Hasil pencarian
Cari di situs ini
10061 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Van Bengalen, Potret Para Budak dari Teluk Benggala
SEJAK Desember 2022, isu perbudakan menggema lagi. Pemicunya, permintaan maaf Perdana Menteri (PM) Kerajaan Belanda Mark Rutte atas dosa-dosa negerinya di masa kolonial. Tak hanya di Karibia dan Amerika Selatan, PM Rutte juga mengakui dosa perbudakan Kongsi Dagang Hindia Timur, VOC, di Asia pada 250 tahun silam. “Di Asia, antara 660 ribu dan lebih dari satu juta orang – kami belum tahu angka pastinya, diperdagangkan di dalam wilayah-wilayah kekuasaan Kongsi Dagang Hindia Timur. Angka ini sungguh luar biasa. Penderitaan manusia di baliknya bahkan tak bisa dibayangkan,” kata PM Rutte atas nama pemerintah Belanda, 19 Desember 2022. Dalam rangka kelanjutan berbagi pengetahuan, Rijksmuseum dan pemerintah Belanda juga berkolaborasi dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghelat sebuah pameran bertajuk “Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery”. Pameran yang digelar pada 27 Februari-30 Maret 2023 di lobi tamu markas PBB di New York, Amerika Serikat itu menghadirkan 10 kisah yang diangkat dari beragam arsip PBB. Salah satunya tentang kisah sejumlah budak VOC yang dinamai “Van Bengalen”.
- Kraspoekol dan Kontradiksi Dirk dalam Perbudakan
MENGENAKAN kebaya bermotif bunga lengkap dengan kain dan sepatu hak, seorang nyonya indo bernama Kraspoekol menatap murka pada Tjampakka budak perempuannya. Seraya duduk di kursi kayunya, tangan kiri Kraspoekol menunjuk ke lantai seolah memerintahkan sang budak untuk berlutut. Adegan itu merupakan pendeskripsian sebuah ilustrasi di naskah tonil tahun 1800 bertajuk Kraspoekol; of de Slaaverny. Een tafereel der zeden van Neerlands Indiën (Kraspoekol; atau Perbudakan. Sebuah drama moralitas berlatarbelakang Hindia Timur). Naskah itu merupakan karya Dirk van Hogendorp yang diadaptasi dari novel ayahnya, Willem van Hogendorp, yang terbit pada 1780, Kraspoekol, of de Droevige Gevolgen van Eene te Verre Gaande Strengheid, Jegens de Slaaven. “Wahai pemilik, penyelamatku, Nyonyaku! Aku akan selalu mengabdi padamu selamanya, selamanya; melayanimu dan menjagamu dengan segenap jiwa dan raga. Engkau yang telah membebaskanku dari rasa malu,” ucap Tjampakka seraya meminta ampun pada Kraspoekol dalam suatu dialog tonil itu.
- Manisnya Kekayaan Oopjen dari Pahitnya Perbudakan
NYONYA Belanda itu berdiri dengan anggun di sebuah ruangan gelap dengan tirai hitam dan berlantai marmer. Mengenakan gaun tulle hitam berbahan satin nan mewah, lengkap dengan hiasan renda putih di kerah dan manset gaunnya, figur nyonya dalam lukisan potret karya Rembrandt itu adalah Oopjen Coppit. Oopjen sebagai nyonya crazy rich itu begitu detail digambarkan Rembrandt. Selain gaun mewah, Oopjen juga mengenakan masing-masing empat lapis kalung dan gelang mutiara di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya menggenggam sebuah kipas hitam bulu burung unta yang terkait pada sejuntai rantai emas. Ikat pinggang perak dengan pita berwarna senada menunjukkan ia seorang pengantin perempuan, kendati di bagian perut menampakkan Oopjen tengah mengandung.
- Pemberontakan Budak 17 Agustus, Menang atau Mati!
HINGGA kini, Curaçao bersama Sint Maarten dan Aruba belum sepenuhnya menghirup udara kemerdekaan. Curaçao masih menjadi wilayah otonomi Kerajaan Belanda di Karibia meski perlawanan menuntut kebebasan terhadap kolonialisme Belanda sudah berlangsung begitu lama. Tula jadi salah satu pemimpinnya kala terjadi Pemberontakan Budak 17 Agustus. Maka setelah Perdana Menteri (PM) Belanda Mark Rutte meminta maaf atas nama pemerintah Kerajaan Belanda terkait perbudakan di masa kolonial, Desember 2022 lalu, nama Tula bergaung lagi. Kisah kepahlawanan Tula pun turut diungkap dalam pameran bertajuk “Slavery: Ten True Stories of Dutch Colonial Slavery” yang digelar di markas PBB, New York, Amerika Serikat, 27 Februari-30 Maret 2023 atas kerjasama Rijksmuseum dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Curaçao sepenuhnya jadi koloni Belanda sejak kebangkrutan Kongsi Dagang Hindia Barat, WIC, pada 1791. Letaknya berdekatan dengan Saint-Domingue (kini Haiti) yang saat itu masih koloni Prancis. Maka gema moto Revolusi Prancis (1789-1799), “liberté, égalité, fraternité” yang mencapai wilayah koloni Prancis, menyebar pula ke Curaçao.
- Pedihnya Hidup dalam Belenggu Perbudakan dan Pergundikan
PERBUDAKAN merupakan hal lumrah dalam masyarakat kolonial di masa VOC. Keberadaannya dibutuhkan untuk mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, seperti menjadi pelayan, juru lampu, tukang cuci, penjahit hingga juru masak. Tak sedikit pula budak yang dipekerjakan pihak kompeni untuk menggali kanal, membangun jalan, mendirikan gedung-gedung baru hingga menjadi tukang besi dan kayu di bawah pengawasan ahli pertukangan dari Eropa pada bengkel di kastil Batavia. Pentingnya peran budak tak hanya terlihat dari pekerjaan mereka, tetapi budak juga menjadi tolok ukur kekayaan seseorang, khususnya penduduk Eropa. Sejarawan Susan Blackburn dalam Jakarta: Sejarah 400 Tahun menyebut sebagian besar budak milik orang Eropa umumnya dijadikan sebagai pengiring untuk memamerkan kekayaan. “Orang yang paling kaya dapat memiliki seratus budak atau lebih,” sebut Susan. Kondisi itu membuat budak menjadi komoditas yang banyak dicari oleh penduduk di wilayah koloni. Iklan penjualan budak atau informasi mengenai budak yang akan dilelang tak sulit ditemukan. Para budak dilelang dengan harga bervariasi tergantung pasaran. Namun, menurut Dukut Imam Widodo dalam Hikajat Soerabaia Tempo Doeloe, ada sejumlah kriteria yangmenjadi acuan dalam menentukan harga seorang budak.
- Bangsawan Aceh dan Piagam Jakarta
MOHAMMAD HATTA, wakil ketua PPKI kepayahan menghadapi lawan debatnya, Ki Bagus Hadikusumo, Menjelang sidang PPKI, ulama Muhammadiyah dari Yogyakarta itu bersikukuh agar dalam rancangan mukadimah Undang-Undang Dasar, dan Pasal 29, Ayat 1, ditambahkan kalimat, “Dengan kewajiban melaksanakan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”, sebagaimana isi Piagam Jakarta.Dengan kata lain, Ki Bagus menghendaki sistem negara bercorak agama (baca:Islam). “Karena begitu serius rupanya, esok paginya, tanggal 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan bermula, kuajak Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, Mr. Kasman Singodimedjo dan Teuku Hasan dari Sumatera mengadakan rapat pendahuluan untuk membicarakan masalah itu,” tutur Bung Hatta dalam otobiografinya Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan. Dua nama pertama, Wahid Hasyim (NU) dan Kasman Singodimedjo (Muhammadiyah) merupakan tokoh dari kalangan Islam. Sementara Teuku Mohammad Hasan berasal dari golongan berbeda. Hasan seorang putra uleebalang (bangsawan Aceh) dan juga ahli hukum tamatan dari Universitas Leiden, Belanda. Hatta kenal baik dengan Hasan sewaktu keduanya sama-sama menuntut ilmu di negeri Belanda.
- Gerilyawan Aceh di Medan Area
AKHIR Desember 1946. Amran Zamzami masih berusia 18 tahun saat berangkat dari Langsa menuju Medan. Bukan sesuatu yang aneh bila perjalanannya sekedar jalan-jalan. Namun nyatanya, Amran datang ke Medan hanya untuk satu tujuan: bertempur melawan tentara Belanda. “Kami ingin segera menghabisi mereka. Ingin rasanya cepat-cepat menikam Belanda yang bertahan di kota Medan,” tutur Amran kepada penulis Sugiono MP dalam Belajar dan Berjuang. Amran, pemuda Aceh kelahiran Kutabuloh, seorang pasukan TRI jebolan sekolah Kadet Bireun. Dia merupakan satu dari sekian banyak pemuda Aceh yang ikut bertempur dalam palagan Medan Area. Medan Area adalah pertahanan di mulut pertempuran di mana Belanda terkepung di kota Medan.
- Akhir Pemerintahan Perempuan di Aceh
KETIKA Thomas Bowrey tiba, Aceh sudah begitu lama diperintah seorang ratu. Begitu lama hingga rakyat mual ketika menyebut raja. Sebabnya, pemerintahan tirani raja terakhir mereka. Berdasarkan cerita, sang raja adalah seorang tiran paling kejam yang pernah ada. “Patut dikagumi betapa rakyat rela membiarkan sang raja hidup begitu lama dan memerintah sedemikian kejam,” catat pedagang asal Inggris itu. Di Aceh, empat putri raja duduk di singgasana secara beruntun setelah 1641. Padahal, di sanalah Tajus Salatin karya Bukhari al-Jauhari disusun. Di kitab itu termuat kalau raja harus laki-laki.
- Kisah Martir Portugis di Aceh
PADA awal abad ke-17, Portugis terus menerus dalam keadaan perang dengan Kesultanan Aceh. Kapal-kapal mereka yang bertolak dari Malaka atau Goa tak boleh singgah di Aceh. Ketegangan mereda pada September 1638. Sejarawan Prancis Danys Lombard dalam Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda menulis, orang Portugis di Malaka atas perintah Raja Muda India, Pedro de Silva, mengirim utusan kepada Sultan Aceh, Iskandar Thani. Mereka bermaksud mengadakan perjanjian damai. Pengiriman itu juga terdorong oleh kemajuan Belanda. Mereka berharap Aceh berpihak pada mereka yang tak rukun dengan Belanda. Utusan itu dipimpin Francesco de Soza de Castro. Selain itu, turut juga Pierre Berthelot yang belum lama menjadi biarawan Carmes Dechaux dengan nama Romo Denis de la Nativite. Nakhoda asal Normandi itu mengabdi kepada sang raja muda sebagai pembuat peta.
- Para Sultanah di Kesultanan Aceh
KITAB Tajus Salatin karya Bukhari al-Jauhari menyatakan seorang raja haruslah laki-laki. Namun, justru di Acehlah tempat kitab itu disusun pada awal abad ke-17 M, tidak kurang dari empat putri raja berturut-turut naik takhta sesudah tahun 1641. Denys Lombard dalam Nusa Jawa: Jaringan Asia menulis masa itu perempuan tak bisa naik takhta karena dinilai kurang arif. Rakyat memerlukan imam untuk tampil di depan umum. Sementara perempuan tidak mungkin mengimami salat. Tidak pula dapat meninggalkan tempat tinggalnya yang terpencil di dalam istana. Namun, bila diperlukan, misalnya untuk menghindari perang saudara, seorang putri raja dapat menggantikan ayahnya. Ia tak boleh tampil dan harus tetap tersembunyi di belakang tirai apabila hendak berbicara dengan menteri-menterinya.
- 22 Maret 1873: Belanda Mengganggu Kemerdekaan Aceh
EMPAT kapal Belanda membuang sauh di Pantai Bandar Aceh. Tak lama kemudian juru bahasa Belanda, Said Tahir menghadap Sultan Alaudin Mahmud Syah, untuk menyampaikan surat dari Komisaris FN Nieuewenhuysen. Isi surat tersebut sangat mengejutkan karena Sultan Aceh diminta mengakui kedaulatan Hindia Belanda. Tentu saja, Sultan menolaknya. Surat-surat berikutnya juga dijawab dengan tegas bahwa Aceh menolak mengakui kedaulatan Hindia Belanda. Empat hari kemudian, Belanda menyatakan perang terhadap Aceh. Dengan demikian, Belanda telah melanggar perjanjian dengan Inggris dalam Traktat London yang menyebutkan bahwa Belanda dilarang mengganggu kemerdekaan Aceh.
- Ketika Amerika Menginvasi Aceh pada 1832
PADA 7 Februari 1831, kapal dagang berbendera Amerika Serikat, Friendship, berlabuh di Kuala Batu, Aceh Barat Daya, untuk mengangkut lada. Kehadiran kapal-kapal dagang Amerika di pantai barat Sumatra sudah menjadi pemandangan biasa sejak pergantian abad ke-19. Namun kegiatan transaksi jual beli yang semestinya berjalan seperti biasa tersebut, lantas menjadi malapetaka bagi awak Friendship. Friendship melepas jangkarnya dari kota Salem, Massachusetts, salah satu kota pelabuhan terpenting Amerika dalam urusan perdagangan di Timur Jauh kala itu. Dalam misinya membeli lada ke Kuala Batu, Friendship dipimpin oleh Kapten Charles M. Endicott. Friendship berlabuh dan Endicott beserta beberapa anak buahnya turun untuk menegosiasikan harga. Situasi mulai terasa aneh ketika tiga perahu kayu penuh dengan penduduk yang bersenjata mengerubungi Friendship, dan kemudian menyerangnya. Awak kapal Friendship berhamburan, dan beberapa lainnya tewas. Friendship dirampas. “Melihat kekacauan tersebut dari pantai, Endicott dan awaknya yang tersisa melarikan diri dengan sampan ke Muki, meminta bantuan dari tiga kapten kapal lain di sana (yang juga berasal dari Salem) untuk merebut kembali Friendship,” tulis David Foster Long dalam Gold Braid and Foreign Relations: Diplomatic Activities of U.S. Naval Officers 1798-1883.





















