top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10069 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • A.A. Maramis, Diplomat dalam Situasi Gawat Darurat

    NEW Delhi, Minggu 19 Desember 1948. Menteri Keuangan Republik Indonesia Kabinet Hatta Pertama, Alexander Andries Maramis (Alex Maramis) termenung. Dia gusar setelah membaca telegram dari Yogyakarta yang ditujukan untuknya, Sudarsono (perwakilan RI untuk India), dan LN Palar. ”Kami Presiden Republik Indonesia memberitahukan, bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 jam 6 pagi Belanda telah mulai serangannya atas Ibu Kota Yogyakarta,” demikian telegram beratasnamakan Wakil Presiden Mohammad Hatta dan Menteri Luar Negeri Agus Salim itu mengawali. Belanda melakukan agresi militernya yang kedua, menawan presiden, wakil, dan beberapa menteri di Yogyakarta. Belanda telah mengkhianati Perjanjian Renville. Di hari itu, Pemerintah Republik sempat mengirim dua telegram. Satunya untuk Syafruddin Prawiranegara di Sumatera yang berisi mandat untuk membuat pemerintahan darurat. Lainnya adalah yang Alex terima.

  • Misi Diplomat Australia Sesudah Proklamasi Kemerdekaan

    “MACMAHON Ball ditunjuk oleh Dr. Evatt, Menteri Luar Negeri, untuk memimpin delegasi Australia guna membuat laporan tentang Republik Indonesia yang baru saja mendeklarasikan kemerdekaannya. Ia mengajak Joe Isaac, dosen muda Universitas Melbourne yang menguasai bahasa Belanda dan Indonesia, bergabung sebagai asisten pribadinya. Setelah briefing di Canberra, mereka berputar terbang ke Indonesia.” Begitulah informasi dari panel bertema “Misi Pencari Fakta ke Batavia” di Pameran “Two Nations: A Friendship is Born” yang digelar di Museum Bahari, Jakarta, 15 Agustus-1 September 2024. Pameran dalam rangka mempererat 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Australia sekaligus turut merayakan HUT RI ke-79 itu bertujuan mengingatkan publik bahwa rakyat dan pemerintah Australia berdiri di barisan pendukung kemerdekaan Indonesia. “Pada saat Australia dan Indonesia merayakan 75 tahun hubungan diplomatik, pameran ini menawarkan wawasan menarik tentang sejarah bersama dan persahabatan yang terjalin lama antara kedua negara kita,” tutur Duta Besar Australia untuk Indonesia Penny Williams dalam pembukaan pameran, Selasa (13/8/2024).

  • Bentakan Menlu RI Buat Diplomat AS

    MENTERI Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan tidak akan pernah mengakui klaim Tiongkok atas wilayah Natuna. Pernyataan Retno terlontar sehubungan dengan adanya aksi kapal-kapal penjaga pantai Cina yang lancang memasuki kawasan Natuna. Menurutnya klaim sepihak Cina bertentangan dengan hukum internasional tentang batas teritorial laut sebagaimana telah diatur dalam konvensi UNCLOS pada 1982. Sikap Retno ini justru berkebalikan dengan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto dan Menteri Kordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Prabowo mengatakan Tiongkok tetap negeri sahabat Indonesia sedangkan Luhut menghimbau agar persoalan ini tidak dibesar-besarkan. Prabowo dan Luhut terkesan lembek padahal keduannya adalah mantan jenderal yang merintis karier militer dari korps pasukan elite. Di era Presiden Sukarno, Indonesia juga pernah memiliki menteri luar negeri yang berani bernama Soebandrio. Bila Retno Marsudi mengawali karier diplomatiknya sebagai Duta Besar (Dubes) RI untuk Islandia dan Norwegia, maka Soebandrio merupakan Dubes RI pertama untuk Inggris. Soebandrio kemudian menjabat menteri luar negeri pada 1957 hingga 1966.

  • T.B. Simatupang Diplomat Kesasar

    KOLONEL T.B. Simatupang hanya bisa merenung. Di sebuah gardu di Dusun Minggir di tepi Kali Progo, Yogyakarta, dia tak menyangka keadaan bisa berubah drastis dari waktu ke waktu tanpa bisa diprediksi. Simatupang tak pernah membayangkan tanggal 19 Desember 1948 kehidupannya berbeda jauh dari tanggal-tanggal sebelumnya di ibukota Yogyakarta akibat Agresi Militer Belanda. “Kemarin tanggal 18 Desember saya masih mondar-mandir dalam mobil di Yogyakarta sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Perang. Sorenya, saya masih makan di Hotel Kaliurang sebagai ‘diplomat’ bersama-sama dengan anggota delegasi kita dan anggota KTN. Kemudian saya bertemu dengan Paduka Yang Mulia Wakil Presiden dari Republik Indonesia,” ujar Simatupang dalam catatan harian yang dimuat dalam memoarnya, Laporan Dari Banaran. Selepas bertemu Bung Hatta di Kaliurang, Simatupang pulang ke rumahnya di Jalan Merapi No. 8. Hari sudah larut. Karena lelah, dia langsung berbaring di atas ranjangnya dan tertidur tanpa sempat mengganti pakaian.

  • Misi Diplomatik Hayam Wuruk ke Wilayah yang Memberontak

    DALAM lawatannya ke Lamajang, rombongan Hayam Wuruk berjalan melewati Kunir dan Basini terus ke Sadeng. Mereka bermalam beberapa hari di sana. Sang Prabu bersantai menikmati pemandangan alam di Sarampwan. Perjalanan itu ditulis Mpu Prapanca dalam Nagarakrtagama. Rombongan bertolak dari ibukota Majapahit pada 1359 M. Padahal, 28 tahun lalu, Sadeng salah satu wilayah yang memberontak kepada Majapahit. Lawatan itu rupanya menjadi salah satu cara diplomatik Hayam Wuruk merekatkan kembali hubungan dengan wilayah bawahannya. Dalam karyanya itu, Prapanca memberi petunjuk kondisi politik wilayah-wilayah bawahan Majapahit pada masa Hayam Wuruk. Sebelumnya, Majapahit di bawah pemerintahan Wijaya dan putranya, Jayanagara diberondong rentetan pemberontokan yang bisa dipadamkan.

  • Nasution dan Buku Terakhirnya

    A.H. NASUTION merupakan jenderal yang sangat produktif menulis. Dibantu Moela Marboen, dosen Universitas Indonesia, dan beberapa perwira Dinas Sejarah TNI AD, Nasution menerbitkan buku Sekitar Perang Kemerdekaan sebanyak sebelas jilid. Bahan-bahannya dikumpulkan pada 1953-1955. Setelah pensiun pada 1972, Nasution menulis memoarnya, Memenuhi Panggilan Tugas sebanyak tujuh jilid. Semangat Nasution dalam menulis terus menyala bahkan ketika dia terbaring sakit dan di pengujung usianya. Pada 1986, Nasution menjalani operasi katup jantung di RSAD Pusat Walter Reed di Washington DC, Amerika Serikat. Kesehatannya sebagai manula semakin mudah terkena segala macam penyakit. Yang paling gawat sering terjadi pendarahan yang berasal dari kelenjar prostat akibat obat pengencer darah yang harus diminumnya setelah operasi katup jantung.

  • Perkawinan Perjuangan A.H. Nasution

    ADA kesenangan di balik kesulitan. Hal itulah yang kerap dialami muda-mudi di masa Perang Kemerdekaan. Kendati hari-hari mereka disibukkan dengan tugas perjuangan, termasuk bertempur di berbagai palagan, bukan berarti kebutuhan dasar seperti asmara atau berumahtangga mesti berhenti. Seringkali urusan asmara dijadikan bahan hiburan oleh kelompok pejuang entah lewat candaan, saling ledek, atau saling menjahili. Sewaktu menjabat sebagai panglima Divisi Siliwangi, Kolonel AH Nasution pernah mengerjai kepala stafnya, Letkol Askari. Kejahilan Nasution, sapaan akrab Nasution, berlangsung saat dia berkunjung ke Purwakarta, tempat markas staf berada. Saat itu, Nasution mengajak Yohana Sunarti kekasihnya, dan Ine Kawilarang. Ine merupakan sahabat Yohana sekaligus kekasih Askari. “Askari ini kawin dengan adiknya Alex Kawilarang,” tulis Abdul Halim dalam Di Antara Hempasan dan Benturan: Kenang-Kenangan Dr. Abdul Halim, 1942-1950.

  • Kasus Penipuan Raja Komputer

    “We are not the first, but...the best,” bak sebuah moto, inilah kata-kata yang terus disampaikan Jusuf Randy ketika bercerita tentang awal mula berdirinya LPKIA (Lembaga Pendidikan Komputer Indonesia Amerika) yang populer pada 1980-an. Kini, lembaga ini menjadi Institut Ekonomi Digital LPKIA. Sejak pulang ke Indonesia pada 1983, Jusuf Randy dikenal sebagai pakar komputer yang pernah bekerja di berbagai perusahaan terkemuka di dunia. Berkat pengalaman itulah dia mendirikan LPKIA. Bermodalkan 27 komputer dan sembilan tenaga pengajar, lembaga kursus komputer tersebut diresmikan di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, Jusuf menggandeng Menteri Tenaga Kerja Sudomo dalam acara peresmian pada 31 Agustus 1983. Jusuf Randy mengaku, LPKIA bekerjasama dengan beberapa lembaga pendidikan serupa di Amerika, di antaranya University of Tennesse, University of Texas, dan University of Washington. Dengan demikian, para peserta yang telah selesai mengikuti kursus komputer di LPKIA tidak perlu khawatir mencari pekerjaan. Sebab, kerjasama tersebut mencakup tawaran langsung bekerja bagi lulusan LPKIA.

  • Ada A.H. Nasution di Balik Dekrit Presiden

    PRESIDEN Sukarno pernah murka kepada KSAD Kolonel Abdul Haris Nasution. Soalnya, Nasution dianggap sebagai biang keladi mengarahkan moncong meriam ke Istana Merdeka. Nasution berdalih melakukan itu karena kecewa para politisi (termasuk Bung Karno) selalu mencampuri urusan internal AD. Kejengkelan Nasution memuncak pada percobaan setengah kudeta pada 17 Oktober 1952. “Engkau benar dalam tuntutanmu, akan tetapi salah di dalam caranya,” kata Sukarno kepada Nasution dalam otobiografinya, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat. “Sukarno tidak sekali-kali akan menyerah karena paksaan. Tidak kepada seluruh tentara Belanda dan tidak kepada satu batalion Tentara Nasional Indonesia” Sebagai hukuman, Nasution dinonaktifkan dari jabatannya. Pada 1955, Sukarno memulihkan relasinya dengan Nasution. Untuk kedua kalinya, Sukarno mengangkat Nasution sebagai KSAD. Nasution kembali menjadi orang nomor satu di AD. Pangkatnya naik dua tingkat jadi mayor jenderal.

  • Muasal Fiber Optik, Biang Kerok Komunikasi Kilat

    MENGIRIM email, menelepon, atau mencari informasi di internet kini bisa dilakukan dengan begitu mudah dan cepat. Lalu lintas informasi yang padat dan berkapasitas tak sedikit ini bisa berjalan lancar berkat penemuan fiber optik (FO). FO mampu menjadi media pengirim data dengan kapasitas dan kecepatan tinggi. Sebelum teknologi FO ditemukan, arus informasi dikirim melalui kabel tembaga. Kendati cost production-nya lebih murah, kapasitas kabel tembaga lebih rendah. Penggunaan kabel tembaga mulanya dipakai untuk saluran televisi dan pesawat telepon. Karena tembaga punya nilai untuk dijual kembali, pencurian kabel telepon banyak terjadi. Dirut Telkomsel pertama Koesmarihati, yang pernah menangani jaringan telepon, mengaku pernah menemukan pencurian kabel telepon di depan Hotel Borobudur dan Rumah Sakit Jakarta.

  • Dari Analog sampai 4G

    TAK peduli sekitar, orang-orang asik menatap layar ponsel pintar masing-masing. Di kereta, dalam bus, atau di jalan sambil memantau peta online. Berselancar di dumay kala naik kendaraan berkecepatan tinggi dimungkinkan lantaran teknologi komunikasi generasi keempat (4G). Pemandangan itu jelas tak mungkin ditemukan di zaman dulu. Jangankan internet, komunikasi jarak jauh hanya bisa dilakukan melalui telepon, itu pun masih analog. Prinsip kerja telepon generasi pertama, sering disebut telepon engkol, yakni mengirimkan gelombang suara yang sudah diubah menjadi sinyal listrik ke transmitter. Begitu sampai di receiver yang terhubung ke speaker, sinyal listrik kembali diubah menjadi gelombang suara. Pengguna telepon engkol harus memutar tuas telepon untuk menyambungkan dengan sentral telepon. Bel kemudian berbunyi di sentral telepon. “Kalau ada yang mau menelepon, nanti terdengar ceklok, ceklok kayak ayam berkokok. Kalau sedang banyak yang pakai, suaranya ramai sekali. Kami dulu suka tertawa dengar suaranya karena lucu. Itu juga tanda kami akan dapat uang,” kata Koesmarihati, mantan pegawai di Sentral Telepon Telkom ketika masih era analog.

  • Srikandi Dunia Telekomunikasi

    TELEPON selular (ponsel) kini jadi barang wajib bagi hampir semua orang. Maraknya penggunaan ponsel ini bermula dari inisiatif Telkomsel untuk meliberalisasi perangkat sejak berdiri pada 1995. Harga ponsel yang semula selangit, turun jadi terjangkau. Kala itu, Telkomsel satu-satunya perusahaan yang memisahkan bisnis layanan telekomunikasi dengan penjualan perangkat sebelum liberalisasi telekomunikasi dilakukan besar-besaran oleh pemerintah pada awal 2000. Di balik turunnaya harga ponsel itu, ada seorang perempuan yang duduk di tataran elite. Dialah Koesmarihati, direktur utama (dirut) Telkomsel pertama. Marie, begitu ia disapa, menjabat posisi dirut pada 1995 hingga pensiun pada 1998 ketika usianya 56 tahun. Lahir di Bogor, 9 Oktober 1942, Koesmarihati merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, Koesnowarso, bekerja sebagai inspektur kehutanan Provinsi Jawa Barat. Sebagian masa kecil Marie dihabiskan di Bandung, di rumah dinas ayahnya. Begitu ayahnya meninggal pada 1951, Marie sekeluarga pindah ke Madiun.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page