, perannya kini tak sepopuler dulu. Ide tentang perkoperasian pertamakali lahir di Inggris pada 1844. Kala itu mayoritas buruh pabrik bekerja dalam lingkungan yang buruk, jam kerja panjang, upah murah, sementara biaya hidup mahal. Akibatnya, banyak dari mereka hidup dalam bilik kumuh dan menderita kelaparan. Beberapa buruh kemudian sepakat membentuk koperasi dengan nama The Pioneers, ketuanya Charles Howart. Namun, dalam sesaat banyak anggotanya tak mampu bayar iuran dan mengundurkan diri. Tinggallah tersisa 30 anggota, 25 di antaranya merupakan aktivis buruh dan lima lainnya buruh tenun. The Pioneer terus berjalan hingga berhasil mendirikan toko kelontong The Pioneer di Toad Lane, Rochdale pada akhir 1844.

  • Bung Hatta dan Koperasi

    TAHUN 1896, di Purwokerto, R. Aria Wiria Atmadja mendirikan Hulp en Spaar Bank. Tujuannya adalah untuk membantu pegawai bumiputra dalam mengurus hal-hal yang terkait soal birokrasi di pemerintahan kolonial. Badan non-pemerintah ini merupakan cikal bakal terbentuknya koperasi di Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya, koperasi mulai dikenal luas sebagai lembaga kredit atau produksi yang mendukung usaha rakyat. Permulaan abad ke-20, koperasi mulai banyak bermunculan. Tokoh-tokoh pergerakan, bersama organisasinya seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, dan PNI; ikut mendirikan koperasi sebagai bentuk penentangan terhadap penjajahan ekonomi. Salah satu tokoh yang besar pengaruhnya terhadap keberadaan koperasi di Indonesia, hingga dijuluki Bapak Koperasi Indonesia, adalah Mohammad Hatta. Dasar Membangun Koperasi Lily Gamar Sutantio, dalam buku Mengenang Sjahrir: Seorang Negarawan dan Tokoh Pejuang Kemerdekaan yang Tersisih dan Terlupakan karya Rosihan Anwar, menjadi saksi keberhasilan Bung Hatta menghidupkan koperasi di Banda Neira selama masa pengasingannya pada 1930-an. Menurut putra asli Banda yang pernah dididik langsung Bung Hatta itu, ada dua orang lagi yang ikut membantu Bung Hatta membangun koperasi di Banda, yakni Sutan Sjahrir dan Iwa Kusuma Sumantri.

  • Bangsawan Jawa Memilih KNIL

    PADA masa pendudukan Jepang, para tentara KNIL (Koninklijk Nederlandsch Indische Leger) ditahan. Kendati jadi tawanan perang, mereka masih disuruh melakukan apel (upacara) tiap hari. Para perwira yang ditawan bahkan masih harus memimpin prajurit bawahannya untuk apel. Setidaknya itu dilakukan hingga tahun 1945. Masa penawanan membuat disiplin para prajurit menjadi longgar. Poerbo Soemitro, seorang tawanan bekas letnan satu KNIL dan masih keturunan bangsawan Jawa, ditugaskan memimpin apel pada suatu pagi. Keributan kecil terjadi karena seorang sersan KNIL datang terlambat sambil berceloteh tak jelas.

  • Mantan KNIL yang Menolak Masuk TNI

    KONFERENSI Meja Bundar di Den Haag, Belanda, juga membahas nasib anggota Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL), yang akan bubar pada pertengahan 1950 setelah pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949. Anggota KNIL diberi kesempatan masuk Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) atau Tentara Nasional Indonesia (TNI). Tawaran itu disambut gembira bahkan oleh orang-orang Indo. Namun, ada pula yang menolaknya. Anggota KNIL yang menolak tawaran itu ikut ke Negeri Belanda atau ditugaskan ke daerah koloni Belanda lain. Di antara mereka kemudian ada yang terlibat kekacauan pada paruh pertama tahun 1950, seperti Peristiwa Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) di Bandung, Peristiwa Andi Azis di Makassar, Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon dan sekitarnya, kekacauan kecil di Balikpapan yang melibatkan Batalion Andjing NICA, dan penyerangan Bioskop Rex di Malang. Pelaku kerusuhan-kerusuhan itu adalah anggota KNIL dari Ambon. Golongan yang dikecewakan di awal revolusi kemerdekaan Indonesia.

  • Romusha Jadi Serdadu KNIL

    SEBUAH desa di utara rel kereta api, Bagelen, Purworejo, menjadi salah satu daerah asal romusha (pekerja paksa) untuk kepentingan militer Jepang. Kepala desanya, Menten, memilih siapa saja warganya yang akan diberangkatkan sebagai romusha ke luar daerah. Penunjukan itu sulit ditolak. Di antara warga yang terpilih terdapat seorang suami yang belum lama kawin. Tentu saja ia berat meninggalkan istri di masa sulit itu. Bahan pangan dan sandang sangat sukar didapat. Mau tak mau ia harus meninggalkan istrinya. Warga mencurigai Menten mendapat uang dari Jepang sebagai imbalan merekrut romusha. Beberapa tahun setelah pengiriman romusha, Jepang kalah dalam Perang Dunia II. Menten menghilang dari desanya. Ia takut diamuk massa karena Jepang tak melindunginya lagi.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page