Hasil pencarian
9816 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Tantangan Mengembalikan Prasasti dari Inggris
KALA menguasai Jawa pasca-Geger Sepehi (Juni 1812), pemerintah kolonial Inggris “memanen” benda-benda budaya dan bersejarah di banyak tempat. Di Jawa Timur, mereka menjarah Prasasti Sangguran dan Prasasti Pucangan. Kini, seiring munculnya tuntutan pengembalian benda budaya dan bersejarah yang dijarah Inggris, muncul pula keinginan untuk memulangkan kedua prasasti tersebut. Namun, menurut sejarawan Peter Carey, tantangannya berliku untuk bisa menuntut kedua prasasti itu kembali ke Indonesia. “Butuh upaya yang gigih lantaran dua prasasti itu sudah berbaur dengan kebiasaan publik setempat di Inggris,” ujarnya dalam bincang virtual bersama Pemred Historia Bonnie Triyana dalam live Historia . id bertajuk “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah”, Rabu (5/8/2020). Prasasti Sangguran yang kemudian dikenal dengan Minto Stone kini berada di pekarangan kediaman eks Gubernur Jenderal Inggris di India, Lord Minto, di Roxburghshire, perbatasan Skotlandia-Inggris. Prasasti berisi kutukan dan karma yang bertarikh 982 Masehi itu merupakan rampasan dari Mojorejo (kini dekat Kota Batu, Malang, Jawa Timur), salah satu wilayah yang direbut Inggris pasca-Geger Sepehi. Kolonel Colin Mackenzie (kiri) & SS Matilda, kapal dagang EIC yang membawa prasasti kuno dari Hindia Timur ke Kolkatta (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Prasasti berbentuk tablet setinggi dua meter dan berbobot tiga ton itu diambil perwira Skotlandia Kolonel Colin Mackenzie untuk diberikan ke Gubernur Letnan Hindia Belanda Sir Thomas Stamford Raffles. Lantaran dijadikan sebagai benda persembahan untuk Lord Minto, prasasti tersebut dikirim Raffles ke Kolkata pada Mei 1813 menggunakan kapal dagang milik East India Company dari Surabaya. “Masalahnya satu isu, walaupun dulu dirampas, sekarang sudah menjadi bagian dari budaya lokal. Ini menjadi lebih rumit. Prasasti Sangguran di perbatasan Skotlandia-Inggris menjadi salah satu benda budaya yang sangat digemari pasukan Skotlandia dan setiap tahun ada semacam reuni kembali ke kediaman Lord Minto. Ada suatu peleburan budaya dari benda itu kepada budaya lokal,” tutur Peter. Hal serupa berlaku pada Prasasti Pucangan atau Calcutta Stone yang berasal dari tahun 1041. Prasasti berisi kisah kelahiran kekuasaan Raja Airlangga, pendiri Kerajaan Kahuripan, itu ditemukan sendiri oleh Raffles dan juga dikirim sebagai persembahan untuk Lord Minto. “Itu kondisinya memprihatinkan. Lokasinya ada di gudang tua yang bocor di Indian Museum dalam keadaan porak-poranda,” sambungnya. Prasasti Sangguran atau Minto Stone di pekarangan kediaman Lord Minto (Foto: Dok. Presentasi Peter Carey) Merupakan tantangan tersendiri untuk bisa mengembalikan dua prasasti dari abad kesembilan dan abad ke-11 itu. Pasalnya, pada 2006, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata bersama Kedutaan Besar RI di London sudah menyambangi pihak pewaris Lord Minto, namun gagal karena tidak ada titik temu soal kompensasi. “Harus dibuat semacam kasus. (Keluarga) Lord Minto tidak akan gamblang kirim kembali. Harus ada desakan (lagi) dari pemerintah Indonesia dengan semua fakta dari penelitian, sehingga bisa dengan laik balik ke sini,” papar Peter. Yang pasti, kata Peter, butuh persiapan banyak hal untuk menempuh jalan repatriasi yang berliku. “Harus diajukan kasus, tidak simsalabim, tidak seperti mie instan. Harus lewat ketekunan dan ketelitian membuat tafsiran, dan melalui jaringan diplomasi antara Pak (Presiden RI) Jokowi dengan (Perdana Menteri Inggris) Boris Johnson, antara duta besar, ada pengajuan kepada pemerintah dan penghakiman (jalur hukum, red. ),” lanjutnya. Sejarawan Peter Carey (kanan) dalam bincang live “Memburu Harta Jarahan: Repatriasi Benda Bersejarah dari Negeri Penjajah” Peter juga memberi warning agar pihak Indonesia harus menyiapkan dan meyakinkan bahwa dua benda itu bisa ditempatkan di lokasi yang lebih baik. Sehingga, jika kelak dikembalikan, kedua prasasti tidak seperti Prasasti Pucangan di Kolkata yang diletakkan di gudang yang bocor. “Seumpama benda (prasasti) itu kembali, apakah situasinya akan lebih baik dari sebelumnya? Pengalaman saya pada 1989 dengan British Council untuk mengembalikan 75 naskah yang diambil Inggris, kita kembalikan dalam bentuk microfilm kepada pihak Museum Nasional dan Keraton Yogyakarta. Dalam rentang 10 tahun itu hancur semua. Sebab tidak disediakan ruang yang atmospheric , ruangan ber-AC, ditaruh di lemari, tidak dipakai,” ujar Peter mencontohkan. “Harus ada kebijakan persiapan menerima kembali supaya lebih bermanfaat. Mesti ada riset yang menjelaskan benda ini milik si anu, si itu. Harus ada tafsiran berapa nilainya. Semua harus teliti, terperinci, dan tepat sasaran. Kalau tidak, jangan harap (bisa kembali),” tutupnya.
- Misi Rahasia Jenderal S. Parman
SUATU hari Willem Oltmans, jurnalis Algemeen Handelsblad mendapat telepon dari Kolonel Sutikno Lukitodisastro, Atase militer (Atmil) Indonesia di Amerika Serikat (AS). Sutikno memberitahu ada seorang jenderal dari Jakarta yang ingin berbicara dengan Oltmans. Sang jenderal menginap di kamar 1040 Hotel Hilton di Madison Avenue, New York. Oltmans pun segera menghampiri ke sana. “Saya diterima oleh seorang bapak yang ramah dengan pakaian yang sesuai dengan ukuran badannya, yang ternyata adalah Jenderal S. Parman”, kenang Oltmans dalam memoarnya Bung Karno Sahabatku . Oltmans mencatat, pertemuan dengan S. Parman terjadi pada 18 Oktober 1964. Di Belanda, Oltmans punya reputasi sebagai jurnalis investigatif yang tidak disukai pemerintah Belanda. Tulisan-tulisannya yang mendukung Indonesia dalam sengketa Irian Barat menyebabkannya dirinya kena cap persona non-grata lantas pindah ke AS. Secara pribadi, Oltmans juga bersimpati kepada Presiden Sukarno. Kepada Oltmans Parman berkisah, dirinya telah mengenal Bung Karno sejak berusia 16 tahun. Sewaktu konflik melanda tentara dalam Peristiwa 17 Oktober 1952, Bung Karno sempat tidak suka kepada Parman mengingat dia disebut-sebut sebagai orang-nya Nasution. Namun ketika Zulkifli Lubis (yang merupakan perwira intel kesayangan Bung Karno saat insiden itu berlangsung) terlibat dalam PRRI-Permesta, “hubungan antara Bapak dan saya baik kembali,” kata Parman ditirukan Oltmans. Dari Atmil ke Asisten I/Intel Siswondo Parman lahir di Wonosobo, Jawa Tengah, 4 Agustus 1918. Dalam Siapa Dia? Perwira Tingggi TNI-AD , Harsja Bachtiar mencatat karir militer Parman dimulai sebagai penerjemah kempetai (polisi militer) di zaman Jepang. Setelah Indonesia memperoleh kedaulatan, Parman menjadi komandan Corps Polisi Militer (CPM). Pada 1951, Parman sempat mengikuti pendidikan Associate Military Company Officer School di Georgia, AS. Pada 1959, Parman diangkat menjadi atase militer untuk Kerajaan Inggris dan bertugas di London. Tugas sebagai Atmil dijalaninya selama tiga tahun. Di periode itu, Jenderal Abdul Haris Nasution merupakan Kepala Staf Angakatan Darat (KSAD). Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 5: Masa Orde Lama mencatat, Parman menjadi salah satu Atmil Indonesia yang ikut menjalankan kampanye Irian Barat di Eropa Barat. Parman tergabung bersama Kolonel Pandjaitan di Bonn dan Kolonel Rachmat Kartakusumah di Paris dalam “Operasi C”. Nasution menyebut misi para Atmilnya tersebut sebagai diplomasi senyap untuk mempengaruhi sikap tokoh-tokoh penting di Belanda. Ketika Nasution berkunjung ke London pada 1961, Parman turut menyambut. Di hotel, kata Nasution, Parman dengan teliti menyiapkan gayung dan lain-lain kebiasaan Indonesia di kamar mandi. “Agar merasa tidak terlalu asing,” kata Parman ditirukan Nasution. Pada 1962, Parman dipanggil pulang ke Indonesia. Pimpinan dalam tubuh Angkatan darat beralih dari Nasution ke Ahmad Yani. Parman kemudian ditunjuk sebagai Asisten I Menpangad yang mengurusi bidang intelijen. Pada 1964, Parman mendapat kenaikan pangkat sebagai mayor jenderal. Di dalam negeri, Angkatan Darat menghadapi lawan politiknya Partai Komunis Indonesia (PKI). Parman merupakan salah perwira yang menolak tegas wacana Angkatan Kelima gagasan PKI. Dalam rencana itu, buruh dan tani dipersenjatai untuk mengimbangi tentara. “Jabatan S. Parman sebagai pejabat intelijen menyebabkan ia banyak mengetahui kegiatan rahasia PKI. Karena itulah ia menjadi salah seorang pejabat teras Angkatan Darat yang termasuk daftar yang akan dilenyapkan PKI,” tulis tim peneliti Departemen Sosial RI dalam Wajah dan sejarah Perjuangan Pahlawan Nasional Seri IV . Wara-wiri Lintas Negara Mengurusi intelijen Angkatan Darat membuat Parman punya jaringan di mana-mana. Tidak terkecuali di luar negeri. Keberadaan Parman di negeri asing pernah pula disaksikan sejawatnya yang lain, Brigjen Soegih Arto, duta besar Indonesia untuk Birma. Pada pertengahan 1964, Sukarno mengutus Soegih Arto ke Inggris untuk menjajaki perundingan penyelesaian konfrontasi Malaysia. Soegih Arto berangkat ke London melalui Paris. Ketika singgah di rumah Atmil Indonesia di Paris, Soegih Arto bertemu dengan Parman. Soegih Arto heran mengapa Parman berada di Paris namun sungkan bertanya. Soegih Arto kemudian mengetahui bahwa Parman juga mengemban misi yang sama dengannya. Jika Soegih Arto ditugaskan berhubungan dengan Kementerian Luar Negeri Inggris, maka Parman punya saluran ke Markas Besar Angkatan Perang Inggris. Keesokan harinya, Soegih Arto melihat Atmil Indonesia untuk Inggris, Kolonel Sasrapawira menjemput S. Parman. “Beliau diutus karena Beliau adalah Chief Intelligence Angkatan Darat, tetapi juga karena pernah menjabat sebagai Atase militer di Inggris,” kata Soegih Arto dalam Sanul Daca: Pengalaman Pribadi Letjen (Pur.) Soegih Arto . Menurut sejarawan Universitas Indonesia Linda Sunarti, Parman merupakan utusan Yani sebagai peace feelers atau penjajak perdamaian dengan kemungkinan berunding dengan militer Inggris. Dalam upaya itu, Parman mengadakan pembicaraan rahasia dengan Kolonel Berger, Atmil Inggris untuk Prancis pada 9 Oktober 1964. Meski demikian, pembicaraan tidak berlanjutkan dengan perundingan resmi antar negara. “Pertemuan antara Mayjen S. Parman dan Kolonel Berger hanya berhenti sampai sebatas itu saja, tidak ada pembicaraan lebih lanjut,” tulis Linda dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia berjudul “Penyelesaian Damai Konflik Indonesia Malaysia 1963--1966”. Koneksi dengan CIA? Sepekan lebih berselang, Parman bersua dengan Oltmans di New York. Pembicaraan diantara mereka kemudian menyinggung nama Werner Verrips. Menurut Oltmans, Verrips adalah orang Belanda agen CIA. Pada 1950, Verrips terlibat perampokan Bank Indonesia di Surabaya dan S. Parman adalah perwira CPM yang menangkapnya. Mengenai sosok Verrips, Oltmans mengonfirmasi sejumlah hal kepada Parman. Kepada Oltmans, Parman membenarkan dirinya mengenal Verrips secara pribadi. Mereka bahkan baru bertemu di London untuk membahas masalah Malaysia. Namun Parman membantah pengakuan Verrips mengenai kedekatannya dengan Ahmad Yani. “Ia membual,” kata Parman, “Ia sama sekali tidak mengenal Yani.” Parman kemudian meminta bantuan Oltmans untuk dapat bertemu Verrips. Dengan menggunakan telepon hotel, Oltmans menelepon rumah Verrips di Huister ter Heide, Utrecht, Belanda. Istrinya, Anneke, memberikan nomor tempat Verrips dapat dihubungi. Segera Parman dan Verrips mengobrol lewat telepon. “Kedua 'sahabat lama’ itu mengobrol lewat telepon lintas-atlantik. Tak lama lagi mereka akan bertemu di Belanda, atau mungkin di London,” kata Oltmans. Pada 4 Desember 1964, Verrips mengalami kecelakaan mobil. Dia meninggal dalam peristiwa nahas itu. Apakah kejadian yang menimpa Verrips itu berhubungan dengan Parman, Oltmans sendiri tidak dapat membuktikannya. Pada awal Januari 1965, Oltmans kembali ke rumahnya di Long Island. Dia kemudian menemui Zairin Zain, duta besar Indonesia untuk AS. Dari Zain, Oltmans mengetahui bahwa dirinya juga menjadi target pelenyapan. Kata Zain, Verrips mengetahui terlalu banyak dan selalu ingin buka mulut kepada siapa saja. Sementara itu, Oltmans selalu ingin memuat segala yang ia ketahui dalam koran. Menurut Manai Sophiaan dalam Kehormatan Bagi yang Berhak: Bung Karno Tidak Terlibat G30S/PKI, Oltmans dan Verrips sudah mengetahui adanya kegiatan mencari dukungan dari Belanda dan Washington atas rencana hendak menggulingkan Sukarno. “Rencana yang tidak mereka setujui dan dikhawatirkan akan melaporkannya kepada Sukarno.”*
- Wacana Pengembalian Benda Jarahan Inggris
PADA 1812, pecah perang Sepehi atau Sepoy antara Kesultanan Yogyakarta melawan Inggris. Dinamakan perang Sepehi atau Sepoy karena kala itu Inggris membawa bala tentara Sepoy dari India. Gabungan pasukan Inggris, Sepoy, dan Mangkunegaran itu berhasil menaklukkan benteng Keraton Yogyakarta. Sultan Hamengku Buwono II pun jatuh. Usai geger Sepehi, Inggris menjarah keraton di selatan Jawa itu. Selama empat hari hilir mudik, peti-peti berisi harta benda dari keraton diangkut dengan gerobak. Nilainya melebihi 120 juta dolar AS di masa kini. Hasil jarahan itu diangkut ke kepatihan. Dari manuskrip hingga barang berharga lainnya dibawa ke Rustenburg (keresidenan) lalu dibagikan ke perwira dan serdadu Inggris-India. "Di dalam keresidenan (jarahan, red. ) disortir semua," kata Peter Carey dalam Tur Sejarah "Jejak Inggris di Jawa 1811-1812”, di Yogyakarta, Rabu, 30 Agustus 2017. Kisah penjarahan besar-besaran ini belakangan dibuka lagi oleh keturunan Sultan Hamengku Buwono II. Mengutip krjogja . com , Sekretaris Pengusul Pahlawan Nasional HB II Fajar Bagoes Poetranto juga mendesak pemerintah untuk membantu pengembalian benda-benda hasil jarahan itu. “Kami mengharapkan harta dan benda bersejarah yang dijarah tentara Inggris pada Perang Sepehi tahun 1812 untuk dikembalikan. Barang-barang tersebut merupakan salah satu bagian dari milik Keraton Yogyakarta di masa Raja Sri Sultan Hamengkubuwono II,” ujar Bagoes Rabu, 22 Juli 2020. Bagoes juga menyebut, dalam hasil jarahan itu terdapat logam emas sebanyak 57.000 ton. Namun, surat bukti kepemilikan atau kolateralnya juga dirampas. “Kami meminta agar emas tersebut dikembalikan kepada pihak Keraton atau para keturunan dari Sinuwun Sri Sultan Hamengkubuwono II,” kata Bagoes, seperti dikutip krjogja . com . Riset Asal-Usul Pernyataan Bagoes tentang pengembalian barang jarahan itu, terutama mengenai emas, lalu ramai diperbincangkan. Sayangnya, tuntutan pengembalian barang-barang yang dikeluarkan Bagoes tidak didasari provenance research. Padahal, menurut Ketua Departemen Sejarah Universitas Gadjah Mada Sri Margana, provenance research merupakan dasar untuk mengembalikan benda-benda tersebut. Riset tersebut untuk membuktikan bahwa benda-benda yang dimaksud benar-benar berasal dari negara jajahan. “Jadi tidak sekedar o...iya ini kayaknya dari Indonesia, kemudian ya udah dikembalikan, enggak. Tetapi harus dibuktikan bahwa memang itu asal-usulnya dari catatan-catatan historis, catatan-catatan penting yang bisa dipakai sebagai landasan mengembalikan pada yang punya,” kata Sri Margana menjelaskan kepada Historia . Selain itu, provenance research juga penting dalam rangka produksi pengetahuan. Benda-benda yang diteliti tidak hanya dikembalikan untuk disimpan lagi di museum, melainkan dapat menghasilkan pengetahuan yang bermanfaat. Hasil penelitian itu nantinya akan mengisi celah-celah dalam historiografi sebuah bangsa dan menjadi bukti baru dalam narasi sejarah yang hilang. “Jadi dia harus memberikan efek bagi pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Itulah mengapa syaratnya itu. Syarat pengembalian ada provenance research . Yaitu kajian yang serius, kajian yang mendalam terhadap fungsi benda itu, manfaat benda itu, bagi kebudayaan Indonesia, bagi ilmu pengetahuan, bagi sejarah itu apa. Nah itu yang kemudian dijadikan dasar,” sambung Margana. Hal itu harus dilakukan terhadap benda-benda bersejarah dari Yogyakarta di Inggris mengingat banyaknya koleksi museum-museum Inggris yang berasal dari negara jajahan. British Museum, misalnya, mayoritas koleksinya berasal dari wilayah koloni di Asia, Afrika, dan Oseania. Bahkan, benda-benda tersebut menjadi ikon museum yang mengundang banyak pengunjung. Namun, sampai saat ini tampaknya belum ada upaya Inggris untuk melakukan pengembalian atau repatriasi. “Setau saya Inggris juga belum melakukan apa-apa. Bahwa negara-negara di Afrika mulai membuat tuntutan, iya,” terang Margana. Diplomasi Antar-Negara Wacana dekolonisasi museum memang tengah ramai di Eropa. Museum-museum yang berisi benda-benda hasil rampasan selama masa kolonial dituntut untuk dikembalkan ke negara asal. Belum lama ini, Belanda telah mengembalikan keris Pangeran Diponegoro beserta 1499 benda budaya dan bersejarah lain dari Museum Nusantara di Delf. Sri Margana, yang juga tergabung dalam tim ahli dari Indonesia dalam pengembalian keris Diponegoro, menyebut bahwa hal yang sama juga bisa dilakukan untuk benda-benda bersejarah di Inggris. Kuncinya adalah upaya diplomatik antar-kedua negara. “Jadi sebetulnya, kemungkinan pengembalian itu sangat mungkin. Tapi harus dilakukan dengan upaya-upaya diplomatik yang saling menghormati masing-masing. Jadi setiap negara itu kan punya aturan, punya perwakilan diplomatik,” ujarnya. Belajar dari pengalaman hubungan Indonesia dengan Belanda, proses repatriasi berlangsung bertahap sejak 1975. Kesepakatan-kesepakatan dan kerjasama dalam penelitian juga diadakan. Dari sana dapat diketahui mana benda yang merupakan hasil rampasan atau jarahan secara paksa dan mana yang hadiah atau sukarela. Setelah benda-benda tersebut dikategorigan sebagai hasil ambil paksa, dilakukanlah negosiasi untuk dikembalikan. Sementara untuk benda-benda persembahan atau hadiah, tetap menjadi hak milik dan tidak perlu dikembalikan ke negara jajahan. “Jadi kalau barang-barang yang dari Inggris ini dilakukan, ya saran saya tempuhlah cara-cara yang terhormat. Cara-cara diplomatik sebagai dua negara yang berdaulat, yang memiliki cara-cara tersendiri atau prosedur sendiri dalam hubungan antar negara,” kata Margana. Margana menambahkan, repatriasi tentu saja tidak bisa dilakukan antara negara terhadap individu. Pasalnya, benda-benda bersejarah tersebut telah menjadi properti dari negara yang berdaulat. Lembaga-lembaga negara juga tidak berurusan dengan individu, melainkan dengan lembaga negara lain yang setingkat. “Itu harus perwakilan antar-negara. Tidak bisa individu. Seperti kalau Belanda menyerahkan keris, itu nggak bisa diserahkan pada keluarganya Diponegoro. Nggak bisa. Diserahkannya kepada Museum Nasioal karena itu aset bangsa. Tidak bisa dimiliki secara pribadi,” tegasnya.*
- Zaman Gorombolan DI/TII
TJUTJU Soendoesiyah (74) masih ingat kedatangan pamannya bernama Sersan Mayor Ombi ke rumahnya pada suatu hari di tahun 1956. Selain temu kangen setelah banyak bertugas ke luar daerah, Ombi juga bermaksud memberi tahu sang kakak, ibunya Tjutju, bahwa dirinya mulai hari itu ditugaskan di Bingawatie. Bingawatie adalah nama tempat yang terletak di Kampung Cangklek, Kabupaten Cianjur. Di sana didirikan sebuah pos militer untuk mengadang gerakan gerilyawan DI/TII dari arah Gunung Gemuruh dan Gunung Gede. "Ya kalau dari rumah saya di Salagedang, jaraknya ada sekitar 7 km," ungkap nenek dari 6 cucu itu. Beberapa hari setelah kedatangan sang paman, Tjutju mendengar berita duka: Pos Bingawatie pada suatu malam diserang sekaligus dibakar oleh gorombolan , sebutan orang Sunda kepada gerilyawan DI/TII. Tak ada yang tersisa. Bangunan pos dan para penghuninya nyaris menjadi abu. "Jasad Mang Ombi sendiri ditemukan sudah merengkel (mengerut), besarnya menjadi seperti bayi yang baru dilahirkan," kenang Tjutju. Tak lama setelah kehilangan sang paman, Tjutju mendengar kabar sedih kembali. Kali ini dari selatan Cianjur. Diberitakan uaknya yang bernama Tantan tewas disembelih oleh gorombolan saat mereka menjarah kampungnya. "Waktu zaman gorombolan , hampir tiap waktu kita selalu kehilangan orang-orang yang kita sayangi dan kita kenal sangat akrab. Saat itu pertempuran banyak terjadi, korban pun banyak berjatuhan. Situasi pokoknya sangat kacau," ujar Tjutju. Berbeda dengan Tjutju, Kasa bin Sukadma (76) yang pada 1961 masih berumur 17 tahun mengalami secara langsung kegilaan perang di zaman itu. Bahkan bisa dikatakan dia merupakan salah satu korban keganasan para gorombolan . "Saya harus kehilangan tangan kiri saya yang diteukteuk (dipotong) oleh salah seorang gorombolan yang menyerang kampung saya," kenang warga Desa Parentas, Kecamatan Cigalontang, Kabupaten Tasikmalaya itu. Ceritanya, pada 17 Agustus 1961 tepat jam 12 malam, ratusan gerilyawan DI/TII menyerang desanya. Penyerangan itu sejatinya menyasar pos tentara di desa tersebut, namun tak ayal mengorbankan juga banyak warga desa. Kasa bersembunyi di tengah sawah yang siap panen. Namun, dasar sial, dia ditemukan oleh enam gerilyawan DI/TII yang memeriksa setiap kotak sawah secara teliti. "Mereka langsung membacok saya dengan golok panjangnya dan kena ke tangan kiri saya hingga putus. Nyawa saya selamat karena begitu tangan saya putus langsung pingsan dan dianggap sudah mati," ujar lelaki yang saat ini bekerja sebagai petani itu. Akibat penyerangan itu, 51 warga Parentas tewas seketika. Puluhan orang lainnya luka-luka. Pihak tentara kehilangan tiga prajuritnya. Sementara itu, di pihak gerilyawan DI/TII hanya ditemukan satu orang tewas dengan lubang peluru di kepala. Selain kegetiran dan kesedihan, zaman gorombolan pun menguak kisah-kisah jenaka. Sudah menjadi rahasia umum jika pada saat itu rakyat berada dalam dilema menghadapi dua pihak yang tengah berperang. Maka muncullah istilah "kongres" kepanjangan dari hareup nyokong ka tukang beres (di depan bilang mendukung ke belakang bilang beres). "Rakyat jadi berwajah dua: kalau siang mendukung tentara, nah malamnya membantu gorombolan ," kata Usep Romli H.M., wartawan senior Jawa Barat sekaligus pelaku sejarah zaman gorombolan . Usep yang saat itu warga Cibiuk, Garut memiliki pengalaman lucu. Menjelang DI/TII menyerah kepada pemerintah, dia dan kawan-kawannya ditugaskan oleh seorang pemuka masyarakat mengantarkan kebutuhan logistik untuk urang leuweung (orang hutan, istilah lain untuk gerilyawan DI/TII). Logistik itu berupa makanan enak, seperti nasi putih, sambal, goreng ikan gurame, lalapan, pepes ikan dan lain-lain. Sampai di tempat yang biasanya warga desa “menyetor” logistik, para utusan DI/TII ternyata belum datang. Hingga tengah malam, ternyata tak satu batang hidung pun gorombolan terlihat. Apa boleh buat, logistik itu akhirnya "disikat" saja oleh para pengantar hingga ludes. Singkat cerita, para pengantar yang kekenyangan itu pun sampai kembali di desanya. Saat itulah, sang tokoh masyarakat menemui mereka dan langsung bertanya: "Sudah kalian sampaikan logistiknya?" "Sudah Pak Haji, beresss," ujar Usep. "Oh begitu. Tapi kok mereka tidak memberikan kode tembakan seperti biasanya kalau sudah menerima logistik, ya?" tanya Pak Haji lagi. "Hmmm, oh itu. Mereka bilang sih katanya kehabisan peluru," jawab Usep, sekenanya. Walau sedikit bimbang, Pak Haji pun mengangguk-anggukan kepalanya. Dan soal logistik untuk "orang hutan" itu pun tetap menjadi rahasia Usep dan kawan-kawannya hingga bertahun-tahun, jauh setelah DI/TII turun gunung dan menyerah kepada pemerintah.*
- Dari Syal hingga Dasi
Muasal Penggunaan Syal Syal sekarang identik dengan fesyen. Ia digunakan sebagai aksesoris untuk mempercantik penampilan. Namun, siapa sangka dulu syal lebih sering digunakan lelaki ketimbang perempuan? Pada masa Romawi Kuno, lelaki diketahui kerap melilitkan sepotong kain di leher. Tujuannya untuk menyeka keringat. Ini sesuai dengan namanya, sudarium atau kain keringat. Tak heran, banyak yang memandang Romawi sebagai tempat muasal syal. Setelah kerap dipakai lelaki, barulah perempuan ikut melilitkan syal di leher. Umumnya, syal terbuat dari wol dan sutra. Sementara itu, di Tiongkok syal digunakan untuk mengukur kedudukan seseorang, terutama dalam pemerintahan dan militer. Pada abad ke-17, beberapa tentara Eropa melilitkan kain katun di lehernya untuk membedakan dengan tentara lainnya. Fungsi Kipas bagi Penguasa Beberapa abad lampau, kipas tak sekadar penyejuk badan kala cuaca panas. Kipas juga menunjukkan kemegahan. Penguasa Romawi Kuno biasa mempekerjakan budakbudak untuk mengipasi mereka. Tradisi ini terus bertahan di Eropa hingga Abad Pertengahan. Ratu Inggris Elizabeth I (1558–1603) tercatat gandrung terhadap kipas. Ia hampir tak bisa lepas dari kipas kesayangannya, terbuat dari bulu burung nan indah. Batu pualam atau kulit kerang menambah keindahannya. Louis XVI (1754–1793) tak mau kalah. Penguasa Prancis ini memiliki koleksi kipas yang berhiaskan intan berlian dan emas. [Hendaru Tri Hanggoro] Jas untuk Acara Resmi dan Santai Khalayak Eropa biasa menggunakan jas sejak abad ke-18. Dan memang awal penggunaannya ditujukan untuk acara resmi. Dress-coat atau frock coat adalah jas resmi pas badan yang bagian belakangnya memiliki ekor, sedangkan bagian depannya berbentuk meruncing atau kotak. Tapi itu berubah pada abad ke-19. Sejumlah pria mengenakan setelan jas baru untuk bersantai, disebut lounge . Potongannya yang tidak resmi membuat setelan lounge sangat populer di kalangan seniman, bohemian, dan intelektual. [Hendaru Tri Hanggoro] Fungsi Dasi di Masa Lampau Sehelai kain yang menjuntai dari leher hingga dada ini sudah dikenal sejak zaman Romawi Kuno. Biasanya dipakai oleh juru bicara. Fungsinya sebagai pelindung tenggorokan dan dada. Mereka melilitkan seikat kain dari leher hingga ke dada untuk menjaga kualitas suara. Mereka menggunakan dasi kala berkumpul di agora , sebuah forum publik. Agora berlangsung dalam koloseum atau teater besar. Sementara di Tiongkok dasi berfungsi sebagai aksesoris prajurit. Prajurit Kroasia mengikuti cara ini pada abad ke-17 M. Dasi menjadi pembeda satu divisi tentara dengan divisi lainnya. Pada era Renaisans, masyarakat Eropa mengenal ruff , kerah kaku dari kain putih menyerupai piringan yang melingkari leher. Pemakaian ruff yang kerap menyebabkan iritasi tergeser oleh cravat , sehelai sapu tangan terbuat dari bermacam jenis kain yang diikatkan ke leher. Penggunaan cravat mencuat di Prancis pada medio 1600-an. Ia diperkenalkan orang-orang Kroasia yang jadi tentara sewaan Raja Louis XIII. Sehingga, kata cravat pun berarti “penduduk dari Kroasia”. Keindahan cravat mewarnai gaya berbusana di Eropa. Ia pun menjadi penanda status sosial si pemakai, hingga menjadi dasi yang kita kenal hari ini. [Martin Sitompul]
- Dari Pengelana Melayu hingga Bajak Laut Asing
Ora ng Melayu Mengelilingi Dunia Enrique Malaka, salah satu awak ekspedisi Ferdinand Magellan (1519–1522). Beberapa sejarawan meyakini Enrique seorang Melayu yang diambil sebagai budak oleh Magellan pascapenaklukan Malaka oleh armada Portugis tahun 1511. Ketika Magellan kembali ke Eropa, Enrique dibawa serta. Magellan lalu pergi ke Spanyol untuk meminta sponsor untuk ekspedisinya mencari rute ke kepulauan rempah - rempah. Raja Charles V setuju mensponsori dan mengirimkan armada yang dipimpin Magellan. Enrique diikutsertakan sebagai penerjemah. Ekspedisi itu berangkat dari Sevilla pada 10 Agustus 1519, menyeberangi Samudera Atlantik, melayari pantai timur Amerika Selatan, hingga akhirnya memasuki Samudera Pasifik. Armada tiba di Filipina pada April 1521. Ketika Magellan terbunuh dalam konflik dengan penduduk setempat, Enrique memutuskan menetap di sana. Sisa dari armada Magellan melanjutkan perjalanan dan baru tiba kembali ke Spanyol pada 6 September 1522. Marco Polo dari Timur Rabban Bar Sauma (1220–1294) sering disebut sebagai “Marco Polo dari Timur” karena prestasinya mencapai Eropa dari Asia melalui jalur sutra. Seorang Mongol kelahiran Beijing ini adalah rahib gereja Nestorian, sekte Kristiani yang berkembang pesat di Asia. Dia mendapat perintah dari Khan Mongol untuk menjadi diplomat ke Eropa sekaligus menjalin hubungan politik dengan Prancis untuk menekan dominasi kaum muslim Mamluk di Timur Tengah. Pada 1287, dia dan rombongannya berangkat ke Eropa dan mencapai Konstantinopel dan Sicilia. Pada 1288, dia mencapai Paris, Prancis, dan bertemu dengan Raja Edward I di Bordeaux. Di Roma, dia juga bertemu dengan Paus Nicholas IV. Namun sayangnya, raja-raja Eropa tidak tertarik menjalin hubungan politik dengan bangsa Mongol. Dia menghabiskan masa tuanya di Baghdad sambil menulis catatan perjalanannya, The Monks of Kublai Khan: Emperor of China , yang kali pertama diterbitkan Sir EA Wallis Budge di Inggris pada 1928. Negara Pertama Mencapai Kutub Selatan Roald Amundsen beserta tim ekspedisi dari Norwegia menjadi yang pertama mencapai Kutub Selatan magnetis, ujung medan magnet yang lurus menembus pusat bumi dan menjadi sumbu putar bumi. Mereka tiba pada 14 Desember 1911, empat minggu lebih awal dari ekspedisi Robert Falcon Scott yang membawa panji Inggris. Keberhasilan heroik Amundsen kemudian diberitakan besar-besaran dan dirayakan secara menyeluruh oleh publik dunia. Amundsen lalu menulis kisah keberhasilannya ini dalam laporan berjudul The South Pole: An Account of the Norwegian Expedition in the Fram, 1910-1912 . Bersama dengan Ernest Shackleton dan Robert Falcon Scott dari Inggris, serta Douglas Mawson dari Australia, Amundsen menjadi tokoh kunci ekspedisi penjelajahan Antartika pada Zaman Heroik Penjelajahan Antartika selama pergantian abad ke-20. Setidaknya 17 ekspedisi besar dari 10 negara terjadi selama masa tersebut, dan menjadikan Antartika sebagai pusat riset internasional. Kota Dikuasai Bajak Laut Asing Kota Padang di Sumatra Barat pernah dikuasai gerombolan bajak laut La Meme yang membawa bendera Prancis pada 1793. Menurut E. Netscher dalam Padang, In het laatst der XVIIIe eeuw , La Meme berangkat dari Bordeaux pada 1792 sebagai “utusan” Prancis untuk mengambil alih kekuasaan VOC di Padang setelah Kerajaan Belanda ditaklukkan pasukan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte. Melalui pernyataan kapitulasi oleh opperkoopman Padang saat itu, P.F. Chasse, La Meme menyatakan kota Padang takluk dan menjadi daerah kekuasaan Prancis. La Meme menguasai kota Padang selama 16 hari dan selama itu penduduk setempat diminta menyetorkan uang sebanyak 70.000 ringgit sebagai setoran harta jarahan.
- Raja-raja Awal Nusantara yang Berkurban
Kurban hewan muncul dalam beberapa prasasti yang dikeluarkan kerajaan-kerajaan awal di Nusantara. Seperti Prasasti Yupa dari Kerajaan Kutai Kartanegara, Prasasti Tugu dari Kerajaan Tarumanegara, dan Prasasti Dinoyo dari Kerajaan Kanjuruhan, Jawa Timur. "Dalam Prasasti Yupa dan Prasasti Tugu dikisahkan pengurbanan lembu dan jumlahnya fantastis," kata Dwi Cahyono, arkeolog dan dosen sejarah Universitas Negeri Malang, kepada Historia.id . Dalam salah satu Prasasti Yupa yang ditemukan di Muarakaman, Kalimantan Timur, disebutkan Raja Mulawarman memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana untuk upacara di tanah suci bernama Vaprakeswara. "Di dalam Prasasti Yupa semacam jadi penekanan, bahkan disebutkan tiang atau tugu yang dijadikan tempat mengikat hewan kurban, yang kemudian disebut yupa itu," kata Dwi. Dwi menghubungkan kurban itu dengan kepercayaan Weda yang berkembang pada awal masa sejarah di Nusantara. Dalam praktiknya, Weda menekankan ritual pengorbanan dan brahmana menempati posisi sentral. "Di India awalnya Weda, baru berkembang jadi Hinduisme. Abad-abad awal di Nusantara, religinya yang masuk juga Weda," kata Dwi. Begitu pula dalam Prasasti Tugu yang ditemukan di Kelurahan Tugu, Koja, Jakarta Utara. Awal perkembangan Tarumanegara hanya berselang sebentar setelah munculnya Kutai Kertanegara. Karenanya ada kemungkinan agamanya sama. "Ada beberapa orang berpendapat begitu (pengaruh tradisi Weda, red .). Saya sendiri juga lebih ke situ. Ini berkaitan dengan kepercayaan Weda pada abad ke-4 hingga ke-5," kata Dwi. Tradisi dari India Hariani Santiko, arkeolog Universitas Indonesia, dalam "The Vedic Religion in Nusantara" yang terbit dalam jurnal Kalpataru, Vol. 31 No. 2, Desember 2013, menjelaskan penyebaran agama Weda di India kira-kira antara 2500–1500 SM. "Ini adalah periode di mana Arya, setelah masuk ke India dari Asia Tengah, pertama kali menetap di lembah Indus, dan secara bertahap memperluas dan mengembangkan budaya dan agama mereka," tulis Hariani. Weda memiliki empat kitab sumber,yaitu Rgveda (nyanyian pujian untuk para dewata), Yajurveda (petunjuk ritual pengurbanan), Samaveda (nyanyian dalam ritual pengurbanan), dan Atharvaveda (mantra dan ajaran yang bersifat magis). Hariani menjelaskan, ritual pengurbanan menempati posisi penting dalam kepercayaan Weda. Termasuk mempersembahkan susu, biji-bijian, jus tanaman dan buah-buahan. Ada dua jenis upacara pengurbanan. Pertama, pengurbanan sederhana di rumah masing-masing dan dipimpin oleh penghuni rumah. Makanan sesaji dimasak terlebih dahulu kemudian dipersembahkan kepada Dewa Agni, Prajapati, dan Surya. Kedua, pengurbanan besar yang dilakukan oleh para brahmana di tanah lapang atau dikenal sebagai ksetra . Altar dan yupa atau tiang pengikat kurban ditegakkan di dekat pintu masuk ksetra. "Yupa diukir dari batang pohon khusus, tetapi pada periode kemudian, ketika ritual Weda dihidupkan kembali pada periode Hindu, yupa dibuat dari batu," tulis Hariani. Menurut arkeolog Sri Soejatmi Satari dalam "Upacara Weda di Jawa Timur: Telaah Baru Prasasti Dinoyo" yang dipresentasikan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi 2005, upacara kurban hewan ( pasubandha ) merupakan salah satu ritual dalam kepercayaan Weda sebagai tahapan dalam penghormatan kepada Dewa Agni (Dewa Api). Hewan yang dikurbankan diikat di tempat terbuka. Permukaannya ditutup rumput. "Hal yang menandai upacara Weda adalah diadakannya upacara kurban binatang. Termasuk lembu yang dalam agama Hindu jelas dilarang," tulis Soejatmi. Agama India Pertama Ada tiga raja dalam prasasti yang mengundang para brahmana untuk melakukan persembahan, yaitu Raja Kutai Kertanegara Mulawarman (abad ke-4), Raja Tarumanagara Purnawarman (abad ke-5), dan Raja Kanjuruhan Gajayana (abad ke-7). Tujuh prasasti yupa yang dikeluarkan Mulawarman diperkirakan dari abad ke-4-5. Isinya banyak menceritakan sumbangsihnya pada upacara keagamaan. Salah satu prasasti menyebutkan Mulawarman menyumbang emas yang banyak. Lima prasasti menyebutnya memberikan 20.000 ekor sapi, 11 ekor lembu jantan, monyet merah, banyak minyak wijen, lampu dengan bunga, air sapi (mungkin susu), dan tanah ksetra . "Setelah mempelajari prasasti Mulawarman, saya menganggap bahwa Mulawarman telah memeluk ajaran Weda," tulis Hariani. Alasan yang mencolok karena Mulawarman melakukan persembahannya di ksetra , bukan di kuil ( prasada ). Dalam Prasasti Tugu disebutkan Purnawarman menyumbang 1000 ekor sapi sebagai persembahan untuk upacaya yang dilakukan oleh para brahmana. "Tersebut nama dua kanal yang digali atas perintah Raja Purnawarman, yaitu sungai Gomati dan Candrabhaga. Kedua nama itu adalah anak-anak sungai Indus, permukiman pertama Arya di India," tulis Hariani. Selain prasasti, ada catatan tertulis yang berasal dari era Tarumanagara. Penulisnya Faxian, pengelana Buddha dari Tiongkok, yang pergi ke India untuk mengunjungi tempat-tempat suci Buddha. Pada 414, Faxian kembali ke negaranya melalui Sri Lanka. Namun, dalam perjalanan, kapalnya diserang badai. Kapalnya karam di Ye-bo-di yang mungkin sebutan untuk Jawa. Menurut Faxian, hanya ada sedikit umat Buddha di Yebodi. Namun, cukup banyak brahmana yang tidak menjalankan agama mereka sebagaimana mestinya. "Apakah Faxian melihat ritual Weda di Tarumanagara, yang berbeda dari ritual Hindu di India? Jadi, ia menyimpulkan bahwa agama di Tarumanagara tidak dipraktikkan dengan benar?" tulis Hariani. Hariani menyebut ritual Weda mungkin juga dilakukan di Kota Kapur, Bangka. Di antara tinggalannya adalah altar Weda dan fragmen arca Wisnu yang mungkin dari abad ke-5-6. Dari karakteristiknya, Hariani tak yakin temuan itu merupakan sisa-sisa candi. Ukurannya terlalu kecil dan tidak biasa untuk candi. Mungkin sisa-sisa altar Weda untuk persembahan kepada Wisnu karena ditemukan fragmen arang. Hariani pernah mendapatkan informasi temuan lingga, objek pemujaan yang menyimbolkan Siwa, di tengah sisa-sisa bangunan itu. Bentuknya masih kasar. Ia membandingkannya dengan temuan yupa yang belum selesai di Muarakaman. Mungkin lingga kasar itu adalah yupa yang belum selesai. Upacara Weda masih dijalankan di Jawa pada abad ke-7. Prasasti Dinoyo (760) menyebutkan upacara penggantian arca rsi Agastya yang berbahan kayu cendana menjadi marmer hitam dan indah. Dalam upacara itu, raja dibantu para imam Weda. "Raja Gajayana bahkan menganut Siwaisme (Hindu-Siwa), namun ia mengundang pendeta-pendeta Weda untuk melakukan persembahan Weda," tulis Hariani. Prasasti Dinoyo juga menyebut adanya ahli Rgveda , ahli Weda dalam upacara, para pertapa ( yati ) terbaik, para pemahat, dan para ahli lainnya dari penduduk negeri. Raja menganugerahkan tanah lapang, lembu-lembu gemuk bersama dengan kawanan kerbau, serta sekelompok budak laki-laki dan perempuan. Soejatmi menjelaskan semua hadiah itu disediakan untuk berbagai upacara, seperti prawara-caru-hawis-snana. Bila dibandingkan dengan upacara Weda di India, upacara ini sangat dekat dengan Somayajna. Upacaranya dilaksanakan berjenjang dan rumit. Prawara adalah seruan kepada pendeta untuk upacara dan seruan Agni untuk melakukan upacara korban. Caru adalah persembahan kepada dewa berupa bubur yang dimasak dalam periuk. Dalam Somayajna berupa gandum. Sedangkan dalam Prasasti Dinoyo berupa beras. Hawis adalah persembahan kepada dewa yang langsung dimasukkan ke dalam api. Persembahan dilakukan lewat perantara Agni sebelum diadakannya upacara. Snana merupakan upacara mensucikan diri dengan mandi. Untuk keperluan upacara ini, raja menyediakan tanah lapang, lembu gemuk dan kerbau untuk dipersembahkan kepada dewa. Di Nusantara, tradisi Weda cenderung melakukan persembahan kepada Wisnu. Ini dipercaya akan mendatangkan banyak hal, seperti mengatasi permusuhan dan menghancurkan musuh. "Karena bagi raja, mereka akan mendapatkan kekuatan dan energi yang melekat dalam kerajaan untuk menjadi raja dunia," tulis Hariani. Di Muarakaman ditemukan arca Wisnu dari emas. Di Cibuaya, Jawa Barat, ada dua arca Wisnu. Frgamen arca Wisnu juga ditemukan di Kota Kapur, Bangka. "Membawa saya pada asumsi bahwa agama Weda awal di Nusantara memilih Wisnu untuk ibadah khusus," tulis Hariani. Selain Wisnu, dewa penting lain adalah Agni yang disebutkan dalam Prasasti Yupa. Dalam Prasasti Dinoyo disebut Putikesvara atau api suci yang menyala ke segala arah. Namun, Dewa Wisnu tidak disebutkan dalam Prasasti Dinoyo karena agama Gajayana adalah Hindu (Siwaisme). Ia mungkin menyembah Agastya, karena sang rsi adalah murid Siwa dan dianggap sebagai mediator antara manusia dan Dewa Siwa. Kemungkinan lain adalah Agastya dikenal sebagai yang dipuja dalam himne Rgveda . "Kita dapat menyimpulkan bahwa agama Weda merupakan agama India pertama yang dianut oleh para penguasa di Nusantara," tulis Hariani.
- Sintong Dikerjai Tape Recorder Kala Berupaya Merebut RRI
Jakarta, 1 Oktober 1965. Di markas RPKAD (kini Kopassus) Cijantung, Letda Sintong Panjaitan (di kemudian hari menjadi penasehat militer Presiden Habibie) telah menyiapkan semua keperluan operasi yang akan dijalaninya secara lengkap. Di ranselnya telah ada amunisi untuk garis pertama dan logistik untuk tiga hari. Namun, dia cemas menanti kepastian tanggal tugas berupa operasi penerjunan infiltrasi di Kuching, Sarawak, Malaysia itu. “Sintong memperkirakan pelaksanaannya mungkin pada tanggal 2 atau 3 Oktober. Sebab pada tanggal 1 Oktober, seluruh anggota Kompi Tanjung harus benar-benar sudah dalam keadaan siap tempur,” tulis Hendro Subroto dalam Sintong Panjaitan: Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando . Sintong akan memimpin Pleton 1 Kompi Feisal Tanjung. Namun karena status kompi itu dalam operasi tersebut berupa sukarewalan Dwikora, para personil harus menanggalkan semua atribut resmi personil RPKAD mereka, tak terkecuali kartu anggota. Karena itulah seragam dan semua perlengkapan resmi mereka tinggalkan di asrama Batalyon 3 RPKAD di Kandang Menjangan, Kartosuro. Usai apel pagi 1 Oktober, Sintong diberitahu Lettu Faisal Tanjung yang telah mendapat briefing dari Dan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie bahwa operasi penerjunan ke Kuching dibatalkan. Kompi Tanjung pun dikembalikan sebagai kompi reguler dan akan ditugaskan dalam operasi penumpasan gerombolan G30S yang kabarnya masih belum jelas benar pagi itu. Tugas baru itu membuat Sintong dan semua personil di Kompi Tanjung kalang kabut. Seragam dan semua atribut resmi mereka semua ada di Kartosuro. Mereka akhirnya terpaksa mengenakan seragam perpaduan atasan loreng “darah mengalir” RPKAD yang diberikan mako Cijantung dan bawahan celana hijau sukarelawan Dwikora ketika berangkat ke Makostrad, Jalan Merdeka Timur, untuk menjalankan tugas. Pangkostrad Mayjen Soeharto menugaskan Kolonel Sarwo untuk merebut RRI dan kantor Telkom. Perintah Soeharto kemudian diturunkan Sarwo Edhie ke Mayor C.I Santoso, lalu ke Lettu Feisal Tanjung. Lantaran informasi intelijen mengabarkan bahwa saat itu RRI hanya dijaga 10-an sukarelawan Pemuda Rakyat, bukan lagi oleh Banteng Raiders, Feisal akhirnya hanya perlu menggunakan kompi Sintong untuk merebut RRI . Selepas magrib, Sintong memimpin Pleton 1 berjalan kaki menuju RRI . Tak ada perlawanan sama sekali sehingga satu demi satu personil Pleton 1 bisa memasuki gedung RRI . Setelah pengecekan ruangan demi ruangan selesai, Sintong melaporkan lewat radio kepada Lettu Feisal bahwa misinya telah berhasil. Laporan Sintong itu sontak mengagetkan Kolonel Sarwo yang memantau di ruangan bersama Feisal sambil mendengarkan siaran RRI. “Apa? RRI sudah diduduki? Coba kamu periksa semua ruangan duu. Itu aktivitas mereka masih di dalam!” kata Sarwo. Sintong pun bingung dibuatnya karena merasa sudah memeriksa semua ruangan dan tak menemukan seorangpun yang masih beraktivitas. Setelah mengulangi pemeriksaan, Sintong kembali melaporkan telah menguasai sasaran. “Laporanmu tidak benar. Kamu bersihkan dulu dengan bersih. Jangan buru-buru kamu lapor. Kamu tangkap dulu semua orang yang berada di situ!” kata Kolonel Sarwo menjawab laporan Sintong. Dalam kebingungannya, Sintong tak sengaja melihat pita tape recorder sedang berputar di alat pemutarnya. “Jangan-jangan ini yang menjadi masalah. Kalau begitu Pak Sarwo menyangka masih ada anggota G30S/PKI yang melakukan siaran, berasal dari suara tape recorder ini,” kata Sintong. Merasa sudah menemukan biang keroknya, Sintong pun berupaya menghancurkan tape player itu menggunakan popor senapannya. Namun dia dicegah seorang karyawan RRI yang segera mematikan tape player tersebut. Setelah semua selesai, Sintong mempersilakan Kapuspen AD Brigjen Ibnu Subroto, yang karena khawatir minta Sintong mengulangi pemeriksaan keamanan, masuk ruang siaran untuk membacakan teks pidato Pangkostrad Mayjen Soeharto. Usai siaran, beberapa perwira senior RPKAD tiba di sana. Salah seorang di antaranya langsung mengolok-olok Sintong. “Ah, kampungan kamu itu. Masa kamu tadi tidak tahu kalau siaran G30S/PKI itu berasal dari tape recorder ,” kata perwira itu. Tak ingin kehilangan muka, Sintong pun menjawab olok-olok itu. “Ya, tapi tadi saya mendapat perintah mencari orangnya.” Sontak semua yang ada di ruangan tertawa.
- Makna Menarik Kain Jarik
Twitter diramaikan oleh thread tentang "Predator Fetish Kain Jarik Berkedok Riset Akdemik dari Mahasiswa PTN di SBY". Pembuatnya, akun mufis @m_fikris , mengaku telah menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oleh orang bernama Gilang yang memiliki fetish . " Fetish adalah ketika seseorang merasakan rangsangan seksual dari fantasi atau perilaku seksual yang melibatkan nonliving objects , misal sepatu, celana dalam, bra, atau bagian tubuh nongenital, bisa itu rambut hingga kaki," kata psikolog Inez Kristianti, dikutip dari Suara.com . Untuk kasus Gilang, nonliving objects yang membuatnya bergairah seksual adalah kain jarik. Kain jarik merupakan kain panjang yang memiliki motif batik dengan berbagai corak. Setiap daerah mempunyai ciri dan motif berbeda-beda. Dulu, jarik menunjukan status sosial dan dari mana orang tersebut berasal. Namun, umumnya kain jarik dipakai oleh semua orang termasuk rakyat biasa karena memiliki beragam fungsi. Bram Palgunadi dalam Serat Kandha Karawitan Jawi: Mengenal Seni Karawitan Jawa, menyebut di wilayah pedalaman atau pedesaan, lazimnya penduduk yang akan menonton pagelaran datang dengan berkalung kain sarung atau kain jarik. Kain sarung atau kain jarik ini sifatnya serbaguna karena selain dipakai bisa juga digunakan sebagai alas tidur, penutup kepala dan badan, atau sekadar sebagai tabir penahan dingin. Ternyata, jarik bukan sembarang kain. Orang Jawa memberinya makna. M. Hariwijaya dalam Islam Kejawen: Sejarah, Anyaman Mistik, dan Simbolisme Jawa menjelaskan bahwa jarik atau sinjang merupakan kain panjang yang dikenakan untuk menutup tubuh sepanjang kaki. Jarik bermakna aja gampang serik . Artinya, jangan mudah iri terhadap orang lain, menanggapi segala masalah yang terjadi mesti berhati-hati, tidak grusa-grusu apalagi emosional. Jarik dikenakan selalu dengan cara diwiru ujungnya sedemikian rupa. Membuat wiru atau wiron dengan cara melipat-lipat ujung jarik. Berarti jarik tidak lepas dari wiru . Wiru artinya wiwiren aja ngantikleru yang artinya olahlah segala hal yang terjadi sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis. " Bebed adalah kain atau jarik yang sedang dikenakan seorang laki-laki pada bagian tubuh sepanjang kakinya. Bebed artinya manusia harus ubed , rajin bekerja, berhati-hati terhadap segala hal yang dilakukan dan tumindak nggubed ing rina wengi artinya bekerjalah sepanjang hari," tulis Hariwijaya. Makna kain jarik sebagai penutup tubuh menjadi istilah bagi orang tua dalam mencari jodoh untuk anaknya. "Dari sisi pakaian, orang dianggap lebih ideal, lebih baik, lebih sopan, seorang bapak yang mencari menantu adalah yang jaritan (kain jarik, ed .). Tapi hal seperti itu sekarang mulai ditinggalkan, pakai jarik atau pakai celana yang pentingpakaiannya sopan," tulis Lusi Margiyani dan Moh. Yasir Alimi (ed.) dalam Sosialisasi Gender: Menjinakkan Takdir, Mendidik Anak Secara Adil . Sementara itu, kain jarik yang membebat tubuh perempuan bermakna bahwa perempuan harus menjaga kesucian dirinya dalam arti tidak mudah menyerahkan diri kepada siapa pun. Di balik makna jarik itu, menurut Hariwijaya, ada perilaku dengan jarik yang tidak sopan dan harus dijauhi, yaitu berselimut kain jarik. "Tidak sepantasnya karena jarik hanya untuk menyelimuti jenazah sebelum dikebumikan," tulis Hariwijaya.
- Dari Mata Keranjang hingga Mata Ijo
Istilah Mata Keranjang Ada dua pendapat berbeda. Remy Sylado yakin ini lantaran transliterasi dan transkripsi yang tak konsisten dari huruf Arab gundul ke aksara Melayu. Dalam Arab gundul, mata keranjang tersusun atas huruf mim-alif-ta dengan kaf-ra’-nun-jim-nga . Karena huruf kaf dan ra' digandeng, orang membacanya mata keranjang. Mulanya istilah ini untuk menandakan keranjang punya banyak celah yang bisa tembus mata. Tapi ketika Ejaan Yang Disempurnakan resmi digunakan pada 1972, preposisi "ke" terpisah dengan kata di depannya sehingga menjadi "mata ke ranjang". Ini mengasosiasikan mata melihat lawan seks lalu langsung terpikir ke atas ranjang. Pendapat berbeda diutarakan sejarawan Alwi Shahab. Menurutnya istilah ini berasal dari kebiasaan lelaki Jakarta melihat nona-nona Indo bercelana pendek bermain bola keranjang (basket) pada 1950-an. Istilah Hidung Belang Penggunaan istilah hidung belang terjejaki dari kisah cinta yang tragis Jan Peterszoon Coen, mantan Gubernur Jenderal VOC. Dia mencintai anak tirinya, Sarah Specx. Namun, anak tirinya justru lebih memilih perwira VOC, Pieter Cortenhoeff. Coen, yang melihat anak tirinya berduaan di kamar bersama perwira VOC itu, sontak berang. Dia mencambuk Specx dan menghukum mati Cortenhoeff. Menurut Remy Sylado, sebelum dieksekusi, Cortenhoeff diarak keliling kota. Masyarakat Batavia menghujat dan mencoreng wajah Cortenhoeff dengan arang. Karena corengan arang, yang juga mengenai hidungnya, masyarakat menjulukinya hidung belang. Cortenhoeff si hidung belang. Saat itulah istilah hidung belang mulai dikenal. Menariknya, pemerintah kolonial Belanda pernah menyensor pementasan teater yang mengangkat kisah cinta Coen dan anak tirinya. Soalnya, kisah cinta ini jelas menodai citra sang pahlawan nasional Belanda itu. Mata Ijo Mata duitan Sejarawan Alwi Shahab menyebut sebutan ini bermula dari dekade 1950. Kala itu uang di Indonesia masih dalam pecahan sen. Uang pecahan seratus sen disebut dengan istilah ce-tun atau seperak. Uang seperak ini warnanya hijau, hingga ada istilah " matanye ijo kalo liat duit" . Istilah itu digunakan untuk menyebut orang mata duitan.
- Karier Sepakbola Erdogan Penuh Tanda Tanya
TAHUN 2020 seolah milik Recep Tayyip Erdogan. Setelah pada 10 Juli lalu resmi mengubah status Hagia Sophia dari museum menjadi masjid, kini ia mendapati klub sepakbola yang didukungnya, Başakşehir FK, menjuarai Süper Lig Turki yang tutup musim 2019/2020 pada Minggu (26/7/2020). Saking girangnya, putra kedua Presiden Erdogan, Necmettin Bilal Erdogan, sampai berlarian ke tengah lapangan untuk turut merayakan kemenangan. Başakşehir merupakan klub plat merah milik Kementerian Pemuda dan Olahraga Turki, di dalamnya masih dikuasai Partai Pembangunan dan Keadilan Turki (AKP) yang mengusung Erdogan. Dibesut eks pemain timnas Okan Buruk, klub itu untuk kali pertama menjuarai liga Turki kasta teratas sejak promosi dari kasta kedua, TFF 1. League 11 tahun sebelumnya. Sukses Başakşehir via “jalur” Covid-19 itu sekaligus mematahkan dominasi “ The Big Three ”: Galatasaray SK, Beşiktaş JK, dan Fenerbahçe SK. Ketiga raksasa Turki itu kebetulan juga tengah dibelit persoalan finansial gegara pandemi virus corona , utamanya setelah liga dihentikan sementara pada Maret lalu. Namun, tidak halnya dengan Başakşehir. Klub semenjana ini tak punya problem serupa. Gaji para pemain bintangnya seperti Robinho (eks-Real Madrid), Demba Ba (eks-Chelsea), Martin Škrtel (eks-Liverpool), Eljero Elia (eks-Juventus), Gökhan İnler (eks-Napoli), dan Gaël Clichy (eks-Arsenal) lancar. Gelar juara tersebut paling ditunggu Erdogan sejak dua tahun silam. “Kami ingin Başakşehir menargetkan gelar juara di liga politik, sebagaimana di liga sepakbola. Jika kita tak berhasil di lapangan hijau, maka kita juga akan lemah dalam pertarungan politik,” kata Erdogan, dikutip Al-Monitor , 16 April 2018. Başakşehir FK merayakan gelar juara Süper Lig Turki musim 2019/2020 (Foto: ibfk.com.tr ) Bukan rahasia bila Başakşehir dijadikan alat politik Erdogan. Klub yang berdiri pada 1990 itu laiknya cabang buat AKP sejak 2014 ketika diambilalih kepemilikannya dari pemerintah kota Istanbul. Presiden klub, Göksel Gumüşdağ, merupakan kader Partai AKP yang masih punya hubungan keluarga dengan istri Erdogan. Salah satu anggota dewan direksinya, Ahmet Ketenci, adalah ipar dari salah satu putra Erdogan. Sebulan menjelang pemilihan presiden 2014, Erdogan rela tampil membelanya dalam sebuah laga eksebisi dalam rangka pembukaan stadion baru di Istanbul, 28 Juli 2014. Dalam laga yang turut diikuti beberapa pejabat, seniman, selebritis, dan sejumlah mantan atlet Turki itu, ia mencetak hattrick (tiga gol). Erdogan kala itu mengenakan jersey oranye bernomor punggung 12 dengan emblem Başakşehir walau timnya bernama Turuncu Takim. Nomor punggung itu resmi dipensiunkan Başakşehir saat merayakan juara musim 2019/2020. Sepakbola Sembunyi-Sembunyi Lahir dari rahim Tenzile Mutlu pada 26 Februari 1954 di perkampungan miskin di Istanbul, Kasımpaşa, Erdogan kecil mesti sudah banting tulang karena keluarganya hidup pas-pasan. Nafkah keluarga hanya seadanya karena ayah Erdogan, Ahmet Erdogan, hanyalah anak buah kapal di feri-feri Istanbul. Erdogan kecil sampai harus membantu ekonomi keluarga dengan menjadi pedangang asongan. Biasanya setelah pulang sekolah Erdogan menjajakan simit (roti khas Turki mirip donat) dan beragam minuman di jalan-jalan kota Istanbul. Satu-satunya kesenangan yang ia punya hanyalah sepakbola yang ia mainkan dengan teman-teman satu sekolahnya di waktu luang. Erdogan mengenang masa lalu sepakbolanya ketika diwawancarai dalam program olahraga NTVSpor yang disitat Daily Sabah , 14 November 2017. Menurutnya, ia memulai petualangan sepakbolanya di usia 15 tahun. “Kami biasanya bermain dengan bola yang terbuat dari kertas di perkampungan kami. Sementara di klub amatir, Erokspor menyarankan saya bermain di Camialtı , salah satu klub amatir top di 1970-an,” tutur Erdogan. Nomor punggung 12 di Başakşehir dipensiunkan untuk sang presiden (Foto: Twitter @ibfk2014) Meski sang ibu tak keberatan Erdogan punya angan-angan jadi pesepakbola, ayahnya tak mengizinkan. Akibatnya, sebagaimana dituliskan John McManus dalam Welcome to Hell? In Search of the Real Turkish Football , Erdogan sampai harus sembunyi-sembunyi untuk bisa tampil di lapangan membela Erokspor dan Camialtı SK di kompetisi amatir. “Saya mencintai sepakbola. Itu menjadi hasrat saya. Angan itu selalu masuk dalam mimpi saya saat tidur malam. Tetapi ayah saya tak pernah memberi izin. Katanya: ‘Sepakbola takkan membuat perut kenyang.’ Tetapi Recep Tayyip muda selalu menentang ayahnya dengan menyembunyikan sepatu sepakbolanya di bunker batubara,” kata Erdogan mengenang, dikutip McManus. Karena main di kompetisi amatir, Erdogan bisa menyambi sepakbolanya dengan sekolah. Walau tak terlalu pintar, Erdogan dikenal sebagai pelajar yang rajin dan punya nilai bagus di pelajaran agama Islam dan olahraga. Seorang tetangga Erdogan yang juga kapten tim semi-pro İETT Spor sampai merekomendasikannya untuk bergabung ke tim yang dimiliki İETT, badan usaha bidang transportasi milik Pemerintah Provinsi Istanbul. Prospek itu benar-benar dipikirkan Erdogan. Pasalnya, sebagaimana dituliskan Patrik Keddie dalam The Passion: Football and the Story of Modern Turkey , Erdogan di bawah panji Camialtı berkembang dengan cukup baik. Dengan keunggulan posturnya, pemain jangkung 185 cm saat berusia sekolah menengah atas itu disebutkan menarik perhatian Fenerbahçe, klub yang diidolakannya sejak bocah. Erdogan termasuk pemain serba bisa lantaran mulanya ia ditempatkan sebagai penyerang, lalu gelandang, kemudian bek. “Erdogan mengklaim bahwa saat bermain untuk Camialtı saat berlaga melawan Kasımpaşaspor di tahun 1973, ia dipantau oleh pelatih Fenerbahçe asal Brasil, Didi (Waldyr Pereira) dan klub memberikan tawaran (kontrak profesional, red ). Tetapi Erdogan mengaku bahwa ayahnya tak membolehkan proses transfer –dia menginginkan putranya fokus pada studinya,” ungkap Keddie. Di masa muda, Erdogan sempat meniti karier di sepakbola amatir dan semi-profesional (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Tapi begitu lulus pada 1970-an dan sudah berhak menentukan jalan hidupnya, Erdogan menghadap ke sang ayah dan menyatakan akan tetap bermain bola di klub yang juga membolehkannya bekerja. Maka tawaran dari tetangganya di İETT Spor diterimanya. Jadi sembari bekerja sebagai karyawan İETT dengan gaji bulanan, Erdogan main untuk klub IETT. “Saya menikmati lima gelar dalam tujuh tahun di İETT. Awalnya saya penyerang, kemudian main di tengah, lalu saya dipindah posisi di belakang sebagai sweeper. Selain posisi kiper, bisa dibilang saya mampu main di posisi mana saja. Sepakbola permainan keras. Tubuh saya terdapat beberapa luka jahit. Bekas lukanya masih tampak. Makanya setiap saya bercermin, saya mengingat masa-masa saya sebagai pesepakbola,” kata Erdogan mengenang. Di Balik Karier Sepakbola Karier sepakbola Erdogan harus berhenti pada 1980. Penyebabnya, Erdogan terlibat percekcokan dengan manajemen baru İETT. Di sisi lain, Erdogan makin sibuk dengan aktivitas politiknya. Sejak 1970-an, Erdogan ikut MTTB, sayap pemuda Partai Keselamatan Nasional (MSP) pimpinan Necmettin Erbakan. Keputusan Erdogan itu disayangkan beberapa rekannya. Walau secara teknik tak menonjol, Erdogan punya kelebihan fisik dan kelugasan bermain yang dibutuhkan untuk menjegal setiap alur permainan lawan. Erdogan juga punya pengaruh besar terhadap penyiapan mental rekan-rekannya dengan acap mengajak shalat berjamaah. “Dia selalu menggelar sajadah dan shalat di ruang ganti. Teman-teman setimnya menyebutnya hoca , guru agama. Seringkali Erdogan dan pelatihnya mengajak tim (shalat berjamaah) ke Masjid Sultan Eyüp dan sering menjadi imamnya. ‘Kami memenangi semua pertandingan yang dimainkan dekat (distrik) Eyüp. Keimanan adalah 50 persen dari kesuksesan’ katanya,” sambung McManus. Sejak keputusan mundur itu, Erdogan benar-benar meninggalkan sepakbola. Ia hanya menikmati sepakbola lewat tontonan semata. “Tetapi setelah kudeta militer di tahun itu juga, Erdogan vakum dari perpolitikan, mengingat MSP dibubarkan. Setelah meninggalkan İETT Spor, ia memilih bekerja di sektor swasta, di industri tekstil,” singkap Soner Çağaptay dalam The New Sultan: Erdogan and the Crisis of Modern Turkey. Erdogan kemudian sempat menjalani wajib militer sebelum masuk kembali ke dunia politik. Karier politik Erdogan melejit sejak 1994 dengan menjadi walikota Istanbul. Ia mendaki tangga politik lebih tinggi dengan menjadi perdana menteri pada 2003, untuk kemudian menjadi presiden (2014). Karier emas Erdogan di semi-pro bersama İETT Spor (Foto: Repro "Onların da Yolu İETTden Geçti") Lantaran penggunaan sepakbola untuk urusan politiknya, gosip-gosip miring tentang benar-tidaknya soal karier sepakbola Ergodang pun bermunculan. Utamanya tentang tawaran dari klub Fenerbahçe yang diklaimnya urung ia ambil gegara tak diizinkan ayahnya. Terdapat beberapa perbedaan detail tentang kariernya dari sumber-sumber berlainan. Oleh karenanya beberapa sumber mengambil “jalan tengah” dengan menyebut ia berkarier di era 1970-an. Dalam wawancaranya dengan NTVSpor , disebutkan ia memulai di klub amatir Erokspor di usia 15 tahun yang berarti ia memulai kariernya di Erokspor pada 1969. Sementara, Keddie menuliskan Erdogan memulai karier amatir di Erokspor pada usia 13 tahun (1967) dan pada 1969 Erdogan baru tampil bersama Camialt ı Spor. McManus mengungkap Erdogan sudah ikut tim Erokspor di usia 11 tahun, seiring ia masuk Sekolah Imam Hatip. Beberapa sumber lain juga terbelah dalam hal usia Erdogan memulai karier amatirnya. Mengenai isu Erdogan nyaris direkrut Fenerbahçe, Keddie menuliskan berdasarkan pernyataan Erdogan bahwa dia mendapat tawaran itu pada 1973 ketika masih membela Camialtı Spor. Pernyataan itu berbeda dari ketika Erdogan diwawancara suratkabar Miliyet jelang pemilihan walikota Istanbul pada 1994, di mana ia menyatakan Fenerbahçe ingin merekrutnya pada 1977 alias ketika ia sudah berseragam İETT Spor. “Disebutkan (di Miliyet ) bahwa dia masuk dalam daftar calon rekrutan Fenerbahçe pada 1977. Itu menguatkan keyakinan sejumlah penulis bahwa catatan historis tentang kariernya dilebih-lebihkan. Apalagi klaim tentang dia hampir bermain untuk The Canaries (julukan Fenerbahçe, red. ) selalu diulang-ulang selama karier politiknya,” tambah McManus. Erdogan di tengah-tengah dua tim dalam laga eksebisi pada 2014 di mana ternyata skill sepakbolanya masih tersisa dengan mencetak trigol (Foto: ibfk.com.tr ) Narasi itu, sambung McManus, dikemas lagi dengan begitu apik lewat biografi karya Haci Hasdemir, jurnalis suratkabar pro-pemerintah Zaman, yang terbit pada 2005, Aman Babam Gormesin: Basbakan Erdogan’in Futbol Macerasi . Menariknya, Hayri Beşer, jurnalis Zaman lain, menyiratkan keraguan lewat tulisannya dalam pendahuluan di buku tersebut: “Ketika membacanya, beberapa orang mungkin berkesimpulan bahwa buku ini adalah anatomi seorang malaikat. Karena petualangan sepakbola Tayyip Erdogan sejak usia 15 nyaris tak bercela.” “Jurnalis dan pemerhati olahraga Mustafa Hoş menyindir buku Hasdemir itu sebagai ‘kitab suci’, membandingkan masa-masa sepakbola Erdogan seperti mencoba membongkar bukti tentang sejarah yang terjadi 100 tahun lalu. ‘Semuanya ambigu dan kontradiktif’ katanya,” papar McManus. Penulis Soner Yalçın dengan lantang menyebutkan bahwa cerita tentang Fenerbahçe terlalu dibuat-buat. Dari penelusurannya, semua sejarawan resmi Erdogan menuliskan tahun yang berbeda terkait kapan dia menerima tawaran transfer itu. Hal yang sama juga terjadi pada fakta siapa pelatih Fenerbahçe yang diklaim tertarik padanya: Waldyr Pereira Didi atau Tomislav Kaloperović. “Yalç ı n juga mengklaim Erdogan menghabiskan dua tahun di Cam ı alti Spor sebenarnya hanya staf asisten perlengkapan dan dia bisa beralih ke lapangan sebagai pemain hanya karena tekanan seorang temannya yang berpengaruh di Kas ı mpaşa kepada pelatih. Hal-hal itu mencuatkan terbelahnya kepercayaan tentang karier sepakbola sang presiden. Tergantung dari mana Anda melihatnya, baik dia sebagai Pelé-nya Kas ı mpaşa atau penipu belaka,” tandasnya.
- Riwayat Politik Dinasti
Jelang Pilkada serentak 2020, politik dinasti menjadi sorotan. Paling banyak dibahas adalah majunya putra pertama Presiden Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka sebagai calon walikota Solo. Sedangkan iparnya, Bobby Nasution, maju sebagai calon walikota Medan. Putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Siti Nur Azizah, juga maju dalam pemilihan walikota Tangerang Selatan, Banten. Ia akan bertarung melawan keponakan Prabowo Subianto, Rahayu Saraswati Djojohadikusumo. Dalam kontes yang sama, ada Pilar Saga Ichsan sebagai bakal calon (bacalon) wakil walikota Tangsel. Ia adalah putra Bupati Serang Ratu Tatu Chasanah dan keponakan mantan Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah. Masih ada lagi, Hanindhito Himawan Pramono, anak Sekretaris Kabinet Pramono Anung, maju dalam Pilkada Kediri. Irman Yasin Limpo, adik Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang maju sebagai balon walikota Makassar. "Ini bukan fenomena tapi juga tradisi," kata Sri Margana, sejarawan Universitas Gadjah Mada, dalam dialog sejarah "Riwayat Dinasti Politik" live di saluran Facebook dan Youtube Historia.id , Selasa, 28 Juli 2020. Akarnya bisa ditarik jauh ke masa lalu. Tradisi yang dimaksud Margana itu berawal dari budaya feodalisme di Nusantara yang juga menganut patrimonialisme. "Memang budaya politiknya mengarah ke sana, garis keturunan ayah diutamakan. Hampir semua kerajaan di Indonesia menerapkan tradisi ini, termasuk dari masa Hindu, Buddha, dan Islam," kata Margana. Margana menilai, ada jurang antara jalan politik demokrasi yang dipilih oleh bangsa Indonesia pada masa modern dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya. Kultur ini tak mudah hilang begitu saja. "Teori bisa kita aplikasikan, institusinya bisa kita bentuk, tapi orang yang mengisi di lembaga-lembaga yang juga menjalankan kekuasaan itu, kulturnya masih feodal," kata Margana. Di Jawa Relatif Lebih Kuat Politik dinasti relatif lebih banyak ditemukan di Jawa dibanding di tempat lain. Margana berpendapat, ini ada hubungannya dengan langgengnya tradisi kerajaan di Jawa. Sudah sejak abad ke-7 orang Jawa terbiasa dengannya. Sumber-sumber dari masa Jawa kuno jelas menyebutkan konsep kekuasaan. Terlihat dari gelar penguasa atau raja. Konsep dewa raja pada zaman Hindu dan Buddha berarti raja memiliki sifat kedewaan. "Maknanya, apapun titah dia harus jadi undang-udang. Jadi absolut, pantang diubah, harus dipatuhi karena dia bukan hanya raja, dia juga dewa yang mengatur rakyatnya," ujar Margana. Dalam politik dinasti garis keturunan menjadi penting bagi seseorang yang ingin menjadi penguasa. Saking pentingnya dalam beberapa kasus raja-raja sampai harus merunut dan menyatakannya di hadapan publik. Seperti disebutkan dalam Prasasti Mantyasih (907). Raja Dyah Balitung menarik urutan raja-raja pendahulunya hingga Sanjaya, raja pertama Mataram Kuno dari Dinasti Sanjaya. Menurut Dwi Cahono, arkeolog dan sejarawan Universitas Negeri Malang, Balitung perlu melakukannya karena ada kemungkinan Balitung naik takhta bukan sebagai putra raja terdahulu. Statusnya adalah menantu yang kawin dengan putri mahkota. Balitung pun memberikan anugerah kepada orang-orang yang berjasa dalam pernikahannya. "Hal ini penting untuk mengingatkan khalayak bahwa dia menantu tetapi tetap memiliki trah panjang raja-raja terdahulu," kata Dwi. Raja Airlangga juga begitu. Dalam Prasasti Pucangan (1041), dia membeberkan silsilahnya hingga Mpu Sindok, raja Medang Kamulan. Dia naik takhta di Medang melalui pernikahan dengan putri Dharmawangsa Tguh, raja terakhir Medang Kamulan. "Sebenarnya ibunya (Airlangga, red. ) punya hak atas takhta di Jawa, tapi dia tidak naik takhta dan malah menikah dengan Udayana di Bali," kata Dwi. Pada masa perkembangan Islam, yakni era Mataram, dikenal konsep Khalifatullah. Artinya raja adalah wakil Tuhan di bumi. Raja-rajanya menggunakan gelar, misalnya Sayidin Panatagama Khalifatullah. "Konsepnya mirip. Sebagaimana dijelaskan dalam buku karya Soemarsaid Moertono dengan melihat kasus Kerajaan Mataram jelas bahwa raja-raja Mataram juga melanjutkan konsep dewa raja," kata Margana. Buku dimaksud berjudul Negara dan Usaha Bina-Negara di Jawa Masa Lampau: Studi Tentang Masa Mataram II, Abad XVI sampai XIX. Silsilah juga penting. Garis keturunan sang penguasa dibuat dari dua sisi yang disebut trah mangiwo dan manengen . Trah manengen merunut silsilah penguasa hingga era kenabian. Di Jawa, sering kali dalam suatu silsilah ditemukan nama nabi yang tidak begitu dikenal, misalnya Nabi Sis. Sementara trah mangiwo , silsilahnya diurutkan sampai tokoh-tokoh pewayangan hingga Parikesit, yaitu keturunan Pandawa terakhir. "Artinya tak ada perubahan berarti dalam konsep kekuasaan. Dari kebudayaan Hindu dan Buddha ke Islam budaya politiknya tetap sama," kata Margana. Menurut Margana, orang Jawa mengenal trahing kusuma, rembesing madu, wijiling naratapa, tedaking andana warih. Seseorang untuk menjadi raja harus berdarah bangsawan, yaitu orang-orang yang darahnya merembes dari sultan yang bangsawan, pendeta atau ulama. "Jadi hanya orang-orang itu yang dianggap bisa menjadi pemimpin," kata Margana. Kalau ada yang tidak sesuai kriteria itu tapi naik takhta, maka orang itu mendapat pulung . "Walau orang kecil tapi mendapat wahyu dari Tuhan maka dia legitimate . Ini cara orang Jawa mengkompromikan sesuatu yang tidak biasa," kata Margana. Kultur ini kemudian dipelihara oleh masyarakat sekarang dalam melihat seorang pemimpin. Kalau bukan seseorang yang dekat dengan bangsawan atau elite, paling tidak ia harus dari kalangan intelektual atau ulama. "Biasanya seseorang yang mempromosikan kandidat, walaupun program ada, visi misi juga punya, tidak kalah penting dikaitkan dengan itu," ujar Margana. "Itu alam bawah sadar." Kembali ke Etika Dengan adanya jurang antara politik demokrasi yang dipilih bangsa Indonesia dengan kultur yang dibawa oleh orang-orang yang menjalankannya, maka politik dinasti sangat mungkin terus terjadi. Apalagi itu bukan praktik ilegal. "Dalam undang-undang tak ada larangan. Masing-masing, setiap orang punya hak sama. Jadi sangat mungkin," kata Margana. Kendati tak persis seperti dipraktikkan pada masa lalu. Namun, dalam kasus Gibran dan Bobby misalnya, ada interpretasi bahwa efek dari sosok Joko Widodo masih berpengaruh. "Jadi, kemungkinan dinasti politik ini akan terjadi tapi dalam tanda kutip. Tidak bisa juga serta merta disebut sebagai dinasti," ujar Margana. Apa yang diharapkan kini adalah kesadaran untuk kembali ke etika berpolitik. "Oke, semua orang berhak dipilih dan mencalonkan diri. Mungkin yang diharapkan ada kesadaran kultural atau etika. Misalnya, saya (Gibran, red .) akan maju setelah Jokowi tidak lagi menjabat," kata Margana. Namun, mengubah kultur politik bukan perkara mudah. Itulah mengapa Sukarno bicara revolusi belum selesai. "Salah satu yang paling penting adalah merevolusi kultur yang masih kolonial dan feodal," kata Margana. "Harus cocok kan, institusinya demokrasi modern, tapi orang yang menjalankan, kulturnya masih feodal." Menurut Margana, salah satu caranya adalah memasukkan pembahasan soal budaya politik Indonesia ke dalam sistem pendidikan. Pendidikan politik seharusnya mengikuti kultur politik yang ada. "Orang yang menguasai kultur politik di Indonesia berarti akan bisa memenangkan pertarungan ini," kata Margana. Penyelenggara Pemilu juga mesti memiliki pemahaman terhadap kultur politik. Termasuk bagaimana sistem pemilihan calon pemimpin bisa memunculkan banyak tokoh alternatif yang bisa dipilih rakyat. "Sejauh mana mereka melihat ini sebagai fenomena yang tidak biasa dalam sebuah demokrasi. Kalau itu dianggap hal biasa matilah demokrasi kita," kata Margana. Pemimpin redaksi Historia.id , Bonnie Triyana yang memandu dialog sejarah, mengatakan adalah mimpi bersama demokrasi Indonesia tidak hanya prosedural, tetapi juga esensial. Semua pihak bisa bertarung dalam kontestasi pemilihan pemimpin di manapun wilayah administrasinya. "Tanpa harus mengandalkan trah, tanpa harus menjual atau berdayakan suatu hal yang justru datang dari masa lalu sehingga membawa kita ke dalam kemunduran praktik demokrasi," kata Bonnie.





















