Hasil pencarian
9739 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kontestasi Narasi Historis di Balik Patung Edward Colston
SEMENJAK patung Edward Colston di Bristol, Inggris digulingkan oleh massa Black Lives Matter pada 7 Juni 2020, perdebatan tentang patut-tidaknya seorang pedagang budak diabadikan dalam monumen kota kembali mengemuka. Kesangsian akan kedermawanan Colston di Bristol sudah muncul sejak 1920-an, namun terus diabaikan. Baru pada 1990-an ketika sejarawan University of West England Profesor Madge Dresser berbicara tentang sosok Colston dan keterlibatannya dalam perdagangan budak, perdebatan kembali memanas. “Kalau orang kulit putih melihat patung Edward Colston dengan rasa hormat, orang-orang kulit hitam di Inggris, saya menduga melihatnya sebagai masa lalu yang menyakitkan,” kata sejarawan UGM Budiawan pada Historia. Budiawan menambahkan, dalam narasi sejarah resmi yang dominan di Inggris, Edward Colston digambarkan sebagai pebisnis galangan kapal yang menyumbangkan kekayaannya untuk yayasan filantropi. Dari sudut pandang orang kulit putih Inggris, namanya dikenang sebagai sosok dermawan. Namun ada sisi lain yang dilupakan orang kulit putih Inggris, bahwa Colston bukan hanya menjalankan bisnis galangan kapal tapi juga jual-beli budak. Dialah yang mengirimkan orang-orang Afrika ke Amerika sebagai budak. Baca juga: Robohnya Patung Edward Colston Si Tokoh Perbudakan dan Rasisme Keterlibatan Colston dalam perdagangan budak dimulai sejak dia bergabung dengan Royal African Company (RAC) pada 26 Maret 1680. Kariernya terus meningkat hingga menjadi wakil gubernur RAC pada 1689-90. Pertemuan-pertemuan perusahaan yang membahas barang yang diperlukan untuk membeli budak di Afrika, upah untuk kapten kapal, pengiriman kapal-kapal perusahaan, kualitas gula yang dikirim ke London dari India Barat, serta kondisi Afrika Barat dan Karibia terus dihadirinya. Jabatan penting di RAC itu melibatkan Colston secara langsung dalam pengiriman 19.000 hingga 84.000 orang Afrika yang terdiri atas anak-anak, perempuan, dan pria ke Amerika. Budak yang dibeli di Afrika Barat itu kemudian dicap dengan inisial perusahaan RAC sebelum dikirim. Mereka kemudian digiring ke kapal, berangkat menghadapi mimpi buruknya. Selain diikat ramai-ramai, para budak di kapal juga tidak diberi akses untuk menggunakan kakus sehingga ratusan budak terpaksa berbaring di atas kotoran mereka sendiri. Kondisi tak manusiawi itu menimbulkan keputusasaan dan penyakit. Diperkirakan ada 10 hingga 20 persen budak mati dalam perjalanan selama enam hingga delapan minggu ke Amerika entah karena penyakit, bunuh diri, atau bahkan dibunuh. Dari penderitaan yang menyakitkan itulah Colston memperoleh kekayaannya. Tetapi elit Victoria mengabaikan ini. Bagi mereka, Colston hanyalah seorang dermawan dan tokoh terhormat. Baca juga: Memaknai Perobohan Patung Sebagian dari kekayaan Colston yang diperoleh dari perdagangan budak ia sumbangkan untuk pembangunan kota Bristol, khususnya dalam bidang pendidikan. Namun, hubungan Colston dengan perdagangan budak membuat citranya sebagai dermawan menjadi kontroversial. Terlebih, kedermawanan Colston tidak menyasar orang-orang kulit hitam, yang makin mengukuhkan dugaan rasisme dan penindasan. Fakta historis itulah yang mendorong orang kulit hitam Inggris mengkritik pemujaan pada sosok Colston. Bagi mereka sanjungan tanpa mengindahkan fakta keterlibatan Colston dalam perdagangan budak menunjukkan perayaan kewarganegaraan yang tidak kritis. Penghargaan pada tokoh yang memperbudak leluhur suatu kelompok tidak hanya menghina, tetapi juga meminggirkan mereka dari rasa memiliki kota. Mereka melihatnya sebagai wujud ketidakadilan historis. “Jelas itu satu sisi gelap dalam sejarah kemanusiaan. Kalau kita sudah menggunakan perspektif hak asasi manusia, bagaimanapun perbudakan itu adalah sisi gelap dalam sejarah,” kata Budiawan. Keberadaan patung sebagai pengingat jasa Colston kemudian mendapat kecaman. Madge Dresser dalam tulisannya “Obliteration, contextualisation or ‘guerrilla memorialisation’? Edward Colston’s statue reconsidered” yang dimuat dalam buku kumpulan tulisan Slavery: Memory and Afterlives, menyebut pada 1998 citra Colston sebagai dermawan dipertanyakan dalam pameran besar pertama tentang Bristol dan perbudakan. Keesokan harinya, patung Colston dipulas dengan cat merah bertuliskan “F—k off slave trader”. Baca juga: Coreng Moreng Anugerah Nasional Vandalisme itu menyulut kemarahan penduduk Kota Bristol. Penduduk pro-Colston berargumen bahwa jasa Colston dalam pendirian banyak sekolah dan gereja merupakan bagian dari identitas kota. Ada banyak pengingat tentang keberadaan putra daerah Bristol yang banyak berjasa pada kotanya itu. Selain patung, ada nama jalan, gedung konser, dan dua sekolah di Bristol. Namun, banyak juga kelompok yang mempertanyakan kepatutan patung Colston. Dengan kondisi Bristol yang jauh berbeda dari dua abad lalu, yakni semakin banyak pendatang berpendidikan, orang-orang berpikiran bebas, dan penduduk asal Karibia dan Afrika, ide untuk meniadakan patung Colston mengemuka. Ray Sefia, satu-satunya anggota berkulit hitam di Dewan Bristol, mengatakan bahwa memiliki monumen publik untuk menghormati Colston sebenarnya tidak pantas, ibarat memiliki patung Hitler. Menurut Madge Dresser, polemik yang makin memanas ini di satu sisi mencerminkan perpecahan bersejarah antara faksi pendukung perbudakan dan anti-perbudakan pada dua abad sebelumnya. Baca juga: Perdebatan di Kongres Perempuan Perdebatan tentang patung Colston terus berlanjut hingga awal abad ke-21. Para seniman turut andil dalam upaya memprotes keberadaan patung Colston. Pada peringatan dua abad penghapusan perdagangan budak di Inggris tahun 2007, ditemukan tetesan darah di alas patung Edward Colston. Sebagian orang meyakini bahwa tetesan darah itu merupakan ulah Banksy. Tahun berikutnya, seniman Graeme Evelyn Morton mengajukan izin untuk memasang instalasi seni berjudul "The Two Coins". Instalasi itu rencananya berupa: Patung Colston dimasukkan ke kotak dan kemudian kotak itu dijadikan layar untuk pemutaran film tentang perbudakan. Namun, pemerintah Kota Bristol tak memberi izin pementasan ini. Dalam debat tahunan yang diselenggarakan Bristol Institute for Research in the Humanities and Arts pada Mei 2016, kontroversi seputar patung Colston kembali ditinjau. BBCRadio Bristol juga memantik pembicaraan dengan para pendengarnya seputar layak-tidaknya keberadaan patung Colston dan bagaimana mereka memaknai warisannya. “Jawabannya menggambarkan bagaimana masalah sosial saat ini membentuk persepsi orang tentang masa lalu,” tulis Olivette Otele dalam “Slavery and visual memory: what Britain can learn from France”. Baca juga: Monumen yang Ternoda Olivette menambahkan, ada masalah rasial dalam masyarakat Bristol yang diekspresikan lewat istilah "kita" yang sering bertentangan dengan "mereka". Dalam hal ini, ada anggapan bahwa "warga" Bristol tidak termasuk keturunan orang-orang yang diperbudak. Perdebatan ini kembali mengemuka setelah patung Edward Colston diceburkan ke sungai pelabuhan, 7 Juni lalu. Para pendemo yang menentang rasialisme dengan merobohkan patung jelas mempunyai cara pandang berbeda dengan narasi sejarah dominan atas tokoh yang dipatungkan. “Jadi mereka melihat Edward Colston punya sisi gelap, sebagai pedagang budak, sebagai pelaku kekerasan, dan penyebab penderitaan pada orang kulit hitam,” kata Budiawan. Perobohan patung kemudian bisa dimaknai sebagai puncak pertentangan wacana yang sudah lama berlangsung. Publik pun Inggris kembali terbelah, antara yang pro-penggulingan patung dan yang menganggapnya sebagai aksi kriminal. Perdana Menteri Boris Johnson merupakan penentang perobohan patung, sementara Walikota Bristol Marvin Rees, seperti dikabarkan BBC , tidak merasa "kehilangan" setelah patung kontroversial itu dibuang ke sungai pelabuhan oleh para pengunjuk rasa. Baca juga: Jalan Panjang Mewujudkan Monumen Nasional Empat hari setelah diceburkan, patung tersebut diangkat dan dirawat tim konservasi Dewan Kota Bristol. Rencananya patung tersebut akan disimpan di museum kota dan grafiti yang disemprotkan pada patung akan tetap dilestarikan sebagai pengingat akan adanya protes tentang keberadaan patung tersebut di jantung Kota Bristol. “Perobohan patung Edward Colston bisa diartikan sebagai upaya pembentukan wacana tandingan akan tokoh yang dipatungkan. Bila dalam narasi sejarah resmi yang dominan Edward Colston dianggap sebagai pahlawan, bagi para pendemo Black Lives Matter, Edward Colston adalah pedagang budak yang mencederai kemanusiaan,” kata Budiawan.
- Bom Siliwangi di Bumi Pasundan
SUATU hari di bulan Mei 1948. Senja mulai memasuki Curug Sawer yang dingin. Suara air terjun bergemuruh memerangi sunyi di kawasan yang termasuk wilayah Cianjur Selatan itu. Diapit tebing tinggi dan jurang menganga, iring-iringan konvoi militer Belanda merayap di jalan sempit. Beberapa serdadu bule di dalamnya nampak tegang, sebagian di antara mereka menghisap rokok untuk mengusir rasa takut. Senjata-senjata mereka siap ditembakkan. Begitu jip pengawal iring-iringan lewat, rentetan tembakan berhamburan dari atas tebing-tebing tinggi. Granat-granat melayang dibarengi teriakan nyaring yang membuat suasana semakin mencekam. Di balik sebuah pohon besar, Kopral BM. Permana menembakan Stengun-nya. Begitu juga dengan pimpinan pasukan, Letnan Djadja Djamhari tak henti-henti menembakan pistol seraya memberi komando. Tak terasa setengah jam pun berlalu. “Mereka akhirnya lari dengan meninggalkan sebuah truk yang berisi sekitar 10 prajurit KL yang langsung kami hantam tanpa ada yang tersisa,” kenang lelaki kelahiran Kebumen, 94 tahun lalu itu. BM. Permana adalah seorang prajurit muda dari Kompi IV Batalyon 2 Brigade Infanteri 2 Soerjakantjana Divisi Siliwangi. Berbeda dengan sebagian besar kawan-kawannya yang dikirim untuk berhijrah ke Yogyakarta akibat pemberlakuan Perjanjian Renville saat itu, ia justru ditugaskan untuk tetap bertahan di wilayah Cianjur Selatan. “Tentu saja kami kami tidak menggunakan nama Siliwangi lagi, tapi sebagai Kesatuan Patriot Bangsa. Kalau Belanda sih menyebut kami sebagai “gerombolan liar,” kata BM. Permana. Letnan M. Adnan dari Brigade Infanteri 2 (Brigif 2) Soerjakantjana menguatkan pernyataan BM. Permana. Ia masih ingat, pada hari-hari menjelang hijrah, dirinya dipanggil oleh Letnan Kolonel A.E.Kawilarang (Komandan Brigif 2 Soerjakantjana) ke Sukabumi. “Saat bertemu Pak Kawilarang itulah, saya diperintahkan untuk tinggal di Jawa Barat untuk terus menghadapi tentara Belanda,” ujar M. Adnan seperti tertulis dalam dokumen Dewan Harian Cabang Angkatan 45 Cianjur berjudul Beberapa Catatan Tentang Sejarah Perjuangan Rakyat Cianjur dalam Merebut dan Mempertahankan Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia 1942-1949. Namun ada dua syarat yang wajib ditaati oleh pasukan-pasukan Siliwangi yang diperintahkan bertahan itu. Pertama, jika tertangkap oleh militer Belanda jangan pernah mengaku sebagai bagian dari Divisi Siliwangi dan saat beraksi dilarang keras menggunakan nama kesatuan asli. Kedua, seluruh anggota Divisi Siliwangi yang ditanam di Jawa Barat dilarang keras masuk ke wilayah-wilayah Republik Indonesia versi Perjanjian Renville. Jika ternyata tetap ada yang melarikan diri ke wilayah-wilayah tersebut, maka mereka akan langsung ditembak mati tanpa proses pengadilan. Soal “penanaman” pasukan itu juga tercatat dalam Siliwangi dari Masa ke Masa (ditulis oleh Sedjarah Militer Daerah Militer VI Siliwangi/Sendam VI Siliwangi pada 1968), hasil kesepakatan Perjanjian Renville memang diterima dengan setengah hati oleh pihak tentara. Kendati pada akhirnya menerima keputusan untuk mengosongkan Jawa Barat, namun diam-diam Panglima Besar Jenderal Soedirman telah menugaskan Letnan Kolonel Soetoko untuk tetap mengkoordinasikan perlawanan bersenjata di tanah Pasundan. “Mereka ibarat bom waktu yang sengaja ditinggal oleh Siliwangi di bumi Pasundan,”ujar sejarawan Rushdy Hoesein. Letnan Kolonel Soetoko kemudian membentuk Brigade Tjitaroem, sebagai induk pasukan dari beberapa kesatuan tempur “bekas” Divisi Siliwangi. Soetoko sendiri akhirnya tertangkap Belanda pada Agustus 1948. Di bawah kendali Brigade Tjitaroem, ada beberapa batalyon yang tidak ikut hijrah ke Yogyakarta dan memang secara sengaja “ditanam” di daerah pendudukan. “Yang saya ingat di antaranya adalah pasukan Mayor Soegih Arto di Cililin, pasukan Letnan Effendi di Gentong-Tasikmalaya, pasukan Letnan Tjoetjoe di Gunung Cikuray-Galunggung, pasukan Letnan Zakaria di Bekasi, dan sebagian anggota Brigade Infanteri Soerjakantjana di Cianjur-Sukabumi,” kata Letnan Kolonel (Purn) Eddie Soekardi, sesepuh Divisi Siliwangi. Aksi rahasia yang dilakukan oleh TNI itu bukannya tidak tercium oleh pihak militer Belanda. Guna mengantisipasi aksi-aksi yang dijalankan oleh “pasukan liar” tersebut, pihak militer Belanda memutuskan untuk menjalankan operasi-operasi pembersihan di daerah-daerah yang ditinggalkan oleh pasukan Siliwangi. Salah satu kawasan di Jawa Barat yang dinilai “corak republik”nya masih kental adalah Sukabumi. Di daerah itu, propaganda-propaganda pro-republik terus berlangsung. Bahkan, penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda juga sering terjadi, kadang-kadang secara sporadis. Kekacauan-kekacauan itu tentu saja menimbulkan kemarahan pihak militer Belanda. Menurut salah seorang saksi sejarah bernama Atjep Abidin (93), tidak jarang usai terjadi penyerangan terhadap pos-pos militer Belanda, operasi pembersihan langsung dilakukan beberapa jam kemudian. “Rakyat sipil dikumpulkan. Setelah dintimidasi, beberapa kaum lelaki dari mereka diambil dan dimasukkan ke penjara militer Van Delden, yang terletak di Gunung Puyuh, Sukabumi” ujar anggota Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Takokak ini. Menurut Atjep, operasi pembersihan yang paling sering dilakukan yaitu di kawasan Nyalindung dan Sagaranten. Kedua tempat tersebut memang dikenal sebagai basis fanatik kaum Republik. Selanjutnya dari Van Delden, secara berkala, orang-orang yang dinilai militer Belanda sebagai kaum Republik dibawa ke wilayah Takokak, nama suatu kawasan yang terletak kira-kira 25 km di utara Sukabumi. Sejak zaman Hindia Belanda, kawasan itu merupakan daerah perkebunan teh yang memiliki kontur pegunungan serta dipenuhi hutan dan jurang. Salah seorang mantan gerilyawan di Sukabumi, Yusuf Soepardi (95) mengakui bahwa saat itu nama Takokak sebagai tempat eksekusi mati kaum Republik, sudah menjadi rahasia umum di kalangan masyarakat Sukabumi dan Cianjur. “Kalau ada orang Sukabumi atau Cianjur dibawa oleh tentara Belanda ke sana, ya jangan berharap ia bisa pulang lagi ke rumah…” ujar veteran yang di masa-masa tuanya pernah menjadi kuli panggul di Pasar Induk Cianjur tersebut. Sepeninggal Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah, sesungguhnya tak ada perubahan situasi yang berarti di Jawa Barat. Pertempuran tetap berlangsung dan penyerangan pos-pos militer Belanda tetap terjadi. Itu dilakukan baik oleh pasukan Siliwangi yang sengaja ditinggalkan di Jawa Barat, maupun oleh pasukan Tentara Islam Indonesia (TII) yang secara resmi menentang Perjanjian Renville. Kondisi tanpa stabilitas tersebut berlangsung hingga “para maung” Siliwangi pulang kembali ke Jawa Barat menyusul hancurnya kesepakatan Renville pada 19 Desember 1948. Rakyat Pasundan memang tak pernah ikhlas berada di bawah kungkungan Belanda.
- Cara Istana Menjamu Tamunya Kala Indonesia Masih “Balita”
Setelah hampir tanpa kegiatan resmi akibat pandemi COVIC-19, Istana Kepresidenan kembali “buka” pada 4 Juni 2020 dengan menerapkan new normal . Keputusan itu dikemukakan Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono. Menurutnya, sebagaimana diberitakan kompas . com , 4 Juni 2020, “Yang pertama adalah kita lihat arahan Bapak Presiden bahwa kita memang sudah mulai harus kegiatan sehari-hari dengan melakukan new normal .” Heru melanjutkan, sejumlah prosedur baru juga diterapkan di lingkungan seperti penyediaan sabun dan hand sanitizer di beberapa titik. New normal juga mengubah banyak kebiasaan yang sudah terjadi sebelumnya. “Adaptasi kebiasaan baru juga diterapkan dalam kegiatan-kegiatan presiden di Istana. Untuk acara pelantikan, misalnya, pejabat yang hadir dibatasi antara 5 hingga 7 orang,” sambungnya. Upaya tersebut merupakan langkah antisipatif pihak Istana dengan organisasi yang sudah mapan. Di masa Indonesia masih “balita”, kebijakan-kebijakan yang diambil Istana amat spontan karena memang belum ada institusi resmi yang menanganinya. Protokoler acara-acara kenegaraan pun setali tiga uang. “Tamu-tamu pemerintah ditempatkan di satu rumah dan tiga kali dalam sehari seorang pembantu istana mengisi mobil Cadillac presiden dengan makanan untuk tamu-tamu terhormat itu. Begini cara kami bekerja di hari-hari ini. Kami tidak mengetahui sama sekali tentang tata-cara penerimaan tamu,” kata Presiden Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Dalam serba ketidaktahuan dan keterbatasan itu, Sukarno banyak meminta tolong Husein Mutahar, komposer yang pernah ditugaskan Sukarno menyelamatkan Sang Saka Merah Putih. Sebagai bekas pelaut, Mutahar dianggap Sukarno lebih tahu soal urusan etiket resepsi resmi. Maka jadilah dia kepala rumah tangga Istana tak resmi. Berbekal pengetahuan seadanya, Mutahar mengomandani rumah tangga Istana yang dalam keadaan nol itu sebisanya. Perangkat makan, misalnya, baru diperoleh Istana setelah Mutahar meminjam barang pecah-belah plus sendok-garpu perak dari Toko Oen. Taplak meja juga diperoleh Istana setelah Mutahar berkeliling ke tetangga untuk meminjam taplak-taplak yang mereka punya. Pengaturan taplak pun dilakukan sekehendak Mutahar. Itu sempat mengundang pertanyaan dari Ibu Negara Fatmawati mengapa hanya taplak putih yang digunakan. “Putih itu suci. Ia melambangkan kemurnian. Kebersihan. Kekudusan. Lagi pula taplak meja putih itulah yang bisa banyak kita peroleh,” kata Mutahar menjawab pertanyaan Fatmawati, dikutip Cindy Adams. Apa yang dikatakan Mutahar bahwa putih melambangkan kemurnian itu pun benar-benar terjadi dalam tindakan. Ketika Jenderal Rumulo dari Filipina menjadi tamu negara, Istana hanya menyuguhkan air putih sebagai minuman sang tamu lantaran hanya itu yang dimiliki. Mutahar tak pernah malu dengan kondisi Istana presidennya dalam menjamu tamu-tamu negara. Akalnya tak pernah habis untuk menyiasati keterbatasan kemampuan maupun pengetahuan dalam menjamu tamu-tamu negara. “Panjang akal” itu pula yang dilakukan Mutahar ketika presiden menanyakannya bagaimana cara mengatur duduk ketika presiden menerima tamu. “Menjawablah ‘Pembesar Protokol dengan tenang, ‘Presiden duduk di kepala meja menghadap ke beranda. Di kepala meja di depannya, Ketua KNI. Pembesar tentara di sebelah kiri. Di sebelah kanan anggota Kabinet’,” kata Mutahar menjelaskan. Lalu ketika ditanya lebih lanjut di mana para tamu terhormat didudukkan, Mutahar menjawab, “di antara itu.” Meski terkesan “semau gue”, Mutahar tak mengecewakan Sukarno lantaran selalu punya akal untuk mendapat solusi soal perjamuan resmi. Ketika kehabisan akal, Mutahar pergi ke keraton untuk mencontoh tata-cara penerimaan tamu adat Jawa. Tata-cara keraton tentu tak mentah-mentah ditelan karena presiden dan pejabat tinggi lain selalu menentang sistem feodal. “Apa yang tidak bisa dicaplok sama sekali dari cara ini lalu diubah, ditambah, dikurangi dan diperbaharui sehingga ia cocok untuk Republik,” kata Sukarno. Kebijakan “semau gue” Mutahar pernah juga membuat presiden amat nurut seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Itu terjadi ketika acara jamuan makan terhadap korps diplomatik yang dihelat di ruang resepsi Istana. Sebelum acara, Mutahar mengatur presiden duduk membelakangi dinding sehingga bisa melihat Mutahar yang akan berdiri di sudut pintu pertama sebelah kanan. Di posisi yang hanya akan bisa dilihat oleh presiden itu Mutahar akan memberi aba-aba. “Supaya pesta ini berjalan lancar, saya telah mengatur caranya dengan baik. Kalau saya menggerakkan jari, itu berarti Bung berdiri. Kalau mengedipkan mata, Bung memperkenalkan tamu terhormat itu. saya menganggukkan kepala sebagai tanda dimulainya toast untuk keselamatan,” kata Mutahar mengarahkan presiden yang seratus persen menurutinya. Maka ketika resepsi dimulai, ia berjalan lancar. Presiden pun keasyikan berbincang dengan para tamunya sambil sebentar-sebentar menatap Mutahar yang stand-by di tempatnya. “Sepanjang malam berlangsungnya jamuan itu Mutahar memberikan tanda-tanda. Aku begitu asyik dengan pembicaraan politik, sehingga aku bahkan tidak menyadari bahwa aku secara membabi-buta mengikuti cara seorang ahli etiket yang tidak mempelajari huruf dari orang buta,” kata Sukarno. “Mutahar memutuskan secara serampangan menurut pikirannya sendiri. Ia merasa terhibur oleh karena betapapun juga ternyata tak seorang pun yang lebih mengetahui daripada dia sendiri."
- Manusia Pertama di Jawa Mungkin bukan dari Afrika
Penemuan fosil di Bumiayu dan Sangiran pada 2019 menggoyahkan teori manusia pertama di Jawa berasal dari Afrika. Di Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, peneliti dari Balai Arkeologi Yogyakarta men emukan fosil tulang Homo erectus berusia 1,8 juta tahun. Di Sangiran, Kecamatan Sragen, Jawa Tengah, peneliti dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menemukan fragmen tulang manusia berusia 1,7juta tahun. Padahal, teori Out of Africa menyebut Homo erectus pertama kali keluar dari Afrika pada 1,8juta tahun lalu. Harry Widianto, arkeolog Balai Arkeologi Yogyakarta yang memimpin kedua penelitian itu, menjelaskan bahwa Homo erectus adalah spesies pertama manusia dari genus Homo yang mampu keluar dari benua Afrika. Populasi manusia ini bermigrasi ke iklim dingin (Eropa dan China), iklim sedang (Asia depan), dan tiba di Pulau Jawa yang beriklim panas pada 1,5juta tahun lalu. "Jangan dibayangkan ini berjalan selama 300ribu tahun. Tapi ini adalah migrasi populasi sehingga saling sambung menyambung sampai ke Pulau Jawa pada 1,5juta tahun lalu," kata Harry dalam diskusi daring via zoom yang diadakan Balai Arkeologi Yogyakarta, Rabu, 18 Juni 2020. Baca juga: Awal Kedatangan Manusia ke Nusantara Penelitian terdahulu menemukan fosil tertua di Jawa di Situs Sangiran. Usianya lebih muda 300ribu tahun dari penemuan terbaru di Bumiayu. "Kalau Erectus keluar dari Afrika 1,8juta tahun lalu sampai di Jawa 1,5juta tahun, okelah. Tapi ini sudah ada di Jawa, di Bumiayu 1,8juta tahun dan di Sangiran 1,7juta tahun," kata Harry. Menurut Harry tak mungkin Homo erectus di Jawa bermigrasi dari Afrika, sedangkan pada saat yang sama hadir di kedua tempat itu. "Ada jarak terbentang sangat jauh dan itu membutuhkan waktu sangat lama untuk bermigrasi (dari Afrika ke Jawa, red. )," kata Harry. "Jadi, apakah teori Out of Africa masih bisa dipertahankan?" Bukti Tertua di Jawa Bagian Barat Bumiayu termasuk wilayah di Jawa yang pertama kali terangkat. Pada 2,4juta tahun lalu, Pulau Jawa yang tampak hanya Jawa bagian barat. Sedangkan Jawa bagian tengah dan timur masih terendam di bawah permukaan laut. "Semakin ke timur semakin miring, pengangkatan Pulau Jawa tidak serentak tapi dimulai dari barat ke timur," kata Harry. Bumiayu yang telah terangkat sebagai daratan merupakan pantai timur Jawa Barat. Karenanya fauna di kawasan itu hingga sekarang yang paling tua. "Baru pada 1,65juta tahun lalu Pulau Jawa terangkat total," kata Harry. Baca juga: Bukti Terbaru Asal-Usul Manusia Modern Bagaimana manusia sampai ke Jawa sementara wilayahnya dikelilingi lautan? Rupanya mereka sampai ke Jawa dengan memanfaatkan jembatan darat yang tercipta selama zaman es. "Pada sekira 2 juta tahun terakhir terjadi beberapa kali zaman es. Paling tidak ada empat kali zaman es," kata Harry. Ketika zaman es terjadi permukaan laut turun rata-rata 100 meter. Sedangkan kedalaman laut di antara Jawa dan Kalimantan hanya 40meter dan di antara Sumatra dan Kalimantan hanya 60 meter. Begitupula di Laut China Selatan. Ketika laut turun sampai 100 meter, maka lautan dangkal itu menjadi sirna dan terbentuklah paparan sunda. "Ketika zaman es itulah terjadi migrasi, dari Afrika sampai ke Jawa cukup jalan kaki," kataHarry. Menurut teori Out of Africa kedatangan manusia ke Pulau Jawa melewati lembah antara Sumatra dan Kalimantan yang kini sudah tenggelam. Dari lembah itu kemudian masuk ke wilayah Sangiran di Jawa Tengah dan berikutnya ke arah timur. "Makanya mewarnai penemuan di Trinil, Perning, Kedungbrubus di Jawa Timur. Jadi usia di sana lebih muda daripada yang ditemukan di Sangiran," kata Harry. Baca juga: Tak Ada Ras, Semua Manusia dari Afrika Selama ini diketahui manusia tertua ada di Sangiran dari 1,5juta tahun lalu. "Ini adalah manusia tertua Homo erectus . Jadi, sangat logis dari Afrika 1,8 juta tahun dan di Sangiran 1,5juta tahu," kata Harry. Tapi kemudian ditemukan situs purba di Jawa bagian barat, seperti di Semedo, Kabupaten Tegal, dan Rancah, Ciamis, Jawa Barat. Di Semedo ditemukan bukti atap tengkorak Homo erectus berusia 0,7juta tahun. Sedangkan penggalian Puslit Arkenas di Rancah menemukan gigi seri manusia bagian bawah berusia 660ribu–516 ribu tahun. "Ini membuktikan adanya sebaran Homo erectus di Jawa Barat tak hanya dari Sangiran ke timur," kata Harry. Menurut Harry, mengingat Jawa Barat adalah wilayah yang pertama kali terangkat, mungkin saja fauna atau manusia pertama berasal dari Jawa Barat. "Siapa tahu. Pandangan peneliti perlu ke bagian barat jangan ke timur terus," ujar Harry. Pemikiran itu menurut Harry semakin logis ketika di daerah Bumiayu (Cisaat dan Kali Glagah) pada 17 Juni–4 Juli 2019 ditemukan beberapa fosil fauna tertua. Kawasan yang pernah diteliti pada 1920–1930 ini menyimpan beberapa fosil spesies fauna yang usianya sekira 1,67 juta–2 juta tahun. Lebih tua dibandingkan fauna-fauna di kawasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hewan-hewan yang hidup pada masa itu misalnya Sinomastodon (gajah purba), Hexaprotodon (kuda air), Geochelon (kura-kura raksasa), Bubalus paleo karabau (kerbau), dan Bos bubalus (banteng). Baca juga: Manusia Indonesia adalah Campuran Beragam Genetika Lalu ada lagi temuan dua bonggol tulang paha manusia. "Ini lakonnya. Proses memfosil yang sangat lanjut, warnanya menghitam dan sangat keras. Sejenis tingkat fosilisasinya dengan temuan sisa-sisa fauna di Kali Glagah yang berumur sampai 2juta tahun," kata Harry. Untuk sementara, perkiraan usia fosil Homo erectus di Bumiayu memang masih menggunakan sistem pertanggalan relatif. Namun, setelah dianalisis kandungan yang menempel pada fosil lalu dikorelasikan dengan stratigrafi (susunan lapisan tanah di dalam kulit bumi), para peneliti menyimpulkan fosil itu pernah terendapkan pada lapisan tanah berusia 1,8juta tahun. "Ini sangat jelas karena satu-satunya lapisan napal carbonatan hanya ada pada formasi Kali Glagah ini dan ini sudah terdeteksi secara absolut yaitu 1,8juta tahun," kata Harry. Hal baru lainnya yang ditemukan adalah artefak paleolitik. Pengerjaan alat batu itu telah menunjukkan teknologi yang sangat maju. "Ini penemuan artefak paleolitik pertama di Bumiayu," kata Harry. Baca juga: Bukti Leluhur Austronesia Tertua di Taiwan dan Cina Selatan Sementara itu, lewat penelitian terbaru di daerah Ngampon dan Mlandingan, Desa Sangiran, Kecamatan Sragen p ada 12–27 Agustus 2019, ditemukan kalau fosil manusia tertua di sana rupanya lebih tua dari dugaan sebelumnya, 1,5juta tahun. Temuan barunya adalah sebuah fragmen tulang pinggul manusia yang berada pada lapisan endapan lempung hitam formasi Pucangan yang menunjukkan usia 1,7juta tahun. "Jadi, di Jawa ada Semedo 0,7juta tahun, ada Bumiayu 1,8juta tahun, ada Rancah 0,6juta tahun, Sangiran bukan lagi 1,5juta tahun tapi sudah ditempatkan ke 1,7juta tahun,” kata Harry. Jika melihat persebaran yang lebih luas, penemuan terbaru fosil Homo erectus di Dminasi (Georgia) menunjukkan usia 1,8juta tahun, di Mohui Cave (China) juga 1,8juta tahun, dan di Longgupo (China) pun 1,8juta tahun. "Apakah teori Out of Africa masih dipertahankan atau kita ganti ke teori multiregional bahwa di berbagai belahan bumi ini sanggup memunculkan manusia di masing-masing lokasi dan berevolusi secara lokal? Kita masih perlu data-data untuk mengidentifikasi manusia yang berusia 1,8juta tahun,” kata Harry.
- Balonku dan Rahasia Penciptaan Lagu Anak-anak
Meletus balon hijau. Dor! Hatiku sangat kacau. Balonku tinggal empat. Ku pegang erat-erat. Sepenggal lirik lagu anak-anak berjudul “Balonku”ini biasanya tak pernah jadi masalah. Sampai seorang Zainal Abidin berupaya menguliti maksud tersembunyi lirik “Balonku”. Zainal mengatakan lirik “Balonku”memuat kebencian terhadap Islam. Sebab balon hijau yang meletus. Dan warna hijau lekat dengan Islam. Tak hanya “ Balonku ” . Zainal juga mengupas lagu “Naik-Naik ke Puncak Gunung”. Dalam ceramahnya yang bisa dilihat di Youtube , dia menduga lagu itu menyebarkan ajaran Kristen. Kiri kanan Ku lihat banyak pohon cemara. Itu sepenggal lirik Kristenisasi versi Zainal. Cemara identik dengan hari Natal. Dan Natal adalah harinya umat Kristiani. Benarkah lagu anak-anak punya muatan kebencian dan mengajarkan iman agama tertentu? Sepanjang sejarahnya, lagu anak-anak memang punya maksud, pesan, dan fungsi tertentu. Dahulu lagu anak-anak termasuk dalam nyanyian rakyat. Artinya lagu itu menjadi milik bersama, penciptanya sering tak dikenal (anonim), dan dinyanyikan secara luas tanpa memperhitungkan latar belakang agama masyarakatnya. Baca juga: Masa Lampau Anak-anak Fungsi nyanyian rakyat ada banyak: relaksasi (menenangkan), edukatif (mendidik), dan rekreatif (menghibur). “Nyanyian rakyat yang berfungsi demikian itu adalah nyanyian jenaka, nyanyian untuk mengiringi permainan kanak-kanak, dan nyanyian Nina Bobo,” catat James Dananjaya dalam Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Orang menyebut lagu anak-anak semacam itu sebagai lagu anak-anak tradisional. Liriknya sederhana, pendek, dan mudah dihafal. Ini berlaku umum di hampir tiap tempat. Lirik lagu anak-anak bisa berbeda dalam penceritaannya. Misalnya penggambaran orang sekitar, bentang alam, dan hewan-hewannya. Bergantung dari daerah mana lagu-lagu anak tradisional itu berasal. Lagu Belanda dan Jepang Keberadaan orang Belanda di Hindia menambah khazanah lagu anak-anak. Orang Belanda memperkenalkan lagu anak-anak melalui sekolah sejak awal abad ke-20. “Lagu-lagu ini sudah tentu terutama ditujukan bagi anak-anak Belanda dan pada umumnya melukiskan alam dan perasaan bangsa Belanda pula,” ungkap J.A. Dungga dan L. Manik dalam “Lagu Anak-Anak” termuat di Musik di Indonesia dan Beberapa Persoalannja , terbitan 1952. Dungga dan Manik menambahkan, sekalipun lirik lagu itu terasa janggal bagi orang dewasa anak negeri, tidak demikian bagi anak-anak Hindia berkulit cokelat. “Anak-anak kita menyanyikan lagu-lagu seperti Daar is mijn vaderland , Limburg dierbaar oord (Di sanalah negeriku, tanah tercinta di Limburg, red .), sebagai lagu-lagunya sendiri.” Terlepas dari perkembangan rasa kebangsaan, Dungga dan Manik mengakui lagu-lagu anak berbahasa Belanda di sekolah mempunyai estetika cukup tinggi dan tahan uji. Para guru menyanyikan lagu itu untuk menghadirkan suasana gembira dalam sekolah. Baca juga: Pertunjukan Propaganda untuk Anak-Anak Lagu-lagu anak berbahasa Belanda lenyap seiring kedatangan Jepang. Pemerintah Jepang mulai mengajarkan bahasa Jepang kepada anak-anak Indonesia. Berikut pula dengan lagu-lagunya. Dungga dan Manik masih menyatakan lirik lagu-lagu itu termasuk cukup baik dan bermutu bagus untuk anak-anak. “Kita masih ingat bagaimana meriahnya anak-anak kita menyanyi di masa Jepang itu... Lagu-lagu ketika itu sangat merata ke segala lapisan dan pelosok.” Masa-masa awal kemerdekaan hingga awal dekade 1950-an anak-anak kehilangan lagu khusus. Lagu anak berbahasa Belanda dan Jepang hilang. Anak-anak masih bisa bernyanyi. Tetapi lagu-lagunya tak dibuat secara khusus. Mereka menyanyikan lagu-lagu perjuangan. Sesekali kembali menyanyikan lagu tradisional. Tapi anak-anak tetap membutuhkan lagu gubahan baru. Sesuai dengan alam dan perasaan baru pada masa kemerdekaan. Kelangkaan Lagu Anak Kemudian sekolah menciptakan sendiri lagu anak-anak untuk mengatasi kekurangan lagu anak-anak. Tapi menurut Dungga dan Manik, lagu-lagu itu berlirik kurang sesuai dengan anak dan bermutu rendah. Karena lagu-lagu ini pada umumnya dibuat dengan tergesa-gesa dan didasarkan lebih banyak atas semangat membuat lagu daripada kecakapan membuat lagu. Pertolongan datang dari Saridjah Niung. Perempuan ini kelak dikenal dengan nama Ibu Sud. Dia menciptakan lagu anak-anak seperti “Burung Ketilang”, “Menanam Djagung”, “Berkibarlah Benderaku”, dan “Naik Kereta Api”. Lirik lagunya pendek dan mudah dimengerti. Lagunya mampu menghadirkan rasa gembira bagi anak-anak dan mengajarkan cinta tanah air. Baca juga: Ibu Sud Bahagiakan Anak Indonesia Selain Ibu Sud, di tengah krisis lagu anak-anak, Soerjono atau Pak Kasur menciptakan “Selamat Sore Pak, Selamat Sore Bu”, “Naik Delman”, “Lihatlah Benderaku”, dan “Tetap Merdeka”. Lagu-lagu itu berlirik singkat dan bersuasana gembira, seperti lagu karya Ibu Sud. Selamatlah anak-anak Indonesia dari merapal lagu-lagu asmara untuk orang dewasa. Ibu Sud dan Pak Kasur memahami bagaimana mencipta lagu anak-anak. Mereka berpendapat lagu anak harus memiliki fungsi, pesan, dan maksud tertentu. Fungsinya bisa sebagai pengiring anak masuk sekolah, berisi pesan memperkenalkan hewan dan alat transportasi, atau bertujuan menumbuhkan rasa cinta kepada keluarga dan orang lain. Dengan demikian, lagu ikut menyumbang pertumbuhan jiwa anak-anak yang sehat dan baik. Kesungguhan Penciptaan Tapi menciptakan lagu anak -anak bukanlah perkara mudah. Fungsi, pesan, dan maksud yang ideal itu harus dibungkus dalam sebuah lagu yang sederhana dan ringan. Menyederhanakan sesuatu yang rumit selalu menjadi pekerjaan yang sulit. Sementara mengentengkan yang berat selalu membutuhkan usaha yang kuat. Apalagi jika hal itu ditujukan untuk anak-anak. “Selain memerlukan kematangan dalam soal-soal pendidikan, ia juga meminta kecakapan dalam lapangan cipta-mencipta,” terang Dungga dan Manik. Keduanya benar. Begitulah proses kreatif para pencipta lagu anak-anak seperti Ibu Sud dan Pak Kasur. Mereka menghabiskan energi, pikiran, dan waktunya untuk mengisi segala kebaikan dan manfaat dalam lagu anak-anak. Baca juga: Liku-Liku Hidup Ibu Sud Ibu Sud mempertimbangkan secara saksama lema, intonasi, dan nada lagu anak-anak. “Demikian pula mengenai syairnya, hendaknya sederhana, mudah dimengerti, dan jangan terlalu panjang sesuai dengan daya tangkap anak. Harus pula mampu menembus sanubari segala usia dari anak sampai orang dewasa,” kata Ibu Sud dalam Kompas , 27 Agustus 1980. Pak Kasur pun mempunyai proses kreatif serupa. Dia menimbang banyak hal sebelum mencipta lagu anak-anak: tema, irama, dan nilai estetisnya. “Nadanya disesuaikan dengan tenggorokan dan pernapasan anak sehingga anak akan dengan mudah menghafalnya,” catat Ismi Nur Solikhati dalam “Peranan Pak Kasur dalam Pendidikan di Indonesia (1950–1992)”, skripsi pada Program Studi Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Dari penelusuran ini, para pencipta lagu anak-anak yang andal dan berintegritas mustahil membuat lagu anak sebagai alat penebar benih kebencian dan pemecah belah umat beragama.
- Melontarkan Sejarah Kursi Lontar
JATUHNYA pesawat tempur BAe Hawk 200 TNI AU di Kampar, Riau pada Senin, 15 Juni 2020 menambah panjang daftar hitam petaka alutsista. Namun yang patut disyukuri, sang pilot selamat berkat ejection seat (kursi lontar) sebelum pesawat itu jatuh. Nyawa seorang pilot tempur terlatih masih jauh lebih berharga ketimbang pesawat yang ringsek. “Pilot Lettu Pnb Apriyanto berhasil selamat menggunakan ejection seat saat pesawat Hawk 209 yang dipilotinya mengalami gangguan teknis menjelang mendarat di runway 36 Lanud Rsn (Pangkalan Udara Roesmin Noerjadin) Pekanbaru,” sebut Dinas Penerangan TNI AU di akun Twitter @_TNIAU. Kursi lontar sudah jadi sistem keselamatan yang diwajibkan bagi pilot setiap pesawat tempur era pasca-Perang Dunia II. Berbagai varian pesawat Hawk buatan Inggris seperti pesawat nahas yang dipiloti Lettu Apriyanto, sudah dilengkapi kursi lontar canggih dengan Canopy Destruct System (Sistem perusak kanopi) kokpit otomatis dan Flexible Linear Shaped Charge (FLSC) sebagai pemicu lontarannya. Teknologi itu jelas tidak muncul begitu saja. Ia merupakan evolusi dari capaian-capaian dalam upaya membuat sistem keselamatan pilot tempur yang telah dirintis sejak Perang Dunia I. Adalah Everard Richard Calthrop, ilmuwan asal Inggris, yang memulainya. Ia membuat sistem penyelamat pilot dengan satu aspek terpentingnya adalah parasut yang mesti terkembang saat pilot sudah keluar dari pesawat. Parasut itu sendiri diciptakan dan dipatenkan Calthrop pada 1913. “Pada 22 September 1916 Calthrop menciptakan dan mematenkan kursi lontar untuk pesawat. Alat ini menggunakan sistem udara bertekanan untuk melontarkan si pilot. Alat ini juga kelanjutan dari pengembangan parasut yang ia ciptakan sebelumnya, di mana udara bertekanan itu melontarkan pilot dari kokpit ke jarak yang aman dari pesawat, lalu langsung membuka parasutnya,” tulis sejarawan militer Bob Taylor dalam Getting Our Wings. Rancangan Compressed Air Parachute Extraction System ciptaan Everard Richard Calthrop (Foto: ejection-history.org.uk ) Tentu sistem ciptaan Calthrop masih memiliki banyak kelemahan lantaran pilot harus lebih dulu menekan tuas untuk mengaktifkan pelontarnya. Sistem penyelamat buatannya pun berbeda dengan kursi lontar di era modern karena sistem yang dibuat Calthrop hanya melontarkan si pilot tanpa kursinya. Maka sebutan lengkap ciptaannya bukan ejection seat , melainkan Compressed Air Parachute Extraction System. Sistem penyelamat yang melontarkan pilot bersama kursinya baru dikembangkan penemu asal Rumania, Anastase Dragomir. Penggunaannya hampir sama, dengan menarik tuas agar si pilot terlontar bersama kursinya dengan mekanisme udara bertekanan. Setelah dipasang di pesawat Farman dan diujicoba oleh penerbang Prancis Lucien Bossoutrot di Bandara Paris-Orly, Prancis pada 28 Agustus 1929 dan sukses, Dragomir segera mematenkannya. Tetapi penemuan itu tak lantas membuat pihak militer Prancis, Inggris, maupun Rumania bersedia segera memasok pesawat-pesawat militernya dengan kursi pelontar. Hingga Perang Dunia II, mayoritas angkatan udara negara-negara Eropa dan Amerika masih sekadar membekali parasut buat para pilot mereka dan tentu mereka harus lebih dulu loncat sendiri dari kokpit untuk menyelamatkan diri. Jerman Trendsetter Kursi Lontar Di Perang Dunia II, Jerman mengembangkan sistem yang dilahirkan Colthrop. Itu seolah mengulang cerita parasut “Guardian Angel” yang kemudian lebih marak digunakan pasukan lintas udara (linud) Jerman ketimbang Inggris –Jerman menjadi negeri pertama yang melakukan operasi militer menggunakan linud. “Parasut ‘Guardian Angel’ ciptaan Calthrop mulanya sekadar untuk mengirim agen-agen intelijen di belakang garis musuh. Tetapi pada 1918 Jerman lebih mengapresiasi dengan mulai menyontek desain parasutnya untuk membekali para pilot mereka. Saat Angkatan Udara Inggris baru mulai menggunakan parasut, desain yang digunakan malah parasut buatan Amerika,” sambung Taylor. Selain Jerman, Swedia lewat manufaktur SAAB juga mengembangkan kursi lontar ciptaan Colthrop dengan sumber daya termutakhir pada 1940. Tetapi Jerman lewat manufaktur Heinkel sukses merampungkan pengembangan lebih dulu. Pesawat-pesawat Heinkel sudah dilengkapi dengan sistem penyelamat tersebut. Parasut "Guardian Angel" ciptaan Everard Colthrop (Foto: biodiversitylibrary.org/gracesguide.co.uk ) Mengutip William Green dalam The Warplanes of the Third Reich , medio 1940 ketika Jerman masih dalam euforia gilang-gemilang di berbagai front, Heinkel banyak menelurkan inovasi alutsista. Salah satunya He-280, pesawat tempur turbojet pertama yang didesain Robert Lusser. Saat membuat purwarupanya, Lusser turut memasang kursi lontar dengan sistem udara bertekanan. “Pertamakali kursi lontar di purwarupa He-280 difungsikan saat Helmut Schenk menerbangkannya dalam salah satu rangkaian ujicoba pada 13 Januari 1942. Schenk mengaktifkan kursi pelontarnya setelah mesin jetnya membeku membuat pesawatnya malfungsi,” ungkap Green. Meski Schenk kemudian menjadi penerbang pertama yang terselamatkan oleh kursi lontar, proyek He 280 tak diteruskan dengan alasan sumber daya. Alutsista aktif pertama dengan kursi lontar adalah pesawat tempur malam Heinkel He-219 Uhu yang tercatat pada 1943. Tetapi Uhu bukan pesawat tempur bermesin jet. Adalah Heinkel He-162 Volksjäger yang merupakan jet tempur pertama di dunia yang dipasangkan kursi lontar pada 1944 lewat proyek Jägernotprogramm atau program darurat pesawat tempur. Di pesawat ini, kursi lontarnya sudah dikembangkan dengan dipicu lewat mekanisme letupan kartrid. Heinkel He-219 Uhu (atas) & Heinkel He-162 Volksjäger (bawah) sebagai pemakai aktif pertama kursi lontar di masa perang (Foto: Bundesarchiv/SDASM Archives) Pilot pertama yang diselamatkan kursi pelontar di jet tempur itu adalah Letnan Rudolf Schmidt dari Jagdgeschwacher 1 Luftwaffe (Wing Tempur 1 AU Jerman) pada 20 April 1945. Sementara, Kapten Paul-Heinrich Dahne jadi pilot pertama yang tewas karena kursi lontar, 24 April 1945, lantaran kanopi pesawatnya gagal terbuka. Pasca-Perang Dunia II, kursi pelontar marak dikembangkan sejumlah negara untuk pesawat-pesawat buatan mereka masing-masing. James Martin, produsen pesawat asal Irlandia, bereksperimen untuk USAF (AU Amerika) dengan menggunakan mekanisme pegas untuk –menggantikan mekanisme udara bertekanan– kursi lontar buatannya. Ujicoba pertamanya yang dilakukan pilot Bernard Lynch di jet tempur Gloster Meteor Mk. III sukses dilakoni pada 24 Juli 1946. Seiring masa, Martin lewat perusahaan Martin-Baker, yang dirintis bareng Kapten Valentine Baker,terus memutakhirkan sistem dan mekanisme kursi pelontar yang lebih efektif dan aman bagi pilot. Disitat dari situs resmi martin-baker.com , sejak 1946 hingga kini manufaktur asal Inggris itu jadi pemasok terbesar kursi lontar dengan memasok 70 ribu unit di 93 angkatan udara seluruh dunia. Martin-Baker juga menguasai 53 persen pasar kursi pelontar yang membekali beragam jenis pesawat tempur. Mulai dari generasi F-4 Phantom ke generasi yang lebih modern macam Harrier, Tucano, Super Tucano, KT-1 Wongbee, SAAB JAS-39 Gripen, F-18 Hornet, Rafale, Eurofighter Typhoon, hingga jet tempur 5-Generation F-35, semua dilengkapi kursi lontar Martin-Baker.
- Saat Jenderal Gatot Subroto Beraksi di Yugoslavia
September, 1961. Presiden Sukarno berkunjung ke Yugoslavia dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Non-Blok. Selain didampingi Letjen Gatot Subroto, Deputi Kepala Staf Angkatan Darat, Bung Karno juga mengajak putra sulungnya, Guntur. Rombongan Bung Karno menumpang pesawat carter Pan Am DC-707. Selain untuk menghadiri KTT Non-Blok, tujuan muhibah Sukarno adalah meninjau kapal perang pesanan Indonesia yang sedang dibuat di Yugoslavia. Sehubungan dengan kepentingan tersebut, Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Abdul Haris Nasution telah tiba duluan di Yugoslavia. Adapun kapal perang yang tengah dipesan itu adalah jenis Submarin chaser buatan Yugoslavia, kapal anti kapal selam yang mampu bergerak cepat sebagai kapal pemuburu. Dalam penerbangan, Sukarno menuturkan betapa canggihnya kapal tempur pesanan TNI itu. Guntur antusias mendengarnya dan menanyakan berbagai hal, mulai dari meriam, radar, hingga daya tempuh tembakan. Sayangnya, Sukarno kurang begitu paham soal seluk-beluk alustista. Dia menyarankan Guntur untuk bertanya lebih lanjut kepada Jenderal Gatot. “Ternyata saat itu Pak Gatot Subroto sedang lelap tidur mendengkur di pesawat sehingga niat bertanya aku urungkan. Sambil berjalan lunglai karena masygul aku kembali ke tempat dudukku semula,” kenang Guntur dalam memoir Bung Karno: Bapakku, Kawanku, Guruku . Ketika pesawat mendarat di Beograd, ibu kota Yogoslavia, sambutan luar biasa telah menanti. Tembakan kehormatan dilepaskan sebanyak 21 kali. Para penyambut dan pejabat-pejabat teras setempat yang terdiri dari pejabat sipil maupun militer berjejer di depan terminal bandara. Tentu saja, Presiden Yugoslavia Josep Broz Tito ikut menyambut langsung kedatangan Bung Karno. Guntur menuturkan, rombongan Indonesia yang statusnya VIP, seperti kepala negara, menteri-menteri, pejabat tinggi militer ditempatkan di depan dekat kepala inspektur upacara. Mereka disebut golongan “Honorobel” (dari kata honorouble atau kehormatan). Sementara itu, rombongan yang bukan kategori VIP, seperti petugas sandi, pengawal pribadi, wartawan, termasuk Guntur sendiri ditempatkan di belakang. Secara kelakar, kelompok ini menyebut diri mereka sebagai golongan “Honorucuk” (istilah “Rucuk” diambil dari bahasa Jawa “Kerucuk” yang berarti bawahan). Ketika inspeksi, Guntur beringsut mendekati Jenderal Gatot yang ada di barisan kehormatan. Dia masih penasaran soal kapal perang yang hendak dipesan TNI. Setelah mendapat penjelasan singkat dari Gatot, Guntur mulai gelisah. Upacara penyambutan yang memakan waktu lama menyebakan Guntur kebelet pipis. Guntur mengeluhkan hal itu kepada Gatot Subroto. “Oom, upacara kok lama sekali ya?” kata Guntur. “Caranya di sini begitu barangkali,” jawab Gatot. Guntur remaja tanggung berusia 17 itupun menjadi rewel. “Mana kebelet buar air kecil lagi,”katanya. “ Wis, tha (ya, sudah)! Ikut saja sama oom,” ajak Pak Gatot. Ternyata Jenderal Gatot juga merasakan hal yang sama. Sang jenderal kemudian memisahkan diri dari barisan kehormatan. Dia malah berjalan kembali ke arah pesawat DC-707. Guntur menguntit dari belakang. “Oom, mana WC-nya?” tanya Guntur “ Lha ini apa?!,” ujar Gatot sambil menunjuk bagian roda pesawat yang tingginya sekira 1,5 meter dan terdiri dari dua roda. “Nanti dilihat orang, Oom,” kata Guntur malu-malu. “Mana bisa! Punyaku ketutup ban yang satu! Punyamu ketutup yang satunya… Beres toh . Ayo nguyuh (kecing)!” seru Gatot. Guntur hanya bisa manut-manu t. Maka buang hajatlah putra sulung presiden dan orang nomor dua di jajaran Angkatan Bersenjata RI itu di roda pesawat buatan Amerika Serikat tersebut. Dan uniknya, aksi itu terjadi di Yugoslavia, negeri yang jauhnya ribuan kilometer dari Indonesia. Sambil melepas hajatnya, Guntur bergumam dalam hati, “Peduli setan sama orang-orang daripada ngompol mendingan gue kencing di sini. Terimakasih Oom Gatot.”
- Menak Pemberontak dari Jampang Manggung
Parit di kaki Gunung Jampang Manggung, Cikalong Kulon itu memanjang bak ular raksasa. Tak ada seorang pun yang tahu pasti sejak kapan sungai kecil berbatu itu ada, kecuali beberapa penduduk yang usianya sudah menanjak senja. “Kakek saya bilang itu bekas tempat pertahanan pasukan Haji Prawatasari saat melawan Belanda ratusan tahun lalu,” ujar Aza, lelaki berusia 82 tahun. Nama Haji Prawatasari bukanlah mitos. Setidaknya ada beberapa dokumen dan arsip-arsip berbahasa Belanda yang menyebut sepakterjang menak Sunda yang memiliki nama kecil Raden Alit itu. Arsip-arsip tersebut pernah dinukil oleh Jan Breman, salah satu sejarawan Belanda terkemuka. Dalam buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa; Sistem Priangan Dari Tanam Paksa Kopi di Jawa, 1720-1870 , Breman menyebut Haji Prawatasari sebagai “ulama fanatik” yang mengobarkan perlawanan terhadap “orang asing tak beragama”. “Pada tahun-tahun pertama dari abad ke-18, (gerakan) Prawatasari menyebabkan gangguan besar di Priangan,” ungkap Breman. Siapakah sebenarnya Haji Prawatasari? * Hingga kini, belum ada penelitian sejarah yang bisa memastikan secara sahih mengenai silsilah Haji Prawatasari. Cerita tutur tinular umumnya menyebut Haji Prawatasari merupakan menak keturunan raja-raja Sunda dari wilayah Panjalu (Ciamis). Ada juga yang menyebutnya sebagai bangsawan keturunan Kerajaan Sumedanglarang. Namun selain versi di atas, ada satu hikayat yang cukup logis dan bisa ditelusuri mengenai asal muasal karuhun dari Haji Prawatasari. Adalah Aki Dadan (82), salah seorang tokoh budayawan Cianjur yang mendapat cerita tersebut secara turun temurun dari karuhun -nya. “Silisilah Haji Prawatasari sebenarnya tidak jauh-jauh. Dia masih keturunan Dalem Cikundul yang merupakan ayah dari bupati pertama Cianjur yakni Aria Wiratanu I,” ujar lelaki yang masih keturunan langsung dari Ayah Enggong, salah seorang pengikut Haji Prawatasari. Menurut Aki Dadan, Prawatasari lahir pada sekitar tahun 1679. Ia merupakan putra tunggal Aria Wiratanu I alias Dalem Cikundul dengani isteri keduanya Dewi Amriti, putri Patih Kerajaan Jampang Manggung (sebuah kerajaan kecil yang letaknya di kaki Gunung Mananggel, Cianjur). Kendati dilahirkan di keraton Jampang Manggung, sampai umur 8 tahun Prawatasari dibesarkan bersama dua kakaknya se-ayah (Raden Aria Wiramanggala dan Raden Aria Cikondang) di Kadaleman Cikundul. Dari keduanya, Prawatasari belajar ilmu kanuragaan dan kenegaraan. “Namun ada kecenderungan, Prawata lebih mengidolakan Raden Aria Cikondang, yang ahli perang, dibanding mengidolakan Raden Aria Wiramanggala yang seorang negarawan,” ujar seniman Cianjur terkemuka itu. Bahkan karena kedekatannya itu, Raden Aria Cikondang sempat mewariskan 12 strategi militer dari Jagabaya (pasukan khusus Kerajaan Pajajaran). Inilah salah satunya yang menjadi modal Haji Prawatasari saat melakukan pemberontakan terhadap kekuasaan Belanda. Berbeda dengan putera-putera menak pada umumnya, Haji Prawatasari dikenal memiliki pergaulan yang sangat luas di kalangan rakyat. Begitu akrabnya, sehingga waktu masih bocah Prawatasari mendapat panggilan sayang dari khalayak yakni Raden Alit (anak terkecil). * Pada 1691, Raden Wiramanggala diangkat menjadi penguasa Cianjur dengan gelar Aria Wiratanu II. Di bawah putra Aria Wiratanu I itu, Cianjur resmi menjadi bagian dari kekuasaan Belanda (yang diwakili oleh VOC). “Kedatangan utusan VOC yang bernama Kapten Winckler segera diikuti pengakuan VOC terhadap dalem Cianjur Aria Wiratanu II sebagai regent (bupati) Cianjur,” ungkap Reiza D.Dienaputra dalam Cianjur: Antara Priangan dan Buitenzorg. Penggabungan wilayah Cianjur ke dalam kekuasaan VOC memutlakan beberapa kewajiban yang diberlakukan Batavia kepada wilayah-wilayah bawahannya. Sejak itulah Cianjur harus menyerahkan beberapa produk-nya seperti belerang dan tanaman wajib yakni nila (tarum) dalam jumlah tertentu kepada VOC. “Dalam pelaksanaan di lapangan, Bupati Cianjur menyerahkannya kepada Raden Alit...” tulis sejarawan Nina Lubis dalam dalam sebuah makalah berjudul “Sepenggal Kisah Awal Abad ke-18: Haji Prawatasari versus Kompeni”. Awalnya Prawatasari melaksanakan titah sang kakak dengan baik. Karena pengaruhnya yang besar di kalangan rakyat (terutama rakyat Jampang Manggung), segala perintah yang dikeluarkan Prawatasari dituruti sepenuh hati. Namun lambat-laun, pelaksanaan kerja paksa dan wajib tanam nila terasa semakin memberatkan rakyat. Keluh kesah dan ketidakpuasan terhadap sang bupati yang hanya memosisikan diri sebagai alat VOC mulai muncul. Menurut Nina, meskipun ada dalam situasi dilematis pada akhirnya Prawatasari memutuskan untuk mengajukan usul dan protes keras kepada Aria Wiratanu II. “Tentu saja usulan itu ditolak mentah-mentah oleh Bupati Cianjur, karena (menuruti usulan Prawatasari) bisa-bisa ia dituduh tidak loyal kepada kompeni dan (malah) bisa dicopot jabatannya,” ungkap Nina Lubis. * Penolakan Aria Wiratanu II menyebabkan rakyat Jampang Manggung hilang kendali. Memasuki 1703, sebagai tanda protes, para petani melakukan boikot pengambilan belerang dari kawasan Gunung Gede dan membakar lahan kebun tarum secara massif. Prawatasari pun menjadi tertuduh utama biang di balik aksi tersebut. “Seorang utusan bernama Cakrayudha lantas dikirim oleh Bupati Cianjur untuk menyelesaikan insiden itu,” kata Nina. Alih-alih menuntaskan masalah, pertemuan Cakrayudha-Prawatasari malah berujung bentrok fisik. Bupati Cianjur marah. Ia lalu mengerahkan sejumlah tentara-nya untuk menangkap sang adik. Namun upaya itu gagal total, karena Prawatasari dibela habis-habisan oleh masyarakat Jampang Manggung dan Cikalong Kulon. Sejarawan Jan Breman menyebut kehadiran Haji Parawatasari dalam kekisruhan di Cianjur bukanlah sebuah kebetulan. Sebagai seorang haji pengembara, Prawatasari memiliki jaringan yang cukup luas dengan beberapa ulama fanatik di Jawa Timur terutama dari wilayah Giri. “Ia memang sengaja dikirim oleh ulama fanatik di wilayah tersebut ke dataran tinggi Sunda dengan tugas melakukan perlawanan terhadap penjajah baru,” ujar Breman. Pasca Insiden Cakrayudha, hubungan Jampang Manggung-Cianjur ada dalam situasi yang kritis. Dengan dukungan VOC di Batavia, Aria Wiratanu II yang tetap mengincar Prawatasari lantas menyiapkan penyerbuan yang lebih terencana ke Jampang Manggung. Prawatasari sendiri merespon sikap Cianjur dengan melakukan mobilisasi umum di kalangan masyarakat Jampang Manggung dan sekitarnya. Perekrutan kaum lelaki untuk menjadi bagian dari pasukan gerilya melawan VOC-Cianjur terus digalakan dan mendapat sambutan baik dari masyarakat. Maret 1703, sekira 3.000 orang (terdiri dari sebagian kecil menak, petani dan jawara) berhasil direkrut oleh Haji Prawatasari untuk menjadi gerilyawan. Mereka lantas menyerang tangsi-tangsi tentara kompeni di pusat kota Cianjur. “Dengan modal taktik-taktik lawas peninggalan militer Kerajaan Pajajaran, kekuatan pasukan gerilya Haji Prawatasari bergerak seolah tak terbendung,” tulis sejarawan Gunawan Yusuf dalam Mencari Pahlawan Lokal . Setelah melalui berbagai bentrokan kecil dengan pasukan kompeni, awal Maret 1704, bataliyon-bataliyon (satu bataliyon= 700-1000 prajurit) pasukan Haji Prawatasari bergerak menyerang titik-titik vital militer VOC di Bogor, Tangerang dan beberapa kawasan Priangan Timur seperti Galuh, Imbanagara, Kawasen dan daerah muara Sungai Citanduy. Sesekali mereka juga melakukan gangguan-gangguan kecil di pinggiran Batavia. (Bersambung)
- Gus Dur yang Poliglot
Sebagai cucu Hasyim Asyari, pendiri Pondok Pesantren Tebu Ireng di Jombang, Jawa Timur, sejak kecil Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menerima pendidikan yang baik dari keluarganya. Tidak hanya soal agama, berbagai pengetahuan umum pun dia dapatkan, terutama dari ayahnya (Wahid Hasyim) yang aktif di Nahdlatul Ulama (NU). Keluarga Gus Dur diketahui memiliki koleksi buku yang sangat beragam dan jumlahnya banyak. Itu jugalah yang menjadi pemicu tingginya minat baca Gus Dur sedari muda. Buku bacaannya tidak hanya ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris, tapi ada juga cetakan berbahasa Arab, Belanda, bahkan Prancis. Sedikit demi sedikit Gus Dur mempelajari bahasa asing tersebut. Perlahan dia pun mampu menguasai berbagai bahasa. Baca juga: Gus Dur dan Buku “Sebagai santri terpelajar kota yang akrab dengan pemikiran-pemikiran tradisional dan Barat, serta menguasai bahasa Arab, Inggris, dan Prancis membuat perkenalannya dengan berbagai budaya yang sedang tumbuh, yaitu modernisasi, sangat baik dan menjadi instrumen bagi analisis-analisisnya yang tajam dan komperhensif. Inilah yang menyebabkan pemikirannya berbobot,” tulis Syamsul Bakri dan Mudhofir Abdullah dalam Jombang-Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam di Indonesia . Pengenalan Gus Dur dengan berbagai bahasa asing dimulai saat dia menempuh pendidikan pesantren di Yogyakarta pada 1950-an. Selama berada di Kota Pelajar itu, Gus Dur banyak menghabiskan waktu membaca buku dan berdiskusi. Buku-buku yang dibacanya lebih beragam dari koleksi keluarganya. Dia melahap banyak tema politik, ekonomi, budaya, hingga ideologi, yang ditulis dalam bahasa Inggris, Belanda, dan Prancis, selain bahasa Arab yang memang sudah dia pelajari sejak kecil. Gus Dur meningkatkan kemampuan bahasa Arabnya di pesantren Tampakberas, Jombang. Di sana, dia mempelajari sastra Arab klasik. Menurut Greg Barton dalam Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of KH. Abdurrahman Wahid , untuk mengikuti pelajaran tersebut diperlukan pengetahuan berbahasa Arab yang fasih. Dan Gus Dur mampu mendalami sastra Arab klasik itu sehingga kemampuan bahasa Arabnya jelas sangat baik. Barton juga menyebut selama di Jombang Gus Dur berhasil menghafal buku klasik standar mengenai tata bahasa Arab. Baca juga: Petualangan Intelektual Gus Dur di Luar Negeri “Walaupun rangkaian puisi yang dihafalnya tidak berisikan pemahaman agama, namun pengetahuan bahasa Arab dan hafalan teks-teks Arab sangat penting bagi seorang siswa. Karena itu, penguasaan terhadap buku dan teks-teks tersebut dianggap memiliki jasa keagamaan yang besar,” tulis Barton. Ketika pertengahan 1960 mendapat kesempatan kuliah di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, Gus Dur mengasah kemampuan bahasa Arab tersebut. Dia lebih banyak mempelajari bahasa itu secara otodidak, dari pergaulan dan beberapa teks yang dibaca. Gus Dur menolak mempelajarinya secara formal di sekolah-sekolah yang telah ditunjuk pihak Al-Azhar sebagai bagian dari program universitas itu bagi pelajar asing. Bahasa Orang Barat Tidak seperti bahasa Arab yang telah diajarkan sejak kecil di lingkungan pesantren keluarganya, pengetahuan bahasa Barat didapat Gus Dur ketika masa sekolah. Dia tidak langsung fasih dalam menggunakan bahasa-bahasa ini. Gus Dur memulainya secara pasif, dan hanya mampu mengartikan teks-teks di dalam buku yang dia baca saja. Baca juga: Dahsyatnya Humor Gus Dur “… Ia mulai membaca tulisan-tulisan ahli-ahli teori sosial terkemuka dari Eropa, kebanyakan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, walaupun tidak jarang juga dalam bahasa Prancis dan kadang-kadang dalam Bahasa Belanda dan Jerman,” ungkap Barton. Kesempatan mendalami bahasa Barat, khususnya Prancis, didapatkan ketika dirinya tinggal di Mesir, Irak, dan Eropa. Sepanjang tahun 1964, saat tinggal di Mesir, Gus Dur mempelajari kebudayaan-kebudayaan Barat di Kairo. Diceritakan Munawar Ahmad dalam Ijtihad Politik Gus Dur: Analisis Wacana Kritis , Gus Dur merasakan kebebasan dan keterbukaan dalam pengembangan ide-ide baru selama berada di kota itu. Di Kairo, Gus Dur mendapat keleluasaan untuk menonton film-film terbaik Prancis. Ketertarikan terhadap bahasa Prancis pun semakin besar. Namun kesempatan terbaik Gus Dur mempelajari bahasa Prancis datang ketika dia tinggal di Baghdad, Irak. Selama tiga tahun tinggal di sana, Gus Dur memperoleh kesempatan belajar bahasa Prancis di Pusat Kebudayaan Prancis. Tidak secara kebetulan Gus Dur bisa belajar di Pusat Kebudayaan Prancis. Dia punya seorang teman yang menawarkannya untuk belajar bahasa Prancis di tempat itu. Gus Dur dengan senang hati menerima tawaran tersebut. Menurutnya pendekatan modern yang digunakan guru-guru di Pusat Bahasa Prancis itu sangat baik dan dia senang mengikuti kelas di sana. Tempat itu juga menjadi tempat pertama Gus Dur mempelajari bahasa Prancis secara formal. Sebelumnya, pengetahuan mengenai bahasa Prancis diperolehnya secara otodidak. Baca juga: Cerita Kari Kepala Ikan Buatan Gus Dur “Di Kairo, teman sekamarnya, Mustofa Bisri, mencoba secara serius untuk belajar bahasa Prancis, namun ia tetap gagal walaupun sudah berulang-ulang mendengarkan latihan-latihan yang direkam. Ia pun jengkel melihat Gus Dur memiliki kemajuan pesat dalam kemampuannya bercakap-cakap dalam bahasa Prancis dengan menirukan latihan yang telah direkamnya itu,” tulis Barton.
- Hoegeng Pernah Keluar dari Kepolisian
Ismail Ahmad, pemuda asal Maluku Utara, diperiksa polisi karena mengunggah humor Gus Dur di akun media sosialnya. Humor Gus Dur itu telah dikenal luas, tentang tiga polisi jujur, yaitu polisi tidur, patung polisi, dan Jenderal Hoegeng. Polres Kepulauan Sula menganggap humor itu mencemarkan nama baik institusi Polri. Gus Dur mungkin tak akan membuat humor itu bila Hoegeng Imam Santoso tak kembali ke Kepolisian. Di awal kariernya, dia pernah keluar dari Kepolisian. Pada suatu hari di masa revolusi, Hoegeng tengah berada di rumah orang tuanya di Pekalongan. Orang tuanya kedatangan tamu, Kolonel Laut M. Nazir, yang kemudian menjadi Panglima/Kepala Staf Angkatan Laut kedua. Ditanya pekerjaan oleh Nazir, Hoegeng menjawab bertugas di jawatan kepolisian di Semarang tapi sedang cuti karena sakit. Dia mengalami kecelakaan motor saat bertugas ke daerah Candi, Semarang. Baca juga: Dari Bugel Menjadi Hoegeng Nazir menganggap kerja di kepolisian kurang tantangan. Sebagai anak muda terpelajar, Hoegeng mestinya mengerjakan tugas-tugas yang bersifat kepeloporan di awal Indonesia merdeka. “Saya ini mau jadi apa coba, pendidikan saya kan memang untuk jadi polisi,” kata Hoegeng dalam otobiografinya, Polisi Idaman dan Kenyataan. Nazir menawarkan posisi di Angkatan Laut yang masih kosong dan cocok untuk Hoegeng. “Kalau Bung mau, gampang itu, keluar saja dari Kepolisian dan masuk Angkatan Laut,” kata Nazir. Nazir mengatakan bahwa Angkatan Laut membutuhkan orang yang memiliki latar belakang pendidikan akademi kepolisian. Tugasnya berat tapi dia percaya Hoegeng mampu. Hoegeng kemudian pergi ke Yogyakarta yang saat itu menjadi ibu kota Republik Indonesia. Dia meninggalkan Kepolisian lalu melapor kepada Nazir untuk bergabung dengan Angkatan Laut. Menurut Hoegeng, saat itu seorang pemuda pindah-pindah kesatuan adalah hal biasa, apalagi kalau mempunyai senjata –lebih-lebih senjata itu diperoleh sendiri, misalnya merampas dari serdadu musuh atau gudang senjata Jepang. “ ukuran pokok waktu itu jadi pejuang atau tidak, sedangkan urusan masuk kesatuan atau barisan mana adalah soal belakangan,” kata Hoegeng. Baca juga: Cinta Hoegeng-Mery Bermula dari Sandiwara Radio Pada awal 1946 itu, administrasi pemerintahan belum dibenahi dengan baik. Hoegeng diangkat sebagai anggota Angkatan Laut tanpa surat pengangkatan. Dia diberi pangkat Mayor, jabatan komandan, dengan gaji Rp400. Nazir memerintahkan Hoegeng pindah ke Yogyakarta untuk membentuk Penyelidik Militer Laut Khusus (PMLC). Dia bertanggung jawab kepada Letkol Darwis, Komandan Angkatan Laut Jawa Tengah yang berkedudukan di Tegal. PMLC semacam Polisi Militer Angkatan Laut. Selain menegakkan disiplin di dalam tubuh Angkatan Laut, PMLC punya tugas khusus sebagai badan intelijen Angkatan Laut. “Saya berhasil meletakkan dasar-dasar organisasi PMLC serta merekrut sejumlah tenaga yang sebagian besar berasal dari teman-teman saya di lingkungan Kepolisian,” kata Hoegeng. Baca juga: Soekanto Tjokrodiatmodjo, Kepala Polisi tanpa Rumah Namun, Hoegeng kemudian bertemu dengan Kepala Kepolisian Negara, Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo, di Hotel Merdeka. Tujuan Soekanto ke Yogyakarta untuk menghadiri rapat kabinet. Soekanto menyadarkan Hoegeng bahwa sebagai alumnus sekolah Kepolisian seharusnya tetap di Kepolisian. Apalagi, Hoegeng pernah diajar oleh Soekanto di Sekolah Kader Tinggi di Sukabumi pada zaman Jepang. “Apakah Hoegeng tidak sayang dan malu masuk Angkatan Laut, karena Kepolisian Indonesia sendiri masih berantakan dan perlu dibenahi dan dikembangkan?” tanya Soekanto. Hoegeng pun terbayang kembali cita-cita masa kecilnya ingin menjadi komisaris polisi. Dia malu tak hanya kepada Soekanto, tapi juga pada diri sendiri. “Saya memutuskan kembali ke Kepolisian,” kata Hoegeng. Hoegeng mengambil keputusan yang tepat dengan kembali ke Kepolisian. Kariernya terus naik sampai puncak sebagai Kapolri. Bahkan, dia dikenal sebagai polisi yang jujur sampai-sampai jadi bahan guyonan Gus Dur.
- Bung Karno Dikerjai Anggota Grup Sandiwaranya
Sehari sebelum balatentara Jepang masuk kota Bengkulu pada 23 Februari 1942, Sukarno yang sedang menjalani pembuangan di sana kedatangan dua polisi Hindia Belada. Sukarno diperintahkan untuk segera mengemasi barang-barangnya. “Tuan akan dibawa keluar,” kata salah satu polisi itu. “Malam ini juga. Dan jangan banyak tanya. Ikuti saja perintah. Tuan sekeluarga akan diangkut tengah malam nanti. Secara diam-diam dan rahasia. Hanya boleh membawa dua kopor kecil berisi pakaian. Barang lain tinggalkan. Tuan akan dijaga keras mulai dari sekarang, jadi jagan coba-coba melarikan diri,” sambungnya sebagaimana dikutip Sukarno dalam otobiografinya yang ditulis Cindy Adams, Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia . Meski tetap berupaya tenang dan menenangkan Sunarti, anak angkatnya yang berusia delapan tahun dan sedang bermain bersamanya, Sukarno cemas mendapat pemberitahuan itu. Kecemasannya datang dari kabar dia bakal diungsikan ke Padang untuk selanjutnya diangkut ke Australia. “Perasaanku kacau-balau. Meninggalkan kota Bengkulu berarti meninggalkan tempat pembuanganku. Mengingat akan hal ini aku gembira. Akan tetapi pergi ke Australia berarti menuju tempat pembuangan yang baru. Kalau ini kuingat, hatiku jadi susah,” kata Sukarno. Baca juga: Korupsi di Bengkulu Tempo Dulu Toh, Sukarno dan keluarganya tetap dibawa keluar Bengkulu menuju Padang. Kepergian itu meninggalkan banyak kesan bagi Sukarno. Bengkulu merupakan tempat pembuangan yang tak hanya menambah kekayaan pengetahuannya mengenai kehidupan bangsanya tapi juga memberi banyak kesempatan berkenalan dengan banyak orang yang di kemudian hari menjadi orang-orang yang dipercayainya dalam memimpin negeri. AH Nasution, Abdul Karim Oei, Hamka, Hasjim Ning, semua dikenal pertamakali oleh Sukarno di Bengkulu. Perkenalan itu memberi kesan pada masing-masing tokoh. Nasution mengenang perkenalan itu dalam otobiografinya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 1. “Semula saya kira bahwa beliau hidup sebagai seorang tawanan yang dijaga, tapi nyatanya beliau di dalam distrik bebas bergerak, walaupun tentu ada mata-mata penjajah. Saya menumpang sementara pada rumah kepala sekolah, yang berada satu lorong dengan Bung Karno, dan pada hari-hari petrama itu saya telah diperkenalkan kepada beliau. Rumah Bung Karno berada di antara rumah yang saya tumpangi itu dengan sekolah, sehingga biasanya sambil jalan, saya dapat bertatap muka dan saling memberi salam,” tulis Nasution. Dalam kehidupan pribadi, Sukarno bertemu dengan Fatmawati juga di Bengkulu. Fatmawati kemudian menjadi ibu negara setelah Sukarno dipercaya menjadi presiden pertama ketika Indonesia merdeka. Sebagaimana di Ende, di Bengkulu Sukarno juga tetap beraktivitas dalam seni peran. Dia mendirikan grup sandiwara yang pentas dari satu tempat ke tempat lain. Anggotanya terdiri dari anak-anak dan pemuda setempat. Lantaran ketatnya pengawasan aparat kolonial, grup sandiwara itu hanya bisa pentas keliling di dalam distrik tempat tinggalnya. Baca juga: Ujung Dunia Sang Orator Hanya sekali grup sandiwara itu pentas di luar distriknya, yakni ketika mengisi sebuah acara malam amal di luar distrik. “Ini terjadi tepat setelah Residen baru menggantikan pejabat lama yang saya kenal baik. Orangnya sejenis manusia yang menghamba kepada peraturan,” kata Sukarno. Pentas sandiwara amal itu bisa terwujud setelah melalui jalan lumayan panjang. Residen baru tak ingin ambil risiko dengan begitu saja memberi izin Sukarno beserta grup sandiwaranya pentas di luar distrik. Untuk itulah sang residen memerlukan mengirim telegram kepada gubernur jenderal di Batavia mengenai boleh-tidaknya memberi izin pentas pada Sukarno. Izin baru dikeluarkan residen setelah mendapat telegram balasan dari gubernur jenderal yang berbunyi, “Saya gembira mendengar bahwa Ir. Sukarno tidak lagi berpolitik dan memusatkan perhatiannya pada pertunjukan sandiwara.” Dalam pertunjukan untuk malam amal itu, grup sandiwara pimpinan Sukarno berhasil main dengan baik. Salah satu anggota grup yang bermain apik adalah Manap Sofiano. Permainannya malam itu mengesankan Sukarno. Namun, Manap Sofiano pula yang suatu hari berulah hingga membuat Sukarno sial. Kisahnya bermula dari ketika Sofiano membeli piano dalam sebuah pelelangan. Kepada petugas lelang, dia mengatakan bahwa piano itu akan dibayar oleh Sukarno. Padahal, dia tak pernah memberitahu hal itu kepada Sukarno. Mendengar nama Sukarno, petugas lelang langsung percaya. Sofiano baru memberitahu Sukarno setelah mendapatkan piano itu. Tiga bulan berselang, Sofiano hendak pindah rumah. Sukarno pun langsung menemuinya. “Hee, tinggalkan dulu surat perjanjian yang diketahui oleh kepala kampung dan yang menyatakan bahwa engkau berjanji hendak membayarnya. Dengan begitu, kalau sekiranya kau lupa, saya mempunyai dasar yang sah,” kata Sukarno meminta perjanjian tertulis soal transaksi yang menyeret namanya itu. Begitu bulan berganti bulan hingga beberapakali, Sukarno tak juga mendapat kabar dari Sofiano. Padahal, namanya masih tersangkut dalam transaksi pembelian piano Sofian yang belum beres. Sementara, uang untuk sekadar menalangi pembayaran tak dimiliki Sukarno. Maka ketika hampir tiba jatuh tempo, Sukarno mengirim surat kepada Sofiano. “Sudah sampai waktunya. Bayar sekarang, kalau tidak, akan saya ajukan ke depan pengadilan,” demikian bunyi surat Sukarno. Beberapa waktu kemudian, datang surat balasan dari Sofiano. “Saya tidak menyusahkan diri saya sendiri, akan tetapi saya mempunyai lima orang anak. Kalau saya masuk penjara, mereka akan terlantar,” kata Sofiano. Mendapat balasan begitu, Sukarno pun dongkol dan bingung. Dia mesti mencari cara untuk melunasi piano yang dibeli Sofiano. “Saya kemudian membayar membayar utang sejumah 60 rupiah itu. Di samping itu, dia seorang pemain yang baik, sehingga saya dapat memaafkan segala-galanya,” kata Sukarno.
- Jejak Komponis Mochtar Embut
Nama Mochtar Embut barangkali jarang disebut dalam sejarah musik Indonesia. Ia meninggal dunia pada usia yang relatif muda, 39 tahun, ketika karier musiknya sedang naik. Namun, karya-karyanya meninggalkan jejak sejarah tersendiri bagi pencipta lagu Di Wajahmu Kulihat Bulan ini. Mochtar Embut lahir pada 5 Januari 1934 di Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak usia lima tahun, ia sudah belajar musik dari ayahnya. Kemudian pada usia sembilan tahun, ia menciptakan lagu anak-anak berjudul Kupu-Kupu di Tamanku . Bakat musiknya semakin terasah ketika remaja, menginjak usia 16 tahun ia mulai belajar piano dan menggubah lagu Percakapan dengan Alam . Mochtar Embut pernah mengenyam pendidikan formal di Europeesche Lagere School (ELS) di Makassar. Namun, musik tampaknya telah menjadi panggilan jiwanya. “Setelah menyelesaikan Lagere School di Makasar, ia pindah ke Jakarta, dan memperdalam musik,” tulis Ensiklopedi Musik Volume 1. Di Jakarta, Mochtar Embut masuk di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, mengambil jurusan Bahasa Prancis. Sementara itu, ia justru tidak pernah mengenyam pendidikan musik secara khusus. Ia belajar musik secara otodidak dari buku-buku. Ia juga belajar langsung dari para musisi. Di Makassar, ia belajar dari pianis Ong Kian Giap, sedangkan di Jakarta ia menimba ilmu dari Nich Mamahit, seorang pianis jazz. “Sepanjang hidupnya Mochtar banyak menimba ilmu mengenai musik secara otodidak berkat kegemarannya membaca,” tulis Aming Katamsi dalam Klasik Indonesia Komposisi untuk Vokal dan Piano. Pada 1962, Mochtar Embut menolak tawaran mengikuti pendidikan musik di Jepang. Sementara itu pada 1971, karyanya With the Deepest Love from Jakarta atau Salam Mesra dari Jakarta justru mendapat penghargaan The Best Ten dalam World Popular Song Festival di Tokyo. Ia juga menjadi orang Indonesia pertama yang memimpin orkestra Nippon Hoso Kyokai (NHK) di Budokan Hall, Tokyo kala itu. Di Indonesia, lagu-lagu ciptaan Mochtar Embut juga sering mendapat penghargaan, antara lain Pemilihan Umum dari Departemen Dalam Negeri, Keluarga Berencana dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana, Mars AURI dari Angkatan Udara Republik Indonesia, serta Gerbang Jakarta dan Jakarta Fair dari Gubernur DKI Jakarta. Sepanjang hidupnya, Mochtar Embut telah menciptakan lebih dari 200 lagu, terdiri dari lagu-lagu seriosa, Melayu, lagu perjuangan, anak-anak, dan karya musik instrumental untuk piano dan biola. Lagu-lagunya seperti Di Wajahmu Kulihat Bulan , Di Sudut Bibirmu dan Tiada Bulan di Wajah Rawan , masih dikenal hingga hari ini. Sementara itu, karya-karya seriosanya yang cukup terkenal pada masanya antara lain Segala Puji , Setitik Embun , Srikandi , Kumpulan Sajak Puntung Berasap , Senja di Pelabuhan Perahu , Gadis Bernyanyi di Cerah Hari , Lagu Rinduku , Kasih dan Pelukis , Senyuman Dalam Derita , dan Sandiwara . Menurut Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M Dahlan dalam Lekra Tak Membakar Buku, Mochtar Embut juga tercatat sebagai anggota Lembaga Musik Indonesia (LMI) yang berada di bawah Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Pada 1963, ia turut dalam misi kebudayaan bersama Ansambel Gembira ke Tiongkok, Vietnam, dan Korea. Dalam piringan hitam yang kemudian menjadi cenderamata dalam misi kebudayaan itu, tiga lagu diciptakan oleh Mochtar Embut, yakni Dari Rimba Kalimantan Utara , Api Cubana , dan Djamila . Ia sendiri juga berperan sebagai pianis mengiringi Ansambel Gembira. Mochtar Embut menciptakan lagu Djamila terinspirasi sosok Djamila Bouhired, tokoh revolusi Aljazair yang cukup terkenal di Indonesia berkat serial tulisan Rosihan Anwar di harian Pedoman . Lagu Djamila juga dibuat sebagai bentuk solidaritas dan dukungan terhadap perjuangan Aljazair dan negara-negara Asia-Afrika lainnya. Pada 1964, Moctar Embut terpilih sebagai anggota presidium Konferensi Nasional Lembaga Musik Indonesia (LMI) Lekra. Ia duduk bersama Drs. Suthasoma, Adi Karso, Eveline Tjiaw, Gesang, Luther Sihombing, M. Arief, Ktut Putu, Juliarso, Ukuo Sen, Tjie Wing Hoo, Nj. Komara, M. Karatem, dan Hersad Sudijono. Sementara itu, ketua presidiumnya adalah Sudharnoto, pencipta lagu Garuda Pancasila . Jejak Mochtar Embut lainnya juga tercatat dalam Kumpulan Lagu Populer I yang memuat 27 lagu rakyat Indonesia dan sembilan lagu Barat yang ia susun sendiri. “Dengan buku ini saya ingin mengetengahkan kepada dunia luas bahwa Indonesia memiliki lagu-lagu rakyat yang cukup berbobot,” kata Mochtar Embut seperti dikutip Katamsi. Di akhir perjalanan hidupnya, Mochtar Embut terserang penyakit lever dan kanker hati. Ia meninggal pada 20 Juli 1973 di Bandung.






















