top of page

Hasil pencarian

9868 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mencegah Bayi Mati Karena Tetanus

    SERPONG pada tahun 1970 masih terhitung daerah pedalaman. Jalan masih tanah berbatu, listrik tak ada, wilayahnya pun masih didominasi kebun. “Dulu waktu Papa dinas di Tangerang, tahun 70-an ya, main paling jauh ke selatan ya Serpong. (Pohon, red .) Karet semua. Sering nembak rusa, berburu,” ujar Eddy Hidayat, wiraswastawan di Bogor, kepada Historia  mengisahkan masa kecilnya ketika sering diajak berburu oleh ayahnya yang tentara. Di wilayah itu, jumlah petugas medis terbatas. Pasca-kemerdekaan hingga 1970-an, hanya ada satu dokter yang menangani seluruh wilayah Tangerang. Dialah dr. Kimar Wiramihardja. Saking jarangnya dokter, pada 1950 Kementerian Kesehatan berupaya mendatangkan sekira 200 dokter dari India dan Eropa barat, seperti dimuat dalam Antara , Sabtu 1 November 1950. Maka ketika dr. Firman Lubis, yang juga dosen Fakultas Kedokteran UI, akan mengadakan proyek penelitian kesehatan di Serpong (Proyek Serpong) pada 1970, dr. Kimar amat senang. Ada juga dokter yang akan meringankan beban kerjanya. Lantaran Serpong belum teraliri listrik, Firman pun harus mencari kulkas berbahan bakar minyak untuk menyimpan obat-obatan. Dalam bukunya Jakarta 1970-an, Firman menceritakan, lampu teplok dan pompa air jadi teman akrabnya kala Proyek Serpong. Dalam mengerjakan proyek itu, Firman dibantu beberapa peneliti dan dokter dari Indonesia dan Belanda, salah satunya sosiolog Anke Borken Niehof. Bantuan dari sosiolog dan antropolog itu memungkinkan pengerjaan dilakukan dengan pendekatan antropologi-medis. Dalam temuan timnya, hubungan sosial antara dukun beranak dan pasiennya terjalin erat dan kekeluargaan. Hubungan ini terbangun lantaran hampir semua dukun bayi memberikan pertolongan tambahan seperti memandikan bayi, mengobati demam, dan pegal linu. Pertolongan semacam ini, tambahnya, bersifat sosial-psikologis yang mendekatkan hubungan dukun-pasien sekaligus membuat para dukun beranak sangat dipercaya oleh masyarakat. Imbasnya, dukun bayi dianggap sebagai pemimin informal. Meski di beberapa kampung terdapat bidan atau mantri, kebanyakan penduduk masih lebih suka lari ke dukun jika menemui keluhan kesehatan. Beberapa alasan yang disebutkan Firman ialah, ketidaktahuan mereka akan tenaga medis atau kekhawatiran kalau-kalau mereka tak akan sanggup membayar. Perkara melahirkan misalnya. Dalam catatan Firman hingga 1970-an, hanya 20% peralinan tercatat ditangani oleh tenaga medis, sisanya lebih memilih meminta bantuan dukun bersalin. Kedekatan hubungan ini tentu menyulitkan tim peneliti Proyek Serpong. Salah-salah bukan menanggulangi masalah kesehatan malah buyar. Ia pun paham kalau model pelarangan pada para dukun hanya akan menimbulkan konflik sosial. Maka, alih-alih menyingkirkan para dukun, ia menggunakan cara yang jauh lebih halus, yakni melatih para dukun tentang hiegenitas dan kebidanan dasar. “Kita ingin berusaha agar dalam waktu yang akan datang bayi yang baru lahir tidak akan meninggal karna penyakit tetanus lagi,” kata Firman dalam laporannya. Temuan dalam laporan Proyek Serpong menyebut bahwa penyebab utama kematian bayi kebanyakan ialah tetanus. Para bayi bisa terjangkit lantaran setelah lahir, tali pusat mereka dibubuhi abu agar cepat kering bukan alkohol dan iodium. Kondisi ini tentu mengkhawatirkan. Pada 1950 misalnya, angka kematian bayi mencapai 600.000 dalam setahun sementara angka kematian ibu mencapai 55.000. Cara-cara seperti inilah yang kemudian dibenahi. Penggunaan bambu ( welad ) dianggap berbahaya sehingga para dukun dibekali tetang ilmu kebidanan dasar, hieginitas, dan medical kit . Isinya gunting, klem, dan alkohol. Kala itu, ada dua orang dukun beranak yang diajar Firman dan para bidan, yakni Mak Kancas dan Mak Icot. Keduanya sudah berusia senja dan buta huruf. Namun dengan penyampaian materi yang lucu dan santai, mereka bisa lekas paham. Firman bahkan mengadakan arisan di setiap pertemuan untuk mendekatkan tim medis dengan para dukun. Alhasil, suasana akrablah yang terjadi. Tidak ada intimidasi, pandangan merendahkan, atau penyingkiran. Lantaran cukup berhasil, proyek serupa dilakukan pula di Yogyakarta. Bidan Nunik Endang Sunarsih, Wakil Ketua Pengurus Besar Ikatan Bidan Indonesia menceritakan pada Historia pengalamannya mendampingi dukun beranak pada 1980-an. Tiap selapan (lima minggu) Nunik membuka pelatihan kebidanan pada para dukun beranak di Yogyakarta. Misinya ialah mengurangi risiko kematian bayi akibat tetanus dengan mengajari para dukun tentang hiegenitas dan melarang mereka menggunakan sembarang ramuan untuk membungkus tali pusat bayi. Dalam tiap pertemuan, Nunik akan meminta para dukun untuk menceritakan proses persalinan yang mereka tangani selama lima minggu sebelumnya. Ia juga memeriksa medical kit  yang ia berikan. “Kalau rusak ya diganti. Tapi kadang ada yang takut kalau ketahuan rusak. Padahal ya tidak akan saya marahi,” kata Nunik sambil terkekeh.

  • Banjir Jakarta 1960-an

    Banjir besar melanda beberapa wilayah Jakarta pada Januari dan Februari 2020. Puluhan ribu orang terdampak dan harus mengungsi. Kerugian materi mencapai hampir Rp1 triliun. Bibit penyakit mengancam di wilayah terdampak. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memberitahu bahwa potensi hujan lebat di Jakarta berlanjut sampai Maret 2020. Banjir Jakarta adalah sejarah berulang. Pada bulan-bulan pembuka tahun, banjir kerap menerjang. Tengoklah sejenak ke awal 1960-an. Ketika itu Soemarno Sosroatmodjo baru saja usai ucapkan sumpah jabatan. Dia menjadi gubernur baru Jakarta pada siang 9 Februari 1960. Kemudian hujan deras turun pada malam hari. Selama beberapa hari, hujan tak kunjung reda. Sungai Angke dan Grogol tak mampu lagi menampung hujan. Air memasuki dan meninggi di sejumlah permukiman jelata dan warga berada. Soemarno memperoleh ujian pertamanya sebagai gubernur, yaitu menghadapi banjir. “Rasanya seperti diplonco,” kata Soemarno dalam Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya . Banjir menghampiri tujuh kelurahan. Termasuk ke permukiman baru anggota parlemen dan badan intelijen di Grogol. Tinggi banjirnya sepinggang atau selutut orang dewasa. Warga memilih mengungsi. Sebab di rumahnya penuh serangga dan ular berbisa yang mencari tempat kering. Kawasan sekitar Istana Negara nyaris ikut terendam. Tapi pemerintah memutuskan membuka Pintu Air Manggarai. Akibatnya permukiman di sekitar Pejompongan menjadi sasaran banjir. Situasi di permukiman jelata sangat parah. Banjirnya sampai setinggi atap rumah. Ribuan rumah terendam dan hampir 40 ribu orang terdampak. Mereka memerlukan bantuan. Tim Bantuan Pertama Soemarno bergerak gesit. Dia pernah aktif di Palang Merah Indonesia (PMI). Karena itu, dia mengerahkan tenaga dan fasilitas di PMI untuk menolong korban banjir. Dia juga membentuk Team Asistensi Bencana Alam. Inilah inisiatif pertama dari pemerintah daerah untuk membantu korban banjir. Periode banjir sebelumnya, warga bergotong royong tanpa ada penanganan khusus dari pemerintah. Pemerintah Kotapraja Jakarta bekerja menanggulangi dampak banjir Februari 1960 dengan melibatkan lima instansi: Departemen Sosial, Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga, dan Departemen Keuangan. Tapi kerja itu tak cukup memuaskan warga Jakarta. Pemerintah Kotapraja kewalahan dan mengakui kelemahannya. “Sebagai jawaban atas ketidakmampuan menangani banjir, pimpinan Kotapraja mengatakan bahwa banjir disebabkan oleh kekuatan alam,” catat Restu Gunawan dalam Kala Air Tidak Lagi Menjadi Sahabat: Banjir dan Pengendaliannya di Jakarta Tahun 1911–1985 , disertasi pada Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Beberapa hari kemudian banjir surut. Orang-orang kembali ke rumah dan membersihkan sisa lumpur. Jalan-jalan rusak. Bibit penyakit menguar. Kerja pemerintah dalam menangani dampak banjir belum selesai. Mereka mulai mengeksekusi rencana pembuatan waduk seluas 105 hektar di Pluit untuk mengurangi limpahan air di kanal dan kali ketika musim hujan tiba nanti. Rencana ini telah muncul dari tahun 1957. “Tetapi pelaksanaannya belum juga dapat dimulai karena kesukaran anggaran,” kata Soemarno dalam Karya Jaya: Kenang-Kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta 1945–1965 . Pembuatan waduk mensyaratkan pula rekayasa aliran air pada kali dan kanal di sejumlah wilayah Jakarta. Perubahan itu akan mengarahkan aliran kali dan kanal ke waduk. Lalu dari waduk, air akan dibuang ke laut. Semua tahap pembangunan waduk akan selesai dalam 4 tahun. Ini berarti selama waduk belum jadi, warga Jakarta dibayang-bayangi banjir. Tapi untunglah selama dua tahun setelah banjir Februari 1960, curah hujan cukup normal. Bahkan musim kemarau sepanjang dua tahun itu cenderung lebih panjang dari tahun 1960. Warga Jakarta hidup tenang. Dalam dua tahun, pembangunan fisik melesat cepat demi Asian Games 1962. Jakarta berubah drastis. Rawa-rawa menjelma permukiman. Tanah merah nan lapang berkurang. Gedung-gedung baru berdiri. Jalanan bertambah panjang. Asian Games 1962 berlangsung meriah. Mata dunia tertuju ke Jakarta. Puja-puji tersemat kepada kota ini berkat penyelenggaraan Asian Games. Warganya pun berbangga dan tersanjung. Tapi kebanggaan itu tak lama. Hujan deras kembali mengguyur Jakarta pada Januari 1963. Sungai, kanal, dan kali meluap. Grogol menjadi lautan kecil. Begitu pula kecamatan lainnya. Banjir mampir lagi di Jakarta. Kali ini cakupannya lebih luas. Tercatat sembilan dari 21 kecamatan di Jakarta terdampak banjir. “Terdapat seluruhnya 433.812 jiwa dari 3 juta penduduk Jakarta yang menderita akibat banjir,” catat Djaja , 2 Februari 1963. Soemarno membentuk Team Chusus Bandjir Ibukota untuk menyalurkan bantuan kepada korban terdampak. Jumlah anggotanya mencukupi, tetapi peralatan untuk menyalurkan bantuan sangat kurang. Misalnya, peralatan untuk mendirikan dapur umum berikut suplai bahan makanannya.    “Oleh karena itulah tidak seluruh mereka yang membutuhkan bantuan berhasil tertolong,” tulis Djaja . Polisi berjaga di sejumlah tempat terdampak selama 24 jam. Dalam situasi kalut, ada saja orang yang mencuri harta benda di rumah kosong. Sebagian polisi juga berpatroli di tempat-tempat terdampak dengan menggunakan perahu karet. Bersama mereka, ikut pula petugas kesehatan untuk memberikan pengobatan dan perawatan kepada korban. Tawaran bantuan dari negeri sahabat berdatangan. Howard Jones, Duta besar Amerika Serikat, menemui langsung pejabat daerah untuk mencari tahu apa saja kebutuhan para korban. Dia menyatakan Kedutaaan Amerika Serikat siap menyediakan kebutuhan tersebut. Pesatnya Pembangunan Seiring surutnya air di tempat-tempat terdampak, diskusi tentang penyebab dan pencegahan banjir mengemuka. Ir. Manuhutu, Direktur Djawatan Pekerdjaan Umum (DPU), mengatakan banjir Jakarta sebagai dampak dari pembangunan yang begitu pesat. “Yang dimaksud beliau tentunya bukan pembangunan-pembangunan yang persiapan dan penyelenggaraannya sudah melalui rencana yang matang sesuai dengan city planning , melainkan pembangunan yang timbul sebagai akibat pertambahan jumlah penduduk yang luar biasa di Jakarta,” catat Djaja . Penduduk Jakarta naik pesat. Ada 3 juta penduduk pada 1963. Padahal pada dekade 1940-an, Jakarta hanya berpenduduk 750 ribu orang. Pertambahan penduduk berarti peningkatan jumlah bangunan. Kemudian pertambahan bangunan mengakibatkan luas tanah beserta daya serap airnya berkurang. Ketika tanah untuk menyerap air justru berkurang, curah hujan selama awal 1963 justru bertambah. Menurut catatan Djaja ,9 Maret 1963, curah hujan berkisar pada 790,6 mm per bulan. Tahun sebelumnya hanya sampai 300 sampai 600 mm per bulan. “Hujan tahun ini di Jakarta merupakan suatu rekor yang hanya bisa diimbangi oleh rekor jatuhnya hujan di tahun 1891 ketika dalam satu hari turun kira-kira 200 mm air hujan.” Djaja melanjutkan, peringatan tentang besarnya curah hujan pada awal 1963 sebenarnya telah disampaikan oleh G. Miles, seorang ahli cuaca berkebangsaan Australia. Tapi tak seorang pun pejabat daerah dan pusat menggubrisnya. “Agaknya skeptis dan menyatakan bahwa di bulan-bulan yang disebut tadi bukan hal luar biasa apabila turun hujan lebat di Indonesia,” ungkap Djaja . Rumah Panggung Untuk mengatasi banjir di Jakarta, Soemarno hanya bisa berharap pada percepatan pembangunan waduk Pluit. Mesin pompa untuk mengalirkan air ke laut pun baru akan beroperasi pada Maret 1964. Soemarno mencoba realistis. Selama waduk Pluit belum selesai, banjir masih akan terus datang di tahun-tahun berikutnya. “Jangan mengharapkan dulu bahwa kita akan terbebas daripadanya dalam tahun yang akan datang,” kata Soemarno dalam Djaja , 2 Maret 1963. Seorang warga punya usulan sendiri untuk menghadapi banjir. Sembari menunggu pembuatan waduk dan sarana pendukungnya selesai, dia menyarankan pemerintah daerah mengeluarkan aturan tentang bentuk rumah agar menyerupai rumah panggung. “Agar rumah-rumah yang ada dalam daerah banjir itu keseluruhannya didirikan (sedapat mungkin diperbaiki) sehingga terletak tidak lagi langsung di atas tanah, melainkan lantainya semuanya bertupangan tiang-tiang rumah itu sendiri, kurang lebih 1–1½ meter tingginya dari tanah seperti rumah-ruma yang hampir dimana kedapatan di luar Jawa,” tulis S.M. Latif dalam surat pembaca di Djaja , 2 Maret 1963. Tapi usul warga itu sepertinya melesap begitu saja. Sementara pembuatan waduk Pluit ternyata keluar dari tenggat. Hingga akhir 1964, pembuatan waduk hanya mencapai 25 persen dari total pengerjaannya. Pembuatan waduk baru selesai pada masa Ali Sadikin menjabat gubernur (1966–1977).

  • Bombshell yang Menumbangkan Pemred Cabul

    DALAM layar kaca, segalanya bergantung pada pandangan mata. Megyn Kelly (diperankan Charlize Theron) memberi tur singkat dalam dapur redaksi televisi berita Fox News . Ia memperlihatkan sedikit-banyak soal kebijakan seksisme oleh siapa lagi kalau bukan sang pemimpin redaksi (pemred) Roger Ailes (John Litgow),yang memimpin tv berita milik taipan media Rupert Murdoch (Malcom McDowell) itu sejak 1996. “Sejak dini dia menyadari cara jaringan berita untuk bertahan 24 jam sehari, adalah Anda butuh sesuatu yang bisa mempertahankan pemirsanya. Tiada lain adalah keindahan kaki. Ada alasan khusus mengapa meja (pembaca berita) berkaca bening,” cetusnya, selain memaparkan semua karyawati Fox News wajib mengenakan rok mini nan ketat. Begitulahadegan yang disuguhkan sutradara Jay Roach dalam membuka biopik Bombshell. Film itu berpusar pada pergulatan tiga perempuan pekerja Fox News yang mengalami pelecehan seksual. Dengan cara singkat itu Jay ingin penontonlebih dulu paham pengantar sebelum masuk keinti cerita yang berdasarkan kisah nyata itu. Megyn Kelly (kiri) yang diperankan aktris Charlize Theron (Foto: Lionsgate/Wikipedia) Megyn sendiri kecewa pada Ailes yang setengah hati melindunginya. Saat itu, Megyn tengah diteror paparazzi akibat kritiknya terhadap Donald Trump dalam Debat Partai Republik 2016. Selain tentang Megyn, kisahnya bersirkulasi pada news anchor lain, Gretchen Carlson (Nicole Kidman) yang mengisi program “Fox and Friends”. Saat Gretchen sedang membawakan acara, tiba-tiba dia mendapat pemberitahuan bakal dimutasi ke program lain yang kurang populer. Begitu Gretchen meminta penjelasan Ailes, sang pemred mengaku keputusannya tak bisa diganggu-gugat, kecuali Gretchen bersedia melakukan “sesuatu”. Secara ters i rat, Ailes meminta “imbalan” setidaknya Gretchen mau melakukan oral seks untuknya . Gretchen pun speechless dan memilih pergi tanpa ekspresi. Ia pilih memendam emosinya nan perih itu mengingat kontraknya tak lama lagi habis. Ia juga teringat pada kasus Rudi Bakhtiar yang juga mengalami pelecehan seksual pada 2007 oleh salah satu atasannya, Brian Wilson. Diam-diam, Gretchen menyewa pengacara untuk menyiapkan berkas tuntutan atas pelecehan seksual oleh Ailes. Menyusul dimutasinya Gretchen ke program lain, giliranjurnalis mudaKayla Popisil (Margot Robbie) yang “dikeker” Ailes. Mulanya Kayla begitu antusias lantaran ia juga memimpikan bisa tampil di salah satu program unggulan Fox News. Namun, semua berubah saat ia dipanggil ke ruangan Ailes.Ia malah dilecehkan sang pemred. Ailes menjanjikan karier cemerlang jika Kayla mau menuruti permintaannya, salah satunyayakni Kayla disuruh berdiri, berputar, dan mengangkat roknya hingga pakaian dalamnya terlihat dan bisadinikmatisang pemred. Adegan Kayla Popisil (diperankan Margot Robbie) sebelum dilecehkan Roger Ailes (Foto: IMDb) Klimaksnya bergulir kala Gretchen dipecat tanpa alasan sebelum kontraknya habis. Buat Gretchen, ini artinya perang. Gretchen yang sudah menyiapkan berkas tuntutan bersama tim pengacaranya, segera menginformasikan skandal itu ke publik. Bak bombshell alias ledakan bom, tuntutan itu mengguncang seisi Fox News . Sang CEO yang juga putra Rupert Murdoch dan punya masalah dengan Ailes sejak lama, turut membentuk tim investigasi internal. Ailes sendiri membantah, baik di internal direksi maupun di hadapan publik. Semua karyawati Fox News juga diminta mendukung Ailes dalam membantah tuduhan Gretchen, kecuali Megyn Kelly. Ia salah satu pembawa acara paling populer saat itu dan sontak jadi sorotan lantaran sikap diamnya. Sikap diam juga diambil Kayla yang masih seumur jagung bekerja di Fox News . Kayla khawatir jika ia turut mengaku pernah dilecehkan, ia takkan pernah bisa lagi bekerja di stasiun tv manapun. Namun, Gretchen akhirnya tak sendiri. Beberapa wanita muncul mengaku turut jadi korban pelecehan Ailes. Namun pengakuan-pengakuan mereka bakal kurang kuat lantaran terjadi di media lain tempat sebelumnya Ailes bekerja, bukan Fox News. Aktris kawakan Nicole Kidman (kiri) memerankan Gretchen Carlson (Foto: IMDb/Wikipedia) Diam-diam, Megyn yang selama ini no comment melakukan investigasinya sendiri dibantu rekan-rekan dekatnya. Hasilnya,sebanyak 22 karyawati Fox News ternyata juga pernah jadi korban pelecehanoleh Ailes maupun beberapa atasan lain. Kayla salah satu korbannya. Temuan itu makin membulatkan tekad Megyn untuk keluar dari zona nyamannya. Ia akhirnya angkat bicara bahwa ia juga dilecehkan Ailes di masa-masa awal kariernya di Fox News . Upaya Megyn beriringan dengan upaya perlawanan Gretchen yang dilakukan dengan caranya sendiri. Hasilnya, ah, jauh lebih seru jika Anda saksikan sendiri Bombshell yang hingga pekan ini masih diputar di bioskop-bioskop di tanah air. Bombshell tak hanya menyajikan drama pelecehan seksual terhadap pekerja media namun juga mengungkap kehidupan dalam dapur redaksi y an g jarang di ketahui publik berikut kehidupan para awak di dalamnya. S eorang news anchor , misalnya, mesti selalu tersenyum k e t i ka menyapa pemirsanya meski dalam keadaan sakit atau sedang mengalami tekanan batin lainny a. Bombshell cocok jadi alternatif tontonan di waktu luang. Meski music scoring -nyayang digarapTheodore Shapiro terbilang sederhana, iasangat pas melengkapi beberapa momen penuh intrik dalam alur cerita. Belum lagi sisi artistik dan makeup- nya yang otentik, mampu menampilkan seksisme di rezim sang bos cabul dengan lebih utuh. Tak heran bila Bombshell menang Piala Oscar untuk kategori Best Makeup and Hairstyling. Akhir Riwayat Bos Bejat Sebagai kisah nyata yang dikonversi ke layar perak dalam bentuk drama, Bombshell tentu tak semuanya sesuai fakta. Beberapa detail di dalamnya tak sesuai kejadian sebenarnya. Contoh, tokoh Kayla Popisil.Ia merupakan karakter fiktif meski dikonstruksi daripengalaman beberapa korban pelecehan seksual lain. Contoh lain adalah, Alies digambarkan sebagai pemred Fox News . Kenyataannya, saat skandal 2016 itu terjadi, Ailes sudah menjabat sebagai presiden merangkap CEO Fox News . Yang patut diacungi jempol, sineas Jay menghadirkan cuplikan para korban pelecehan seksual oleh Ailes sejak 1980-an, kala Ailes memimpin tv-tv berita sebelum Fox News . Realita itu serupa dengan yang termuat dalam biografi bertajuk The Loudest Voice in the Room yang dimunculkan Gabriel Sherman, dua tahun sebelum Gretchen menuntut Ailes. Bos Fox News Roger Ailes (kanan) yang diperankan aktor senior John Lithgow (Foto: Lionsgate) Sedikit ataupun banyak, karakter Ailes dibentuk dari lingkungan keluarganya. Sosok kelahiran Warren, Ohio, pada 15 Mei 1940 itu tumbuh dalam keluarga yang tak harmonis. Ayahnya, Robert Eugene Ailes, merupakan montir mesin pabrik yangringan tangan dan acap melakukan kekerasan terhadap Ailes. Di usia muda Ailes sudah terpaksa jadi korban broken home. Sebagaimana dikisahkan Sherman, Ailes susah payahmenyelesaikan pendidikannya di tengah kesusahan ituhingga bisa lulus dari Jurusan Radio dan Televisi di Universitas Ohio, 1962. Sebelum terjun ke dunia pertelevisian, Ailes mengais pengalaman sebagai station manager di stasiun radio WOUB . “Karier Ailes di televisi dimulai di Cleveland pada 1965, di mana dia menjadi produser dan sutradara talkshow di KYW-TV , ‘ The Mike Douglas Show’. Kemudian dia menjadi produser eksekutif program itu, di mana dia memenangkan Emmy Awards pada 1967 dan 1968,” ungkap Horace Newcomb dalam Encyclopedia of Television . Ailesjadi pionir program talkshow politik. Saat itu, stasiun televisi minim program politik dan Ailes yang memulainya dengan memanfaatkan kedekatannya dengan Richard Nixon. Beberapakali Nixon jadi tamu program bikinan Ailes.Ailes lalu diminta jadi bagian dari tim kampanye Nixon untuk pencitraan di televisi. Suksesnya Nixon jadi orang nomor satu di Amerika Serikat pada 1969 salah satunya karena Ailes. Ailes lalu mendirikan Ailes Communications, Inc., perusahaan konsultan bisnis dan politik. Program-programnya ia jual ke berbagai stasiun tv seperti KYW-TV , CNBC , atau MSNBC. Lewat program-programnya Ailes pun sohor sebagai “makelar politik” bagi para kandidat presiden dari Partai Republik, mulai dari Nixon, Ronald Reagan, hingga George W. Bush. Roger Ailes (kiri) bersama Presiden Amerika Serikat Richard Milhous Nixon (Foto: nixonlibrary.gov ) Pada 1996, ia diminta hartawan AustraliaRupert Murdoch untuk mendirikan Fox News , stasiun tv berita yang merupakan anak perusahaan Fox Corporation. Perlahan tapi pasti, Ailes membawa Fox News ke puncak kejayaan menyalip stasiun-stasiun tvberita yang lebih “senior”. “Ailes membuat Fox News menjadi tv berita besar. Pada 2002 saja, Fox melewati CNN sebagai jaringan tv berita berbasis langganan nomor satu; dalam tujuh tahun angka pemirsanya sudah dua kali jumlah CNN dan MSNBC , dan bahkan keuntungan para rivalnya jika digabungkan masih kalah dari profit yang diraup Fox ,” sambung Sherman. Mendatangkan keuntungan besar pada Fox membuat Ailes merasa di atas angin sehingga yakin tak ada orang yang berani menggusur posisinya, sekalipun Murdoch. Sialnya, semua itu sirna pada medio Juli 2016 kala Gretchen Carlson menuntutnya karena merasa jadi korban pelecehan seksual olehnya. Bak bola salju, skandal itu membesarhingga membuatnya terpaksa mundur dengan kompensasi USD40 juta dari Rupert Murdoch. Meski begitu, Ailes masih dipercaya Murdoch menjadi penasihatnya di rumah produksi 21st Century Foxhingga Ailes tutup usia pada 18 Mei 2017 –hal ini tak diungkap dalam Bombshell .

  • Mula Riset Radioaktif

    Kontaminasi radiokatif yang ditemukan di tanah kosong Perumahan Batan Indah, Serpong diketahui berasal dari rumah Blok A22. Polisi tengah memeriksa pemilik zat radioaktif illegal yang merupakan pegawai Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan pembuang limbah radioaktif tersebut. Sementara, Cesium 137 yang berada di dalam rumah tersebut disita polisi. “BATAN mendukung kegiatan yang dilakukan Kepolisian dan Bapeten untuk menyelidiki adanya zat radioaktif yang tidak sah," kata Kepala Biro Hukum, Humas, dan Kerja Sama, BATAN Heru Umbara sebagaimana diberitakan Tempo. Sebelumnya, Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) menemukan paparan radiasi nuklir mencapai 1.818 kali lipat ambang batas kala melakukan uji fungsi alat pemantau radioaktivitas lingkungan bergerak (mobile RDMS-MONA) pada 30 dan 31 Januari 2020. Setelah ditelusuri, radiasi nuklir yang ditemukan berjenis radioaktif Cesium 137 yang merupakan zat tunggal. Jenis ini berbeda dengan zat radioaktif di fasilitas Reaktor riset GA Siwabessy. Lebih lanjut, sembilan detektor pemantau radiasi di Kompleks Puspiptek Serpong juga tidak menunjukkan adanya kebocoran nuklir dari Reaktor GA Siwabessy. Untuk menanggulangi paparan radiasi ini, proses pembersihan terus dilakukan dengan mengeruk tanah yang terpapar radiasi nuklir. Sembilan warga di sekitar titik penemuan zat radioaktif pun menjalani pemerisaan kesehatan. Bermula dari Ledakan Pulau Eniwetok Riset nuklir di Indonesia mulai dilakukan sejak 1950-an. Hal ini bermula dari ujicoba bom hidrogen di Pulau Eniwetok oleh Amerika Serikat sejak 1952.  Ujicoba itu menimbulkan efek tak sepele bagi kawasan sekitarnya. Percobaan yang dilakukan beberapa kali oleh Amerika Serikat itu menurut Dr. Gerrit Augustinus Siwabessy menyebabkan banyak efek pada lingkungan sekitar Samudra Pasifik. Di Jepang, misalnya, ikan-ikan mati di tepian pantai. Orang-orang yang memakan ikan tersebut juga menjadi sakit. Debu radioaktif dari bom nuklir tersebut diperkirakan terbawa angin dan air yang kemudian dikomsumsi ikan di laut. Dari sinilah sebab orang-orang Jepang menjadi sakit. Ilustrasi Prof. dr. G.A. Siwabessy (dok. Mursid D.) Kekhawatiran ini pun melanda Indonesia yang letaknya berdekatan dengan Samudra Pasifik. Presiden Soekarno lantas mencari ahli-ahli yang dapat mengukur tingkat paparan radioaktivitas di lautan, udara, dan daratan Indonesia yang bersinggungan dengan Samudra Pasifik. Tugas itu lantas diserahkan pada Lembaga Radiologi dari Departemen Kesehatan yang punya peralatan geiger. Namun lantaran tugas memeriksa paparan radioaktif dan riset nuklir merupakan bidang yang berbeda dengan penggunaan radio aktif untuk kebutuhan medis, dibentuklah Panitia Penyelidikan Radioaktifitas dan Tenaga Atom (PPRTA) berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 230 tahun 1954 tertanggal 23 November 1954. Dokter GA Siwabessy sebagai ketuanya. Siwabessy yang kala itu menjadi Menteri Kesehatan punya banyak pengalaman dalam bidang radiologi. Sebelum menjabat sebagai menteri, ia pernah bertugas sebagai kepala Bagian Radiologi RSCM dan Kepala Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan. Siwabessy mendapat beasiswa dari British Council untuk belajar radiologi di Universitas London pada 1949. Kerja Siwabessy di PPRTA dibantu beberapa ahli dari Universitas Gadjah Mada, seperti Dr. Baiquni dan Prof. Ir. Herman Johannes yang namanya kini dijadikan nama jalan yang membentang di timur Galleria Mall ke utara hingga perempatan Sagan (MM UGM), Yogyakarta. Dalam tim ini, seperti dicatat “Sejarah BATAN Jogja 1961-2014”, Herman Johannes bertugas sebagai Ketua Seksi Fisika, Kimia, dan Teknologi. Ahli lain yakni dr. Rubiono dari Bagian Radiologi Rumah Sakit Gatot Subroto dan Prof. Ir. Gunarso dari ITB. Ada pula wakil-wakil dari instansi Angkatan Darat, udara, dan meterologi. Prof. Ir. Herman Johannes. Sumber: Sejarah Batan Jogja 1961-2014. Panitia ini kemudian dikirim ke area yang berdekatan dengan Samudra Pasifik, seperti Manado, Ambon, dan Timor. Papua tidak termasuk karena masih jadi bagian Belanda. Selain air laut, pohon-pohon di sekitar, rumput, dan tanah diteliti. “Rumput-rumput terutama menjadi perhatian karena bila rumput-rumput yang mengandung fall out (jatuhan) radioaktif dimakan, hewan-hewan itu akan mati,” kata Siwabessy dalam memoarnya, Upuleru. Namun, sambungnya, syukurlah di Indonesia tidak terdapat jatuhan radioaktif yang berbahaya. Sejak berkumpulnya para ahli nuklir dalam proyek ini, perhatian pada studi nuklir meningkat. Para ahli, seperti Erman Natawidjaja dan Sombu Pillay yang juga anggota tim PPRTA, dikirim ke luar negeri untuk mendalami nuklir. Siwabessy mengirim mereka ke London agar mereka memperdalam ilmu ini selama dua tahun. Tim PPRTA lain yang dikirim untuk mempelajari radiologi ialah Baiquni. Ia berangkat ke Amerika Serikat pada 1955 untuk mengikuti International School of Nuclear Science and Engineering di Argonne National Laboratory yang jadi bagian dari program Atom for Peace oleh Presiden Eisenhower sejak 1953. Ilustrasi Prof. Dr. A. Baiquini (dok. Mursid D.) Pengiriman para ahli nuklir ke luar negeri bertujuan untuk mempersiapkan personel bagi pembangunan tenaga atom untuk maksud damai, misalnya pengembangan teknik nuklir, fisika nuklir, dan perlindungan serta keamanan radiasi nuklir. “Berbagai ahli dalam bidang atom perlu dididik di luar negeri. Lulusan ITB dan Gadjah Mada dan lain-lain ditarik ke dalam kegiatan,” kata Siwabessy. Sekembalinya dari studi di luar negeri, para ahli ditempatkan di lembaga yang berkaitan dengan pemeliharaan dan pengembangan nuklir. Erman Natawidjaja dan Sombu Pillay, seperti dikisahkan Siwabessy, kemudian ditugaskan di Lembaga Radiologi Departemen Kesehatan. Sementara Baiquni, ikut menjadi anggota pendirian Pusat Penyelidikan Tenaga Atom Nasional bersama Herman Johannes dan Siwabessy. Setelah melalui serangkaian riset, dibentuklah Lembaga Tenaga Atom pada 5 Desember 1958 yang kemudian diperingati sebagai hari jadi BATAN.

  • Para Raja Baru dan Juru Selamat

    Kurang dari dua bulan, empat kerajaan baru beserta rajanya bermunculan dengan membawa sejarah dan cita-cita masing-masing. Hal ini mengingatkan pada fenomena gerakan milenarisme atau penantian akan datangnya juru selamat kala Indonesia di bawah kolonialisme. Ciri gerakan milenaristis, kata Agus Aris Munandar, arkeolog Universitas Indonesia, adalah adanya harapan masyarakat akan tokoh yang memberikan keadilan dan kesejahteraan. Ini yang disebut sebagai tokoh juru selamat atau ratu adil. Di bawah kepemimpinan tokoh penyelamat ini, diyakini nantinya akan lahir negara yang sempurna dan rukun. “Ini cirinya. Ingat tentang Sunda Empire? Mereka juga punya harapan itu. Tapi apakah ini juga gerakan milenaristis? Kita lihat nanti,” kata Agus dalam diskusi bertema “Raja-raja Nusantara dalam Pusaran Ketoprak dan Pemahaman Sejarah” di Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (PuslitArkenas), Jakarta, Selasa (25/2). Dalam gerakan milenarisme, semua anggota masyarakat dijanjikan akan mempunyai status sederajat. “Semua dijanjikan dikasih duit satu miliar atau lebih, tiga miliar?” ujar Agus. Adanya kepatuhan mutlak kepada pemimpin juga tampak dalam gerakan ini. Anggotanya siap sedia membela kepercayaan mereka. Milenaristis, kata Agus, biasanya terjadi beriringan dengan gerakan keagamaan, yang kurang lebih hampir sama dengan milenarisme. Mereka berorientasi kepada leluhur. Jadi, biasanya mereka menyebutkan ada ramalan dari para leluhur tentang suatu zaman yang adil dan sejahtera. “Bersifat magico-mysticim, adanya narasi kekuatan gaib dan kekuatan supernatural yang turut berperan,” kata Agus. Cirinya, akan muncul tokoh yang dianggap keramat, sakti atau telah mendapat wahyu setelah bertapa atau meditasi. Pada masa lalu, kehebatan tokoh ini biasanya diwujudkan dengan kisah-kisah kesaktiannya. “Kalau masa kini bentuknya simpanan dana yang tak ada habisnya di Swiss, lalu orang kagum,” ujar Agus. Contoh dalam sejarah misalnya, Trunojoyo yang melawan pemerintahan Amangkurat I. Lalu Diponegoro melawan kolonialis Belanda. Yang kedua ini kemudian bergelar Herucakra, seperti gelar Ratu Adil yang ada dalam Serat Jayabaya dari abad ke-19. Sebagaimana dijelaskan sejarawan Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang, dalam Serat Jayabaya, Ratu Adil bergelar Tanjung Putih atau Herucakra, pendiri zaman emas baru yang akan membebaskan masyarakat Jawa dari zaman kaliyuga atauzaman sulit. “ Serat Jayabaya merupakan sejarah ramalan Jawa yang membagi sejarah dalam empat yuga atau zaman. Dimulai dari pemerintahan Raja Jayabaya di Kediri abad ke-11 yang merupakan zaman keemasan, disusul oleh zaman yang makin memburuk, sampai pada zaman dekadensi. Yang terburuk adalah yang terakhir, kaliyuga ,” tulis Ong Hok Ham. Wahyu yang diterima tokoh semacam itu, seringkali mendasari legitimasi kekuasaan seorang raja Jawa. Konsep ini lebih dominan daripada konsep legitimasi berdasarkan syarat lainnya. Seperti misalnya keturunan. “Konsep wahyu, di satu pihak, menjelaskan kekuasaan mutlak raja dan menganggap perlawanan terhadap dia sebagai perlawanan terhadap Tuhan,” tulisOng Hok Ham. Sementara wahyu dapat berpindah setiap waktu dan datang pada siapapun juga. Kekuasaan raja menurut konsep ini adalah reinkarnatif. Teori-teori reinkarnatif wahyu kerajaan semacam inilah yang dipakai oleh berbagai gerakan milenarisme atau Ratu Adil. Muncul Akibat Tekanan Ketika Serat Jayabaya terbit pada abad ke-19, dari tahun 1830 hingga masa pergerakan nasional hampir tak ada tahun yang lewat tanpa gerakan Ratu Adil di Jawa. Banyak pemimpin gerakan menyebut diri sebagai penerima wakyu kerajaan. Menurut Ong Hok Ham, ini mungkin berhubungan dengan hilangnya kekuasaan politis raja-raja Jawa ke tangan Belanda. Penguasa kolonial pun membebani rakyat dengan pajak yang tinggi dan kerja paksa. Hingga timbul harapan-harapan agar ada pembebasan. Hal ini menjadikan harapan lahirnya dinasti baru oleh Ratu Adil di masyarakat. Gerakan ini , tak menutup kemungkinan, yang memimpin adalah tokoh-tokoh setempat. Bahkan ada yang dipimpin oleh seorang petani. Tidak pula mencapai skala luas sehingga mudah ditindak. Seperti yang terjadi di wilayah budaya Sunda, gerakan Raksapraja pada 1842, gerakan Bapa Kantang pada 1853, perkumpulan Mutayam pada 1863. Semua gerakan ini didasarkan atas harapan milenarisme. “Mereka percaya akan tampil lagi kerajaan Sunda yang membawa kemakmuran dan kesejahteraan untuk rakyat,” kata Agus. Gerakan paling fenomenal dan ditakuti Belanda, yaitu Gerakan Nyi Aciah (1870-1871). Ia dianggap sebagai perempuan suci dari Sumedang. Masyarakat percaya Nyi Aciah punya kesaktian, termasuk dapat menyembuhkan macam-macam penyakit.Bahkan berkembang ramalan akan datang zaman yang aman sejahtera. Disebut pula soal kemunculan keraton di Keling dan Banjar. “Nyi Aciah akan menjadi ratu di Keraton Tegalluwar. Dia dipercaya sebagai jelmaan Dewi Siti Johar Manikam, putri Syeh Jumadilkubro,” jelas Agus. “Ini tokoh yang dikeramatkan.” Pendukung Nyi Aciah makin banyak. Pada Mei 1871 gerakan ini makin meluas ke Malangbong, Garut. Mereka mengadakan arak-arakan dan ziarah ke tempat-tempat keramat. Pemerintah kolonial Belanda menangkap tokoh-tokohnya. Gerakan ini padam. “Sama dengan Keraton Agung Segajat, kan arak-arakan juga, ditangkap polisi, runtuh sudah,” kata Agus.   Di Jawa Tengah hampir sama. Ada gerakan Jumadilkubro di selatan Pekalongan dan di kawasan utara Banyumas. Pemimpinnya Ahmad Ngisa. Gerakan ini mulai bergerak dari 1870-1871. Konon, ada wangsit dari Syeh Jumadilkubro dari Wanabadra. Bunyinya, ketika orang-orang asing (Belanda) diusir keluar, akan muncul tiga penguasa dari Majapahit, Pajajaran, dan Kalisalak (Pekalongan). Gerakan ini sempat meluas di Pekalongan dan Batang. Pemerintah Belanda menangkapi pengikutnya. Gerakan ini juga bubar. “Di sini ramalan-ramalan selalu mengiringi dan cerita-cerita kehebatan selalu ada,” kata Agus. Di Jawa Timur,tercatat gerakan Jasmani dari Desa Sengkrong di Blitar. Jasmani berguru kepada Amat Mukiar orang yang dianggap sakti dan keramat. Pada 1887, Amat Mukiar meramalkan, bahwa akan muncul Kerajaan Sultan Adil di wilayah Birowo, Lodoyo, dan Blitar. Muridnya, Jasmani akan dinobatkan sebagai Ratu Adil Igama. “Amat Mukiar meminta agar rakyat memerangi orang Eropa dan Cina, seluruh pejabat pribumi dianjurkan membantu gerakan ini,” kata Agus. Jasmani menyebarluaskan gagasan itu di Blitar. Ia juga menyiapkan pemberontakan terhadap Belanda.“Namun belum juga melaksanakan pemberontakan, Belanda sudah tahu. Mereka ditangkap dan bubar. Sama kasusnya,” lanjut Agus. Saluran Ketidakpuasan Kasus-kasus pada abad ke-19 itu memperlihatkan akar dari gerakan milenaristis, yaitu tekanan, kesewenangan, di tengah era kolonialisme Belanda. Masyarakat banyak yang mengharapkan kelahiran kembali kerajaan-kerajaan besar di masa lalu untuk mengusir Belanda.   Lalu, apakah keraton dan raja baru masa kini, seperti Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, King of the King, dan belakangan Kerajaan Mulawarman, adalah wujud gerakan milenarisme juga? Menurut Agus,bukan. Apa yang terjadi lebih kepada upaya revitalisasi tendensius. “Mereka mendaku punya keterkaitan dengan kemegahan masa silam. Mencari dan menghidupkan kegiatan seni budaya yang telah lama tak ditampilkan. Ini adalah upaya revitalistik,” kata Agus .   Tendensinya apa? Menurut Agus untuk menghadirkan kebanggaan karena menjadi terpandang di kalangan masyarakat. Bisa juga untuk mengumpulkan dana masyarakat yang kecenderungannya penipuan. “Positifnya untuk meneruskan tradisi keraton yang telah lama hilang dan menjadi acara dalam kalender kegiatan pariwisata,” lanjutnya. Sayangnya, kata Agus, dalam rangka menghidupkan tradisi keraton yang hilang, pencetus raja dan keraton baru ini membuat cerita karangan. Ini adalah upaya legitimasi untuk mencari simpati dan dukungan masyarakat. “Mencari simpati dan dukungan masyarakat dengan bilang masih punya darah biru dan layak untuk melanjutkan tradisi raja-raja. Mengaku mempunyai dana simpanan di luar negeri yang tak terhingga,” katanya. Agus pun menyimpulkan munculnya keraton dan raja baru adalah gejala masa kini. Kemunculan mereka bukan gerakan milenarisme karenamasyarakat tidak dalam tekanan. “Kalau dulu kan ditekan imperialisme,” kata Agus. “Munculnya raja-raja dan keraton baru ini adalah gejala zaman sekarang, zaman gabut dan galau. Dengan pakai simbol masa lalu berbau milenarime.” Dari sudut pandang Ong Hok Ham, gerakan milenarisme muncul tak spesifik karena di bawah tekanan imperialisme. Menurutnya jelas sekali dalam Serat Jayabaya itu adalah persoalan hilangnya kekayaan dari masyarakat. Zaman edan dilukiskan sebagai zaman di mana emas hilang dari desa-desa, bahkan dari negara, untuk dikirim ke luar negeri. Bagaimanapun, kata Ong Hok Ham , gerakan Ratu Adil dilatarbelakangi oleh keadaan sosial ekonomi masyarakat atau pribadi tertentu. Munculnya gerakan ini adalah saluran baru bagi masyarakat untuk menyatakan ketidakpuasan mereka kepada pemerintah.

  • Aliarcham, Buangan Paling Dihormati

    PADA 1 Juli 1933, laki-laki itu dipapah kawan-kawannya menaiki perahu motor. Dari Tanah Tinggi, perahu itu menyusuri Sungai Digul hendak menuju Tanah Merah untuk berobat. Butuh waktu sekitar enam jam menuju Tanah Merah dengan aliran sungai yang berkelok-kelok. Sesekali lajunya terhalang batang-batang pohon yang hanyut di sungai. Aliarcham memang telah sakit-sakitan. Ia sering batuk-batuk dan mengidap penyakit paru-paru. Tapi meski kondisinya semakin buruk, ia enggan berobat. "Saya sangat merindukan kawan-kawan. Kalau saya mati biarlah kematian saya di hadapan kawan-kawan di sini yang sangat dibenci oleh Belanda ini," katanya sepeti dikutip Mangkudun Sati dalam Aliarcham, Sedikit Tentang Riwayat dan Perjuangannya. Keinginannya itu benar-benar tercapai. Belum sempat sampai ke Tanah Merah, di antara deru mesin perahu dan sunyinya hutan Papua, laki-laki 32 tahun itu menarik napas terakhirnya. Aliarcham, buangan Digul paling dihormati itu meninggal dunia dikelilingi sahabat-sahabatnya.

  • Solidaritas Prajurit India Untuk Indonesia Merdeka

    SUATU hari di bulan Maret 1971. Mayor Z.A. Maulani bersama rekannya dari KKo-AL, Mayor Suharmo Haryanto bertamu ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Pakistan. Saat akan memasuki pintu gerbang kedutaan, mereka berdua disambut dengan penghormatan “jaga jajar” dari para satpam KBRI. Begitu turun dari mobil, betapa terkejutnya kedua perwira itu saat melihat di saku kiri kameja para petugas satpam tersebut terpasang Bintang Gerilya. Itu nama medali penghargaan bagi seorang tentara Indonesia yang pernah terlibat aktif dalam Perang Kemerdekaan (1945-1949). “Setelah memberi salut secara sempurna kepada mereka, sebagai tanda hormat kepada senior, saya tidak dapat menahan diri untuk bertanya tentang Bintang Gerilya yang mereka kenakan,”ujar Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara era Presiden B.J. Habibie itu. Salah seorang dari mereka akhirnya menjelaskan bahwa pada 1945-1949, mereka pernah tergabung dalam TNI-Polri dan aktif dalam perjuangan fisik melawan militer Belanda. Rupanya para satpam itu adalah para prajurit Inggris muslim dari kesatuan British Indian Army (BIA) yang membelot ke kubu kaum Republik karena tidak merasa nyaman harus memerangi orang-orang yang seagama dengan mereka. Perasaan simpati para prajurit muslim dari BIA memang sudah muncul sejak awal kedatangan mereka di Pulau Jawa. Tersebutlah pada suatu hari di bulan Oktober 1945. Sebuah iring-iringan konvoi BIA yang melewati jalanan Bogor tetiba dihadang sekelompok  lasykar yang terdiri dari anak-anak muda bersenjatakan beberapa pucuk bedil usang dan parang. Alih-alih bisa menghancurkan konvoi kecil itu, para serdadu BIA malah dalam waktu cepat bisa balik bisa mengepung  dan menjadikan anak-anak muda tersebut bertekuk lutut. Usai mengumpulkan para tawanan, salah seorang opsir mereka menyampaikan ceramah pendek di hadapan anak-anak muda itu. “Isinya nasehat supaya anak-anak kita jangan melawan, karena katanya mereka bersimpati terhadap perjuangan kita. Dianjurkan pula oleh opsir itu agar anak-anak berlatih dahulu sebelum turun dalam suatu pertempuran sungguh-sungguh…” ungkap Jenderal (Purn) A.H Nasution dalam Sekitar Perang Kemerdekaan Jilid 2. Menurut Nasution, adanya rasa simpati pasukan Inggris asal anak benua India  terhadap perjuangan orang-orang Indonesia tentunya bukan tanpa dasar. Bukan rahasia lagi jika sebagian besar bangsa India, saat itu  menyimpan rasa kurang suka terhadap  Belanda, yang menjadi musuh orang-orang Indonesia. Hal itu terkait dengan kejadian di Afrika Selatan, di mana perlakuan rasis keturunan Belanda berlangsung secara kencang terhadap orang-orang keturunan India di sana. Namun para peneliti sejarah BIA di Indonesia seperti Firdaus Sjam dan Zahir Khan menyebut justru karena soal kesamaan agama-lah yang menjadi pemicu utama munculnya rasa simpati tersebut. “Faktor ini yang melahirkan sikap mereka untuk bahu membahu dengan para pejuang republik berperang melawan penjajah sebagai satu fisabilillah …”tulis Sjam dan Khan dalam Peranan Pakistan di Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia . Hal itu terbukti pada saat satu seksi BIA pimpinan Letnan Abu Nawaz menolak keras perintah atasannya untuk menghancurkan Masjid Jami yang terletak di Jalan Serdang, Medan. Alih-alih melaksanakan perintah atasannya itu, seksi BIA yang keseluruhan prajuritnya beragama Islam itu malah membelot ke kubu musuh: para pejuang Indonesia. “Penghancuran Masjid itu kemudian dilakukan oleh pasukan Inggris yang lain…”ujar Muhammad TWH, wartawan senior sekaligus pemerhati sejarah di Medan. Sementara itu, di Utara Jakarta, Prajurit Ghulam Ali  awalnya sama sekali tak mengerti mengapa pimpinan pasukan Inggris  melarang keras para prajurit BIA untuk bergaul dengan penduduk lokal. Ketidakmengertian itu mulai terjawab saat suatu hari ia diikutkan dalam suatu patroli ke sebuah kampung. “Ketika kami memasuki sebuah rumah kosong, kami menemukan kaligrafi basmallah dan sebuah kitab Al Qur’an di sana. Kami menjadi terharu dan muncul keinginan untuk membantu orang-orang Indonesia…”kenang pensiunan Polri itu seperti ditulis dalam Buletin Badan Kontak Purnawirawan/Warakawuri-Polri Mabes edisi Agustus 1986. Munculnya rasa solidaritas sebagai sesama muslim dan bangsa Asia  menjadikan prajurit-prajurit  muslim asal India bertambah nekad. November 1945, terjadi pembangkangan massif saat  Panglima Pasukan Sekutu di Jawa Barat memerintahkan 400 serdadu BIA untuk berangkat ke front Surabaya. Beberapa hari sebelumnya, pembangkangan terhadap intruksi itu  dilakukan pula oleh 200 prajurit BIA dengan melakukan aksi duduk di tempat dan mogok kerja. “Keenamratus serdadu itu akhirnya ditindak oleh Panglima Sekutu dengan mengirim mereka ke kamp militer di Pulau Onrust, Kepulauan Seribu,” tulis Muhammad Rivai dalam Merdeka atau Mati.

  • M. Jusuf Kerjai Solichin GP Saat Tertidur

    PERINTAH Presiden Sukarno agar Kahar Muzakkar ditangkap hidup atau mati sebelum 17 Agustus 1964 menjadi tugas berat yang harus dilaksanakan dengan sukses oleh Pangdam Hasanuddin Kolonel M. Jusuf. Untuk itu, Jusuf meminta tambahan pasukan dari Siliwangi. “Untuk menumpas Kahar Muzakkar, selain berhasil mendapat 2 brigade infantri dari Siliwangi plus Yon 330, Panglima Jusuf juga mendapat dukungan sejumlah perwira staf dari Siliwangi. Salah seorang yang kemudian berperan penting dalam operasi pemulihan keamanan di Sulawesi Selatan adalah Kolonel Infantri Solichin GP. Oleh Jusuf ia dijadikan Kepala Staf Operasi ‘Kilat’,” tulis Atmadji Sumarkidjo dalam Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit. Keputusan Jusuf memilih Solichin GP tepat. “Penghujung 1964 pasukan Siliwangi, di bawah komando Solichin, berhasil memburu Kahar Muzakkar dan sisa-sisa gerombolan DI/TII sampai memasuki wilayah Sulawesi Tenggara,” tulis Syafruddin Usman dalam Tragedi Patriot dan Pemberontak Kahar Muzakkar .  Operasi militer yang digelar mulai April 1964 itu berhasil diselesaikan pada 3 Februari 1965 dengan tertembaknya Kahar, mantan atasan Jusuf selama revolusi. Karena kinerja apik Solihin itulah Jusuf tak pernah melupakannya. Termasuk ketika Jusuf sudah diangkat Presiden Sukarno menjadi Menteri Perindustrian Ringan di Kabinet Dwikora I. Saat menjabat sebagai menteri itu Jusuf masih tetap menyandang jabatan Pangdam Hasanuddin karena Menpangad Letjen A. Yani sampai wafatnya belum sempat menunjuk pengganti Jusuf. Akibatnya, Jusuf mesti mondar-mandir Jakarta-Makassar. Menetapnya Jusuf di Jakarta baru terjadi setelah G30S. Menpangad Jenderal Soeharto yang membutuhkan tenaga Jusuf, akhirnya mencari orang yang pas untuk meminpin Kodam Hasanuddin. Setelah berkonsultasi dengan Jusuf, Soeharto menunjuk Solichin. Penunjukan itu tak diberitakan langsung kepada Solichin. Akibatnya ketika dia bertemu Jusuf dalam sebuah kesempatan di Makassar tak lama kemudian, dia menolak ajakan Jusuf untuk menghadiri acara syukurannya karena merasa lelah. Namun karena Jusuf memaksa, Solichin tak kuasa menolak. Sesampainya di Jakarta, Solichin tak dibawa Jusuf ke rumahnya atau penginapan, tapi langsung ke tempat acara. Tenda dan deretan kursi serta podium langsung menyambut pandangan matanya. Namun karena lelah dan kantuk yang tak tertahankan, Solichin akhirnya mulai tertidur saat Jusuf menyampaikan pidatonya. Meski masih mendengar secara samar ketika Jusuf mengatakan tugasnya di Makassar sudah berakhir mulai hari itu, Solichin akhirnya kalah oleh kantuknya dan pulas. Sementara, Jusuf terus melanjutkan pidatonya yang juga diisi dengan kejahilannya. “Selanjutnya saya akan melaksanakan tugas baru di Jakarta. Yang akan menggantikan tugas saya sebagai Panglima di Kodam XIV Hasanuddin ini adalah perwira yang sedang ngorok di sebelah saya ini,” kata Jusuf, dikutip Atmadji. Pidato Jusuf sontak disambut gelak-tawa para hadirin. Sebaliknya, pidato itu membuat panik Letnan Said, ajudan Solichin. Sang ajudan buru-buru membangunkan komandannya sambil memberitahu apa yang baru saja dikatakan Jusuf. Solichin yang kaget setelah bangun, langsung duduk dengan tegak. Sikap itu tak mendapat respon apapun dari Jusuf. Usai acara, kejahilan Jusuf pun diprotes Solichin. “Pak, kalau menunjuk saya menjadi panglima, kasih tahu dulu dong. Jangan di saat saya lagi tidur. Saya jadi malu, nanti bagaimana penilaian rakyat kepada saya?” “Ah, kau bereskan saja nanti!” jawab Jusuf santai.

  • Konflik Muslim-Hindu India dari Masa ke Masa

    DI balik melesatnya India sebagai salah satu kekuatan dunia di bidang militer dan gemerlapnya industri hiburan lewat Bollywood-nya, negeri itu dari masa ke masa senantiasa menyimpan konflik bersandarkan agama. Pekan ini minoritas muslim di negeri itu kembali terjebak dalam kerusuhan yang cenderung mendekati genosida dari mayoritas warga Hindu. Kerusuhan Muslim-Hindu kembali meletus di Delhi sepanjang Minggu hingga puncaknya Selasa (23-25 Februari 2020). Kerusuhan bermula dari unjuk rasa kaum muslim yang memprotes Amendemen Undang-Undang Kewarganegaraan yang kental nuansa anti-Islam. Amandemen itu berbunyi bahwa imigran Sikh, Buddha, Hindu, hingga Kristen dari tiga negara tetangga: Pakistan, Bangladesh, dan Afghanistan, dibolehkan menjadi warga negara India dengan syarat yang dipermudah. Bila sebelumnya regulasi naturalisasi jadi warga negara India mensyaratkan wajib tinggal di India selama 11 tahun, dengan amandemen kini syarat itu cukup enam tahun saja. Para politisi BJP (Bharatiya Janata Party) yang menopang kekuasaan Perdana Menteri India Narendra Modi, membela amandemen itu. Pengecualian terhadap Muslim, kata mereka, lantaran di tiga negara itu sudah mayoritas muslim dan tak semestinya jadi imigran ilegal di India. Sontak pernyataan itu menuai penentangan banyak pihak yang menyimpulkan amandemen itu justru akan mendelegitimasi warga Muslim. Protes pun menyeruak kemudian dan mendapat tentangan dari mayoritas kaum Hindu. Beberapa korban mengklaim barisan kepolisian turut membantu massa anti-Islam melakukan serangan terhadap warga Muslim di titik-titik konflik di timur laut India dan utamanya di Maujpur, Mustafabad, Jaffrabad, dan Shiv Vihar. Tak hanya rumah-rumah dan pertokoan, masjid-masjid pun turut jadi sasaran amuk massa anti-Islam. “Massa membakar rumah, toko dan mobil saya. Saat saya berusaha memadamkan api, massa melemparkan batu ke arah saya. Seseorang bahkan melempar gas air mata ke dalam rumah saya. Dari samping rumah, saya melihat polisi dan massa bersama-sama melakukan pembakaran. Saya dan keluarga saya harus melarikan diri melompat dari balkon atas,” kata Bhura Khan lirih kepada BBC , Rabu (26/2/2020). Pengamat politik Universitas Brown, Bhanu Joshi, menyatakan kepada BBC  juga bahwa kerusuhan massa anti-Islam itu memang “disokong” polisi atau polisi mendiamkan tindakan massa sehingga kejadian yang lebih parah terjadi. Itu cenderung genosida terhadap Muslim seperti pada kerusuhan 1984 dan 2002 yang bisa saja terulang. Dalam tiga hari kerusuhan di Delhi itu, sekira 20 warga Muslim tewas. Dendam Masa Silam Aksi-aksi kekerasan terhadap Muslim di India tentu  bukan perkara baru. Akarnya jauh membentang ke belakang di abad ke-8 (tahun 712-740) seiring kampanye penaklukan Asia Selatan (Afghanistan, Pakistan, dan India) oleh Kekhalifahan Umayyah. Hingga abad ke-16 tak terkira berapakali  konflik terjadi antara kekhalifahan dari Jazirah Arab dengan dinasti-dinasti Hindu di India. Dalam tulisannya yang dimuat di Violent Internal Conflicts in Asia Pacific , “Hindu-Muslim Conflict in India in a Historical Perspective”, Marc Gaborieau memaparkan penyebab konflik selain karena kampanye penyebaran Islam dari Jazirah Arab ke India di Abad Pertengahan itu, kekerasan sporadis Muslim-Hindu juga tak pernah punah gegara sejumlah kebijakan kolonial Inggris sejak abad ke-19. Salah satu akibatnya, pemisahan India-Pakistan pada 1947. Sementara konflik-konflik di abad ke-20 turut disuburkan oleh Islamofobia yang dipicu sejumlah aksi terorisme mengatasnamakan Islam. “Karena hegemoni politik kaum Muslim di Asia Selatan didirikan lewat penaklukan, bukan ekspansi damai seperti di Indonesia dan itu berjalan selama enam abad sejak berdirinya Kesultanan Delhi di awal abad ke-13 hingga kemunduran mereka di abad ke-18 yang disertai penaklukan Inggris dari 1765-1818,” ujar Gaborieau. Ilustrasi kampanye Pasukan Kekhalifahan Umayyah untuk menaklukkan Tanah India (Foto: Youtube MyNation) Pemicu konflik yang paling banyak mencetuskan kerusuhan di era kolonialisme Inggris adalah soal ritual agama. G.R. Thursby dalam Hindu-Muslim Relations in British India  menguraikan, di era itu kebanyakan warga Muslim dan Hindu tinggal berdampingan namun jarang harmonis. Banyak ritual warga Hindu menggunakan tabuhan gendang yang nyaring dan itu dianggap mengganggu ibadah salat umat Muslim. Sebaliknya, ritual kurban Idul Adha di mana banyak sapi disembelih bikin sakit hati umat Hindu yang mensakralkan sapi. “Setidaknya tercatat ada 31 kerusuhan besar sepanjang 1923-1928 dan kebanyakan terjadi di dekat masjid. Seperti kerusuhan Kalkuta pada April-Mei dan Juli 1926 yang menewaskan 140 orang. Penyebabnya gara-gara seorang penabuh gendang bersikeras memainkan musik dekat masjid di waktu salat untuk prosesi Arya Samaj,” ungkap Thursby. Kerusuhan Berujung Pembantaian Pasca-pemisahan India dan Pakistan, lanjut Thursbys, sejumlah kerusuhan yang terjadi justru ditunggangi isu-isu politik. Kaum Muslim dengan kendaraan politik All-India Muslim League masih mempertahankan hegemoni politik masa lalunya. Sementara mayoritas kaum sayap kanan nasionalis-Hindu berusaha mengikisnya. Kerusuhan Muslim-Hindu skala besar terjadi pertamakali di India merdeka pada 13 Januari 1964 di Kalkuta. Kronologinya bermula dari hilangnya sebuah benda keramat di sebuah masjid di Srinagar, ibukota Jammu dan Kashmir. Kaum Muslim menuduh pelakunya orang-orang Hindu. Sebagai pelampiasan, mereka menyerang pengungsi Hindu yang baru keluar dari Pakistan Timur (kini Bangladesh). Serangan itu menyebabkan 29 pengungsi Hindu tewas. Kejadian itu memicu pembalasan oleh kaum Hindu di Bengali Barat dan menjalar ke Kalkuta. Di kota itu tercatat setidaknya 100 warga Muslim tewas dan 438 luka-luka. Sementara, 70 ribu warga Muslim lainnya yang menjadi tunawisma sebagai imbas pengeroyokan, penusukan, pemerkosaan, hingga pembakaran oleh massa anti-Islam. Kerusuhan besar Muslim-Hindu berikutnya terjadi di Gujarat medio September-Oktober 1969. Mengutip laporan Depdagri Negara Bagian Gujarat yang disusun Pingle Jagamohan Reddy dkk. pada 1971, kerusuhan itu menewaskan 24 warga Hindu dan 430 muslim. Kerusuhan yang berupa pembunuhan, pembakaran, dan penjarahan itu dibidani perselisihan antaretnis dan agama terkait urusan perut. Warga Hindu merasa dirugikan dengan membanjirnya imigran Muslim yang dianggap merebut lapangan pekerjaan mereka di pabrik-pabrik. Kerusuhan pun pecah pada 18 September yang menyebar di kota-kota di Gujarat, seperti Ahmedabad, Vadodara, Mehsana, Nadiad, Anand, dan Gondal. Sempat reda pada 26 September, kerusuhan itu membara lagi sepanjang 18-28 Oktober. Kerusuhan tak kalah besar terjadi di Desa Nellie, Assam pada 18 Februari 1983, di dikenal sebagai “Pembantaian Nellie”. Pembantaian terhadap pengungsi Muslim dari Bangladesh itu terjadi akibat gerakan dari organisasi pemuda All Assam Students Union dan All-Assam Gana Sangram Parishad yang menentang imigran Muslim Bangladesh. Ahmedabad terbakar kala terjadi Kerusuhan Gujarat 2002 (Foto: Wikipedia) Kejadiannya bermula dari keputusan Perdana Menteri India Indira Gandhi yang memberi hak suara dalam pemilu kepada enam juta imigran Muslim Bangladesh yang mengungsi di Desa Nellie. Keputusan itu ditentang oleh organisasi pemuda Hindu All Assam Students Union dan All-Assam Gana Sangram Parishad. Kedua organisasi terus menyebarluaskan sentimen anti-imigran Muslim dan direspon orang-orang Suku Tiwa (Lalung). Mereka pun bersatu menyerang permukiman imigran di Desa Nellie. Pembantaian pada 18 Februari itu terjadi selama enam. Tak pandang bulu, mereka membunuhi perempuan maupun anak-anak imigran Bangladesh. Rumah-rumah dan tanah imigran juga dirusak. Militer baru berhasil mengkondusifkan situasi empat hari berselang. Akibat Pembantaian Nellie, menurut pemerintah India, 2.191 jiwa melayang. Beberapa sumber tak resmi menyebutkan jumlah korban lebih dari 10 ribu. Pembantaian Nellie jadi genosida terburuk di dunia sejak Perang Dunia II yang dialami jutaan Yahudi oleh Nazi-Jerman. Kerusuhan tak kalah memilukan terjadi di Bhalgapur pada Oktober-November 1989. Kerusuhan dipicu oleh munculnya sejumlah hoaks terkait isu politik. Akibatnya, warga Muslim bentrok dengan polisi yang dibantu warga Hindu yang melakukan pembakaran, penjarahan, hingga pembunuhan di Distrik Bhalgapur. Sepanjang dua bulan masa mencekam itu, lebih dari seribu jiwa melayang, 900 jiwa di antaranya warga Muslim. Belum lagi kerusuhan Bhalgapur hilang dari ingatan, kerusuhan kembali pecah di Mumbai 6 Desember 1992-26 Januari. Pemicu kerusuhan adalah peledakan Masjid Babri oleh para aktivis Hindu dari Partai Shiv Sena. Sekira 900 orang tewas akibat kerusuhan itu. Kerusuhan yang juga bikin pedih kembali terjadi pada Februari-Maret 2002, dikenal sebagai “Pembantaian Gujarat”. Menukil artikel Christophe Jaffrelot bertajuk “Communal Riots in Gujarat: The State at Risk?” yang dimuat dalam Heidelberg Papers in South Asian and Comparative Politics , korban tewasnya lebih dari seribu jiwa, 790 warga Muslim dan 254 Hindu. PM Modi yang pada kejadian itu masih menjabat Ketua Menteri di Gujarat, disebutkan Jaffrelot turut mengorkestrasikan pembantaian oleh Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS), organisasi nasionalis Hindu di mana Modi merupakan mantan kadernya.

  • Sekelumit Kisah Mahathir Mohamad

    PERDANA Menteri Malaysia Mahathir Mohamad melepaskan jabatannya pada Senin, 24 Februari 2020. Koalisi Pakatan Harapan yang ia bentuk bersamaAnwar Ibrahimpada 2018 pun turut bubar.“Dr. M”, julukan Mahathir, juga mundur dari kursi tertinggi Parti Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM),kendaraan politikyang didirikannya pada 2016. Mahathir memang bukan termasuk jajaran “Bapak Pendiri Bangsa” negeri jiran. Namun 22 tahun pemerintahannya begitu sarat kontroversi, membuatnya dikenang bak “Macan dari Negeri Jiran”. Didikan Keras Zaman Sulit Keras dan kontroversial. Dua karakter itu melekat pada sosoknya sepanjang 22 tahun memimpin Malaysia. Dua karakter itu jelas buah dari pertautan sifat pribadinya dan pendidikan serta lingkungan tempat masa kecilnya bertumbuh. Dalam memoarnya, A Doctor in the House , ia mengisahkan garis keluarganya. Ia lahir pada 10 Juli 1925 dari pas angan Mohamad Iskandar asal Penang dan Wan Tempawan yang masih kerabat dengan Kesultanan Kedah . Mahathir lahir sebagai anak kesembilan dari 10 bersaudara di rumah sederhana di perkampungan Seberang Perak, Alor Setar yang merupakan ibukota Kesultanan Kedah. Meski bukan bangsawan, Iskandar punya kedudukan lumayan tinggi. Kesultanan Kedah mendatangkannya khusus dari Penang Free School pada 1908 untuk mengepalai sekolah menengah (SMP, red. ) berbahasa Inggris pertama di Kedah, Government English School (kini Kolej Sultan Abdul Hamid). Sekolah itu merupakan sekolah khusus kaum elit dan aristokrat Kedah. Namun besarnya keluarga membuat biaya kebutuhan dasar yang harus dipenuhi Iskandar besar pula. Akibatnya Mahathir dan saudara-saudaranya hanya bisa memulai pendidikan dasardi sekolah rakyat. “Orangtua saya tak mampu belikan sepatu, oleh karenanya saya bersekolah tanpa sepatu. Selepas sekolah selalu berlanjut belajar mengaji Al-Quran,” kataMahathir di memoarnya. Selepas mengaji punMahathir dan saudara-saudaranya harus langsung pulang karena sang ayah sudah menunggu mereka untuk mengajarkan bahasa Inggris pada petang. Pasalnya, anak-anak Iskandar tak mendapat pelajaran bahasa Inggris di sekolah. Harapan Iskandar, agar mereka bisa masuk GES yang ia dirikan lewat jalur selektif, semacam beasiswa. Masa kecil Mahathir Mohamad yang penuh perjuangan sebagai anak dari keluarga kelas menengah (Foto: cronkitehhh.jmc.asu.edu ) Namun dari beberapa anak Iskandar, hanya Mahathir yang bisa lulus. Saudari-saudari Mahathir pun tak diterima GES yang saat itu baru membuka asrama putri. “Dia (ayah) sangat kesal karena dia sendiri jadi pejabat pemerintah dan dia diundang ke Kedah untuk membangun sebuah sekolah. Akan tetapi sekolah putri yang dihadirkan kemudian di sekolah itu, menolak menerima saudari saya,” sa mbu ng Mahathir. Meskiberjasa ikut membangun sekolah itu, Iskandar dianggap sekadar bawahan dan pegawai pemerintah non-bangsawan. Ibunda Mahathir walau punya gelar “Wan”, hubungan kekerabatannya dengan kesultanan terbentang jauh. Keluarga Iskandar pun dianggap keluarga biasa dari kalangan “proletar”, sebagaimana yang diingat Tunku Abdul Rahman, pangeran Kedah yang menjadi perdana menteri pertama Malaysia. “Dia (Mahathir) bukan siapa-siapa. Ayahnya hanya pegawai bawahan biasa di Kedah. Saya tidak bergaul dengan ayahnya. Kami punya perkumpulan di Kedah, seperti perkumpulan pegawai dan perkumpulan anggota kerajaan dan lain-lain. Mereka punya perkumpulan pegawai bawahan sendiri,” ujar Tunku Abdul Rahman, dikutip Barry Wain dalam salah satu biografi Mahathir, Malaysian Maverick: Mahathir Mohamad in Turbulent Times. Biografi yang dituliskan jurnalis politik asal Australia itu juga menyebutkan latarbelakang keluarga Mahathir yang sensitif dan tak diungkap di memoar Mahathir. “Mohamad Iskandar adalah ‘Melayu Penang’, atau lebih tepatnya Jawi Peranakan, yang artinya orang lokal yang terlahir muslim dengan darah India. Iskandar, ayah Mohamad, adalah imigran dari selatan India yang merantau ke British Malaya dan menikahi orang Melayu,” tulis Wain. Mahathir Mohamad (kedua dari kanan) saat meneruskan sekolah pada 1946 setelah sempat terhenti di masa perang (Foto: mtholyoke.edu ) Latarbelakang leluhurnya itu tak pernah Iskandar kisahkan secara terang-benderang kepada keluarganya, termasuk Mahathir. Sebaliknya, Mahathir juga tak pernah bertemu kakek dari garis ayahnya lantaran Iskandar sudah wafat sebelum Mahathir lahir. “Mohamad Iskandar tak mengenal saudaranya dari India, juga tak bicara bahasa India. Walau beberapa anggota keluarga berspekulasi bahwa Iskandar berasal dari Kerala, Mahathir sendiri justru tak yakin kakeknya merupakan imigran, karena tak ada catatan tertulis tentang sosoknya dan ayahnya (Mohamad Iskandar) tak pernah menyebut tentangnya. Mahathir juga tak pernah membicarakan tentang keluarganya secara terbuka ke publik,” sambung Wain. Kedai Kopi hingga Panggung Politik Usia Mahathir baru sekira 16 tahun ketika Jepang mendepak Inggris dan menggantikan kolonialis lama itu menduduki Semenanjung Malaya. Seperti kebanyakan pemuda Melayu, hidup Mahathir mesti berbelok tajam dari mimpi awalnya akibat pendudukan Jepang. “Saya tak pernah menyangka Jepang akan menginvasi Malaya, namun runtuhnya Prancis di Eropa membuat Jepang bisa menempatkan pasukan di Indocina Prancis. Inggris yang khawatir , memperkuat Alor Setar dengan pasukan East Surrey Regimental dan juga pasukan Gurkha,” k at a Mahathir dalam memoarnya. Seme n tara, pemerintahan Kesultanan Kedah menerapkan kebijakan ARP (Air Raid Precautions). Mahathir di barisan pelajar turut serta masuk Auxiliary Fire Service. Ia dilatih mengatasi kebakaran untuk antisipasi pemadaman api jika terjadi pemboman oleh Jepang. Namun ketika Jepang masuk Malaya via Kelantan pada 8 Desember 1941, pasukan Inggris malah mundur. “Dengan invasi Jepang, roda pemerintahan (kesultanan) Kedah berhenti berputar dan semua saudaraserta saudara ipar saya yang bekerja di pemerintahan tiba-tiba harus menganggur. Para pedagang Cina melarikan diri dan kemudian penjarahan marak terjadi,” sambungnya. Banyak kawan Mahathir kemudian bergabung ke Heiho atau barisan tentara pembantu Jepang. Beberapa milisi, sebagaimana di Indonesia, pun bertumbuhan.Antara lainKesatuan Melayu Muda (KMM). Seingat Mahathir, ia pernah mendengar kabar bahwa Sukarno yang kelak jadi presiden pertama Indonesiasempat melawat ke Malaya bertemu para petinggi KMM guna membicarakan rencana mendirikan Indonesia Raya sebagai bentuk kolaborasi KMM dengan Heiho Malaya serta Heiho Indonesia. “Namun mayoritas rakyat Malaya tak mendukung pergerakan itu dan malah menginginkan Sekutu menang perang terhadap Axis (Jerman-Italia-Jepang). Saya sendiri sudah sibuk terbelit kemiskinan. Dengan modal seadanya saya dan saudara-saudara saya memilih berjualan pisang di jalanan Pekan Melayu,” lanjut Mahathir. Mahathir Mohamad di masa muda kala merintis karier di politik di Partai UMNO pada 1969 (Foto: Twitter @officialchedet) Di jalan itu pula Mahathir bertemu lagi dengan kawan-kawan sekolahnya.Mereka  lantas mengajak Mahathir buka usaha bareng. Tak pikir dua kali, Mahathir berkenan, mengingat usahanya menjajakan pisang dengan menggelar lapak di jalanan tak menguntungkan dan butuh upaya lain untuk membantu mencari nafkah keluarga. Bersama dua kawannya , Mahathir pun membuka kedai kopi di Pasar Pekan Rabu, semacam Pasar Rebo di Jakarta yang hanya buka di hari Rabu. Selain menjajakan kopi, mereka juga menjajakan pisang goreng sebagai teman ‘ngopi’ para pelanggan dan minuman cendol sebagai menu lainnya . Usaha itu berjalan hingga Perang Dunia II usai. Nasib Mahathir berbalik 180 derajat usai Perang Dunia II. Setahun usai perang, ia menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah untuk kemudian melanjutkan studi medis lewat beasiswa ke King Edward VII College of Medicine (kini Yong Loo Lin School of Medicine) di Singapura. Di masa kuliah itulah Mahathir mulai terjun ke politik. Ia jadi aktivis anti-pendatang dengan ikut berunjuk rasa terhadap pemerintahan Malayan Union yang memberi kewarganegaraan kepada orang-orang non-Melayu. Ia mulai bergabung dengan UMNO. Pada pemilu pertama di Malaysia, 1959, ia sudah menduduki kursi ketua UMNO cabang Kedah. Mahathir baru bisa masuk lingkaran pemerintahan pada 1973 setelah ditunjuk sebagai anggota senat di Dewan Negara oleh Perdana Menteri Abdul Razak Hussein. Setahun kemudian,iamenjabat sebagai menteri pendidikan; wakil perdana menteri pada 1976 merangkap menteri perdagangan dan industri, serta menteri pertahanan. Menyusul mundurnya Perdana Menteri Hussein Onn dengan alasan kesehatan, nama Mahathir diajukan Tengku Razaleigh dan Ghazali Shafie sebagai suksesor. Pasalnya, di antara dua kandidat UMNO, Mahathir dan Ghafar Baba, yang fasih bahasa Inggris dan punya pendidikan lebih tinggi adalah Mahathir. Pertemuan Mahathir Mohamad dengan Soeharto di Malaysia, Juni 1993 (Foto: Repro "Soeharto: The Life and Legacy of Indonesia's Second President") Per 16 Juli 1981, Mahathir resmi memegang jabatan perdana menteri. Indonesia jadi negara pertama yang dikunjunginya karena kekagumannya terhadap program-program pembangunanPemerintahan Soeharto. “Saya selalu mengikuti perkembangan berbagai kebijakan yang dijalankan pemerintahan beliau. Maka kunjungan luar negeri saya yang pertamakali setelah saya dilantik (perdana menteri) menggantikan Datuk Hussein Onn pada 1981 adalah kepada Presiden Soeharto,” tutur Mahathir yang dikutip Mahpudi dkk dalam Pak Harto: The Untold Stories .

  • Pesona Sejarah Carnevale Venezia

    KECERIAAN jutaan warga dan turis di Venezia, Italiaberganti cemas. Topeng-topeng pesta marak warna nan berganti masker-masker medis. Carnevale di Venezia atau Karnaval Venesia yang termasyhur itu harus dihentikan sebelum perayaan puncaknya, 25 Februari 2020 di Piazza San Marco. Gegaranya,merebaknya kasus COVID-19 alias virus corona . Karnaval yang “11-12” dengan Karnaval Rio itu mestinya berlangsung pada18-25 Februari atau jelang ibadah puasa pra-Paskah dalam agama Katolik. Namunper Minggu (23/2/2020), pemerintah negara bagian maupun pemerintah regioni (semacam negara bagian) sepakat menghentikan karnaval dan memberlakukan lockdown (karantina) di 12 kota di utara Italia. Pemberlakuan karantina sementara yang diputuskan sampai 1 Maret 2020 itu tidak hanya berlaku untuk karnaval, namun juga untuk sejumlah aktivitas, seperti pameran fesyen Giorgio Armani atau laga-laga sepakbola Serie A yang dimainkan di utara Italia. “Kami harus memberlakukan tindakan drastis. Mulai malam ini Karnaval Venezia, juga gelaran-gelaran lain, termasuk olahraga, sampai 1 Maret akan dihentikan. Termasuk juga semua acara perkumpulan pribadi maupun publik harus dihindari. Sekolah-sekolah ditutup sampai akhir bulan ini,” ujar Presiden regioni VenetoLuca Zaia, dikutip Deutsche Welle , Minggu (23/2/2020). Karnaval Venezia yang sempat berjalan sebelum akhirnya dihentikan per Minggu, 23 Februari 2020 (Foto: Twitter @Venice_Carnival) Keputusan itu diambil setelah tiga dari 155 pasien terdampak virus corona tewas. Korban tewas terakhiradalah seorang lansia berusia 78 tahun, Adriano Trevisan, yang meninggal di rumahsakit di Padova, kota tetangga Venezia . Pesta Khas Venezia Selama berabad-abad, Karnaval Venezia yang khas dengan pesta topeng itu masih menyisakan misteri soal asal-usulnya. Marianne Mehling dalam Venice and the Veneto menyebutkarnaval itu  dipengaruhi tradisi Saturnalia di era Romawi Kuno sekira (500 SM) . Jika “dikonversi” ke kalender Masehi, perayaan Saturnalia lazimnya digelar sepanjang 17-23 Desember.Dalam kurun itu para budak Romawi dibebaskan sementara untuk ikut berpesta sebagai bentuk penghormatan kepada Dewa Saturnus. Perayaannya berupa pesta minuman, makanan, hingga berjudi. Namun dalam masa itu para penikmat perayaan belum mengenal tradisi pesta topeng. Menurut Elizabeth Horodowich dalam A Brief History of Venice, cikal-bakal karnaval berkenaan dengan pesta makanan dan minuman sebelum puasa pra-Paskah Katolikbaru eksis pada 1094. Kala itu Venezia sudah berbentuk republik (Repubblica di Venezia).Pemimpin Venezia Doge (Adipati) Vitale Faliero yang mencetuskan karnaval itu. “Tertulis dalam dokumen Doge Vitale Falierebahwa catatan pertama tentang karnaval terjadi pada 1094 dan perayaannya digelar terbuka untuk publik jelang puasa pra-Paskah,” sebut Horodowich. Ilustrasi Karnaval Venezia di masa-masa awal Republik Venezia (Foto: venezia.it ) Pesta semacam karnaval yang lebih besar dan jadi cikal bakal Karnaval Venezia, menurut James H. Johnson dalam Venice Incogito: Masks in the Serene Republic, baru terjadi pada 1162, selepas Republik Venezia menang perang atas Ulrich II von Treven, Patriark Aquileia. Ulrich II ingin menguasai Venezia sehubungan dengan kampanye perluasan wilayah kekuasaan Kaisar Frederick Barbarossa (Frederick I),  dari Germania ke Italia. Upaya Ulrich memicu Doge Vitale II Michiel memberi perlawanan sengit dengan mengirim armadanya ke Grado, basis kekuatan Ulrich II. Ulrich lantas terkepung dan ditawan. Beruntung nasibnya diselamatkan Paus Aleksander III yang turun tangan memediasi perdamaian. Sri Paus meminta Doge Vitale membebaskan Ulrich dengan imbalan selusin babi ternak dan 300 potong roti yang akan dikirimkan rutin setiap tahun. “Kekalahan Ulrich pada 1162 kebetulan bertepatan dengan masa-masa jelang puasa pra-Paskah menjadi anugerah tersendiri bagi para pemimpin kota (Venezia). Persembahan (dari Sri Paus) itu kemudian dijadikan jamuan setiap kali digelarnya perayaan di Alun-Alun San Marco dengan disemarakkan pesta dansa,” tulis Johnson. Ilustrasi Carnevale di Venezia oleh pelukis Pietro Longhi yang dibuat tahun 1751 (Foto: Museo dell' Settecento Veneziano) Tetapi perayaan itu belum dilengkapi pesta topeng dan parade kostum mewah nan glamor. Topeng baru dikenakan para kaum aristokrat maupun golongan menengah pada 1296 ketika pemerintah republik mengesahkan Karnaval Venezia sebagai hari libur publik. “Sejak saat itu Karnaval Venezia dikenal luas karena pesta topengnya, parade kostum, pertunjukan musik dan seni, serta hiburan malam yang lantas jadi daya tarik orang asing datang ke Venezia,” imbuhnya. Topeng dan Larangan Karnaval Penggunaan topeng merupakan hal paling khas dari Karnaval Venesia. Dengan topeng, para peserta karnaval seolah mendapatkan kebebasan tak terbatasuntuk bersenang-senang, baik berjudi atau bercinta terlarang tanpa harus takut diketahui siapapun. Dari sini pula konon kelegendaan Giacomo Casanova bermula. Casanova merupakan petualang cinta ternama di abad ke-18 yang dengan kharismanya mampu bikin banyak kaum hawa ‘kelepek-kelepek’. Dia tak peduli sang mangsanya masih gadis atau istri orang. Penggunaan topeng juga menghilangkan batas-batas kelas antara kaum bangsawan maupun rakyat jelata sepanjang karnaval. Lebih jauh, penggunaan topeng juga menciptakan lapangan pekerjaan baru: mascherari alias pembuat topeng. Mereka membuat topeng bervariasi,mulai dari berbahan porselain, kayu, hingga plastik di zaman modern. Adegan Giacomo Casanova tengah merayu seorang wanita di Karnaval Venezia dalam film "Casanova" yang rilis 2005 (Foto: IMDb) Variasi bentuk topeng juga bermacam-macam.Yang paling khas antara lain bauta  atau topeng sederhana dan tak banyak corak namun menutupi 100 persen wajah. Selain itu ada colombina , semacam topeng setengah muka yang hanya menutupi mata, hidung, dan bagian atas pipi. Jenis yang juga jamak disenangi para penikmat karnaval adalah moretta (topeng gelap) atau servetta mutta (topeng pelayan bisu). Topeng ini lazimnya berwarna hitam yang nyaris menutupi seluruh wajah, kecuali sisi lingkar luarnya. T openg ini hanya dilengkapi sepasang lubang mata tanpa lubang untuk hidung dan mulut. Cara p em akai an nya pun bukan seperti topeng lain dengan karet atau tali, melainkan digigit sisi dalamnya bak topeng reog Ponorogo. Maka d ar i itu topeng ini dinamakan topeng pelayan bisu. Tak ketinggalan,adatopeng Medico Della Peste . Topeng ini berbentuk paruh burung, mengadopsi masker atau topeng ahli medis Prancisabad ke-17Charles de Lorme. De Lorme biasa menggunakan topeng berparuh saat menangani para korban wabah pes, kemudian diikuti para dokter di Jerman hingga Belanda. Karnaval Venesia akhirnya memancing perhatian para bangsawan dalam maupun luar negeri. Sejumlah aristokrat Eropa meluangkan waktu mereka untuk datang ke Venezia. Namun masa-masa indah itu berakhir pada akhir abad ke-18. Karnaval Venezia digelar terakhir kalinya pada Februari 1797 di era Republik Venezia, lantaran pada Mei di tahun yang sama republik itu dikuasai Jenderal (kemudian kaisar) Napoléon Bonaparte. Empat varian topeng paling populer: Bauta, Colombiana, Moretta, dan Medico Della Peste Seiring mundurnya Doge Ludivico Manin dan runtuhnya Republik Venezia, berakhir pula kejayaan karnaval. Kekuasaan Venezia lantas diserahkan Napoléon ke Kekaisaran Austria dalam rangka Perjanjian Campo Formio, 17 Oktober 1797. Di bawah kekuasaan Austria, karnaval apapun dilarang. “Perhelatan karnaval secara terbuka terus diberlakukan di masa kekuasaan Austria, hingga kemudian menjadi bagian dari Kerajaan Italia pada 1866. Di masa itu karnaval sempat dibolehkan digelar meski tak secara terbuka dan khusus untuk event pribadi bangsawan tertentu, sampai kemudian diktator Benito Mussolini total melarangnya pada 1930-an,” ungkap Daniel Shafto dalam Carnival . Butuh waktu lama bagi sebagian warga Venezia untuk menghidupkan tradisi itu lagi pasca-Perang Dunia II, mengingat Italia turut luluh-lantak. Pada 1967, beberapa tokoh di Venezia coba menghidupkannya kembali dalam rangka pesta kostumserta pesta topeng pribadi. Pada 1979, pemerintah Italia akhirnya membuka mata akan tradisi ratusan tahun itu dan menyatakan Karnaval Venezia sebagai warisan Italia untuk dilestarikan. Karnaval itupun mulai digelar lagi dalam skala kolosal pada Februari 1980 dengan ditambah agenda yang dijadikan tradisi baru, yakni La Maschera Più Bella alias Kontes Topeng Terindah.

  • Sejarah Kolam Renang Pertama di Indonesia

    KOLAM renang telah ada di Indonesia sejak zaman penjajahan Belanda. Kolam renang pertama berada di Bandung, Jawa Barat, berawal dari kolam ikan sederhana yang dibangun pada 1904. Kolam renang Cihampelas itu terletak di sisi jalan kecil Tjihampelaslaan  (Jalan Taman Hewan), yang menghubungkan Lembangweg  (Jalan Cihampelas) dan Ghyselsweg  (Jalan Tamansari). "Kolam renang Tjihampelas adalah kolam renang tertua di Bandung. Kolam renang ini semula merupakan kolam ikan milik Ny. Homann, istri pemilik Hotel Savoy Homann, Tuan Homann," tulis Sudarsono Katam Kartodiwirio dan ‎Lulus Abadi dalam Album Bandoeng Tempo Doeloe . Kolam renang Cihampelas dibangun untuk melayani tamu-tamu hotel. Pada masanya termasuk lengkap dengan tiga buah kolam berstandar internasional. Kolam renang Cihampelas sempat menjadi tempat berlatih Perkumpulan Berenang Bandung (Bandoengse Zwem Bond) yang berdiri pada 1917. Kolam renang itu hanya diperuntukan bagi orang-orang Belanda dan Eropa. Plang larangan bagi pribumi sungguh menyakitkan. Mantan Jaksa Agung Letjen TNI (Purn.) Soegih Arto menjadi saksinya pada masa kecil. "Saya masih ingat waktu di Bandung guru olahraga setengah mati mencari kolam renang untuk pelajaran berenang," kata Soegih Arto dalam memoarnya, Sanul Daca . "Di kolam renang Centrum," lanjut Soegih Arto, "jelas tidak mungkin, karena tertulis dengan huruf besar VERBODEN VOOR HONDEN EN INLANDERS  atau terjemahan dalam bahasa Indonesia adalah DILARANG UNTUK ANJING DAN ORANG PRIBUMI. Begitulah derajat bangsa kita sewaktu dijajah Belanda, padahal ini sudah tahun 1940." Akhirnya, berkat seorang anggota Volksraad  (Dewan Rakyat), para siswa diperbolehkan berenang di kolam renang Cihampelas. "Alangkah gembiranya kami, karena naik derajat setingkat di bawah bule, sedikit di atas anjing. Asyik juga berenang dengan bule-bule, apalagi wanitanya yang berbadan putih padat. Sayang pada waktu itu belum ada bikini," kata Soegih Arto. Jenderal TNI (Purn.) A.H. Nasution juga punya pengalaman berenang di kolam renang Cihampelas. Saat itu, dia sedang mengikuti pendidikan militer CORO (Corps Opleiding Reserve Officieren) di Bandung tahun 1940. "Tiap akhir minggu kami berenang di Cihampelas. Saya belum pernah sebelumnya berenang di dalam kolam renang, apalagi dengan cara gaya tertentu. Saya berenang di kali di masa kecil, karena itu harus mulai lagi belajar dari mula pangkal," kata Nasution dalam memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas: Kenangan Masa Muda . Kolam renang Tjihampelas di Bandung, 1930-1935. (Tropenmuseum). Menurut Sudarsono Katam dan ‎Lulus Abadi, selain kolam renang Cihampelas, kolam renang lain di Bandung adalah kolam renang Centrum (sekarang bernama kolam renang Tirta Merta), yang dibangun pada 1920 dengan gaya arsitektur modern tropis Indonesia, karya arsitek C.R. Wolff Schoemaker. Letak kolam ini di Bilitonstraat  (sekarang Jalan Belitung). Kolam renang lainnya berada di kompleks Dago Teehuise (Dago Tea House) dan di Cimindi cukup dikenal masyarakat Bandung, tetapi telah ditutup sejak akhir tahun 1950-an. Pada 1950-an, kolam renang Cihampelas dan Centrum menjadi tempat berlatih atlet-atlet renang daerah dan nasional. Bahkan, renang menjadi olahraga pertama yang melakukan pemusatan latihan nasional (pelatnas) di Bandung untuk menghadapi Olimpiade Roma 1960 dan Asian Games 1962 di Jakarta. "Sistem pelatnas ini kemudian diikuti oleh cabang-cabang lain sebelum akhirnya Sukarno menyetujui pelatnas Asian Games dipusatkan di kota kembang tersebut," tulis Brigitta Isworo Laksmi dan Primastuti dalam biografi M.F. Siregar, Matahari Olahraga Indonesia . Saat itu, M.F. Siregar ditunjuk sebagai pelatih kepala cabang olahraga air yang terdiri dari renang, polo air, dan loncat indah. "Sejak tahun 1950-an, Siregar punya kebiasaan meninggalkan rumah pukul 04.30 pagi untuk melatih renang dan polo air di klub Tirta Merta maupun di pelatnas renang yang saat itu dilaksanakan di Bandung, dan di perkumpulan renang Tirta Taruna dan pelatnas di Jakarta," tulis Brigitta dan Primastuti. Sayangnya, kolam renang Cihampelas barakhir nahas. Setelah sempat terbengkalai, akhirnya kolam renang pertama di Indonesia itu dibongkar untuk dijadikan hotel. Penghancuran itu disayangkan sejumlah pihak di antaranya Irsan Sutedja, mantan atlet renang dan anggota Komisi Teknik Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) KONI Jawa Barat. "Sejak tahun 1959," kata Irsan dikutip detik.com , "saya berlatih mengawali karier saya sebagai atlet renang di kolam Centrum dan Cihampelas itu."*

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Poligami dipraktikkan oknum tentara sejak dulu. Ada yang dapat hukuman karenanya.
bg-gray.jpg
Snouck Hurgronje diangkat menjadi pejabat negara di Hindia Belanda. Dia mengamati dan memberikan catatan serta nasihat yang membantu pemerintah kolonial mengatur ketertiban dan keamanan di wilayah koloni.
bottom of page