Hasil pencarian
9748 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Lebaran Bersama Gajah Oling
DIIRINGI dentuman musik, puluhan peragawan dan peragawati melenggang di catwalk . Para model membawakan busana batik hasil kolaborasi puluhan desainer lokal dan nasional dengan para pembatik lokal Banyuwangi. Karya-karya menarik disuguhkan, dari yang bergaya kasual, busana kerja, hingga busana pesta. Ribuan penonton antusias menyaksikan pagelaran puncak Banyuwangi Batik Festival 2019, yang digelar di Gelanggang Seni Budaya, Taman Blambangan, Banyuwangi, akhir November tahun lalu. Salah satu yang ditunggu adalah penampilan karya-karya Samuel Wattimena, perancang busana nasional yang dikenal suka mengangkat kain Nusantara. Samuel membawakan 10 desain rancangannya yang memadukan kain Nusantara seperti lurik dan tenun dengan batik motif blarak sempal khas Banyuwangi.
- Merayakan Lebaran di Masa Lampau
LEBARAN telah tiba. Orang-orang mengisi lebaran dengan beragam cara perilaku. Mereka beranjangsana ke kerabat dan tetangga, berekreasi ke tempat wisata, membagi amplop berisi uang, atau sekadar berkirim ucapan selamat lebaran dan permohonan maaf melalui gawai elektronik. Sebagian merupakan tradisi turun-temurun dari lebaran masa lampau. Berikut ini cara orang merayakan lebaran sekira setengah hingga satu abad lampau di beragam kota.
- Bung Hatta Bebas di Hari Lebaran
SETELAH menghadiri Konferensi Liga Internasional Wanita, Mohammad Hatta kembali ke Belanda via Paris. Dia tinggal beberapa hari di Paris. Sesampainya di Den Haag, pada 23 September 1927, dua polisi datang membawa surat perintah penahanan. Hatta dibawa ke penjara di Casiusstraat. Bersamanya ditahan Nazir Pamontjak, Ali Sastroamidjojo, dan Abdul Madjid Djojodiningrat. Mestinya tujuh orang yang ditahan, namun Ahmad Soebardjo, Gatot Tarumihardjo, dan Arnold Mononutu berada di luar Belanda sehingga tak bisa ditahan. Keesokan harinya, Mr. Duys, seorang advokat dan anggota Tweede Kamer (parlemen Belanda) dari SDAP (Partai Buruh Sosial Demokrat), bersama temannya, Mr. Mobach, mendatangi Hatta di penjara dan menawarkan pembelaan dengan cuma-cuma.
- Nyanyi Sumbang dari Palembang
ABDUL Malik bukanlah orang terkenal. Dia bukan berasal dari keluarga raden, sekalipun berada di lingkaran anggota-anggota keluarga terkemuka yang punya kaitan dengan Kesultanan Palembang. Dia seorang guru HIS (Hollandsch Inlandsche School) atau sekolah dasar Belanda untuk bumiputra, yang kemudian jadi kepala bagian pendidikan dan kebudayaan Keresidenan Palembang. Namun, ketika Belanda mendorong berdirinya negara federal Sumatra Selatan, namanya tiba-tiba mencuat. “Recomba membutuhkan orang Palembang semacam dia yang dapat ‘dipakai’ untuk menghadapi tokoh-tokoh Republik di Palembang yang menurut Belanda didominasi ‘elemen asing’,” tulis Mestika Zed dalam Kepialangan Politik dan Revolusi: Palembang 1900–1950 .
- Jenderal Pertama di Sumatra Selatan
MULANYA Raden Mas Panji Soehardjo Hardjowardojo (1900–1969) merupakan perwira dalam Legiun Mangkunegaran. Ketika berseteru dengan Loem Tjien Goen di pengadilan Malang atas tuduhan pemalsuan, ia sudah berpangkat kapten. Demikian diberitakan koran De Locomotief , 2 Februari 1937. Soehardjo, disebut koran Soerabaijasch Handelsblad , 7 Juni 1937, juga aktif dalam organisasi bernama Menoedjoe Membrantas Penganggoer Pemoeda (MMPP) yang mengadakan pelatihan pertanian di Jawa Timur. Di antara hasil pelatihan itu ada yang diarahkan ke Lampung sebagai daerah transmigrasi. Soehardjo juga akhirnya pindah ke Lampung yang sudah banyak didiami transmigran Jawa yang mencari hidup.
- Partai Pamungkas Tan Malaka
DALAM pengap penjara Magelang, pada 31 Juli 1948, Tan Malaka menulis surat buat kawan-kawannya mengenai pandangan dan langkah Partai Rakyat. Dia menyebut menulis surat itu dengan “tergopoh-gopoh. Kalau-kalau merpati hinggap!” Tapi sejatinya surat itu ditulis beserta “kata sambutan” untuk memenuhi permintaan dari pengurus Partai Rakyat yang akan menggelar kongres pertama. Tan menulis, kendati berdiri di atas lapangan (basis sosial) yang lebih luas ketimbang Partai Buruh Merdeka (PBM) dan Angkatan Communis Muda (Acoma), Partai Rakyat haruslah memakai pedoman yang jauh dan jelas. Tan mengusulkan kerjasama erat di antara partai-partai itu yang menentukan dan membatasi daerah kerja. Bahkan, dia mengusulkan kemungkinan fusi di antara semua partai murba umum seperti Partai Rakyat, Partai Rakyat Djelata, dan Partai Wanita Rakyat.
- Soesalit Djojoadhiningrat, Anak Kartini Jenderal Kiri
R.A. Kartini meninggal dunia pada 17 September 1904, empat hari setelah melahirkan putra pertamanya, Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat –nama terakhir dari ayahnya, Raden Adipati Djojoadhiningrat, bupati Rembang. Soesalit diasuh oleh neneknya, M.A. Ngasirah, ibu Kartini. Soesalit sempat menjadi asisten wedana di Banyumas sebelum akhirnya meniti karier di kemiliteran. Pada masa pendudukan Jepang, Soesalit mengikuti pendidikan sekolah militer ( Renseitai ) di Magelang dan melanjutkan ke Pembela Tanah Air (Peta). Dia kemudian menjadi komandan batalion ( daidancho ) Peta di Banyumas II (Sumpiuh) pada 1943-1945. Setelah Indonesia merdeka, Kolonel Soesalit menjadi Komandan Divisi III/Yogyakarta. Pengangkatan ini sebenarnya tidak disetujui oleh Panglima Besar Jenderal Soedirman dan Jenderal Oerip Soemohardjo. Namun, Soesalit dipilih oleh Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin.
- Snouck Hurgronje di Jeddah dan Makkah
SNOUCK Hurgronje merupakan tokoh penting dalam pengembangan ilmu orientalisme, sebuah studi yang menggali gagasan dan cara pandang orang-orang di dunia Timur seperti Asia, Afrika Utara, dan Islam. Bahkan, dalam sejarah kolonialisme Belanda di Indonesia, Snouck kerap dipandang sebagai tokoh kunci kemenangan Belanda dalam Perang Aceh yang berlangsung selama bertahun-tahun dari akhir abad ke-19 hingga awal abad 20. Snouck Hurgronje lahir di Oosterhout, Belanda pada 8 Februari 1857. Di tahun 1874, dia belajar teologi di Fakultas Sastra Universitas Leiden, kemudian berpetualang ke Makkah, dan menulis disertasi tentang festival Makkah, Het Mekkaansche Fest . Ketertarikan Snouck terhadap dunia Timur, khususnya Islam, tak dapat dilepaskan dari latar belakang keluarganya. Jurnalis Philip Droge mencatat dalam Pelgrim: Leven en Reizen van Christiaan Snouck Hurgronje Wetenshcapper, Spion, Avonturer , ada faktor menarik yang memengaruhi perubahan haluan pandangan Snouck semasa menempuh pendidikan di Leiden, di mana dia kemudian mempelajari bahasa Arab dengan penekanan pada agama Islam. Faktor menarik itu berkaitan dengan kakek dari pihak ibunya, Jan Scharp, yang menjadi salah satu orang Belanda pertama yang melakukan studi mendalam tentang Islam pada awal abad ke-19.
- Kesedihan di Hari Lebaran
SUARA takbir menggema. Para tahanan politik (tapol) muslim di Kamp Plantungan sibuk menyiapkan zakat fitrah untuk penduduk sekitar kamp. Meski dalam kondisi serba kekurangan, mereka masih sanggup untuk berzakat. Mereka mengumpulkannya dari penjualan barang-barang produksi selama di kamp. Kamp Plantungan memang dibuat agar para tapol bisa memproduksi kebutuhan sendiri. Lahannya yang luas di lereng Dieng membuatnya mudah ditanami. Itu dilakukan karena pemerintah kekurangan dana usai transisi kekuasaan sementara jumlah tahanan terlalu banyak akibat penangkapan membabi buta.
- Sindiran Lagu Hari Lebaran
IDUL FITRI tiba. Ada banyak lagu yang mengetengahkan suasana Idul Fitri tercipta. Misalnya saja lagu “Lebaran” (1959) yang dilantunkan Oslan Husein, “Lebaran Sebentar Lagi” (1984) karya Bimbo, dan “Selamat Lebaran” (2006) oleh grup musik Ungu. Namun, lagu “Hari Lebaran” karya Ismail Marzuki barangkali yang paling populer terdengar dan banyak didaur ulang para musisi. Bahkan, pada 1977 seniman Malaysia, P. Ramlee, menyanyikan lagu ini dengan penyesuaian lirik berbahasa Melayu. Terakhir, lagu yang diciptakan Ismail pada 1950 itu dibawakan grup musik Sentimental Moods. Grup musik ini kembali membawakan versi pertama lagu “Hari Lebaran” untuk menyambut Idul Fitri 2018.
- Menentukan Hari Lebaran pada Masa Kolonial
BULAN puasa hampir pergi. Lebaran sebentar lagi datang. Sebagian umat Islam menunggu pengumuman resmi Pemerintah tentang kapan pastinya hari Lebaran. Baik melalui televisi, radio, ataupun internet. Lainnya mengikuti keputusan ormas dan tarekat masing-masing. Bagaimanakah umat Islam pada masa kolonial mengetahui hari Lebaran? Snouck Hurgonje, penasihat Urusan Bahasa-Bahasa Timur dan Hukum Islam di Hindia Belanda pada 1897, mengemukakan dua cara umat Islam dalam menentukan akhir Ramadan sekaligus awal bulan Syawal (Lebaran). “Yang pertama, selain berdasarkan perhitungan penanggalan, juga didasarkan pada penglihatan pancaindera terhadap bulan baru (hilal, red. ). Dan metode ini menurut orang-orang Mohammadan (umat Islam, red. ) yang agak terpelajar di Nusantara ini berlaku sebagai satu-satunya yang benar,” tulis Snouck dalam Nasihat-nasihat C. Snouck Hurgronje Semasa Kepegawaiannya kepada Pemerintah Hindia Belanda 1889-1936 Jilid VIII.
- Ledakan Mercon Blanggur saat Ramadan dan Lebaran
SAAT ini, kita dapat dengan mudah mengetahui waktu berbuka. Petujuk waktu seperti jam maupun pemberitahuan waktu berbuka datang dari berbagai saluran, dari media massa sampai masjid-masjid terdekat. Namun, orang Indonesia zaman dulu sangat menanti suara ledakan sebagai tanda berbuka puasa. Ledakan itu dari mecon besar di masjid-masjid. R.D. Sadulah dalam roman Zuster Hayati menulis bahwa mengambil hasil kebudayaan bangsa lain yang berguna bagi kita diperbolehkan, “seperti mengambil hikmat dari kebudayaan mesiu Cina dalam bentuk mercon blanggur, itu boleh kita manfaatkan. Mercon blanggur sangat berguna bagi orang yang berbuka puasa di bulan Ramadan, sebagai tanda berbuka puasa. Tidak semua orang mempunyai jam atau alat pengukur waktu yang lain.”






















