Hasil pencarian
Cari di situs ini
10064 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Nani Wijaya dari Tari ke Film
KABAR duka datang dari dunia hiburan. Aktris senior Nani Wijaya meninggal dunia di RS Fatmawati, Jakarta, pada 16 Maret 2023. Beberapa hari lalu ia dilarikan ke rumah sakit karena sesak napas. Aktris berusia 78 tahun itu sempat menjalani perawatan di ruang ICU. Nani Wijaya dikenal sebagai aktris peran yang bermain dalam banyak film dan sinetron. Wanita kelahiran Cirebon, 10 November 1944 ini kian tersohor saat berperan sebagai tokoh emak dalam sitkom (sinetron komedi) Bajaj Bajuri beberapa tahun silam. Ia beradu akting dengan tokoh utama Mat Solar (Bajuri) dan Rieke Diah Pitaloka (Oneng). Debut Nani dimulai dalam film Linda (1958). “Ketika duduk di bangku SMP, ia diterima jadi pemain pembantu dalam Darah Tinggi (1960). Setahun kemudian mendapat peran utama dalam Di Balik Dinding Sekolah,” sebut Apa Siapa Orang Film Indonesia. Film garapan Rd. Ariffien (sutradara) dan Kotot Sukardi (penulis naskah) ini berkisah tentang kehidupan anak-anak dari keluarga miskin yang harus sekolah sambil kerja dan berhasil.
- Sri Asih, Adisatria Pertama Indonesia dalam Komik dan Film
ALANA (diperankan Pevita Pearce) terpaksa pasrah. Di ronde ketiga pertarungan beladiri campuran melawan anak konglomerat-mafia, Mateo Adinegara (Randy Pangalila), ia diinstruksikan untuk mengalah demi bisa menyelamatkan sasananya. Namun amarah Alana seketika meletup ketika melihat penganiayaan terhadap ibu angkatnya, Sarita Hamzah (Jenny Zhang), di luar arena. Angkara murka membuatnya kembali memberi perlawanan. Sebuah uppercut Alana lalu mengakhiri perlawanan Mateo yang terjengkang hingga tak sadarkan diri. Alhasil Jagau (Revaldo) sebagai tangan kanan mafia langsung memerintahkan anak buahnya menghabisi Sarita hingga mengalami koma. Untuk 10-20 menit pertama sejak adegan pembuka, babakan di atas memang begitu kental nuansa action beladirinya. Padahal, sejatinya itu hanya pengantar dalam film pahlawan super bertajuk Sri Asih garapan sutradara Sartri Dania Sulfiati alias Upi. Film itu diadaptasi dari komik ciptaan Raden Ahmad Kosasih pada 1954.
- Film Laris Pertama Produksi Dalam Negeri
HARI Film Nasional diperingati setiap 30 Maret. Tanggal ini diambil dari syuting hari pertama film Darah dan Doa pada 30 Maret 1950. Film garapan sutradara Usmar Ismail ini dianggap sebagai film nasional pertama karena sudah didasari oleh kesadaran nasional. Film ini diproduksi oleh studio film lokal setelah Indonesia merdeka, yakni Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia), yang didirikan Bapak Perfilman Indonesia Usmar Ismail. Meski dianggap sebagai film nasional pertama, tapi Darah dan Doa bukan film pertama buatan dalam negeri. Menurut sutradara dan tokoh perfilman, Misbach Yusa Biran dalam Sejarah Film 1900–1950: Bikin Film di Jawa, film lokal atau film buatan dalam negeri telah diproduksi sejak tahun 1926, tapi film-film ini belum dapat dianggap sebagai film nasional. “Film-film yang dibuat sampai tahun 1949 belum bisa disebut sebagai film Indonesia. Hal ini disebabkan film yang dibuat pada masa itu tidak didasari kesadaran nasional.” Film-film yang diproduksi pada zaman kolonial Belanda sekadar untuk hiburan dan mencari keuntungan. Sementara film yang diproduksi pada masa pendudukan Jepang, meski ada yang memiliki kesadaran kebangsaan, tapi yang membuat kebanyakan orang Jepang. Walaupun tak dipandang sebagai film nasional, film-film yang diproduksi sebelum kemerdekaan berperan penting dalam membangun minat masyarakat terhadap film.
- Demak Mengislamkan Banten
SEKITAR tahun 1524, Sunan Gunung Jati bersama anaknya, Maulana Hasanuddin, setelah mampir sebentar di Banten, kemudian menuju Banten Girang, ibu kota Kerajaan Sunda-Banten. Mereka segera pergi ke Gunung Pulasari yang menjulang di atas Teluk Lada. Seolah-olah gunung itu tujuan utamanya. Sebab, gunung itu merupakan wilayah Bhramana Kandali. Di sana tinggal 800 ajar-ajar (pendeta) yang dipimpin oleh Prabu Pucuk Umun. Penting bagi mereka mendatangi gunung keramat itu untuk menaklukkan secara batin kerajaan yang mereka incar sebelum merebutnya secara militer. Saat itu, pengaruh Pakuan-Pajajaran atas Sunda-Banten melemah. Dalam Sajarah Banten, Pucuk Umun, yang digambarkan sebagai Panembahan Banten –sama dengan raja Sunda dalam sumber-sumber Portugis– menyatakan bahwa Pakuan-Pajajaran tidak lagi dipimpin oleh seorang raja melainkan oleh sejumlah bupati.
- Dua Wali dalam Konflik Demak
KEMATIAN penguasa Demak Sultan Tranggana,pada 1546 menjadi mula permasalahan muncul di Jipang dan Pajang. Kedua wilayah di Jawa Tengah itu sama-sama menuntut hak atas takhta Demak. Aria Panangsang, keponakan Sultan Tranggana, yang memerintah Jipang berusaha menguasai salah satu kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Namun penguasa Pajang, Jaka Tingkir, menghalangi usahanya. Konflik pun meluas. Diceritakan Serat Kandha, Jaka Tingkir adalah menantu Sultan Tranggana. Secara keturunan jelas ia tidak memiliki hak apapun atas Demak. Tetapi tidak lama setelah pemakaman Sultan Tranggana, Jaka Tingkir mengumumkan kekuasaannya di Demak. Pengangkatan mendadak Jaka Tingkir itu dilakukan berdasarkan pilihan rakyat Demak. Ia lalu memerintahkan agar pemerintahan Demak dipindah ke Pajang. Seluruh benda-benda pusaka di Demak juga tak luput dari perpindahan tersebut. Sebagai pewaris sah Demak, Sunan Prawata, seharusnya menggantikan kedudukan Sultan Trenggana. Tetapi ia diceritakan tidak ingin naik takhta, dan secara sukarela menjadi Priayi Mukmin atau Susuhunan di wilayah Prawata, sebuah pasanggarahan yang digunakan Raja Demak selama musim hujan. Hal itulah yang kemudian mempermudah Jaka Tingkir untuk mengambil alih kekuasaan.
- Legenda Kota Suci Demak
KONON, para wali mendirikan Masjid Agung Demak hanya dalam satu malam. Empat tiang utama, soko guru, ditegakkan untuk menyokong atapnya. Yang tiga terbuat dari balok kayu utuh. Satu lagi adalah tiang yang disusun Sunan Kalijaga dengan potongan-potongan balok yang tersisa dari pekerjaan wali lainnya. Malam itu sang wali datang terlambat. Karenanya ia pun tak dapat membuat tiang dengan kayu yang utuh. Di masjid itu pula Sunan Kalijaga memperoleh baju wasiat “Antakusuma”. Kabarnya, secara ajaib baju “Antakusma” jatuh dari langit di dalam masjid ketika para wali sedang bermusyarawah. Baju “Antakusuma” kemudian menjadi salah satu pusaka raja-raja Jawa. Panembahan Senopati, raja Mataram pertama, mendapatkan baju itu dari ahli waris Sunan Kalijaga, seorang pandita di Kadilangu.
- Jaka Tingkir dan Kekuasaan Demak
PADA 1546, Demak menghadapi krisis. Kematian Sultan Tranggana menjadi mula permasalahan muncul di Jipang dan Pajang, dua wilayah di Jawa Tengah yang sama-sama menuntut hak peninggalan Demak. Aria Panangsang, keponakan Sultan Tranggana, yang memerintah Jipang berusaha menguasai salah satu kerajaan Islam terbesar di Jawa tersebut. Namun di tengah upaya itu,Jaka Tingkir (Raja Pajang) muncul. Ia berusaha keras menghalangi upaya Sultan Trenggana. Konflik mulai meluas di antara Jipang dan Pajang. Melibatkan rakyat di kedua wilayah. Jaka Tingkir keluar sebagai pemenang. Kharisma dan kesaktiannya diakui mampu mengembalikan kejayaan Demak. Siapa sebenarnya Jaka Tingkir? Menurut J.J. Meinsma dalam Babad Tanah Djawi: Javaanse Rijskroniek, Jaka Tingkir lahir di Pengging, sebuah negeri merdeka di Jawa Tengah yang penuh rahasia. Wilayah itu dahulu berada di bawah kuasa Kebo Kenanga, alias Andayaningrat, ayah Jaka Tingkir. “Karena ia lahir sewaktu ada pertunjukan wayang beber (juga dinamakan wayang krebet) maka ia pun dinamakan Mas Krebet,” tulis Meinsma.
- Raja Demak Terakhir Dimakamkan di Banten
MAULANA Muhammad, sultan Banten yang masih muda, bertanya kepada penasihatnya, Pangeran Mas, negara mana yang pertama-tama harus diserang. Pangeran Mas menyarankan agar menyerang Palembang karena di sana ada seorang abdan bernama Soro yang tidak setia lagi dan sudah lama tidak memberikan upeti. Abdan Soro adalah Kiai Gedeng Sura, pendiri Dinasti Palembang yang berakhir pada 1821. Dia melarikan diri dari Surabaya ketika Demak ditaklukkan Pajang. Dia mulai berkuasa di Palembang pada 1572. Menurut H.J. de Graaf dalam Awal Kebangkitan Mataram, Pangeran Mas menyarankan Maulana Muhammad untuk menyerang Palembang karena menganggap pada dirinya melekat hak raja Demak. Maka, Kiai Gedeng Sura yang berasal dari Surabaya dan dulu tunduk pada Demak, dianggap sebagai abdinya.
- Perjalanan Muhammadiyah di Kota Medan
SYAHDAN, sekelompok saudagar Minang kerap menyambangi rumah penjual mie rebus bernama Entong Sahari di Jalan Nagapatam 44 (kini Jalan Kediri, Kampung Keling) Medan. Mereka adalah pedagang Pasar Bundar kawasan Petisah yang datang pada malam hari untuk mengaji. Selain mengaji, para perantau itu sering berdiskusi tentang gerakan Islam. Beberapa diantara mereka bernama Djuin Sutan Penghulu, Sutan Maradjo, dan Haji Syuaib. Menurut Kalimin Sunar dalam makalah yang termuat dalam Profil Muhammadiyah Sumatra Utara, para saudagar Minang itu telah menerima paham gerakan pembaharuan Islam di kampung halaman mereka. Gerakan pembaharuan itu tidak lain bernama Muhammadiyah yang didirikan K.H. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 1912. Ketika mereka merantau ke Medan, ide untuk mendirikan Muhammadiyah pun terbersit. Mereka kemudian menghimpun kawan-kawan yang sepaham dalam pertemuan di Nagapatam 44. Pada 1 Juli 1928, tersusunlah pengurus besar Muhammadiyah. Muhammad Said Harahap atau lebih dikenal Hr. Muhammad Said menjadi ketuanya yang pertama. Djuin Sutan Penghulu menjabat wakil ketua sedangkan Mas Pono dari Yogyakarta sebagai sekretaris. Penetapan tersebut menandai berdirinya secara resmi organisasi Muhammadiyah di Kota Medan.
- Insiden Menghebohkan di Stasiun Kroya
STASIUN Kroya salah satu stasiun kereta api terpadat di Pulau Jawa. Ia terletak di Desa Bajing, Kecamatan Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Letaknya yang terletak di tengah Jawa berperan menghubungkan jalur kereta api lintas tengah dan selatan Pulau Jawa. Stasiun ini telah beroperasi sejak zaman kolonial Belanda. Berdasarkan laporan yang diterbitkan Staatsspoorwegen, perusahaan pemerintah yang menangani jalur kereta api dan trem di Hindia Belanda, dalam Verslag der Staatsspoor-en-Tramwegen in Nederlandsch-Indië 1921-1932, Stasiun Kroya termasuk salah satu stasiun kereta api tertua di Jawa. Pembangunannya bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Cilacap-Kroya-Kutoarjo-Yogyakarta pada tanggal 20 Juli 1887. Pada 1 Juli 1916, jalur kereta api Prupuk-Kroya dibangun untuk menjaring penumpang dari wilayah Cirebon. Pada 1 November 1929, Staatsspoorwegen meresmikan kereta api Eendaagsche Express yang melayani rute Batavia-Surabaya. Stasiun Kroya kemudian difungsikan sebagai tempat penggabungan rangkaian Eendaagsche Express dengan pengumpannya yang datang dari Bandung.
- Sukarno Kuliah dengan Biaya Sendiri
SUKARNO lulus HBS (Hogere Burgerschool) di Surabaya pada 10 Juni 1921. Seperti teman-temannya, dia ingin melanjutkan ke pendidikan tinggi di Negeri Belanda. Namun, ibunya, Ida Ayu Nyoman Rai, tidak mengizinkan. Meski Sukarno memohon, ibunya tetap tidak mengizinkan. Bagi ibunya, kuliah di luar negeri tidak salah, tapi banyak jeleknya kalau pergi ke Negeri Belanda. Ibunya bertanya apa yang membuat Sukarno tertarik pergi ke luar negeri: mencapai gelar perguruan tinggi atau mendapat perempuan kulit putih? "Aku ingin masuk perguruan tinggi, Bu," jawab Sukarno dalam otobiografinya Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. "Kalau itu yang kau ingini, kau bisa masuk perguruan tinggi di sini," kata ibunya. "Pertama kita harus ingat pada kenyataan dasar yang menentukan segala sesuatu dalam hidup kita. Uang! Pergi ke luar negeri memerlukan biaya yang sangat besar."
- Marga T. Waktu Kuliah Kedokteran
SEORANG mahasiswi kedokteran bernama Karmila hamil setelah diperkosa Feisal dalam sebuah pesta. Feisal lalu menikahi si mahasiswi tadi. Feisal menyesali kejahatannya. Betapapun Karmila sulit menerima pemerkosanya, seorang jabang bayi kemudian lahir dari rahimnya. Karmila sulit menerima kenyataan itu mulanya. Namun sikap Feisal lama-kelamaan membuat Karmila bisa menerimanya dan anaknya. Begitulah sinopsis cerita film Karmila (1973). Di lain tempat, waktu, dan cerita, seorang mahasiswa kedokteran bernama Leo bertaruh dengan kawan-kawannya (termasuk Johny) bahwa dia bisa mendekati hati Siska. Siska merupakan adik Johny yang sedang patah hati karena tunangannya menikahi sahabatnya sendiri.





















