top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Mencari Pahlawan di Bukit Tempeh

    BUKIT Tempeh di Desa Kalibakung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, tetiba menjadi ramai pada Kamis, 29 Juli 2021. Sekira 150 orang memenuhi tiap sudut dataran tinggi yang dipenuhi oleh pohon pinus tersebut. Takbir dan salawat terus terdengar seolah tak mengenal henti, ditingkahi suara pacul, belincong dan linggis yang beradu dengan tanah dan batu. Sudah empat hari lamanya, pihak TNI AL bekerjasama dengan masyarakat dan pemerintah daerah setempat melakukan proses penggalian. Mereka berharap bisa mendapatkan sisa belasan jasad orang-orang yang ditembak mati militer Belanda pada sekira tahun 1947 (menurut versi salah satu keluarga korban adalah tahun 1946).

  • Boleh Tempe Jika Tidak Mau Tahu

    Tempe dan tahu sudah menjadi menu andalan sehari-hari masyarakat Indonesia. Kedua makanan ini berhubungan erat satu sama lain, bukan hanya karena keduanya dibuat dari kacang kedelai, tapi juga karena kisah penemuan dan produksinya.

  • Petaka Tempe Bongkrek

    JIKA pernah membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari atau menonton film adaptasinya Sang Penari, tempe bongkrek barangkali sudah tak asing lagi. Makanan inilah yang menyebabkan orang-orang Dukuh Paruk beserta ronggengnya keracunan hingga meninggal. Kejadian itu juga mengawali kisah Srintil, anak pembuat tempe bongkrek, yang menjadi ronggeng di kemudian hari. Tempe bongkrek merupakan makanan yang populer di tempat asalnya, Banyumas, Jawa Tengah. Tak seperti tempe biasa, tempe bongkrek terbuat dari campuran kedelai dan ampas atau bungkil kelapa yang kemudian difermentasi. Karena murah, tempe bongkrek menjadi salah satu makanan yang digemari masyarakat.

  • Moehammad Jasin, Komandan Polisi Istimewa

    SELASA, 21 Agustus 1945, pukul 07.00. Semua anggota kesatuan Polisi Istimewa, sekitar 250 orang, berkumpul untuk mengikuti apel di halaman depan markas Polisi Istimewa, Jalan Coen Boelevard, Surabaya –kini Jalan Polisi Istimewa. Setelah pengibaran bendera Merah-Putih, Inspektur I Moehammad Jasin membacakan proklamasi: “Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perdjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, dengan ini menjatakan Polisi sebagai Polisi Republik Indonesia.” Usai membacakan proklamasi, Jasin meminta semua anggota polisi melakukan pawai siaga untuk menunjukkan kekuatan dan kesiapan tempur, menghadapi reaksi pihak Jepang. Menggunakan kendaraan lapis baja dan truk yang telah dipasangi bendera Merah-Putih, bergerak menuju Jalan Tunjungan, Surabaya.

  • Tiga Hari Tanpa Tempe

    PAGI itu, Jumadi, 30 tahun, asyik menghitung uang di kiosnya di pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Sementara seorang perempuan paruh baya awas mengamati dagangan Jumadi. Matanya menyisir lapak, mencari sesuatu di tumpukan sayuran. “Bang, tempenya mana?” tanya perempuan itu. Jumadi berhenti menghitung lalu berkata, “hari ini udah gak ada, bu. Kemarin masih ada kiriman,” kata Jumadi. Mulai pengujung Juli yang lalu santer tersiar kabar pengrajin tempe mogok produksi. Namun baru pada 25 Juli Jumadi dan pedagang sayur lainnya di Lenteng Agung tak menerima pasokan tempe. Lewat surat edaran Nomor 29/org/VII/12, Pusat Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Puskopti) menginstruksikan kepada seluruh pengrajin tahu dan tempe agar menghentikan produksi sementara selama tiga hari (25-27 Juli 2012). Pengrajin tempe yang nekat tetap berproduksi akan di-sweeping dan tempenya disita. Aksi mogok itu sebagai protes atas naiknya harga kedelai dari Rp5.000 menjadi Rp8.200 per kilogram.

  • Ajudan Tampan Jadi Pahlawan

    Pierre Tendean dikenal berparas tampan. Ajudan berdarah Prancis ini nasionalismenya tak diragukan.

  • Ajudan Menhan Curi Perhatian

    SOSOK Mayor Teddy Indra Wijaya terekspos media sejak mendampingi Menteri Pertahanan (Menhan) Prabowo Subianto dalam berbagai kampanye pilpres. Sorotan kamera acapkali ikut membidik prajurit Kopassus ini ketika mengawal Prabowo ke mana-mana. Apalagi saat orang-orang yang menghampiri Prabowo tanpa protokol, Teddy beraksi bak perisai hidup. Pada kampanye pamungkas di Stadion Gelora Bung Karno akhir pekan kemarin, Teddy membopong seorang gadis yang pingsan akibat penonton berdesak-desakan. Namanya pun sontak ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya oleh para kaum wanita. Tak kurang pula pemberitaan media.

  • Pierre Tendean, Prajurit TNI Berdarah Prancis

    PANGLIMA TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menginspeksi calon taruna Akademi Militer (Akmil). Tiba-tiba, perhatiannya tertuju ke salah seorang calon taruna berparas bule. Hadi sempat bilang, “Wajahnya wajah Prancis”. Si calon taruna yang bernama Enzo Zenz Allie itu ternyata memang peranakan Sunda-Prancis. Masa kecilnya dihabiskan di Prancis, dan ketika SMP sempat mengeyam pendidikan pesantren di Serang, Banten. Perkenalan itu terasa semakin unik karena Hadi dan Enzo berdialog dalam bahasa Prancis. Momen tersebut terekam dalam video yang diunggah oleh akun instagram @tni_angkatan_darat dan kini viral di media sosial. Seperti Enzo, di masa lalu kita pernah punya kusuma bangsa berdarah Indo-Prancis. Namanya Pierre Tendean. Sejarah mencatat sosok Pierre sebagai satu dari sepuluh pahlawan revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965 (G30S).

  • Elegi Cinta Pierre Tendean dan Rukmini

    DARI balik pintu kamar, si kecil Ade Irma dan kakaknya, Yanti, mengintip. Sementara di dalam kamar yang remang temaram, seorang lelaki tampan tengah tekun membaca sepucuk surat. Ade dan Yanti merasa geli menyaksikan betapa seriusnya lelaki muda tersebut. Tetiba muncul ide mereka untuk menggodanya. Yanti lalu menghidupkan lampu kamar. “Kok Oom Pierre bisa baca surat dalam gelap?” ujar Yanti Ade menyahut, “Oom Pierre berdoa, yah?” “Enggak, Oom Pierre lagi baca surat,” jawab Pierre “Dari Medan, pasti,” celetuk Yanti.

  • Pierre Tendean Si Galak yang Memikat

    PADA hari Jumat terakhir sebelum tragedi 1 Oktober 1965, Jenderal Abdul Haris Nasution berkunjung ke Bandung. Nasution diundang memberikan ceramah kepada anggota Resimen Mahasiswa Batalyon Universitas Padjajaran. Dalam acara itu, Nasution dikawal oleh seorang ajudannya yang berparas indo. “Yang mendampingi saya adalah adalah ajudan yang paling muda, Letnan Satu Pierre Tendean. Ia terhitung pemuda yang ganteng, dan terus ia saja menjadi sasaran kerumunan para mahasiswa,” kenang Nasution dalam memoarnya Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru.

  • Pierre Tendean dan Kelompok Berandalan

    APRIL 1965, Pierre Tendean kedatangan kawan lama bernama Soesono. Pierre dan Soesono adalah sejawat seangkatan semasa menempuh pendidikan taruna di Akademi Teknik AD (Atekad, kini masuk satuan Zeni). Keberadaan Soesono di Jakarta sehubungan dengan tugas menjemput truk yang akan digunakan peletonnya di Sei Mencirim, Medan. Sebagai bentuk keramahan, Pierre mengajak Soeseno makan bakmi di Jalan Sambas, Blok M, Jakarta Selatan. Setelah makan, perjalanan dilanjutkan ke paviliun dinas Pierre di Jalan Teuku Umar, Menteng yang juga kediaman Jenderal Abdul Haris Nasution. Pierre memang merupakan ajudan Nasution. Di tengah jalan, Soesono dikejutkan dengan temuan sepucuk pistol di lantai kabin belakang jip. Merasa heran dengan keberadaan senjata tersebut, Soesono menanyakannya kepada Pierre. Ditanya demikian, Pierre hanya tertawa.

  • Aksi Spionase Pierre Tendean di Malaysia

    SELAMA tiga bulan Letnan Dua Pierre Tendean mengikuti pelatihan di Pusat Pendidikan Intelijen (Pusdikintel), Bogor. Setelah menamatkan kursus kilat, Pierre langsung menerima surat tugas. Pierre ditugaskan untuk memimpin pasukan gerilya yang akan menyusup ke Negara Federasi Malaysia. “Ia ikut operasi-operasi penyusupan ke Malaysia dari selat panjang,” kata Abdul Haris mengenang sang ajudan, Pierre Tendean. “Dalam masa setahun ia telah tiga kali menyusup ke daratan Malaysia,” ungkap Nasution dalam Memenuhi Panggilan Tugas Jilid 6: Masa Kebangkitan Orde Baru.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page