Hasil pencarian
9854 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Ulah Sukarni Akibatkan Soewarsih Diburu Aparat Kolonial
DUDUK dalam lembaga yang sama membuat Saifuddin Zuhri (menteri agama periode 1962-1967) menjadi dekat dengan Sukarni. Kendati telah saling kenal sejak masa pendudukan Jepang, Saifuddin dan Sukarni baru mulai dekat setelah sama-sama menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada paruh kedua 1960-an. Kedekatan itu membuat Saifuddin tak segan mengajak Sukarni, yang disegani dalam pentas politik nasional, bercanda. Dalam sebuah kesempatan, Saifuddin sengaja melontarkan pertanyaan pada Sukarni yang selama ini membuatnya penasaran. “Dengan nada kelakar saya tanyakan, ‘Apakah peci merah yang dikenakan di atas kepalanya itu lambang identitasnya yang antiimperialis, antimodal asing?’” kata Saifuddin dalam testimoninya untuk Sukarni, “Pejuang yang Nyaris Terlupakan”, dimuat dalam buku Sukarni dalam Kenangan Teman-Temannya.
- Pesan dari Kamp Interniran
MELALUI kartu pos, ibu ingin berkabar kepada ayah bahwa kami telah diangkut ke kamp interniran khusus keturunan Yahudi. Kartu pos yang tetap kami simpan itu penuh berisi sandi untuk menghindari sensor ketat; sebagai pengirim, ibu jelas tidak pernah tahu apa alasan balatentara pendudukan Jepang kalau sampai tidak mengirim kartu pos ini. Kamp yang ibu, kakak, adik dan saya tinggalkan adalah kamp interniran kaum perempuan Kramat, di jantung Batavia lama, ibu kota Hindia Belanda yang pada 1942 diduduki Jepang. Kami sempat menghuni kamp Kramat selama setahun dan selama itu kami tidak pernah mendengar kabar tentang ayah yang jauh berada di kamp pria.
- CIA, Filipina, dan Permesta
KETIKA bekerja di atase pers dan kebudayaan di Kedutaan Besar Indonesia di Manila, Des Alwi, anak angkat Sutan Sjahrir, berteman dekat dengan beberapa jurnalis Filipina. Salah satunya Benigno “Ninoy” Aquino yang bekerja di The Manila Times sebagai koresponden perang termuda dalam Perang Korea pada 1950 dan koresponden asing di Indo-China sampai 1954. Des Alwi mengajak Aquino dan tiga jurnalis ke Manado menjelang meletusnya Permesta. Mereka bertemu dengan Letkol Ventje Sumual, pemimpin Permesta. “Gara-gara ini saya dituduh mendukung pemberontakan Permesta,” kata Des Alwi dalam memoarnya di majalah Tempo, 25 November 2007. “Saya menetap di Malaysia setelah dituduh mendukung gerakan Permesta di Sulawesi Utara.”
- Sukarno Menyingkap Kejombloan
TAHUN baru atau saban hari lebaran kerap jadi ajang pertemuan keluarga besar. Pada momen itulah tali persaudaraan dipererat dengan mengunjungi kediaman sanak famili. Silahturahmi pun terjalin dengan saling bertanya kabar. Bagi orang tua kepada kerabat yang muda-mudi, lazim pula terlontar pertanyaan, “kapan menikah?” atau “siapa pacarnya sekarang?” Pertanyaan itu bisa jadi agak mengganggu bagi mereka yang masih betah melajang alias jomblo. Perihal kejombloan ternyata telah memantik perhatian Sukarno sejak dulu kala. Bung Karno membedah kegelisahan itu ketika dirinya menulis risalah berjudul Sarinah pada 1947. Siapa nyana, menurut sang presiden, hubungan sepasang insan yang tidak berujung pernikahan penyebabnya tidak lain tidak bukan adalah kapitalisme. “Masyarakat kapitalistis zaman sekarang adalah masyarakat yang membuat pernikahan suatu hal yang sukar, sering kali pula suatu hal yang tak mungkin,” ujar Sukarno dalam Sarinah: Kewadjiban Wanita dalam Perdjoangan Republik Indonesia . Belenggu “Pintu Belakang” Kapitalisme menurut Sukarno adalah suatu pergaulan hidup yang timbul dari cara produksi yang memisahkan kaum buruh dari alat-alat produksi. Sementara itu, sektor-sektor produksi bertumpu kepada si pemilik modal. Dengan demikian, kapitalisme menyebabkan nilai tambah tidak jatuh kepada buruh atau kelas pekerja melainkan ke tangan kaum majikan. Dalam pidato pembelaannya berjudul “Indonesia Menggugat” tahun 1930, Sukarno mengatakan kapitalisme merupakan cikal bakal imperialisme modern; penindasan manusia atas manusia. Sementara itu, dalam Fikiran Ra’jat 1932, Sukarno menyebut kapitalisme menuju kepada Verelendung , yakni menyebarkan kesengsaraan. “Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan, kepapaan, pengangguran, balapan-tarif, peperangan, -- pendek kata menyebabkan rusaknya susunan dunia yang sekarang ini,” tulis Sukarno dalam “Kapitalisme Bangsa Sendiri?” termuat di Fikiran Ra’jat terbitan 1932 yang dikutip dari Di Bawah Bendera Revolusi Jilid 1 . Lantas, bagaimana mungkin kapitalisme dapat menjadi benalu dalam percintaan? Sukarno menjawab bahwa pencaharian nafkah dan perjuangan hidup dalam masyarakat begitu berat. Banyak pemuda karena kekurangan nafkah tidak berani kawin ataupun kesulitan kawin. Perkawinan seolah hak istimewa bagi mereka yang punya kemampuan finansial mapan. “Siapa yang belum cukup nafkah, ia musti tunggu sampai ada sedikit nafkah, sampai umur tiga puluh, kadang-kadang sampai umur empat puluh tahun,” kata Sukarno dalam Sarinah . Padahal, menurutnya pada periode itu seksualitas seseorang sedang menyala-nyala, berkobar-kobar sampai ke puncak jiwa. Kesukaran menunaikan hasrat kodrati itu, lanjut Sukarno, bikin perjaka masygul terlena mencari jalan keluar lewat “pintu belakang”. Mereka akan tersesat dalam perzinahan dengan sundal ataupun perbuatan keji lainnya. Bagi laki-laki, laku amoral tersebut dianggap lazim atau lumrah. Tapi, perbuatan serupa mendatangkan celaka bagi kaum hawa. Cap buruk dan hujatan akan melekat pada dahi perempuan yang terjebak di “pintu belakang”. Jari telunjuk masyarakat hanya menuding kepada perempuan saja namun tidak menunjuk kepada laki-laki; tidak menunjuk kepada kedua pihak secara adil. Begitu kira-kira pemikiran Sukarno. Berat di Ongkos Dalam Sarinah , Sukarno membayangkan kondisi masyarakat yang dia cita-citakan. Disitu, tiap-tiap lelaki bisa mendapat istri. Dan sebaliknya, tiap-tiap perempuan bisa mendapatkan suami. Namun, menurut Sukarno kapitalisme merintangi imaji itu. “Tetapi kembali lagi kepada apa yang saya katakan tadi: masyarakat kapitalistis yang sekarang ini, yang menyukarkan sekali struggle for life bagi kaum bawahan, yang di dalamnya amat sukar sekali orang mencari nafkah, masyarakat sekarang ini tidak menggampangkan pernikahan antara laki-laki dan perempuan,” kata Sukarno. Sukarno merujuk keadaan di beberapa tempat. Di Batak, Sukarno mengutip tradisi uang “mangoli” atau disebut juga dengan “sinamot”. Di Lampung berlaku istilah adat “jujur” sedangkan di Bengkulu disebut adat “kulo”. Di Flores tradisi ini bernama uang “belis”. Semua itu pada hakikatnya adalah adat jual-beli perempuan. Di Sumatra Selatan misalnya. Sukarno menyaksikan gadis-gadis tua yang tidak mendapat jodoh. Roman mukanya gadis-gadis itu seperti sudah tua, padahal mereka ada yang baru berumur 25, 30, atau 35 tahun. Jodoh yang tidak kunjung tiba lantaran adat yang memasang banyak penghalang, seperti uang hantaran yang selalu terlalu mahal. Adapun penyebab “muka tua” itu menurut Sukarno karena mereka terpaksa hidup sebagai gadis tua; “tak ada suami, tak ada teman hidup, tak ada kemungkinan menemui kodrat alami.” “Alangkah baiknya sesuatu masyarakat yang mengasih kesempatan nikah kepada tiap-tiap orang yang mau nikah!,” demikian harapan Sukarno yang ditulisnya dalam Sarinah . Bung Karno sendiri dalam perjuangannya sedari zaman pergerakan hingga menjadi presiden Indonesia senantiasa memusuhi kapitalisme. Dalam berbagai pidato, sistem itu disebutnya sebagai penjajahan dalam bentuknya yang baru. Seperti disebut sejarawan Ong Hok Ham dalam “Sukarno: Mitos dan Realitas yang termuat di Prisma , 8 Agustus 1977, kapitalisme bagi Sukarno berarah ke pemiskinan. Dan selain itu, tentu saja, mempersulit orang untuk menikah karena terkendala biaya.*
- Harga untuk Kemerdekaan Indonesia
PADA Selasa sore yang panas, 23 Agustus 1949, delegasi Republik Indonesia, beserta Serikat Federasi Indonesia (BFO) dan Belanda, berkumpul mengelilingi meja besar berbentuk oval di “Room of Knights” (Ridderzal) di Den Haag, di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dipelopori oleh diplomat Amerika Merle Cochran.
- Kebrutalan Pertempuran Surabaya
DALAM Perang Dunia II, pasukan kavaleri Inggris dan Amerika Serikat menurunkan M4 Sherman di setiap palagan. Tank berwujud raksasa itu terbukti memang sukses memenangkan berbagai pertempuran terutama saat pihak Sekutu berhadapan dengan Jerman di palagan Afrika dan Eropa. Kegaharan Sherman dilukiskan secara ciamik dalam film Fury (2014) yang dibintangi oleh aktor kawakan Brad Pitt. Di film tersebut dikisahkan bagaimana Sherman dapat mengatatasi Tiger I, tank milik militer Jerman yang disebut-sebut memiliki tingkat kecanggihan luar biasa di zamannya. Namun tidak selamanya kisah Sherman adalah melulu kisah tentang kejayaan. Di palagan Surabaya, banyak Sherman dan para awaknya justru menjadi bulan-bulanan para pejuang Indonesia.
- Pergi ke Gereja pada Masa VOC
SEBUAH gereja menjulang tinggi. Tujuh jendela besar tampak pada bagian muka bangunannya. Tanah lapang di sekitarnya penuh dengan orang. Para budak, pembesar dan pegawai Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC), dan orang-orang mardjikers atau budak yang dimerdekakan baru selesai beribadah pada hari Minggu.
- Wonder Woman 1984 dan Nilai Kejujuran
PUTRI Diana kecil (diperankan Lilly Aspell) menggebu-gebu berpacu dengan sejumlah pendekar Amazon yang lebih dewasa dalam sebuah kompetisi. Di fase akhir, Diana tinggal melontarkan sebilah tombak untuk menang. Namun langkahnya dihentikan Antiope (Robin Wright), pendekar Amazon yang menjadi pengawas kompetisi, hingga akhirnya Diana urung juara.Diana kecil menangis sesenggukan sehingga harus ditenangkan ibunya, Ratu Hippolyta (Connie Nielsen). Persoalannya, Diana hampir menang dengan cara yang culas dan mengambil jalan pintas di sebuah fase kompetisinya. Itu yang digarisbawahi sang ibu bahwa dalam keadaan apapun, perempuan Amazon tak boleh hanya mengandalkan kekuatan, melainkan harus memprioritaskan nilai-nilai kejujuran. Pesan inti dari prolog itu jadi kunci cerita film pahlawan super Wonder Woman 1984 yang diracik sineas Patty Jenkins. Film itu merupakan film kesembilan dari waralaba DC Extended Universe cum sekuel dari film pahlawan super serupa, Wonder Woman (2017). Adegan Diana kecil (kanan) dalam sebuah kompetisi halang rintang bangsa Amazon. ( warnerbros.com ). Nilai kejujuran dengan keras dipegang Diana ketika berangsur dewasa dan hidup di tengah manusia biasa di Washington DC pada 1984.Diana menyamar sebagai pakar antropologi dan arkeologi di Museum Smithsonian bernama Diana Prince. Suatu hari, di tengah rutinitas pekerjaannya, Diana dewasa (Gal Gadot) bertemu rekan baru yang acap rendah diri, Barbara Minerva (Kristen Wiig). Keduanya saling bantu menyelidiki sejumlah temuan benda kuno. Salah satu benda itu akan mengubah persahabatan mereka maupun situasi dunia secara global. Baca juga: Pesona Wonder Woman dalam Empat Wajah Benda kuno itu adalah batu citrine dari peradaban Mediterania. Batu tersebut ternyata bisa mewujudkan keinginan siapapun yang memegangnya. Termasuk Diana , yang hatinya sangat mendambakan kekasihnya yang telah meninggal bisa kembali hidup, Steve Trevor (Chris Pine). Sayangnya keinginan yang terwujud itu turut mendatangkan konsekuensi. Adegan pertarungan Wonder Woman melawan Barbara Minerva alias Cheetah. ( warnerbros.com ). Cerita kian dramatis ketika batu itu dicuri seorang pebisnis minyak oportunis, Maxwell Lord (Pedro Pascal). Akibatnya, situasi geopolitik dunia yang tengah panas oleh Perang Dingin turut terimbas sebagai buah dari keserakahan Lord. “Kita tidak bisa memiliki segalanya. Yang bisa kita miliki adalah kejujuran dan itu sudah cukup,” ujar Wonder Woman kala menghadapi Lord dalam sebuah konflik. Bagaimana kelanjutan aksi Diana Prince alias Wonder Woman dalam menyelamatkan dunia dari keserakahan Lord yang dibantu Minerva alias Cheetah? Baiknya Anda tonton sendiri Wonder Woman 1984 yang sudah tayangterbatas di beberapa bioskop maupun streaming di HBO Max sejak Natal 25 Desember 2020. Kembali ke “Khitah” Wonder Woman Di beberapa adegan, tone film sarat sinar lampu neon.Diiringi music scoring orkestra yang bercampur disko garapan komposer Hans Zimmer, penonton bakal dibawa bernostalgia ke era 1980-an. Untuk alur ceritanya, film Wonder Woman kali ini tak mengikuti alur kisah Wonder Woman di komik manapun.Sang sineas seolah ingin membawa penonton kepada karakter sejati Wonder Woman sebagaimana yang diciptakan psikolog William Moulton Marston pada 1941. Baca juga: Asal-Usul si Kocak Deadpool Jenkins menyadari bahwa Wonder Woman tak seperti pahlawan super mainstream, yang menghajar habis-habisan, bahkan membunuh tokoh penjahatnya. Wonder Woman, bagi Jenkins, adalah karakter yang memprioritaskan kejujuran untuk membuat semua orang punya keputusan yang lebih baik. “Hal menarik dari Wonder Woman adalah dia jagoan super yang tidak sering menghabisi tokoh penjahat dan lebih kepada mengonfrontir perbaikan dalam segala aspek umat manusia. Jadi dia seperti halnya seorang dewi yang berusaha terlibat dengan manusia biasa dan berusaha membuat semua orang lebih baik. Dia tak banyak bertarung, namun lebih banyak mengonfrontasi sebuah sudut pandang,” ujar Jenkins dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly , 24 Desember 2020. Sketsa pertama karakter Wonder Woman (kiri) ciptaan William Marston yang dibantu ilustrator H. G. Peter yang kemudian muncul pertamakali di All Star Comics #8. (Comixology/ comiclink.com ). Sejatinya, ketangguhan, kekuatan, maupun kecepatan yang jadi keunggulan Wonder Woman berhulu dari nilai-nilai cinta dan kejujuran. Patty Jenkins sangat kentara menonjolkan premis-premis itu sedari awal hingga akhir. Jalan ceritanya terinspirasi dari bagaimana Marson melahirkan karakter Wonder Woman berikut nilai-nilai yang dibawanya dalam memerangi kejahatan. Selain berprofesi sebagai psikolog dan pencipta purwarupa poligraf atau alat pendeteksi kebohongan, Marston merupakan salah satu anggota tim konsultan edukasi di penerbit All-American Publicatio ns dan National Periodicals di era 1940-an. Pada 1946, kedua penerbit itu berfusi menjadi DC Comics . Baca juga: Para Pemeran di Balik Topeng Batman Sampai di awal tahun 1940, jagoan super dari dua penerbit cikal-bakal DC Comics itu masih berupa para pahlawan laki-laki, mulai Batman, Superman, hingga Green Lantern. Marston ingin berkontribusi menciptakan karakter pahlawan super tambahan. Namun, diungkapkan Marguerite Lamb dalam artikelnya yang dimuat Majalah Bostonia edisi September 2001,“Who Was Wonder Woman?”, oleh istrinya, Sarah Elizabeth Holloway, Marstondisarankan untuk menciptakan pahlawan super perempuan. “Marston, psikolog yang dikenal menciptakan poligraf mengajukan ide untuk pahlawan super baru, di mana kekuatan utamanya terletak pada kekuatan pukulan atau lontaran api, melainkan dengan cinta. Elizabeth kemudian mengatakan: ‘Baiklah, tapi buatlah pahlawan supernya perempuan,’” tulis Lamb. William Moulten Marston dan istrinya Sarah Elizabeth Holloway (kiri) & Mary Olive Byrne yang jadi inspirasi karakter Wonder Woman. (Smithsonian Library/Boston University). Saran Elizabeth kemudian dijalankan Marston dengan meracik latar belakangnya dengan menyiratkan agenda feminisme dan memadukannya dengan muasal Wonder Woman sebagai keturunan dewi-dewi dari mitologi Amazon. Menurut Clare Pitkethly dalam “Recruiting an amazon: The Collision of Old World Ideology and New World Identity in Wonder Woman” yang dimuat dalam The Contemporary Comic Book of Superhero , mitologi Amazon bagi Marston merupakan gagasan yang tepat untuk meng- counter narasi-narasi dari mitologi-mitologi klasik yang didominasi tokoh laki-laki. “Wonder Woman melanjutkan narasi (mitologi Amazon) itu, di mana dominasi kulturnya akan kedigdayaan perempuan ikut dibawa ke ‘rumah barunya’, Amerika. Pesan Marston akan karakternya: ‘Wonder Woman adalah mentor perempuan yang memperlihatkan kepada para gadis muda bahwa mereka mampu melepaskan diri dari batasan-batasan aturan-aturan tradisional’,” kata Pitkethly. Lantaran Wonder Woman diciptakan kala Perang Dunia II sedang berkecamuk, Marston lantas men- setting kisah pahlawan super beralter ego Diana Prince itu sedang membantu kekasihnya, Steve Trevor, di departemen intelijen Angkatan Darat Amerika. Jiwa patriotismenya sangat kentara ditonjolkan dengan atribut rok biru bermotif bintang putih seperti yang ada dalam bendera Amerika. Inspirasi Poliarmi Untuk mengkonstruksikan fisik tokoh pahlawannya, Marston berangkat dari kehidupan pribadinya yang kontroversial dan keluar dari norma-norma tradisional. Sosok perempuan jelita Wonder Woman diciptakan dengan mengambil inspirasi dari pacar selingkuhannya, Olive Byrne. Diungkapkan Jill Lepore dalam The Secret History of Wonder Woman , dari penampakan fisik Olivelah deskripsi kecantikan dan keanggunan Diana Prince alias Wonder Woman diciptakan Marston. Rambut hitam, bentuk tubuh seksi, hingga “ Bracelet of Submission ” alias gelang anti peluru yang dipakai Olive semua dipindahkan Marston ke sosok Diana. “Awal mula Wonder Woman bersumber dari kehidupan Marston dan kehidupan dua perempuan yang dicintainya; keduanya juga menciptakan Wonder Woman. Marston bukan lelaki biasa, pun dengan keluarganya. Dia membimbing sebuah kehidupan rahasia dengan punya empat anak yang tinggal satu atap. Komik Wonder Woman jadi tempat favorit persembunyian kehidupannya,” tulis Lepore. Baca juga: Misteri Andromache of Scythia dalam The Old Guard "Lasso of Truth" atau tali laso kejujuran yang jadi senjata khas Wonder Woman. ( warnerbros.com ). Marston diketahui menganut poliarmi, suatu hubungan di mana seorang suami diperbolehkan istri resminya untuk memiliki seorang pacar. Marston diperbolehkan Elizabeth, yang juga seorang psikolog, punya hubungan dengan perempuan lain, Olive Byrne, yang sudah terjalin sejak 1925. Elizabeth dan Olive akur mengasuh empat anak Marston. Selain “Bracelet of Submission”, kelebihan lain milik Wonder Woman terletak pada senjata pamungkasnya, “Lasso of Truth”atau tali laso kejujuran. Senjata yang ditonjolkan Patty Jenkins itu dijadikan sebagai inspirasinya dalam menciptakan karakter sang pahlawan dalam Wonder Woman (2017) dan Wonder Woman 1984 (2020). Patty sengaja membedakan Wonder Woman ciptaannya dari Wonder Woman yang muncul di beberapa film lain keluaran DC Extended Universe, seperti Batman v Superman: Dawn of Justice (2016) dan Justice League (2017) yang bersenjatakan pedang dan perisai. “Lasso of Truth” diciptakan Marston sejak karakter Wonder Woman muncul pertama kali diterbitkan di All Star Comics edisi ke delapan pada Oktober 1941. Tali laso yang merupakan kekuatan utama Wonder Women merupakan simbol nilai-nilai kejujuran. Marston menciptakannya terinspirasi dari sejumlah hasil poligraf ciptaannya, di mana dia mendapati perempuan lebih berkata jujur ketimbang laki-laki ketika dites dengan alat pendeteksi kebohongan. Dengan kekuatan kejujuran itulah maka Marston menciptakan Wonder Woman sebagai sosok pemimpin ideal yang bisa menciptakan perdamaian dunia. “Sejujurnya, Wonder Woman adalah propaganda psikologis untuk tipe perempuan (era) baru yang, saya yakini, mestinya pantas memimpin dunia,” tandas Marston, dikutip Lepore. Data Film: Judul: Wonder Woman 1984 | Sutradara: Patty Jenkins | Produser: Charles Roven, Deborah Snyder, Zack Snyder, Stephen Jones, Patty Jenkins, Gal Gadot | Pemain: Gal Gadot, Lilly Aspell, Chris Pine, Kristen Wiig, Pedro Pascal, Robin Wright, Connie Nielsen, Lynda Carter | Produksi: DC Films, Atlas Entertainment, The Stone Quarry | Distributor: Warner Bros. Pictures | Genre: laga pahlawan super | Durasi: 151 Menit | Rilis: 25 Desember 2020. Baca juga: Menertawakan Kepedihan Hidup Bersama Joker
- Senjata CIA untuk PRRI
SETELAH pertemuan di Sungai Dareh, Sumatra Barat, pada Januari 1958, Sumitro Djojohadikusumo dan Letkol Ventje Sumual pergi ke Singapura. Ketika sedang makan di sebuah restoran, seorang asing mendekati mereka. Dia menawarkan senjata dengan cuma-cuma.
- Gedong Bagoes Oka Menapaki Jalan Gandhi
NI Wayan Gedong tak beruntung ketika berkesempatan mengunjungi India pada 1953. Tokoh panutannya, Mahatma Gandhi, telah meninggal lima tahun sebelumnya. Alhasil, Gedong tak bisa bertemu langsung tokoh yang banyak menginspirasinya itu. Kendati begitu, Gedong yang lahir di Karangasem, Bali pada 3 Oktober 1921 sebetulnya termasuk orang beruntung. Lahir dari keluarga pejabat kolonial, Gedong punya kesempatan yang tak dimiliki kebanyakan anak sebayanya, yakni mendapat pendidikan layak. Gedong bersekolah di Holands Inlandsche School (HIS) Klungkung, lalu melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Yogyakarta dan Algemeene Middelbare School (AMS) Batavia. Meski menikmati banyak keistimewaan, Gedong didik keras oleh ayahnya, I Wayan Komang, yang merupakan sekretaris Karangasem Raad. Komang termasuk orang yang menentang sistem kasta di Bali. Pendirian ini kemudian ditanamkannya pada Gedong sehingga membentuk karakter Gedong menjadi seorang yang egaliter. Selesai menempuh pendidikannya, Gedong mengajar di beberapa sekolah di Bogor, Singaraja, dan Denpasar. Ia juga sempat menjadi kepala sekolah SMA pertama di Bali, SMA Negeri Singaraja (1956-1963). Sastrawan Putu Wijaya dan aktor Ikranegara adalah termasuk murid-muridnya. Pada 1943, Gedong menikah dengan I Gusti Bagoes Oka, sekretaris di Paruman Agung yang kemudian menjadi wakil gubernur Provinsi Sunda Kecil. Semenjak menikah, Ni Wayan Gedong menggunakan nama Gedong Bagoes Oka. “…penambahan Bagoes Oka pada namanya sendiri menjadi tanda bahwa ia ingin sejajar dengan suaminya, dan tetap dipakainya nama Gedong sebagai tanda bahwa ia juga ingin mempertahankan jati diri dan kepribadiannya sendiri,” tulis Frederik Lambertus Bakker dalam The Struggle of the Hindu Balinese Intellectuals . Pada 1953, Gedong melakukan perjalanan ke Eropa dan India. Di India, ia mengunjungi Gandhi Ashram yang didirikan Mahatma Gandhi sejak 1915. Gandhi merupakan salah satu tokoh panutan Gedong, terutama karena ajaran Swadeshi, Ahimsa, Satya dan Karuna-nya. Meski tak bertemu Gandhi karena telah meninggal pada 1948, Gedong bertemu dengan Vinoba Bhave (1895-1982) yang dianggap sebagai ahli waris spiritual Gandhi. Gedong kemudian menghabiskan waktunya belajar di Ashram Gandhi selama di India. Ajaran-ajaran Gandhi kemudian disebarkan Gedong ketika ia pulang ke Indonesia. Pada 1976, ia mendirikan Ashram Gandhi Candidasa di bawah Yayasan Bali Canti Sena yang ia bangun pada 1970. Meski mengikuti model Ashram Gandhi di India, ashram ini memadukannya dengan keadaan masyarakat Hindu Bali. Ashram Gandhi Candidasa tidak hanya untuk mereka yang beragama Hindu. Semua orang diterima. “Ashram ini memang tidak mengenal perbedaan suku dan agama. Siapa yang berkenan ikut dapat masuk ke situ,” tulis Egy Massadiah dkk. dalam Srikandi: Sejumlah Wanita Indonesia Berprestasi. Bahkan, di ashram ini pula tokoh-tokoh seperti Abdurrahman Wahid, YB Mangunwijaya, Th. Sumartana dan tokoh-tokoh lintas agama lain sering bertemu dan berdiskusi dengan Gedong. Ashram Gandhi kemudian juga didirikan di Denpasar dan Yogyakarta. Sebagai pluralis, Gedong telah malang melintang di bidang kemanusiaan dan perdamaian agama-agama baik di tingkat nasional maupun internasional. Gedong pernah menjadi direktur eksekutif Konferensi Asia untuk Perdamaian dan Agama. Pada 1994, Gedong menerima Jamnalal Bajaj Peace Award dari India karena telah mempromosikan ajaran Gandhi di luar India. Gedong juga memiliki perhatian terhadap isu perempuan dan anak. Ia merupakan ketua Yayasan Kosala Wanita, yang bergerak dalam bidang kesehatan ibu dan anak , periode 1956-1963. Gedong juga merupakan anggota Komisi Hak-hak Asasi Wanita Asia. Di Bali, Gedong termasuk salah satu pembaharu Hindu Bali. Dalam tulisannya “Spiritualitas Baru dalam Agama Hindu” yang termuat dalam Spiritualitas Baru: Agama dan Aspirasi Rakyat, misalnya , Gedong mengkritik masyarakat Hindu yang mementingkan ritual daripada spiritual. Hal itu menurutnya perlu dibenahi karena akan memberatkan rakyat kecil. “Perubahan hanya dapat diharapkan dari kehidupan spiritual kalangan terpelajarnya. Tekanan beban upacara yang dirasakan oleh cendekiawan Hindu mendorong mereka untuk memperdalam isi dari kitab-kitab suci demi menjernihkan pengertian mereka tentang agama sendiri,” tulis Gedong. Kegusaran Gedong tak hanya terhadap Hindu Bali, tapi terhadap turisme Bali yang semakin berkembang pesat. Wisata budaya dan agama, di satu sisi memberi penghidupan, di sisi lain menggeser spiritualitas menjadi hanya sebatas komoditas. “Di sinilah letak tantangan yang berat bagi mereka yang mendambakan kehidupan rohani Hindu,” ungkapnya. Di dunia politik, Gedong pernah menjabat anggota Dewan Perwakilan Rakyat-Gotong Royong (1968-1972). Setelah Orde Baru lengser, Utusan Golongan di MPR yang sebelumya didominasi Golongan Karya (Golkar) dan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI), kemudian menjadi lebih beragam. Dari golongan agama, budayawan, hingga penyandang disabilitas. Gedong kemudian menjadi anggota Utusan Golongan Hindu MPR (1999-2002). Menurut Rosihan Anwar dalam Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia Volume 3, pada 1950-an Gedong sangat dekat dengan tokoh-tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI), mulai dari Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, hingga Soedjatmoko. “Di masa tuanya, bila datang ke Jakarta, Ibu Gedong saya lihat pasti mampir ke rumah Soebadio Sastrosatomo dan di sana bertemu dan berdiskusi dengan kawan-kawan sosialis,” tulis Rosihan. Gedong Bagoes Oka meninggal pada 14 November 2002 di Jakarta. Wajahnya kemudian muncul pada meterai Pos Indonesia keluaran 2004. Sepanjang hidupnya, Gedong telah menerjemahkan beberapa buku Gandhi seperti From Yeravda Mandir , Ashram Observances in Action, dan otobiografi Mahatma Gandhi .*
- Cerita Lucu dari Pertempuran Surabaya
AKHIR Oktober 1945. Tentara Inggris nyaris saja terbantai sia-sia di Surabaya. Guna mencegah situasi menyedihkan sekaligus memalukan itu terjadi, pimpinan militer Inggris kemudian meminta Presiden Sukarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta untuk mengendalikan para pejuang Indonesia di timur Jawa tersebut. Seperti dikisahkan dalam otobiografinya Bung Karno Penjambung Lidah Rakjat Indonesia (disusun oleh Cindy Adams), Sukarno-Hatta kemudian terlibat aktif secara langsung menghentikan aksi pertempuran di jalan-jalan kota Surabaya. Di setiap kerumunan massa dan pertahanan para pejuang republik, tak segan-segan Bung Karno menghentikan mobilnya dan berpidato dalam nada bersemangat. “Hentikan pertempuran! Kita mengadakan gencatan senjata dan tetaplah di tempatmu masing-masing! Jangan menembak! Itu perintah saya! Hentikan pertempuran segera!” seru Si Bung Besar dari atas mobil terbukanya. Bahkan karena pidatonya yang menyala-nyala itu pula, nyaris saja nyawa Bung Karno “lewat”. Ceritanya, saking bersemangat dan terpukaunya oleh gaya pidato Bung Karno, seorang remaja pejuang yang berdiri dekat Sukarno, secara tak sengaja menyenggol pelatuk senjata laras panjangnya yang tak terkunci. Akibatya: dor! “Senapan terkutuk itu meletus! Dan lagi tepat di belakang telingaku,” kenang Sukarno. Kendati sudah mendatangkan Sukarno dan Hatta, para pejuang Indonesia di Surabaya menganggap orang-orang Inggris hanya main-main saja saat berurusan dengan mereka. Hal itu semakin membuat kemarahan mereka kembali mencapai ubun-ubun, kala sepeninggal Sukarno, secara sepihak pihak Inggris justru memberikan ultimatum agar seluruh rakyat Indonesia yang bersenjata di Surabaya menyerah tanpa syarat. Tentu saja ancaman itu dianggap sepi oleh para pejuang republik. Alih-alih menyerah, pertempuran malah semakin dikobarkan dan mengakibatkan Brigadir A.W.S. Mallaby (pimpinan pasukan Inggris di Surabaya) tewas dalam suatu insiden di depan Gedung Internatio. Sejarah mencatat pada 10 November 1945, Inggris tanpa ampun membombardir Surabaya dari darat, laut dan udara. Serangan itu tentu saja disambut secara histeris oleh orang-orang Indonesia, kendati hanya sebatas sambutan lewat kekuatan infanteri dan artileri. Kegilaan orang-orang Indonesia itu memunculkan kengerian yang sangat di benak para serdadu Inggris. Kepada para wartawan, mereka menjuluki Surabaya sebagai “neraka” yang paling berdarah-darah pasca Perang Dunia II. Itu seperti diberitakan oleh New York Times , 15 November 1945. Namun di balik kengerian dan kebrutalan perang di Surabaya, terbuhul kisah-kisah lucu yang mungkin jarang diketahui khalayak. Salah satunya pengalaman yang pernah diceritakan oleh Suhario Padmodiwiryo dalam otobiografinya Memoar Hario Kecik: Autobiografi Seorang Mahasiswa Prajurit . Dalam suatu pertempuran kota, seorang pejuang kecil berusia kurang dari 15 tahun tetiba harus berhadapan satu lawan satu dengan seorang prajurit Sikh berjanggut lebat yang tinggi besar dan bersorban dari Divisi India di suatu lorong. Kedua langsung tertegun. Sang bocah yang tengah memegang senjata langsung membidik dan menarik picu. Klik! Peluru kosong. Setelah lepas dari situasi panik, dengan tenang Si Prajurit Sikh itu mendekati sang bocah. Dia kemudian merampas senjata macet itu dan mengomel tanpa henti dalam bahasa Inggris. Awalnya, sang bocah hanya menangkap kata “mama” saja dari mulut sang prajurit. Namun dia kemudian cepat mafhum bahwa prajurit Inggris itu memintanya pulang dan menyuruh pergi saja ke pangkuan sang ibu daripada harus ikut-ikutan berperang. Sebelumnya yakni dalam Pertempuran Akhir Oktober ada suatu kejadian lucu lagi yang dikisahkan oleh Des Alwi dalam Pertempuran Surabaya November 1945 . Saat bergerak mundur, satu kompi pasukan Inggris tersudut ke Kebun Binatang Wonokromo. Situasi itu menyebabkan muncul “ide liar” di kalangan para pejuang untuk diam-diam melepaskan semua harimau dan binatang buas yang ada di kebun binatang itu. Semua setuju. Namun baru saja akan dibentuk tim pelepas binatang-binatang buas itu, tetiba seorang kawan Des Alwi yang lebih dewasa melarangnya. “Jangan dilepas! Nanti setelah mereka memakan orang-orang Inggris, giliran kita juga bakal mereka habisi!”*
- Umat Protestan dalam Cengkeraman VOC
SEBUAH kapal terdampar di Singapura. Kapal itu baru saja dirompak. Salah seorang penumpangnya seorang pastor Katolik dari Sarekat Jesuit, sebuah sekte dalam agama Katolik, bernama Aegidius de Abreu, seorang Portugis. Dia dibawa orang-orang Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) ke penjara di Batavia. Di tempat ini, dia sebermula bebas mengunjungi penganut Katolik lain di penjara.




















