top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10067 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Pele Datang ke Indonesia

    SESOSOK pria tegap berambut keriting dan berkulit gelap turun dari pesawat Garuda dengan nomor penerbangan 899/892 di Bandara Kemayoran, Senin sore, 19 Juni 1972. Di landasan, ratusan orang telah menantinya berdesak-desakan. Meski bukan tamu resmi kenegaraan, dia disambut bak raja. Orang-orang tak henti meneriakkan namanya, “Pele…Pele..Pele!” “Lebih dari sambutan kepada Ratu Juliana,” kata seorang pemuda yang ikut berjejal-jejal di antara lautan manusia yang membuat sempit Jl. Patrice Lumumba (kini Jl. Angkasa), demikian diberitakan Harian Kami, 20 Juni 1972. Demikianlah suasana kedatangan Edson Arantes do Nascimento alias Pele di Indonesia. Kunjungan pesepakbola asal Brasil itu bertepatan dengan puncak prestasinya sebagai pemain dengan gelar juara dunia tiga kali. Brasil baru saja menjuarai turnamen sepakbola Piala Dunia 1970 di Meksiko. Kesebelasan Brasil saat itu disebut-sebut yang terbaik sepanjang sejarah. Pele menjadi striker andalan Brasil dengan torehan enam gol. Sebelumnya, Pele juga membawa Brasil jadi kampiun Piala Dunia 1958 dan 1962.

  • Ludruk Marhaen di Kiri Panggung

    GELANGGANG kebudayaan Indonesia pasca kemerdekaan memang cukup riuh. Bukan hanya pada ranah sastra, musik atau film, panggung seni pertunjukan pun turut masuk dalam pusaran di mana bangsa Indonesia tengah mencari identitas kebudayaannya. Salah satunya ludruk, teater rakyat asal Jawa Timur. Dan nama Ludruk Marhaen merupakan yang paling terkenal pada era 1950-an hingga 1965. Tak hanya menyematkan nama Marhaen yang terdengar politis, ludruk ini juga turut andil dalam pergulatan kebudayaan Indonesia saat itu. Menurut Henri Supriyanto dalam Lakon Ludruk Jawa Timur, Ludruk Marhaen didirikan oleh pelawak Rukun Astari dan Shamsudin pada 19 Juni 1949. Namun, kelompok ludruk asal Surabaya ini awalnya telah dibentuk sekitar tahun 1945, pasca Proklamasi.

  • Jalan Panjang Piala Dunia Kaum Hawa

    PERIODE musim panas dalam sepakbola dunia tahun ini masih diramaikan isu-isu transfer, soal AC Milan yang disanksi financial fair play hingga tak bisa ikut Europa League, atau Copa América yang sudah memasuki fase semifinal. Sayang, isu-isu itu nyaris tak memberi tempat pada pemberitaan tentang Piala Dunia-nya kaum hawa. Piala Dunia Wanita FIFA tahun ini yang dihelat di Prancis, 7 Juni-7 Juli 2019, sudah edisi kedelapan. Pekan ini juga sudah masuk ke babak semifinal. Nama-nama bidadari lapangan hijau seperti Valentina Giacinti, Megan Rapinoe, Steph Houghton, Sakina Karchaoui tetap masih asing di telinga. Kalau pemain sekaliber mereka masih asing di telinga, apalagi srikandi-srikandi lapangan hijau tanah air. Padahal, sepakbola di tanah air sempat digemari para kaum hawa sejak akhir 1960-an. Putri Priangan menjadi klub sepakbola wanita pertama di Indonesia. Namun, dari masa ke masa sepakbola putri Indonesia justru berjalan mundur dan di era “4.0”, para remaja putri lebih kenal dan suka futsal ketimbang sepakbola wanita.

  • Rupa-rupa Perjalanan Rombongan Piala Dunia Pertama

    NEGARA mana yang tak ingin ikut serta dalam Piala Dunia? Tingginya prestise event sepakbola empat tahunan itu membuat hampir tiap negara rela melakani tahap demi tahap kualifikasi untuk bisa mengikutinya. Padahal, ketika Piala Dunia pertama dihelat di Uruguay pada 13-30 Juli 1930, banyak negara, khususnya asal benua Eropa, ogah berpartisipasi. Selain alasan jarak yang terpisah bentangan Samudera Atlantik, perkara finansial jadi pengganjal lantaran masih terdampak depresi ekonomi. Hanya empat negara Eropa yang ikut serta: Prancis, Rumania, Yugoslavia, dan Belgia. Selain berkat jasa lobi-lobi Presiden FIFA Jules Rimet, keempat negara itu berkenan datang karena akomodasinya, mulai dari perjalanan sampai kebutuhan mereka di Uruguay, ditanggung panitia pelaksana tuan rumah. Ketiga tim itu, termasuk Rimet dan tiga ofisial pertandingan, menyeberangi Atlantik dengan kapal pesiar SS Conte Verde yang dicarter panitia pelaksana tuan rumah.

  • Dari Perang Dunia ke Piala Dunia

    DARI pinggir lapangan, Josef ‘Sepp’ Herberger tak henti-hentinya menyunggingkan senyum. Sang pelatih timnas Jerman itu puas bukan kepalang karena merasa tak salah pilih kala memberi kesempatan pada bintang muda, Fritz Walter, untuk melakoni debut internasionalnya. Permainan ciamik Walter dalam laga persahabatan itu bikin sekira 40 ribu penonton di Waldstadion, Frankfurt am Main, 14 Juli 1940, bergemuruh kagum. Laga persahabatan itu digelar untuk memperkuat ikatan aliansi “Axis” antara Jerman, Rumania, dan Italia yang diwakili wasit Raffaele Scorzoni. Jerman yang superior di atas kertas memulai pesta golnya sejak menit ke-16 lewat Ernst Plener. Tetapi yang jadi sorotan utama tetaplah Fritz Walter, gelandang serang yang baru berusia 20 tahun. Gelandang yang sebelumnya mengukir kiprah manis di klub kota kelahirannya, FV Kaiserslautern (kini 1 FC Kaiserslautern), itu mencetak hattrick (trigol) di menit ke-33, 76, dan 81 untuk menyempurnakan kemenangan telak 9-3. Senyum Herberger senantiasa tersungging ketika berjalan hendak merangkul Walter usai laga.

  • Wartawan Indonesia di Piala Dunia

    KERETA api itu berhenti di dekat Stadion Santo Yakobus, Basel, Swiss. Sebagian besar penumpangnya orang Jerman Barat. Dari jendela kereta, penumpang bisa melihat pertandingan Jerman Barat melawan Hungaria pada 20 Juni 1954. Sebab letak rel kereta berada lebih tinggi daripada stadion. “Dengan demikian orang-orang Jerman masih juga dapat mengikuti pertandingan itu dari jendela kereta api,” tulis Suharso dalam “Kesan-Kesan Semasa Merebut Kedjuaraan Sepakbola Sedunia 1954”, termuat di Aneka, No 15, 20 Juli 1954. Suharso bekerja sebagai kontributor majalah Aneka dalam Piala Dunia 1954. Dia mungkin menjadi salah satu wartawan asal Indonesia yang paling awal meliput Piala Dunia setelah kemerdekaan.

  • Lima Stadion Unik Piala Dunia

    QATAR sudah bersolek untuk menggelar Piala Dunia 2022. Piala Dunia ke-22 ini akan jadi Piala Dunia terakhir dengan 32 peserta lantaran Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat-Meksiko-Kanada akan diikuti 48 tim yang akan mentas di delapan venue di lima kota. Yang menarik, salah satu stadion di Qatar dibangun dari ratusan material recycle perkapalan dan bisa dibongkar-pasang sesuai kebutuhan. ‘Istād 974 alias Stadium 974 di Ras Abu Aboud, Doha, Qatar, venue yang dimaksud, dinamakan “Stadium 974” lantaran dibangun dari 974 material daur ulang bekas peti kemas. Stadium 974 juga menjadi venue sementara pertama dalam sejarah Piala Dunia –ia akan dibongkar usai event. Stadium 974 dirancang sejak 2017 oleh para arsitek dari firma Fenwick Iribarren Architects dengan konsep desain modular dan rampung medio November 2021. Ke-974 peti kemas bersertifikasi standar itu didudukkan pada rangka-rangka baja yang mudah dibongkar-pasang.

  • Aneka Olahraga Panglima

    DI TENGAH kegiatannya yang segudang, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letjen TNI Ahmad Yani masih bisa meluangkan waktu untuk olahraga. Bahkan, dia menggemari beragam olahraga. Mulai dari berbagai jenis atletik, tenis, tenis meja atau ping pong, renang, sepakbola, hingga golf. Yani suka olahraga sejak sekolah di HIS (Hollandsch-Indische School) dan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwisj di Bogor pada 1929. “Yani menyenangi olahraga renang, lempar lembing, lempar cakram dan semua cabang atletik,” ungkap Amelia Yani dalam biografi ayahnya, Profil Seorang Prajurit TNI. Di zaman pendudukan Jepang, Yani melakoni Ken-Do, olahraga beladiri asal Jepang, ketika menjalani pendidikan perwira Pembela Tanah Air di Bogor. “Yani ahli dalam olahraga ini. Badannya atletis, sempurna sekali untuk gerakan-gerakan dengan samurai (kayu),” kata Amelia yang kini menjabat duta besar luar biasa dan berkuasa penuh untuk Bosnia-Herzegovina.

  • Jenderal Yani di Lapangan Golf

    SESUDAH makan siang bersama keluarga, Letnan Jenderal Ahmad Yani berangkat ke Senayan. Menteri Panglima AD itu punya agenda latihan golf bersama pengusaha Bob Hasan. Jelang petang, Yani tiba kembali di kediamannya, Jalan Lembang, Jakarta Pusat. Beberapa tamu penting akan sowan di malam hari. Salah satu di antaranya Panglima Brawijaya, Mayor Jenderal Basuki Rachmat. “Pada jam enam sore, bapak pulang dari bermain golf lewat garasi dan masuk melalui pintu belakang sambil berpesan kepada Pak Dedeng, supir bapak, agar alat-alat golf itu dibersihkan, karena sudah tak akan dipakai lagi,” tutur Amelia Yani dalam biografi ayahnya Profil Seorang Prajurit TNI. Alat-alat golf tadi menjadi saksi bisu hari terakhir Yani. Pada esok subuh 1 Oktober 1965, kediaman Yani disambangi sepasukan Tjakrawbirawa yang merenggut nyawa sang panglima. Kini, peralatan golf itu masih tersimpan sebagai koleksi Museum Sasmitaloka Pahlawan Revolusi Ahmad Yani, di Jalan Lembang.

  • Ahmad Yani Dimarahi Sopir

    KOLONEL Ahmad Yani, Deputi II Staf Umum Angkatan Darat, ditunjuk menjadi Panglima Operasi 17 Agustus untuk memadamkan pemberontakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatra Barat pada 1958. Yani dinilai sebagai panglima yang berani, tegas, adil, dan memperhatikan anak buah. Setiap anak buahnya mencintai dan menghormatinya. Dalam tugas sehari-hari, dia merupakan contoh bagi para komandan bawahannya. “Saya dapat menyatakan penilaian ini karena sebagai dokter saya mudah mendengarkan pendapat para prajurit, baik yang berpangkat tamtama, bintara maupun perwira,” kata Soemarno Sosroatmodjo dalam memoarnya, Dari Rimba Raya ke Jakarta Raya. Saat itu, Soemarno menjabat Komandan Pusat Pendidikan Kesehatan dan Kepala Biro B Direktorat Kesehatan Angkatan Darat.

  • Perkawanan Dua Perwira AD, Ahmad Yani dan Soemitro

    DENGAN kondisi punggung sakit, Kolonel Soemitro menghadap bosnya, Menteri Panglima AD Letnan Jenderal Ahmad Yani. Soemitro dipanggil langsung ke rumah Yani di Jalan Lembang untuk membicarakan penugasannya ke Kalimantan. Sang kolonel yang berperut tambun itu sedang menderita slipped disc -tulang belakang keseleo yang mengenai urat- sehingga jalannya miring-miring untuk mengurangi rasa sakit. Melihat perut bawahannya yang besar, Yani nyeletuk dalam bahasa Jawa kepada istrinya, Yayuk. “Bu, Bu lihat Mitro, wetenge, weteng Panglima (perutnya perut Panglima),” kata Yani. Dia kemudian memberikan perintah kepada Soemitro.

  • Meriam PRRI “Bikin Ngeri” Ahmad Yani

    USAI mengikuti Misi Yani keliling Eropa untuk membeli senjata, awal 1960-an, Hasjim Ning keponakan Bung Hatta yang pengusaha berjuluk “Raja Mobil Indonesia”, mampir ke Tokyo bersama Mayjen A. Yani (deputi II KSAD). Mereka dijemput istri masing-masing di sana. Keduanya lantas menginap di sebuah hotel yang sama di Tokyo. Saat di hotel itulah Hasjim mendapati istrinya, Ivonne, digoda seorang pria Jepang. Perkataan-menggoda pria itu didengar Hasjim maupun Yani. “Kurang ajar banget itu Jepang. Pukul saja, Pak Hasjim,” kata Yani yang geram, dikutip Hasjim dalam otobiografinya yang ditulis AA Navis, Pasang Surut Pengusaha Pejuang.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page