Hasil pencarian
Cari di situs ini
10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Berkaca dari Gajah Mada
Rene Suhardono, dikenal sebagai career coach, pelaku bisnis dan penulis. Buku Your Job is NOT You Career dan Ultimate U merupakan karya-karya dari pria gesit kelahiran Jakarta 8 Juli 1972 ini. Ia adalah putra tunggal dari pasangan Rini Warsono dan Vicente Canoneo asal Filipina. Rene, sekira 1998, pernah membuka usaha warung gerobak dengan menu western di bilangan Jalan Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Dari sekadar gerobak, Rene pun mengembangkannya hingga menjadi jaringan kafe. Ayah empat anak ini, mengaku sebagai penikmat makanan dan sejarah. Dan tokoh yang dia kagumi adalah Gajah Mada. Gajah Mada, senapati tertinggi Majapahit dibawah Hayam Wuruk, memang penuh misteri. Gajah Mada memulai karir di Majapahit sebagai bekel (kepala pengawal) dengan limabelas orang pasukannya yang disebut bhayangkara. Sekali waktu, dia menyelamatkan raja Jayanagara ke Desa Badander. Untuk menjaga keamanan raja, dia tak segan membunuh seorang pengawal yang memaksa ingin kembali ke Majapahit.
- Misteri Kematian Gajah Mada
“Tersebut pada tahun saka angin delapan utama (1285). Baginda menuju Simping demi pemindahan candi makam... Sekembalinya dari Simping segera masuk ke pura. Terpaku mendengar Adimenteri Gajah Mada gering. Pernah mencurahkan tenaga untuk keluhuran Jawa. Di Pulau Bali serta Kota Sadeng memusnahkan musuh.” Begitulah bunyi pemberitaan dalam Nagarakretagama pupuh 70/1-3 dikutip Slamet Muljana dalam Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Raja Majapahit Rajasanegara atau Hayam Wuruk yang sedang melakukan perjalanan ke wilayah Blitar pada 1364 dikejutkan dengan berita Gajah Mada sakit. Dia segera kembali ke ibukota Majapahit. Kitab yang ditulis oleh Mpu Prapanca itu mengisahkan akhir hidup sang patih digdaya dengan kematian yang wajar. Meski perannya di Kerajaan Majapahit begitu melegenda, akhir riwayat Gajah Mada hingga kini masih belum jelas. Arkeolog Universitas Indonesia, Agus Aris Munandar dalam Gajah Mada Biografi Politik menulis, ada berbagai sumber yang mencoba menjelaskan akhir hidup Gajah Mada. Dari cerita-cerita rakyat Jawa Timur, Gajah Mada dikisahkan menarik diri setelah Peristiwa Bubat. Dia kemudian memilih hidup sebagai pertapa di Madakaripura di pedalaman Probolinggo selatan, wilayah kaki pegunungan Bromo-Semeru.
- Menertawakan Sumpah Palapa Gajah Mada
PADA 1334, para menteri berkumpul di panangkilan menghadap sang Rani Majapahit, Tribhuana Tunggadewi. Di hadapan sang rani dan para menteri, Gajah Mada yang baru diangkat menjadi mahapatih, bersumpah yang kemudian dikenal dengan Sumpah Palapa. “Jika telah berhasil menundukkan Nusantara; Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik telah tunduk, saya baru akan memakan palapa (istirahat),” kata Gajah Mada. Menurut sejarawan Slamet Muljana, sumpah Gajah Mada itu menimbulkan kegemparan. Para petinggi kerajaan merespons dengan negatif. Ra Kembar mengejek Gajah Mada sambil mencaci maki. Ra Banyak turut mengejak dan tidak mempercayainya. Jabung Tarewes dan Lembu Peteng tertawa terbahak-bahak.
- Lambang Polri Sebelum Gajah Mada
POLISI Republik Indonesia disebut Korps Bhayangkara merujuk kepada nama pasukan yang dipimpin oleh Maha Patih Gajah Mada. Maka, lambangnya pun patung Gajah Mada. Ternyata, sebelum Gajah Mada, lambang Polri adalah patung Arjuna dan Sri Kresna. Hal itu terungkap dalam biografi terbaru Kapolri pertama, Jenderal Polisi RS Soekanto Tjokrodiatmodjo karya Awaloedin Djamin, mantan Kapolri, dan G. Ambar Wulan. Pada 1 Juli 1955, diadakan peresmian gedung baru Jawatan Kepolisian Negara Republik Indonesia sekaligus peringatan Hari Bhayangkara. Di sebelah kiri gedung terdapat patung Sinar dan Bayangan berwujud patung dua manusia tidak sempurna (pendek) yang menggambarkan hujwala (getaran) pribadi sang Begawan Ciptoning (Arjuna) dan Sri Kresna.
- Ternyata Patung di Mabes Polri Bukan Berwajah Gajah Mada
DI MARKAS Besar Polri berdiri monumen Gajah Mada. Ternyata, patung itu hanya badan yang Gajah Mada, sedangkan wajahnya adalah Moehammad Jasin yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional tahun 2015. Ceritanya bermula ketika Kepala Kepolisian Negara Raden Said Soekanto Tjokrodiatmodjo menugaskan Komisaris Besar Raden Umargatab, kepala Pengawasan Aliran Masyarakat (PAM), untuk mencari pematung untuk membuat monumen patung Gajah Mada. Monumen ini akan ditempatkan di halaman depan Mabes Polri. Patung ini harus selesai dan diresmikan pada hari ulang tahun (HUT) Polri, 1 Juli 1962. Pematung Catur Prasetya dibantu 30 orang pekerja berhasil menyelesaikan badan patung sebulan sebelum HUT Bhayangkara. Namun, kepalanya belum rampung karena, baik Umargatab maupun pematung tidak tahu pasti wajah Gajah Mada. Sedangkan upacara peresmian tinggal sepekan lagi.
- Peristiwa Pahit di Pura Majapahit
PENGERAN Agong Wilis berserta 40 pengikutnya dari Kerajaan Blambangan hijrah ke Bali. Mereka bermukim di sekitar pohon beringin besar di Desa Banyubiru –kini Baluk. Di situ, selain berlindung, mereka membangun Pura Majapahit. Pura Majapahit terletak di Desa Baluk, Kecamatan Negara, Kebupaten Jembrana, Bali. Lokasinya persis di pinggir jalan raya Gilimanuk-Denpasar. Berkendara sekitar 30 menit dari Pelabuhan Gilimanuk. “Nenek moyang kami dari Blambangan. Dulu, Blambangan wilayah jajahan Majapahit. Saat Majapahit runtuh karena terdesak oleh Islam, sebagai wilayah jajahan kami ikut terdesak. Maka lari ke Bali,” kata Mangku Gede Pura Majapahit Wayan Wenen, 63 tahun, kepada Historia.ID.
- Hukuman Kutukan dari Kerajaan Majapahit
“... Dewa, Engkau harus membunuh mereka, mereka harus engkau bunuh. Jika mereka dalam perjalanan melewati ladang terbuka, semoga mereka digigit ular berbisa. Di hutan, mereka akan kehilangan arah, diserang harimau. Di air, mereka dilahap buaya, di laut mereka digigit ikan ganas. Jika mereka menuruni gunung mereka akan menabrak batu bergerigi, jatuh ke jurang berbatu, mereka akan meluncur ke bawah, hancur berkeping-keping. Jika mereka keluar saat hujan, semoga mereka disambar petir, jika mereka tinggal di rumah, mereka akan terbakar halilintar, mereka tidak akan punya waktu melihat apa yang menyambar mereka. Saat mereka berperang mereka diserang dari kiri, dari kanan, semoga kepala mereka terbelah, dada mereka robek, perut mereka sobek hingga ususnya terburai, otak mereka dijilat, darah mereka diminum, dagingnya dilahap, hingga kematian menjemputnya. Mereka akan dibawa ke neraka Rorawa, dan jika mereka lahir kembali, itu dalam keadaan buruk. Itu yang akan terjadi pada mereka yang berbuat jahat...”
- Penyebab Lain Keruntuhan Majapahit
KEGEMILANGAN Majapahit ditutup dengan rentetan peristiwa berdarah. Situs kota Majapahit di Trowulan, dulunya pernah ditinggalkan penduduknya karena perebutan kekuasaan menjelang runtuhnya kerajaan itu. “Semacam bedol desa memang benar, bahwa memang perebutan kekuasaan di Jawa selalu berdarah-darah. Jadi, kalau satu kedaton ditundukan, itu hancur habis,” jelas arsitek dan arkeolog, Osrifoel Oesman dalam diskusi Omah-Desa-Kuto Majapahit Trowulan, di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (11/7). Sepeninggal Raja Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada, Majapahit mulai meredup. Sebelum menjadi semakin lemah akibat menguatnya kekuatan Islam Demak, pertentangan di tengah keluarga kerajaan telah lebih dulu membuat Majapahit goyah.
- Perempuan di Singgasana Majapahit
DALAM sejarah Majapahit, kedudukan raja tidak semata-mata diperuntukkan bagi pria. Seorang perempuan juga dapat menjadi raja bahkan bergelar maharaja. Setidaknya ada tiga perempuan yang pernah duduk di singgasana Majapahit. Tribhuwana Tunggadewi Jayawisnuwardhani, raja perempuan pertama Majapahit merupakan putri Krtarajasa dari Gayatri, putri bungsu Krtanagara. Dia bergelar maharaja dengan nama abhiseka, Sri Maharaja Sri Wisnuwardhani. Sebelumnya, dia berkuasa di Kahuripan karenanya dikenal dengan Bhre Kahuripan. Dia kemudian diangkat menjadi raja pada 1328 M menggantikan kakaknya, Jayanagara. Prasasti Genen II (1329 M) memberitakan, pada awal pemerintahannya, Tribhuwana masih dibimbing oleh ibunya, Gayatri. Dengan bantuan Gadjah Mada, sebagaimana diberitakan Nagarakrtagama, dia berhasil memadamkan pemberontakan di Sadeng dan Keta pada 1331 M.
- Awal Mula Kerajaan Majapahit
SAAT memimpin konsolidasi kader Partai Demokrat di Tulungagung pada akhir pekan lalu, Ketua Umum Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan bahwa keluarganya masih keturunan langsung trah Kerajaan Majapahit. Leluhurnya adalah pendiri dan raja pertama Majapahit, Raden Wijaya dari garis Ki Ageng Buwono Keling. Dia juga mengaitkan kejayaan Majapahit pada abad 14 dengan 14 nomor urut Partai Demokrat dalam Pemilu 2019. Setelah Kerajaan Singhasari jatuh ke tangan Raja Gelang Gelang Jayakatwang, pada 1292 Wijaya membuka hutan yang tandus di Trik, sebelah selatan Surabaya. Di tempat itulah, dia mendirikan Kerajaan Majapahit. Pendirian itu dikisahkan dalam naskah Pararaton, Nagakartagama, Kidung Ranggalawe, Kidung Harsawijaya, dan diabadikan dalam Prasasti Kudadu (1294 M) dan Prasasti Sukamrta (1296 M).
- Di Filipina, Kali Majapahit Lestari
SEBAGAI kerajaan terbesar di Nusantara, nama Majapahit dikenal sampai jauh ke seberang. Wilayah kekuasaannya membentang luas, sebagaimana disebutkan dalam Kakawin Negarakertagama. Tak aneh bila Majapahit meninggalkan banyak warisan. Salah satunya, Sundang/Kali Majapahit. Silat/beladiri Majapahit itu menjangkau hingga negeri seberang. Kali Majapahit, yang menjadi modal dasar keprajuritan Majapahit, berasal dari Mahisa/Lembu Anabrang. “Anabrang adalah laksamana Singhasari yang dikirim waktu [Ekspedisi] Pamalayu, zaman Raja Kertanegara,” ujar arkeolog Universitas Indonesia Agus Aris Munandar kepada Historia.ID. Menyusul tewasnya Kertanegara dalam pemberontakan Jayakatwang, Anabrang lalu bernaung di bawah panji Majapahit. Suksesor Singhasari itu didirikan Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang memadamkan pemberontakan Jayakatwang.
- Meninjau Kembali Wilayah Kekuasaan Majapahit
KAKAWIN Nagarakrtagama menyebut pengaruh Kerajaan Majapahit sangat luas, meliputi hampir seluruh negara Indonesia sekarang, dari daerah di Pulau Sumatra di bagian barat, sampai ke Maluku di bagian timur. Luasnya daerah yang terpengaruh Majapahit itu dikuatkan oleh penjelajah Portugis, Tome Pires. Menurutnya, sampai kira-kira awal abad 15, pengaruh Majapahit masih menguasai hampir seluruh Nusantara. “Di masa itu Negeri Jawa sangat berkuasa karena kekuatan dan kekayaan yang dimilikinya, juga karena kerajaan ini melakukan pelayaran ke berbagai tempat yang jauh,” kata Tome Pires dalam catatan perjalanannya, Suma Oriental.





















