top of page

Hasil pencarian

9823 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Demam Drama Korea Lintas Zaman

    MIMPI apa Han So-hee sampai harus jadi sasaran luapan kegeraman warganet Indonesia sejak akhir April lalu? Aktris jelita pemeran Yeo Da-kyung di drakor (drama Korea) bertajuk The World of the Married itu dicecar dan dimaki sebagai pelakor alias perebut laki orang. Untung rumahnya di Seoul, Korea Selatan, sekira 5.200 kilometer dari Jakarta jaraknya. Bila ia tinggal di Jakarta, bisa jadi rumahnya disatroni warganet, tak peduli sedang PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) atau tidak dan peduli setan tidak kenal juga. Maka jadilah akun Instagram -nya yang jadi sasaran kemarahan. Menukil Kumparan , 26 April 2020, akun pribadinya @xeesoxee disesaki makian dan hujatan. Kata “pelakor” pun sampai viral di Negeri Ginseng, merujuk pada perannya di drakor itu yang sudah sangat menempel pada citranya. Baca juga: Banjiha , Potret Kemiskinan Korea dalam Parasite “Di Indonesia wanita yang ketahuan selingkuh dengan suami orang lain tidak dapat diterima masyarakat karena mayoritas warganya Muslim. Tapi bagaimanapun sepertinya warganet Indonesia tidak bisa membedakan mana drama dan kenyataan. Mereka mengungkapkan kemarahan pada Han So-hee,” tulis seorang blogger Korsel yang tak disebutkan namanya di laman cafe.naver.com yang dikutip Kumparan. Si cantik Han So-hee yang jadi sasaran hujatan netizen Indonesia. ( jtbc.com ). Toh, So-hee tak paham hujatan yang memakai bahasa Indonesia itu. Lagipula, peran pelakor bukan hanya dimainkan oleh So-hee dan tentunya bukan jadi bumbu cerita milik The World of the Married semata. Cruel Temptation (2008), Pink Lipstick (2010), Woman of Dignity (2017), The Last Empress (2018), 9.9 Billion Woman (2019), hingga V.I.P (2020) juga menampilkan peran serupa. Hanya saja, drakor-drakor lain itu tak se-viral The World of the Married yang tayang dalam 16 episode di saluran JTBC . Drakor garapan sineas Mo Wan-il yang me- remake drama seri BBC , Doctor Foster, itu selain viral jalan ceritanya juga mencetak rekor rating tertinggi dalam sejarah drakor. Di dalam negeri saja, ia mencetak 24,3 persen, melewati rekor sebelumnya yang dipegang Sky Castle (2018-2019) dengan angka 23,8 persen. Baca juga: Parasite dan Seabad Perfilman Korea Memang, drakor baru populer di Asia berbarengan dengan fenomena “ Korean Wave ” atau tren gelombang budaya pop Korea pada akhir 1990-an. Arus itu dalam lidah orang Korsel sendiri dikenal dengan hallyun . Ia berkembang dalam dua genre : kontemporer, yang kisahnya tentang asmara; dan sageuk, drama yang mengambil latarbelakang sejarah kuno era kerajaan. “Pada pengujung 1990-an, tak lama setelah tren dan popularitas drama urban Jepang mulai menurun di Asia, pop-culture Korea dalam bentuk drama televisi menikmati pesatnya pelonjakan popularitas. Sebutan hallyun sendiri merupakan sebutan yang lahir dari media-media China,” ungkap Won Kyung-jeon dalam The Korean Wave and Television Drama Exports, 1995-2005 . Sosok Da-kyung yang dimainkan So-hee yang begitu menggigit hingga memviralkan pula kata kata "pelakor" di Korea. ( jtbc.com ). Hal itu jadi komoditas tersendiri bagi pemerintah Korea Selatan, sambung Kyung-jeon. Badan Perdagangan Dunia (WTO) mendata, pada 2007 Korsel sudah menjadi eksportir jasa audiovisual terbesar ke-10 di dunia. Menurut KOCCA (Korea Creative Content Agency), Korsel juga menjadi eksportir program hiburan berseri kedua terbesar di Asia pada 2010, menguntit Hong Kong. Pada 2011, program siaran hiburan dari Korea mencapai angka USD227,8 juta. “Drama Korea sendiri selalu mempertahankan posisi dominan dalam ekspor siaran konten Korea. Proporsi drama secara keseluruhan dari ekspornya terus meningkat dari 64,3 persen pada 2001 menjadi 87,6 persen pada 2010. Banderol drama Korea juga lebih ekspansif ketimbang Hollywood atau produksi-produksi Jepang di pasar Asia sejak pertengahan 2000-an,” imbuh Kyung-jeon. Sejak awal 2000-an hingga sekarang, Korea berjaya dengan drakor selain dengan K-Pop-nya. Kejayaan itu diraih setelah jeda waktu amat panjang sejak drakor pertamakali muncul pada 1920-an. Jaringan Radio hingga Layar Kaca Drakor pertamakali mengudara lewat jaringan radio, seiring berdirinya Kyosong Pangsongguk (kini Korean Broadcasting System) pada 16 Februari 1927. Mulanya, stasiun radio yang didirikan Gubernur Jenderal Korea Jenderal Ugaki Kazushige itu memberi porsi besar pada program musik dan drama radio berbahasa Jepang. Hanya 30 persen yang berbahasa Korea. Baca juga: Kala Budaya K-pop Menggema “Porsi lebih banyak untuk program musik tradisional atau drama yang dikombinasikan musik klasik Barat baru diperbolehkan pada periode 1934-1936. Tapi tetap saja radio difungsikan sebagai publikasi media untuk imperialisme Jepang ketimbang media populer komersil,” tulis Lee Jung-yup dalam “The Birth of Broadcating Media and Popular Music” yang dimuat buku Made in Korea: Studies in Popular Music . “Oleh karenanya beberapa elit budayawan seperti Kim Yong-pal, Yi Ha-yun, Hong Nan-pa, dan Yi Hae-ku berusaha merepresentasikan program-program ‘ke-Korea-an’ dalam program radio. Baik itu musik tradisional maupun serial drama radio,” sambung Jung-yup. Drakor "The World of the Married" yang memecahkan rekor share rating dalam sejarah Korea. ( jtbc.com ). Sayangnya, tiada catatan soal drama bertajuk apa yang pertamakali diudarakan via radio mengingat banyak arsip tertulis hancur akibat perang. Tetapi, sambung Jung-yup, serial drama radio yang tren saat itu adalah drama bertema kriminal atau cerita detektif. Itu dipengaruhi novel-novel detektif dan kriminal asal Amerika Serikat, Inggris, Prancis dan Jepang yang tengah booming. Setelah absen mengudara akibat Perang Dunia II dan disusul Perang Korea (1950-1953), drama radio baru eksis lagi pada 1954 atau setahun setelah gencatan senjata. Sebagaimana diungkapkan Kim Hwan-pyo dalam Korea Through TV Drama , drakor via radio yang paling populer saat itu bertajuk Cheongsilhongsil (1954). Kisahnya berpusar pada seorang wanita yang ditinggal mati suaminya karena Perang Korea. Baca juga: Di Balik Lagu dan Bendera Pemersatu Korea Drakor tersebut sukses karena kisahnya erat dengan yang dirasakan masyarakat dalam Perang Korea. “Era itu menjadi masa di mana banyak masyarakat Korea yang masih bersedih dan ingin menangis. Drama itu memberikan kesempatan bagi orang-orang untuk menangis dan tertawa sekaligus memberi penontonnya secercah mimpi dan romantisme yang tak bisa mereka temukan dalam kenyataan hidup saat itu,” terang Hwan-pyo. Drakor Korea bergenre sageuk di era 1960-an. Pada 1956, drakor mulai beralih ke layar kaca lewat Stasiun TV HLKZ-TV yang menayangkan Cheongugui mun (Gerbang Nirwana). Drakor itu berbentuk film televisi berdurasi 15 menit. Sementara, drama berbentuk serial pertama baru hadir pada 1962, bertajuk Gukto manri . Drakor berlatarbelakang era Kerajaan Goryeo itu ditayangkan Tongyang Broadcasting ( TBC ). Pada 1970-an hingga 1980-an, drakor ber-genre kontemporer, di antaranya Saeeomma atau Ibu Tiri (1972-1973) dan Saranggwa yamang (Cinta dan Ambisi, 1987), mulai mendominasi. Jam tayangnya pun dimulai pada pagi sebagai strategi untuk menggaet pasar “emak-emak” yang tidak bekerja. Kisah-kisahnya pun disajikan seerat mungkin dengan kondisi para ibu rumah tangga di Korea. Baca juga: Korea Bersatu di Arena “Ibu-ibu rumah tangga mulai jadi plot utama drama-drama TV. Karena ibu rumah tangga cenderung menghadapi stres yang lebih dalam keseharian mereka. Dan karena banyak dari mereka tak punya sasaran pelampiasan stres, mereka pasti mengalihkan emosi mereka ke hiburan televisi, khususnya opera sabun (drama serial),” tambah Hwan-pyo. Drakor kondang "Winter Sonata" yang menggebrak pasar Asia pada awal 2000an. (IMDb). Seiring perjalanan waktu, drakor akhirnya menaklukkan Asia pada awal 2000-an. Pendobraknya adalah drakor Winter Sonata (2002). Melodrama garapan sineas Yeon Seok-ho yang rilis dalam 20 episode itu meniti suksesnya dengan menembus pasar di Jepang. “Boleh dikatakan Winter Sonata yang pertama mengikuti formula dasar untuk kesuksesan di televisi: pemeran-pemeran rupawan, keindahan alam, dan plot manis tentang cinta, kematian, dan harapan akan hubungan romantis, semua itu disempurnakan dengan soundtrack musik yang melankolis,” ungkap Korean Culture and Information Service South Korea dalam K-Drama: A New TV Genre with Global Appeal . Baca juga: Tangan Dingin Moon Jae-in dalam Perdamaian Korea “Semuanya begitu ‘ ngeklik ’ hingga Winter Sonata menjadi sensasi tersendiri di Jepang. Di episode terakhir saja, NHK yang menayangkannya mendapat share rating 20 persen, melebihi acara lain di waktu prime time yang rata-rata 10 persen rating -nya. Di akhir 2004, diperkirakan hampir 70 persen warga Jepang sudah menonton setidaknya satu episode,” lanjutnya. Saking bekennya, Winter Sonata sampai dibuat versi anime -nya dalam bentuk delapan jilid komik pada 2004-2005 dan teater musikal di Tokyo, Osaka, dan Sapporo pada 2006. Formula itulah yang kemudian dicontek drakor-drakor lainnya, termasuk The World of the Married yang bikin geram warganet Indonesia. Yang sabar ya, So-hee!

  • Rachmat Kartolo Pahlawan Patah Hati

    KABAR berpulangnya Dionisius Prasetyo alias Didi Kempot membuat segenap “sobat ambyar” makin ambyar. Pasalnya, belum lama ini penyanyi campursari kelahiran 1966 itu didapuk sebagai The Godfather of Broken Heart. Fenomena Didi Kempot mengingatkan kita pada pendahulunya, yang juga pernah dijuluki sebagai pahlawan patah hati, Rachmat Kartolo. Rachmat Kartolo lahir di Jakarta pada 13 Maret 1938 dari pasangan seniman Kartolo dan Rukiah. Kartolo dan Rukiah kala itu sudah terkenal sebagai bintang film. Rachmat sendiri ketika muda belum tertarik masuk ke dunia film dan justru menjajal kemampuan seni musiknya. Pada 1940-an, bersama saudaranya, Iman Kartolo dan Jusuf Kartolo, Rachmat sudah membentuk band kecil.

  • Wabah Rabies Munculkan Vampir

    PADA abad ke-18, kepercayaan pada vampir menjadi mitos tenar di daerah Balkan. Vampir digambarkan sebagai orang mati yang bangkit dari kubur, berkelana saat malam, dan bertahan hidup dengan mengisap darah orang atau hewan. Dalam risetnya bersama Christopher Cowled, Bats and Viruses: A New Frontier of Emerging Infectious Diseases,  Lin Fa Wang menduga mitos vampir erat kaitannya dengan rabies yang pernah mewabah di Eropa. Dugaan mereka berasal dari kesamaan ciri vampir dan penyakit rabies, serta kemunculan mitos vampir yang bersamaan dengan wabah. Secara umum diketahui bahwa rabies ditularkan lewat anjing atau serigala. Namun, rabies juga ditemukan menginfeksi hewan herbivora yang ditularkan oleh kelelawar. Dari situlah dokter asal Spanyol Juan Gomez-Alonso juga menduga legenda vampir dan manusia serigala mungkin berkaitan erat dengan pandemi rabies di Eropa Timur dari 1721 hingga 1728. Kelelawar juga sering muncul dalam cerita rakyat Eropa Timur. Asosiasi rabies dan kelelawar punya akar kuat dalam takhayul di daerah tersebut. Penderita rabies punya gejala yang mirip dengan ciri vampir. Wabah rabies pada abad ke-18 ini menyebar di Inggris, Spanyol, Prancis, Itali, hingga Ceko dan Slovakia. Sebelum rabies diakui sebagai penyakit, kelelawar juga dianggap sebagai penyebab kegilaan di Eropa. Orang yang perilakunya tidak menentu diasosiasikan dengan kelelawar. Hal ini dibuktikan dengan adanya istilah dan frasa seperti “ going bats ”, “ batty ”, atau “ bats in one’s belfry ” yang seringkali digunakan untuk menggambarkan ketidakstabilan mental. Akademisi Jerman, Felicitas Schott   dalam bukunya The Undead Among Us  menyebut mitos vampir berasal dari Eropa Tenggara, khususnya daerah yang kini jadi wilayah Serbia, Makedonia, dan Bulgaria. Segera setelah vampir jadi bagian dari cerita rakyat, kisah serupa juga muncul dalam bentuk karya sastra. Figur vampir muncul dalam beberapa puisi Jerman abad ke-18. Antara lain puisi “Main Liebes Magdchen glaubert” karya Heinrich August Ossenfelders dan puisi “Die Braut bon Korinth” karya Johann Wofgang von Goethe yang dipublikasi pada 1797. Puisi-puisi Jerman tersebut menginspirasi John Polidori dalam menulis The Vampyre  pada 1819. Schott menduga, karya Polidori merupakan sastra bertema vampir pertama yang diterbitkan dalam Bahasa Inggris. Namun, kisah vampir paling terkenal ialah Dracula  karya Bram Stoker yang terbit pada 26 Mei 1897. Tanggal ini diperingati oleh para pencinta sastra bertema vampir sebagai World Dracula Daya. Kisah Dracula  mengambil beragam tradisi Eropa, namun fokus utamanya pada sejarah dan budaya Transylvania, Romania bagian tengah. Wang dan Cowled menduga karakter vampir yang bisa berubah wujud menjadi kelelawar dalam karya Stoker mirip dengan sifat hematophagous  (pengisap darah) dan nocturnal kelelawar vampir. Sementara, Schott menyebut prototipe tokoh Dracula karya Stoker diambil dari kisah Vlad II, Pangeran Walaccia (1431-1476) yang dikenal juga sebagai Vlad Dracula atau Vlad the Impaler. Ia amat ditakuti oleh orang Walaccia karena kegemarannya menyiksa dan mengeksekusi musuh. Vlad Dracula lahir di Transylvania, Romania pada 1431 dan memerintah Walaccia dari 1456 sampai 1462. Beberapa sejarawan menggambarkan Vlad sebagai penguasa yang adil namun kejam. Citra kejam tersebut melekat karena Vlad suka membunuh musuh-musuh yang tertangkap dengan menusuk mereka di tiang kayu. Menurut legenda, Vlad Dracula juga suka menikmati jamuan makan di tengah-tengah korban yang sekarat dan mencelupkan rotinya ke dalam darah mereka. Meski kebenaran kisahnya diragukan, orang-orang yang percaya kisah ini lalu menyebarkannya. Kisah inilah yang memicu imajinasi Stoker untuk menciptakan Count Dracula, yang juga berasal dari Transylvania, menghisap darah korbannya, dan bisa dibunuh dengan menghujam jantungnya dengan pasak. Kisah ini pula yang kemudian jadi memori kolektif dalam budaya Barat. Tiap kali menyebut vampir, rujukan utamanya ialah Dracula karya Stoker. Dalam bukunya The Vampire in Folklore, History, Literature, Film and Television,  J. Gordon Melton dan Alysa Hornick menyusun daftar panjang karya bertema vampir dari 1800 hingga 2013. Keduanya menemukan setidaknya ada enam ribu karya bertema vampir yang dipublikasikan dalam bahasa Inggris.  Namun, menurut Melton dan Alysa, perkembangan sastra bertema vampir belum terlihat bisa menyaingi Dracula dan sastra abad kesembilan belas lain. “Banyak dari literatur kontemporer ini dipandang sebagai cerita populer daripada sastra serius,” tulis Melton dan Alysa.*

  • Gus Dur, Indonesia Banget.

    Anak santri cucu pendiri NU yang demokratis, doyan humor, dan peka soal kemanusian dan hak asasi manusia.

  • Hantu Jepang di Kaki Semeru

    KESEPAKATAN Perjanjian Renville antara Republik Indonesia dengan Belanda pada awal 1948, mewajibkan pihak Indonesa untuk menyerahkan para zanryu nihon hei   (serdadu Jepang yang tetap tinggal dan memilih berjuang untuk Indonesia) kepada Belanda. Namun, permintaan itu direspons setengah hati. Secara diam-diam, TNI justru berupaya melindungi para eks serdadu Jepang itu. “Walau bagaimana pun kehadiran para zanryu nihon hei  sangat menguntungkan untuk Indonesia, baik secara politik maupun militer,” ungkap sejarawan asal Jepang, Aiko Kurasawa. Guna menghindari itu, pada Juli 1948, Kolonel Sungkono, Gubernur Militer Jawa Timur, memanggil Tatsuo Ichiki, seorang Jepang yang sangat dituakan oleh para zanryu nihon hei . Terlebih keberpihakannya kepada Indonesia sudah sejak 1945, ketika ia bergaul akrab dengan diplomat senior Indonesia Haji Agus Salim di Jakarta. “Dia bahkan diangkat anak oleh ayah saya dan diberi nama Indonesia: Abdul Rachman karena sikapnya yang penuh kasih kepada bangsa Indonesia,” ujar Bibsy Soenharjo, salah satu putri Haji Agus Salim. Abdul Rachman kemudian ditugaskan oleh Kolonel Sungkono untuk mengumpulkan seluruh eks serdadu Jepang di Jawa Timur dan menghimpunnya dalam kesatuan khusus. Maka, pada 28 Juli 1948, berkumpullah 28 zanryu nihon hei  di Wlingi dan mendeklarasikan berdirinya Pasukan Gerilya Istimewa (PGI) di bawah koordinasi Brigade Surachmad. Sebagai pimpinan, Sungkono mengangkat Mayor Arif (Tomegoro Yoshizumi), senior dari Abdul Rachman. Karena Mayor Arif kerap sakit-sakitan (kemudian meninggal pada 10 Agustus 1948), akhirnya pucuk pimpinan PGI diserahkan kepada Mayor Abdul Rachman. Penyerahan wewenang tersebut diam-diam tidak disetujui oleh sebagian zanryu nihon hei pimpinan Hasan (Toshio Tanaka). Alasannya, Abdul Rachman bukan seorang militer tulen. Di ketentaraan Jepang ia hanya bertugas sebagai seorang penerjemah. “Soal ini menjadi sebab utama pecahnya PGI di kemudian hari, sehingga menyebabkan 10 anggotanya mengundurkan diri dan lebih senang bergabung dengan TNI di Jawa Tengah” ujar Shigeru Ono, salah seorang zanryu nihon hei. Sejak kemunculannya di wilayah-wilayah kaki Gunung Semeru, PGI menjadi “hantu” menakutkan bagi militer Belanda. Berbeda dengan umumnya pasukan TNI, PGI memiliki sistem organisasi dan cara bertempur yang sangat baik. Setiap kali merencanakan suatu operasi penyerangan, kerap diperhitungkan secara matang, detail, serta menyertakan rencana B, C, dan D-nya. Tak aneh jika dalam setiap aksinya, unit khusus ini sering mencapai hasil maksimal dengan sedikit korban. “Mereka memiliki semangat tinggi, kaya pengalaman tempur dan pandai bersiasat,” ujar Satmoko Tanoyo, eks prajurit ALRI Pasuruan yang pernah melakukan operasi bersama dengan PGI. Salah satu penyerangan PGI yang sukses terjadi saat bersama pasukan Brigade XIII menghancurkan markas tentara Belanda di Pajaran. Operasi ini terbilang cerdik dan cermat karena semua diperhitungkan secara matang, termasuk menjalankan operasi intelijen sehari sebelum penyerangan. PGI juga memutuskan tanggal 31 Agustus 1948 sebagai waktu penyerangan karena bertepatan dengan peringatan ulang tahun Ratu Belanda ke-68. “Kami perkirakan mereka akan sibuk berpesta dan berkurang kewaspadaannya,” ujar Shigeru. Pukul 00.00, mereka sudah mengepung posisi pos militer Belanda dari tiga jurusan. Tak ada satu pun tanda kegiatan di pos Pajaran. Menjelang dini hari, serangan dimulai. Dengan dibuka oleh ledakan granat, maka berhamburanlah tembakan dari berbagai jenis senjata (termasuk bom anti tank) menghajar tanpa ampun posisi pasukan Belanda. Tak ada perlawanan sama sekali. Prajurit-prajurit Belanda itu nampaknya tengah kelelahan usai merayakan pesta dan tak sempat meraih senjata. “Kami semua yakin, mereka yang berada di pos itu pasti mati karena tak mungkin lolos dari kepungan kami dari berbagai sisi,” ujar Shigeru seperti ditulis dalam buku Mereka yang Terlupakan  karya Eiichi Hayashi. Tepat 30 menit kemudian, serangan langsung dihentikan dan seluruh pasukan diperintahkan oleh Mayor Abdul Rachman untuk mundur. Saat gerakan mundur inilah, tiba-tiba terdengar tembakan dari arah pos. Rupanya, itu adalah satu regu pasukan Belanda yang baru saja pulang dari pesta peringatan HUT Ratu Wilhelmina di balai desa terdekat. Dapat dibayangkan bagaimana marah dan terkejutnya mereka saat melihat markasnya hancur dan kawan-kawannya gugur. “Tapi mereka tidak berani melakukan pengejaran dan memilih untuk merawat mayat kawan-kawannya yang sudah tewas,” ujar Shigeru. Besoknya, seorang petugas telik sandi Brigade XIII ditugaskan untuk menyelidiki hasil serangan malam tersebut langsung ke Pajaran. Menurut informasi yang berhasil didapat dari lapangan, pasukan Belanda kehilangan 20 prajurit dan sejumlah senjata hancur. Guna menghindari balasan dari pihak militer Belanda, pada 16 September 1948, PGI memindahkan markasnya dari Dampit ke Garotan.  Sukses di Pajaran, mereka ulangi pula di Poncokusumo pada 18 September 1948. Lewat suatu serangan fajar, PGI kembali berhasil menghabisi tanpa ampun posisi pasukan Belanda. “Penyerangan di Poncokusumo juga berhasil secara gemilang: serdadu musuh semua tewas, sedang di pihak kami tak ada satu pun jatuh korban. Bisa dikatakan kami terus menuai kemenangan sejak itu” kata Shigeru. Namun, hari nahas bagi PGI justru terjadi pada 3 Januari 1949. Dalam buku Perjuangan Total Brigade IV pada Perang Kemerdekaan di Keresidenan Malang karya Nur Hadi dan Sutopo, Soekardi (Nagamoto Sugiyama) bercerita: saat itu sekitar jam 04.30, mereka tengah bergerak dari Garotan menuju satu dataran tinggi bernama Arjosari. Pergerakan itu dilakukan karena berdasarkan informasi telik sandi, satu kekuatan pasukan Belanda tengah menuju kawasan yang sama, namun mereka bergerak dari arah Margosari yang berlawanan dengan posisi pasukan PGI. Versi lain menyatakan bahwa sejatinya pergerakan itu juga disertai satu regu pasukan dari ALRI Pasuruan pimpinan Letnan Satu Rachmat Sumengkar. Itu dikisahkan Letnan Kolonel Angkatan Laut Satmoko Tanoyo, salah satu anggota pasukan tersebut. “Di Garotan, kami mengadakan kerjasama dengan suatu kesatuan eks tentara Jepang, karena mereka sudah lama beroperasi di sana dan telah memiliki pangkalan sendiri,” demikian tulis Satmoko dalam Bunga Rampai Perjuangan dan Pengorbanan Jilid V. Gabungan pasukan PGI dan Angkatan Laut Pasuruan lantas bergerak cepat lewat suatu jurang besar. Mereka berharap bisa mendahului pasukan musuh dan membuat posisi stelling  di bukit yang berada di Arjosari. Namun saat akan melakukan pendakian, tiba-tiba terdengar teriakan seorang prajurit PGI dalam bahasa Jepang. “Ada musuuuhhh!!!” Dan memang, Soekardi melihat sekitar 20 meter di depan, sekitar satu kompi pasukan Belanda tengah bergerak sambil menyebar ke arah mereka. Maka dua pasukan yang bermusuhan itu lalu sama-sama kaget dan sejenak saling terdiam. Namun mereka cepat sadar dan beberapa detik kemudian keluarlah tembakan-tembakan gencar. “Tembakan dibuka oleh senapan mesin yang saya dan Umar (Tatsuji Maekawa) sedang pegang,” kenang Soekardi. Pertempuran jarak dekat berlangsung seru. Sementara pasukan Belanda tertahan namun tidak lama, karena tembakan dari arah kubu PGI semakin berkurang menyusul semakin minimnya amunisi dan tibanya bantuan musuh berupa sebuah pesawat terbang. Mayor Abdul Rachman lantas memerintahkan pasukannya untuk mundur ke suatu jurang di sebelah timur desa. Saat bergerak mundur itulah, sebutir peluru menembus kepala Mayor Abdul Rachman sehingga membuatnya tewas seketika. Mengetahui komandannya gugur, Abdul Majid (Goro Yamano) sempat bingung. Untuk menyelamatkan tubuh Mayor Abdul Rachman, ia kemudian memerintahkan dua kawannya menjalankan proses evakuasi secara cepat. Ia sendiri kemudian maju ke depan sambil melemparkan satu bom anti tank. Usai ledakan, Yamano melihat sekeliling dan tidak mendapatkan seorang pun di sekitarnya. Ia berpikir, semua anggota PGI sudah mundur, termasuk dua orang prajurit yang ia tugaskan membawa jasad Mayor Abdul Rachman. Karena itu, tanpa banyak pertimbangan, ia pun mengundurkan diri dan berusaha mendaki jurang ke arah seberang tempat pengunduran. Namun di sana pun, ia tidak menemukan kawan-kawannya. Sementara itu, pasukan PGI meneruskan perjalanan melampaui dua jurang sebelah timur untuk menjauhi musuh sehingga sampai di kampung Sumberagung. Di sana, mereka lantas beristirahat melepaskan lelah. Selang beberapa waktu kemudian, tiga orang pasukan bagian karaben tiba dalam keadaan sangat payah. Mereka datang tanpa Mayor Abdul Rachman dan Yamano serta dua prajurit lainnya. Kabar tentang komandan mereka baru jelas sekitar pukul 13.30 saat Abdul Majid datang dari jurusan Dampit. Ia menyatakan bahwa taichou sudah gugur dan kemungkinan jasadnya tertinggal di tempat pertempuran. * Tiga hari kemudian, Soekardi, Saleh (Isamu Hirouka) dan Subejo (Genji Hayashi) serta Satmoko dan Letnan Rachmat Sumengkar dari ALRI Pasuruan bergerak kembali ke Arjosari. Di sana,  mereka menemui kepala desa setempat. Tanpa diminta, kepala desa memimpin 15 penduduk untuk ikut melakukan pencarian.  Saat menuju lokasi, mereka menceritakan kepada keempat pejuang tersebut bahwa setelah pertempuran usai di Arjosari, sebuah pesawat terbang Belanda datang dan menembaki rumah-rumah. Banyak rakyat yang tewas dan luka-luka akibat serangan tersebut. Sampai di bekas lokasi pertempuran, mereka semua menyebar. Sulit juga untuk segera menemukan jasad Mayor Abdul Rachman. Hingga menjelang siang, Subejo tiba-tiba berlari dan berteriak bahwa ia melihat jasad komandannya di bawah jurang sebelah timur. Situasi wilayah itu sukar dijangkau pandangan mata dengan jelas karena merupakan jurang dalam yang sekelilingnya terdapat sebidang kecil padang rumput. Jasad Abdul Rahman tersandar tepat di bawah sebatang pohon besar. Sebuah lubang peluru menghiasai mata kanannya, bagian atas telinga kiri dan bahu kirinya. “Dua prajurit yang diperintahkan Yamano membawa mundur komandan tidak pernah ditemukan lagi. Bisa jadi mereka tertangkap atau dieksekusi di tempat lain,” ungkap Soekardi. Setelah berdoa, Soekardi lantas menggunting beberapa helai rambut di kepala komandannya lalu disimpan dalam sebuah amplop. Karena kondisi jasad sudah mulai rusak, maka diputuskan untuk memakamkan jasad Mayor Abdul Rachman di jurang itu. Pemakaman dilakukan secara Islam dan selesai jam 15.00. Karena tidak sempat membuat batu nisan, sebuah bambu besar ditancapkan di atas pusara. Saleh kemudian membubuhinya dengan pensil berwarna merah: Mayor Abdul Rachman Tatsuo Ichiki. Umur: 43 tahun, gugur tanggal 3-1-1949, pukul 07.30 pertempuran Arjosari, Sumberputih, wajak, Malang. Seorang samurai telah menggenapi janjinya: mati sebagai seorang petarung sejati.*

  • Kisah Panglima Pasukan Diponegoro dalam Perang Paderi

    TAHUN 1830-an, suasana persatuan di kalangan kaum Paderi dan kaum adat mulai terasa. Antara kaum ulama dengan kaum adat mulai saling berkompromi. Kedua kubu sebelumnya terlibat perang saudara akibat perbedaan pendapat dalam proses penerimaan Islam. Kaum ulama (kaum Paderi) menginginkan penerapan ajaran Islam yang sesuai Al-Qur’an dan Hadits, sementara kaum adat merasa perlu menjaga tradisi leluhur tetap hidup. Di tengah perpecahan itu Belanda ikut campur dan membuat keadaan semakin rumit. Perlahan masyarakat sadar bahwa Belanda hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonialisasi di Sumatera. Peperangan pun akhirnya berubah menjadi upaya mengusir pemerintah Belanda dari Tanah Minang. Kedua kelompok sepakat menghentikan perang dan bersatu menghilangkan kolonialisme dari wilayahnya. Di lain pihak, kekhawatiran mulai menyelimuti pihak Belanda. Bersatunya dua kekuatan itu memunculkan trauma jika kerugian yang mereka alami dalam Perang Jawa akan terulang di Sumatera. Maka satu-satunya jalan agar kerugian itu tidak terjadi, pihak Belanda  harus mendatangkan bala bantuan dari Batavia.

  • Metamorfosis Hadrah Kuntulan

    DI sebuah panggung, dengan latar mirip gapura besar, sembilan lelaki berdiri berjajar sembari membawa rebana. Dalam hitungan detik, mereka menepuk rebana dengan tertib. Di sisi lainnya, ada pula iringan alat musik tambahan seperti tambur. Duduk di bagian ini pula penyanyi perempuan dan lelaki. Kurang dari setengah menit, muncul dari belakang panggung tujuh penari perempuan. Mereka mengenakan baju seragam dominan putih, omprok (mahkota) yang sudah dimodifikasi menjadi satu dengan jilbab, sarung tangan, dan kaos kaki. Para penari membawakan tari rodat sembari melantunkan bait-bait pujian Islami. Mereka unjuk gigi dalam acara Festival Kuntulan Caruk yang digelar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi di Taman Blambangan pada Oktober 2019. Festival ini diikuti puluhan grup kuntulan tingkat SLTA se-Banyuwangi. Gema syair-syair islami, rancak tabuh hadrah, dan aksi para penari menimbulkan decak kagum ratusan penonton yang hadir. “Semoga ini bisa menjadi panggung bagi anak-anak muda untuk ambil bagian dalam pelestarian budaya lokal. Kami berharap agar anak-anak Banyuwangi tetap mencintai budaya daerahnya di tengah gempuran budaya asing yang kian kuat,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas . Sejak tahun lalu Festival Kuntulan Caruk telah masuk dalam agenda resmi Banyuwangi Festival (B-Fest). Ini sebagai upaya Pemkab Banyuwangi untuk terus merawat dan melestarikan tradisi Banyuwangi. Tumbuh dari Pesantren Kemunculan kuntulan tak bisa dilepaskan dari perkembangan agama Islam di Blambangan, nama lama Banyuwangi. Ia merupakan perkembangan dari hadrah atau terbangan , aktivitas seni yang tumbuh di kalangan pesantren dalam rangka dakwah. Bentuknya berupa selawatan yang bersumber dari kitab al-Barzanjiy yang berisikan kisah perjalanan Rasulullah, pujian-pujian kepadanya, dan doa-doa. Kesenian hadrah sudah dikenal lama dalam masyarakat Islam di Indonesia. Belum jelas kapan hadrah dikenal di Banyuwangi. Namun John Scholte dalam “Gandroeng van Banjoewangi” (1927) sudah menyebut keberadaan sebuah kesenian bernama “ajrah”, yakni seni dakwah yang menyajikan nyanyian Islami. Menariknya, ajrah disebut mempengaruhi lagu-lagu dalam kesenian gandrung. Banyak pemerhati seni meyakini ajrah yang dimaksud Scholte adalah hadrah. Kristina Novi Susanti dalam “Kesenian Kuntulan Banyuwangi: Pengamatan Kelompok Musik Kuntulan Mangun Kerto”, skripsi pada Program Studi Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2008, menyebut saat itu sudah ada kesenian islami yang menyajkan nyanyian sekaligus tarian sederhana, dengan seorang penari laki-laki yang disebut rudat . Kesenian ajrah dengan penari rudat inilah yang diangap sebagai bentuk awal dari hadrah yang tumbuh di pondok pesantren. Dalam hadrah, instrumen musik yang mengiringinya adalah rebana dan kendang. Gerakan tari, yang dibawakan laki-laki, umumnya menirukan gerakan wudhu, adzan, sholat, dan sebagainya. Pakaiannya serba putih, baik baju, sarung atau celana panjang, maupun peci atau ikat. Sayangnya, hadrah kurang berkembang dan perlahan memudar. Ia kemudian bermetamorfosis jadi kesenian hadrah kuntul atau kuntulan yang lebih menarik. Hal ini tak lepas dari kreativitas seniman Sumitro Hadi untuk kepentingan festival seni di Surabaya tahun 1977. Sumitro Hadi menggunakan penari perempuan dengan kostum berwarna kuning dan warna lain, omprok (penutup kepala) ala penari gandrung, kaos kaki dan kaos tangan. Sumitro Hadi lalu melakukan pengembangan lagi dengan menggabungkan penari laki-laki dan perempuan dalam satu sajian. Kreasi ini sempat populer hingga akhir 1980-an. “Perbedaan wujud yang mendasar yaitu, jika dalam hadrah unsur teks adalah unsur utama sajian dengan musik sebagai iringan, tetapi dalam kuntulan musik dan tarian adalah unsur utama sajian. Bahkan dapat dikatakan sajian tarian lebih dominan,” tulis Ciptono Hadi dalam “Perubahan Hadrah ke Kuntulan: Kajian Aspek Tekstual dan Kontekstual”, skripsi pada Jurusan Etnomusikologi Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2013. Pengembangan lebih lanjut dilakukan seniman Sahuni. Dia mengambil unsur musik, tari, dan tembang dalam kesenian tradisi Banyuwangi lainnya, termasuk gandrung. Pengembangan ini diberi nama kundaran ; akronim dari “kun” yang merujuk pada kuntulan dan “daran” yang berarti pengembangan. Nama baru itu populer dan bersanding dengan nama lain seperti kuntulan, kuntari (kuntulan tari), atau hadrah kuntulan. Proses perubahan itu membuat hadrah kuntulan menjadi lebih hidup dan menarik. Sajian hadrah Banyuwangi pernah tampil di TVRI Surabaya pada 28 Januari 1985. Munsief KH dalam “Diperlukan Kreativitas dalam Seni Hadrah”, dimuat majalah Amalbhakti , mengapresiasi kesenian ini. Menurutnya, “jika kita tonton sepintas nampak adanya suatu upaya untuk mendinamisir pola seni hadrah sesuai dengan tuntutan zaman.” Selain itu, jika dibandingkan pola seni hadrah di Surabaya dan sekitarnya, “nampak hadrah dari Banyuwangi lebih dinamis dan beraneka gerak dan langgamnya.” Festival Kuntulan di Taman Blambangan tahun 2016. (Twitter @infobwi). Pesan Islam Selain penyajian secara sendiri, berkembang pula kuntulan caruk – caruk dalam bahasa Osing berarti pertemuan atau bertemu. Dua kelompok kuntulan dihadirkan dalam satu pementasan untuk berkompetisi. Penilaian ditentukan penonton. Akibatnya saling dukung kerap menimbulkan ketegangan. “Pada dekade 1980 hingga 1990-an, Kuntulan caruk merupakan pertunjukan yang selalu menghadirkan suasana ketegangan pertunjukan,” tulis Karsono dalam “Seni Kuntulan Banyuwangi: Keberlanjutan dan Perubahannya”, dimuat jurnal Ikadbudi , Oktober 2014 . Saat ini ketegangan suasana pertunjukan dalam Kuntulan Caruk sudah jarang ditemui. Hingga kini, kuntulan caruk menjadi pertunjukan yang menarik penonton. Setiap tahun digelar Festival Kuntulan Caruk yang mempertemukan berbagai kelompok musik Islami dari seluruh Banyuwangi. Islam yang Santun Di Banyuwangi, pertunjukan kuntulan biasanya tampil pada acara-acara perkawinan, bersih desa, hingga peringatan hari besar keagamaan. Dalam pementasan kuntulan, terdapat sembilan pemain terbang yang terbagi dalam tiga kelompok dan repertoarnya mencakup nyanyian bernapaskan Islam ( qasidah ), lagu-lagu dalam bahasa Osing, dan terkadang lagu pop yang tengah populer. Sejumlah upaya dilakukan Pemkab Banyuwangi untuk merawat kesenian ini. Pada 2011, misalnya, Pemkab Banyuwangi menggelar pagelaran terbangan yang berkolaborasi dengan hadrah kuntulan yang dilakukan 232 orang. Pagelaran ini meraih rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Pementasan Terbangan dengan Peserta Terbanyak”. Hadrah kuntulan khas Banyuwangi pun tetap bertahan. Bahkan mengharumkan nama Banyuwangi. Di pentas nasional, kuntulan pernah juara lomba festival di Masjid Istiqlal Jakarta. Kuntulan juga kerap tampil di luar negeri. Awal tahun 2019, 20 seniman muda Banyuwangi tampil membawakan hadrah kuntulan di Festival Janadriyah di Riyadh, Arab Saudi, festival terbesar di kawasan Timur Tengah. Daya tarik kuntulan bisa dilihat pada Festival Hadrah Pelajar Nasional yang digelar di Banyuwangi, Mei 2019. Tampil 13 mahasiswa dari 12 negara peserta program Beasiswa Seni Budaya Indonesia (BSBI). Salah satunya Irati Gutierrez Ugarte asal Bilbao, Spanyol. Dia mengatakan berlatih tari kuntulan merupakan kesempatan baginya untuk mengenal Islam di Indonesia. “Festival ini akan menjadi media untuk merajut silahturahmi dan konsolidasi antar pelajar dan santri dari seluruh nusantara. Sekaligus, lewat festival hadrah dan sholawat ini kami ingin mengirim pesan tentang budaya Islam di Indonesia yang santun, toleran, dan inklusif, dan yang tentunya cinta damai,” ujar Bupati Anas . Festival Hadrah dan Festival Kuntulan Caruk masuk dalam agenda Banyuwangi Festival. Untuk tahun ini semestinya masing-masing akan digelar 9 Mei dan 3 Oktober 2020

  • Empat Penyebar Islam Pra Wali Songo

    PADA abad ke-15, keberadaan agama Islam mulai kuat di Pulau Jawa. Kehadirannya sedikit demi sedikit menggerus eksistensi Hindu-Budha yang telah hadir berabad-abad lamanya. Dianggap lebih mudah diikuti ketimbang ajaran-ajaran sebelumnya, masyarakat pun berbondong-bondong mengikrarkan diri sebagai seorang muslim. Kemunculan Wali Songo (Sembilan Wali) juga turut menguatkan proses islamisasi kala itu. Para alim –seorang berilmu dalam agama Islam– itu menjadi ujung tombak dalam penyebaran ajaran Islam. Sunan Gersik, Sunan Bonang, hingga Sunan Gunung Jati, membangun daerah penyebarannya masing-masing. Mereka menjadi salah satu pembuka jalan era kerajaan Islam di Pulau Jawa. Namun sebelum masa Sembilan Wali, masyarakat di Pulau Jawa telah mengenal tokoh-tokoh penyebar Islam. Syekh Jumadil Qubro misalnya, menjadi leluhur sebagian besar Wali Songo. Di antara ulama-ulama tersebut, berikut empat tokoh yang berhasil dirangkum Historia . Syekh Datuk Kahfi Syekh Datuk Kahfi –nama lainnya Syekh Nurjati atau Syekh Idhofi– dikenal sebagai perintis penyebaran Islam di barat Pulau Jawa, khususnya wilayah Cirebon dan sekitarnya. Lahir di Semenanjung Malaka sekitar abad ke-14, Syekh Datuk Kahfi merupakan putra seorang ulama besar Malaka yakni Syekh Datuk Ahmad. Disebutkan di dalam beberapa naskah, salah satunya Naskah Purwaka Caruban Nagari , Syekh Datuk Kahfi adalah keturunan Nabi Muhammad SAW dari jalur Zaenal Abidin. Syekh Datuk Kahfi pernah menuntut ilmu di Makkah sekitar pertengahan abad ke-14. Dari Tanah Suci, dia pergi ke Baghdad, Irak. Di wilayah kekuasaan Persia itu, Syekh Datuk Kahfi memperdalam keilmuannya. Banyak pemikir-pemikir Muslim Persia yang turut mempengaruhi jalan dakwah Syekh Datuk Kahfi ketika berada di Jawa. Di Baghdad ini juga Syekh Datuk Kahfi menikah dengan Syarifah Halimah, adik penguasa Baghdad Syarif Sulaiman. Kedunya dikaruniai empat orang anak, yang kelak mengikuti jejak ayahnya di Cirebon. Syekh Datuk Kahfi lalu diutus oleh Raja Baghdad menyiarkan Islam ke wilayah Nusantara, yang ketika itu menjalin hubungan dagang dengan Persia. Setelah melalui perjalanan yang panjang, Syekh Datuk Kahfi akhirnya sampai di Nusantara, tepatnya Pulau Jawa. Menurut sejarawan Uka Tjandrasasmita dalam Arekologi Islam Nusantara , Syekh Datuk Kahfi dan rombongannya tiba di Pelabuhan Muara Jati, Cirebon pada 1420. Dia diketahui membawa serta 20 laki-laki, dan dua perempuan dalam perjalanan dakwahnya ini. Syekh Datuk Kahfi langsung diterima baik oleh Juru Labuhan Ki Gedeng Jumajanjati (sumber lain menyebut Ki Gedeng Tapa). Dia diberi tempat bermukim di Giri Amparan Jati. “Mereka diterima dengan baik, diberikan tempat, dan dimuliakan oleh Ki Gedeng Jumajanjati,” tulis Uka Tjandrasasmita. Di Amparan Jati, Syekh Datuk Kahfi giat berdakwah. Dia mengenalkan tentang agama Islam di sekitar masyarakat yang masih menganut ajaran Hindu-Budha. Banyak orang dari berbagai daerah yang kemudian berdatangan untuk belajar tentang Islam. Namun jalan dakwahnya ini tidak selalu mulus. Syekh Datuk Kahfi banyak mendapat tantangan, terutama dari Kerajaan Galuh sebagai penguasa Cirebon kala itu. Syekh Datuk Kahfi diketahui menjadi guru bagi putra-putri Raja Sunda Prabu Siliwangi, yakni Raden Walasungsang dan Nyai Rara Santang. Keduanya memilih memeluk Islam setelah memperdalam tentang ajaran tersebut di bawah asuhan Syekh Datuk Kahfi. Raden Walasungsang (bergelar Syekh Duliman) lalu mendirikan tempat dakwah lain di Caruban Larang, tempat berdirinya Kesultanan Cirebon. Walasungsang membantu Syekh Datuk Kahfi dalam penyebaran Islam di Jawa Barat, dan wilayah lainnya. Syekh Maulana Akbar Ulama lain yang menyebarkan ajaran Islam di barat pulau Jawa adalah Syekh Maulana Akbar –nama lainnya Syekh Bayanullah. Adik Syekh Datuk Kahfi ini banyak melakukan dakwah di wilayah Kuningan, Jawa Barat. Tercatat di dalam Naskah Pangeran Wangsakerta , Syekh Maulana Akbar adalah putra dari Syekh Datuk Ahmad, dan cucu Syekh Datuk Isa. Keduanya dikenal sebagai ulama besar Malaka. Syekh Maulana Akbar datang ke Jawa setelah Syekh Datuk Kahfi membangun pusat dakwah di Amparan Jati, Cirebon. Sama seperti kakaknya, Syekh Maulana Akbar juga lahir di Malaka sekitar abad ke-14. Menurut cerita di dalam Naskah Pangeran Wangsakerta , dia menimba ilmu di Makkah sejak usia remaja. Diketahui, Syekh Maulana Akbar lebih dahulu tinggal di Makkah ketimbang Syekh Datuk Kahfi. Di sana dia mendirikan pondok, dan dikenal masyarakat sebagai guru agama sekaligus saudagar. Menurut Bambang Irianto dan Siti Fatimah dalam Syekh Nurjati (Syekh Datul Kahfi): Perintis Dakwah dan Pendidikan, kedatangan Syekh Maulana Akbar di Kuningan bermula dari kunjungan murid Syekh Datuk Kahfi, Walasungsang dan Rara Santang ke Makkah. Dari interaksi itu, dan berbagai cerita yang disampaikan Walasungsang terkait situasi di Nusantara, Syekh Maulana Akbar mulai memiliki keinginan untuk berdakwah ke Jawa, mengikuti jejak kakaknya. Syekh Maulana Akbar juga sempat pergi ke Persia. Sehingga banyak orang yang mengira kalau Syekh Maulana Akbar berasal dari Persia. Syekh Maulana Akabr tiba di Kuningan sekitar tahun 1450. Dia sempat tinggal di Cirebon bersama Syekh Datuk Kahfi. Kemudian memutuskan membangun lingkungan dakwahnya sendiri di Kuningan. Syekh Maulana Akbar mendirikan pondok di Desa Sidapurna, Kuningan. Diceritakan sejarawan Edi S. Ekadjati dalam Sejarah Kuningan: Dari Masa Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten , Syekh Maulana Akbar menikah dengan Nyi Wandasari, cucu Raja Sunda Prabu Dewa Niskala di Kawali. Dari pernikahan itu lahir seorang putra berama Maulana Arifin. Putranya inilah yang nantinya menggantikan peran Syekh Maulana Akbar dalam menyiarkan Islam di Kuningan setelah dirinya wafat. “… Penduduk setempat mulai banyak masuk Islam atas upaya Syekh Maulana Akbar,” kata Ekadjati. Syekh Jumadil Qubro Syekh Jumadil Qubro dikenal sebagai guru para Wali di Tanah Jawa. Keturunannya kelak banyak yang memangku gelar Wali Songo (sembilan wali), sebagai para pendakwah Islam di Pulau Jawa. Dalam Atlas Wali Songo disebutkan bahwa Syekh Jumadil Qubro merupakan ayah dari Sunan Gresik; kakek dari Sunan Ampel; dan kakek buyut dari Sunan Bonang, dan Sunan Drajat. Syekh Jumadil Qubro lahir di sebuah desa di Samarkhand, Uzbekistan pada pertengahan abad ke-14. Syekh Jumadil Qubro terlahir dengan nama Syekh Jamaluddin al-Husain al-Akbar. Sejak kecil, dia telah mendapat pendidikan agama Islam yang baik dari ayahnya Sayyid Zainul Khusen. Beranjak dewasa, Syekh Jumadil Qubro pergi ke India untuk belajar Tasawwuf dan ilmu agama lainnya. Kemudian Syekh Jumadil Qubro melanjutkan pencarian ilmunya ke Makkah. Berbagai ilmu keislaman diterimanya dari sejumlah ulama besar Makkah dan Madinah. Dalam buku Sejarah Islam Nusantara , Syekh Jumadil Qubro menikah dengan seorang putri dari Uzbekistan dan dikaruniai tiga putra: Maulana Malik Ibrahim, Ibrahim Asmaraqandi, dan Maulana Ishaq. Selain dikenal sebagai pendakwah, Syekh Jumadil Qubro juga seorang saudagar. Ketika sedang berada di Champa, dia berhasil mengislamkan penguasa di wilayah yang sangat kental dengan ajaran Hindu-Budha tersebut. Di sana, Syekh Jumadil Qubro menikahkan Ibrahim Asmaraqandi dengan putri Raja Champa Dewi Candrawulan. Perjalanan lalu berlanjut ke wilayah Samudera Pasai di Aceh. Syekh Jumadil Qubro didampingi oleh putra-putranya saat berdakwah dan berdagang di Nusantara. Syekh Jumadil Qubro tiba di Jawa pada 1399. Dia langsung dihadapi dengan situasi politik kerajaan Majapahit. Ajaran Hindu Budha saat itu pun masih sangat kuat di wilayah Jawa. Untuk beberapa waktu, Syekh Jumadil Qubro melakukan pengenalan ajaran Islam secara perlahan, dan sembunyi-sembunyi. Dia mengalami berbagai kesulitan dalam upaya Islamisasi tersebut, mengingat pengaruh Majapahit. “Kegiatan dakwah secara terang-terangan tidak memungkinkan beliau lakukan, karena hal tersebut tentu akan mengundang kemurkaan kerajaan,” tulis Cholil Nasiruddin dalam Punjer Wali Songo: Sejarah Sayyid Jumadil Kubro . Meski begitu, banyak orang, termasuk kalangan bangsawan, yang akhirnya memilih memeluk Islam dan menjadi murid Syekh Jumadil Qubro. Perlahan upaya Islamisasi di sekitar kekuasaan Majapahit semakin kuat. Banyak masyarakat yang meninggalkan ajaran Hindu-Budha, sehingga pengikut Syekh Jumadil Qubro semakin besar. Pada masa ini juga mulai bermunculan ulama-ulama lain yang melakukan dakwah ke seluruh penjuru Jawa. Syekh Quro Ulama lain yang memberi pengaruh besar kepada penyebaran Islam di Pulau Jawa adalah Syekh Quro –nama lainnya Syekh Mursyahadatillah, atau Syekh Hasanuddin. Syekh Quro berasal dari Champa, putra seorang ulama besar bernama Syekh Yusuf Siddik. Dia mendapat pengetahuan Islam dari ulama-ulama besar Makkah. Peneliti Atja dalam Tjarita Purwaka Tjaruban Nagari , menyebut jika Syekh Quro pergi ke Nusantara dalam perjalanan dakwahnya. Dia ikut di dalam rombongan orang-orang Cina yang datang ke Champa. Syekh Quro sempat mengajar keislaman di Kesultanan Malaka pada permulaan abad ke-15. Dari sanalah dia melanjutkan dakwahnya ke Pulau Jawa. Menurut Uka Tjandrasasmita, daerah pertama yang disinggahi Syekh Quro adalah Pelabuhan Cirebon, di wilayah Kerajaan Galuh-Sunda. Kedatangannya pada 1418 itu disambut Syahbandar Muara Jati Ki Gedeng Tapa. Di sana, Syekh Quro melanjutkan syiar agamanya. Banyak masyarakat di sekitar pelabuhan yang akhirnya memeluk Islam setelah menerima ajaran Syekh Quro, termasuk Ki Gedeng Tapa sendiri. Syekh Quro tidak lama tinggal di Cirebon. Halangan dari para penguasa membuat dia terpaksa pergi dan melanjutkan dakwahnya di Karawang. Di tempat baru ini, Syekh Quro membangun sebuah pondok sebagai tempat dakwah dan penyiaran agama Islam. Diketahui, Syekh Quro memiliki suara yang merdu ketika membaca Al-Qur’an. Hal itu menjadi daya tarik yang membuat banyak orang tertarik mempelajari Islam. Melalui penelitian Ading Kusdiana dalam Sejarah Pesantren: Jejak Penyebaran, dan Jaringannya di Wilayah Priangan , diketahui bahwa Ki Gedeng Tapa menyuruh putrinya Nyai Subang Larang pergi ke Kerawang guna menuntut ilmu agama di bawah asuhan Syekh Kuro. Di sinilah Nyai Subang Larang memeluk Islam dan mulai mengajarkan pengetahuan Islam kepada anak-anaknya: Raden Walasungsang dan Nyai Lara Santang. Keduanya kemudian menjadi murid Syekh Datuk Kahfi. “Ada beberapa indikasi bahwa penyebaran Islam dan kegiatan pendidikan pesantren masuk ke wilayah Priangan dari Cirebon dan dari Karawang,” tulis Ading.*

  • Ideologi Juche Korea Utara

    JIKA Sukarno menggagas Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia, sahabatnya, Kim Il-sung juga merumuskan sendiri ideologi Korea Utara yang bernama Juche . Dan pada 1965, Juche  diumumkan secara internasional di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta. Juche  atau chuch’e (bisa diartikan sebagai berdikari) merupakan ideologi resmi Korea Utara. Menjadi pandangan hidup orang Korea Utara serta digunakan sebagai identitas politik negeri itu. Gagasan politik Juche  secara bertahap memasukan empat konsep yakni chuch’e , chaju , charip , dan chawi . Keempat konsep tersebut dikembangkan sejak 1950 hingga 1960-an. Konsep “ chuch’e  dalam pemikiran” muncul pertama kali pada Desember 1955 dalam pidato Kim Il-sung tentang “Menghilangkan dogmatisme dan formalisme dan membangun juche  [ chuch’e ] dalam kerja ideologis”. Ia menyebutkan istilah chuch’e  untuk pertama kalinya dan menunjukan perlawanannya pada kebijakan Soviet yang dipimpin Nikita Khrushchev. “Ia menggunakan chuch’e  sebagai konsep untuk melawan hegemoni Soviet. Dengan kata lain, benih ide chuch’e  ditanam selama perpecahan Soviet-Korea Utara,” sebut Jae-Cheon Lim dalam Kim Jong Il’s Leadership of North Korea. Konsep chuch’e  digunakan untuk menghilangkan budaya Soviet yang membanjiri Korea Utara sejak 1945. Juga diharapkan dapat membangkitkan kesadaran identitas nasional Korea Utara. Kim Il-sung juga memanfaatkan gagasan chuch’e  untuk membersihkan lawan-lawan politiknya yang ia cap dogmatis atau kutu busuk. Pada 1956, pemerintah Korea Utara mengangkat slogan “Mari wujudkan Chuch’e !”. Rakyat Korea Utara didorong untuk tidak bergantung pada pengalaman revolusi negara lain tetapi atas dasar sejarah revolusioner Korea Utara sendiri, prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme, dan kebijakan partai yang dikembangkan secara kreatif. “Substansi utama ‘ chuch’e  dalam pemikiran’ pada saat itu adalah untuk merebut kembali Korea dan menerapkan prinsip-prinsip Marxisme-Leninisme ke realitas Korea dengan cara yang kreatif,” tulis Lim. Konsep chaju  (penentuan nasib sendiri) muncul berikutnya. Konsep ini terkait dengan urusan luar negeri Korea Utara. Kim mulai menggunakan chaju  dalam hubungan diplomatik setelah menghadiri peringatan 40 tahun revolusi Soviet pada Desember 1957. Prinsip-prinsipnya antara lain kesetaraan, penghormatan terhadap integritas wilayah, kemerdekaan nasional, dan non-intervensi. Kemudian dalam pidato peringatan ulang tahun ke-15 Tentara Rakyat Korea pada 1963, Kim Il-sung secara khusus berbicara tentang chaju . Ia mengatakan bahwa tanpa chaju , seorang politisi tidak dapat bekerja untuk rakyat, melainkan hanya menjilat orang lain dan menjadi tangan negara-negara besar serta menjadi konspirator dengan menjual negaranya. Elemen ketiga yakni charip  (kemandirian) dalam ekonomi. Konsep ini berkaitan dengan strategi yang memprioritaskan industri militer. Menurut Kim, intervensi Krushchev dalam perekonomian Korea Utara telah mendorong perlunya charip  ekonomi. Sebelumnya, pada Konferensi Partai Pertama 1958, Kim telah menyinggung bahwa charip  ekonomi bertujuan untuk membangun ekonomi mandiri, di mana Korea Utara dapat mencari nafkah sendiri dan mendukung diri sendiri. “Belakangan, Kim merinci hubungan antara chaju  politik dan charip  ekonomi. Tanpa charip  ekonomi, chaju  politik tidak dapat dipertahankan –hanya keduanya yang bisa menjamin kemerdekaan nasional,” jelas Lim. Konsep terakhir yang diperkenalkan namun tak kalah penting adalah chawi (pertahanan diri) dalam pertahanan nasional. Kim mengembangkan kebijakan baru pasca pengurangan bantuan militer Soviet di awal 1960-an. Pada Oktober 1963, chawi  dalam pertahanan nasional diumumkan melalui pidato upacara wisuda ketujuh Akademi Militer Kim Il-sung. Akhirnya, jelas Lim, gagasan chuch’e  yang berisi empat konsep yakni chuch’e , chaju , charip  dan chawi  diumumkan secara internasional di Akademi Ilmu Sosial Aliarcham, Jakarta pada April 1965. Pada kesempatan itu, Kim Il-sung menjelaskan bahwa “mendirikan chuch’e ” adalah prinsip “pemecahan bagi semua masalah revolusi dan konstruksi sesuai dengan kondisi suatu negara dan terutama dengan upaya sendiri”. Kuliah Kim Il-sung yang disampaikan di akademi yang didirikan Partai Komunis Indonesia (PKI) itu berjudul On Socialist Construction and the South Korean Revolution in the Democratic People’s Republic of Korea.   Kim Il-sung menyebut bahwa chuch’e  telah ditetapkan sejak 1955 dan terus menerus diperjuangkan secara enerjik agar terwujud. Sejak itu pula, ia mengklaim telah memulai pertarungan melawan revisionisme modern yang muncul dalam kubu sosialis. “Kami telah dengan penuh semangat melakukan pekerjaan ideologis di antara para kader dan anggota partai sehingga mereka semua dapat berpikir sehubungan dengan niat partai, membuat studi mendalam tentang kebijakan partai, bekerja sesuai dengan kebijakan ini dan dengan penuh semangat berusaha untuk penerapannya,” jelas Kim Il-sung dalam kuliahnya seperti termuat dalam Juche! The Speeches and Writings of Kim Il Sung. Kim Il-sung juga berulang kali mempertegas ajakan persatuan di antara negara-negara sosialis, negara-negara yang baru merdeka serta negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk menyingkirkan imperialisme. “Perjuangan Komunis dan rakyat Indonesia yang anti-imperialis, anti-kolonialis konduktif bagi perjuangan bersama rakyat Asia. Rakyat Korea sangat menghargai ikatan dan persatuan mereka dengan Komunis Indonesia dan rakyat Indonesia, dan secara aktif mendukung perjuangan revolusioner mereka,” ujarnya. Dengan mengibarkan panji revolusi, kata Kim Il-sung, “kaum Komunis dan rakyat kedua negara kita akan setiap saat bertarung dalam persatuan yang teguh untuk kemerdekaan nasional, sosialisme, dan perdamaian, melawan kekuatan agresi imperialis yang dipimpin oleh imperialisme A.S.”*

  • Orang Dayak Menghadapi Wabah Penyakit

    PENYAKIT menular mulai muncul pada masyarakat prasejarah yang menetap, bertani, dan beternak. Sebagian besar hidup dalam permukiman permanen. Permukiman yang padat dan tak higienis menjadi sarang bagi munculnya wabah. “Sebagian besar penyakit menular, seperti campak, cacar, kolera, TBC, dan sebagainya, ditularkan dari hewan yang didomestikasi oleh umat manusia sendiri,” kata Muslimin A.R. Effendy, kepala BPCB Kalimantan dalam diskusi daring lewat aplikasi  zoom  tentang “Wabah Penyakit Menular dan Bencana Kemanusiaan Perspektif Sejarah dam Budaya” pada Kamis 30 April 2020. Di Indonesia, penyakit menular muncul sejak akhir masa neolitik 2.000 tahun lalu. Di Lambanapu dan Melolo, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, ditemukan rangka manusia dalam jumlah banyak dan betumpuk. “Kesimpulannya kematian dalam jumlah banyak ini diduga karena epidemi wabah penyakit yang menyerang wilayah itu,” kata Muslimin. “Dari hasil ekskavasi peneliti menemukan rangka dan temuan lain berada di lapisan yang sama, jadi diduga berasal dari periode sama.” Ekskavasi di Jembrana, Gilimanuk, tahun 1963 ditemukan wadah kubur yang sebagian besar berisi rangka anak-anak muda berusia 21–30 tahun. Diduga bukan sekadar penyakit tulang, tetapi juga disebabkan oleh pengaruh lingkungan berbatu gamping. Akibatnya, banyak penyakit epidemi menyerang masyarakat Jembrana. “Rangka di Jembrana ini kesimpulannya ada pelapukan pada tulang akibat mengkonsumsi bahan makanan dan sumber air yang tak higienis. Penyakit ini berlangsung cukup lama sehingga masih ditemukan pada orang-orang dari masa berikutnya,” kata Muslimin. Memasuki masa sejarah, pada Oktober 1880, berawal dari Kalimantan Barat, kolera dan cacar menyebar ke Banjarmasin, Martapura, Amungtai, Sampit, Samarinda, dan Kutai. Banyak korban jiwa berjatuhan. Namun, wabah itu tidak menyebar di pedalaman Dayak. Menurut Muslimin karena pemimpin adat mampu melakukan isolasi dan mendata orang-orang yang masuk ke lingkungannya. Namun, isolasi itu tak bertahan lama. Muncul pula pemikiran kalau penyakit itu datang dari Tuhan, bukan ditularkan antarmanusia. “Lambat laun wabah penyakit yang diproteksi oleh tokoh-tokoh adat itu kembali mewabah di daerah itu. Akibatnya jumlah korban makin banyak. Di Kutai pada 1882, korban makin banyak,” kata Muslimin. Kolera dan cacar muncul di Muara Teweh dan Martapura pada Juni 1884. Untuk menghadapinya, pemerintah kolonial memerintahkan sekolah untuk menyusun protokol kesehatan, di antaranya membersihkan lingkungan sekolah dan rumah, membiasakan siswa minum air matang, menghindari mandi di sungai yang tercemar bakteri kolera, tak mengkonsumsi ikan di sungai tercemar, dan mandi minimal sekali. “Menariknya dalam laporan kolonial ternyata masyarakat di sana jarang mandi, jadi wabah kudis, disentri, kolera mudah menyerang,” kata Muslimin. Protokol kesehatan lain yang diterapkan adalah rajin mencuci pakaian, alat makan, dan bahan makan yang akan diolah. Mereka juga harus menghindari kontak fisik dengan orang yang sudah tertular. “Kalau dibandingkan dengan kondisi sekarang, walaupun tak selalu sama karena waktunya cukup jauh, sebetulnya masyarakat kita dulu sudah melakukan protokol kesehatan,” kata Muslimin. Hingga tahun 1910, korban meninggal dunia karena kolera dan cacar di Kutai, Banjarmasin, Amungtai, Sampit, berjumlah 1.940 orang. Sedangkan korban meninggal dunia karena cacar di seluruh Kalimantan mencapai 2.000 orang. Jumlahnya meningkat sebagaimana tercatat dalam laporan kolonial ( Kolonial Verslag ) tahun 1919. Penderita kolera di Banjarmasin berjumlah 5.191 orang dan 316 orang meninggal; Hulu Sungai (penderita 11.907 orang dan 1.131 orang meninggal); Kuala Kapuas (penderita 1.184 orang dan 75 orang meninggal); Tanah Dusun (316 orang meninggal); serta Samarinda dan sekitarnya termasuk Kutai (penderita 2.900 orang dan 212 orang meninggal). “Jadi pada 1919 saja total yang meninggal karena penyakit kolera berjumlah 2.050 orang,” kata Muslimin. “Saya belum menemukan sumber lokal yang memadai, seperti manuskrip yang bisa mendokumentasikan wabah itu.” Kolera juga menyebar ke area pertambangan batu bara di wilayah Prapatan, Berau, dan area pengeboran minyak di Balikpapan. Wabah itu mengakibatkan 85 pekerja meninggal. Wabah yang tak kunjung teratasi menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Pada 1910, kepala suku Dayak yang tinggal di perbatasan Dusun Tengah dan Kutai berusaha menghimpun masyarakat untuk mengadakan upacara adat  berejo . Penduduk yang ikut membawa sesaji agar terbebas dari wabah. Upacara adat  berejo  ini diyakini dan diteruskan oleh pengikutnya. Menurut Muslimin, upacara adat itu semacam gerakan kebatinan yang mencoba mengumpulkan pengikut dan memberikan suatu mantra dan jimat agar mereka kebal penyakit.  “Sebetulnya gerakan keagamaan ini dalam tataran tertentu karena ketidakmampuan mereka menjelaskan secara logika dan mencegah tersebarnya wabah, mereka lalu melakukan kontemplasi dengan membuat gerakan spiritual keagamaan,” kata Muslimin. Kearifan Lokal Masyarakat Dayak sebenarnya telah memiliki kearifan lokal dalam menghadapi wabah. Menurut Nasrullah Mappatang, pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman, Kalimantan Timur, orang Dayak memiliki pandangan kosmologis bahwa wabah datang karena keseimbangan alam rusak. Mereka percaya penyakit bisa diobati dengan ritual dan pantangan makanan dan aktivitas fisik lain. Pada 1894, orang Kayan di Borneo Tengah dan Bahau di Kalimantan Timur selain melakukan ritual juga memiliki ramuan untuk mengobati penyakit. Mereka menerapkan pantangan terhadap setiap penyakit. Ritual-ritual yang dilakukan antara lain ritual mencari penyebab penyakit ( senteau );   ritual penyembuhan   ( balian bawo ) dilakukan masyarakat Dayak Benuaq dan Tunjung di Kalimantan Timur; ritual meminta perlindungan kepada para leluhur ( manggatang sahur lewu );   dan   ritual   bersih kampung dari pengaruh jahat akibat ulah manusia ( Amapas Lewu ). Orang Dayak Badamea, Sambas, Kalimantan Barat, melakukan ritual  basaman.  Doa dan ritual  Parauh/Paramak  dengan memasang tabit ayar dan berdoa kepada Jubata (Tuhan) agar dijauhkan dari wabah penyakit dan roh-roh jahat. Ketika wabah merebak, ada beberapa pantangan yang harus dijalani, seperti dilarang mangas  (membunuh binatang dan memotong hewan ternak),  ngingso  (menebang pohon),  bahanyi  (panen), dan keluar kampung selama dua hari ( lockdown  atau karantina wilayah). Selain ritual, ada perilaku pencegahan seperti  pungan bengan, yaitu mengisolasi diri dari orang lain untuk mencegah penularan penyakit. Tindakan ini seperti pembatasan jarak dan isolasi mandiri. Misalnya dalam pencegahan cacar, orang Dayak di Borneo percaya cacar dapat dihindari dengan melarang orang pergi ke dataran rendah dan berada di sekitar “orang asing”. Mereka melakukan transaksi dengan cara barter bisu, lewat jarak jauh, dan menghindari dataran rendah. “Cacar dikenal sejak abad ke-16 di Asia dan muncul kembali sekira abad ke-18,” kata Nasrullah. Menurut Nasrullah, masyarakat tradisional di Kalimantan melihat penyakit lebih kepada relasi mereka dengan lingkungan dan alam. Mereka melakukan ritual karena menganggap roh jahat adalah penyebab orang terkena penyakit atau merebaknya wabah.  “Makanya penyakit tidak dibunuh, tapi dikembalikan ke tempatnya. Salah satu cara pandang yang relevan sampai hari ini, yakni bagaimana relasi kerusakan habitat hidup menyebabkan lahirnya penyakit,” kata Nasrullah. Cara pandang itu, kata Nasrullah, secara simbolik menunjukkan betapa berjaraknya manusia dengan alam. Ketika alam dirusak, maka “roh” hutan atau lingkungan yang marah pun mengganggu manusia.  “Jadi manusia itu selalu reflektif, kita sakit, kita diserang penyakit itu karena ada kerusakan di sekitar kita. Karena sangat menyatu manusia dengan alam,” ujar Nasrullah. Kendati begitu, karena melihat kurangnya pengetahuan tentang penyakit menular di tengah masyarakat adat, Nasrullah menilai edukasi dan sosialisasi cara-cara pencegahan dan pengendalian wabah penyakit masih dibutuhkan. “Pendekatan dialogis antara paradigma kesehatan secara tradisional dan modern,” ujarnya. Muslimin pun mengatakan, mewabahnya penyakit diakibatkan karena ada pengabaian. Seperti dalam sejarah terjadinya wabah kolera pada masa kolonial. Pemerintah Hindia Belanda mengabaikan peringatan pada 1819 ketika penyakit ini sudah menyerang Penang dan Malaka. Peringatan ini tak diindahkan karena pemerintah Hindia Belanda percaya penyakit akan dengan sendirinya mati di tengah iklim tropis di Nusantara. “Nyatanya penyakit ini menyerang semua kalangan, yang paling terdampak adalah kaum pribumi miskin, gizi di bawah standar, dan mengkonsumsi makanan tak sehat, inilah yang membuat mereka rentan terserang penyakit,” ujarnya.*

  • Kisah Dewa dari Korea Utara

    SENO Gumira Ajidarma mengisahkan suatu kejadian tak mengenakan saat dirinya berkunjung ke Korea Utara pada 2002. Sebagai tamu resmi pemerintah negera komunis itu, Seno yang seorang kritikus film sekaligus fotografer, suatu hari berkesempatan mengambil gambar patung Kim Il-sung, Bapak Pendiri Korea Utara. Saat tengah asyik memotret bagian-bagian patung itu secara rinci dari jarak dekat, tetiba seorang petugas mendekatinya. Dengan ketus dia melarang Seno untuk mengambil gambar patung tersebut secara tidak utuh. “Kalau memotret pemimpin kami, tolong jangan dipotong-potong!” katanya seperti dituturkan oleh Seno dalam bukunya Jejak Mata Pyongyang.

  • Islamisasi Minangkabau

    PROSES Islamisasi di Minangkabau –mencakup wilayah Sumatera Barat, sebagian Riau, Bengkulu, Jambi, sebagian Sumatera Utara, dan sebagian Aceh– terjadi pada kurun masa yang sangat panjang. Banyak bukti yang menjelaskan keberadaan ajaran tersebut. Namun mengenai kapan dan dari mana pertama kali ajaran tersebut masuk, banyak ahli yang kesulitan untuk merekonstruksinya. Keterbatasan informasi menjadi kendala utama. Menurut sejarawan Taufik Abdullah sumber-sumber tentang Islam di Minangkabau belum terekam secara baik. Di dalam tulisannya “Adat and Islam: An Examination of Conlict in Minangkabau” dimuat Readings on Islam in Southeast Asia  karya Yasmin Hussein, Taufik Abdullah menyebut jika pengetahuan pertama tentang Islam di wilayah itu datang dari Ulakan, Padang, Sumatera Barat. Tokoh utamanya adalah Syekh Burhanuddin. Syekh Burhanuddin dianggap sebagai ulama pertama yang menyebarkan Islam di antara masyarakat Minangkabau. Dia merupakan murid dari ulama terkenal Aceh, Syekh Abduurauf Singkel. Tetapi, kata Taufik Abdullah, banyak bukti yang mengindikasikan bahwa Syekh Burhanuddin bukan yang pertama memperkenalkan Islam di sana. “Meski begitu, ia tampaknya menjadi ulama penting pertama yang mendirikan pusat keagamaan di Minangkabau. Dia menjadi satu-satunya ulama yang memiliki wewenang dalam urusan agama,” kata Taufik Abdullah. Syekh Burhanuddin diketahui membangun sebuah surau di Ulakan. Surau itu menjadi tempat pertama ulama-ulama Minangkabau belajar soal agama Islam secara lebih dalam. Murid-murid Syekh Burhanuddin berasal dari berbagai daerah di Minangkabau. Setiap orang, baik muda ataupun tua, yang ingin memperdalam tentang Islam boleh belajar di sana. Menurut Mhd. Nur, dkk dalam Perjuangan Sultan Alam Bagagar Syah dalam Melawan Penjajah Belanda di Minangkabau pada Abad ke-19 ,   mereka yang telah belajar di Ulakan akan kembali ke daerahnya masing-masing dan membangun surau sendiri. Proses inilah yang mempercepat proses islamisasi. Bahkan pengaruh dari Ulakan itu sampai juga ke seluruh Nusantara, seperti yang dilakukan Datuk Ri Bandang dan Datuk Ri Patimang di Makassar, Sulawesi Selatan. “Para murid Syekh menyebarkan Islam di Minangkabau dengan jalan menanamkan budi dan memperlihatkan akhlak yang baik kepada masyarakat. Masyarakat Minangkabau cepat merespon Islam dan ikut menyebarkan Islam ke daerah-daerah lainnya di Nusantara,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada akhir abad ke-17, ulama-ulama besar bermunculan di Tanah Minang. Beberapa di antaranya: Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam, Tuanku Koto Tuo, dan Tuanku Nan Tuo. Mereka adalah bekas murid-murid Syekh Burhanuddin. Di bawah pimpinan ulama-ulama ini, beberapa daerah menjadi pusat pengajaran fiqih Islam, serta Al-Qur’an dan Hadits. Permasalahan hukum, kepercayaan, dan seluruh aspek kehidupan sosial juga tidak lupa diajarkan. Perbedaan Pendapat Awal abad ke-19, setelah berjalan selama dua abad, proses Islamisasi di Minangkabau memasuki fase baru. Para ulama, dikenal sebagai “kaum Paderi”, mencoba melakukan pembaharuan Islam. Misi utamanya: pelaksanaan ajaran Islam yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadits. Dengan kata lain, pemurnian terhadap Islam di Minangkabau. Tokoh utama dalam gerakan reformasi ini adalah para ulama yang baru saja kembali dari Makkah, yakni: Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang. Setelah melihat dan belajar Islam di Tanah Suci umat Islam itu, mereka merasa ada kekeliruan dalam praktek agama di Minangkabau. Utamanya pelaksanaan adat yang berlebihan. Meski mayoritas masyarakat Minangkabau telah memeluk Islam, tetapi tiga haji itu masih menemukan praktek-praktek keagamaan yang bertentangan dengan ajaran Al-Qur’an dan Hadits. Seperti banyak guru agama masih berkhidmat kepada kuburan yang dianggap keramat, sabung ayam, berjudi, minum tuak, meninggalkan ibadah, dan pelanggaran agama lainnya. Kaum Putih (nama lain kaum Paderi) menentang seluruh sistem adat yang telah sejak lama menjadi bagian dari tradisi Minangkabau pra Islam. Mereka berusaha menghapusnya, dan menggantikan kebiasaan-kebiasaan di masyarakat tersebut dengan tradisi islami. Hal itu tentu mendapat pertentangan dari golongan adat yang ingin mempertahankan tradisi turun-temurun itu. “Kaum Paderi bukan saja mencela sistem adat, tetapi juga sekaligus menentang pelaksanaan tradisi adat yang bertentangan dengan Islam yang telah menjadi tradisi bagi kaum Adat di Minangkabau,” tulis Mhd. Nur, dkk. Pada 1803, suasana di Minangkabau semakin memanas. Berbagai perundingan dengan Kerajaan Pagaruyung, sebagai penggerak kaum adat, gagal mencapai kesepakatan. Puncaknya, kaum Paderi dan kaum adat terlibat pertikaian besar yang berujung kepada perang saudara. Di bawah komando Harimau Nan Salapan, kaum Paderi berhasil mendesak pasukan kaum adat pimpinan Sultan Arifin Muningsyah. Pagaruyung lalu meminta bantuan Belanda, yang kebetulan sedang mencari celah menguasai wilayah Sumatera. Kesempatan itu juga digunakan Belanda untuk melemahkan pengaruh kaum ulama Paderi. Merek sadar, setelah melihat kasus Aceh, bahwa kaum ulama militan bisa menjadi penghalang upaya kolonialisasi. Namun di tengah pertikaian besar itu, kaum adat mulai menyadari siasat Belanda yang hanya memanfaatkan mereka untuk kepentingan kolonial. Akhirnya kaum adat dan kaum Paderi setuju melakukan genjatan senjata demi mengusir Belanda dari Tanah Minang. “Dampak paling awal dari Islam tercermin di dalam formulasi baru sistem adat sebagai pola perilaku ideal. Hingga akhirnya elemen-elemen luar dapat diserap secara menyeluruh ke dalam tatanan yang ada sebagai bagian dari sistem yang koheren,” kata Taufik Abdullah.*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page