Hasil pencarian
9748 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Sukarno Sebagai Seorang Arsitek
KISAH-kisah Sukarno dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia barangkali sudah banyak diulas. Nama besar sebagai proklamator dan presiden pertama Indonesia juga sudah tak diragukan lagi. Namun, yang tak banyak menjadi sorotan, bagaimana jejak Bung Karno sebagai seorang arsitek. Dalam seri diskusi daring yang diadakan Historia.ID untuk memperingati Bulan Bung Karno, Selasa, 2 Juni 2020, arsitek Yuke Ardhiati memaparkan beberapa karya-karya arsitektur Sukarno yang dibuat ketika masih menjadi mahasiswa hingga setelah menjabat sebagai presiden. Gagasan serta konsep arsitektur Sukarno juga bisa ditemui dalam banyak bangunan di Indonesia.
- Arsitek Indonesia Pertama yang Sejajar Eropa
TAK gampang bagi seseorang menyandang sebutan arsitek. Harus kuliah di jurusan arsitektur lalu, setelah lulus, magang enam bulan hingga satu tahun di biro arsitek. Yang terpenting lagi, tak putus membuat karya rancang bangun. “Arsitek adalah profesi. Seorang lulusan sekolah arsitektur di perguruan tinggi tidak otomatis disebut arsitek. Ia harus berpraktik merancang bangunan baru bisa disebut arsitek,” ujar Tjahjono Raharjo, ahli tata ruang Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Semarang, kepada Historia . Namun, di masa lalu, ada seorang arsitek yang tak menempuh sekolah formal jurusan arsitek tetapi diakui sebagai arsitek bumiputera pertama. Dia adalah Mas Aboekassan Atmodirono.
- Setelah Multatuli Mudik
TAK begitu sulit menemukan bangunan tempat Multatuli alias Eduard Douwes Dekker pernah tinggal di Brussel, Belgia. Ia terletak pada sebuah sudut dari jalan bersimpang lima, tepat di seberang gereja katedral. Pintu masuk ke dalam gedung terimpit di antara dua kafe dan toko roti. Sebuah plakat peringatan terpasang di atas pintu, ditulis dalam dua bahasa: Belanda dan Prancis. “Pada September–Oktober 1859 Multatuli (Edward Douwes Dekker) menulis adikaryanya Max Havelaar di penginapan “Au Prince Belge” yang sampai 1876, dengan alamat Bergstraat No 80, berada di bangunan ini.” Demikian bunyi plakat tersebut. Dalam secarik surat bertitimangsa 22 September 1859 yang ditujukan kepada istrinya, Everdine Huberte van Wijnbergen, Multatuli menyebutkan bahwa dia sedang menulis sebuah naskah buku di losmen tersebut. Pada 13 Oktober tahun yang sama, buku tersebut selesai ditulis. Namun ada dua versi lain tentang berapa lama naskah Max Havelaar ditulis: mulai dua minggu sampai tiga bulan.
- When Telenovela Stars Visited Indonesia
ANDITYA Restu Aji still remembers what happened a quarter of a century ago. That afternoon, her mother picked her up after school at Marsudarini Elementary School in Yogyakarta. Their plan to go home suddenly changed after the mother of one of Anditya's friends invited them to the town square. “Let's go to the Post Office and BNI (Yogyakarta Kilometer Zero Point). Paulina is being paraded to Alun-Alun Lor (the North Square)!” she said to Anditya's mother enthusiastically, as recounted by Anditya to Historia.ID . The people of Yogyakarta flocked to the town square that day. They wanted to see Gabriela “Gaby” Spanic. Gaby's name skyrocketed in the Indonesian public eye after her success starring in the Mexican telenovela La Usurpadora , which aired on TPI in 1999. Gaby Spanic, as reported by Bali Post on April 2, 2000, held a fan meeting and a parade around the city of Yogyakarta on April 2-3, 2000, which coincided with Sunday and Monday. Her visit on the second day was crowded because school children also welcomed her.
- Lebaran Afdol dengan Dodol
MEMASUKI Ramadan, Syarifah Hairiyah alias Ibu Yuyun sibuk memenuhi pesanan. "Pesanan bisa meningkat hingga lima kali lipat dari hari biasa," ujarnya. Mendapatkan keahlian secara turun-temurun, Yuyun memulai usaha dodol Betawi di Pejaten Timur, Jakarta Selatan, sejak 1980. Sindhunata dalam Burung-burung Bundaran HI menulis dodol Betawi bukan sekadar campuran gula Jawa dan ketan. Di baliknya terkandung makna gotong royong, rukun kampung, dan minal aidin walfaizin .
- Seruan Sukarno di Hari Lebaran
HARI Raya Idul Fitri tahun 1962 jatuh pada 8 Maret. Saat itu Presiden Sukarno merayakannya dengan menggelar salat Id berjemaah di lapangan antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Usai kegiatan tersebut, ribuan massa masih tetap berkumpul. Tidak hanya rakyat biasa, berbagai duta besar negara asing juga turut hadir. Tidak ketinggalan juru warta yang bertugas meliput. Mereka semua ingin mendengar amanat Bung Karno. Tradisi pada hari lebaran di Indonesia identik dengan saling bermaafan. Begitu pula dengan Bung Karno. Dia memulai pidatonya dengan permohonan maaf. Katanya, “Kepada siapapun saja yang saya kenal dan yang mengenal kepada saya. Minta dimaafi kesalahan-kesalahan saya, yang saya ketahui dan yang saya tidak ketahui."
- Lebaran dan Natalan Terakhir Bersama Wiji Thukul
FAJAR Merah terduduk di sebuah lahan berumput. Meski badannya menghadap ke kamera yang dipasang Yuda Kurniawan sang sutradara, matanya seringkali melengos ke kanan-kiri. Butuh satu helaan nafas panjang baginya sebelum bisa menjawab satu pertanyaan sulit yang dilontarkan Yuda. “Sejauh apa aku mengenal bapakku? Gimana ya,” cetus Fajar berupaya menjawab pertanyaan tentang Wiji Thukul ayahnya. Scene ini jadi salah satu inti cerita dokumenter Nyanyian Akar Rumput karya Yuda Kurniawan, yang diputar sejumlah bioskop mulai 16 Januari 2020. Kegagapan Fajar menggambarkan Wiji Thukul bisa dimaklumi lantaran sang ayah tak bisa berperan sebagai ayah sebagaimana umumnya di sebuah keluarga akibat aktivitasnya sebagai aktivis HAM di masa Orde Baru yang anti-kritik. Fajar baru berusia lima tahun kala Wiji Thukul jadi korban penghilangan paksa pasca-Tragedi Mei 1998.
- Berlebaran di Tahanan
LEBARAN tahun 1966. Mia Bustam, perempuan pelukis Lekra yang jadi tahanan politik (tapol) 1965, sibuk bukan kepalang begitu gerbang Vredeburg dibuka. Besek-besek mengalir deras tak henti-henti. Ada yang berisi lontong, ketupat, jadah, gula, dan makanan tahan lama seperti serundeng dan abon. Besek-besek itu merupakan bingkisan lebaran yang dikirim keluarga kepada para tapol. Bingkisan itu menjadi satu-satunya tali penghubung antara keluarga dan tapol di hari raya lantaran bertemu para tapol tak diperbolehkan.
- Keindahan dalam Kartu Lebaran
INGATKAH kapan Anda pertama kali menerima kartu ucapan selamat Idulfitri atau Lebaran? Apakah kartu itu masih tersimpan dengan baik? Percayalah, semakin tua usia kartu Lebaran Anda, maka nilainya akan semakin tinggi. “Kalau nuruti pasar lelang untuk kartu Lebaran dan kartu/surat sejenisnya setara dengan harga kartu pos yang sezaman. Kartu pos, kartu lebaran, foto lawas hitam putih, benda cetak lembaran menurut katalog lelang Java Auction sudah terbilang 6 sampai 7 digit. Artinya ratusan ribu hingga dua jutaan rupiah per biji. Tergantung dari kelangkaannya,” ujar Mikke Susanto, staf pengajar ISI Yogyakarta yang suka mengoleksi benda seni kepada Historia .
- Pertempuran Usai Lebaran
AWAL Agustus 1948. Menjelang datangnya waktu lebaran, para prajurit Divisi Siliwangi dari Batalyon Rukman mulai resah. Alih-alih mendapat gaji, mereka tak melihat tanda-tanda pemerintah akan memberikan tunjangan hari raya. Sementara itu istri dan anak di asrama penampungan mulai merengek-rengek. “Itu menjadikan kami tak fokus lagi menjalankan tugas sebagai tentara,” ungkap Soempena (92), mantan kopral di Batalyon Rukman. Sesampainya di wilayah Jawa Tengah, kondisi ekonomi para prajurit Siliwangi dan keluarga yang turut berangkat, hampir bisa dikatakan sehari-harinya berlangsung morat-marit. Jangankan hidup layak, untuk sekadar tidur pun mereka harus berdesak-desakan di asrama-asrama sempit dan kotor.
- Lebaran di Mata Kolonialis
“Tahun Baru Pribumi ( Inlands Nieuwjaar ),” demikian orang Eropa dan pejabat Belanda di Hindia Belanda menyebut hari Lebaran. Mereka juga menganggap bulan Syawal selayaknya bulan Januari. Bulan penuh perayaan. Orang Eropa dan pejabat Belanda di Hindia Belanda merasakan suasana berbeda selama hari Lebaran dan beberapa hari setelahnya dalam bulan Syawal. Sebab orang-orang tempatan berkegiatan dan berpenampilan secara khusus. Saat itulah orang muda dan kaum bawahan memberikan selamat kepada orang tua dan kaum atasannya. Kemudian mereka saling bermaafan atas silap kata dan perilaku, sembari bikin hajatan bareng.
- Lebaran Bersama Gajah Oling
DIIRINGI dentuman musik, puluhan peragawan dan peragawati melenggang di catwalk . Para model membawakan busana batik hasil kolaborasi puluhan desainer lokal dan nasional dengan para pembatik lokal Banyuwangi. Karya-karya menarik disuguhkan, dari yang bergaya kasual, busana kerja, hingga busana pesta. Ribuan penonton antusias menyaksikan pagelaran puncak Banyuwangi Batik Festival 2019, yang digelar di Gelanggang Seni Budaya, Taman Blambangan, Banyuwangi, akhir November tahun lalu. Salah satu yang ditunggu adalah penampilan karya-karya Samuel Wattimena, perancang busana nasional yang dikenal suka mengangkat kain Nusantara. Samuel membawakan 10 desain rancangannya yang memadukan kain Nusantara seperti lurik dan tenun dengan batik motif blarak sempal khas Banyuwangi.






















