top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Kisah Bintang Mahaputra untuk Yuri Gagarin

    Yuri Alekseyevich Gagarin adalah manusia bumi pertama yang mencapai luar angkasa. Pada 12 April 1961, kosmonot Uni Soviet itu berangkat ke luar angkasa menggunakan pesawat antariksa Vostok-1. Penerbangan itu berjalan dengan sukses. Selama 108 menit, Gagarin mengitari orbit bumi. Keberhasilan Gagarin terbang ke luar angkasa memukau seluruh dunia. Begitu mendarat kembali ke bumi, dia disambut bagaikan pahlawan umat manusia. Berbagai suratkabat dari berbagai negara kemudian memberitakan sosok Yuri Gagarin. Pemberitaan itu sampai pula ke Indonesia dan turut memantik apresiasi Presiden Sukarno. Pada Juni 1961, Bung Karno bahkan menganugerahi tanda jasa Bintang Mahaputra kepada Gagarin. Penghargaan prestisius itu makin mempererat hubungan Indonesia dengan Uni Soviet. Namun, terselip drama unik yang mengiringi kisah penyematan Bintang Mahaputra bagi Gagarin.

  • Yuri Gagarin Si Anak Petani yang Mengantariksa

    SENYUM hangat Yuri Gagarin kini bisa dilihat siapapun setelah diabadikan lewat patung setinggi 2,82 meter di Taman Mataram, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Kosmonot pertama dunia yang mengantariksa itu berdiri gagah dalam bentuk patung perunggu dengan kedua tangannya ke atas mengiringi senyum khasnya. Didirikannya patung Gagarin diapresiasi positif banyak pihak. Salah satunya oleh Marsekal Muda (Purn) Tatang Kurniadi, ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) periode 2007-2015. “Baguslah itu. Jadi nilai yang bagus untuk mengingatkan generasi muda sekarang bahwa mereka menikmati komunikasi real time seperti internet dan lain-lain berangkat dari revolusi dan eksplorasi ruang angkasa dari peluncuran satelit Sputnik 1 sampai Yuri Gagarin yang jadi manusia pertama di ruang angkasa,” ujar Marsda Tatang kepada Historia.

  • Yuri Gagarin dan Para Kosmonot Pahlawan Indonesia

    TAHUN ini genap tujuh dasawarsa pemerintah RI dan Rusia menjalin hubungan diplomatik. Sebagai pengikat agar hubungan kian erat, sebuah patung manusia pertama di angkasa, Yuri Gagarin, resmi dipasang di Taman Mataram, Jakarta pada Rabu (10/3/2021). Patung perunggu setinggi 282 cm dan berbobot 500 kg itu merupakan karya seniman Rusia Alexei Dmitrievitch Leonov. Peresmiannya dilakukan lewat penandatanganan prasasti di Balai Kota DKI Jakarta pada Rabu (10/3/2021) oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar, Duta Besar Rusia untuk RI Lyudmila Vorobieva, dan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. “Gubernur DKI sampaikan: ‘kehadiran patung Yuri Gagarin memaknai keeratan warga Jakarta dengan Rusia, khususnya dalam mendukung sejarah 70 tahun hubungan kedua negara serta menciptakan ruang terbuka hijau yang sejuk dan nyaman bagi publik Jakarta. Sementara Deputi Walikota Moskow, Sergey Cheremin, mengapresiasi interaksi yang kuat dalam kerjasama kebudayaan antara Jakarta dan Moskow meski di tengah pandemi,” bunyi pernyataan tertulis Kementerian Luar Negeri RI di laman resminya, Kamis (11/3/2021).

  • Mengulik Lirik Indonesia Raya

    BELASAN pelajar dari SMP 14 Jakarta, pagi itu (28/10) mengunjungi Museum Sumpah Pemuda, Jalan Kramat Raya 106, dibawah pengawasan Adro’i Abdullah, guru mata pelajaran pendidikan kewarganegaraan. “Memberikan pelajaran sejarah seperti ini efektif untuk mengenalkan anak-anak dengan sejarahnya, tragis kalau anak-anak sampai tidak tahu,” ujarnya. Semakin siang, suasana di museum semakin meriah ketika datang serombongan remaja, dengan kemeja dan celana panjang putih, memasuki ruangan utama gedung itu. “Kami dari Cilay Ensemble, Jakarta, siang ini akan menyanyikan usulan revisi lagu Indonesia Raya, momentum 84 tahun Sumpah Pemuda dan museum ini sengaja kami pilih untuk lebih mudah diingat,” ujar Cilay, pemusik asal Padang, pendiri sekaligus pimpinan Cilay Ensemble. “Sumpah Pemuda tahun 1928 dilaksanakan pada hari minggu, dan tahun ini jatuh pada hari minggu pula, kami berpandangan ini kebetulan yang baik,” tambahnya.

  • Berdiri Menyanyikan Indonesia Raya

    KETUA Majelis Mujahidin Indonesia Irfan S. Awwas menolak berdiri saat peserta Kongres Umat Islam VI di Yogyakarta menyanyikan lagu Indonesia Raya, Rabu (11/2) lalu. Dia memilih menyanyi sambil duduk. Dia beralasan tak ada aturannya. Menurutnya, seperti dikutip tempo.co, berdiri saat menyanyikan lagu kebangsaan adalah sikap yang dibuat-buat. Bahkan, dia menuding mereka yang berdiri menyanyikan Indonesia Raya sebagai pengkhianat. Lagi Indonesia Raya diciptakan Wage Rudolf Supratman. Dia kali pertama memperdengarkan lagu itu melalui gesekan biolanya pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, dan sebuah pertunjukan kesenian. “Pada kesempatan kedua itu beberapa orang mulai berdiri menghormati ketika Indonesia Raya dinyanyikan,” tulis St. Sularto, “Wage Rudolf Supratman Menunggu Pelurusan Fakta Sejarah,” Prisma, 5 Mei 1983.

  • Dolly Salim, Penyanyi Indonesia Raya Pertama di Kongres Pemuda

    DOLLY SALIM tak menyangka tanggal 28 Oktober 1928 akan menjadi hari bersejarah dalam hidupnya. Bersama Johana Tumbuan, rekannya dari Minahasa, mereka adalah segelintir pemudi yang menghadiri Kongres Pemuda II di Jalan Kramat Raya No 106 Jakarta. Dolly yang bernama lengkap Theodora Athia Salim masih remaja berusia lima belas tahun kala itu. Dia lahir pada 26 Juli 1913. “Semula saya menolak ajakan mereka. Maklumlah, kami belum memenuhi persyaratan dalam usia sebagai pemuda. Tetapi beberapa teman memaksa saya. Akhirnya saya pun ikut bersama-sama ke Kramat,” tutur Dolly, dikutip majalah Pertiwi, 19 Oktober-1 November 1987. Meski bukan sebagai anggota kongres, Dolly mewakili organisasi kepanduan Nationaal Indonesische Padvinderij (Natipij). Natipij berada di bawah naungan Persatuan Pemuda Islam atau Jong Islamieten Bond (JIB), di mana ayah Dolly, Haji Agus Salim berkedudukan sebagai penasihat.

  • Indonesia Raya Mengancam Belanda

    MEMASUKI sidang ketiga Kongres Pemuda II, polisi rahasia Belanda makin siaga. Takut-takut kalau para pemuda mengadakan gerakan. Tetiba Ketua Panitia Kongres Sugondo Djojopuspito dihampiri Wage Rudolf Supratman, peserta kongres merangkap wartawan Sin Po. “Bung Gondo, apakah saya dapat memperdengarkannya sekarang,” tanya Supratman yang menenteng kotak biola dan menggenggam secarik naskah lagu. Sugondo membaca naskah lagu itu. Kalimat “Indonesia Raya” dalam lirik lagu membuatnya cemas. Dia menyerahkan naskah lagu itu kepada petinggi pemerintah kolonial yang hadir, Charles van der Plas. Van der Plas malah menyarankan supaya meminta izin kepada perwira polisi Belanda. Sugondo tak bersedia. Supratman lantas meyakinkan kawannya itu.

  • Dari Timbul Lahirlah Indonesia Raya

    PADA suatu sore, Wage Rudolf Supratman, wartawan suratkabar Sin Po, tersentak oleh artikel dalam majalah Timbul. Musababnya sebuah kalimat, “Alangkah baiknya kalau ada salah seorang dari pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!” Kalimat itu mengusik Supratman. Sepengetahuannya saat itu telah ada lagu Dari Barat Sampai ke Timur sebagai lagu kaum pergerakan. Tetapi, lagu itu belum mengesankan dan menggugah semangat berjuang. Dari situ muncul ide membikin lagu kebangsaan bukan sekadar lagu pergerakan. Hingga suatu kali di pertengahan 1926, Supratman dikunjungi kakak iparnya, Oerip Kasansengari. Dia mendapat kawan diskusi yang menyenangkan. Selama seminggu keduanya banyak berdiskusi, umumnya soal politik. Termasuk tentang artikel majalah dan idenya tentang lagu kebangsaan.

  • Indonesia Raya Setelah Sumpah Pemuda

    SEBELUM diperdengarkan dalam Kongres Pemuda II, Wage Rudolf Supratman sengaja mengedarkan salinan naskah lagu Indonesia kepada anggota kepanduan di Jakarta. Mereka lalu membagikannya secara berantai melalui cabang-cabang kepanduan. “Hampir semua pandu Indonesia di Jakarta mempunyainya. Jadi, yang mula-mula menyebarkan lagu Indonesia di Jakarta adalah para pandu,” tulis Bambang Sularto dalam Sejarah Lagu Kebangsaan Indonesia Raya. Lagu Indonesia benar-benar populer di kalangan publik setelah Kongres Pemuda II. Sambutan hangat yang diterima Supratman segera disusul dengan publikasi masif naskah lagu itu. Sehari usai kongres, dia kebanjiran permintaan salinan naskah lagu gubahannya dari beberapa organisasi.

  • Indonees Indonees bukan Indonesia Raya

    LAGI, pada pekan-pekan kemarin ini masyarakat Indonesia menyaksikan film yang berangkat dari bagian sejarah panjang kebangsaannya. Biaya pembuatan film ini 12 milyar. Sutradaranya John de Rantau. Judulnya Wage. Ini cerita tentang Wage Rudolf Supratman –selanjutnya disingkat WRS– pencipta lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Dalam diskusi film untuk para wartawan, yang dilangsungkan di Perpustakaan Kemendikbud, Senayan, dengan menghadirkan pembicara-pembicara John de Rantau, Bre Redana, dan saya, yang dipandu oleh moderator Wina A. Sukardi, saya memuji film Wage karena di satu pihak khazanah sinematografisnya dan kepandaian akting aktornya khususnya Teuku Rifnu Wikana terbilang bagus; tapi di lain pihak saya mengkritik juga hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, terutama pada bagian-bagian fokus dari peristiwa Sumpah Pemuda 1928 di mana lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dinyanyikan secara unisono. Dimulai dari situ saya melihat penanganan sutradara tampak tidak cermat menyimak ikatan sejarah yang justru menjadi premis terpadu film ini. Adalah ketidakcermatan ini yang membuat film yang bagus ini menjadi: nila setitik merusak susu sebelanga.

  • Komponis Belanda Aransemen Indonesia Raya

    SEORANG bujang berusia 32 tahun dari Maastricht, Belanda, merantau ke Indonesia. Dia cukup berani karena situasi Indonesia belum aman, baru tiga tahun merdeka. Dia bukan perantau sembarangan. Di negerinya, dia dikenal sebagai pemain violin, trombon dan arranger musik yang piawai. Dia pun pernah tampil di orkestra terkenal, Concertgebouw Orchestra. Jos Cleber nama perantau itu. Keahlian bermusik mengantarkannya menjadi konduktor tamu Orkes Kosmopolitan di Radio Republik Indonesia studio Jakarta. Sehingga, RRI memiliki tiga kelompok orkes, dua di antaranya Orkes Philharmony pimpinan Yvon Baarspul, juga seorang Belanda, dan Orkes Studio Jakarta yang diketuai Syaiful Bahri.

  • Jalan Panjang Indonesia Raya

    “KALAU bangsa Belanda punya lagu kebangsaan Wilhelmus, mengapa Indonesia belum punya. Sebab itu sekarang saya sedang mulai mengarang lagu dan saya beritahukan juga kepada bapak dan saudara-saudaraku untuk mendapat restunya,” kata Wage Rudolf Supratman kepada Oerip Kasansengari, kakak iparnya, pada pertengahan 1926. Rupanya waktu itu Supratman tengah terusik dengan sebuah kalimat dalam artikel majalah Timbul. “Alangkah baiknya kalau ada salah seorang dari pemuda Indonesia yang bisa menciptakan lagu kebangsaan Indonesia, sebab lain-lain bangsa semua telah memiliki lagu kebangsaannya masing-masing!” tulis majalah Timbul. Sebenarnya saat itu sudah ada lagu Dari Barat Sampai ke Timur sebagai lagu kaum pergerakan. Tetapi, menurut Supratman, lagu itu belum mengesankan dan menggugah semangat berjuang. Ide membikin lagu kebangsaan yang bukan sekadar lagu pergerakan pun muncul.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page