top of page

Hasil pencarian

9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Srikandi yang Tak Diakui

    BULUTANGKIS sudah jadi pilihan hidupnya sejak belia. Ivana Lie tidak salah memilihnya. Di dunia bulutangkis, dia meretas kelegendaannya. Lahir di Bandung pada 7 Maret 1960 dari pasangan Lie Tjung Sin dan Kiun Yun Moi, Lie Ing Hoa yang kemudian dikenal dengan nama Ivana Lie, hidup dalam keluarga yang ekonominya memprihatinkan. Bersama delapan saudaranya Ivana sering hanya bisa makan nasi tanpa lauk. Untuk bisa menghidupi anak-anaknya yang mayoritas masih kecil, ibunda Ivana yang single parent berkeliling menjual kue. “Saya ikutan jual. Saya jualan ke pasar, ke mana. Kalau musim layangan, kakak saya bikin layangan, saya ikutan (menjual, red .),” ujar Ivana kepada Historia . Namun, Ivana kecil enjoy menjalaninya. Terlebih, di lingkungan tempat tinggalnya kala itu sedang “demam” bulutangkis setelah Rudy Hartono menjuarai All England 1968. Ivana dan teman-temannya pun memainkannya. “Di kampung-kampung ramai, (saya, red .) ikut-ikutan. Pakai sandallah, pakai piringlah, pakai papan, dan lain sebagainya,” ujarnya kepada Historia . “Yang menyentuh adalah ketika Rudy Hartono dkk. juara All England atau Thomas Cup. Kalau pulang kan diarak seperti pahlawan dan itu yang membuat kita saat melihat di TV termotivasi kepengin seperti mereka,” ungkap Ivana kepada Historia. Bulutangkis pun makin sering dimainkan Ivana. Suatu hari, di sekolahnya ada pertandingan bulutangkis antar-SD se-Bandung. Ivana yang kala itu duduk di kelas 5 langsung mengikutinya. Tak dinyana, dia juara satu. “Terus saya diberikan reward , hadiah berupa keringanan biaya uang sekolah. Dari situ akhirnya muncul motivasi. Saya bilang, kalau saya jadi juara, saya bisa membantu orangtua saya,” sambung mantan staf ahli menteri Pemuda dan Olahraga itu. Semangat Ivana pula yang membuat klub Mutiara Bandung memberinya dispensasi pembayaran. “Pelatihnya kan tahu saya selalu semangat, mungkin punya bakat dia lihat. Sejak itu baru saya latihan rutin,” kata Ivana. Pesatnya perkembangan Ivana memancing perhatian Pelatnas PBSI hingga akhirnya terpilih masuk timnas pada 1976. Satu per satu titel tunggal putri bertaraf internasional pun dikoleksinya, mulai dari turnamen perorangan hingga beregu macam SEA Games (1979, 1983) atau Asian Games (1982). Matanya berbinar-binar saat mengingat lagi prestasi-prestasi tinggi itu. “Yang paling menyenangkan adalah kalau kita menang di (pertandingan) multi- event seperti SEA Games atau Asian Games. Kita menang, naik podium, ada ‘Indonesia Raya’ berkumandang, bendera Merah Putih naik. Itu sangat berkesan dan paling menyenangkan,” kata Ivana. Lima Tahun Stateless Namun, seketika suasana hatinya berubah. Kata-kata mulai berat untuk dikeluarkan dari mulutnya. Apa lagi penyebabnya kalau bukan topik pembicaraan mengenai status kewarganegaraan dan pengakuan. “Saya lahir dari orangtua yang statusnya masih asing lah ya, bukan kewarganegaraan Indonesia. Memang datang dari Tiongkok, tapi saya lahir di sini,” ujar Ivana dengan nada suara sendu. Di masa-masa perjuangannya membawa nama harum negeri, Ivana justru bukan pemain yang diakui kewarganegaraannya. Kendati dia lahir di Indonesia, kedua orangtuanya bukan termasuk etnis Tionghoa yang diakui berkewarganegaraan Indonesia “resmi” dengan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Kebijakan diskriminatif itu bermula dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 10 tahun 1959 tentang larangan orang asing berdagang eceran di daerah tingkat kabupaten ke bawah selain ibukota provinsi dan wajib mengalihkan usaha mereka ke warga negara Indonesia (WNI). Dampaknya berujung pada eksodus besar-besaran etnis Tionghoa ke Tiongkok. Orangtua Ivana jadi sedikit yang tak ikut “pulang”. Akibatnya, pengurusan kewarganegaraan pun dipersulit. Kalaupun bisa tembus birokrasi, tetap harus merogoh kocek yang dalam. “Mereka tidak mengurus ini karena keterbatasan dana dan karena sulit sekali. Karena orangtua asing, otomatis anak-anaknya walau lahir di Indonesia tetap asing. Begitu peraturannya. Kita hidup juga waktu itu susah, enggak bisa urus itu. Jadi saya masuk pelatnas pun tetap warga negara asing,” sambungnya. Sekira lima tahun Ivana state-less alias tanpa kewarganegaraan. PBSI hanya membantu sebisanya dengan mengurus dokumen kewarganegaraan sementara laiknya surat jalan, yang menyatakan dia sebagai warga negara Indonesia (WNI). Surat jalan itu dipakai saat Ivana berlaga di luar negeri dan dicabut kembali oleh keimigrasian sepulangnya dari bertanding. Sebelumnya pada 1976, perkara status ini pernah membuatnya batal tampil di India untuk sebuah turnamen yunior. Gara-garanya, Ivana tidak punya paspor. Meski dibantu KONI dan PBSI, Ivana butuh lima tahun untuk bisa diakui. Ivana Lie berkisah bagaimana lima tahun statusnya stateless (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “Sedih ya… Merasa bahwa walaupun saya lahir di sini, saya berbudaya, berbahasa, semuanya, merasa sebagai bangsa Indonesia dan sudah membuktikan juga dengan saya bertanding membawa nama Indonesia, tapi sampai lima tahun keluar masuk begitu… Susah sekali mendapat kewarganegaraan itu. Sebenarnya lebih kepada, kita secara manusia perlu pengakuan ya. Dan yang membuat saya merasa sedih ya karena tidak ada pengakuan pada saat itu,” tuturnya dengan mata berkaca-kaca. Pun begitu, sang srikandi akhirnya mendapat pengakuan juga. Menukil Tokoh-Tokoh Etnis Tionghoa di Indonesia oleh Sam Setyautama, status Ivana Lie tak lagi state-less sejak 29 November 1982 saat memperoleh status kewarganegaraan Indonesia lewat SBKRI. Itupun setelah Ivana bisa bersua Presiden Soeharto saat tim Uber Cup 1981 diterima di Istana Negara. Dalam dialog dengan Presiden Soeharto, Ivana menyampaikan bahwa saat itu statusnya masih warga negara asing. “’Enggak punya KTP, Pak’, saya bilang begitu. “ Lho, kok enggak punya KTP?” tanya presiden sambil tertawa, sebagaimana ditirukan Ivana. “Iya Pak, karena KTP-nya enggak bisa keluar karena saya enggak punya warga negara.” “Nanti coba diini (diurus, red. ),” kata presiden memerintahnya. Ivana menurutinya. “Karena saya ngomongnya sama presiden, kira-kira enam bulan kemudian saya terima (SBKRI) tahun 1982,” ujar Ivana. Delapan tahun sejak menerima SBKRI, Ivana gantung raket dan alih profesi jadi pelatih hingga berbisnis pakaian sport merek Elvana. Pada 2000-an, Ivana dipercaya Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng dan Roy Suryo jadi staf khususnya. Kini, Ivana aktif di PT Djarum.

  • Balada Seorang Instruktur Tua

    INGAT anak panah berdetonator milik John Rambo (eks prajurit Baret Hijau US-Army yang kerap menjadi pahlawan di film-film Hollywood)? Ternyata senjata tradisional berujung peluru itu pernah nyaris akan digunakan oleh TNI (Tentara Nasional Indonesia) dalam melawan militer Belanda. Ceritanya, suatu hari di tahun 1949, seorang instruktur senior di MA (Militer Akademi) bernama Letnan Kolonel Sahirdjan berhasil membuat sejenis “senjata mutakhir”: panah berpeluru. Dalam ideal pemikiran Sahirdjan, selain mudah dan efektif digunakan dalam perang gerilya, keunggulan senjata ini pelurunya bisa ditembakan tanpa suara dan bila ujung panah berdetonatornya mengenai sasaran vital maka akan berakibat kematian sang musuh. Maka sebelum diluncurkan, dicobalah senjata tersebut. Sebagai sasaran tembak adalah seekor kambing jantan. Di hadapan ratusan rakyat Yogyakarta dan para kadet, Sahirdjan kemudian merentangkan busur. Semua penonton menahan napas, saat anak panah melesat dari busur dan menghantam sang kambing…Dor! Kambing pun terkulai. Para penonton bersorak sorai seraya memberi tepuk tangan tiada henti. Sahirdjan tersenyum, para kadet tertawa bangga. Namun baru saja tepuk tangan riuh itu berhenti, tiba-tiba “kambing mampus” itu bangun kembali dan mengembik, siuman dari pingsannya. Spontan penonton kembali bertepuk tangan. Kali ini diiringi tawa lepas seolah tak henti. Sahirdjan sendiri sambil tersenyum menggaruk-garuk kepalanya walau tak gatal. “Maka gagallah 'senjata mutakhir' itu digunakan untuk memerangi tentara Belanda, karena tidak mematikan dan hanya membuat pingsan,” ungkap sejarawan militer Moehkardi kepada Historia.id . Sosok nyentrik nan sederhana Sahirdjan ternyata tidak pernah hilang hingga menjelang dirinya berpangkat briagadir jenderal dan memangku status sebagai guru besar di Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI) Magelang. Kendati merupakan pejabat senior, Sahirdjan dalam kehidupan sehari-hari tetap jauh dari kemewahan dan memelihara sikap rendah hati. Dikisahkan dalam buku karya Moehkardi, Akademi Militer Yogya dalam Perjuangan Pisik 1945-1949 , “pakaian kebesaran” Sahidrdjan jika tidak sedang bertugas, adalah celana pendek dan kaos oblong lusuh. Pokoknya jika kebetulan melihatnya berpenampilan seperti itu, orang yang belum kenal pasti menyangka Sahirdjan bukan seorang jenderal guru besar AKABRI. Karena penampilan khasnya ini, Sahirdjan sempat membuat cerita heboh di kalangan taruna AKABRI pada era 1970-an. Ceritanya, suatu hari seorang taruna AKABRI tingkat awal baru pulang dari cutinya dengan membawa oleh-oleh dan beberapa koper. Turun dari becak, sang taruna bingung harus mengangkat sendiri bawaannya yang begitu banyak tersebut. Dalam situasi demikian, tiba-tiba muncul seorang lelaki tua kurus berpakaian celana pendek dan kaos oblong lusuh tak jauh dari tempat sang taruna turun dari becak. Pucuk dicinta ulam tiba, taruna tersebut langsung berseru: “Eh Pak…Pak! Tolong ini angkatkan koper saya!” perintahnya. Lelaki kurus dan berpenampilan lusuh yang dipanggil tersebut cepat-cepat mendekat dan dengan sigap membantu mengangkat kopor hingga ruangan sang taruna. Begitu selesai, sang taruna berinsiatif memberi persen, namun dengan halus dan penuh hormat lelaki tersebut menolaknya. Baru saja beberapa menit “sang jongos” itu pergi, tetiba beberapa taruna senior dalam wajah garang berhamburan mendekati juniornya yang baru pulang cuti itu. Salah seorang menghardik: “Lu tahu siapa orang yang lu suruh membawa koper itu?!” “Siap! Tidak tahu!” “Tahu lu, dia adalah Pak Sahirdjan, brigadir jenderal dan guru besar kita!” Mendengar itu, sang prajurit taruna tersebut hanya bisa bengong. Begitu sadar bahwa dirinya telah melakukan “kesalahan”, dia pun menunduk dalam perasaan penuh penyesalan.

  • Omar Dani, Panglima yang Dinista

    JAKARTA, 24 Desember 1966. Hakim Mahkamah Militer Luar Biasa (MAHMILUB) mengetuk palu. Vonis hukuman dijatuhkan terhadap terdakwa Omar Dani. Sang pengadil menjeratnya dengan tuduhan berbuat makar. “Menghukum tertuduh dengan hukuman mati dengan tambahan mencabut haknya atas pemilikan sejumlah tanda jasa, memecat tidak dengan hormat dari pangkat dan segala jabatannya,” demikian putusan hakim. Bersamaan dengan suara ketokan palu hakim, berdentang bunyi lonceng gereja di samping gedung Mahmilub. Waktu saat itu menunjukan pukul 00.00 tengah malam. Pergantian hari menandai malam natal, malam kudus bagi pemeluk Kristen. Di saat yang sama, bulan itu bertepatan dengan Ramadhan, bulan suci bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa. Ketika mendengar vonis mati tersebut, Omar Dani hanya mengingat Tuhan. Baginya, pertemuan kekudusan dan kesucian dua agama pada malam itu adalah pertanda kuasa Sang Khalik telah bicara. Meski tahu suatu saat akan berhadapan dengan regu tembak, Dani tetap punya harapan yang menyala. “Engkau Yang Maha Adil, pergunakanlah hati, pikiran, dan tanganku. Allahu Akbar! Allahu Akbar,” kata-kata itulah yang terbersit di benak Dani. Pengalaman ini dikemudian hari dikenangkan Dani dalam biografinya Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani yang disusun Benedicta Surodjo dan JMV. Soeparno. Jadi Pesakitan Petaka itu bermula dari perintah harian yang terbukti keliru. Pada pagi hari 1 Oktober 1965, Omar Dani mengeluarkan pernyataan menyikapi Gerakan 30 September (G30S) yang diumumkan RRI. Dari empat butir perintah, salah satunya berbunyi: “Mendukung Gerakan 30 September yang mengamankan dan menyelamatkan revolusi dan Pimpinan Besar Revolusi (Presiden Sukarno) terhadap subversi CIA.” “Titik beratnya adalah pada dukungan terhadap gerakan yang melakukan pengamanan dan penyelamatan revolusi dan Pimpinan Besar Revolusi. Bahwa ternyata G-30-S melakukan hal yang sebaliknya, tentu saja itu bukan yang dimaksud oleh Omar Dani untuk didukung,” tulis Benedicta dan Soeparno. Sejumlah perwira AD yang dipimpin Soeharto kemudian mengidentifikasi Dani sebagai perwira kiri. Bagi mereka, Dani setidaknya adalah loyalis garis keras Presiden Sukarno yang menolak membubarkan PKI. Kesempatan menggulung Dani tiba ketika Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret (Supersemar). Sekembali dari masa tugas di Kamboja, Omar Dani langsung diciduk. Pada 21 April 1966, Dani dikenakan tahanan rumah di Kompleks Peristirahatan AU Cibogo, Bogor. Sebulan kemudian, dia dipindahkan ke Rumah Tahanan Militer (RTM) Nirbaya, Pondok Gede. Keinginan Dani untuk dibela oleh Mr. Sartono dan Mr. Iskak dalam persidangan tidak diizinkan Tim Pemeriksa Pusat (Teperpu). Tidak hanya menimpa Dani. Bala politik juga lebih dulu menyasar kesatuan TNI AU. Sejarawan Asvi Warman Adam mencatat AURI menjadi bulan-bulanan sepekan setelah G30S. Beberapa perwira bahkan keluarganya ikut jadi korban kebencian yang ditujukan terhadap AU karena dianggap terlibat bersama PKI dalam G30S.     “Mobil Laksamana Muda Aburachmat, mobil Letnan Udara Satu Wara Chusnul Chotimah dan lain-lain ditabrak oleh jip-jip RPKAD. Ibu-ibu istri anggota AURI yang berbelanja di pasar di luar Halim diejek, juga pasukan karbol (taruna Akademi TNI AU) yang berdiri di pinggir jalan dalam sikap sempurna dan memberi hormat pada iring-iringan jenazah para jenderal korban G30S, diludahi mukanya oleh pasukan AD yang berada di atas panser,” tulis Asvi dalam Menguak Misteri Sejarah .   Masa Penderitaan Di RTM Nirbaya, Dani tinggal di kompleks penjara Amal, satu dari tiga kompleks penjara di sana. Kamar tahanannya seperti bungalo. Ukurannya 5x6 meter lengkap dengan berbagai fasilitas: kamar mandi, WC, tempat tidur, sofa, meja makan, dan lemari. Meski menjadi satu-satunya penghuni di situ, Dani dijaga ketat oleh sekompi Yon Para dari Polisi Militer Angkatan Darat. Dia juga diisolasi dari dunia luar. Dani dilarang untuk berbincang dengan sesama tahanan lain. Kesepian menjadi penyakit dalam masa pemenjaraan. Di Nirbaya pula, Omar Dani menerima surat pemecatannya dan pencabutan tanda jasanya yang ditandatangani oleh Presiden Sukarno – sosok yang begitu dijunjung tinggi oleh Dani. Beruntung, Teperpu masih membolehkan keluarga untuk menjenguk Dani saban dua pekan sekali. Salah satu teman dekat Dani di Nirbaya adalah Soebandrio, mantan Menteri Luar Negeri, yang kamar tahanannya bersebelahan. Mereka saling menjaga jika salah seorang menderita sakit. Selama di penjara, Dani memang pernah terserang penyakit Hepatitis C. Persahabatan itu terus berjalin ketika Nirbaya ditutup. Mereka lantas dipindahkan ke RTM Budi Utomo dan Lembaga Pemasyarakatan Cipinang.       Sepanjang rezim Orde Baru berkuasa, Omar Dani dinista. Alih-alih dikenang sebagai Panglima AU di masa jaya,  sosok Dani lebih ditonjolkan sebagai pengkhianat negara. Kisah klasik tentang bagaimana penguasa melenyapkan nama Omar Dani diungkap oleh budayawan Ayatroehadi. Dalam sebuah seminar, Ayatroehadi menerangkan pengalaman seorang guru sejarah yang membawa murid-muridnya ke museum Angkatan Udara di Yogyakarta. Di situ terpampang foto-foto pimpinan Angkatan Udara masa ke masa. Ada foto KSAU pertama, Suryadi Suryadarma. Namun anehnya tak ada foto Panglima AU yang kedua. Deretan itu langsung kepada KSAU ketiga, Sri Mulyono Herlambang, dan seterusnya.  Foto Omar Dani  KSAU kedua diraibkan begitu saja. Menurut Ayatroehadi, cara menghitung Orde Baru memang ajaib: dari satu langsung tiga. “Demikianlah salah satu cara rezim Orde Baru merekayasa sejarah,” tulis Asvi. Selain itu, catat Asvi, semasa rezim Orde Baru, hubungan antara Presiden Soeharto dengan AURI sebagai sebuah lembaga tampaknya tidak pernah mesra, Soeharto lebih percaya kepada teknokrat seperti B.J. Habibie ketimbang tenaga ahli AURI dalam membangun industri kedirgantaran. Pada 14 Desember 1982, Omar Dani menerima grasi. Hukumannya diganti menjadi penjara seumur hidup. Akhirnya pada 16 Agustus 1995, Dani dibebaskan karna faktor lanjut usia bersama dengan Soebandrio dan mantan Kepala Badan Pusat Intelijen (BPI) Sugeng Sutarto. Selama 29 tahun 4 bulan, Dani menjalani hidupnya dengan meringkus dalam tembok penjara. Menurut sang istri Sri Setiani, dikutip Tempo , 21 Juni 2009, pengalaman hampir 30 tahun terasing dipenjara menyisakan beban traumatis bagi Dani. Namun Dani berbesar hati. Sebelum meninggal, dia sempat berujar dengan nada enteng, “Sudahlah, semua sudah terjadi, lagi pula untuk apa saya dendam, wong dia (Soeharto) dulu juga belum tentu memikirkan saya.”    Pada akhirnya, Omar Dani beristirahat dengan tenang pada 24 Juli 2009. Dalam usia sepuh: 85 tahun, Sang Marsekal kesayangan Sukarno ini meninggal. Dalam damai tanpa dendam. Sementara, rezim yang memenjarakannya telah tumbang lebih dahulu oleh kekuatan rakyat pada 21 Mei 1998. (Selesai)

  • Cerita di Balik Nama-Nama Presiden

    Para presiden Indonesia memiliki cerita menarik dengan namanya. Presiden pertama, Sukarno, dalam otobiografinya Penyambung Lidah Rakyat Indonesia , mengungkapkan pergantian namanya. Peyakitan menjadi alasan namanya diubah dari Kusno menjadi Sukarno. Namun, ada cerita lain soal pergantian nama itu: nama Kusno kurang enak kalau dipanggil, seperti memanggil tikus. Sukarno juga pernah menegur media massa yang salah menulis nama anaknya yang kemudian menjadi presiden. “He wartawan, kenapa wartawan itu selalu salah tulis. Guntur Soekarnoputra, salah! Sukarnaputra. Begitu pula Megawati Sukarnaputri. Bukan Soekarnoputri, meskipun namaku adalah Sukarno,” kata Sukarno. Namun, entah mengapa, anak-anaknya sendiri kemudian menggunakan nama Sukarno bukan Sukarna.  Presiden kedua memang sejak lahir bernama Soeharto. Ketika menjadi presiden, dia biasa dipanggil Pak Harto. Ketika dia menunaikan ibadah haji, Raja Arab Saudi Fahd bin Abdul Aziz memberikan pilihan nama: Mohammad atau Ahmad. Soeharto lebih suka menggunakan nama Haji Mohammad Soeharto. Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie merupakan anak keempat dari delapan bersaudara. Dia satu-satunya yang menyandang nama ayah, kakek dan buyutnya: Habibie, panggilannya Rudy. Dalam Bahasa Arab, habibi , artinya yang terkasih atau yang tersayang. Ketika bertemu Pangeran Arab Saudi Sultan bin Abdul Aziz, Habibie menyinggung soal namanya. “Prince Sultan, saya memang dari keluarga yang taat beragama Islam. Nama saya Habibie, nenek moyang saya memakai nama-nama Arab, meski kami bukan orang Arab. Sejak kecil saya dididik, ditanamkan keinginan, dan diberi petuah untuk suatu hari nanti dapat menunaikan ibadah haji sebagai salah satu rukun Islam,” kata Habibie dalam The True Life of Habibie: Cerita di Balik Kesuksesan . Presiden Gus Dur memiliki nama lahir Abdurrahman Ad-Dakhil. “Nama yang berat untuk anak mana pun. Ad-Dakhil, yang diambil dari nama salah seorang pahlawan dari Dinasti Umayyah, secara harfiah berarti Sang Penakluk. Zaman dulu, Ad-Dakhil berhasil membawa Islam ke Spanyol dan mendirikan peradaban yang berlangsung di sana selama berabad-abad,” tulis Greg Barton dalam biografi resmi Gus Dur. Gus Dur pun sebagaimana kebanyakan santri Jawa memilih menggunakan nama ayahnya setelah namanya: Abdurrahman Wahid. “Sesuai dengan kebiasaan Arab, dia adalah Abdurrahman ‘putera’ Wahid, sebagaimana ayahnya, Wahid ‘putera’ Hasyim,” tulis Greg Barton. Bagaimana dengan Susilo Bambang Yudhoyono? Dia lahir di Pacitan pada 9 September 1949 sebagai anak semata wayang pasangan R. Soekotjo dan Siti Habibah. Dalam silsilahnya, dia cucu salah seorang pendiri Pondok Pesantren Tremas. “Dialah yang dijuluki pewaris trah Ki Ageng Buwono Keling dan Kanjeng Sultan Hamengkubuwono II,” tulis Arwan Tuti Artha dalam Dunia Religius SBY . Ki Ageng Buwono Keling merupakan pendiri Pacitan, yang silsilahnya sampai ke pendiri Majapahit. Sehingga SBY pun merunut silsilahnya sampai ke Raden Wijaya, pendiri Majapahit.  Menurut Arwan, nama Susilo Bambang Yudhoyono menunjukan simbolisasi perwira santun yang tengah perang di medan laga. “Kata susila dalam Bahasa Jawa berarti santun, penuh kesusilaan; sedang bambang artinya satria. Adapun yudho artinya perang dan yono artinya menang,” tulis Arwan. Presiden Joko Widodo lahir pada 21 Juni 1961 di RS Brayat Minulyo di Surakarta. Orangtuanya, Sujiatmi dan Wijiatno Notomiarjo, memberinya nama Mulyono. Namun, nama itu tak lama kemudian diganti karena dia berulang kali sakit. “Ada kepercayaan dalam masyarakat Jawa, anak yang sakit-sakitan perlu berganti nama. Maka Mulyono diganti Joko Widodo. Boleh tidak percaya, saya kemudian tumbuh sehat. Itu misteri,” kata Joko Widodo dalam biografinya, Menuju Cahaya karya Alberthiene Endah. Joko Widodo kemudian dikenal dengan panggilan Jokowi. Ternyata ada ceritanya. Pada 1990-an, ketika usaha mebelnya maju, dia berbisnis dengan para pengusaha dari luar negeri. Kantornya tak pernah sepi dari kunjungan para importir. “Di saat itulah sebutan Jokowi muncul,” kata Joko Widodo. Seorang buyer dari Prancis bernama Bernard kesulitan membedakan namanya, Joko Widodo, dengan Joko yang lain. “Kenapa begitu banyak nama Joko di daerahmu? Saya sering bingung. Saya menyebut kamu Jokowi saja agar memudahkan saya membedakanmu dengan Joko yang lain,” kata Bernard tertawa. Joko Widodo tak keberatan. Sejak itu, nama Jokowi mulai eksis. Dalam pergaulan pengusaha mebel, orang-orang memanggilnya Jokowi. Begitu pula setelah dia menjadi presiden.

  • Goodbye Stan Lee!

    SETELAH kalah dari Thanos (diperankan Josh Brolin), para Avengers berupaya bangkit dan balik mengalahkan. Mereka lalu mendapatkan solusi: mesin waktu. Alhasil, para Avengers yang tersisa pun comeback ke beberapa titik waktu masa lampau. Steve Rogers alias Captain America (Chris Evans) dan Tony Stark si Iron Man (Robert Downey Jr.) kembali ke suatu waktu di tahun 1970 di sebuah kamp militer Amerika Serikat ber- tagline “Tempat Lahir Captain America”. Mereka datang dengan misi mencuri dua unsur penting untuk mengalahkan Thanos cum mengembalikan kehidupan bumi yang 50 persennya dilenyapkan Thanos: Partikel Pym dan Tesseract dari lab militer di kamp itu. Tapi sesaat sebelum keduanya beraksi, lebih dulu duo sutradara bersaudara, Anthony dan Joe Russo, menggambarkan suasana lawas di kamp tahun itu. Termasuk ketika muncul sekilas seorang gaek pengemudi mobil klasik yang meneriakkan slogan anti-perang ke arah para penjaga kamp: “ Make Love, not War, Hahahaha… ” Si gaek eksentrik itu tak lain adalah Stan Lee, cameo dalam Avengers: Endgame yang rilis 22 April 2019. Sedihnya, itu jadi cameo terakhirnya di film-film bertema semesta Marvel. Cuplikan-cuplikan cameo -nya, termasuk di film Captain Marvel dan Avengers: Endgame ini memang dilakoni sebelum dia tutup usia pada 12 November 2018 karena penyakit pneumonia. Sudah puluhan film dia tampil di depan kamera, baik di franchise Marvel Cinematic Universe (MCU) maupun film-film superhero Marvel lain di luar MCU. Sebut saja di seri-seri X-Men , Spiderman, Deadpool, Fantastic Four yang digarap Sony’s Marvel Universe hingga Marvel Entertainment. Intinya, hampir di semua film yang mengangkat para jagoan bikinannya sendiri. Sebagai cameo , ia kerap muncul dengan celetukan-celetukan serta karakter-karakter nyeleneh, utamanya dalam 22 penampilan di semesta MCU. Laiknya Alfred Hitchcock yang juga kerap nyelonong masuk kamera sebagai cameo , Stan sudah sangat lama melakoninya. Mengutip James Robert Parish dalam Stan Lee: Comic-Book Writer and Publisher , pertamakali dia muncul sebagai cameo di tayangan-tayangan Marvel sudah sejak 1989 dalam serial televisi TheTrial of the Incredible Hulk yang ditayangkan NBC pada 7 Mei 1989. Stan tampil sebagai salah satu juri penentu dalam persidangan Dr. Bruce Banner, alter ego Hulk. Stan Lee (kiri) pertama kali muncul sebagaicameo di film Hulk tahun 1989. (Youtube Christopher Cherigo) Menurut Dedi Fadim, founder Komunitas Marvel Indonesia, kemunculan Stan sebagai cameo jadi semacam penanda bahwa tanpa kerja kerasnya dan teman-temannya (Jack Kirby, Steve Ditko dkk), mungkin film-film Marvel takkan booming seperti sekarang. “Perannya selalu berubah-ubah tapi tetap as human being (manusia) yang bisa kasih statement yang kadang bisa buat kita sebagai penonton mikir dan pemerannya tertegun. Paling berkesan buat saya sih, di Iron Man di mana tokoh Stan Lee disamain sama tokoh bos Playboy Hugh Hefner sama Tony Stark,” ujar Dedi dihubungi Historia. Tidak hanya film-film bertema Marvel, beberapakali dia turut dalam produksi-film-film lain dengan genre berbeda. Seperti The Ambulance (1990), Mallrats (1995), The Princess Diaries 2: Royal Engagement (2004), Kick-Ass (2010), dan Pizza Man (2011). Tak terhitung cameo -nya di berbagai seri televisi dan animasi di luar Marvel. “Bukan sebuah kewajiban ( cameo film-film Marvel). Hanya saja saat lokasi syuting mereka dekat Los Angeles dan saya saat merasa sedang bisa melakukannya. Saya takkan bisa terbang jika lokasinya jauh. Jika lokasinya dekat, saya akan berusaha tampil sebisa saya karena Anda tahu, sekarang saya adalah aktor terbesar dunia, hahaha,” ujar Stan saat diwawancara Neal Conan dalam siaran National Public Radio , 27 Oktober 2010. Goresan Hidup Anak Imigran Lahir di New York, 28 Desember 1922 dengan nama Stanley Martin Lieber, dia tumbuh di lingkungan serba pas-pasan. Orangtuanya, Jack Lieber dan Celia Solomon, merupakan imigran Yahudi asal Rumania. Mereka hidup di sebuah apartemen sederhana dengan hanya ditopang nafkah dari ayahnya yang bekerja sebagai penjahit. Untuk membantu kehidupan keluarganya, kadang Stan nyambi kerja part-time sebagai penulis obituari dan rilis pers untuk National Tuberculosis Center, jadi office boy (OB) di pabrik garmen, hingga jadi sukarelawan di WPA Federal Theatre Project –sebuah proyek amal untuk sejumlah teater yang terkena dampak Masa Depresi. Dalam memoarnya, Excelsior!: The Amazing Life of Stan Lee, disingkap bahwa sudah sejak masa belia Stan getol menulis dan bercita-cita ingin jadi novelis. Ilhamnya datang dari kegemarannya membaca buku dan menonton film, utamanya yang dibintangi aktor Errol Flynn. Kelak dia turut jadi pendorong Stan beralih menulis komik, termasuk saat ia juga mendaftar ke US Army (Angkatan Darat Amerika Serikat). Stan Lee saat berdinas militer di US Army Signal Corps. (Wikipedia) “Saya pernah bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang saya lakukan di sini, menulis komik?’ Saya tak bisa menjawab. Saya hanya merasa harus masuk tentara, menjadi pahlawan seperti Errol Flynn atau John Wayne,” kenang Stan dalam Excelsior!. Ya, pada awal 1942 saat Perang Dunia II tengah berkecamuk, Stan masuk AD Amerika setelah sempat memulai kiprah dalam per-komik-an sebagai asisten penulis dan ilustrator di Timely Comics tiga tahun sebelumnya. Stan bisa hinggap di penerbit komik itu berkat bantuan pamannya, Robbie Solomon. “Tugas saya memastikan botol tinta yang digunakan para ilustrator selalu terisi. Kadang diam-diam saya mengoreksi karya mereka saat mereka sibuk makan siang dan saya rampungkan buat mereka,” sambungnya. Timely Comics merupakan nama penerbit lawas Marvel Comics sebelum di- rebranding pada 1961. Namun sebelumnya, seperti yang diuraikannya, ia turut ingin mengabdi dan masuk AD Amerika di Korps Sinyal dan Komunikasi meski kemudian dimutasi ke Divisi Training Film. Pasca-dinas militer, Stan kembali ke Timely Comics (yang lantas berubah Marvel) hingga menerbitkan karya pertamanya, Fantastic Four, yang dibuat bersama ilustrator Jack Kirby, di mana komiknya terbit medio November 1961. Seiring waktu, karakter-karakter karyanya bersama Kirby (Hulk, Thor, Iron Man, X-Men) bermunculan dan meledak di pasaran pada 1960-an. Tidak ketinggalan karakter Daredevil yang diciptakan bersama Bill Everett, serta Doctor Strange dan Spider-Man bersama Steve Ditko, turut booming dan jadi penanda era baru yang berpengaruh dalam dunia komik superhero. Era itu, cerita dan karakter jagoan Marvel ciptaannya bersama rekan-rekannya lebih realis dan intim dengan kehidupan para pembacanya. “Pengaruhnya paling terasa, dia bisa menularkan cerita dan karakter di komiknya dengan baik. Misal karakter Spider-Man, identik sama karakter anak muda yang kutu buku dan enggak bisa sosialisasi, terus jadi superhero yang bisa diterima masyarakat. Pengembangan karakter dan lingkungan di komiknya juga terus berlanjut mengikuti zaman. Seakan-akan apa yang terjadi di komiknya juga terjadi di dunia nyata,” sambung Dedi Fadim. Salah satu adegan cameo kocak Stan Lee sebagai tukang cukur di Planet Sakaar dalam film Thor: Ragnarok Oleh karena dibuat mendekati dan sangat intim dengan isu-isu yang terjadi di khalayak umum, tidak sedikit cerita yang disuguhkan komikus nyentrik itu tersisip sejumlah isu sosial seperti soal narkoba, diskriminasi, atau intoleransi. Maka, sosoknya juga turut dicintai dan dirindukan lintas golongan, tidak hanya para penggemarnya. “Bagi fans Marvel ia bagaikan seorang ayah, mentor dan panutan. Dia benar-benar mewakili mimpi para fans yang dari dulu hanya dianggap remeh karena cuma demen baca komik. Dia juga mengajarkan hidup dari kesukaan akan sesuatu bisa diterapkan dan dijalankan di mana uang dan harta bukan segalanya yang dicari,” kata Dedi menutup obrolan.

  • Persaingan Para Istri Raja

    Dulu, raja Jawa Tengah selatan bisa memiliki empat istri resmi atau  garwa padmi. Bukan hal aneh pula jika raja punya sejumlah istri tak resmi, yaitu selir atau  garwa ampeyan.  Di Surakarta, Pakubuwono IV memiliki 56 anak dari dua permaisuri. Ada lebih dari 25  garwa ampeyan. Di Yogyakarta, pada periode yang sama, Hamengkubuwono II punya setidaknya 80 anak dari tiga  garwa padmi.  Sementara dia juga punya 30 selir. J.W. Winter, penerjemah resmi di Surakarta menceritakan bagaimana Sunan Pakubuwono V (1820-1823) biasanya tidur pada malam hari dengan para  garwa padmi.  Siang harinya, dia tidur dengan selir. Rupanya tak semua selir raja ada pada tingkatan yang sama. Ada yang digolongkan sebagai selir utama. Mereka diambil dari anak-anak perempuan priayi utama atau pangeran dan bangsawan berdarah biru. Berbeda dengan  abdi dalem priayi manggung  atau  prajurit éstri  yang selalu menemani raja ketika keluar keraton, selir kelas utama tak boleh menginjakkan kaki keluar istana. Ada juga yang tergolong selir kelas dua. Mereka biasanya terdiri dari kelompok yang lebih heterogen. Ada penari Serimpi dari keluarga bangsawan golongan atas, juga hampir semua adalah kerabat dekat raja. Banyak pula selir kelas dua yang dipilih sebagai istri tidak resmi karena kecantikan dan daya tarik seksualnya. Menurut sejarawan Peter Carey, memiliki banyak macam perempuan di Keputren merupakan kebanggaan beberapa raja Jawa Tengah selatan pada abad ke-19 atas kekuatan seksual mereka. Misalnya, Mangkunegoro V (1881-1896) yang terkenal gemar main perempuan, diduga sampai menginstruksikan  abdi dalem  istana Mangkunegaran ke Paris untuk menghadiri Pameran Universal pada 1889. Utusan ini kemudian membawa kembali dua PSK kelas atas ke Surakarta untuk menjadi selirnya. “Sayangnya tak ada referensi atas selir berkebangsaan Prancis itu dalam silsilah Mangkunegaran yang disusun ahli genealogi Mangkunegaran,” kata Carey. Di antara para istri raja itu, Carey mengatakan, hampir selalu terjadi persaingan sengit. Terutama di antara permaisuri, tentang pengganti raja. Setiap permaisuri ingin melihat anaknya ditunjuk sebagia putra mahkota. “Suatu ambisi yang sering mengadu domba keluarga raja,” kata Carey. Contohnya, pada pemerintahan Sultan Kedua terjadi perseteruan tiga permaisuri. Ratu Kedaton sebagai ibu putra mahkota; Ratu Mas, putri Pangeran Pakuningrat (Mataram); dan Ratu Alit, anak Pakubuwono II dan ibu Pangeran Mangkudiningrat II. Ratu Alit atau Ratu Kencono Wulan yang paling tangguh. D ia tak ada hentinya bersekongkol agar anak menantunya, Raden Tumenggung Notodiningrat, nantinya menjadi Pakualam II, dipromosikan sebagai putra mahkota. Akhirnya, putra mahkota bergelar Raja Putro Narendro yang menjadi Hamengkubuwono III.

  • Ponsel Segede Sepatu

    SEUKURAN genggaman tangan, bisa masuk saku, dan harga terjangkau. Telepon selular (Ponsel) pintar dimiliki hampir semua orang di Indonesia sekarang. Lewat benda tipis itu, orang bisa menelepon, mengirim pesan, dan mengakses internet. Banyaknya fungsi bikin orang kecanduan menggunakannya. Di angkutan umum, di ruang tunggu, bahkan di toilet. Padahal, ketika pertama keluar, harga ponsel selangit, 13-15 juta rupiah ketika kurs dollar Amerika masih 1386 rupiah. Ponsel pertama di Indonesia itu muncul tahun 1986 sebagai buah kerjasama Telkom dengan PT Rajasa Hazanah Perkasa (PT RHP). Teknologinya menggunakan Nordic Mobile Technology (NMT) dengan perangkat merek Ericsson. Telkom menyediakan jasa komunikasinya, sementara PT RHP menyediakan perangkatnya. Ketika pengguna ingin mendapatkan telepon seluler, mereka tidak membeli perangkat telepon dan nomor provider secara terpisah, melainkan satu telepon hanya satu nomor dan tidak bisa diganti. “Dulu dijual sekaligus. Jadi orang beli ponsel, nomornya diinjeksi ke perangkatnya. Berbeda dengan sekarang yang beli perangkat dan providernya terpisah,” kata Garuda Sugardo, kepala Riset Telkom Indonesia kala teknologi telepon umum mulai dibangun, kepada Historia . Lahir di era pemerintahan Soeharto, pembangunan telepon seluler tak lepas dari kebiasaan Orde Baru: menyertakan perusahaan milik keluarga dalam bisnis negara. PT RHP merupakan perusahaan milik salah satu anak Soeharto. George Junus Aditjondro dalam Korupsi Kepresidenan menyebut 32,5% saham PT RHP dimiliki kakak-beradik, Sigit Harjojudanto dan Tommy Soeharto. Mereka menjadi satu-satunya penyedia layanan telepon seluler kala itu plus teknologinya masih baru, selangitlah harganya. “Telkom tidak mengerjakan sendiri. Dulu sistemnya bagi hasil. Jadi yang menetapkan harga bukan negara atau Telkom tapi swasta yang pegang perangkat,” kata Koesmarihati, direktur Telkomsel 1995-1998, pada Historia. NMT merupakan teknologi keluaran pertama yang menggunakan frekuensi 450 MHz. Bentuknya masih amat besar sehingga tak mungkin masuk saku, melainkan harus ditenteng atau ditaruh di mobil. Komunikasi yang ditawarkan masih sebatas telepon lokal di sekitar Jakarta dan Jawa Barat. NMT juga belum bisa untuk mengirim pesan digital. Bentuk ponsel NMT Pada 1991, Telkom kembali bekerjasama dengan perusahaan swasta untuk mengeluarkan telepon seluler dengan teknologi lebih baru, Advanced Mobile Phone System (AMPS). Sistem transmisi AMPS masih analog seperti NMT, tapi sinyalnya sudah digital dan frekuensinya jauh lebih tinggi, yakni 800-900 MHz sehingga makin minim gangguan. AMPS dikenal juga sebagai teknologi seluler generasi pertama (1G). Fungsi AMPS hampir sama seperti NMT, hanya saja perangkatnya lebih kecil, sekira 40cm. Perangkat yang dipakai tidak lagi Ericsson seperti era NMT, melainkan Motorolla. Jika dibandingkan dengan ponsel jaman sekarang, ukurannya jauh lebih besar. Saking besarnya, Koesmarihati sempat berkelakar kalau para perempuan Hongkong suka dengan ukuran ponsel AMPS karena bisa untuk memukul penjahat di tempat umum. “Telepon seluler yang AMPS itu juga besar sekali, sebesar sepatu,” kata Koesmarihati sambil terkekeh. Untuk mewujudkan teknologi ini, Garuda Sugardo dalam Telkomsel in First Era menyebut, Telkom menjalin kerjasama dengan pihak swasta. Ada tiga perusahaan yang memegang lisensi untuk mengeluarkan ponsel AMPS: PT Elektrindo Nusantara (EN), melayani wilayah Sumatera Utara, Jakarta, Jawa Barat, dan Sulawesi Selatan; PT Centralindo Panca Sakti (CPS), menangani wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur; dan PT Telekomindo Prima Bakti, melayani Sumatera Selatan, Bali, dan Kalimantan. Telkom duduk sebagai badan penyelenggara, sementara pihak swasta sebagai penyedia produk ponsel AMPS. Dari kerjasama ini Telkom mendapat jatah bagi hasil sebanyak 25-30% dari total keuntungan. Sementara EN, perusahaan milik Bambang Trihatmodjo, mendapat 70% dari keuntungan bisnis ini. “Harga AMPS bisa sampai 15-18 juta di waktu itu. Orang biasa nggak bisa beli, hanya bos-bos dan menteri saja yang punya. Jumlahnya juga terbatas,” kata Garuda.

  • Status Cagar Budaya untuk Planetarium dan Observatorium Jakarta

    PLANETARIUM dan Observatorium Jakarta berdiri di atas lahan bekas milik pelukis terkenal Raden Saleh (1814—1880). Dia memiliki tanah luas di Cikini, Batavia, dan menghibahkan sebagian untuk pengembangan dunia ilmu pengetahuan flora dan fauna. Berdirilah kebun tanaman dan binatang pertama di Hindia Belanda.

  • Membentuk Tentara Rakyat

    SEJAK kaum bersenjata datang dari arah Jakarta pada awal 1946, Karawang  yang tenteram berubah menjadi rusuh: perkelahian dan bentrok terjadi di mana-mana. Menurut Telan (91), biasanya mereka bertikai gara-gara masalah kecil. Misalnya satu kelompok lasykar tidak mau bayar makanan di sebuah restoran, lalu pemilik restoran itu lapor ke pihak kelompok bersenjata lainnya. “Ya jadilah kemudian tawuran pakai peluru,”ujar mantan anggota lasykar di Karawang itu. Soal itu dibenarkan oleh M. Kharis Suhud. Sebagai eks kombatan di Resimen Cikampek, ia menjadi saksi bagaimana dominannya kaum bersenjata di Karawang  beberapa bulan setelah Indonesia merdeka. “Terutama sebuah lasykar yang hampir tiap waktu melakukan pamer kekuatan dengan senjata lengkap di kota sambil menyanyikan lagu-lagu menyeramkan seperti lagu “Darah Rakyat” ,“tulis Kharis dalam sebuah tulisannya berjudul Sekilas Pengabdian Resimen Cikampek dalam Perang Kemerdekaan. Lasykar yang dimaksud oleh Kharis adalah LRDR (Lasjkar Rakjat Djakarta Raja). Itu adalah nama sebuah milisi yang mengklaim sebagai kekuatan bersenjata pendukung ide-ide Tan Malaka. Saat hijrah ke Karawang, LRDR kemudian berubah menjadi LRDB (Lasjkar Rakjat Djawa Barat). Sejak itu pula, Lasjkar Rakjat (sebutan populis untuk LRDB) menyatakan diri  sebagai bagian dari Partai Rakjat (kemudian berfusi menjadi Partai Murba). Selanjutnya Lasjkar Rakjat (LR), membangun organ-organ serupa di berbagai kota dan provinsi lainnya. Organ Revolusiener Usai kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Sukarno-Hatta, kebutuhan akan suatu organ militer sangat tinggi di kalangan pemuda Indonesia. Pada 1 September 1945, para aktivis Menteng 31 (salah satu kelompok pemuda radikal di Jakarta) memang berhasil mendirikan API (Angkatan Pemoeda Indonesia), namun organ tersebut dirasakakan belum mencukupi. “Dalam situasi kita belum punya tentara, saat itu kami bertanya-tanya: dengan apa bayi Republik ini bisa kita bela?”ujar A.M. Hanafi (salah satu tokoh terkemuka Menteng 31) dalam Menggugat Kudeta Jenderal Soeharto. Bersama dua tokoh Menteng 31 lainnya (Chaerul Saleh dan Pandu Kartawiguna), Hanafi kemudian menghadap Menteri Penerangan Amir Sjarifoeddin. Mereka lantas menyampaikan ide-ide mereka tentang sebuah organisasi tentara yang revolusiener dan bisa bertahan lama untuk menghadapi Belanda. Amir menganggukan kepala. Maka pada 5 Oktober 1945, berdirilah BKR (Badan Keamanan Rakjat). “Namun secara jujur kami harus mengakui kurang puas sebab yang kami inginkan adalah suatu tentara resmi bukan sekadar badan keamanan,”ungkap Hanafi. Untuk mengisi “kekosongan”  belum adanya suatu bentuk organisasi tentara resmi, maka pada 22 November 1945, para aktivis Menteng 31 berinisiatif  mengumpulkan sejumlah organ bersenjata (diantaranya: Angkatan Pemoeda Indonesia pimpinan Bahar Rezak, Oesaha Pemoeda Indonesia pimpinan preman Pasar Senen Imam Sjafi’i dan Barisan Rakjat cabang Jakarta Timur pimpinan jagoan Klender Haji Darip) di Salemba, Jakarta Pusat. Mereka lantas sepakat membentuk LRDR, sebuah nama yang menurut A.M. Hanafi, terinspirasi dari konsep tentara rakyat ( peoples army ). LRDR terbukti menjadi kelompok yang cukup memusingkan militer Inggris di Jakarta.  Akibatnya, mereka melancarkan Operasi Sergap pada penghujung 1945, dan membuat LRDR terhalau ke arah Karawang.  Atas insiatif Maroeto Nitimihardjo, LRDR kemudian merubah namanya menjadi LRDB, mengingat posisi mereka waktu itu berada di Jawa Barat. “Karena sulit membedakan antara LRDR dengan LRDB, maka orang-orang hanya menyebut  kedua organ itu sebagai LR (Lasjkar Rakjat) saja,” ungkap Telan. Konflik di Karawang Di Karawang, LR mencitrakan dirinya sebagai  kekuatan yang tumbuh dari rahim rakyat. Selain berfungsi sebagai milisi, LR juga terbilang cukup aktif dalam upaya-upaya sosial seperti pemberantasan buta huruf dan pemberdayaan ekonomi rakyat lewat pembentukan BERI ( Badan Ekonomi Rakyat Indonesia). “Mereka pun memiliki sebuah surat kabar yang bernama Godam Djelata ” ujar Robert Cribb, penulis buku Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and The Indonesian Revolution 1945-1949. Namun sikap politik  organ bersenjata pimpinan Sutan Akbar yang menentang Perdana Menteri Sjahrir (karena memilih jalur kompromis dengan Belanda) itu menyebabkan mereka harus berhadapan langsung dengan kekuatan TRI (Tentara Republik Indonesia). Konflik antara dua kubu tersebut semakin mengerucut saat pada 27 November 1946, Komandan Resimen V  Tentara Republik Indonesia (TRI) Letnan Kolonel Soeroto Koento hilang tanpa jejak bersama kepala staf-nya Mayor Adel Sofyan. Tuduhan langsung ditujukan kepada LR sebagai pelaku penculikan itu. Namun dengan keras pihak LR menyangkalnya. Tanggal 18 Maret 1947, Presiden Sukarno mengumumkan penyatuan nasional antara kekuatan tentara resmi dengan kekuatan lasykar di bawah pimpinan Jenderal Soedirman demi menghadapi agresifitas Belanda. Seruan itu dalam kenyataannya hanya dituruti oleh 5 kelompok lasykar ( Barisan Pemberontak Rakjat Indonesia, Barisan Banteng Republik Indonesia, Pemoeda Sosialis Indonesia, Lasjkar Boeroeh dan Markas Poesat Hizboellah Sabilillah) dengan membentuk Detasemen Gerak Cepat bagi Badang Perjuangan yang berkedudukan di Karawang. LR sendiri menolak untuk bergabung dalam detasemen lintas lasykar itu. Penolakan itu membuat berang TRI. Dengan memakai dalih untuk menghukum pelaku penculikan Soeroto Koento dan Adel Sofyan, pada 17 April 1947, mereka menghajar tanpa ampun kedudukan LR di seluruh Karawang dan Bekasi. Akibatnya, ribuan anggota lasykar tersebut kocar kacir. Usai penumpasan itu, sebagian pimpinan LR melarikan diri ke “wilayah Belanda” atau bergabung dengan para kameradnya di Jawa Tengah.

  • Ketika Kakak Adik Berhadapan dalam Perang

    Pergolakan di daerah yang melahirkan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) dan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) pada 1958 telah menjadi perang saudara. Di antara prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan tentara Permesta yang saling bermusuhan terdapat orang-orang yang terikat tali persaudaraan. Oleh karena itu, terkadang ada anggota TNI yang membocorkan rencana operasi kepada penduduk untuk disampaikan kepada pasukan Permesta. Sehingga perperangan yang memakan korban dapat dihindari. “Mereka (penduduk) tidak ingin lagi melihat jatuhnya korban dalam perang saudara ini, baik dari kalangan penduduk maupun kalangan oknum TNI sendiri,” kata Phill M. Sulu, mantan anggota Permesta, dalam Permesta dalam Romantika, Kemelut & Misteri . Menurut Phill, malah ada anggota pasukan TNI baik yang reguler maupun TBO (tenaga bantuan operasi) yang sewaktu mengadakan operasi ke sarang pasukan Permesta sengaja melepaskan tembakan ke sasaran kosong, sekadar mengesankan sudah terjadi kontak senjata dengan pihak musuh. Ada juga yang rupanya sengaja membuang atau meninggalkan bekal berupa makanan kaleng atau rokok. Hal seperti ini sering terjadi karena adanya persaudaraan antara anggota TNI dan Permesta. “Misalnya, seorang adik berada di pihak pasukan Permesta, tapi sang kakak adalah anggota TNI. Tak heran jika keadaan ini menimbulkan berbagai cerita yang agak unik dan lucu di tengah peperangan,” kata Phill. Pada suatu waktu terjadi kontak senjata antara patroli TNI dengan pasukan Permesta. Di tengah berlangsungnya baku tembak yang sengit terdengar teriakan dari arah pasukan TNI, “ Andi…bapelaka bae bae ngana, jangan kana kita pe Bren… (Andi…tiarap yang benar, jangan sampai terkena tembakan Bren saya).” Bren adalah senapan mesin ringan. Rupanya anggota TNI itu mengetahui bahwa adiknya bernama Andi berada di antara pasukan Permesta yang sedang diserang. Demi keselamatan adiknya, dia berteriak memberi peringatan. Dari arah pasukan Permesta, tiba-tiba terdengar teriakan balasan. “ Io Alo…ngana lei, jaga bae bae ngana pe testa. Kita pelor Bar nyandak ada mata. (Iya Alo…kau juga, lindungi dahimu, karena peluru Barku tidak punya mata).” Maksudnya BAR (Browning Automatic Rifle), yaitu senapan mesin ringan. PRRI/Permesta berakhir pada 1961.

  • Selayang Pandang Lanud Atang

    PATAKA biru itu masih terpegang erat di tangan kirinya. Beberapa gompalan kecil tampak di “seragam” coverall oranyenya. Ia bergeming dalam sikap tegap meski rintik gerimis menaungi langit Semplak, Bogor siang itu. Patung di dekat gerbang masuk Pangkalan Udara TNI AU Atang Sendjaja (Lanud ATS) itu menyimpan banyak cerita mewakili para pengawal dirgantara kebanggaan Indonesia. “Ini ikon kita dan kita menyebutnya Tugu Airman karena di TNI AU kita semua adalah Airman. Tugu atau monumen peringatan terhadap tugas dan bakti kita untuk negara,” kata Kepala Dinas Personel Lanud ATS Letkol (Pnb) Sigit Gatot Prasetyo kepada Historia. Mengingat setiap hari diguyur hujan atau “ditembak” sinar matahari, sang Airman yang berdiri di atas dasar monumen persegi berbahan keramik itu tampak lusuh. Di empat sisi bagian dasar situs bernama resmi Monumen Perjuangan Satuan Helikopter TNI-AU itu juga tertera banyak cerita. “Memang kita sudah rencanakan untuk dipugar. Tugu Airman ini sudah ada sejak sekitar 1973. Tahun 1994, seperti yang dilihat di bagian ini, sempat diperbaiki,” lanjut Letkol Sigit saat menunjukkan keterangan sisi belakang. Di tiga sisi lainnya, tertera mars kesatuan, doa para senior, serta operasi-operasi yang pernah melibatkan TNI AU, mulai dari Operasi Perebutan Irian Barat hingga Operasi Patok Kaltim. Situs inilah yang jarang diketahui awam lantaran lebih populer sebagai “Monumen Heli Codot”. Kadispers Lanud ATS Letkol (Pnb) Sigit Gatot Prasetyo menunjukkan salah satu bagian Tugu Airman (Foto: Randy Wirayudha/Historia) “Heli Codot” yang dimaksud adalah Helikopter Sikorsky CH-34/S-58 yang pada September 2017 bertengger menggantikan Helikopter PZL SM-1. Pun begitu, dua situs itu bukan yang tertua atau peninggalan sejak pertamakali lanud ini dibangun di zaman Belanda. “Satu-satunya bangunan tua dan masih asli di Lanud ini adalah hanggar lengkung itu. Hanggar itu sudah ada sejak zaman Jepang (1942). Terlihat bedanya dari yang lain, satu-satunya hanggar berbentuk lengkung di sini. Masih dipakai untuk hanggar perbaikan heli,” tutur Letkol Sigit sambil menunjukkan hanggar yang dimaksud, berada di lingkungan Skadron Teknik (Skatek) 024. Basis Pertahanan Udara Belanda Sebelum menyandang nama Lanud Atang Sendjaja pada 1966, pangkalan ini hanya disebut Lanud Semplak. Dibangun pemerintah kolonial pada medio April 1931, lanud ini dibuat untuk keperluan basis ML-KNIL atau Angkatan Udara Tentara Kerajaan Hindia Belanda. “Pada awal April, pembangunan area landasan udara di Semplak akan dimulai oleh kesatuan Zeni yang lokasinya berjarak 8 km dari Buitenzorg (kini Bogor, red .). Lokasinya berupa persawahan dan akan diratakan setelah panen padi. Lanud itu tidak hanya cocok untuk pesawat-pesawat militer tapi juga pesawat besar KLM dengan dimensi (landasan pacu) 159x600 meter,” sebut suratkabar De Telegraaf , 12 Maret 1931. Semasa Perang Dunia II, Lanud Semplak jadi salah satu basis terpenting pertahanan udara sekutu di Pulau Jawa dalam menghadapi invasi Jepang. Tidak hanya selusin pesawat Brewster B-339 dari Vliegtuig Groep-5 (VLG-5/Skadron 5) Belanda yang bermarkas di Lanud Semplak namun juga 24 pesawat Lockheed Hudson dari Skadron 1 AU Australia. Lahan-lahan persawahan di Semplak, Buitenzorg (kini Bogor) pada masa kolonial sebelum pada 1931 berubah menjadi Lanud Semplak (Foto: KITLV) Mengutip P.C. Boer dalam The Loss of Java , Lanud Semplak direbut Jepang setelah sehari pertempuran udara pada 23 Februari 1942. “Sekitar pukul 11.30 dan 11.50, pesawat-pesawat Jepang menyerang Semplak dan Kemayoran dengan total 14 pesawat Ki-43 dari Skadron 59 dan 64 serta enam pesawat pembom Ki-48 yang berbasis di Palembang. Serangannya dilakukan saat cuaca buruk sehingga tak terdeteksi sama sekali,” ungkap Boer. Kembali ke Tangan Republik Tidak banyak catatan mengenai Lanud Semplak di zaman Jepang lantaran memang tak menjadi pusat kekuatan udaranya di masa Perang Pasifik. Terlebih, Bogor kala itu lebih dipusatkan menjadi tempat pendidikan perwira Pembela Tanah Air (PETA). Baru setelah pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), mengutip T. Djohan Basyar dalam Home of Chopper: Perjalanan Sejarah Pangkalan TNI AU Atang Sendjaja 1950-2003 , Lanud Semplak jadi salah satu “aset” TKR Divisi I (Bogor dan Banten). Lahan-lahan persawahan di Semplak, Buitenzorg (kini Bogor) pada masa kolonial sebelum pada 1931 berubah menjadi Lanud Semplak (Foto: KITLV) Hal itu membuat Lanud Semplak jadi sasaran penting pasukan Belanda. Per Juli 1947 usai melancarkan Agresi pertama, tulis WJAM de Kock dalam Commando Luchtvaarttroepen (LVT): Nederlands-Indië 1947-1950 , Lanud Semplak dikuasai Belanda bersamaan jatuhnya Jawa Barat. Pasca-Agresi Militer II, Desember 1948, kawasan lanud dijadikan markas dan asrama dua peleton LVT atau pasukan komando AU Belanda dengan tugas operasi penghalauan gerilyawan republik di Gunung Salak. Lanud Semplak baru murni milik Ibu Pertiwi pada 1950 pasca-Konferensi Meja Bundar (KMB), di mana semua pangkalan militer yang sebelumnya diduduki Belanda diserahkan ke Indonesia. “Khusus Lanud Semplak pada 20 Maret 1950 Belanda turut menyerahkan pesawat-pesawatnya dari jenis Auster Mark (III) dari Skadron 6 AU Belanda untuk dioperasikan AURI (kini TNI AU),” sambung Djohan Basyar. Setelah itu, lewat Pengumuman Kasau (Kepala Staf Angkatan Udara) bernomor 28/11/P/KS/51 tertanggal 21 Maret 1951 Lanud Semplak dijadikan markas Skadron Udara 4 –satuan AURI pertama di lanud tersebut degan tugas-tugas pengintaian dan perbantuan titik tembakan artileri Angkatan Darat. Kapten Udara Suhodo didapuk jadi komandan skadron pertamanya, sementara Letnan Udara I Dhumay Agam menjabat Danlanud pertamanya. Skadron 4 hanya berkiprah di Semplak sampai 1958. Sejak Maret 1963, PAU Semplak jadi markas baru Skadron 6. Skadron yang sebelumnya bernama Skadron Percobaan Helikopter ini sejak 1956 bermarkas di Lanud Andir (kini Lanud Husein Sastranegara). Seiring kedatangan banyak helikopter AURI dari Uni Soviet, Polandia, hingga Amerika Serikat pada 1958, nama Skadron Percobaan Helikopter diganti menjadi Skadron 6 pada 1961. PAU Semplak dalam perjalanannya tidak hanya jadi rumah Skadron 6, namun juga Skadron Teknik (Skatek) 6 dan Skadron Helikopter Mi-6 Persiapan. Menggemuknya unit-unit di PAU Semplak menuntut diadakannya satuan induk baru. Lahirlah Wing Operasi 004/Helikopter pimpinan Letkol Udara Suwoto Sukendar yang diresmikan Kasau Laksdya Udara Omar Dhani pada 25 Mei 1965. Wingops 004 juga membawahi Skadron 7 yang mengoperasikan heli-heli ringan macam Bell-47 hingga SM-1. Semua unit ditopang Skatek 6 yang pada 1966 berubah menjadi Skatek 024. Sementara, Skadron Helikopter Mi-6 Persiapan diubah menjadi Skadron 8. Satuan ini mewadahi lusinan heli angkut berat Mil Mi-6. ( Alutsista yang punya akhir tragis laikya KRI Irian milik ALRI ini akan dikisahkan di tulisan berikutnya) . Sejumlah kru salah satu heli TNI AU yang berinduk di Lanud ATS (Foto: Randy Wirayudha/Historia) Dalam perjalannnya, Wingops 004/Helikopter pernah dibekukan lewat Instruksi Kasau, Ins/03/III/1985 tertanggal 12 Maret 1985, seiring reorganisasi TNI AU. Satuan-satuan di dalamnya: Skadron 6, 7, dan 8 hanya dijadikan pelaksana operasi PAU yang kala itu sudah bertatus lanud tipe B. Pada 29 Februari 2000, Wingops 004 diaktifkan lagi dengan nama Wing 4 di bawah Komando Operasi I TNI AU. Bersamaan dengannya, Lanud ATS juga naik kelas menjadi lanud tipe A. Nama Atang Sendjaja sendiri resmi disandang pada 29 Juli 1966 ketika AURI mengganti nama PAU Semplak menjadi PAU Atang Sendjaja. Pemilihan nama Atang dilakukan untuk mengenang jasa-jasa Letkol (Anumerta) Atang Sendjaja yang meninggal saat membawa konvoi heli Mi-6 dari Tanjung Priok ke Lanud Halim Perdanakusuma. “Lanud ATS ini siklusnya sangat dinamis. Tidak hanya untuk perbantuan SAR dan bencana alam. Lanud ATS jadi satu-satunya lanud yang wilayah tugasnya punya dua objek vital nasional untuk diamankan. Satunya Istana Bogor dan satu lagi Istana Cipanas,” tandas Letkol (Pnb) Sigit.

  • Pembaruan di Mangkunegaran

    PENDOPO Ageng, kompleks Istana Pura Mangkunegaran. Atap limasnya yang luas dan tinggi seolah tak mengizinkan terik mentari memanasi para pengunjungnya. Dengan “tubuh” hanya berupa tiang-tiang, ia justru membiarkan hembusan angin memberi suasana adem kepada para pengunjung di siang 17 Maret 2019 yang terik itu. Baiknya fungsionalitas pendopo tak lepas dari “tangan dingin” Thomas Karsten. Arsitek Belanda kelahiran 1885 itu ditunjuk sahabatnya, Mangkunegara VII, untuk memugar langit-langit Pendopo Ageng dan sejumlah bangunan lain di Pura Mangkunegaran pada 1938. “Gagasannya datang dari Stutterheim ketika konsultasi dengan Karsten dan sang Pengeran. Stutterheim membuat dua foto lukisan pada langit-langit kayu yang ia lihat di Ceylon (Sri Langka), menyimbolkan planet-planet, meski di dalam foto terdapat sembilan planet (bukan delapan seperti yang direncanakan untuk hiasan langit-langit pendopo astana )," tulis Madelon Djajadiningrat dalam “Tidak Adakah yang Bisa Kita Perbuat dengan Cermin yang Buruk Itu?”, termuat dalam buku suntingan Peter JM Nas Masa Lalu dalam Masa Kini: Arsitektur di Indonesia . Bukan hal baru bagi Mangkunegaran memadukan nilai-nilai tradisional Jawa dengan Barat. Perpaduan itu terjadi baik dalam segi fisik bangunan-bangunan di keraton maupun dalam etiket dan nilai-nilai lain yang abstrak. Hal itu, menurut Wasino dalam Modernisasi di Jantung Budaya Jawa: Mangkunegaran 1896-1944 , dilakukan untuk menunjukkan prestise Mangkunegaran sebagai praja otonom yang berbeda dari Kasunanan Surakarta. “Perubahan dilakukan oleh pihak istana Mangkunegaran, terutama sejak Mangkunegara VI naik takhta dan dilanjutkan oleh Mangkunegara VII. Pembaruan-pembaruan dalam etiket ini melahirkan tradisi baru yang berbeda dengan tradisi Mataram Islam dan tradisi Kasunanan yang merupakan induk dari praja Mangkunegaran,” tulis Wasino . Mangkunegara VI menjadi penguasa Mangkunegaran yang mempelopori banyak pembaruan dan modernisasi itu. Salah satu hal terpenting yang diperbarui olehnya adalah tradisi penghormatan. Bila sebelumnya seorang putra sentana (keluarga raja) dan narapraja yang akan menghadap raja (Mangkunegara), atau pejabat rendah menghadap pejabat yang lebih tinggi, wajib berjalan dengan berjongkok lalu duduk bersila di lantai dan melakukan sembah setiap kali mau bicara, hal itu tak lagi berlaku sejak Mangkunegara VI menyederhanakannya lewat kebijakan Pranatan Mangkunegaran No. 20/Q, dikeluarkan pada 17 Agustus 1903. “Para putra sentana, narapraja, dan legiun agar dalam menghadap Mangkunegaran tidak perlu duduk bersila, tetapi diperbolehkan langsung menghadap asal berlaku sopan. Apabila disediakan kursi, mereka boleh langsung duduk di kursi. Tradisi duduk di kursi ini sebagai gejala baru dalam tata krama kerajaan dan menunjukkan adanya proses demokratisasi etiket,” tulis Wasino.  Penyederhanaan juga terjadi pada tata cara sembah. Sebelumnya, sembah dilakukan setiap akan bicara kepada raja. Mangkunegara VI menyederhanakannya menjadi hanya dilakukan ketika menghadap, saat akan memulai pembicaraan, dan menjelang pulang. Apabila berpapasan dengan raja di tempat yang terlalu sempit untuk berjongkok, para abdi dalem diperintahkan memberi penghormatan cukup dengan berdiri. Para abdi dalem yang sedang duduk di kursi saat seba (menghadap raja), juga diperintahkan hanya berdiri dalam memberi penghormatan pada raja. Tata cara sembah yang lama dianggap Mangkunegara VI kurang praktis dan mengganggu pembicaraan. Mangkunegara VI lebih jauh memperbarui pakaian kebesaran putra sentana dan abdi dalem narapraja. Pakaian kebesaran yang terdiri dari kampuh , dodot , kuluk , udet , wedung , kain penutup dada, dan perhiasan disederhanakan dengan cara mengganti kampuh dengan bebet yang berwarna mirip kampuh. Kampuh dianggapnya boros kain dan waktu pemakaian. Untuk alasan praktis itu pula kuluk dihilangkan –namun tanpa pengganti– dari daftar pakaian kebesaran. Sementara, udeng (tutup kepala) diganti dengan iket agar para priayi bisa langsung menggunakannya tanpa perlu repot membuatnya terlebih dulu.  Aturan tersebut disempurnakan lagi oleh Mangkunegara VII, pengganti Mangkunegara VI. Mangkunegara VII bahkan membuatkan pakaian dinas masing-masing tingkatan anggota narapraja berikut aturan-aturannya. Dengan begitu, pakaian dinas priayi Mangkunegaran jadi lebih praktis dan efisien. Di kemudian hari, penyederhanaan itu menjadi ciri Mangkunegaran. “Orang luar dapat mudah mengenal bahwa seseorang merupakan abdi dalem narapraja Mangkunegaran dilihat dari cara berpakaiannya. Identitas seperti ini menimbulkan rasa bangga bagi orang Mangkunegaran,” ujar RM Sarwanto Wiryo Saputro, wedana Karanganyar era Mangkunegara VII, dikutip Wasino. Mangkunegara sendiri mengenakan pakaian dinas berbeda saat berada di dalam atau di luar istana. “Dalam acara-acara kenegaraan yang berhubungan dengan orang luar, ia lebih sering menggunakan pakaian militer. Penggunaan pakaian militer oleh Mangkunegaran ini memiliki makna politik. Dengan menggunakan pakaian militer, kedudukan Mangkunegaran sama dengan kedudukan Sunan sehingga boleh duduk sepadan dengan Sunan dan residen,” tulis Wasino.   Selain pakaian, pembaruan oleh Mangkunegara VI dilakukan terhadap penampilan para anggota narapraja lewat potongan rambut. Mangkunegara VI menganggap rambut panjang diikat yang ditradisikan pada para sentana maupun abdi dalem narapraja kurang praktis. Dia lalu memotong pendek rambutnya. Banyak anggota sentana dan narapraja lalu mengikutinya atas kemauan sendiri, bukan perintah. Mangkunegara VI hanya memerintahkan potong rambut pendek kepada para prajurit Legiun Mangkunegaran. Selain perintah potong rambut, para prajurit juga dilarang menggunakan destar. Sebagai gantinya, mereka dilengkapi dengan sepatu lars sebagaimana tentara Belanda atau tentara negara Eropa lain. “Ini sangat ditekankan oleh Mangkunegara VI karena ia bercita-cita agar tentaranya dapat dipandang sejajar dengan tentara Hindia Belanda melalui pakaian yang dikenakan,” tulis Wasino.

bottom of page