Hasil pencarian
Cari di situs ini
10078 hasil ditemukan dengan pencarian kosong
- Kapten Wisnu Celaka di Natuna
SUATU hari di akhir tahun 1958, Kapten Penerbang (Pnb.) Wisnu Djajengminadro mendapat tugas dadakan dari Komandan Komando Group Komposisi (KGK) Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) Mayor Pnb. Omar Dani. Wisnu mesti terbang ke Hanoi membawa mesin pengganti buat pesawat C-47/DC-3 Dakota yang dipiloti Kapten Pnb. John Najoan. Pesawat Najoan mengalami engine trouble di Hanoi dalam penerbangan dengan tujuan akhir Hong Kong. Wisnu terpaksa terbang lebih awal dari jadwalnya karena masalah mesin Najoan. Dia terbang ke Hanoi dengan co-pilot Kapten Moh. Loed. Rutenya sama dengan rute yang dilalui Najoan: Jakarta-Medan-Bangkok-Hanoi. Penerbangan tersebut berjalan lancar. Di Hanoi, Wisnu dan Loed menyempatkan diri berkeliling menikmati keindahan Hanoi. Keduanya bahkan diajak Konjen RI Mr. Soedibyo Wirjo Woerdojo makan siang yang tak pernah mereka duga.
- Menjaga Natuna
DARI 154 pulau di Natuna, hanya 27 pulau yang dihuni. Sudah lama Kepulauan Natuna seakan sendirian di laut lepas. Letaknya pun lebih dekat dengan wilayah Malaysia. “Mereka cerita, sebelum 1995 kalau mencari kebutuhan pokok mereka harus keluar pulau, mereka pakai kapal kayu pinisi atau kapal besi perintis, ditempuh selama tiga hari,” kata Sonny C. Wibisono, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam acara Diskusi Sambil Ngopi Kita bertema “Ada Apa dengan Natuna” di gedung Puslit Arkenas, Jakarta, belum lama ini. Padahal, Natuna bukannya terpencil. Ia berada di tengah perlintasan perekonomian internasional sejak dulu. Karenanya, sampai sekarang Laut Cina Selatan terutama Laut Natuna menjadi sasaran klaim dari beberapa negara yang berbatasan dengan wilayah itu. “Natuna justru bagian depan. Bukan pulau terluar. Ia yang terdepan dibanding Jakarta. Karena orientasi kita orientasi Jakarta. Justru ini jadi beranda depan,” ujar Sonny.
- Mencari Penghuni Awal Natuna
SYAHDAN, Sultan Johor Alaudin Riayat Syah mempunyai seorang putri bernama Tengku Fatimah. Tapi sultan malu karena sang putri lumpuh. Tengku Fatimah pun diasingkan ke Pulau Serindit. Di sana, ia bertemu dengan Demang Megat, pemuda asal Phatani yang terdampar. Mereka lalu menikah. Keduanya membentuk pemerintahan baru di Pulau Serindit. Demang Megat digelari Orang Kaya Serindit Dina Mahkota. Perkampungan pertama yang mereka dirikan disebut Mahligai. Rumah-rumah dibangun dari Kayu Bungur. Dari nama kayu inilah kemudian Pulau Serindit berganti nama menjadi Pulau Bunguran, salah satu pulau di Natuna. Begitulah cerita rakyat yang dikenal di Natuna. Kisah itu disampaikan oleh Sonny C. Wibisono, arkeolog Pusat Penelitian Arkeologi Nasional dalam acara Diskusi Sambil Ngopi Kita bertema "Ada Apa dengan Natuna" di gedung Puslit Arkenas, Jakarta, Kamis (30/1).
- Kepulauan Natuna Pada Masa Kuno
TERCATAT lebih dari 200 pulau kecil membentuk Kepulauan Natuna. Mereka tak selalu nampak dalam peta. Seolah letaknya terpencil, sehingga tak mudah mencapainya. Kesan itu mungkin berkebalikan dengan masa lalu. Sejak dulu, Natuna dilintasi jalur pelayaran dan niaga karena berada di kawasan maritim Laut Cina Selatan. Ia menghubungkan negeri-negeri Asia Tenggara dan Asia Timur, terutama Tiongkok. Lokasinya di posisi persilangan jalur masuk ke perairan Malaka, Sumatra, dan Kalimantan. Karenanya Natuna sangat mungkin dijadikan “batu loncatan” dari satu pelabuhan ke pelabuhan lain. Demikian disebutkan Sonny C. Wibisono, arkeolog dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, dalam tulisannya, “Arkeologi Natuna: Koridor Maritim di Perairan Laut Cina Selatan”, termuat di Kalpataru, Majalah Arkeologi Vol. 23.
- Jejak Cina di Natuna
SALING klaim kepemilikan wilayah laut kembali terjadi. Kali ini persengketaan menimpa wilayah Laut Natuna, Kepulauan Riau. Pemerintah RI sungguh dibuat kesal oleh sikap Cina yang kukuh mengakui Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Natuna sebagai bagian dari wilayah Laut Cina Selatan. Padahal Pengadilan Internasional dalam United Nations Convention of the Law of the Sea (UNCLOS) menyebut “Nine Dash Line” milik Cina yang telah ada sejak 1947 tidak memiliki dasar historis yang kuat. Pemerintah Indonesia tentu menolak dengan tegas klaim Cina atas Natuna itu. Pemerintah berpegang pada dua pijakan hukum untuk membantah klaim itu: Konvensi UNCLOS tahun 1982 dan putusan Pengadilan Arbitrase Laut China Selatan saat menyelesaikan sengketa Filipina pada 2016. Akibat adanya perseteruan ini, masyarakat cukup dibuat panik. Terutama untuk para nelayan yang sehari-harinya melaut di sana. Saling lempar tanggung jawab juga terjadi di tubuh pemerintah. Diberitakan detik.com, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah tegas dalam menindak kapal-kapal Cina yang masuk ke Natuna. Namun ia juga mengingatkan agar jalan damai tetap dikedepankan dalam menyelesaikan persoalan ini.
- Natuna di Mata Penjelajah Eropa
NATUNA kembali mencuri perhatian rakyat Indonesia. Penetrasi kapal nelayan China yang dilindungi sebuah kapal coastguard negeri itu ke perairan Natuna pada 19-24 Desember 2019 membuat pemerintah Indonesia marah. Terlebih, kapal China itu tak menggubris peringatan dari kapal TNI AL yang saat itu melakukan patroli. Protes pun dilayangkan pemerintah Indonesia. Natuna, kepulauan yang terletak di Provinsi Kepulauan Riau, memang kerap mencuri perhatian banyak pihak lantaran kaya sumberdaya alam dan letaknya strategis. Letaknya di jalur perniagaan lama membuatnya dikunjungi banyak orang dari berbagai belahan bumi sejak lama. Letak strategis itu pula yang membuat Natuna mencuri perhatian Raja Prancis Charles X. Beberapa saat sebelum kejatuhannya, Charles X menunjuk Cyrrille Pierre Theodore Lapace, veteran angkatan laut Kerajaan Prancis yang berpengalaman dalam berbagai pertempuran, untuk menjalankan sebuah ekspedisi maritim. “Ekspedisi maritim yang baru ini mengemban dua misi, yakni misi resmi, menyangkut pemeriksaan hidrografi untuk menyempurnakan atlas Asia Tenggara, dan misi yang lebih resmi, yakni misi politik ekonomi rahasia untuk menandai wilayah-wilayah strategis guna membangun jaringan basis logistik Prancis di Laut Cina Selatan,” tulis Bernard Dorleans dalam Orang Indonesia dan Orang Prancis Dari Abad XVI Sampai Abad XX.
- Samoa Amerika Mengusir Hantu 31 Gol Tanpa Balas
THOMAS Rongen (diperankan Michael Fassbender) duduk di “kursi pesakitan” di hadapan manajemen federasi sepakbola Amerika Serikat USSF di suatu hari pada Mei 2011. Nasibnya segera berubah 180 derajat dari pelatih kepala Timnas U-20 Amerika menjadi pelatih sebuah negeri kecil di Pasifik selatan, Samoa Amerika. “Sepakbola memang permainan indah tapi harus kita akui, ini juga permainan yang rumit, kawan-kawan. Sepakbola seperti kehidupan. Musim depan saya pikir kita punya kesempatan yang sebenarnya,” kata Rongen membela diri usai Timnas U-20 Amerika gagal lolos ke Piala Dunia U-20 2011 di Kolombia. Pembelaan itu tak mempan. Atasan Rongen, Alex Magnussen (Will Arnett), justru punya rencana lain buatnya. “Sorry, uh, Thomas. Memangnya belum ada yang kasih tahu Anda sesuatu? Anda dipecat,” tampik Magnussen. Music scoring yang komikal lantas mengiringi keterkejutan Rongen. Rongen diberi dua pilihan: menganggur usai dipecat atau dikaryakan di Samoa Amerika. “Anda seriusan, nih?” Rongen terperangah tak percaya.
- Upaya CIA Membunuh Pemimpin China di Bandung
PEMERINTAH Indonesia dan peserta Konferensi Asia-Afrika (KAA) terkejut mendengar kabar pesawat Kashmir Princess yang ditumpangi delegasi China kecelakaan. Pesawat carteran milik Air India itu meledak dan jatuh di laut Kepulauan Natuna. Enam belas orang tewas dan tiga selamat. Konferensi yang sudah dipersiapkan dengan matang itu tetap harus berjalan. Akhirnya, mereka dapat bernapas lega karena Perdana Menteri Republik Rakyat China Zhou Enlai tidak berada dalam pesawat nahas itu. Zhou mengetahui rencana pembunuhan itu. Dia mengubah rencana dan rute perjalanannya. Sehingga dia selamat dan dapat menghadiri KAA di Bandung. Komisi penyelidikan yang dibentuk pemerintah Indonesia menyimpulkan penyebab kecelakaan adalah bom waktu jenis detonator MK-7 buatan Amerika Serikat yang dipasang di roda depan bagian kanan pesawat.
- Pesawat Delegasi KAA Jatuh di Perairan Natuna
SEBUAH pesawat carteran milik Air India berjenis Lockheed L-7492A jatuh di perairan dangkal dekat kepulauan Natuna Laut Cina Selatan, pada 11 April 1955. Pesawat yang tinggal landas dari Bandara Kai Tak, Hongkong itu sejatinya akan menuju Bandung dalam rangka Konferensi Asia Afrika. Enam belas penumpangnya dilaporkan tewas, sedangkan tiga orang lainnya mengalami luka berat. Kashmir Princess, pesawat carteran milik Air India itu sebelumnya sempat mengisi bahan bakar dan menjalani pemeriksaan rutin usai menempuh perjalanan dari Bombay, India. Pesawat tersebut membawa delegasi Tiongkok, juga wartawan dari berbagai negara, yang akan menghadiri Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Rencananya, pesawat itu pula yang akan mengangkut Perdana Menteri merangkap Menteri Luar Negeri Tiongkok Zhou Enlai. Penumpang yang selamat mengisahkan sekira lima jam perjalanan, pada jam tujuh malam, kru mendengar ledakan. Api berhembus ke arah lubang tangki bahan bakar nomor tiga. Dengan cepat pilot mematikan mesin nomor tiga, menyisakan tiga mesin yang menggerakkan pesawat.
- Sulistina Soetomo Diselamatkan Sakit Perutnya
SUATU hari di tengah Pertempuran Surabaya semasa Perang Kemerdekaan. Sulistina, istri Bung Tomo, diperintahkan atasannya di palang merah agar ke Rumahsakit Simpang. Dia pun bergegas dengan menumpang truk yang mengangkut pemuda-pejuang. Sulistina duduk tepat di samping sopir. Dalam perjalanan, tiba-tiba tengkuknya merasa dingin karena tersentuh benda yang tak diketahuinya. Setelah dia menoleh ke belakang, ternyata benda itu adalah laras sebuah pistol. Sulistina kaget. “Aku tak tahu siapa yang sembrono menggenggam pistol, tetapi larasnya mengenai kudukku. Aku berteriak. ‘Eee...Bung!’ pistolnya jangan diarahkan kepadaku! Tapi pada musuh!’’ kata Sulistina dalam memoarnya, Bung Tomo Suamiku.
- Bung Tomo Menikah Saat Perjuangan Kemerdekaan
DI MASA revolusi, para pemuda menempatkan perjuangan mempertahankan kemerdekaan (1945-1949) di atas kepentingan diri sendiri. Revolusi menuntut pengorbanan segala-galanya, termasuk perkawinan sebagai “kenikmatan” pribadi. Tak heran jika mereka kerap jengkel melihat iklan-iklan perkawinan dan pertunangan di suratkabar. “Mereka berpendapat bahwa perkawinan dan pertunangan bertentangan dengan sifat revolusi yang menjadi-jadi,” tulis Soe Hok Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Sorotan pun dialamatkan kepada Bung Tomo, tokoh pemuda dan penyulut semangat pertempuran Surabaya, ketika hendak menikah di masa revolusi. Muncul pro dan kontra. Ada yang menyayangkan mengapa Bung Tomo tidak konsekuen dengan janjinya untuk tidak menikah sebelum perjuangan selesai.
- Nyanyi Senyap Radio Gelap
SEBUAH rumah di Jalan Mawar No. 10 Surabaya berdiri di atas tanah seluas 2.000 meter persegi. Pepohonan yang rindang membuatnya tidak terlihat utuh. Suasananya sepi. Tak terdengar lagi suara berapi-api yang dulu membangunkan semangat para pejuang di media pertempuran Surabaya. Sebuah plakat di dinding menjadi penandanya, bertuliskan: “Rumah Tinggal Pak Amin (1935). Tempat Studio Pemancar Radio Barisan Pemberontakan Republik Indonesia (RPPRI) Bung Tomo. Di sini Ktut Tantri (warga negara Amerika) menyampaikan pidatonya sehingga perjuangan Indonesia bisa dikenal di luar negeri Jl. Mawar 10-12 Surabaya.” Sebelum jadi markas radio, rumah ini sempat menjadi asrama Nederland Indische Landbouws Maaschapij (NILM), perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan. Seorang penduduk Surabaya bernama Aminhadi kemudian membelinya dan kemudian mewariskan kepada anak-cucunya.





















