top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Ikhtiar Mengubah Wajah Film Silat Indonesia

    SHEILA Timothy, produser perusahaan film Lifelike Pictures, memperoleh tawaran mengejutkan dari Vino Giovani Bastian, aktor sohor sekaligus adik iparnya, pada 2015. Tawaran dari Vino berupa memfilmkan cerita silat laris Wiro Sableng karya Bastian Tito, ayah Vino. Lala, panggilan akrab Sheila Timothy, seperti memperoleh kembali serpihan masa lalunya ketika mendapat tawaran itu. Lala mengaku masa remajanya tumbuh bersama film-film silat. “Karena termasuk angkatan tua, saya suka nonton film silat zaman dulu. Saya suka sejarah,” kata Lala kepada Historia. Dia juga punya mimpi suatu hari nanti ingin mencipta film aksi dan fantasi. Dia menilai tawaran Vino cukup menarik. “Tapi saya takut untuk memfilmkan Wiro Sableng. Saya masih ragu-ragu. Saya tahu untuk membuat Wiro Sableng jadi film yang keren pasti butuh persiapan matang, riset mendalam, dan budget yang tak sedikit,” ungkap Lala. Padahal saat itu Lala belum pernah sekalipun membaca buku Wiro Sableng. Dia hanya tahu Wiro Sableng dari sinetron televisi dekade 1990-an.

  • Intelijen Indonesia Kebobolan Agen CIA

    PRESIDEN Sukarno mengunjungi Mesir sebanyak enam kali. Roeslan Abdulgani, mantan menteri penerangan, ikut dalam kunjungan terakhir pada 1965. Di ruang besar hotel tempat rombongan menginap, Roeslan didekati seorang perempuan Amerika Serikat yang menanyakan apakah dia dapat berkenalan dengan Sukarno. “Sukarno yang memang mata keranjang menanyakan pada saya siapa wanita itu,” kata Roeslan dalam Tokoh Segala Zaman karya Casper Schuuring, wartawan Belanda. “Biarkan dia datang,” kata Sukarno. Perempuan itu mengatakan kepada Sukarno bahwa dia ingin melakukan penelitian dan menulis buku tentang Indonesia. Dia meminta bantuan Sukarno agar bisa ke Indonesia. Menteri Urusan Luar Negeri Pakistan, Ali Bhutto, yang mendengar permintaan perempuan itu, mengingatkan, “Berhati-hatilah, Bung Karno!”

  • Pemuda Sosialis di Balik Film Legendaris

    SENYUM tersungging di bibir Thea Susetia Kusumo ketika menerima Historia di kediaman sederhananya, Perumahan Dosen Universitas Negeri Surabaya. Meski keriput telah menghiasi wajahnya, stamina Thea tak pernah kendur ketika menceritakan suaminya, Gatut Kusumo Hadi. “Ibu Thea ini bekas dosen bahasa Inggris di Unesa. Dulu beliau dosen bahasa Inggris pertama di Surabaya ini. Makanya masih bisa tinggal di perumdos sini,” ujar Dhahana Adi Pungkas, penulis buku Surabaya Punya Cerita, yang mengantar Historia.ID. Maka, dengan senang hati perempuan sepuh nan ramah itu membuka kembali laci ingatannya perihal sang suami dan menceritakannya. Memang, Gatut sang suami hampir mustahil dikenal generasi milenial. Namun, jika menyebut film legendaris Soerabaia 45: Merdeka ataoe Mati!, anak-anak muda generasi 1990-an pasti banyak yang tahu. Saban 17 Agustusan dan 10 November (HUT RI dan Hari Pahlawan), film itu kerap diputar TVRI.

  • Mengenal Sutradara Pertama Film Gundala

    FILM Gundala (2019) garapan sutradara Joko Anwar akan segera rilis pada 29 Agustus mendatang. Film superhero yang diadaptasi dari komik Gundala karya Harya Suraminata atau Hasmi ini, sebelumnya pernah dibuat pada 1981. Gundala Putra Petir (1981)dibintangi oleh aktor kenamaan saat itu, seperti Teddy Purba (Sancaka), Ami Prijono (Profesor Saelan), Anna Tairas (Minarti), dan W.D. Mochtar (Gazul). Film ini bercerita tentang Sancaka dan Profesor Saelan yang berhasil menemukan serum antimorfin. Mendengar hal itu, Gazul, bos sindikat narkoba, menculik dan meminta mereka menciptakan heroin sintetis. Namun, Sancaka akhirnya berubah menjadi Gundala dan memberantas kejahatan Gazul dengan kekuatan petir.

  • Menonton Indonesia dalam Film Berita

    PADA awal kemerdekaan, ketika belum banyak media massa, pemerintah Indonesia menggunakan film berita sebagai salah satu media komunikasi. Karena dominan akan muatan agitatif dan politis, film berita sering dikatakan sebagai film propaganda. Sebelumnya, film berita juga telah diproduksi oleh pemerintah Jepang di Indonesia dan digunakan untuk propaganda militer yang diputar melalui layar tancap di desa-desa. Kemudian pasca Proklamasi 1945, kelompok Berita Film Indonesia mulai mengambil alih produksi film-film berita. Periode revolusi (1945-1949) menjadi tema utama film-film berita masa itu. Kelompok ini membuat tiga film berjudul Berita Film Indonesia No. 1-3.

  • Film Indonesia Pertama yang Menggunakan Efek Khusus

    BABI kecil itu ditaruh di atas meja untuk disembelih. Ketika sang jagal sedang mengambil kapak, si babi berubah menjadi seorang manusia berkepala babi. Sang jagal kaget dan ketakutan. Manusia babi itu lalu menghilang. Tie Pat Kai namanya, siluman babi itu hendak memperistri Tjoei Lan, anak gadis seorang hartawan. Ia berubah menjadi pemuda tampan untuk mengelabui Tjoei Lan dan keluarganya. Setelah berhasil menikah, mereka dikaruniai seorang anak berwujud babi. Akhirnya, penyamaran Tie Pat Kay terbongkar. Tie Pat Kay Kawin (1935) merupakan film besutan The Teng Chun produksi Java Industrial Film. Film ini merupakan koleksi film tertua yang dimiliki Indonesia, yang saat ini tersimpan di Sinematek. Namun, dari durasi 43 menit, hanya 21 menit yang bisa ditonton. Sebagian film telah rusak.

  • Upaya Menggali Inspirasi Lewat Film Kadet 1947

    PERJUANGAN kemerdekaan negeri ini tak melulu berisi kisah-kisah heroisme dari peperangan di darat. Ada pula para pemuda di masa itu bertaruh nyawa di udara. Epos pemboman yang dilakukan para kadet Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI, kini TNI AU) 73 tahun lampau itulah yang bakal diangkat ke layar lebar dengan tajuk Kadet 1947. Adalah Temata Studios yang menggarap petite histoire (sejarah kecil) yang tak pernah atau jarang tertera di buku pelajaran sejarah zaman kiwari itu. Film yang juga didukung TNI AU itu bakal dikemas dengan drama berlabel “inspired by true story” oleh duet sineas muda Rahabi Mandra dan Aldo Swastia. “Cerita ini memang berdasarkan zaman Agresi Militer Belanda (pertama). Serangan dilakukan para kadet yang notabene masih amatir. Tapi semangat ini yang ingin kita bagikan. Ini semacam untold story karena kisah mereka ini bukan cerita yang besar seperti cerita-cerita Jenderal Sudirman, tetapi kisah mereka dapat membangkitkan semangat bagi gerakan-gerakan (perjuangan) yang lain,” kata produser Celerina Judisari dalam konferensi pers virtual via platform video conference Zoom, Rabu (15/4/2020).

  • Gus Dur dan Film Dakwah

    SETIAP Ramadan tiba, film-film dakwah Islam tayang sangat sering di televisi. Film-film itu berupaya menyampaikan pesan Islam lewat bentuk-bentuk lahir yang kentara. Misalnya terlihat pada busana, ucapan, adegan di masjid, dan suasana keluarga dalam rumah. Tak jarang orang merasa dikhotbahi ketika menontonnya sehingga menjadi kurang nyaman. Akhirnya, film itu justru ditinggalkan. K.H. Abdurrachman Wahid, mantan presiden Indonesia 1999–2001, punya rumus jitu agar film dakwah tak terjebak pada formalitas semacam itu. Gus Dur, sapaan akrabnya, selain dikenal sebagai sosok gemar membaca, juga gandrung pada film. Sejak remaja dan tinggal di Yogyakarta, pada 1950-an dia gemar menonton film-film serius. “Hampir sebagian besar waktunya selama tinggal di kota ini ia habiskan dengan menonton film,” sebut Greg Barton dalam Biografi Gus Dur.

  • Mengulik di Balik Layar Film Kadet 1947

    HARI itu, 21 Juli 1947, Pangkalan Udara (lanud) Maguwo, Yogyakarta, porak-poranda. Sejumlah bangunannya hancur. Sebuah pesawat pembom tukik ringan bekas Jepang, Mitsubishi Ki-51, habis dilalap si jago merah. Tiga kadet, Adjie (diperankan Marthino Lio), Mul (Kevin Julio), dan Sigit (Bisma Karisma) menatap nanar ke langit saat pesawat-pesawat Belanda leluasa berterbangan di atas Maguwo. Peristiwa di atas merupakan potongan dari teaser film Kadet 1947 yang digarap duet sutradara Rahabi Mandra dan Aldo Swastia dari tim produksi Temata Studios. Teaser itu resmi dirilis lewat akun Instagram dan Youtube Temata Studios Jumat kemarin (17/9/2021). Teaser berdurasi satu menit tiga detik itu juga memamerkan beberapa potongan kisah dramatis pergulatan para kadet AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia, kini TNI AU) dalam merespons Agresi Militer Belanda I. Di antaranya kala para kadet itu juga ikut bergerilya menghindari serdadu darat Belanda, dan memupuk nyali melawan Belanda dengan pesawat mereka berkat seruan-seruan Presiden Sukarno (Ario Bayu) yang menggelegar.

  • Enam Film untuk Merespons Panggilan Perjuangan Kebebasan

    PERJUANGAN untuk kebebasan dengan solidaritas yang mengikutinya, di manapun masih relevan disuarakan sekalipun tidak dalam situasi peperangan. Untuk itulah pemutaran film bertema “Call and Response” hadir, guna mengajak publik untuk berkaca dan memaknainya lewat enam film yang diputar di Galeri Nasional, Jakarta, setiap Jumat malam dari 4-25 Februari 2022. Program itu merupakan bagian dari Pameran “Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak” yang diprakarsai Galeri Nasional dan Goethe Institute dan dihelat 28 Januari-27 Februari 2022. Enam film ini melengkapi 50 karya seni rupa lain yang turut ditampilkan dalam pamerannya. Semua menjadi medium bagi publik untuk merefleksikan, memaknai, dan menjawab panggilan terhadap perjuangan kebebasan yang terjadi di manapun, bukan hanya Indonesia. Menurut salah satu kurator pameran, Grace Samboh, beberapa perupa yang karya-karyanya ditampilkan dalam pameran punya keterkaitan tersendiri dengan para filmmaker, terutama film dokumentasi yang satu gagasan soal perjuangan kebebasan. Grace merujuk pada seniman Kuba yang satu karya grafisnya sudah jadi koleksi di pameran tetap Galeri Nasional sejak 1995, yakni Belkis Ayón Manso.

  • Nonton Film di Alam Terbuka

    BIOSKOP misbar (gerimis bubar) atau layar tancap masih diminati masyarakat hingga kini.Biasanya layar tancap diselenggarakan sebagai hiburan hajatan dan berbagai perayaan lainnya. Tak jarang layar tancap diputar untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan. Bioskop misbar tak dapat dilepaskan dari sejarah bioskop di Hindia Belanda. Sejarawan Alwi Shahab dalam Saudagar Baghdad dari Betawi menyebut geliat industri film di Indonesia sudah dimulai sejak menjelang berakhirnya abad ke-19. “Waktu itu film-film masih diputar di bioskop keliling,” tulis Alwi. Tio Tek Hong, pengusaha kelahiran Pasar Baru, membahas munculnya bioskop di Batavia dalam bukunya, Keadaan Jakarta Tempo Doeloe Sebuah Kenangan 1882–1959. “Mula-mula saya melihat gambar hidup yang diusahakan oleh Tuan Talbot di dalam bangsal berdinding gedek dan beratap kaleng di Gambir (Lapangan Merdeka). Di situ tidak lama karena gambar hidup itu dibawa keliling ke kota-kota lain. Yang tetap (permanen) mula-mula diusahakan oleh Tuan Schwarz di tempat orang belajar tunggang kuda (kemudian ditempati oleh Persewaan Kereta Fuchs) dekat Kebon Jahe antara Jalan Majapahit dengan Tanah Abang Barat.”

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page