Hasil pencarian
9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Hukuman Mati bagi Menteri Korup
EDHY Prabowo dan Juliari Batubara, dua mantan menteri Kabinet Indonesia Maju yang terjerat kasus korupsi terancam hukuman mati. Pernyataan ini dikemukakan oleh Wakil Menteri Hukum dan HAM Edward Omar Sharij Hiariej. Menurutnya, mereka layak dituntut dengan ketentuan Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) yang pemberatannya sampai kepada pidana mati. Seperti diketahui, Edhy Prabowo merupakan tersangka penerima suap izin ekspor benih lobster ketika menjabat menteri kelautan dan perikanan. Sementara itu, Juliari Batubara adalah menteri sosial yang mengkorupsi proyek bantuan sosial (bansos) penangangan Covid-19. Keduanya terciduk dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Mereka melakukan kejahatan itu dalam keadaan darurat Covid-19 dan mereka melakukannya dalam jabatan. Dua hal yang memberatkan itu sudah lebih dari cukup untuk diancam dengan Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Pemberantasan Tipikor,” kata Edward dalam seminar nasional “Telaah Kritis terhadap Arah Pembentukan dan Penegakkan Hukum di Masa Pandemi” pada 16 Februari 2021. Pidana mati terhadap menteri yang korup bukanlah wacana baru. Sepanjang pemerintahan di Republik ini, tercatat seorang menteri pernah divonis mati dengan dakwaan korupsi. Menteri tersebut ialah Jusuf Muda Dalam. Pada era Presiden Sukarno, Jusuf menjabat sebagai menteri urusan bank sentral merangkap sebagai gubernur di Bank Indonesia. Kiprah Jusuf Muda Dalam bermula sejak masa perang kemerdekaan. Dia berjuang di negeri Belanda sebagai jurnalis De Waarheid , harian Partai Komunis Belanda yang memberitakan kemerdekaan Indonesia. Ketika pulang ke Indonesia, Jusuf menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat. Pada 1956, Direktur Bank Negara Indonesia (BNI) Margono Djojohadikusumo mengajaknya untuk menjalankan bank tersebut. Dari situ, karier Jusuf kian moncer. Pada 1959, dia sudah menduduki jabatan presiden direktur BNI yang kemudian memuluskan jalannya menuju kursi menteri. Jusuf Muda Dalam dikenal sebagai salah seorang menteri terdekat Sukarno. Pada salah salah satu edisi majalah Berita Fakta Indonesia & Internasional yang terbit tahun 1966, Jusuf Muda Dalam disebutkan berusia 51 tahun dan dilahirkan di Sigli, Aceh. Orangnya banyak senyum, dihiasi oleh kumis kecil ala aktor Hollywood Clark Gable. Pakaiannya selalu necis dan up to date . Sebagai menteri, kehidupan pribadi Jusuf menuai sorotan miring karena skandalnya dengan banyak perempuan. Aksi demonstrasi mahasiswa pasca peristiwa G30S 1965, kerap kali menyerukan Jusuf sebagai menteri tukang kawin sekaligus menuntutnya untuk diadili. Dalam situasi perekonomian terpuruk akibat inflasi besar-besaran, maka Menteri Jusuf dianggap tidak berempati terhadap penderitaan rakyat. Setelah Surat Perintah 11 Maret 1966 terbit, Jusuf menjadi salah satu dari 15 menteri yang ditangkap. Dalam penangkapan tersebut, Letjen Soeharto pemangku Supersemar yang menjabat panglima Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib), menggolongkan Jusuf Muda Dalam pada kategori tiga, yaitu mereka yang hidup amoral dan asosial di atas penderitaan rakyat. Setelah ditangkap, Jusuf Muda Dalam menjadi menteri pertama yang diadili pada Agustus 1966. Persidangannya disaksikan oleh begitu banyak orang yang datang berjubel-jubel. Vishnu Juwono dalam Melawan Korupsi: Sejarah Pemberantasan Korupsi di Indonesia mencatat Jusuf Muda Dalam didakwa dengan dakwaan berlapis. Gugatan itu antara lain penyelundupan senjata dan amunisinya maupun bahan peledak berbahaya dan menyelewengkan dana revolusi senilai lebih dari Rp 97 miliar. Angka persis uang negara yang digelapkan Menteri Jusuf berdasarkan temuan Tim Penertiban Keuangan (Pekuneg) adalah sebesar Rp97.334.844.515. Jusuf didakwa menyelewengkan duit hasil proses deferred payment . Ini adalah kredit luar negeri dengan jangka waktu satu tahun yang digunakan untuk mengimpor barang-barang. Pemegang izin deferred payment ini diwajibkan menyetor kepada dana revolusi sejumlah yang ditentukan oleh BNI dalam bentuk uang dan devisa luar negeri. Satu dakwaan lain yang memang diakui Jusuf adalah mengawini lebih dari empat perempuan. “J.M.D ingkari semua tuduhan, kecuali mengenai soal kawin,” tulis berita Kompas , 8 September 1966 seperti dikutip Vishnu. Kendati demikian, penangkapan terhadap Jusuf Muda Dalam tidak lepas dari nuansa politis. Menurut Harold Crouch dalam Militer dan Politik di Indonesia , semua menteri yang masuk daftar penangkapan lebih karena kesungguhan mereka membantu presiden dan bukannya kegagalan mereka yang menyebabkan mereka ditangkap. Semuanya, kelima belas orang menteri itu disinyalir mendukung presiden dalam usaha mengembalikan tentara di bawah kontrolnya. Sementara itu, pengadilan terhadap Jusuf Muda Dalam, kata Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & Petualang , memang sengaja diselenggarakan secara terbuka oleh penguasa militer. Lewat sosok Jusuf, satu-satunya petunjuk untuk bisa menunjukan keterlibatan Peking dengan aksi petualangan PKI. Hal ini sekaligus bisa dipakai untuk mulai menekan Presiden Sukarno mengingat kehidupan pribadi Bung Karno dan Jusuf banyak memiliki keterkaitan dan kemiripan. Dalam pembelaannya, Jusuf mengatakan bahwa apa yang dilakukannya adalah untuk mendukung aksi revolusioner Sukarno berdasarkan dukungan kabinet. Akhirnya, dia dinyatakan bersalah oleh pengadilan dan dijatuhi hukuman mati. Upayanya untuk banding ditolak pada 1967. Belum tiba hari eksekusinya, Jusuf Muda Dalam sudah meninggal dalam tahanan pada 26 Agustus 1976 akibat terkena tetanus. Berakhirlah perkara Jusuf Muda Dalam yang disebut-sebut sebagai menteri paling korup era Orde Lama itu.*
- Ketika Rosihan Anwar Ikut Sidang Kabinet RI
YOGYAKARTA, Februari 1947. Sebuah mobil memasuki halaman kepresidenan. Di depan ruang tunggu pada sayap kiri gedung kediaman Presiden mobil berhenti. Menteri Sosial Maria Ulfah Santoso keluar, mengapit tas, naik ke beranda, lalu menghilang ke belakang. Wakilnya Mr. Abdulmajid Djojodiningrat mengikuti dari belakang. Langkahnya santai saja. Tidak lama, decit ban mobil kembali menggeser pasir dan kerikil istana. Muncul Syafruddin Prawiranegara, Menteri Keuangan. Di belakangnya sang wakil Lukman Hakim terlihat berlari kecil. Mobil berikutnya tiba. Kini muncul Menteri Pekerjaan Umum Martinus Putuhena, bersama Menteri Muda Pekerjaan Umum Herling Laoh. Keduanya melempar senyum lebar ke arah wartawan Siasat Rosihan Anwar. “Demikianlah mereka datang. Dua-dua, terkadang sendirian menyelinap dari samping seperti Menteri Negara Wikana atau melenggang besar-besar dari muka seperti Menteri Kesehatan Darmasetiawan. Demikian para menteri dalam berbagai gaya serta ragamnya datang berkumpul di Kepresidenan untuk bersidang jam 10 pagi sebagaimana tercantum dalam acara rapat,” kata Rosihan dalam bukunya, Sejarah Kecil Petite Histoire Indonesia Jilid 7.
- Membuka Mata dan Hati Setelah Multatuli Pergi
HARI ini, 19 Februari 2021, tepat 134 tahun wafatnya Eduard Douwes Dekker atau kondang dikenal dengan nama penanya, Multatuli. Novelnya yang terbit pada 1860, Max Havelaar , ramai diperdebatkan dan digunjingkan secara teknis maupun substantif. Ironisnya rakyat Lebak yang jadi objek cerita novelnya justru minim perhatian. Kekosongan itulah yang coba ditutup oleh film dokumenter Setelah Multatuli Pergi (2020). Film tersebut berangkat dari impian seorang Belanda bernama Arjan Onderdenwinjgaard, wartawan lepas Katholieke Radio Omroep yang pada 1980-an ke Indonesia dan blusukan ke Kabupaten Lebak. Beberapa hasil footage yang diambilnya kala itu turut dijadikan “bahan jahitan” dalam Setelah Multatuli Pergi yang penggarapannya dibantu oleh sineas Yogi D. Sumule. Film berdurasi 90 menit itu diputar perdana di pendopo Museum Multatuli, Rangkasbitung, Lebak, Banten, secara terbatas pada 7 Maret 2020. Namun mulai hari ini, Jumat (19/2/2021), film itu bisa disaksikan khalayak lebih luas lewat penayangan secara daring oleh Erasmus Huis Jakarta. “Kebetulan banyak hal yang kami temui di tahun 1987 masih sangat mirip dengan zamannya Multatuli. Semisal tentang perjalanan kami yang terjebak di lumpur untuk menuju Desa Badur (desa latarbelakang kisah Saidjah dan Adinda di Max Havelaar , red. ). Seratus tahun lebih setelah Multatuli jalan di sana masih sama,” ujar Arjan dalam dialog sejarah bertajuk “Cerita di Balik Film Setelah Multatuli Pergi ” di Youtube dan FacebookHistoria . id , Jumat (19/2/2021). Baca juga: Yang Lestari Setelah Multatuli Pergi Arjan Onderdenwinjgaard, produser Setelah Multatuli Pergi (Dok. Arjan Odw). Kondisi desa yang masih relatif sama kendati waktu telah bergeser seabad itulah yang menjadi kegelisahan Arjan. Ia tak peduli banyaknya perdebatan yang mengitari Max Havelaar , fiktif atau fakta, atau cap terhadap Multatuli apakah dia whistleblower atau sekadar eks-pejabat kolonial yang “julid” terhadap negerinya. Inti keresahannya adalah, tiada satu pun forum-forum semacam itu yang memperhatian rakyat Lebak itu sendiri. “Selama 160 tahun Max Havelaar diteliti setiap koma dan titik, di mana itu didiskusikan. Tapi tidak ada yang tanya bagaimana dengan rakyat Lebak? Itu aneh. Karena tanpa rakyat Lebak, tidak akan ada Multatuli dan tidak akan ada Max Havelaar, ” kata Arjan . Padahal, lanjut Arjan, Max Havelaar ibarat jendela bagi orang-orang di Belanda untuk memahami tentang arti kolonialisme itu sendiri. Bagaimana Multatuli menggambarkan kolonialisme dari tiga sisi yang mana, warga bumiputera bergulat dengan kehidupannya yang pahit di antara himpitan kolonialisme Belanda dan feodalisme lokal. Hal itu masih terjadi hingga hari ini, mengingat infrastrukturnya masih “11-12” seperti di abad ke-19 dan pemerintahan lokalnya masih dikuasai kaum elite. Baca juga: 200 Tahun Multatuli, Penyadar Rakyat Indonesia Hal itu pula yang membuat Yogi tertarik membantu Arjan dan sejarawan cum Pemimpin Redaksi Historia.id Bonnie Triyana menggarap film tersebut pada 2019. Yogi mengenal Multatuli lewat “perantara” Pramoedya Ananta Toer. Pram merupakan sastrawan yang “menghidupkan” kembali sosok Multatuli lewat karyanya yang ia terbitkan pertamakali dalam bahasa Inggris pada 1999, Best Story: The Book That Killed Colonialism (terj. Max Havelaar: Buku yang Membunuh Kolonialisme ). “Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia, karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya di bawah pengaruh Jawanisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah,” kata Pram mengenang usulannya mendirikan patung Multatuli yang ditolak Presiden Sukarno yang dituangkan dalam Saya Terbakar Amarah Sendirian . Sutradara dan produser film Setelah Multatuli Pergi, Yogi D. Sumule. (Dok. Historia.id ). Baca juga: 150 Tahun Max Havelaar Menurut Yogi, ada dua faktor yang membuatnya tertarik menyutradarai Setelah Multatuli Pergi . “Pertama alasannya dari Arjan, soal pertanyaan apa sih yang terjadi dengan warga Lebak pasca-kepergian Multatuli? Lalu dari Bonnie, tentang warga Lebak sepertinya sampai hari ini pun tak bisa berharap banyak dari siapa-siapa, hingga akhirnya mereka kembali ke Tuhan,” kata Yogi. Setelah Multatuli Pergi tak hanya menampilkan paparan historis. Pesan yang jauh lebih penting di dalamnya adalah kritiknya. Kritik untuk elite pemerintahan bertujuan agar mereka mau lebih perhatian kepada warga di pelosok Lebak, seperti Desa Badur, misalnya. Lalu, kritik selanjutnya ditujukan untuk masyarakat awam Indonesia dewasa ini, bahwa ada masyarakat sesama warga Indonesia yang berdiam tak jauh dari ibukota, justru punya kehidupan jauh berbeda. “Kita selama ini terlalu asyik dengan yang di luar jauh dari Jakarta. Kita enggak pernah lihat yang tinggalnya 40 menit dari Jakarta, kalau naik kereta ( commuter line ). Bahwa ada lho tetangga kita yang menarik untuk dilihat dari sisi itu. Saya begitu duduk ngobrol langsung dengan mereka, ya ampun! Begini banget ya hidup orang-orang Lebak. Ini juga sindiran kepada kita, kok yang bikin orang Belanda lagi. Harusnya lebih banyak orang Indonesia daripada dianggap enggak peduli sama sejarah dirinya sendiri,” imbuhnya. Agar Pemikiran Multatuli Lestari Setelah Multatuli Pergi secara tak langsung mengajak penontonnya untuk mau membaca ulang Max Havelaar. Tujuannya untuk mengetahui, memahami, lalu menghidupkan dan melestarikan pemikiran Multatuli. Kendati dikemas dalam fiksi, ia juga mengandung realitas yang bahkan masih terasa sampai hari ini. Novelis Ayu Utami melihat bahwa film tersebut seakan menegaskan bahwa Max Havelaar sebagai karya sastra berasal dari kumpulan cerita faktual yang dibungkus fiksi dan menjadi buah dari sebuah strategi. Strategi untuk memicu perubahan dengan gaya sastra demi bisa diterima semua kalangan, terutama di Belanda. “Saya jadi ingat zaman Orde Baru. Saat itu ada slogan ‘Ketika pers dibungkam, sastra harus bicara.’ Maka untuk menuliskan sejarah, caranya melalui karya sastra yang bertopeng fiksi agar lebih aman. Kalau buku sejarah kan punya syarat-syarat tersendiri, harus faktual, ada verifikasi dan sebagainya, prosesnya jadi lebih panjang. Sementara esensi pengalaman manusia itu berupa emosi yang subyektif enggak bisa diceritakan. Di situlah orang-orang menempuh jalan sastra atau novel, meski novel belum tentu sepenuhnya fiksi,” Ayu menimpali. Baca juga: Jalan Multatuli Menuju Lebak Novelis Justina Ayu Utami. (Dok. Historia.id ). Penulis roman Saman (1998) dan Bilangan Fu (2008) itu juga melihat MaxHavelaar semacam otobiografi Multatuli yang difiksikan. Isinya berdasarkan pengalaman Multatuli selama jadi pejabat pemerintahan kolonial di Mandailing Natal, Manado, Ambon, hingga Lebak. “Jadi pengalaman nyatanya Eduard Douwes Dekker kemudian diolah menjadi kuasi fiksi. Tetapi fiksi itu mampu mengadakan perubahan juga dalam kenyataan. Karena saya melihat Max Havelaar merupakan suatu strategi, suatu kenyataan yang abu-abu dari pengalaman dia sebagai asisten residen. Makanya kini kita sendiri juga harus hati-hati karena sejarah enggak semuanya faktual dan sebuah novel juga belum sepenuhnya fiksi,” tambahnya. Baca juga: Van Halen, Van Banten Ayu insyaf selama ini nama Multatuli kurang familiar dalam sastra di Indonesia. Penyebabnya antara lain, anggapan bahwa Multatuli adalah seorang yang tak patut dihargai dan dipuja karena dia orang Belanda yang berkarier di pemerintahan kolonial. Oleh karena itu Ayu ingin menyadarkan generasi muda Indonesia untuk membuang pikiran itu jauh-jauh karena pemikiran Multatuli terkait kemanusiaan dan anti-kolonialisme justru patut dilestarikan. “Kebetulan saya ada proyek, namanya Peta Sastra. Mengajarkan orang awam dan anak-anak sekolah untuk bisa memahami sastra sebagai sejarah pemikiran, terutama mengenai kebangsaan. Saya memulainya dengan Multatuli dan Kartini. Kita bisa menggabungkan dua disiplin ini (sejarah dan sastra) untuk melihat bagaimana formasi bangsa ini dari pemikirannya dan buat saya, Multatuli harus bisa dibaca dalam pelajaran sastra dan pelajaran sejarah,” lanjut Ayu. Ubaidillah Muchtar, Kepala Museum Multatuli di Lebak, Banten. (Dok. Historia.id ). Upaya itu berparalel dengan yang dilakukan Museum Multatuli di Rangkasbitung sejak berdirinya pada 2018. Museum itu sendiri awalnya dikitari kontroversi penolakan berbagai pihak di Lebak karena dianggap mengkultuskan orang asing. Perlahan, museum itu bisa diterima lebih luas tidak hanya sebagai ruang publik yang bisa dinikmati siapapun, namun juga wahana edukasi yang tak melulu tentang Multatuli. Beragam aspek kehidupan terkait sejarah Lebak seperti kisah tokoh Nyimas Gamparan, Pemberontakan Petani Banten pada 1888, atau tokoh-tokoh kondang yang punya kaitan dengan Banten, semisal dewa gitar Eddie van Halen yang ibunya berasal dari Rangkasbitung ikut dipamerkan museum itu. “Terlepas dari awalnya ada penolakan, bagaimanapun juga kita harus hadir karena museum ini tidak melulu mengkultuskan Multatuli tetapi juga bagaimana (menyampaikan) ide-idenya tentang kemanusiaan, kesetaraan, dan antikolonialisme,” terang Kepala Museum Multatuli Ubaidillah Muchtar. Baca juga: Museum Multatuli, dari Rangkasbitung untuk Dunia Museum Multatuli jadi wahana edukasi yang kemudian menutup celah nihilnya pengetahuan tentang sosok Eduard Douwes Dekker di ruang kelas maupun buku pelajaran. Ubay tahu betul bahwa Multatuli tak pernah diajarkan di ranah pendidikan formal, berangkat dari pengalaman Ubay sebelumnya sebagai guru di sebuah SMP di Rangkasbitung. “Sampai hari ini pun Multatuli belum jadi bacaan wajib di sekolah. Itu jadi PR kita (Museum Multatuli) di Rangkasbitung, di mana anak-anak bisa banyak belajar tidak hanya tentang Multatuli, namun juga tentang masuknya dan prosesnya kolonialisme di Nusantara, bagaimana perjuangan orang-orang Banten yang heroik, di mana dimulai dengan kalimat Multatuli bahwa banyak orang Banten mengibarkan bendera pemberontakan terhadap Belanda,” tutupnya.
- Hatta Bertanya, Agus Salim Menjawab
FEBRUARI 1920. Purnama nampak di atas Batavia saat tiga pemuda berdiri di depan pintu rumah Haji Agus Salim, seorang tokoh Sarekat Islam (SI). Mereka adalah Mohammad Hatta, Amir, dan Bahder Djohan. Ketiga pemuda asal Sumatra itu tengah aktif belajar dan berorganisasi, utamanya organisasi pergerakan. Dahaga kesadaran nasional telah membawa mereka kepada pencarian para lakon utama gerakan kemerdekaan. Hatta dan kawan-kawannya datang pada waktu yang dijanjikan. Ketika sampai, mereka disambut keramaian suasana di rumah Haji Agus Salim. Ada sejumlah besar pemuda yang telah lebih dahulu tiba di sana. Mereka terlihat asik mendengarkan cerita-cerita Agus Salim. “Apakah beliau lupa akan menerima kita pada malam ini?” tanya Hatta. “Ah, tidak! Itu sudah kebiasaan baginya, kecuali kalau ada pembicaraan yang tidak boleh diketahui orang lain. Ia selalu dikerumuni oleh yang muda-muda. Pemuda gemar sekali menanyakan ini dan itu kepada beliau dan tidak ada pertanyaan yang tidak terjawab,” ujar Amir. Belum sempat Hatta mengucapkan salam, Agus Salim telah berdiri dan melempar terlebih dahulu salam kepada mereka. Ia beranjak dari kursinya, lalu berjalan menuju Hatta yang berdiri di tengah pintu. Sambil mengulurkan tangan, Agus Salim menanyakan kabar tiap-tiap orang. Bagi Hatta, sebagaimana diceritakan dalam otobiografinya, Memoir , sikap itu merupakan perangai seorang pemimpin besar. Keramahannya ke luar dari hati, tidak dibuat-buat. Setelah memberi salam kepada tamu lain, Hatta dipersilahkan duduk. Mula-mula ketiganya mengungkapkan tujuan kedatangan mereka ke kediaman Agus Salim, yang segera disusul oleh beragam pertanyaan tentang isu-isu di masyarakat. Agus Salim menjadi pembicara utama malam itu. Para pemuda lebih banyak mendengarkan, kecuali ada pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Hatta memulai percakapan malam itu dengan pengalamannya ikut membantu kantor sang paman yakni Ayub Rais, yang menjual hasil hutan, lada, berjangka penyerahan tiga bulan. Anehnya, barang tidak pernah diserahkan pada waktunya, hanya selisih harga yang diperhitungkan. Cara itu membuat orang yang tidak banyak mempunyai kapital dapat menjual dan membeli barang sampai harga ratusan ribu gulden tiap hari. Keuntungan yang didapat dalam sehari pun bisa mencapai 20 ribu gulden, tapi keesokannya bisa saja merugi dalam jumlah yang hampir sama. Bagi Hatta, cara seperti itu tidak sehat. Namun praktek dagang spekulasi semacam itu semakin banyak dilakukan pedagang bumiputera. “Ya, itu adalah praktek dagang dalam kapitalisme,” kata Agus Salim. “Kapitalisme juga telah berkuasa di sini dan orang-orang kita yang mengerjakan dagang mau tak mau masuk ke dalam arusnya. Atau menjadi budak kapitalisme, melakukan barang-barang mereka atau memberikan barang-barang mereka yang mereka sendiri menentukan harga dan syarat-syarat lainnya.” Agus Salim kenal betul Ayub Rais. Ia memulai usahanya dari bawah. Dengan tidak mempunyai modal, Rais sanggup mengangkat dirinya menjadi kapitalis besar. Dia penuh inisiatif, kuat bertindak, dan seorang self made man . Sayang, jentera kapitalisme yang dibawa bangsa asing telah menjeratnya ke dalam sistem dagang besar. Tetapi kendatipun ia seorang kapitalis yang terkesan mementingkan diri sendiri, Ayub Rais mempunyai rasa sosial yang besar. Ia kerap membantu orang-orang melarat yang meminta tolong kepadanya. Bantuan kepada pembangunan masjid-masjid juga tidak sedikit ia keluarkan. Terlebih, kehidupannya tetap terjaga dengan sederhana, jauh dari kemewahan layaknya seorang kapitalis besar. “Tetapi betapapun baiknya bagi dia, kapitalisme jangan kita bantu. Sedapat-dapatnya kita tolong menghancurkannya. Kapitalismelah yang menjadi dasar penjajahan Belanda di sini,” ujar Agus Salim. Uraian dari Agus Salim itu membuat semangat para pemuda kian menggebu-gebu. Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti diajukan. Sesekali Agus Salim memberi candaan yang membuat pertemuan malam itu semakin ceria. Saat tiba giliran Amir, suasana kembali serius. Ia bertanya: “Bagaimana menyesuaikan kapitalisme dengan Islam, sebab sosialisme yang didirikan Karl Marx bersifat matrealisme, anti-Tuhan?” “Nabi Muhammad SAW yang diutus oleh Tuhan mengembangkan Islam di atas dunia ini sudah 12 abad lebih dahulu dari Marx mengajarkan sosialisme. Perkataan sosialisme baru didapat dalam abad ke-19. Sosialisme Marx anti-Tuhan. Tetapi tujuan yang hendak dicapai masyarakat yang berdasarkan sama rasa sama rata yang bebas dari kemiskinan, sudah lebih dahulu dibentangkan di dalam Islam, agama Allah yang disampaikan Nabi Muhammad kepada umat manusia,” jawab Agus Salim. “Sayangnya, ulama-ulama kita hanya mengutamakan segi ibadatnya dan fiqih, tapi melupakan segi kemasyarakatan itu daripada Islam. Mengerjakan segi kemasyarakatan itu ialah juga perintah Allah dalam Qur’an. Dari ulama-ulama kita didikan langgar yang pengetahuannya berat sebelah tidak dapat diharapkan bahwa mereka akan sanggup menelaah segi kemasyarakatn itu dalam Islam,” lanjutnya. Rupanya paham sosialisme didapat Agus Salim dari seorang guru ekonomi, saat ia bersekolah di GBS Salemba. Guru itu seorang sosial-demokrat. Sewaktu Agus Salim pergi ke Jeddah, Mekah, pada 1906, keyakinan sosialisme sudah cukup mengakar dalam dirinya. Dan Islam yang dipelajarinya di sana membuat paham itu semakin kuat. Menurut Agus Salim, Islam adalah sosialisme yang diperintahkan Allah SWT. Uraian Agus Salim itu membuat keyakinan Hatta terhadap sosialsime, yang sebelumnya telah bersarang dalam dirinya, kian menguat. Ia merasa perlu mencoba menyelami dasar-dasar sosialisme itu dari ajaran Islam. Meski memerlukan waktu lebih lama baginya untuk menjalankan niat tersebut karena keterbatasan kemampuan berbahasa Arab. Ia mencoba menunggu hingga dikeluarkannya salinan Al-Qur’an dalam bahasa Melayu. “Aku merasa gembira bertemu pada malam itu dengan dia. Ada kata-katanya yang menimbulkan tantangan dalam hati, tetapi belum berani mendebat. Ada pula pendapatnya yang memperkuat pendirian kami menuju kepada satu jurusan,” ujar Hatta.*
- Jasa Shibata untuk Indonesia
DALAM sebuah kesempatan ketika berkunjung ke Jepang tahun 1950, Dokter R. Soeharto menyempatkan diri ke Yokohama. Di kota tersebut, dokter pribadi Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta itu bertandang ke kediaman mantan Laksamana Yaichiro Shibata. Kunjungan tersebut dilakukannya untuk mengantarkan titipan Bung Karno. “Bung Karno menitipkan sebuah bingkisan dalam amplop agar disampaikan kepada eks Laksamana Shibata,” kata Soeharto dalam memoarnya, Saksi Sejarah . Di kediaman Shibata yang amat sederhana, Soeharto mendapat sambutan hangat. Dia lalu memberikan titipan Presiden Sukarno kepada tuan rumah. “Senang sekali ia menerima bingkisan itu dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. Bingkisan itu dikirimkan oleh Bung Karno sebagai kenang-kenangan dan tanda ucapan terima kasih,” sambung Soeharto. Ucapan terimakasih Bung Karno ditujukan untuk membalas kebaikan Shibata dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana bawahannya, Laksamana Maeda, Panglima Kaigun (AL Jepang) di Indonesia semasa Perang Dunia II Laksamana Shibata menunjukkan dukungannya terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia. “Simpati Shibata terhadap nasionalisme Asia Tenggara bukanlah hal baru. Pada Oktober 1935 dia termasuk di antara sekelompok orang Jepang terkemuka yang menyambut pemimpin Filipina Sakdalista, Benigno Ramos, ke Tokyo,” tulis Bennedict Anderson dalam Java in a Time of Revolution: Occupation and Resistance, 1944-1946 . “Laksamana Madya Yaichiro Shibata hampir tidak menyembunyikan dukungannya terhadap kemerdekaan Indonesia.” Tatkala posisi Jepang sudah diambang kekalahan dalam Perang Dunia II, Shibata menyatakan dukungan terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia lewat pertemuan dengan Bung Karno di Bali, Juli 1945. Pertemuan yang juga diikuti Bung Hatta dan Ahmad Soebardjo itu diketahui Dokter Soeharto yang diajak Bung Karno mendampingi ke Bali. “Pada suatu hari di bulan Juli Bung Karno meminta pada saya agar stand by , karena sewaktu-waktu hendak mengajak saya terbang ke Bali. Maksud perjalanan ke Bali itu untuk menemui Laksamana Yaichiro Shibata, Panglima Kaigun (Angkatan Laut) Jepang yang membawahi Nusantara, kecuali Sumatra dan Jawa,” kata Soeharto. Pertemuan ketiga pemimpin bangsa Indonesia dengan Shibata berlangsung di Singaraja. Tak ada satupun dari ketiga pemimpin Indonesia itu yang menyebutkan hasil dari pertemuan tersebut. Namun, Soeharto dapat mengetahuinya karena diceritakan Soebardjo usai pertemuan. “Pak Bardjo mengatakan kepada saya, Shibata menaruh simpati besar terhadap perjuangan mewujudkan Indonesia Merdeka dalam waktu dekat, dan akan memberikan segala bantuan yang mungkin dapat ia berikan,” sambung Soeharto. Shibata tak melanggar janjinya. Dukungan itu dia buktikan tak lama setelah kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. “Sejak akhir bulan Agustus ia telah mulai memberikan senjata-senjata kepada unsur-unsur pemuda tertentu,” tulis Ben Anderson. Di Surabaya, tempatnya menetap setelah di Bali, dukungan Shibata dibuktikan lewat penyelesaian konflik antara pemuda pejuang dengan Kenpeitai ketika sekira 700 pemuda pejuang di bawah pimpinan Soengkono menyerbu kantor Kenpeitai untuk meminta persenjataan mereka. Mereka mengingingkan senjata hanya untuk menghadapi Belanda yang akan kembali menjajah, kata Sungkono. “Baiklah akan saya selesaikan,” kata Shibata kepada Soengkono sebagaimana dikutip Nugroho Notosusanto dalam Pertempuran Surabaya . “Akhirnya Laksamana Shibata menemui pimpinan mereka (Keinpetai, red .). Ia menyatakan bahwa senjata sudah ada di bawah pengawasan Polisi Indonesia dan akan diserahkan kepada Residen Sudirman,” sambung Notosusanto. Pada 3 Oktober 1945, Shibata secara resmi menyerahkan persenjataan Kaigun kepada Kapten Huijer, perwakilan South East Asia Command/Sekutu. Penyerahan itu secara simbolik dilakukannya dengan menyerahkan pedangnya kepada Huijer. Keputusan itu diambil Shibata karena Huijer menuntut penyerahan senjata Jepang agar tidak jatuh ke tangan para “ekstremis”. Senjata-senjata itu kemudian, dengan persetujuan Huijer, akan dijaga para anggota Komite Nasional Indonesia, yang dalam penilaiannya cukup moderat, hingga pasukan Sekutu tiba. Shibata mematuhi tuntutan Huijer tentu dengan alasan akan terbebas dari tanggungjawab menjaga keamanan yang kian kacau. Namun lebih dari itu, Shibata yang telah mengenal kondisi masyarakat Indonesia dan bersimpati pada kemerdekaan mereka, yakin senjata-senjatanya akan jatuh ke tangan para pemuda-pejuang Indonesia karena para anggota KNI yang dipercaya Huijer menjaga persenjataan itu takkan mampu menjalankan tugasnya. Namun, di lapangan keadaan berjalan tak semudah yang dibayangkan. Beberapa kesatuan militer Jepang menolak menyerahkan persenjataan mereka. Ketegangan pun terjadi antara mereka dengan para pemuda-pejuang. “Mereka bersedia menyerahkan senjata yang ada, asal ada perintah dari atasan, yakni Laksamana Shibata pimpinan tertinggi Angkatan Laut Jepang untuk wilayah timur,” tulis Irna HN Soewito dalam Rakyat Jawa Timur Mempertahankan Kemerdekaan , Vol. 1. Keesokan harinya, Shibata memerintahkan para bawahannya agar menyerahkan persenjataan mereka kepada Indonesia. Dengan begitu, tanggung jawab penyerahan senjata itu kepada Sekutu nantinya menjadi tanggung jawab Indonesia sepenuhnya. Sementara, mulai saat itu tanggung jawab keamanan di Surabaya sudah berada di pundak Huijer, bukan lagi di pundak Jepang. Seruan Shibata kemudian dipatuhi para bawahannya. Panglima AD setempat, Mayjen Iwabe Syigeo, pun mengikuti langkah Shibata dengan menyerahkan persenjataan pasukannya kepada Polisi Indonesia. Langkah Shibata kemudian terbukti tidak meleset. “Ternyata kemudian bahwa KNI itu tidak mempunyai kemampuan dan juga tidak mempunyai keinginan untuk mematuhi persetujuan itu. Dengan demikian semua senjata dan mesiu milik komando Angkatan Laut di Surabaya jatuh ke dalam tangan KNI dan Polisi Istimewa pada namanya saja, sedangkan pada praktiknya jatuh ke tangan BKR, kelompok-kelompok pemuda, pasukan-pasukan polisi, dan bahkan gerombolan-gerombolan yang masih kurang terorganisasikan,” tulis Ben Anderson.*
- Geger PSG
STADION Camp Nou memang kosong pada Selasa (16/2/2021) malam lalu. Namun hal itu tak mengurangi sengitnya duel antara tuan rumah Barcelona melawan Paris Saint-Germain (PSG) di leg pertama babak 16 besar Liga Champions. Hanya saja laga itu sempat dinodai sebuah hukuman penalti kontroversial. Kala durasi laga berjalan 25 menit, sebuah umpan lambung ke kotak penalti PSG hendak dikejar gelandang Barça Frenkie de Jong. Ia mendapat pengawalan bek Layvin Kurzawa. Namun apa lacur, tetiba De Jong terjatuh akibat tersandung kakinya sendiri. Namun wasit malah menunjuk titik putih. PSG dirugikan. Tetapi Les Parisiens (julukan PSG) pantang patah arang. Kecemerlangan Kylian Mbappé dengan hattrick- nya dan sebutir gol tambahan dari Bloty Moise Kean sukses menghukum balik Lionel Messi dkk. Skor 4-1 untuk PSG bertahan hingga wasit Björn Kuipers meniup peluit panjang. Neymar da Silva Santos Júnior, bintang PSG yang pernah berseragam Barça, sempat mengejek “hadiah” penalti mantan klubnya itu. “Penalti itu lelucon,” katanya di akun Twitter -nya, @neymarjr. Namun dia lantas menghapusnya. Entraîneur (pelatih) PSG Mauricio Pochettino tak berkomentar lebih jauh soal kontroversi penalti itu. Pochettino sudah puas pada hasil laga, terutama setelah Mbappé menepati janji kepadanya sebelum duel tersebut. “Kemarin saat latihan, dia (Mbappé) tanya pada saya berapa kali saya pernah menang di Camp Nou? Saya jawab, ‘satu kali.’ Katanya lagi: ‘besok, kita akan menang untuk kedua kalinya.’ Dia benar-benar seorang pemain top,” puji Pochettino sebagaimana disitat Metro , Rabu (17/2/2021). Mauricio Roberto Pochettino Trossero (kanan bawah) bangga dengan Mbappé (kiri bawah) yang jadi pencetak hattrick ketiga ke gawang Barcelona setelah Faustino Asprilla & Andriy Shevchenko ( psg.fr ) Kemenangan PSG itu ibarat penuntasan dendamnya terhadap Barcelona. Lima tahun lampau, PSG lebih “dipermak” Messi cs. di Camp Nou dengan skor mencolok, 6-1. Musim ini PSG kian percaya diri menargetkan memboyong “si kuping besar” trofi Liga Champions untuk pertamakali. Musim lalu mereka sekadar jadi runner-up . PSG sekaligus ingin membuktikan diri bahwa mereka bukan klub “kemarin sore”, terlebih usianya sudah memasuki 50 tahun. Lahir dari Operasi Merger Puluhan tahun Paris dijuluki sebagai kota mode, namun tidak soal sepakbola. Tim-tim yang lahir di kota ini tak pernah punya gaung besar di Eropa sebelum eksisnya PSG. Kebelasan RC Paris yang sudah berdiri sejak 1882, Club Français yang lahir delapan tahun kemudian, CA Paris-Charenton pada 1896, dan Red Star FC tahun 1897 semua tak berprestasi di “benua biru”. Tetapi semua itu berubah ketika PSG lahir pada 1970. Berdirinya PSG timbul dari ambisi seorang pebisnis lokal, Guy Crescent, pada akhir 1960-an. Crescent yang merupakan bos perusahaan transportasi Calberson itu menularkan kecintaannya pada sepakbola ke teman-teman bisnisnya, di antaranya Pierre-Étienne Guyot dan Henri Patrelle. Menengok dokumenter bertajuk “PSG: Ce Club Qui a Failli Ne Pas Exister” garapan rumah produksi Spicee pada Desember 2016, disebutkan pada Juli 1969 Crescent dkk. memulainya dengan membentuk klub yang sekadar di atas kertas, Paris FC. Rancangan klub yang baru punya dewan direksi berisikan Crescent, Guyot, dan Patrelle itu belum punya tim, stadion, apalagi suporter. Kesulitan finansial menjadi pangkalnya. Paris FC Baru sekadar didaftarkan ke federasi sepakbola Prancis. Guy Crescent (kanan, berjas) pendiri PSG ( psg.fr ) Untuk merancang timnya, Crescent lalu melakoni “study tour” ke lima klub mapan di tiga negara Eropa: Arsenal dan Chelsea (Inggris), SV Hamburger dan FC Köln (Jerman Barat), dan Real Madrid (Spanyol). Dari kelimanya, Crescent paling terkesan dengan model manajemen dan perkembangan tim Chelsea yang masih dipegang keluarga Mears. Sementara kala bertamu ke Madrid, ia mendapat wejangan paling berharga terkait kekusutan finansial Paris FC dari suprema klub, Santiago Bernabéu. Disebutkan pula dalam dokumenter itu, Bernabeu memberi saran agar Crescent dkk. menggelar petisi dan kampanye penggalangan dana secara sukarela kepada warga Paris jika menginginkan kota itu mau bangga punya sebuah klub besar. “Anda harus berpegangan pada keyakinan Anda sendiri dan kecintaan warga Paris,” kata Bernabéu menasihati. Saran itu dituruti Crescent. Dia kemudian mendirikan badan hukum untuk penggalangan dana, L’Association Paris Saint-Germain, seiring dengan mergernya Paris FC dengan Stade Saint-Germanois pada 17 Juni 1970. Tak disangka, petisi dan penggalangan dana lewat siaran radio Europe 1 dan media cetak macam L’Equipe , France Football , dan Le Parisien itu ramai sambutan warga kota. Sekira 20 ribu di antaranya turut menyumbang. Selain mengandalkan para bekas pemain Stade Saint-Germanois yang sudah lahir pada 1904, dewan direksi akhirnya bisa membeli beberapa pemain dari klub-klub lain. Antara lain Jean Djorkaeff dan Pierre Phélipon yang sekaligus merangkap menjadi pelatih pertama PSG. Pertandingan pertama PSG kemudian dihelat di Stade Jean-Bouin pada 1 Agustus melawan US Queville. PSG kalah 1-3. Kala itu, jersey yang dipakai PSG berwarna merah darah dengan motif putih-biru plus logo berupa sebuah bola berwarna biru di dada kirinya. Jean Djorkaeff di tengah-tengah petinggi Paris Saint-Germain menjelang musim perdana klub di Divisi 2 pada 1970 ( psg.fr ) PSG secara administratif resmi berdiri pada 12 Agustus 1970. Lima hari kemudian diterima FFF (induk sepakbola Prancis) untuk mulai ikut kompetisi resmi Divisi 2 (kini Ligue 2) musim 1970-1971. “Hebatnya, Djorkaeff cs. mampu langsung juara dan otomatis promosi ke Divisi 1 (kini Ligue 1) untuk musim 1971-1972. Lalu kemudian bencana terjadi. Diterpa problem finansial, tim tak punya pilihan selain bercerai menjadi dua klub. Salah satunya menjadi Paris FC lagi dan diperbolehkan bertahan di Ligue 1. Satunya lagi nama Paris Saint-Germain, walau terpaksa terdemosi ke liga amatir, Championnat National atau setara Divisi 3,” tulis Kate Shoup dalam Soccer’s Greatest Clubs: Paris Saint-Germain FC . Pecahnya PSG disebabkan krisis finansial seiring menurunnya prestasi klub. Di musim 1971-1972, PSG mati-matian hanya untuk bertahan di posisi ke-16 liga. Solusi finansial kemudian datang dari Dewan Kota Paris yang menawarkan 850 ribu franc demi melunasi utang-utang klub. Namun syaratnya, dewan kota ingin klub itu menggunakan nama yang lebih kental kota Parisnya, Paris Football Club. Dari seluruh petinggi klub, hanya Henri Patrelle yang menolak perubahan nama. Patrelle akhirnya memutuskan berpisah dengan Crescent dan Guyot pada 20 Juni 1972. Patrelle mempertahankan nama PSG, sementara Crescent dan Guyot mengubah nama klub menjadi Paris FC. Patrelle mesti membangun PSG dari nol lagi dengan para pemain mudanya lantaran para bintang tim memilih tetap merumput di Divisi 1 bersama Paris FC. Kebangkitan PSG baru tiba ketika Patrelle menyerahkan tampuk kepemimpinan klub ke desainer fesyen ternama yang berinvestasi besar, Daniel Hechter, pada 1973. Sejak itu, berangsur-angsur PSG mendaki dari kompetisi Divisi 3 hingga ke Divisi 1 di musim 1974-1975. Era Baru PSG Debut PSG di Eropa baru terjadi di Piala Winners musim 1982-1983. Langkahnya terhenti di babak perempatfinal usai kalah dari Waterschei Thor (Belgia) dengan agregat 2-3 lewat dua leg kontra. Di dalam negeri, butuh waktu lama buat PSG mendobrak dominasi klub-klub mapan langganan juara Liga Prancis macam Girondins Bordeaux, AS Monaco, Olympique Lyonnais, atau Olympique Marseille. PSG baru bisa muncul sebagai kampiun liga pada musim 1985-1986 dan mengulanginya pada musim 1993-1994. Dua tahun sebelumnya, kepemilikan klub berpindah dari Francis Borelli ke perusahaan penyiaran Canal + akibat klub terbelit utang hingga 50 juta franc. Di tangan Canal+ sejak 1991, PSG lebih stabil secara keuangan meski sekadar jadi penantang gelar liga yang kerap gigit jari di akhir musim. Walau demikian, PSG mulai jadi klub yang disegani. Paris Saint-Germain di era 1980-an (kiri) dan 1990-an ( psg.fr ) Di masa ini pula PSG mulai menyulut perseteruan dengan Marseille. Hingga kini duel keduanya dijuluki “ Le Classique” . Julukan itu bermula dari sebuah laga brutal di Parc des Princes pada 18 Desember 1992 kala PSG menjamu Marseille. Menukil laman FIFA , 12 Maret 2009, perseteruan PSG dan Marseille bermula dari adu gengsi di bursa transfer hingga di dalam stadion. Di bursa transfer, Marseille tampak kalap dengan mendatangkan banyak pemain bintang macam Chris Waddle, Jean-Pierre Papin, Eric Cantona, Didier Deschamps, Marcel Desailly, Rudi Völler, hingga Enzo Francescoli. PSG yang tak mau kalah gengsi merespon dengan merekrut David Ginola, Safet Sušić, George Weah, dan Youri Djorkaeff. Rivalitas itu lalu dilanjutkan dengan saling sindir di media-media, terutama dilakukan oleh Ginola dan pelatih PSG Artur Jorge melawan Presiden Marseille Bernard Tapie. Nuansa panas berlanjut ke dalam laga kala kedua tim bertemu di Parc des Princes, 18 Desember 1992. Laga yang berakhir 1-0 untuk Marseille itu bergulir secara brutal. Tidak kurang dari 50 pelanggaran dan enam kartu kuning dikeluarkan wasit Michel Girard, termasuk perkelahian dan pemukulan bek Marseille Éric Di Meco kepada bek PSG Patrick Colleter. Di luar laga brutal itu, hingga 1998 PSG kembali terbelenggu utang. Akibatnya pada 2004 PSG terpaksa menjual banyak pemain bintangnya macam Marco Simone, Pauleta, dan Ronaldinho. PSG pun tertatih-tatih hanya untuk bertahan di Ligue 1. Canal+ lalu menjual saham-saham PSG seharga 41 juta euro ke Colony Capital, Butler Capital Partners, dan Morgan Stanley pada Mei 2006. Presiden PSG Nasser bin Ghanim Al-Khelaifi ( psg.fr ) Lima tahun berselang, firma-firma itu menjual lagi saham-saham PSG senilai 100 juta euro hingga kepemilikan klub berpindah tangan ke Qatar Sports Investments milik hartawan Timur Tengah Tamim bin Hamad al-Thani. Sejak saat itulah PSG bikin geger dengan menjadi satu dari dua klub terkaya dunia yang dimiliki konglomerasi Timur Tengah. Duit PSG yang tak berseri membuat presiden klub, Nasser al-Khelaifi, bisa mendatangkan bintang-bintang dunia semudah membalikkan telapak tangan. David Beckham, Zlatan Ibrahimović, Neymar, hingga Kylian Mbappé merupakan deretan bintang yang didatangkan PSG. Sejak 2011 pun PSG mulai jadi langganan juara domestik yang merusak hegemoni Lyon, Marseille, AS Monaco, dan Bordeaux. Hanya satu gelar yang belum didapatnya sehingga paling diburu hingga hari ini, yakni Liga Champions. Setelah musim lalu pulang dari final Liga Champions dengan tangan hampa, Al-Khelaifi berharap musim ini giliran PSG yang berjaya. Kemenangan 4-1 atas Barcelona kemarin membuatnya kembali optimis. “Para pemain menampilkan laga yang lebih dari kata sempurna. Tetapi masih ada 90 menit lagi yang harus dimainkan (di leg kedua). Penting untuk kita tetap tenang. Terlepas dari itu, saya sangat bangga pada skuad yang kuat ini dan mereka harus bertahan di level ini. Saya juga bangga pada Kylian atas hattrick -nya. Itu momen bersejarah baginya dan bagi klub,” tandas Al-Khelaifi, dilansir PSG Talk , Rabu (17/2/2021).
- Moerad, Sjahrir, Hatta dan Persahabatan yang Terlupakan (2)
DI Digul, Moerad hidup dalam situasi pengasingan yang tentu saja jauh dari kenyamanan. Kepada anak-anaknya, dia pernah berkisah bagaimana liarnya alam di tanah Papua itu. Selain gangguan nyamuk malaria dan binatang berbisa seperti ular batik, para digulis pun harus menghadapi kerasnya perlakuan petugas-petugas yang dibayar oleh pemerintah Hindia Belanda untuk mengawasi mereka.
- Tionghoa di Tengah Arus Penyebaran Islam di Nusantara
Sejarah Islam di Tiongkok selaras dengan sejarah Islam di Nusantara. Khususnya yang terjadi pada abad ke 15-16. Masyarakat Tionghoa pun dinilai memiliki peran dalam persebaran Islam ke Nusantara. “Islam di Nusantara cenderung datang dari Persia dan Arab. Peranan Tionghoa dalam penyebaran Islam di Jawa perlu dipertimbangkan,” ujar Sumanto Al-Qurtubi, pengajar antropologi di King Fahd University of Petroleum & Minerals, dalam Dialog Sejarah berjudul “Arus Tiongkok dalam Penyebaran Islam ke Nusantara” live di Facebook dan Youtube Historia.id , Kamis (18/2/2012). Permukiman Tionghoa Komunitas Tionghoa sudah lama hidup sebagai bagian dari masyarakat Nusantara. Bahkan, mereka tinggal di wilayah kerajaan Islam, seperti Samudera Pasai, Banten, kota pelabuhan Jepara, pusat penyebaran Islam Kudus, dan Kerajaan Tayan. Libra Hari Inagurasi, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, mencatat, jejak arkeologi kehadiran masyarakat Tionghoa ditemukan di sepanjang pesisir Pantai Timur Sumatra dari selatan ke utara, Pantai Utara Jawa, dan Kalimantan Barat. Baca juga: Meninjau Kembali Proses Masuknya Islam ke Nusantara Di Pantai Timur Sumatra, terdapat di Situs Kota Cina (Medan), Samudera Pasai (Aceh Utara), Lamreh, dan Ladong (Aceh Besar). Situs-situs itu berasal dari kisaran abad ke-12 sampai ke-13 dan abad ke-15. Di Pantai Utara Jawa, titik-titik pengaruh Tionghoa ditemukan di Banten Lama berupa kelenteng, Masjid Pacinan Tinggi yang hanya tersisa menara dan mihrabnya, makam, batu-batu silindris penggilingan tebu, dan toponimi pacinan . Semuanya berada di wilayah Kesultanan Banten. Baca juga: Sultan Banten, Wihara, dan Wabah Penyakit Di Kalimantan Barat jejak permukiman komunitas Tionghoa ditemukan di wilayah Kerajaan Tayan, Sanggau. Tepatnya di tepi pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Tayan.“Menariknya di tengah Sungai Kapuas ada Pulau Tayan. Ini pulau khusus untuk permukiman Tionghoa. Di situ ada kelenteng,” kata Libra. Libra menjelaskan, arus kedatangan masyarakat Tionghoa secara dinamis,berkelanjutan dan bertahap. Permukimannya biasanya terletak di kawasan perairan. “Mereka mendarat, bermukim di situ dan membangun usaha. Mereka punya keahlian seperti pengusaha, pembuatan gula, ahli mengukir, memahat, dan ahli bangunan,”kata Libra. Tersua dalam Sumber Tertulis Sumanto yang menulis buku Arus Cina-Islam-Jawa , merekonstruksi peran Tionghoa dalam penyebaran Islam di Nusantara lewat sumber-sumber Tingkok, sumber Arab, sumber lokal, peninggalan masjid kuno, dan kelenteng kuno. S umber Tiongkok misalnya catatan Ma Huan, penerjemah resmi yang mendampingi Laksamana Cheng Ho berlayar ke banyak negeri. Ia mencatat petualangannya dalam Yingya Shenglan yang terbit pada 1416. Ma Huan mencatat bahwa penduduk di pantai utara Jawa, yaitu di kota-kota pelabuhan, seperti Gresik, Tuban, Surabaya, dan Canggu banyak dikunjungi oleh pedagang asing dari Arab, India, Asia Tenggara, dan Tiongkok. Di sana banyak orang Tiongkok dan Arab menetap dan berdagang. Baca juga: Catatan Ma Huan tentang Masyarakat Majapahit Ma Huan menyebutkan, di kota Majapahit ada sekira 200-300 keluarga yang menetap. Penduduknya terbagi menjadi tiga golongan. Pertama , orang Arab atau penganut ajaran Muhammad. Kegiatannya berdagang dan menetap di Jawa. Kedua , orang Tangren atau Tenglang, merujuk pada orang Tionghoa yang berasal dari Guangdong, Zhangzhou, dan Quanzhou. Mereka melarikan diri dari daerah asalnya dan tinggal di Jawa. Menariknya, banyak dari mereka belajar Islam kepada orang-orang Arab. “Ma Huan sendiri adalah muslim. Namanya saja ‘ ma’ , Muhammad Huan, dia ini muslim,” kata Sumanto. Baca juga: Adakah Peran Cheng Ho dan Cina dalam Islamisasi Nusantara? Sumber-sumber lokal, kata Sumanto, juga banyak menceritakan serpihan-serpihan fakta itu. Misalnya, di dalam berbagai tembang dan serat. Sumber Arab seperti catatan Ibnu Battuta yang mengembara dari kota kelahirannya di Tangier, Maroko, ke berbagai belahan dunia. “Sumber ini saya pakai untuk cross check . Sumber-sumber ini juga bercerita tentang komunitas Tionghoa muslim pada abad 15-16,” kata Sumanto. Tionghoa Membangun Masjid Sumanto juga menandai beberapa masjid kuno yang kemungkinan mendapat campur tangan masyarakat Tionghoa. Misalnya, Masjid Agung Demak yang dibangun pada abad ke-15. Soko tatal pada masjid ini dibangun dengan cara yang sama dengan gaya pembuatan tiang di Tiongkok. “Jadi ada beberapa hal yang ada di Masjid Demak itu sama dengan yang terjadi di Tiongkok pada masa Dinasti Ming (1368–1643),” kata Sumanto. Baca juga: Legenda Kota Suci Demak Begitu juga Masjid Sekayu di Semarang yang dibangun pada abad yang sama. Pada belandar masjid ini ditemukan kaligrafi Tionghoa. “Diduga masjid itu dibuat oleh orang-orang Tionghoa muslim,” kata Sumanto. Ada juga Masjid Mantingan di Jepara, Jawa Tengah, yang dibangun pada abad ke-16. Tokoh muslim Tionghoa, Liem Mo Han (Babah Liem) dikenal sebagai arsitek masjid ini. “Di Jakarta, sepertinya juga ada dua masjid,” kata Sumanto. Baca juga: Sejarah Vihara, Tempat Belajar Para Biksu Sumanto juga merujuk pada kelenteng-kelenteng kuno yang kontroversial karena dianggap awalnya masjid kemudian dialihfungsikan menjadi kelenteng.Di antaranya adalah Kelenteng Mbah Ratu di Surabaya dan Kelenteng Talang di Cirebon. “Itu kelenteng-kelenteng tua yang dibangun sebelum masa kolonial. Kelenteng Talang di Cirebon, misalnya, didesain seperti masjid bukan seperti kelenteng,” kata Sumanto. Klenteng Talang di Cirebon. ( disparbud.jabarprov.go.id ). Tokoh Tionghoa Muslim Terkenal Selain masjid, makam menjadi petunjuk keberadaan tokoh Tionghoa muslim. Seperti makam Ki Telingsing di Kudus. “Ada yang bilang ini teman Sunan Kudus, tradisi lokal bilang begitu,” kata Sumanto. Di Bali dikenal tokoh penyebar Islam bernama Kwan Pao-Lie. Ia dianggap sebagai salah satu dari tujuh wali ( wali pitu ) dalam tradisi Islam di Bali. Baca juga: Kisah Leluhur Walisongo Lalu ada Babah Bantong di Cirebon yang dihormati. “Pram mengajukan tesis menarik, bahwa Sunan Kalijaga menurutnya adalah Putra Brawijaya, raja Majapahit dari seorang putri Tiongkok muslimah bernama Retna Subanci, putri Babah Ba Tong,” kata Sumanto. Masyarakat di Salatiga, khususnya di daerah Kalibening, mengaitkan sejarah Islamisasinya dengan tokoh bernama Lie Beng Ing. Kemudian ada juga Tan Hong Tien Nio atau populer dengan sebutan Putri Ong Tien. Ia merupakan istri Sunan Gunung Jati,pelopor dan penggerak Islam di Cirebon dan wilayah Jawa Barat. Islam Lebih Dulu Masuk Tiongkok Menurut Sumanto, tidak mengherankan jika orang Tiongkok memiliki peran dalam menyebarkan Islam di Nusantara. Sebab, Islam lebih dulu masuk ke Tiongkok ketimbang ke Nusantara. Kanton adalah pusat keislaman tertua di Tiongkok. Bahkan, m enurut sejarawan ahli Tiongkok, masjid paling awal di Kanton adalah masjid tertua kedua di dunia setelah di Madinah. “Setelah Nabi Muhammad membangun Masjid Nabawi di Madinah, masjid di Kanton dibangun. Aspek sejarah keislaman di sana sangat tua,” kata Sumanto. Baca juga: Peran Ulama dalam Kerajaan Islam di Nusantara Hubungan Tiongkok dengan dunia Islam, khususnya jazirah Arab, sudah berlangsung lama. Keduanya dihubungkan oleh perdagangan di Jalur Sutra. Hubungan ini terus berlanjut pada era Nabi Muhammad. “Saya menduga hadis ‘tuntutlah ilmu ke negeri Cina’ punya relevansi sejarah yang sangat kuat, meski ada yang bilang ini hadis dhaif (lemah),” kata Sumanto. Baca juga: Serangan Pertama Mongol ke Kerajaan Islam Masa kenabian Muhammad pada abad ke-7 bertepatan dengan era Dinasti Tang. Ini adalah puncak kemajuan peradaban dan kebudayaan Tiongkok. “Banyak masyarakat di luar Tiongkok diminta belajar beragam hal berkaitan dengan Tiongkok,” kata Sumanto. “Di sana pun disediakan tanah khusus bagi orang Arab, Persia. Dari situ berkembang keislaman Tiongkok.” Ditambah lagi setelah Dinasti Abbasiyah runtuh diserang tantara Mongol. Arsitek dan banyak ilmuwan dalam berbagai bidang dari wilayah dinasti itu diboyong ke Tiongkok. “Ini bersamaan dengan pendirian Dinasti Yuan <1279-1368>. Banyak tenaga ahli muslim bekerja di Yuan,” kata Sumanto. Keislaman di Tiongkok mulai memudar pada era Dinasti Qing (1644–1911) atau Dinasti Manchu. “Rezim berganti, dari pro-muslim ke anti-muslim,” kata Sumanto.
- Panji Matahari Terbit di Bali
SEJAK pagi, 19 Februari 1942, Letnan Clarence McPherson, pilot pesawat pembom B-17E “Flying Fortress” dari Grup Pembom ke-7 Korps Udara Angkatan Darat Amerika Serikat, sudah punya perasaan tak enak. Padahal, hari itu ia punya misi terbang dari Pangkalan Udara (Lanud) Darwin menuju Lanud Denpasar, Bali. Perasaan tak enak itu bermula dari jadwal keberangkatannya yang tertunda beberapa jam untuk perbaikan mesin pesawatnya di pagi buta. Alhasil baru pada sekira pukul 9.15 pagi McPherson bisa take-off untuk mengiringi 10 pesawat pemburu P-40 “Warhawk” pimpinan Mayor Floyd Pell dari Skadron Pemburu ke-33. Namun di tengah perjalanan, ke-10 pesawat P-40 memutuskan balik kanan lantaran cuaca buruk di langit Kupang. McPherson memilih tetap meneruskan penerbangannya. Ketika ia sudah melihat Lanud Denpasar dari arah selatan dan hendak mendarat di siang hari, tetiba pesawatnya ditembaki senapan mesin. Disadarinya kemudian, Lanud Denpasar ternyata sudah dikuasai satu detasemen serdadu Jepang sejak malam sebelumnya. “Roda pesawat sudah sempat diturunkan dan hendak mendarat untuk kemudian taxiing . Andai tentara Jepang tak lebih dulu menembaki saat pesawat mendekati landasan, sangat mungkin kru pesawat ditawan Jepang. Namun McPherson langsung terbang lagi dengan hanya membawa lubang peluru di badan pesawat dan salah satu krunya tertembak di bagian kaki,” tulis Walter Dumaux Edmonds dalam The Fought with what They Had: The Story of the Army Air Forces in Southwest Pacific, 1941-1942. McPherson beruntung. Para serdadu Jepang belum sempat menempatkan meriam antiudara di lanud itu. Sekira pukul 5.55 petang, McPherson berhasil mendarat dengan selamat di Lanud Singosari (kini Lanud/Bandara Abdulrahman Saleh), Malang. Di lanud itu, McPherson diterangkan oleh perwira intelijen ABDACOM atau Komando Amerika-Inggris-Belanda-Australia, bahwa Bali sudah sudah dikuasai serdadu panji matahari terbit. Pesawat pembom berat B-17E "Flying Fortress" bernomor seri 41-2417 yang dipiloti Letnan Clarence McPherson. ( americanairmuseum.com ). Surga Dunia yang Strategis Pulau Bali mulanya tak pernah masuk dalam perhitungan Jepang untuk direbut. Toh sejak awal Januari 1942, Jepang sudah punya tiga lanud besar (Banjarmasin, Makassar, dan Kendari) untuk membom Malang dan Surabaya yang jadi basis terkuat ABDA di timur Pulau Jawa. “Tetapi disadari juga bahwa Bali dikenal punya cuaca yang luar biasa ideal. Itu yang kemudian membuat Jepang tertarik, selain keindahannya sebagaimana yang diakui Laksamana Matome Ugaki, kepala Staf Armada Gabungan Jepang, sebagai ‘surganya dunia’,” ungkap Jeffrey Cox dalam Rising Sun, Falling Skies: The Disastrous Java Sea Campaign of World War II . Cuaca jadi kata kuncinya. Jepang segera insyaf bahwa kondisi cuaca di langit Lanud Makassar dan Kendari tak seideal Lanud Denpasar. Selain itu, jika Denpasar bisa dikuasai, pesawat-pesawat Jepang bakal lebih menghemat bahan bakar dalam membombardir Malang dan Surabaya ketimbang berangkat dari Banjarmasin, Makassar, maupun Kendari. Maka, pada akhir Januari Markas Umum Militer di Tokyo menambahkan Bali sebagai target invasinya. Rencana pendaratan dan langkah antisipatif terhadap gangguan Sekutu (ABDA) pun dirancang. Operasi pendaratan jatuh ke pundak Laksamana Muda Kyuji Kubo, komandan Armada Serbu ke-4. Kapal penjelajah ringan Nagara jadi kapal komando Laksamana Kubo yang akan bertanggungjawab atas konvoi armada yang terdiri dari tujuh kapal perusak dan kapal angkut Sasago Maru dan Sagami Maru . Dua kapal angkut itu akan membawa satu batalyon pasukan pendarat dari Divisi Infantri ke-48 pimpinan Mayor Matabei Kunemura. Konvoi ini berangkat dari pelabuhan Makassar pada 17 Februari malam. “Sasaran (pendaratan) mereka adalah pantai dan jalan utama Sanur di pesisir tenggara Bali di Selat Badung. Area itu dipilih karena jadi titik terdekat menuju Denpasar. Kapal perusak Asashio , Oshio , Arashio , dan Michishio akan mengawal ketat dua kapal angkut. Kapal perusak Hatsushimo , Nenohi , dan Wakaba akan mengekor di belakang sebagai pelindung jika ada musuh dari arah Laut Banda di utara,” lanjut Cox. Skema pendaratan dan Pertempuran Selat Badung (kiri) & komandan laut ABDA Laksamana Karel Willem Frederik Marie Doorman. ( microworks.net / nationaalarchief.nl ). Intelijen pangkalan ABDA di Surabaya sejatinya sudah mengintip ada persiapan besar di Makassar yang akan memberangkatkan sebuah konvoi. Namun ABDA belum mendapat kesimpulan detail ke mana dan kapan konvoi itu akan melancarkan serangan atau pendaratan. Ditambah, kekuatan ABDA, terutama armadanya di bawah komando Laksamana Karel Doorman, tercerai berai antara Laut Jawa hingga Laut Banda. ABDA baru mendapat info konvoi Jepang itu menyasar ke Bali pada 18 Februari petang, ketika dua kapal angkut Jepang bersiap mendaratkan serdadunya ke Pantai Sanur. Adalah kapal selam (kasel) Amerika USS Seawolf dan kasel Inggris HMS Truant yang melakukan kontak pertama. Sayangnya serangan mereka kandas dan dihalau kapal-kapal perusak Jepang dengan bom-bom dalam mereka. Di atas kapal penjelajah HNLMS De Ruyter yang jadi kapal komandonya, Laksamana Doorman langsung menginstruksikan armadanya di Pelabuhan Cilacap untuk segera menuju Selat Badung. Di dalamnya turut serta kapal penjelajah HNLMS Java , kapal perusak HNLMS Piet Hein , dan dua kapal perusak Amerika USS John D. Ford dan USS Pope . Sementara, kapal penjelajah HNMLS Tromp berangkat dari Surabaya dan kapal perusak USS Stewart , USS John D. Edwards , USS Parrott , dan USS Pillsbury menyusul dari Teluk Ratai. Gangguan berat pertama Jepang datang dari udara. Sejak 18 Februari tengah malam, pesawat-pesawat pembom dan pembom tukik Sekutu bergantian berangkat dari Malang dan Surabaya untuk membombardir kapal-kapal angkut Jepang. Pendaratan Jepang pun tertunda beberapa jam. “Saat kami baru mengira bahwa pendaratan ini akan berakhir sukses, tiba-tiba sebuah (pesawat pembom) B-17 terbang di atas konvoi kami. Pemboman terus-menerus oleh pesawat-pesawat musuh memaksa kami menunda operasi pendaratan,” tutur seorang perwira Jepang, dikutip Cox. Pada dini hari 19 Februari, konvoi Jepang baru mendapat perlindungan udara dari Grup Udara Tainan yang berbasis di Balikpapan. Saat pesawat-pesawat Amerika sudah menemukan lawan di udara, operasi pendaratan baru bisa dimulai lagi. Para serdadu Jepang mulai menginjakkan kaki di Pantai Sanur sekira pukul 2 dini hari. Korps Prajoda yang berdiri pada 1938 praktis bubar sejak Jepang mendarat pada 19 Februari 1942. ( berghapedia.nl ). Mereka tak menemukan perlawanan berarti di darat sehingga dengan mudah merangsek hingga merebut Lanud Denpasar yang ditinggalkan pasukan pertahanan. Bali saat itu sama sekali tak memiliki satu peleton pun pasukan KNIL (Tentara Kerajaan Hindia-Belanda). Saat itu Bali hanya dipertahankan Korps Prajoda yang terdiri dari 600 milisi lokal dan beberapa perwira menengah Belanda pimpinan Kolonel W.P. Roodenburg. “Bahkan sebelum pendaratan, pimpinan KNIL di Bandung hanya memerintahkan pengrusakan kendaraan-kendaraan militer dan depot-depot bahan bakar di sekitar Denpasar dan Singaraja. Saat Jepang mulai mendarat, pasukan itu mundur ke Penebel di utara Tabanan,” urai Geoffrey Robinson dalam The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali. Bahkan, lanjut Robinson, Kolonel Roodenburg kala mendengar Jepang sudah masuk ke Denpasar segera memerintahkan ke-600 prajurit Korps Prajoda melucuti senjata dan seragam, lalu diperintahkan pulang ke rumah masing-masing. Tanpa penjelasan lebih lanjut, Korps Prajoda yang didirikan pada 1938 sebagai “kepanjangan tangan” KNIL untuk mempertahankan Bali, resmi dibubarkan. Duel Armada Jika di darat hampir tak ada pertempuran, di laut armada Doorman dan armada Kubo duel hebat. Seiring pendaratan pasukan Jepang dan datangnya kapal-kapal ABDA, Pertempuran Selat Badung pun dimulai pada 19 Februari 1942 dini hari. Meriam-meriam dari dua kapal penjelajah dan tiga perusak ABDA pimpinan Doorman mulai menyalak pada jam 10.25 malam. Serangan balik Jepang dengan torpedonya justru lebih efektif. Sebuah torpedo dari Asashio mengenai Piet Hein dengan telak hingga akhirnya tenggelam. Kapal perusak Amerika John D. Ford dan Pope juga kepayahan melawan meriam-meriam Asashio dan Oshio yang lebih superior. Keduanya akhirnya kabur ke arah tenggara dari Selat Badung dengan beberapa kerusakan pada badan kapal. Pukul 1 dini hari 20 Februari, enam kapal lain ABDA tiba. Pertempuran dahsyat dengan dua kapal Jepang pun terjadi. Mereka saling bertukar tembakan meriam. Oshio dan Asashio mulai kewalahan hingga rusak berat dan terpaksa mengundurkan diri. Lantas giliran Arashio dan Michishio yang baku serang dengan tiga kapal ABDA yang tersisa. Ketika mentari terbit pukul 6 pagi 20 Februari, Selat Badung mulai sepi. Kapal-kapal Jepang dan Amerika sama-sama mengundurkan diri dengan kerusakan berat. Kapal penjelajah ringan Nagara (atas) & HNMLS De Ruyter , dua kapal komando Jepang dan ABDA. ( Modellversium: Japanese Light Cruisers of World War II in Action / nationaalarchief.nl ). Pihak Jepang mengklaim kemenangan karena misi utama mereka mendaratkan pasukan berjalan sukses. Pihak Sekutu tak mau kalah, mereka bangga bisa membuat Jepang membayar mahal. Sejak saat itu Jepang tak berani mengirim kapal-kapal untuk suplai pasukannya. Jepang baru kembali mengirim kapal suplainya pada Maret 1942 setelah Hindia Belanda menyerah di Kalijati. “Ofensif udara dan laut Sekutu melawan pasukan ekspedisi Jepang sukses, mereka membuat Jepang tak bisa mengirim satu pun kapal perang atau kapal angkut untuk mendukung suplai pasukan Jepang (di Pulau Bali). Kemenangan di Bali adalah kemenangan dengan harga yang mahal,” tulis suratkabar The West Australian , 24 Februari 1942. Perubahan drastis langsung terjadi di Bali begitu pasukan Jepang menguasai Denpasar dan sekitarnya. Para pegawai Belanda beramai-ramai kabur ke Jawa dan Australia. Hanya sekitar 63 warga asing yang ditahan sebelum dipindahkan ke kamp-kamp interniran di Jawa pada Maret. “Untuk sesaat kemudian, kehidupan warga kembali normal. Sebuah siaran radio Jepang pada 27 Maret 1942 menyebutkan: ‘Warga Indonesia di Pulau Bali menikmati hidup yang damai di bawah kendali pasukan Jepang. Bus-bus beroperasi lagi, jalan-jalan raya yang dihancurkan Belanda telah diperbaiki Korps Buruh Sukarela Indonesia. Tiga ribu warga Cina yang mengontrol aktivitas bisnis sudah kembali ke rumah mereka dan sepenuhnya bekerjasama dengan otoritas militer Jepang’,” tandas Robinson.
- Ketika Wartawan Dipalak Laskar Sumatra
SUWARDI Tasrif, Rinto Alwi, dan Muhamad Radjab adalah trio wartawan utusan pemerintah. Tasrif dari harian Berita Indonesia , Rinto dari harian Merdeka , sedangkan Radjab dari Kantor Berita Antara . Mereka dipimpin oleh Tuan Parada Harahap, pegawai tinggi pada Kementerian Penerangan. Rombongan itu bertugas meliput keadaan di Sumatra di tengah suasana perjuangan revolusi. Pada 14 Juni 1947, rombongan berangkat dari Yogyakarta. Mereka tiba di Medan pada 20 Juni. Beberapa kota di Sumatra Timur langsung disinggahi, diantaranya Tebing Tinggi, Pematang Siantar, dan Brastagi. Di kota-kota itu perjalanan lancar-lancar saja, tiada halangan yang berarti. Hingga pada 28 Juni, rombongan melanjutkan perjalanan dari Brastagi menuju kota minyak Pangkalan Brandan. Pukul 09.00, rombongan bertolak menuruni lereng-lereng bukit di Tanah Karo. Petaka bermula di Pancur Batu. Di tengah jalan, mobil rombongan melewati gardu pengawalan. Beberapa orang laskar menghampiri mobil. Mereka meminta untuk diizinkan menumpang di mobil rombongan. “Caranya bukan meminta, tetapi mendesak dan bagaikan mengancam,” kenang Radjab dalam catatan perjalanannya Tjatatan di Sumatra . Beruntung sang sopir masih bisa berkilah dengan alasan, ban mobil sudah tipis dan perjalanan masih jauh lagi. Orang-orang laskar itupun mengurungkan niatnya. “Tetapi kami yakin bahwa sampai ke Pangkalan Brandan kami akan diganggu terus oleh penumpang-penumpang yang tidak kami ingini itu,” ujar Radjab. Benar saja, dari Pancur Batu ke Pangkalan Brandan, Radjab mencatat sebanyak 14 kali rombongannya harus menepi ke pinggir jalan karena ulah kelompok laskar. Setiap menepi, laskar akan memeriksa, menahan, dan menyalin surat jalan. Di tiap gardu, rombongan mesti meninggalkan dua bungkus rokok sebagai cukai. Dengan begitu, rombongan boleh diizinkan melanjutkan perjalanan. Kalau tidak demikian, rupa-rupa ancaman dilontarkan. Mereka akan bertindak sewenang-wenang seperti membuka koper di bagasi dan membongkar isinya. Menurut Radjab, yang menahan dan memeriksa rombongannya ialah berbagai kelompok laskar yang berbasis di sekeliling kota Medan. Mereka antara lain berasal dari Laskar Napindo, Barisan Harimau Liar (BHL), Pesindo, Mujahidin, dan Banteng Merah. Biarpun mobil rombongan sudah diperiksa oleh tentara maupun polisi militer, laskar-laskar rakyat ini memandang dirinya wajib pula memeriksa. Ternyata pemeriksaan hanya kedok semata. Para laskar itu bertindak bukan untuk memeriksa keamanan melainkan untuk menagih uang dan rokok dari kantong orang-orang yang lewat di sana. Mendekati Binjai, mobil rombongan kembali distop sekelompok laskar. Mereka meminta agar pemimpin mereka boleh menumpang. Mereka mendesak dengan nada mengancam bahwa perjalanan pemimpin mereka sangat penting ke Binjai. Karena tidak dibiarkan melaju, akhirnya rombongan terpaksa mengizinkan penumpang liar itu masuk. Radjab memendam jengkel terhadap kelakuan para petualang revolusi itu yang menurutnya setengah edan, tidak tahu malu, dan kasar, tetapi berani maju ke garis depan. “Biarpun pedangnya panjang, ia bukanlah seorang pahlawan, melainkan seorang pencatut, yang mencari kekayaan dalam suasana keruh pada waktu ini,” catat Radjab begitu melihat tampang dan gelagat pemimpin laskar yang menumpang dimobilnya. Meskipun demikian, Radjab menangkap kesan pemerintah yang tidak berdaya menertibkan aksi sesuka hati laskar di Sumatra Timur. “Itulah akibatnya bila orang-orang yang berjuang itu kebutuhannya tidak dicukupkan oleh pemerintah, hingga badan-badan perjuangan disamping berkelahi, mencari pula apa-apa yang akan memenuhi kebutuhannya,” kata Radjab dalam reportasenya. Dengan bersusah payah akhirnya rombongan tiba di Pangkalan Brandan pada 29 Juni pas petang hari. Setelah meliput tentang kilang minyak yang rusak, rombongan melanjutkan perjalanan ke Aceh kemudian Tapanuli. Nanti, di Tapanuli, Radjab bersua dengan pentolan laskar mantan bandit cum copet kota Medan bernama Timur Pane.*
- Medan Perang Pangeran Antasari
PADA April 1859, pos pertahanan pasukan HIndia Belanda di Pengaron mendapat serangan dari rakyat Benua Ampat. Ratusan orang bergerak menembus benteng Pengaron dan melancarkan tembakan bertubi-tubi. Orang-orang Belanda dibuat tak berkutik. Kejatuhan Pengaron pun tak terelakan. Serangan itu menjadi tanda dimulainya Perang Banjar. Tidak hanya Pengaron, pusat kekuatan Belanda di Banyu Irang, Bangkal, Gunung Jabuk, Marabahan, serta pulau Petak dan pulau Telo, tidak luput dari serangan dadakan laskar rakyat Banjar. Bahkan benteng di Tabonio dan Martapura mendapat gempuran terbesar dari rakyat Benua Ampat dan Benua Lima. Seluruh pertempuran dilakukan secara serentak. Otak di balik itu semua adalah Pangeran Antasari.
- Phoa Beng Gan, Jago Pengairan Tionghoa di Batavia
MUSIM kemarau panjang melanda Batavia. Saluran air di Batavia mengering. Sampan-sampan kecil tak bisa bergerak mengangkut barang kebutuhan pokok penduduk. Kala itu, 1648, saluran air menjadi urat nadi transportasi Batavia dan sampan adalah alat utamanya. Karena sampan tak bisa digunakan lagi, pemilik sampan menjualnya.Kemarau juga bikin pusing gubernur dan pejabat Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) di Batavia. Suplai obat-obatan dari negeri Belanda terputus akibat perang Belanda-Inggris. Untuk menyediakan obat, VOC harus membangun pabrik sendiri. Itu perlu suplai air yang cukup. Selama musim kemarau, air mengalir sangat kecil sehingga pabrik obat tak dapat berjalan. Seorang Tionghoa bernama Phoa Beng Gan (disebut juga Phoa Bingham) mendapat cara jitu untuk membuat suplai air kembali normal dan menghadapi musim kemarau. Dia adalah Kapitan Tionghoa ketiga di Batavia setelah Souw Beng Kong. Berbeda dari Souw yang pandai dan lihai dalam urusan niaga, Phoa lebih jago dalam teknik pengairan. Kapitan adalah jabatan tertinggi seseorang dari suatu komunitas masyarakat berdasarkan asal daerahnya pada masa VOC. Kapitan juga bertugas mengurus administrasi kependudukan masyarakatnya. Jabatan ini juga menghubungkan komunitas tersebut dengan kebijakan VOC. Misalnya ketika terjadi musim kemarau panjang, seorang kapitan harus pula memikirkan langkah penanganannya. “Gubernur Belanda meminta bantuan Phoa Beng Gan untuk mencari jalan mengatasinya,” catat Benny G. Setiono dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik. Phoa mengusulkan pembangunan saluran air baru untuk menghubungkan wilayah utara ke selatan kota. Kala itu, kota Batavia memiliki puluhan saluran atau kanal yang membentang dari barat ke timur. Tapi hampir semuanya berada di sekitar tembok kota atau wilayah yang dihuni oleh orang-orang VOC. Kanal yang melewati tembok kota dan menjulur ke selatan dibuat untuk menggiatkan daerah penanaman tebu di luar tembok kota ( ommelanden ). Tapi pembangunan kanal di luar tembok kota masih kurang. Phoa ingin kanal utara-selatan ditambah. Penambahan kanal akan memecah aliran Kali Ciliwung dari timur ke barat, lalu mengalir ke utara melewati tembok kota. Phoa menghitung, kanal baru juga akan membuat banjir dan wilayah rawa-rawa di Batavia berkurang pada musim hujan. Sementara pada musim kemarau, kanal baru akan menambah debit air. VOC menyetujui usulan itu. Begitu pula dengan masyarakat Tionghoa. “Ahli pengairan yang dapat dipercaya,” begitu orang Tionghoa dan VOC menggelari Phoa, seperti diungkap Tim Reporter penulis buku Sedjarahnya Souw Beng Kong, Phoa Beng Gan, Oey Tambah Sia . Untuk membangun kanal baru itu, Phoa meminta masyarakat Tionghoa ikut menyumbang. Sebab mereka pula yang akan menikmati hasilnya kelak. Phoa merencanakan kanal itu berfungsi pula sebagai lalu-lintas sampan.“Biayanya dipikul oleh masyarakat sendiri karena pemerintah waktu itu hanya berani membiayai dengan jumlah yang tidak berarti,” ungkap Tim Reporter. Sumbangan dari orang Tionghoa mengucur. Tak hanya berbentuk dana, tetapi juga tenaga kasar. Mereka jadi penyumbang dana sekaligus buruhnya. VOC ikut membantu pengongkosannya. Tiap melihat kemajuan pembangunan kanal baru tersebut, VOC menambah pengongkosannya. Phoa turun langsung membuat tahapan pembangunan kanal. Dia terjun ke lapangan mencari aliran Kali Ciliwung. Dia membabat hutan lebat di luar tembok kota dan sempat bertemu beberapa binatang buas. Dia tak lupa membuat peta hasil penelusurannya sehingga memudahkan pekerjaan pembuatan kanal baru. Phoa menyelesaikan semua pekerjaan dalam waktu relatif singkat. Tapi hasilnya sangat manjur. “Air-air yang menggenangi rawa-rawa, sekarang ini sudah mulai turun... Lalu-lintas air itu menambah jalannya perekonomian semakin sehat,” lanjut Tim Reporter. Orang Tionghoa menyebut kanal tersebut “Binghamvart”, merujuk pada nama Phoa Bingham atau Beng Gan. Tapi orang VOC mengubahnya jadi Molenvliet pada 1661. “Saluran ini menjadi jalur yang paling diminati penduduk,” catat Restu Gunawan dalam “ Kala Air Tak Lagi menjadi Sahabat: Banjir dan Pengendaliannya di Jakarta tahun 1911–1985 ”, disertasi di Universitas Indonesia. Terkesan dengan hasil kerja Phoa, VOC menghadiahinya sebidang tanah di luar tembok kota (sekarang terletak di wilayah Tanah Abang, Jakarta Pusat). Phoa menanam tebu di atas tanah itu. Penanaman tebu merangsang pertumbuhan daerah sekitarnya. Rumah-rumah buruh tebu pun bermunculan. Mereka membangun rumahnya dengan batu-bata dan kapur. Karena itu, pabrik batu-bata dan kapur bersitumbuh pula. VOC turut serta meramaikan wilayah itu dengan membangun pabrik penggilingan obat. Dari situlah Phoa mengusulkan lagi penambahan kanal untuk menghubungkan wilayahnya di selatan ke pusat kota di utara. Sekali lagi, Phoa berhasil melakukannya. Tapi petaka kemudian datang. Batavia yang sempat sohor sebagai Venezia dari Timur karena kanal-kanalnya itu, berubah menjadi sarang penyakit secara bertahap. Wabah malaria melanda kota, menyerang tiap penduduk tanpa pandang bulu. Orang Tionghoa terkapar tak berdaya. Beberapa mendatangi Phoa untuk meminta bantuan. Phoa membuka tangan dan pikirannya. Meski tak sekaya seperti Souw Beng Kong, dia menyumbang uang untuk pendirian rumah sakit Tionghoa untuk masyarakat. Ide ini pun berasal dari pikirannya. Phoa mengusulkan sekaligus mampu mewujudkannya. Usia Phoa menua seiring waktu, kesehatannya pun menurun. Dia merasa saatnya sudah tiba untuk mundur sebagai Kapitan. “Sudah tentu hal ini sangat dibuat menyesal, bukan saja oleh bangsanya sendiri, bahkan oleh seluruh masyarakat yang bertempat tinggal di daerah Jakarta Raya,” terang Tim Reporter. Gajah mati meninggalkan gading. Phoa mati meninggalkan saluran air dan rumah sakit.*





















