Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Menteri Cantengan
SOEBANDRIO barangkali satu-satunya menteri luar negeri yang memakai sandal dalam suatu perundingan formal bilateral. Ceritanya bermula ketika Soebandrio berangkat ke Amerika Serikat pada 18 Juli 1962. Presiden Sukarno mengutus Soebandrio berunding dengan pihak Belanda agar menyerahkan wilayah Irian Barat. “Sudah jelas Presiden Sukarno berulang-ulang berkata bahwa: ‘Penyerahan kekuasaan Irian Barat harus berlangsung pada tahun 1962, sebelum ayam jantan berkokok tahun 1963’,” kenang Soebandrio dalam Meluruskan Sejarah Perjuangan Irian Barat . Soebandrio memimpin delegasi Indonesia. Turut mendampinginya Letnan Jendral Hidayat Martaatmadja dan Juru Bicara Depertemen Luar Negeri, Ganis Harsono. Sementara pihak Belanda diwakili oleh Herman van Rooijen, duta besar Belanda untuk PBB. Setibanya di Washington D.C., Soebandrio tak segera menunaikan amanat sang presiden. Perundingan itu molor dan baru terlaksana seminggu kemudian. Tempat perundingan sedianya diselenggarkan di Wisma Hunstland, masuk kota Middleburg yang tidak jauh dari Washington. Namun kali ini harus diselenggarakan di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Washington. Apa yang terjadi? “Tanggal 25 Juli 1962 van Rooijen datang ke Kedutaan Besar Indonesia di Washington, guna melaksanakan perundingan kedua. Saya pada waktu itu menderita infeksi luka, hampir tidak dapat berjalan. Syukur bahwa van Rooijen bersedia datang ke Kedutaan Besar Indonesia,” tutur Soebandrio. Informasi mengenai luka yang dialami oleh Menteri Soebandrio itu termuat dalam warta Suluh Indonesia , 27 Juli 1962. Diberitakan bahwa pada 24 Juli, Subandrio menjalani operasi kecil pada jempol kakinya yang terkena infeksi kuku. Infeksi ini bagi orang awam lazim disebut dengan penyakit cantengan. Gejala cantengan adalah bengkak pada ujung kuku jari yang biasanya bernanah. Akibat kondisi fisiknya tersebut, Subandrio jalan tertatih-tatih. Soebandrio pun terpaksa harus mengenakan sendal saat perundingan berlangsung di hadapan delegasi Belanda dan kelompok mediator dari Amerika Serikat. Beruntunglah, van Rooijen - yang merupakan "lawan" Soebandrio - berbaik hati untuk mau bertandang ke markas Indonesia. Perundingan yang akan menentukan masa depan wilayah yang kini bernama Papua itu pun dapat dilanjutkan. Perundingan berjalan alot dan sengit yang berakhir dengan kemenangan bagi Indonesia.
- Sejarah Gedung KPU
Gedung Komisi Pemilihan Umum (KPU) terletak di Jalan Imam Bonjol, Jakarta Pusat. Pada masa kolonial Belanda, jalan itu bernama Nassau Boulevard termasuk dalam kawasan Nieuw Gondangdia (sekarang Menteng). Pembangunan jalan ini bermula dari pengembangan Batavia ke wilayah Selatan, yaitu Weltevreden yang meliputi Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng) dan Koningsplein (sekarang Gambir dan Medan Merdeka) pada akhir abad ke-18. “Di mana banyak terdapat kantor dan bangunan pemerintah,” tulis Mona Lohanda dalam Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia. Pegawai kantor pemerintah memerlukan tempat tinggal. Hunian ini mengambil lokasi tak jauh dari Weltevreden. Menteng nama lokasi itu. Masih berupa tanah partikelir milik saudagar asal Hadramaut. Dirancang Moojen Kepemilikan wilayah Menteng beralih ke perusahaan De Bouwploeg, bergerak di bidang Real Estate, pada 1908. Perusahaan itu membeli tanah seluas 295 rijnlandsche roeden atau setara 69 hektar dengan harga f. 238.870. “Supaya tanah yang baru diperoleh ini digunakan untuk daerah pemukiman bagi masyarakat golongan atas, yang semakin banyak berkedudukan di Batavia dan mencari rumah-rumah yang sesuai dengan kemampuan finansial mereka,” tulis Adolf Heuken dalam Menteng: Kota Taman Pertama di Indonesia . Selain Menteng, peralihan kepemilikan juga terjadi pada wilayah Gondangdia. Wilayah ini bertetangga dengan Menteng. Tadinya dimiliki oleh orang kaya berkebangsaan Belanda. Tetapi pada 1910, Gondangdia dibeli oleh Bouw- en Cultuurmaatschappij Gondangdia senilai f. 217.724 untuk luas 315 rijnlandsche roeden atau setara 73 hektare. Setelah urusan pembelian tanah kelar, pemerintah Kotapradja Batavia membentuk kondangdia-comissie untuk merancang wilayah Menteng. Saat itu Menteng bernama Nieuw-Gondangdia. Seorang arsitek bernama P.A.J. Moojen termasuk menjadi anggotanya. Dia memelopori gaya bangunan indische bouwstjil baru. Indische bouwstijl ala Moojen memiliki ide bahwa gaya bangunan bergantung pada iklim, tempat, bahan bangunan tersedia, dan tenaga kerja setempat. Ini pandangan baru dalam arsitektur di Hindia Belanda. “Sebelum abad ke-20 tidak ada arsitek profesional yang datang ke Hindia. Orang-orang Eropa hanya mengaplikasikan apa yang mereka kenali dari Eropa,” tulis Mohamnmad Nanda Widyarta dalam “Tampilan Hindia Melalui Arsitektur” termuat di Tegang Bentang Seratus Tahun Perspektif Arsitektural di Indonesia . Moojen juga menghadirkan gagasan baru dalam perancangan wilayah di Hindia Belanda. “Untuk pertama kalinya di Indonesia perluasan sebuah kota dilakukan dengan perencanaan yang matang,” tulis Adolf Heuken. Moojen merancang Nieuw Gondangdia dengan suatu boulevard atau jalan lebar berbentuk radial. Jalan itu mengelilingi sebuah lapangan bundar di tengahnya. Kelak lapangan ini bernama Taman Suropati. Di depan Taman Suropati inilah membentang sebuah boulevard radial dari timur ke barat. Boulevard itu terbagi atas dua seksi: Oranje Boulevard (sekarang Jalan Diponegoro) di timur dan Nassau Boulevard (sekarang Jalan Imam Bonjol) di barat. Dua jalan ini dirancang sebagai satu kesatuan yang serasi. Pohon-pohon besar tertanam di tengah Boulevard dan kelak deretan rumah bertingkat berada di sepanjang tepi jalannya dengan kebun luas. Bentuk rumah itu menyesuaikan iklim tropis. “Sehingga menciptakan suasana rapi dan asri pada beberapa jalan di Menteng,” lanjut Adolf. Gedung KPU Tetapi hingga sebelum Perang Dunia II, bangunan di Nassau Boulevard kalah ramai oleh jalan-jalan lainnya di kawasan Nieuw Gondangdia. Nassau Boulevard mulai ramai bangunan memasuki dekade 1950-an. Ketika itu namanya telah berubah jadi Jalan Imam Bonjol. “Maka di Jalan Imam Bonjol cukup banyak bangunan baru didirikan pada tahun 1950-an, namun dalam gaya bangunan pra-perang. Diantaranya terdapat rumah kopel, yang walaupun besar agak sederhana perancangan serta pelaksanaannya,” tulis Adolf Heuken. Selain rumah kopel, berdiri juga sebuah bangunan milik Perkebunan Negara pada 1955. Gedung ini hasil rancangan arsitek Belanda bernama A.W. Gmelig Meyling. Dia bekerja sebagai wakil direktur di biro Ingeneren-Vrijburg NV (BIV) di Bandung. Meyling sempat ditahan pada masa pendudukan Jepang. Kemudian dibebaskan setelah kemerdekaan dan menjadi profesor luar biasa di Institut Teknologi Bandung. Dia berpraktik di Indonesia hingga 1957. Sentuhan Meyling pada Gedung Pusat Perkebunan Negara memiliki ciri khas unsur kubistis kuat. “Seluruh tampak muka dirancang dengan pembias ( louvre ) untuk mencegah sinar matahari masuk ruang-ruang kerja,” tulis Adolf Heuken. Ciri ini tampak pula dalam gedung Societeit Country Club Concordia di Bandung dan Gedung Kantor GEBED di Sukabumi. Gedung Pusat Perkebunan Negara (PPN) kemudian beralih fungsi menjadi kantor Lembaga Pemilihan Umum (LPU) pada 1987. LPU tadinya berkantor di Jalan Matraman Raya No. 40, Jakarta Timur. Tapi Kantor di Matraman itu sudah tidak layak lagi untuk mendukung pekerjaan staf LPU. “Dalam pada itu LPU harus pindah dari Jl. Matraman Raya 40 ke Jl. Imam Bonjol, bekas gedung PPN,” tulis buku Lampiran VI Pemilihan Umum 1987 . Sejak itulah Jalan Imam Bonjol sering jadi pusat perhatian orang saban Pemilu. Setelah Reformasi, berbagai demonstrasi kerap kali terjadi di Jalan Imam Bonjol, depan gedung KPU.
- Bangsawan Aceh dan Piagam Jakarta
MOHAMMAD HATTA, wakil ketua PPKI kepayahan menghadapi lawan debatnya, Ki Bagus Hadikusumo, Menjelang sidang PPKI, ulama Muhammadiyah dari Yogyakarta itu bersikukuh agar dalam rancangan mukadimah Undang-Undang Dasar, dan Pasal 29, Ayat 1, ditambahkan kalimat, “Dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, sebagaimana isi Piagam Jakarta.Dengan kata lain, Ki Bagus menghendaki sistem negara bercorak agama (baca:Islam). “Karena begitu serius rupanya, esok paginya, tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan bermula, kuajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Teuku Hasan dari Sumatera mengadakan rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu,” tutur Bung Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan . Dua nama pertama, Wahid Hasyim (NU) dan Kasman Singodimedjo (Muhammadiyah) merupakan tokoh dari kalangan Islam. Sementara Teuku Mohammad Hasan berasal dari golongan berbeda. Hasan seorang putra uleebalang (bangsawan Aceh) dan juga ahli hukum tamatan dari Universitas Leiden, Belanda. Hatta kenal baik dengan Hasan sewaktu keduanya sama-sama menuntut ilmu di negeri Belanda. Menurut Hatta, meski bukan mewakili golongan Islam, Hasan berasal dari Aceh, wilayah dengan kultur Islam yang kental. Dan lagi, Hatta tahu persis bahwa Hasan seorang yang taat beragama. Percaya dengan kapasitas intelektual dan religinya, Hatta menunjuk Hasan untuk melobi Ki Bagus. Dalam memoarnya, Hasan mengisahkan pertemuannya dengan Ki Bagus Hadikusumo. Hatta mengantarkan Hasan ke ruangan kamar tempat Ki Bagus dikarantina. Di tempat itulah Hasan berkenalan dengan Ki Bagus. Saat itu, Hasan masih berusia 39 tahun sedangkan Ki Bagus sudah berumur 54 tahun. Hatta membuka pembicaraan dengan mengucap Bismillah . Namun Hatta hanya berbicara sejenak karena menghadapi sanggahan demi sanggahan dari sang ulama. Ki Bagus enggan mengubah pendiriannya. Hasan lantas mengambil alih percakapan. Perdebatan sengit pun terjadi antara Ki Bagus yang kelahiran 1890 dengan Hasan yang kelahiran 1906. “Dalam perjuangan menuntut kemerdekaan Tanah Air perlu persatuan yang bulat dari semua golongan untuk menghadapi musuh bersama, jangan sampai Belanda memecah belah kita sama kita dan mempergunakan golongan Kristen dan lain-lain melawan golongan Islam dan sebagainya,” kata Hasan kepada Ki Bagus sebagaimana terkisah dalam memoar Mr. Teuku Mohammad Hasan: Gubernur Sumatera, dari Aceh ke Pemersatu Bangsa . Menurut Hasan, persatuan adalah senjata utama mencapai kemerdekaan yang telah di depan mata. Sebaliknya, tuntutan sebagian golongan dengan menafikan kelompok lain akan dapat digunakan Belanda untuk memecah belah bangsa Indonesia. Kekhawatiran Hasan cukup beralasan. Orang-orang Kristen yang berbasis di Tanah Batak, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur punya ikatan dengan Belanda melalui pendidikan dan lembaga gereja. Belanda bisa saja menggunakan sentimen agama guna memukul perjuangan Republik dari dalam. “Apabila kita terus mempertahankan kepentingan sepihak, bisa-bisa orang Kristen dapat dipersenjatai oleh Belanda. Padahal kita kan maunya merdeka, bukan berperang,” pungkas Hasan. Mendengar penjelasan Hasan, Ki Bagus agak tertohok. Dia melunak dan bersedia memikirkan ulang usulannya. Hasan kembali meyakinkan Ki Bagus agar tetap berbesar hati. Katanya, “Umat Islam tidak perlu takut mengingat populasinya yang berjumlah 90% dari keseluruhan rakyat Indonesia. Kalau kita banyak, kita tidak perlu cemas. Yang penting merdeka dulu. Setelah itu terserah kita mau dibawa ke mana negeri ini.” “Rupa-rupanya kata-kata Mohammad Hasan mengena di hati dan di terima oleh Ki Bagus,” tulis Dwi Purwoko dalam Dr. Mr. T.H. Moehammad Hasan: Salah Seorang Pendiri Republik Indonesia dan Pemimpin Bangsa. Secara diplomatis, Hasan berhasil membujuk Ki Bagus untuk membatalkan niatannya. Perubahan sikap Ki Bagus dilaporkan Hasan kepada Hatta. Hatta kemudian melaporkan kepada Sukarno, selaku ketua PPKI. Masalah syariat Islam selesai dengan kata mufakat. Maka sidang pun berlanjut ke agenda inti: memilih presiden dan wakil presiden. “Pada waktu itu kami dapat menginsafi bahwa semangat Piagam Jakarta tidak lenyap dengan menghilangkan perkataan 'Ke Tuhanan dengan kewjiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya' dan menggantinya denga 'Ke Tuhanan Yang Maha Esa',” ujar Hatta. Polemik sengit dalam perumusan dasar negara itu pungkas dengan keberhasilan mewadahi kepentingan bersama dari berbagai golongan. Sikap Hasan yang tenang dan mengedepankan dialog, alih-alih konfrontrasi, membuat proses negosiasi berjalan dengan baik. Hasan sendiri kelak menjadi gubernur provinsi Sumatera yang pertama dan terakhir.
- Dari Arena ke Layar Kaca
DI mana ada siaran bulutangkis di televisi, di situ ada Yuni Kartika. Di antara para host dan komentator olahraga tepok bulu, nama Yuni salah satu yang paling dinanti. Yang berkesan darinya tentu bukan semata komentar hebohnya tapi juga pengetahuannya yang dalam terkait teknis permainan maupun profil para pemain yang tengah bertarung. Komentar-komentar Yuni kembali nyaring saat TVRI mulai menyiarkan Piala Sudirman 2019 yang digelar di Nanning, China pada 19 Mei lewat. Kala itu, Gregoria Mariska Tunjung sedang meladeni tunggal putri Inggris Abigail Holden yang akhirnya dimenangi Gregoria straight set , 21-10 dan 21-13. Secara keseluruhan, tim Indonesia menang 4-1 atas Inggris di laga pembuka Grup 1-B. Saat laga kedua Grup 1-B kemarin, Rabu (22/5/2019), kala tunggal putri Indonesia Fitriani berlaga kontra Mia Blichfeldt asal Denmark, Yuni kembali membimbing para pemirsa memahami pertandingan. Sejak pensiun pada 1995, Yuni memang memutuskan untuk menjadi komentator siaran olahraga ( sportscaster ). “Saat menjelang akhir karier, saya berpikir apa ya bidang yang tetap in-line dengan badminton tapi enggak di lapangan. Karena saya merasa seluruh hidup saya sudah di lapangan. Dari kecil umur lima tahun sampai besar di lapangan. Jadi kalau saya harus jadi pelatih lagi atau buka toko olahraga, saya akan ada di lapangan lagi. Kayaknya enggak gitu kepenginan saya. Saya pingin yang lain tapi tetap tidak ingin meninggalkan badminton, gimana caranya,” tutur Yuni saat ditemui Historia . Pikiran Yuni lantas tertuju pada dunia broadcast . Tujuannya, ia ingin mengedukasi masyarakat lebih dalam soal bulutangkis lewat layar kaca. “Caranya bisa mengedukasi tentu dengan mantan pemain yang bisa ngomong (di depan kamera). Tentang apa yang terjadi, bagaimana susahnya, struggle- nya main badminton. Kalau lagi mau apa yang dipikirkan. Mereka enggak tahu di belakang kayak apa. Itu yang membuat saya memutuskan bahwa next step saya akan lari ke dunia broadcast ,” sambungnya. Petaka Keluarga Hentikan Kariernya Yuni mengenal bulutangkis sejak usia lima tahun. Srikandi cantik kelahiran Semarang, 16 Juni 1973 itu dikenalkan olahraga tepok bulu oleh ayahnya, Tjoa Soe Sien, yang kerap mengajak Yuni saat bermain dengan para sejawatnya. “Saya kecil di Pekalongan dan mulanya serius bulutangkis masuk PB Praba Jaya. Terus pas saya kelas 6 SD ada pembukaan untuk PB Djarum. Tapi saya masuk audisinya lewat PB Djarum di Jakarta. Empat kali bolak-balik Pekalongan-Jakarta untuk ikut tes psikologi, tes IQ, hingga tes tanding. Waktu itu masih teringat angkatan saya audisi ada Ade Rai (binaragawan), Zarima Mir (ratu ekstasi), Ardy Wiranata, Jean Pattikawa,” kenang Yuni. Yuni Kartika (berdiri paling kanan) bersama para rekan sejawat angkatannya kala mengasah karier di PB Djarum (Foto: Twitter @YuniKartika73) Nama Yuni kemudian melejit sebagai salah satu andalan Pelatnas PBSI di sektor tunggal putri. Mengutip Arie MP Tamba dan TB Ahmad Fauzi Supri dalam Setengah Abad PB Djarum: Dari Kudus Menuju Prestasi Dunia , Yuni meraup titel German Open Junior 1990, jadi finalis Malaysia Open 1992, dan masuk tim Uber Cup 1992 di mana Indonesia tersisih di semifinal. Di peringkat dunia tunggal putri, puncak karier Yuni pernah menjejak urutan 10 pada 1992. Tapi tiga tahun kemudian, Yuni memutuskan gantung raket. Dia merasa tak lagi bisa bersinar. Fokusnya gampang goyah pasca-petaka kecelakaan keluarganya tiga tahun sebelumnya. “Itu sedang di puncak karier saya. Saat saya lagi bertanding di Thailand, terus satu keluarga saya kecelakaan. Ibu saya (Sri Hartati, red. ) meninggal, lalu kakak dan ayah saya kritis. Itu hal yang benar-benar membuat saya sulit ya. Kesan pahit sepanjang karier saya,” tuturnya dengan nada lirih. Kabar duka itu, sambung Yuni, mulanya diterima pelatih dan manajer tim. Namun kabar itu di- pending sampai Yuni selesai berlaga. Hatinya teriris begitu mendengarnya. Meski kemudian kakak dan ayahnya pulih, Yuni tetap mendapati ibundanya tiada. “Hidup rasanya seperti dibalik. Ibu saya itu orang paling dekat dengan saya. Sempat kita teleponan saat saya sudah di Thailand. ‘Ayo pulang,’ katanya. Gimana, saya lagi bertanding disuruh pulang. Saya enggak tahu bahwa itu akan jadi percakapan terakhir. Dari situ juga titik balik prestasi saya enggak bisa balik lagi dari yang saya capai sebelumnya,” tambah Yuni. Yuni akhirnya memilih gantung raket dan beralih ke layar kaca sebagai sportcaster . Ia memulainya dengan masuk kursus presenter. hingga magang di TVRI . “Magang pertama di TVRI sampai akhirnya bisa punya kemampuan untuk jadi host dan komentator. Jadinya saya tetap punya sumbangsih buat badminton tapi dengan cara yang saya pikir bagus untuk mendukung badminton Indonesia,” sambung perempuan yang sehari-harinya juga berkarya di Djarum Foundation itu. Hingga kini, hampir di setiap siaran bulutangkis, Yuni selalu jadi host maupun komentator andalan, lengkap dengan penampilan nyentrik rambut pendek dan pirangnya. “Gaya rambut seperti ini memang baru pas jadi sportcaster. ” tutupnya.
- Peta dan Cara Manusia Memandang Dunia
Ada suatu masa di mana sebuah pulau bernama Lixus tergambar di peta dunia. Konon, di sana pohon-pohonnya berbuah emas. Lalu ada Pulau Susu, di mana susu mengucur dari buah-buah anggur. Kini jika ingin mencari letak pulau-pulau itu mungkin akan ditertawai banyak orang. Namun, si pembuat peta pada masa itu bukannya sengaja ingin terlihat bodoh. “Mereka hanya ingin menampilkan dunia sebagaimana yang mereka tahu. Pengetahuan orang-orang dulu lahir dari kisah, kepercayaan, dan imajinasi,” tulis Yvette La Pierre dalam Mapping a Changing World. Sudah ribuan tahun manusia menggambar peta. Wujud dunia dalam peta terus berubah seiring mereka mempelajarinya, baik lewat penjelajahan dan penemuan ilmiah maupun petualangan mencari dunia baru. Terutama pada abad ke-16, bumi seperti dunia bagi para pengembara. Relief peta terukir di koin Yunani Kuno. Peta-peta dibuat di tongkat, batu, uang perak, dan kulit anjing laut. Gambar-gambar aneh seperti manusia berkepala anjing, monster laut, dan lumba-lumba sebesar paus menghiasi lembarannya. Pada akhirnya peta lebih dari sekadar alat yang memberi tahu apa yang ada di balik gunung, di seberang lautan, dan di mana seseorang berada saat itu. “Ia dapat mencerminkan bagaimana manusia hidup dan berpikir, sekaligus apa yang ia ketahui dan percayai tentang dunia,” tulis La Pierre. Kendati sejauh ini peta dari Babilonia yang tertua di dunia, menurut La Pierre, manusia sudah mulai membuat peta jauh sebelum itu. Sayangnya tak diketahui kapan dan di mana pertama kali manusia mendapatkan ide untuk menggambarkan lokasi. Namun yang jelas, manusia selalu penasaran tentang di mana mereka berada dan bagaimana mencapai suatu tempat. “Lebih mudah menggambar peta daripada menjelaskan dalam kata-kata. Faktanya, peta lebih dulu ada dibanding tulisan. Peta pun menjadi salah satu bentuk komunikasi tertua yang pernah ada,” jelas La Pierre. Peta Tablet Ilustrasi Peta Tablet Ini adalah peta tertua di dunia yang masih bertahan hingga kini. Orang-orang Babilonia yang hidup di Mesopotamia (kini Irak), membuat peta sejak sekira 500 SM. Mereka memahatnya pada tablet tanah liat kecil yang tak lebih besar dari tangan orang dewasa. Peta itu melukiskan kepercayaan orang Babilonia bahwa dunia seperti kepingan CD. Di bagian atas lingkaran mirip CD itu terdapat garis lingkar yang menyimbolkan gunung. Dua garis menurun dari arah gunung di dalam lingkaran, mungkin menyiratkan Sungai Eufrat dan Tigris. Bentuk persegi yang menyeberangi simbol sungai menunjukkan pusat kota Babilonia. Kota-kota penting lainnya ditandai dengan lingkaran-lingkaran kecil. Hanya satu yang dinamai, Deri. Pembuat peta itu juga menggunakan lingkaran untuk menunjukan wilayah lainnya. Armenia di atas dan di kanan letak Babilonia. Assyria agak di bawah Armenia. Habban di kiri Babilonia. Lingkaran itu dikelilingi lautan. Di luar lautan yang melingkari pulau-pulau adalah segala macam monster imajiner yang ditandai bentuk segitiga. Peta Papirus Lembaran papirus ini memperlihatkan bagian barat dan timur Danau Moeris. (ReproThe Book of the Faiyum) Orang Mesir Kuno juga sudah mulai menggambar lokasi pada selembar kertas papirus. Salah satunya dibuat pada sekira 330 SM. Peta ini dipercaya menunjukkan tempat yang benar-benar ada, yaitu Danau Moeris, yang dulunya menutupi sebagian besar wilayah Kota Fayum di Mesir Utara. Sekarang menjadi kota gurun pasir. Di dalamnya tergambar pula makhluk-makhluk setengah manusia, dewa-dewa Mesir Kuno, seperti Sobk, dewa berwujud buaya, yang dipercaya mendiami wilayah itu. Orang Mesir juga menggambarkan peta menuju alam baka yang tergambar pada dinding-dinding makam. Peta Sutra eta sutra yang memperlihatkan topografi wilayah Dinasti Han dan Kerajaan Nanyue sekira 168 SM. (Wikimedia Commons) Peta tertua dari Tiongkok yang masih bisa diselamatkan terbuat dari sutra. Ia tersegel di dalam makam di Provinsi Gunan pada 168 SM. Peta ini baru ditemukan pada 1973. Peta itu lebih detail dan akurat dibandingkan peta-peta kuno lainnya. Pembuat peta menggunakan simbol untuk menunjukkan desa dan provinsi, sungai, dan jalan, pegunungan, dan benteng militer. Garis bergelombang menunjukkan gunung, garis tipis menunjukkan sungai, garis lebih tebal menunjukkan ukuran dan aliran sungai. Peta Koin Perak Ilustrasi Peta Koin Perak Salah satu peta milik orang Yunani yang tertua tercetak di balik koin perak. Berasal dari abad ke-4 SM, koin itu menggambarkan lokasi yang benar-benar ada, yaitu Ephesus (kini bagian dari Turki). Permukaan koin itu menunjukkan daerah-daerah terangkat yang menunjukkan rentang pegunungan. Mereka dibagi oleh lembah-lembah sungai, seperti halnya peta timbul modern. Peta Grafik Batang Ilustrasi Peta Grafik Batang Sebelum orang-orang Eropa menggapai wilayah Pasifik Selatan, orang-orang dari Kepulauan Marshall di wilayah Pasifik Selatan membuat peta untuk berlayar dengan serat daun palem dan kerang. Petanya menyerupai grafik batang. Mereka ikat batang-batang itu dengan sabut untuk menunjukkan pola gelombang air laut dan angin. Lalu ditambahkan kerang atau potongan karang sebagai simbol pulau. Hanya pelayar berpengalaman yang mampu membuat peta ini. Keahlian ini diturunkan dari ayah ke anak. Claudius Ptolemeus, Bapak Geografi Ilustrasi Claudius Ptolemeus, Bapak Geografi Ptolemeus seorang astronom sekaligus peramal bintang dari Alexandria yang hidup pada abad ke-2. Dia terobsesi membuat horoskop yang akurat dan mengharuskan menempatkan kota kelahiran seseorang di peta dunia. Dia menemukan cara untuk membuat planet ini seolah rata ke peta dua dimensi. Seperti kebanyakan orang Yunani dan Romawi, dia yakin bumi itu bundar. Dia pun menyebut teknik barunya dengan istilah: geografi. “Dia menemukan geografi, tetapi itu hanya karena dia ingin membuat horoskop yang lebih akurat,” kata Matthew Edney, profesor kartografi di University of Southern Maine, dikutip smithsonian . Ptolemeus mengumpulkan dokumen yang merinci lokasi kota, dan menambah informasi itu dengan dongeng para pelancong. Dia menyusun sistem garis lintang dan bujur, dan membubuhkan sekira 10.000 lokasi, dari Inggris ke Eropa, Asia, dan Afrika Utara. Namun, semua benua versinya tak mirip kondisi asli. Afrika yang paling aneh. Ia digambar membentang jauh ke selatan. Kemudian ujungnya membelok ke kanan dan terhubung dengan Asia. Itu membuat Samudera Hindia terkurung daratan dan tidak mungkin melayari lautan di selatan Afrika. Padahal orang-orang Mesir Kuno sudah mengirim ekspedisi untuk memutari Afrika. Gagasan ini pun mengecilkan hati pelaut Eropa awal yang ingin berlayar menyusuri pantai barat Afrika, menuju timur ke Asia. Meski bentuknya aneh, peta dunia versi Ptolemeus berisi ide-ide dan teknik pembuatan peta yang hingga kini masih dirujuk. T-O maps Ilustrasi T-O maps Isidore of Seville, sarjana dan Uskup Agung Seville, selama lebih dari tiga dekade, menggambar dunia berbentuk lingkaran. Dalam petanya, Samudera dibuat berbentuk O dan mengelilingi seluruh bumi. Di dalam bentuk O, ada tiga benua, Asia, Afrika, dan Eropa. Benua-benua ini terbagi oleh aliran Sungai Don dan Sungai Nil (bagian horizontal), serta Laut Mediterania (bagian vertikal), sehingga berbentuk seperti huruf T. Alih-alih menunjukkan bentuk dunia yang sesungguhnya, peta ini dimaksudkan untuk menunjukkan tatanan umum dunia. Peta dari abad ke-6-7 M itu kemudian menjadi model populer bagi peta-peta abad pertengahan (sampai abad ke-15 M), termasuk Psalter map, sebutan bagi peta-peta yang ada di dalam Kitab Mazmur . Tabula Rogeriana Ilustrasi Tabula Rogeriana Tabula Rogeriana atau Kitab Rudjdjar (Kitab Roger) adalah peta dunia yang digambar oleh pakar geografi Arab, Al-Sharif al-Idrisi pada 1154. Peta itu dibuat untuk Raja Roger II dari Sisilia, setelah delapan belas tahun al-Idirisi menetap di istananya. Al-Idrisi menggabungkan pengetahuan dari Afrika, Samudera Hindia, dan Timur Jauh yang dikumpulkan para penjelajah dan pedagang Islam, juga dari pelayar-pelayar Normandia. Peta dengan legenda berbahasa Arab itu menampilkan daratan Eurasia secara keseluruhan dan sebagian kecil bagian utara benua Afrika dengan sedikit detail pada Tanduk Afrika dan Asia Tenggara. Peta itu kemudian menjadi peta dunia paling akurat hingga tiga abad setelahnya. Al-Idrisi sendiri merupakan keturunan para penguasa Idrisiyyah di Maroko, yang merupakan keturunan Hasan, putra Ali dan cucu Nabi Muhammad. Al-Idrisi adalah sosok kunci kelahiran globe. Dari 70 lembaran peta datar yang dibuatnya, dia sambungkan dalam simpul melingkar koordinat astronomi. Kemudian dituangkannya ke dalam bola perak yang beratnya sekira 400 kg berdiameter sekira 80 inci. Di dalamnya terdapat tujuh benua. Tergambar juga rute perdagangan, danau, sungai, dataran tinggi, dan pegunungan. Globe tersebut dapat diputar 180 derajat. Namun bagian utaranya dia buat berada di bawah. Tak seperti Ptolemeus, al-Idrisi membuat Samudera Hindia terbuka. Jadi, benua Asia dan Afrika tak menyambung. Peta dunia tersebut menjadi bagian dari kemajuan sains tertua di era pramodern. Catalan Atlas Ilustrasi Catalan Atlas Ini adalah peta terpenting berbahasa Catalan dari abad pertengahan. Dibuat pada 1375 oleh Abraham Cresques atau yang nama aslinya, Cresques putra Abraham, bersama anaknya, Jehuda Cresques. Abraham Cresques adalah kartografer Yahudi. Asalnya dari Palma, Majorca, yang waktu itu bagian dari Aragon. Peta buatannya awalnya terdiri dari enam lembar selebar 65-50 cm yang dilipat secara vertikal. Ia dicat warna-warni, termasuk emas dan perak. Dua lembar pertama berisi teks berbahasa Catalan, mencakup kosmografi, astronomi, dan astrologi. Teks ini disertai ilustrasi. Mereka juga memberikan informasi kepada pelaut soal pasang surut air laut. Empat lembar lainnya memuat peta yang sebenarnya. Yerusalem diletakkan dekat di pusat. Ia menggambarkan dunia timur, Eropa, dan Afrika Utara. Peta menunjukkan pula ilustrasi banyak kota. Kota-kota Kristen disimbolkan dengan salib, kota-kota lain dengan kubah. Sementara kesetiaan politik disimbolkan dengan bendera. Garis vertikal biru digunakan sebagai lambang lautan. Di peta itu disertakan pula letak pelabuhan-pelabuhan penting dengan simbol warna merah. Sementara pelabuhan lainnya hitam. Menggambar Benua Amerika Ilustrasi Menggambar Benua Amerika Kendati belum sepenuhnya tergambar sempurna, benua Amerika akhirnya menemukan bentuknya dalam peta. Di antara peta penting dalam Cosmographia adalah peta “Tabula novarum insularum”, sebagai peta pertama yang menunjukkan benua Amerika terpisah secara geografis. Sebastian Münster, kartograf Jerman yang membuat peta ini. Petanya pertama kali dipublikasikan pada 1540, 50 tahun setelah Columbus menjejakkan kaki di benua tak bernama itu. Di peta ini, untuk pertama kali Amerika Utara dan Selatan dibuat saling menyambung dan terpisah dengan Asia. Peta ini menandai kemajuan pesat dibanding peta-peta pada masanya. Meskipun 25 tahun berikutnya beberapa pembuat peta masih melakukan sebaliknya. Cosmographia pada 1544 adalah deskripsi dunia berbahasa Jerman yang paling awal. Salah satu karya paling sukses dan populer di abad ke-16. Karya ini dicetak ke-24 edisi dalam 100 tahun. Ia memiliki banyak versi dalam berbagai bahasa, termasuk Latin, Prancis, Italia, Inggris, dan Ceko. Proyeksi Mercator Ilustrasi Proyeksi Mercator Perjalanan laut menjadi lebih mudah setelah 1569 karena Gerardus Mercator, kartografer Belgia, meluncurkan inovasi terbesar dalam pemetaan setelah Ptolemeus: Proyeksi Mercator. Mercator menemukan trik terbaik untuk mewakili permukaan bola dunia pada peta. Sebagai ahli matematika, dia mengembangkan proyeksi pemetaan berdasarkan keahliannya. Hasilnya jauh lebih akurat daripada peta lain pada masanya. Secara bertahap, di peta itu Mercator memperluas daratan dan lautan. Semakin jauh ke utara dan selatan semakin jauh mereka muncul di peta. Ini adalah bantuan besar untuk navigasi, tetapi juga secara halus mengubah cara melihat dunia. Negara-negara yang dekat dengan kutub, seperti Kanada dan Rusia, diperbesar secara artifisial, sementara daerah-daerah di Equator, seperti Afrika, menyusut. Atlas Modern Ilustrasi Atlas Modern Makin banyak peta yang dibuat pada abad ke-16. Pada 1570, atlas modern pertama diterbitkan oleh Abraham Ortelius, seorang kartografer asal Antwerp, Belgia. Ortelius tertarik membuat peta dipengaruhi oleh Gerardus Mercator. Dia mengabdikan diri dalam dunia kartografi hingga ia bisa menerbitkan atlas dunia pertamanya, Theatrum Orbis Terrarum (Theatre of the World). Koleksi peta pertama berbentuk buku sebelum Mercator menerbitkan atlas dunia. Atlas Ortelius merupakan instrumen paling akurat untuk menunjukkan dan memberitahukan bentuk dunia yang selama ini menjadi dugaan semata. Sebab, pada zaman itu, peta yang ada masih merupakan campuran fakta, spekulasi, dan fantasi. Wujud Australia Ilustrasi Wujud Australia Australia pertama kali diidentifikasi sebagai benua oleh Matthew Flinders, navigator dan kartografer Inggris. Dia memimpin penjelajahan kedua di New Holland yang kemudian disebut “Australia atau Terra Australis”. Dia memasukkan nama Australia di peta benua itu yang terbit pada 1814. Flinders melakukan tiga perjalanan ke laut selatan antara 1791 dan 1810. Dalam perjalanan kedua, Flinders mengkonfirmasi bahwa Tanah Van Diemen (sekarang Tasmania) adalah sebuah pulau. Dalam perjalanan ketiga, Flinders mengelilingi daratan yang disebut Australia, ditemani oleh lelaki Aborigin Bungaree. Sebelumnya keberadaan daratan di selatan hanya sebatas teori. Kebanyakan pembuat peta pun tak tahu kalau Australia adalah sebuah benua. Perubahan Dunia Ilustrasi Perubahan Dunia Peta mencatat perubahan-perubahan di dunia. Misalnya sebelum Perang Dunia I, peta Eropa jauh berbeda dengan saat ini. Beberapa wilayah yang kini menjadi negara merdeka ketika itu di bawah kekuasaan beberapa negara besar, seperti Austro-Hungaria, Jerman, Ottoman, dan Kekaisaran Rusia. Di sana juga ada beberapa negara kecil, seperti Serbia, Montenegro, Albania, Romania, Bulgaria, dan Yunani. Beberapa negara yang kini dikenal, seperti Polandia, belum muncul. Setelah Perang Dunia I yang berakhir pada 1918, banyak negara, termasuk Polandia, Cekoslovakia, Yugoslavia, Estonia, Slovakia, Latvia, dan Lithuania memisahkan diri. Setelah Perang Dunia II, pada 1981 peta Eropa menunjukkan Jerman yang terpecah menjadi dua, Jerman Barat dan Timur. Lalu negara Uni Soviet berdiri dan mendapatkan kembali beberapa wilayah yang hilang dari Kekaisaran Rusia setelah Perang Dunia I. Jerman kemudian menjadi satu kembali. Uni Soviet tak lagi ada. Di lokasinya sekarang terdapat beberapa negara, seperti Rusia, Ukrania, Belarusia, Moldova, dan banyak lagi. Sementara area yang tadinya Yugoslavia, terbagi menjadi Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Montenegro, Serbia, dan Macedonia. Semakin Akurat Bukan lagi lewat penjelajahan lautan, pada Desember 1968, tiga astronot pergi keluar angkasa dengan Apollo 8 dan untuk pertama kalinya melihat dunia dengan mata kepala sendiri. Jauh sebelumnya, manusia punya persepsi sendiri mengenai bentuk dunia. Lalu teknologi baru, lewat satelit dan komputer, semakin mengungkap banyak hal menarik mengenai bumi. Mulai 1800-an foto-foto bumi diambil dari angkasa. Kini hampir semua peta dan informasi geografi dibuat dengan beberapa metode pengambilan foto udara, alih-alih melakukan pengukuran di atas tanah. Bedanya dengan pemetaan pada masa yang lebih tua, kini dari luar angkasa dunia tak dilihat berdasarkan kondisi politik dan lepas dari batasan-batasan yang diciptakan manusia. Dunia hanya dipecah oleh batasan alam, tanah dan air.
- Telepon Sepanjang Zaman
KOMUNIKASI jarak jauh jadi hal lumrah saat ini. Dalam beberapa detik, pertukaran informasi bisa dilakukan dari satu titik ke titik lain. Bentuk komunikasinya pun beragam tak sebatas sambungan suara, tapi bisa juga teks, gambar, pesan audio, atau bahkan audio visual. Model komunikasi ini dimungkinkan berkat evolusi pesawat telepon yang berubah seiring zaman. Kemunculan telepon di Indonesia bermula ketika Belanda membangun sambungan telepon di Batavia pada 1882. Penyedianya Posterijen Telegrafie Telefonie (PTT), perusahan milik pemerintah kolonial. Telepon pun jadi sarana yang bisa dinikmati di rumah-rumah meski terbatas di kalangan pejabat dan orang kaya. Dari Royal KPN Belanda, panggilan telepon internasional pertama yang dilakukan Hinda-Belanda terjadi pada 1929 dengan tujuan Amsterdam yang berjarak 12000 kilometer. Panggilan luar negeri termasuk langka dan mewah di zaman itu, sebab sentral telepon masih manual dan teknologinya pun masih sangat terbatas. Namun, teknologi, sistem, dan fungsi telepon terus berubah makin canggih dari masa ke masa. Berikut evolusinya: Telepon Engkol Ilustrasi Telepon Engkol Ini merupakan telepon generasi pertama yang dipasang ke publik menggunakan jaringan telepon tetap berkabel. Telepon engkol mulanya tidak punya nomor putar, hanya tuas. Penggunanya harus memutar tuas untuk menyambungkan dengan sentral telepon. Bel di sentral telepon kemudian berbunyi setelah ada sambungan dari pengguna. Operator lalu menanyakan nomor tujuan telepon, setelah itu menyambungkan dua kabel di papan hubung dan memutar nomor. Bila telepon tujuan berada di sentral telepon berbeda, operator di sentral 1 akan menelepon operator di sentral 2 untuk menghubungkan panggilan. Sistem ini membutuhkan banyak tenaga kerja untuk menyambungkan telepon, kebanyakan operatornya perempuan, pribumi maupun Belanda. Sistem ini mulai ditinggalkan ketika teknologi sentral telepon otomat dibangun. Namun, beberapa wilayah di Indonesia masih memerlukan operator telepon hingga dekade 1960-an. Telepon Putar Ilustrasi Telepon Putar Telepon ini punya urutan nomor yang melingkar dari 1 sampai 0. Untuk menggunakannya, pengguna harus memasukkan jari ke lubang nomor lalu memutar nomor itu sampai mengenai batas putar dan berbunyi “tik”. Model telepon ini tidak dilengkapi dengan sistem redial sehingga pengguna harus memutar nomor tiap kali akan menghubungi orang. Sama dengan telepon tuas, sistem yang digunakan telepon putar ( rotarydial ) masih sinyal analog, yang mengubah gelombang suara jadi gelombang listrik. Meski demikian, telepon ini sudah tidak butuh operator karena sistem switching -nya (sambungan) sudah otomatis. Panggilan akan langsung tersambung ke nomor tujuan tidak lewat operator. Desainnya dan bahan pesawatnya pun beragam. Ada yang berbentuk lilin dengan mic dan corong suara yang terpisah, terbuat dari besi, atau bergaya klasik. Pada masa transisi dari telepon tuas ke telepon putar, beberapa produsen telepon mengawinkan keduanya sehingga dalam satu telepon terdapat angka melingkar dan tuas untuk diputar. Telepon putar mulai dikenal di Hindia-Belanda pada awal abad ke-20 dan bertahan hingga dekade 1980-an meski telepon bertombol mulai diperkenalkan ke publik sejak 1960-an. Telepon Bertombol Ilustrasi Telepon Bertombol Tiap menekan tombol angka pada pesawat telepon, nada-nada tertentu akan berbunyi. Nada ini merupakan sinyal yang dikirim telepon ke sentral otomat, disebut sistem Dual Tone Multi Frequency (DTMF). Tiap nomor punya nada dengan frekuensi berbeda. Pada pesawat telepon, nomor dideret dari angka satu ke tiga dan kolom dari satu ke angka tujuh. Penempatan ini menampilkan koordinat tiap nomor. Tiap baris punya frekuensi sendiri, yakni 697 Hz, 770 Hz, 852 Hz, dan 941 Hz. Pun halnya dengan tiap kolom, dengan frekuensi 1209 Hz, 1336 Hz, 1477 Hz. Nada pada angka 1 adalah pengabungan dari frekuensi baris pertama (697 Hz) dengan frekuensi kolom pertama (1209 Hz) yang dibunyikan secara bersamaan. Karena itulah tiap nomor punya nada yang berbeda. Nada unik ini diterima sentral otomat yang langsung menyambungkannya dengan nomor telepon tujuan. Tombol bintang (*) dan pagar (#) dibuat untuk memungkinkan komunikasi otomatis untuk akses komputer. Tekonologi ini bikin penggunanya bisa melakukan panggilan dengan lebih cepat, fasilitas tambahan seperti redial , dan telepon jarak jauh. NMT Ilustrasi NMT Tidak seperti pendahulunya yang merupakan telepon tetap berkabel, Nordik Mobile Telephone (NMT) ialah telepon nirkabel keluaran pertama yang beroperasi di Indonesia. Teknologi yang mulanya dikembangkan di Swedia dan Norwegia pada 1981 ini mulai beroprasi di Indonesia pada 1986. Telepon NMT beroprasi dengan sistem otomat untuk melakukan panggilan namun masih mengunakan sinyal analog dengan frekuensi 450 MHz untuk mengirimkan suara. Meski julukannya telephonemobile , bentuknya masih amat besar sehingga tak mungkin masuk saku, melainkan harus ditenteng atau ditaruh di mobil. Komunikasi yang ditawarkan masih sebatas telepon lokal di sekitar Jakarta dan Jawa Barat. NMT juga belum bisa untuk mengirim pesan digital. AMPS Ilustrasi AMPS Pada 1991, Telkom bekerjasama dengan perusahaan swasta mengeluarkan telepon seluler dengan teknologi lebih baru, Advanced Mobile Phone System (AMPS). Sistem transmisi AMPS masih analog seperti NMT dengan frekuensi jauh lebih tinggi, yakni 800-900 MHz sehingga makin minim gangguan. AMPS dikenal juga sebagai teknologi seluler generasi pertama (1G). Fungsi AMPS hampir sama seperti NMT, hanya saja perangkatnya lebih kecil, sekira 40cm. Jika dibandingkan dengan ponsel era kini, ukurannya jauh lebih besar. Ponsel GSM Ilustrasi Ponsel GSM Global System Mobile (GSM) merupakan teknologi yang dikembangkan di Eropa dan Amerika Serikat pada 1980. Pengembangan ini berlangsung selama satu dekade hingga diluncurkan ke pasar pada 1990-an. Pemerintah berusaha memasukkan teknologi ini sehingga bisa digunakan di Indonesia. Fasilitas pendukung sistem GSM mulai dibangun Telkom pada 1993 hingga kelar dua tahun setelahnya. Model ponsel GSM yang beredar di Indonesia pun beragam seiring dengan liberalisasi perangkat yang dilakukan pemerintah menyusul perjanjian dengan World Trade Organization. Dengan model penjualan ini, pengguna ponsel bisa memilih ponsel apapun tanpa harus berganti nomor. Fasilitas yang ditawarkan jauh di atas NMT dan AMPS. Teknologi yang disebut 2G ini, bisa digunakan untuk berkirim pesan digital di samping menelepon dengan jangkauan yang lebih luas. Sebabnya, sistem pengiriman sinyalnya sudah digital, tidak analog seperti NMT dan AMPS. Mulanya, ponsel ini muncul dengan layar monokrom. Pada perkembangannya, muncul layar berwarna hingga dilengkapi dengan kamera. Smartphone Ilustrasi Smartphone Ada banyak fitur yang ditawarkan dalam satu genggaman tangan. Menelepon, mengirim pesan, memotret, mengetik, membaca buku digital, mendengarkan musik, menonton film, hingga berselancar di internet. Itulah kenapa telepon genggam masa kini disebut ponsel pintar ( smartphone ) lantaran kemampuannya sudah setara dengan komputer. Ponsel pintar sebenarnya sudah beredar di Indonesia sejak 2005-an. Kala itu Nokia mengeluarkan ponsel pintar dengan sistem operasi Symbian. Namun, ponsel pintar masih kurang populer lantaran fasilitas penunjuang seperti BTS dan ketersediaan layanan internet mobile (3G) belum semasif sekarang. Ketika teknologi layanan komunikasi 4G beroperasi Indonesia pada 2014, ponsel pintar jadi barang biasa yang dimiliki hampir semua orang.
- Perang Bubat dan Dampaknya Buat Majapahit
TANAH lapang itu terletak di utara Kota Majapahit. Lapangan Bubat namanya. Tadinya tempat Raja Sunda, permaisuri, dan putrinya, serta para pengiring pengawalnya beristirahat seraya menunggu diterima Rasajanagara di Kedaton. Namun, di situ Raja Sunda dan putrinya menemui ajal. Pernikahan Hayam Wuruk dengan Sang Putri Sunda batal. Cintanya terpaksa diperabukan. Setelah peristiwa di Bubat itu, para petinggi keraton cemas. Semua orang menuding Mahapatih Gajah Mada biang keladinya. Bersama Sang Prabu, mereka meminta Gajah Mada menjelaskan tindakannya. Dia menjawab bahwa kebijakannya mensyaratkan agar setiap raja kecil mengakui kedudukan sebagai bawahan Majapahit sebelum menikmati hak-hak istimewa sebagai anggota imperium. “Jika Raja Sunda tak sudi menerima ketentuan itu, sudah seharusnya ia tidak menerima lamaran terhadap putrinya dan tidak pula berlayar ke Majapahit bersama rombongan besar, seolah-olah pernikahan itu melibatkan pihak-pihak yang sederajat,” kata Gajah Mada. Namun, Gajah Mada mengakui sudah seharusnya dia terlibat dalam perundingan perkawinan itu sejak awal untuk meluruskan segala kesalahpahaman. Jauh sebelum rombongan pengantin berlayar dari Sunda. Keraton Majapahit menyimpulkan ada beberapa orang bersalah dalam menangani urusan pernikahan itu. Namun yang paling bertanggung jawab secara langsung adalah Gajah Mada. Begitulah intepretasi Earl Drake, sejarawan mantan Duta Besar Kanada di Indonesia tentang peristiwa di Bubat. Dalam Gayatri Rajapatni, Earl Drake menilai Gajah Mada kemudian menyesali kesalahannya dan meminta maaf dengan cara memohon cuti panjang yang akan dihabiskan di tanah miliknya di desa. Tragedi di Bubat, menurut Pararaton terjadi pada 1279 Saka atau 1357. Menurut Drake, peristiwa ini adalah malapetaka besar bagi Sunda. Di sisi lain, mendorong Majapahit merefleksi diri. Ada dampak positif setelahnya. Drake melihat Raja Hayam Wuruk menjadi tergugah dan berusaha untuk tidak lagi terlalu menggantungkan diri pada Gajah Mada dalam mengambil keputusan sulit di pemerintahan. Dia mulai langsung terlibat di dalamnya. Hayam Wuruk mencetuskan sistem pemerintahan baru. Dia membuat penguasa dapat memainkan peranan aktif secara langsung. Dia meminta pertimbangan dari keluarga dan pejabat senior sebelum mengambil keputusan vital. “Ia melakukan serangkaian perjalanan ke berbagai daerah agar mengetahui isu-isu hangat di masyarakat,” kata Drake. Salah satu caranya seperti digambarkan Prapanca dalam Nagakretagama tentang lawatan Hayam Wuruk ke Lamajang. Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama menjelaskan, Sang Prabu dengan membawa rombongan kerajaan bertolak dari ibukota Majapahit pada 1359 M. Dalam perjalanannya, dia melewati Kunir dan Basini terus ke Sadeng. Padahal, 28 tahun sebelumnya, Sadeng salah satu wilayah yang memberontak kepada Majapahit. “Lawatan itu rupanya menjadi salah satu cara diplomatik Hayam Wuruk merekatkan kembali hubungan dengan wilayah bawahannya,” catat Muljana. Namun, tanggapan atas pendekatan baru sang raja tak ditemukan dalam Kidung Sunda, salah satu sumber kisah Perang Bubat, melainkan hanya dalam Nagarakrtagama. Tentu saja, kata Drake, Prapanca tak bisa menandingi kejujuran si pendongeng Kidung Sunda yang telah menuturkan peristiwa Bubat dari sudut pandang yang tidak menguntungkan bagi raja dan mahapatihnya. Dalam Nagarakrtagama , peristiwa Bubat hanya disebut samar-samar. “Kendati begitu, Prapanca sangat fasih mendedahkan secara detil soal Hayam Wuruk muda yang menghayati nasihat ibunya dan belajar menjadi raja yang selalu hati-hati dan berbudi,” jelas Drake. Tak demikian halnya dengan Gajah Mada. Ia memang pernah menjabat sebagai Mahapatih yang tangguh dalam pemerintahan Tribhuwana Tunggadewi. Setelah kematian Gayatri, ibu Tribhuwana, pada 1350 rekam jejak Mahapatih legendaris itu pun mengalami pasang surut. Nama baiknya hancur dalam peristiwa Bubat. “Corak kepemimpinannya yang dominan berhasil, karena sifatnya yang menggebu-gebu dan tak sabaran itu disalurkan menjadi prestasi gemilang oleh seorang sosok kuat di keraton seperti ibu suri Gayatri,” ujar Drake. Karena alasan itulah, menurutnya, keluarga raja membentuk dewan menteri yang baru pada 1357 sewaktu Gajah Mada menikmati cuti panjang. “Para pangeran menarik kesimpulan bahwa tak seorang pun mampu menggantikan Mahapatih Gajah Mada sehingga akhirnya menciptakan suatu dewan menteri yang dipimpin oleh menteri paling senior,” katanya. Sebaliknya, Pararaton terkesan tak menyalahkan mahapatih itu. Naskah itu menyatakan setelah peristiwa Bubat yang bersamaan waktunya dengan penyerangan tentara Majapahit ke Dompo, Gajah Mada menikmati masa istirahat setelah sebelas tahun menjabat patih amangkubhumi . Dengan kata lain, menurut Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada, Biografi Politik, Gajah Mada masih berperan di Majapahit setelah peristiwa Bubat. “Dapat ditafsirkan Gajah Mada yang memimpin serangan ke Dompo. Pada 1364 Gajah Mada meninggal,” kata dia. Terlepas dari itu, kata Drake, sejak peristiwa Bubat, nampaknya tak ada keraguan kalau rakyat terkesan dengan pemerintahan Hayam Wuruk yang lebih terbuka.*
- Kekangan Dinasti Ming terhadap Muslim
RAMADAN tahun ini saya berpuasa di Anhui, salah satu provinsi di China bagian timur tempat lahir Zhu Yuanzhang (1328–1398), petani miskin yang kelak menjadi kaisar pertama ( taizu ) Dinasti Ming. Sejak proses pendiriannya, Dinasti Ming boleh dikata memiliki pertalian yang cukup erat dengan Islam.
- Awal Mula Manusia Suka Makan Daging
Mengapa daging di atas panggangan terlihat menggiurkan? Mengapa mendengar suaranya mendesis saja bisa membuat air liur menitik? Yang jelas itu karena manusia suka makan daging. Namun mengapa manusia lebih banyak makan daging bila dibandingkan dengan sepupu-sepupu primatanya? Ada beberapa teori yang bisa menjawabnya. Termasuk soal kapan, bagaimana manusia mulai memasukkan daging dalam jumlah lebih besar ke dalam menu omnivoranya. Kisahnya dimulai antara 2,6 dan 2,5 juta tahun silam. Waktu itu, bumi jauh lebih panas dan kering. Nenek moyang jauh manusia, yang secara kolektif disebut hominin, sebagian besar hidup dari buah, daun, biji, bunga, kulit kayu, dan umbi-umbian. Saat suhu naik, hutan rimbun menyusut dan padang rumput besar tumbuh subur. Tanaman hijau pun menjadi langka. Tekanan evolusi memaksa moyang manusia itu untuk menemukan sumber energi baru. Di sisi lain, padang rumput menyebar di seluruh Afrika. Ini mendukung semakin banyak herbivora merumput. “Lebih banyak rumput berarti lebih banyak hewan yang merumput, dan lebih banyak hewan yang merumput berarti lebih banyak daging,” kata Marta Zaraska, penulis buku Meathooked: The History and Science of Our 2.5-Million-Years Obsession With Meat. Begitu manusia mencoba daging sesekali, tidak butuh waktu lama untuk menjadikannya bagian utama dari menu makanannya. Kendati begitu, nenek moyang hominin manusia diperkirakan belum mampu menjadi pemburu. Dimungkinkan, mereka hanya mengambil daging dari bangkai yang jatuh. Beberapa jalur bukti menunjuk pada perubahan pola makan Homo . Perubahan sturktur gigi Homo purba menunjukkan adanya kebiasaan makan daging. Itu sebagaimana ditunjukkan juga oleh penyempurnaan teknologi perkakas batu. History menulis, di situs-situs di Kenya yang berasal dari 2 juta tahun lalu, para arkeolog telah menemukan ribuan “pisau” batu di dekat tumpukan besar fragmen tulang hewan. Mereka membutuhkan alat batu sebagai gigi kedua. Pasalnya, gigi moyang hominin manusia lebih besar daripada manusia modern. Rahang mereka dirancang untuk menggiling dan mencerna bahan makanan nabati, bukannya daging mentah. Namun, alat itu oleh beberapa ahli dipercaya lebih digunakan untuk menghancurkan tulang besar dan mengiris daging, bukan untuk berburu mangsa hidup. Dagingnya diperoleh dari sisa hewan buruan milik predator yang hidup kala itu. Artinya, moyang manusia lebih dari satu juta tahun lalu adalah pemulung, bukannya pemburu. Kedati begitu, menurut Richard Leakey seorang ahli paleoantropologi dan konservasi di Kenya, semua itu masih merupakan kontroversi dalam antropologi. Tak jelas apakah manusia secara aktif memulung dengan menunggu kucing besar untuk membunuh mangsanya dan kemudian menakuti mereka dengan lemparan batu atau suara keras. Atau apakah mereka secara pasif mencari apa yang tersisa ketika pemburu bergigi tajam meninggalkan hasil buruannya. “Tapi saya tak ragu bahwa daging berperan penting dalam kehidupan sehari-hari leluhur kita,” tegasnya dalam Asal Usul Manusia . Daging, Bekal Evolusi Manusia Beberapa ilmuwan berpendapat bahwa daging membuat manusia menjadi manusia. Leakey bilang, meningkatnya ukuran otak yang merupakan bagian dari paket evolusi Homo mungkin telah menuntut spesies ini melengkapi pola makannnya dengan sumber yang kaya energi. “Otak adalah organ yang rakus secara metabolis. Pada manusia modern, misalnya, otak hanya 2 persen berat tubuh. Namun ia melahap 20 persen cadangan energi,” katanya. Rekonstruksi manusia prasejarah sedang makan daging di The Chicago Field Museum (Henry Guttmann Collection/Hulton Archive/Getty Images) Primata adalah kelompok berotak paling besar di antara semua mamalia. Sementara, manusia telah terus menerus memperbesar ciri ini. Otak manusia tiga kali otak kera dengan ukuran tubuh yang sama. “Antropolog Robert Martin dari Institute of Anthropology, Zurich, telah menegaskan bahwa meningkatnya ukuran otak ini kiranya bisa terjadi hanya bila ada tambahan pasokan energi,” lanjut Leakey. Daging merupakan sumber yang padat kalori, protein, dan lemak. Hanya dengan menambah daging dalam jumlah yang memadai pada pola makannya, moyang hominin manusia itu bisa membentuk otak dengan ukuran melampaui Australopithecus, pendahulunya. “Berdasarkan semua alasan itu, saya menyarankan, adaptasi penting dalam paket evolusioner Homo purba adalah memakan daging,” kata Leakey. Bahkan dalam bukunya, Zaraska mengatakan manusia masih mendambakan daging hari ini sebagian karena otaknya berevolusi dari sabana Afrika dan masih terhubung untuk mencari sumber protein yang padat energi itu. Ini di samping alasan signifikansi budaya dan adanya korelasi yang jelas dengan kemampuan finansial seseorang. “Negara-negara industri Barat rata-rata lebih dari 220 pon daging per orang per tahun, sedangkan negara-negara Afrika termiskin rata-rata kurang dari 22 pon per orang,” tulisnya dikutip History. Sementara, terlalu banyak makan daging kini dikaitkan dengan penyakit jantung dan penyakit kanker tertentu. Dulu, hal-hal itu tidak dikhawatirkan oleh leluhur jauh manusia. “Karena mereka tidak hidup cukup lama untuk menjadi korban penyakit kronis. Tujuan hidup nenek moyang kita sangat berbeda dari tujuan kita. Tujuan mereka adalah masih bisa hidup keesokan harinya," kata Zaraska.
- Pungutan untuk Bangunan Suci
Memelihara dan mengelola bangunan suci butuh biaya tak sedikit. Sekelompok orang yang bertugaskan diperbolehkan tidak membayar pajak kepada kerajaan. Wilayahnya ditetapkan sebagai desa perdikan atau sima. Namun bukan berarti anugerah sima membebaskan mereka sama sekali dari pungutan. Menurut epigraf Boechari dalam “Candi dan Lingkungannya” yang disampaikan dalam Pertemuan Ilmiah Arkeologi 1977, tanah sima justru punya kewajiban khusus, menghasilkan biaya bagi pelaksanaan upacara keagamaan di dalamnya. “Ada upacara keagamaan dan saji-sajian yang harus dilakukan setiap hari, setiap bulan, dua kali setahun, dan setahun sekali, juga untuk pemeliharaan bangunannya,” catatnya. Kewajiban-kewajiban itu tertulis dalam prasasti. Dalam Prasasti Kwak I (879 M) disebutkan sebidang tanah tegalan di Desa Kwak dianugerahi oleh Raja Rakai Kayuwangi dari era Mataram Kuno menjadi tanah sima. Tanah yang masih menjadi wilayah Rakai Wka itu dijadikan sima bagi prasada di desa setempat. Tanah tegalan seluas 5 tampah itu akan dijadikan sawah, dengan kewajiban mempersembahkan bunga-bungaan di bangunan suci pada tiap Bulan Caitra dan Asuji. Prasasti Taji (901 M) menyebut kabikuan atau tempat tinggal para biksu di Raja punya kewajiban mempersembahkan uang emas sebanyak 2 ku. Itu untuk membeli dupa bagi pemujaan bhatara di Raja yang harus dilakukan tiap Bulan Caitra dan Asuji. Prasasti Gulung-Gulung (929 M) menyatakan permohonan izin kepada raja Mpu Sindok dari seorang penguasa daerah, Rakryan Hujung Mpu Madhuralokaranjana untuk menetapkan tanah sima . Tanah yang diharapkannya menjadi sima ada di Gulung-Gulung seluas tapak su 7, juga hutan di Bantara seluas setengah su. Tanah itu akan dijadikan sawah. Kewajibannya memberi persembahan bagi san hyang kahyangan di Pangawan berupa seekor kambing dan 1 pāda (beras?) yang diadakan setahun sekali. Karenanya sebagaimana dijelaskan Boechari soal ada tidaknya pungutan, tak ada yang membedakan antara tanah berstatus sima dan yang bukan. Bedanya hasil pungutan atau pajak dan denda masuk ke kas kerajaan. Sementara yang dipungut dari tanah sima digunakan untuk berbagai keperluan bagi bangunan suci. Boechari pun menjelaskan, selanjutnya sebuah daerah sima akan berstatus swatantra. Ia tak boleh lagi dimasuki oleh patih, wahuta, nayaka, pratayaya, pangkur, tawan, tirip, rama dan semua orang yang tergolong mangilala drawya haji. Mereka ini adalah kelompok pejabat yang berhubungan dengan pemungutan pajak. Pun mengenai denda-denda atas tindak pidana. Ini termasuk yang dilakukan orang asing dan orang yang tergolong wargga kilalan yang tinggal di dalam lingkungan daerah sima . Uangnya akan dikuasai oleh bhatara di dalam bangunan suci yang mendapat sima, bukannya masuk ke kas pemerintah . Lalu pemasukan untuk membiayai serangkaian upacara di lingkungan candi itu juga rupanya bisa datang dari pajak usaha dan pajak perdagangan. Ada jumlah tertentu dari pajak itu yang tidak diberikan untuk kerajaan. “Dengan kata lain, hanya sebagian saja dari pungutan pajak perdagangan digunakan untuk kebutuhan bangunan suci,” ujar Boechari. Untuk pajak usaha, ada dua macam ketentuan. Terkadang seluruh pajak usaha, yang umumnya digambarkan sebagai usaha kerajinan tangan, semata-mata diberikan untuk sang bhatara. Ada kalanya pula pajak usaha harus dibagi tiga, sepertiga masuk ke kas kerajaan, sepertiga untuk mereka yang mengurus sima, sisanya dikuasai bhatara di bangunan suci yang bersangkutan. Kata Boechari, melihat keterangan itu pastinya ada organisasi sipil yang mengelola suatu bangunan suci dan sima- nya. Bisa dibayangkan, pemerintah sipil di dalam lingkungan sima tetap berjalan seperti biasanya. Mereka, sebagaimana biasanya, menarik pajak dari petani, pedagang, dan pengusaha. Pengadilan daerah tetap mengadili semua tindak pidana dan perdata yang terjadi di lingkungan sima. Itu baik yang dilakukan oleh penduduk setempat maupun oleh orang-orang asing. Adapun organisasi keagamaan mengurusi upacara keagamaan yang harus dilakukan di dalam bangunan suci itu. “Suatu sima tak bebas sama sekali dari bermacam-macam pungutan,” lanjut Boechari.
- Para Pemeran di Balik Topeng Batman
Si manusia kelelawar alias Batman bakal berkeliaran lagi di layar perak via semesta DC Extended Universe. Era baru Batman terus bergulir seiring pemeran sang superhero ber-alter ego hartawan intelektual namun playboy , Bruce Wayne, bakal diperankan aktor baru. Mengutip Variety , Kamis (16/5/2019), aktor utama film The Batman yang rencananya rilis Juni 2021, diperankan Robert Pattinson. Artinya, Ben Affleck tak lagi memerankan jagoan berjubah itu di produksi-produksi DCEU. Publik banyak yang menantikan Pattinson namun tak sedikit yang mencibir. Pattinson diragukan jadi pilihan pas pengganti Ben Affleck. Tapi itu lumrah, saat Ben Affleck didaulat jadi Batman di produksi DCEU pertama, Batman v Superman: Dawn of Justice (2016), deras diprotes khalayak. Sampai-sampai, muncul 30 petisi di situs change.org hingga ke Gedung Putih segala. Robert Douglas Thomas Pattinson dikabarkan bakal jadi pemeran ke-10 Batman (Wikimedia). Terlepas dari itu, pemeran Bruce Wayne lebih dulu muncul dalam film Joker yang rilis Oktober 2019. Bruce muda, sebelum beralih jadi superhero, diperankan aktor muda Dante Pereira-Olson. Maka, Dante jadi pemeran Batman kesembilan semenjak kemunculan film pertama Batman pada 1943. Berikut para pemeran Batman lain di layar lebar dari masa ke masa sebelum era DCEU: Lewis Wilson, Robert Lowery & Adam West (1943-1966) Film pertama Batman rilis pada 1943 dan aktor pertamanya Lewis Gilbert Wilson (kanan). (ReproThe Batman Filmography) Tokoh jagoan fiksi ciptaan Bob Kane dan Bill Finger pada 1939 ini pertamakali diangkat ke layar lebar lewat film seri hitam-putih The Batman garapan Columbia Pictures yang berisi 15 episode. Pemeran Batmannya Lewis Wilson. Lantaran rilis di masa Perang Dunia II, jalan ceritanya pun tak luput dari isu-isu perang. “Wilson dan Douglas Croft (pemeran Robin) mampu menghidupkan karakter Batman dan Robin. Wilson memainkan peran Batman secara lugas dengan sikap seorang pahlawan. Wilson juga luar biasa dalam menangkap karakter ganda Bruce Wayne di film bernada propaganda perang untuk menaikkan moral, walau akhirnya mengabaikan plot klasik dalam komiknya,” sebut Mark S. Reinhart dalam The Batman Filmography. Namun hanya 15 chapter itu saja Wilson jadi Batman. Dalam film seri era klasik berikutnya, Batman and Robin (1949), karakter Batman diperankan Robert Lowery. Namun penampilannya bersama Johnny Duncan yang memerankan Robin, kurang greget. Para penggemarnya kembali merindukan duet Wilson dan Croft. “Lowery dan Duncan tak seenerjik Wilson dan Croft. Dalam film, dialog yang keluar lebih seperti Lowery dan Duncan melakukan reading naskah untuk kali pertama,” tambahnya. Versi terakhir era klasik dimunculkan 20th Century Fox pada 1966 dengan tajuk Batman, diangkat dari serial televisi. Dengan pemeran utama Adam West, film ini jadi film Batman pertama yang berwarna. Sosok Robin yang diperankan Burt Ward turut dihadirkan. Menariknya, di film ini hampir semua musuh dimunculkan, mulai dari Catwoman, The Joker, The Penguin, hingga The Riddler. “Saya bisa bicara mewakili banyak penggemar bahwa Batman yang paling terkenang adalah dari seri 1966 dengan diperankan Adam West. Dia menjadi Batman yang kita tahu dan cintai. Kita tidak butuh Batman yang serius, melodramatis dan penuh kekerasan yang justru bisa merusak kelegendaannya,” tulis Michael Schilling dalam surat pembaca, dikutip James Van Hise dalam Batmania. Michael Keaton (1989-1992) Michael John Douglas Keaton memerankan Batman di dua produksi film. (IMDB) Lama absen, si manusia kalong baru nongol lagi pada 1989 lewat Batman garapan Warner Bros. Batman/Bruce Wayne-nya diperankan komedian Michael Keaton. Banyak yang tak menyenangi pemilihan Keaton. James Egan dalam 1000 Facts about Superhero Movies mencatat, terdapat sekira 50 ribu surat protes yang membanjiri studio Warner Bros. Bob Kane si pencipta Batman pun merasa Keaton bukan sosok yang pas, sebagaimana Jack Nicholson yang memerankan Joker di film itu. Namun nyatanya, film itu meledak di pasaran sampai Keaton kembali dilibatkan dalam sekuel Batman Returns (1992) meski sang pemeran sangat tidak nyaman dengan kostum Batsuit -nya. “Batsuit-nya membuatnya merasa klaustrofobia. Membuatnya juga tak bisa menengok hingga harus turut mengarahkan badannya jika mau melihat arah lain. Tapi sutradara (Tim Burton) menyukainya karena membuat Keaton bergerak bukan seperti manusia biasa. Perasaan tidak nyaman itu untungnya bisa dimanfaatkannya untuk menunjukkan betapa frustrasinya karakter (Batman) di beberapa adegan,” ungkap Egan. Val Kilmer (1995) Val Edward Kilmer jadi suksesor pemeran Batman setelah Michael Keaton mundur. (Youtube @ScreenSlam) Warner Bros kembali mengangkat Batman dalam Batman Forever pada 1995. Sayangnya, tak lagi diperankan Keaton. Mengutip EntertainmentWeekly edisi 15 Juli 1995, Keaton memutuskan mundur dengan alasan tidak sreg dengan sutradara baru, Joel Schumacher. Akhirnya pilihan jatuh pada Val Kilmer setelah Schumacher menyisihkan sejumlah opsi lain macam Daniel Day-Lewis, Ralph Fiennes, William Baldwin, dan Johnny Depp. Batman Forever toh tetap booming . Pada pekan pembukaannya, Warner Bros meraup 52,8 juta dolar Amerika, menyalip rekor Jurassic Park sebagai film terlaris di pekan pertama. Tak sedikit pula yang memuji peran Val Kilmer, terlepas ia juga mengaku kegerahan dengan kostum Batsuit -nya. “Tapi jika dibandingkan Adam West, apakah Anda bercanda? Dia aktor yang luar biasa (memerankan Batman). Gaya, kharisma, dan pergerakannya luar biasa,” ujar Val Kilmer yang enggan disebut sebagai Batman terbaik, dalam biografinya, Blessed, Life and Films of Val Kilmer . George Clooney (1997) George Timothy Clooney (kanan) sebagai Bruce Wayne/Batman di film Batman & Robin.(Warner Bros). Batman di layar lebar berikutnya merupakan sekuel persembahan Warner Bros, Batman & Robin . Val Kilmer urung tampil lantaran melanggar kontrak dengan Warner Bros akibat terlibat dalam film The Saints . “Val mengaku dia mundur namun kami menyatakan dia dipecat,” ujar Schumacher kepada Entertainment Weekly , 31 Mei 1995. Sempat mempertimbangkan William Baldwin. Schumacher akhirnya menjatuhkan pilihan pada George Clooney karena dianggap lebih bisa membawakan karakter Batman tak seserius, setegas, dan “segelap” yang dibawakan Michael Keaton. Schumacher ingin menyajikan karakter Batman yang lebih ringan dan friendly ditonton anak-anak. Sial, Batman & Robin gagal meledak dan dianggap sejumlah kritikus sebagai film Batman terburuk hingga Warner Bros batal melanjutkan sekuel dan reboot- nya. Christian Bale (2005-2012) Christian Charles Philip Bale memerankan Batman di trilogi Dark Knight (warnerbros.com) Seram dan sangar. Penuh dengan sisi gelap namun terasa greget. Itulah kesan dari era baru film Batman lewat trilogi Dark Knight garapan sutradara Christopher Nolan, masih di bawah naungan Warner Bros. Filmnya lebih cocok ditonton usia remaja ke atas lantaran terdapat banyak adegan kekerasan. Adalah Christian Bale yang dimunculkan Nolan di tiga filmnya, Batman Begins (2005), The Dark Knight (2008), dan The Dark Knight Rises (2012). Meski sudah memulai kariernya sejak 1987, Bale belum dianggap aktor besar saat casting . Saingannya saat itu mulai dari Henry Cavill, Jake Gyllenhaal, Joshua Jackson, Billy Crudup, hingga (mendiang) Heath Ledger. Namun Bale mampu memukau Nolan saat casting dan reading naskah. “Dia mempunyai keseimbangan antara sisi gelap dan terang, di mana dua hal itu yang paling kami cari,” tutur Nolan dalam rilis pers Warner Bros, 11 September 2003. Meski meninggalkan kesan karakter Batman paling gelap dan greget, trilogi Dark Knight masih kalah laris ketimbang film-film Batman terdahulu hingga kemudian masuk era DCEU, Bale digantikan Ben Affleck. Sempat ada celotehan lucu saat Affleck meminta saran Bale untuk menyuksesi karakter Batman. “Affleck menanyakan saran dari Bale soal bagaimana baiknya memerankan Batman. Bale bilang pada Affleck agar memastikan dia bisa buang air kecil saat mengenakan Batsuit ,” ungkap James Egan dalam 1000 Facts about Superhero Movies. Pattinson telah resmi menjadi pemeran Batman terbaru di semesta DCEU. Pasti bakal ada lagi perbandingan aktingnya dengan para pendahulunya. Nah, dari sekian banyak pemeran Batman/Bruce Wayne, siapa favorit Anda?
- Baghdad, Islam dan 1001 Kehancuran
KETIKA pasukan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Inggris menyerang Irak pada penghujung Maret 2003, kiamat seolah melanda Baghdad. Bukan hanya puluhan ribu nyawa manusia telah melayang akibat penyerangan ilegal tersebut, namun ribuan artefak dan manuskrip sejarah penting peninggalan Kekhalifahan Abbasiyah musnah dilumat rudal dan dicuri para penjarah dari Museum Nasional Irak. Sejak itulah Baghdad yang dulu dikenal sebagai “kota 1001 malam” berubah menjadi kota 1001 kehancuran. Situasi yang menyebabkan Robert Fisk, salah seorang saksi hidup penyerangan Amerika dan Inggris ke Irak, berang. ”Kehancuran total itu menjadi bencana dan simbol paling memalukan dari upaya pendudukan (yang dilakukan AS dan Inggris) terhadap kota yang pernah melahirkan peradaban dunia tersebut,” ujar Fisk dalam The Independent, 17 September 2007 . Jurnalis perang itu memang benar adanya. Baghdad adalah aset sejarah dunia. Sebagian ahli sejarah menyebut Baghdad—yang berarti hadiah Tuhan—sudah ada ada sejak 4000 SM. Tercatat berbagai bangsa yang silih berganti menguasai ranah nan subur di pinggiran Sungai Tigris itu. Mereka terdiri dari bangsaPersia, Yunani, Romawi hingga Arab. Islam sendiri masuk ke Baghdad pada 637 M. Saat itu pasukan Kekhalifahan Arab Islam pimpinan Panglima Besar Saad ibn Abi Waqqash berhasil menguasai seluruh wilayah Kerajaan Persia termasuk ibu kota Ctesiphon. Mereka kemudian mendirikan pusat penerintahan di Kufah dan Basrah. Kenapa tidak memilih Baghdad? Bisa jadi selain belum ramai, saat itu Baghdad masih merupakan perkampungan kecil belaka. Baghdad baru dilirik 125 tahun kemudian, saat Khalifah al Manshur dari Dinasti Abbasiyah meletakan batu pertama pembangunan sebuah ibu kota baru. Pemilihan Baghdad didasarkan pada beberapa alasan. Selain letaknya strategis secara militer, al Manshur juga melihat Baghdad memiliki Sungai Tigris. Itu faktor penting karena bisa menjadi sarana penghubung dengan Tiongkok sekaligus mengeruk hasil makanan dari Mesopotamia, Armeniadan daerah sekitarnya. Untuk membangun Baghdad, menurut Al-Thabari (sejarawan Arab klasik termashur), al Manshur sampai merogoh kocek sebesar 4.883.000 dirham dan mempekerjakan sekitar 100.000 arsitek, pengrajin, dan kuli yang berasal dari Syiria dan Mesopotamia. Sejak 762 M, Dinasti Abbasiyah memusatkan pemerintahannya di Baghdad. Berbeda dengan para pendahulunya para khulafaur rasyidin, khalifah-khalifah Abbasiyah terasing dari rakyatnya. Kebersahajaan dan informalitas lama yang menjadi ciri khalifah yang empat (Abu Bakar, Umar ibn Khattab, Utsman ibn Affan dan Ali ibn Abi Thalib) tergantikan oleh gaya hidup glamor dan hedonistik. “Dalam keseharian, para khalifah Abbasiyah dikelilingi para tukang jagal. Itu seperti sebuah bentuk pemberitahuan tersirat kepada khalayak bahwa mereka memiliki kekuasaan atas hidup dan mati,” tulis Karen Armstrong dalam Islam, A Short History. Lebih dari 500 tahun, para khalifah dinasti Abbasiyah hidup dalam kejayaan dan kemewahan. Di bawah pemerintahan mereka,Baghdad yang awalnya hanya sebuah kampung kecil telah berubah menjadi pusat fashion laiknya Paris, Milan dan New York saat ini.Berbagai prilaku dan gaya pakaian keluarga besar khalifah bahkan menjadi acuan mode dunia kala itu. Salah satu selebritis mode itu adalah Ulayyah,salah seorang adik perempuan Khalifah Harun Al Rasyid (786-809). “Ulayyah pernah coba menutupi sebuah goresan kecil di dahinya dengan memakai pengikat kepala yang berhiaskan emas permata. Ikat kepala ala Ulayyah tersebut lantas menjadi trend dunia mode pada zaman itu,” ungkap Philip K. Hitti dalam History of the Arabs . Namun tidak hanya trend mode dan kemewahan, ilmu pengetahuan pun mengalami kemajuan yang sangat pesat di Baghdad. Kala itu, hampir di setiap sudut kota terdapat perpustakaan dan laboratorium penelitian. Bahkan bisa dikatakan hampir sebagian besar masyarakat Baghdad memiliki minat besar mempelajari matematika, fisika, kedokteran, seni dan filsafat.Sejarawan Prancis Gustave Le Bon,menyebut situasi tersebut sebagai ironi bagi dunia Barat. Mengapa? ” Karena saat pusat-pusat Islam Baghdad (dan Spanyol) sedang berada di puncak kecemerlangannya,pusat-pusat intelektual di Barat hanyalah berupa benteng-benteng perkasa, yang dihuni oleh para bangsawan semi barbarik yang merasa bangga atas ketidakmampuannya membaca,” tulis Le Bon dalam The World of Islamic Civilization . Kendati demikian, sejarah tidak selamanya berpihak pada sebuah bangsa. Di tengah gaya hidup mewah yang sudah malampaui batas,Baghdadpada akhirnya didatangi malapetaka. Bulan Februari 1258, sekitar 200.000 prajurit Mongol pimpinan Jenderal Hulago Khan menyerbu Baghdad. Menghadapi serangan tersebut, alih-alih bertahan, tentara Abbasiyah yang secara moril sudah miskin keberanian dan semangat itu malah lari kocar-kacir. Ibnu Katsir melukiskan ketidak-berdayaan para tentara Abbasiyah tersebut. Menurut sejarawan Arab itu, Baghdad yang mewah dan indah dibuat jadi lautan darah oleh para prajurit Hulago Khan. ”Tentara Tartar (Mongol) mengejar pasukan khalifah dan rakyat biasa hingga ke lorong-lorong kota. Mereka dengan biadab membantai tanpa ampun tentara, anak-anak, perempuan dan orang tua. Baghdad menjadi samudera darah dan penderitaan,” tulis Ibnu Katsir dalam al-Bidayah an-Nihayah . Setelah berhari-hari bertahan di istananya yang megah, Khalifah al-Mu’thasim (1243-1258) beserta 300 pejabat dan keluarga istana akhirnya menyerahkan diri pada Jenderal Hulago Khan. Sepuluh hari kemudian para tawanan itu dipancung satu persatu, termasuk al Mu’tashim beserta dua puteranya. Syahdan sepeninggal khalifah, Baghdad dibakar dan dijarah habis-habisan. Ribuan artefak dan manuskrip sejarah pun berubah menjadi abu. Selain kepada emas, rupanya tentara Mongol sama-sekali tidak tertarik pada aset sejarah dan ilmu pengetahuan. Sebuah sikap yang pada zaman sekarang terbukti dimiliki juga oleh militer Amerika Serikat dan Inggris saat menyerang Irak.






















