top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10063 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Opera Pamflet Front Pemuda Sunda

    KETIKA Presiden Sukarno berpidato dalam rangka memperingati hari kemerdekaan yang ke-11 pada 17 Agustus tahun 1956, pamflet-pamflet provokatif yang ditempelkan di pohon-pohon tersebar di banyak jalan penting di Jakarta, Bandung, dan kota-kota sekitar. Pamflet tersebut berisikan perlawanan anti-Jawaisme dan makian kepada pengurus PNI Jawa Barat. Presiden Sukarno –yang mantan PNI– dan orang-orang Jawa jadi sasaran kecaman. Tak lama kemudian, dalang penyebaran pamflet diketemukan. Pelakunya ternyata Front Pemuda Sunda (FPS). FPS merupakan organisasi politik pemuda Sunda untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Sunda. Organisasinya lahir dalam sebuah kongres tanggal 17-18 Maret 1956. Alasan mereka menyebarkan pamflet dilatarbelakangi kondisi sosial masyarakat Sunda yang mereka anggap dimarjinalkan. Marjinalisasi itu dilihat dari perlakuan timpang antara pusat dan daerah —pusat begitu dimanjakan, sedangkan daerah ditelantarkan, bahkan dijadikan sapi perah.

  • Ibunya Dieksekusi, Alfa Balas Dendam kepada Wali Kota

    ALFA GIUBELLI, seorang wanita muda di Italia, dipenjara karena membalas dendam kepada seorang pria yang menjadi otak pembunuhan ibunya. Perbuatannya dikecam sekaligus dibela. Bagi mereka yang membela, Alfa adalah korban dari kejahatan perang. Sedangkan pengecam memandang Alfa sebagai sisa-sisa fasisme Italia yang harus disingkirkan. Kisahnya bermula pada 1944. Ibu Alfa, Margherita Ricciotti menjadi target kelompok partisan yang dipimpin Aurelio Bussi, seorang gerilyawan komunis yang dipanggil Nino atau Palmi. Menurut Giampaolo Pansa dalam La destra siamo noi, Margherita yang berusia 36 tahun dianggap sebagai seorang fasis, meskipun ia tidak pernah mengangkat jari untuk melawan partisan di daerah tersebut. Sementara suaminya, Pietro Giubelli, berada di daerah lain di Italia utara dan telah bergabung dengan Republik Sosial Italia (Repubblica Sociale Italiana, RSI) yang dipimpin oleh Benito Mussolini. “Di desa mereka, keluarga Giubelli dikenal sebagai keluarga pendukung rezim Mussolini. Namun, mereka kebanyakan adalah orang miskin,” tulisnya.

  • Cara Walikota Jakarta Sediakan Rumah Murah

    PENJUALAN rumah dengan uang muka nol rupiah di DKI Jakarta tinggal menghitung hari. Gubernur Anies Baswedan berjanji menerbitkan Peraturan Gubernur tentang program itu pada Selasa, 17 April 2018. Wakil Gubernur Sandiaga Uno memperkirakan warga Jakarta bisa mencicil rumah mulai Mei 2018. Keduanya berharap program itu mampu memecahkan masalah akut Jakarta dalam perumahan. Urusan menyediakan rumah murah dan layak huni bagi warga Jakarta telah menjadi beban pikiran para pembesarnya sejak kemerdekaan, ketika masih bertitel walikota. Soewiryo, walikota pertama Jakarta, berhadapan dengan para pemukim liar di sekitar pusat kota. Mereka tinggal di gubuk-gubuk pengap di atas tanah tak bertuan. “Gubug-gubug ini lambat laun menjadi tambah besar sehingga lama-kelamaan merupakan rumah sederhana,” kata Soewiryo dalam Karya Jaya: Kenang-Kenangan Lima Kepala Daerah Jakarta, 1945-1966.

  • Revolusi Kultural Walisongo

    BEBERAPA catatan sejarah menyimpulkan, Islam masuk ke Nusantara sejak akhir abad ke-7 atau awal abad ke-8. Kala itu, penyebaran ajaran Nabi Muhammad SAW ini belum begitu pesat. Namun, sejak awal abad ke-15, Walisongo memulai tonggak baru dakwah Islam yang membawa era keemasan Islam di Nusantara, terutama Jawa. Budayawan Nahdlatul Ulama Ngatawi Al-Zastrouw dalam Dialog Sejarah “Dakwah Walisongo dan Corak Islam di Jawa” di saluran Youtube dan Facebook Historia, Jumat, 16 April 2021, menyebut konsep dakwah Walisongo merupakan sebuah Revolusi Kultural. Ngatawi menjelaskan, salah satu penyebar agama Islam pra-Walisongo adalah para saudagar Timur Tengah. Sambil berdagang, mereka juga melakukan dakwah. Namun, kala itu konstruksi sosial masyarakat Nusantara masih didominasi pemahaman Hindu-Buddha di mana salah satunya menggunakan sistem kasta yang meyakini bahwa penyebar agama ialah seorang Brahmana. Saudagar yang berkasta Waisya kemudian tak dipercaya ketika menyebarkan agama.

  • Kisah Leluhur Walisongo

    DALAM berbagai kitab sejarah dan babad Jawa, Syekh Jumadil Kubra disebut sebagai leluhur Walisongo. Petilasan yang diyakini sebagai makamnya berada di beberapa tempat di Jawa. Banyak orang datang untuk ziarah. Agus Sunyoto dalam Atlas Walisongo menghimpun berbagai sumber lokal tentang Syekh Jumadil Kubra. Dalam Kronika Banten, Syekh Jumadil Kubra digambarkan sebagai nenek moyang Sunan Gunung Jati. Ceritanya, Ali Nurul Alam, putra Syekh Jumadil Kubra, tinggal di Mesir dan memiliki anak bernama Syarif Abdullah. Syarif Abdullah memiliki anak bernama Syarif Hidayatullah yang kemudian menjadi Sunan Gunung Jati. Dalam Babad Cirebon disebutkan bahwa Syekh Jumadil Kubra sebagai leluhur Sunan Gunung Jati, Sunan Bonang, Sunan Ampel, dan Sunan Kalijaga.

  • Cerita di Balik Gambar Sunan Kalijaga

    PERNAHKAH Anda bertanya siapa yang menggambar Walisongo atau sembilan wali penyebar Islam di Jawa? Gambar itu sangat terkenal karena dibuat posternya dan dijual. Gambar Kalijaga berbeda dengan delapan wali lainnya. Kalijaga digambarkan berkumis tanpa jenggot, memakai pakaian surjan, dan mengenakan blangkon. Sedangkan delapan wali lainnya mengenakan jubah dan sorban sebagai ikat kepala. Ternyata, ada dua gambar Kalijaga. Selain gambar di poster yang telah diketahui masyarakat luas, terdapat gambar Kalijaga yang lebih awal, sekitar tahun 1970-an.

  • Jenderal Hobi Berburu Babi

    PRESIDEN Soeharto sekali waktu mengadakan rangkaian kunjungan ke daerah transmigrasi. Program transmigrasi memang sedang digalakkan pemerintah pada dekade 1980-an. Soeharto datang untuk melihat kemajuan program itu sekaligus mendengarkan aspirasi masyarakat transmigran. Para petani mengeluh kepada presiden tentang hama babi hutan perusak tanaman. Untuk menanggulanginya, pemimpin kelompok tani mengimbau agar dikirimkan tim Perbakin (Persatuan Menembak dan Berburu Indonesia). Bertepatan pula dalam anjangsana itu, turut serta Ketua Perbakin Jakarta Brigjen (Purn.) Herman Sarens Sudiro. Herman pun turun tangan. Setiap pekan, dia bersama rekan-rekan sesama pemburu turun ke hutan-hutan. Gangguan hama babi terbanyak umumnya berada di pedalaman Jawa Barat, Bengkulu, Jambi, Kediri, dan Palu.

  • Herman Sarens Sudiro, Nasib Mujur Si Perwira Tempur

    LETNAN Kolonel Herman Sarens Sudiro sudah mengenakan pakaian dinasnya meski hari masih cukup pagi. Dia memutuskan berpatroli menuju kediaman Brigjen D.I. Pandjaitan. Dengan berkendara panser Saracens, Kepala Biro Mabes TNI AD itu tiba. Turun dari panser, Herman marah bukan main menyaksikan keadaan. Darah berceceran di pelataran depan sementara Pandjaitan tak ada di tempat. Kepanikan melanda seisi rumah. Istri Pandjaitan, Mariekke yang trauma dan takut malah mengusir Herman. Sebagaimana dicatat dalam Kunang-kunang di Langit Kebenaran, pada subuh 1 Oktober 1965 itu, Herman sebetulnya sudah mendengar rentetan tembakan dari arah rumah Pandjaitan dan berusaha mencari asal tempat kejadian. Tetapi pasukannya kesulitan melacak karena hari masih gelap.

  • Herman Sarens Sudiro, Perwira yang Nyaris Ditembak Soeharto

    MESKI dikenal sebagai orang dekat Soeharto, namun langkah Herman Sarens Sudiro tak selalu mulus. Kepalanya nyaris diterjang peluru oleh tangan Soeharto sendiri. Bagaimana mungkin? Herman Sarens menuturkannya dalam manuskrip otobiografi berjudul Cerita Seorang Tentara: Cuplikan Riwayat Kehidupan Herman Sarens Sudiro. Ceritanya, pada pukul 09.00 pagi, 2 Oktober 1965, ketika Herman sedang mandi dirumahnya di Jalan Daksa Kebayoran Baru, tiba-tiba sang istri menggedor pintu dari luar. Ternyata ada telepon penting dari markas Kostrad. Panglima Kostrad, Mayor Jenderal Soeharto memerintahkan Herman agar segera menghadap dirinya. Di markas Kostrad, Herman menuju ke ruang kerja Soeharto. Setelah memberi salam hormat, Soeharto mempersilahkan Herman duduk. Tanpa berbicara apa-apa, Soeharto hanya membuka laci mejanya dan mengambil sesuatu. Sepucuk pistol revolver diarahkan tepat ke muka Herman.

  • Hikayat Wayang Orang di Priangan

    BERAWALl dari dakwah yang dilakukan Sunan Gunung Djati dan Sunan Kalijaga, pertunjukan wayang wong (wayang topeng) –drama-tari yang memakai manusia sebagai objek pertunjukannya– telah menjadi bagian yang tidak terlepaskan dari kebudayaan masyarakat Cirebon. Penyebarannya pun terus dilakukan hingga dikenal oleh masyarakat Priangan. Rombongan wayang wong dari Cirebonlah yang berperan penting dalam penyebaran tersebut. Hingga kini pertunjukan wayang wong masih terus dilesatarikan, walau hanya ditampilkan dalam acara tertentu saja. Secara historis, penyebaran wayang wong dari wilayah Jawa Tengah terjadi ketika zaman Mataram Islam (1588-1755). Terdapat kondisi yang serupa di wilayah kekuasaan Mataram saat itu dengan Kesultanan Cirebon, yakni aktivitas penyebaran Islam.

  • Wayang Perang Idola di Gelanggang

    BEGITU mendapat perintah untuk mencari tirtapawitra (air kehidupan) dari Begawan Drona, Werkudara langsung berkelana. Dia akhirnya berhasil menemukan sumur tua Jolotundo di Gunung Argokiloso. Namun, dia tak bisa langsung mendapatkan tirta pawitra karena harus bertapa terlebih dulu. Untuk memuluskan jalannya, Werkudoro memanggil para pengawalnya, yakni Anoman, Setyaki, dan putranya Gatotkaca untuk menjaga pertapaan. Upaya tersebut tak sia-sia. Di tengah pertapaannya, Sudirgapati, prajurit Prabu Karungkala yang diperintahkan Begawan Drona untuk mengganggu pertapaan Werkudoro, datang. Gangguan itu membuat Anoman dan rekan-rekannya langsung bertarung melawan Sudirgapati. Pertempuran Itulah salah satu bagian paling ditunggu para penonton. Saking pentignya pertempuran, ada gurauan populer di antara penonton: Nek wis perang, gugah yo! (Kalau sudah perang, tolong dibangunkan!). Pasalnya, di sinilah kelihaian dalang memainkan wayangnya ditunjukkan.

  • Mantra Sakti Sang Dalang Wayang

    WAYANG, bagi orang Jawa, merupakan pertunjukan sakral. Maka, dalam setiap pertunjukannya, harus lancar tanpa halangan. Kelancaran pertunjukan, tentu saja melibatkan dalang sebagai empunya pagelaran. “Pertunjukan wayang kulit yang sesungguhnya adalah pertunjukan bayangan, Sang Dalang adalah personifikasi atau bayangan Tuhan itu sendiri, karena ‘Dia’ lah yang menggerakan kehidupan atau ‘cerita’ kehidupan ini,” kata Prapto Yuwono, pengajar Sastra Jawa Universitas Indonesia. Seorang dalang tidak hanya mempersiapkan hal yang kasat mata, namun juga waspada terhadap gangguan yang tak kasat mata. Gangguan atau bahaya ini, tulis W. H. Rassers dalam Over den zin van Het Javaansche Drama (Makna dari Lakon Wayang Jawa), misalnya rubuhnya panggung wayang dan menimpa dalang.

bg-gray.jpg
Ikut dikirim ke Ambon, Gatot Soebroto dikira keluarganya sudah mati. Masa Pendudukan Jepang membuatnya “menukar” seragam dari KNIL ke PETA.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto menjadi tentara Belanda ditentang sang ayah karena tidak ingin anaknya menjadi penindas bangsanya. Dia membuktikan diri sebagai tentara yang peduli kaum lemah hingga dicap sersan gila oleh atasannya.
bg-gray.jpg
Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif.
bg-gray.jpg
Gatot Soebroto berani dan suka berkelahi, yang berakibat dikeluarkan dari sekolah. Di balik sikap kerasnya, dia baik hati ibarat seharum tanjung tetapi sekeras baja.
bg-gray.jpg
Semasa menjadi panglima di Kalimantan Barat, Musannif Ryacudu membuktikan loyalitasnya kepada Presiden Sukarno dengan membiayai sendiri operasi Ganyang Malaysia. Kariernya redup setelah peristiwa G30S 1965.
bottom of page