top of page

Hasil pencarian

Cari di situs ini

10076 hasil ditemukan dengan pencarian kosong

  • Penistaan Agama Pada Masa Lalu

    DUGAAN penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendorong ratusan ribu umat muslim di Indonesia turun ke jalan. Mereka menuntut hukuman penjara bagi gubernur DKI Jakarta yang juga sedang mencalonkan diri menjadi gubernur untuk periode 2017-2022 itu. Bola panas kasus penistaan agama semakin bergulir kencang seturut dengan Pilkada putaran kedua yang bakal diselenggarakan April mendatang. Kendati istilah “penistaan agama” belum dikenal, peristiwa serupa juga pernah terjadi di masa yang lalu. Pada 9 dan 11 Januari 1918, Martodharsono redaktur Djawi Hiswara memuat tulisan karya Djojodikoro. Tulisan yang berjudul “Pertjakapan antara Marto dan Djojo” itu menyulut kemarahan HOS Tjokroaminoto karena memuat kalimat “Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. Gin, minoem opium dan kadang soeka mengisep opium.”

  • Palestina (Bukan) Harga Mati

    SELAMA berabad-abad, bangsa Yahudi mencari “Tanah yang Dijanjikan”, sebuah wilayah yang akan mereka jadikan tanah air mereka. Mordecai Manuel Noah memulai langkah ini dengan membeli sebidang tanah di Grand Island di Sungai Niagara dekat Buffalo, New York, Amerika Serikat, pada 1825. Menurut Seymour “Sy” Brody dalam biografi singkat Mordecai Manuel Noah (1785-1851), di tanah itu Noah membayangkan sebuah koloni Yahudi yang dia sebut Ararat –bukan pegunungan Ararat di Turki tempat peristirahatan Noah’s Ark (Bahtera Nabi Nuh). Di tempat itu pula Noah mendirikan monumen dengan tulisan: “Ararat, sebuah Kota Perlindungan untuk orang Yahudi, didirikan oleh Mordecai M. Noah pada Bulan Tishri, 5586 (September 1825) dan pada Limapuluh Tahun Kemerdekaan Amerika”.

  • Petrus Albertus Van der Parra

    Bermula sebagai pedagang di Batavia, kelak Van der Parra dikenal sebagai Gubernur Jenderal yang gemar hidup mewah.

  • Polemik Kapal Van Der Wijck

    PADA 7 September 1962, lewat tulisannya di “Lentera” milik Bintang Timur, Abdullah Said Patmadji menuduh novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck karya Hamka merupakan plagiat dari novel Al Majdulin atau Magdalaine karya sastrawan Mesir Mustafa Al Manfaluthi. Al Majdulin sendiri merupakan terjemahan dari novel Sous les Tilleuls karya Alphonse Karr. Artikel berjudul “Hamka, Benarkah Dia Manfaluthi Indonesia?” itu menggemparkan dunia sastra Indonesia. Mereka terbelah, ada yang mendukung Abdullah dan ada pula yang mendukung Hamka.

  • Kutai Memulai Sejarah Nusantara

    Sejarah mencatat Kutai sebagai salah satu kerajaan tertua di Nusantara.

  • Kutai Kartanagara pada Zaman Kuno

    RIBUAN tahun lalu hiduplah Maharaja Kundungga. Ia raja yang mulia. Putranya termasyur, sang Aswawarman namanya. Ia seperti sang Ansuman, Dewa Matahari, menumbuhkan keluarga yang sangat mulia. Sang Aswawarman mempunyai tiga putra, seperti tiga api yang suci. Yang terkemuka ialah sang Mulawarman. Ia raja yang berperadaban baik, kuat, dan kuasa. Sang Mulawarman telah mengadakan kenduri emas yang amat banyak. Sebagai peringatan selamatan itu, tugu batu didirikan oleh para Brahmana. Kisah itu menarasikan kehidupan di pedalaman Kalimantan Timur ribuan tahun yang lalu. Cerita dalam salah satu prasasti yupa yang ditemukan di Muara Kaman, situs Banua Lawas itu, membuktikan bahwa kerajaan bercorak India telah berdiri di Kalimantan Timur pada abad ke-5.

  • Sejarah Nusantara Bermula di Kutai Kartanegara

    PRESIDEN Joko Widodo mengumumkan lewat konferensi pers di Istana Negara, Jakarta, Senin (26/8), lokasi ibu kota baru di Kalimantan Timur, menggantikan DKI Jakarta. “Lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara,” kata Jokowi. Wilayah yang kini bernama Kutai Kartanegara, bukan kawasan asing dalam perpolitikan Nusantara. Lewat bukti-bukti arkeologis, sementara disimpulkan kalau di sanalah periode sejarah bangsa ini dimulai. Beberapa prasasti tertua ditemukan di tempat itu, paling tidak dari 17 abad yang lalu. Kerajaan di Kalimantan itu disebut sebagai salah satu yang memiliki tradisi tulis tertua di Nusantara. Namun, ia kurang populer di kalangan pelancong asing, tertutama dari Tiongkok.

  • Perjuangan Kutai Masuk Republik Indonesia

    PERSIAPAN pembangunan daerah Kutai dan Panajam Paser Utara (yang diproyeksikan sebagai ibu kota baru) terus digalakan. Sebisa mungkin pemerintah Indonesia ingin membuat suasana nyaman di kedua daerah yang masuk ke dalam administrasi Kalimantan Timur tersebut sebelum benar-benar difungsikan menjadi pusat pemerintahan baru Republik Indonesia. “Sebagai bangsa besar yang sudah 74 tahun merdeka, Indonesia belum pernah menentukan dan merancang sendiri ibu kotanya,” ucap Presiden Joko Widodo dalam siaran pers di Istana Negara (26/8). Banyak masyarakat yang bertanya mengenai pemilihan Kalimantan Timur sebagai lokasi baru ibu kota. Presiden pun berkelik bahwa ia dan jajarannya telah melakukan segudang pertimbangan untuk menentukannya.

  • Kutai di Era Hindia Belanda

    RENCANA pemindahan ibu kota akhirnya disiarkan.Dalam keterangan pers di Istana Negara (26/8), Presiden Joko Widodo menyebut jika serangkaian kajian telah dilakukan untuk menetapkan Kalimantan Timur sebagai ibu kota baru Republik Indonesia. “Hasil kajian-kajian tersebut menyimpulkan bahwa lokasi ibu kota baru yang paling ideal adalah di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur,” ungkap Jokowi. Sebenarnya wilayah Kutai telah lama menjadi sorotan. Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda, salah satu daerah di Kalimantan Timur ini menjadi bagian penting dari rencana menguasai Nusantara yang diusung pemerintah kolonial. Kutai tak pernah luput dari perhatian.

  • Pencarian Minyak di Kutai Kartanegara

    JACOBUS Hubertus Menten seorang pensiunan Dinas Pertambangan Belanda. Dia pernah bekerja di Kalimantan Timur, Buitenzorg (sekarang Bogor), dan Sumatra (1860—1882). Dia bisa saja kembali ke negerinya menikmati masa pensiun, tetapi minyak Kalimantan Timur membuatnya penasaran sehingga harus tinggal lebih lama di koloni. Menten menemukan minyak ketika dia bertugas sebagai manajer tambang batubara milik pemerintah kolonial Hindia Belanda di Palaran, Kalimantan Timur, pada 1863. Minyak itu tersimpan di dekat Sanga-Sanga, muara sungai Mahakam, tak jauh dari tambang batubara (sekarang wilayah ini menjadi bagian dari Kabupaten Kutai Kartanegara).

  • Persekusi Ala Bangsawan Kutai

    ALIH-ALIH dapat hormat dari biduan, mandor satu ini malah bernasib malang. Kemalangannya justru terjadi pada 14 Februari 1928. Bukan dianiaya orang tak dikenal, melainkan dianiaya orang dari keluarga yang cukup terkenal di tempat tinggalnya. Mandor itu bernama Solman bin Haji Demang. Deli Courant edisi 4 November 1930 dan Algeemene Handelsblad, 23 Oktober 1930, mengabarkan, mandor itu tinggal di Tenggarong (kini Kabupaten Kutai Kartanegara) yang di zaman Hindia Belanda adalah bagian Kesultanan Kutai. Sultan Kutai kala itu adalah Sultan Aji Muhamad Parikesit. Solman dianiaya hingga kakinya patah. Konon, mandor ini bermusuhan dengan keluarga Sultan.

  • Sersan Jawa dalam Peristiwa Merah Putih di Manado

    NAMANYA Frans Bisman. Dia bukan asli Sulawesi Utara. Hanya saja pada awal tahun 1946 dia sedang berada di Manado. Dengan berseragam hijau militer sebagai bintara tentara kolonial yang sedang dibangun kembali, Koninklijk Nederlandsch Indische Leger (KNIL), Bisman adalah serdadu yang ikut Perang Dunia II. “Bisman dalam Perang Dunia ke-2 mendapat latihan intelijen di Australia dan sering turut dalam kapal selam Sekutu untuk dilepaskan di perairan daerah musuh untuk mencari tahu kekuatan tentara Jepang,” tulis Ben Wowor dalam Sulawesi Utara Bergolak: Peristiwa Patriotik Merah-Putih, 14 Pebruari 1946 dalam Rangka Revolusi Bangsa Indonesia.

bg-gray.jpg
Tedy masuk militer karena pamannya yang mantan militer Belanda. Karier Tedy di TNI terus menanjak.
bg-gray.jpg
Pemilihan Augustine Magdalena “Tiene” Waworuntu sebagai walikota Manado menjadikannya walikota perempuan pertama pasca pembubaran RIS. Pemilihannya menimbulkan polemik daerah-pusat, hingga menyeret militer.
bg-gray.jpg
Dua anggota legiun Mangkunegaran ikut serta gerakan anti-Belanda. Berujung pembuangan.
bg-gray.jpg
Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta merupakan buah kasih dokter misionaris Belanda bernama J.G. Scheurer yang dijuluki Dokter Tolong.
bg-gray.jpg
Rumah yang pernah digunakan untuk mendidik kesadaran politik rakyat. Kini sepi pengunjung.
bottom of page